Resensi Buku Mein Kampf, karya Adolf Hitler

Leave a comment
Buku

New English Weekly, 21 Maret 1940 

Penerbitan Mein Kampf dari Hurst dan Blackett setahun lalu yang disunting dari sisi pro Hitler, merupakan penanda cepatnya laju waktu. Tujuan utama pengantar penerjemah dan penambahan catatan adalah untuk melunakkan buku dan sebisa mungkin menampilkan wajah Hitler yang ramah. Karena saat itu Hitler masih merupakan sosok yang terhormat. Hitler telah menghancurkan gerakan buruh Jerman. Sebuah tindakan yang membuat kelas pemilik properti bersedia memaafkan Hitler atas apapun yang dia lakukan. Baik kaum Kiri dan Kanan sama-sama berpandangan bahwa Nasionalisme Sosialisme adalah sebentuk konservatisme belaka. 

Semuanya tiba-tiba berubah, Hitler bukan lagi orang yang terhormat. Akibatnya, edisi Hurst dan Blackett dicetak ulang dengan sampul baru ditambah penjelasan bahwa semua keuntungan akan disumbangkan kepada Palang Merah. Sekalipun demikian, sulit untuk mempercayai bahwa ada perubahan pada tujuan dan opini Hitler di dalam Mein Kampf. Jika membandingkan ujaran Hitler dengan lima belas tahun lalu, hal yang paling kentara adalah kekolotan cara berpikirnya, cara pandangnya yang tidak berubah, visi monomaniak yang kaku, yang sepertinya tidak terpengaruh dengan manuver-manuver kekinian dari politik kekuasaan. Dalam benak Hitler, bisa jadi pakta Jerman – Rusia mewakili perubahan rencana kerjanya.  Di Mein Kampf, rencananya adalah menyerang Rusia terlebih dulu, lalu berikutnya Inggris. Kenyataannya, Inggrislah yang harus dibereskan terlebih dulu, karena Rusia lebih mudah disuap. Rusia akan diurusi setelah Inggris selesai. Begitulah cara Hitler melihatnya. Apakah akan seperti itu jadinya adalah pertanyaan yang lain lagi. 

Seandainya angan-angan Hitler berjalan sesuai rencana, sebuah ruang hidup bagi 250 juta orang Jerman yang terbentang sangat luas hingga Afghanistan dan sekitarnya. Sebuah imperium berisi manusia – manusia otak nangka yang tidak ada kegiatan lain selain latihan perang dan melahirkan serdadu – serdadu rendahan. Bagaimana Hitler bisa membuat visi mengerikan itu menjadi kenyataan? Hitler didukung oleh kaum industrialis (Jerman) yang memandang dia sebagai orang yang mampu menyingkirkan kaum Sosialis dan Komunis. Kaum industrialis tidak akan mendukung Hitler seandainya Hitler tidak berbicara tentang sebuah gerakan yang hebat. Situasi Jerman saat itu, dengan angka pengangguran mencapai tujuh juta orang, adalah situasi yang ideal bagi para demagog. Tapi Hitler tidak akan bisa mempecundangi para saingannya tanpa kepribadiannya. Kepribadian yang bisa dirasakan di tulisan – tulisan konyol dalam Mein Kampf dan tentu saja di pidato – pidatonya yang, tidak bisa disangkal, bisa membuai pendengarnya. Sampai di sini perlu saya jelaskan bahwa saya tidak pernah bisa membenci Hitler. Sejak Hitler meraih kekuasaan dan hingga sesudahnya. Saya tertipu dengan pandangan bahwa Hitler bukanlah siapa – siapa. Saya pernah membayangkan saya bisa membunuh Hitler tanpa merasa benci. Ada yang menarik dari orang yang satu itu. Kita bisa merasakannya saat kita melihat fotonya. Saya sarankan melihat foto Hitler di hari – hari awalnya berseragam coklat dari edisi awal terbitan Hurst dan Blackett. Di situ nampak wajah yang menyedihkan, mirip anjing, wajah orang yang didera begitu banyak ketidakadilan.  Semacam reproduksi yang maskulin dari berbagai lukisan Kristus yang disalibkan. Besar kemungkinan seperti itulah Hitler memandang dirinya. Kita hanya bisa menduga sebesar apa penyebab pribadi kemarahan Hitler kepada dunia. Dia adalah martir, korban, Prometheus yang terpasung, pahlawan tanpa pamrih yang bertarung mati-matian sendirian. Hitler tahu cara membuat membunuh tikus jadi nampak seperti membunuh naga. Seperti halnya Napoleon, dia merasa sedang melawan takdir dan tidak akan bisa menang, tapi dia tetap layak menang.  Sikap itu tentu saja sangat menarik. Separuh dari sekian banyak film yang kita tonton memiliki tema semacam itu. 

Hitler juga berhasil memahami kesesatan sikap hidup hedonistik. Hampir semua pemikiran di dunia Barat sejak Perang Dunia Pertama adalah pemikiran “progresif” yang mengasumsikan bahwa yang manusia inginkan tidak lebih dari kemudahan, keamanan, dan terhindar dari rasa sakit. Dalam pandangan semacam itu, tidak ada ruang bagi, misalnya, patriotisme dan nilai adiluhung militer. Seorang sosialis yang mendapati anaknya sedang bermain dengan tentara biasanya akan kecewa. Tapi dia tidak bisa menggantikan mainan serdadu. Menggantikan mainan serdadu dengan mainan aktivis perdamaian pasti aneh rasanya. Dalam pemikirannya yang muram, Hitler mengetahui bahwa manusia tidak menginginkan kenyamanan, keamanan, jam kerja yang singkat, higienitas, kontrol kelahiran, dan akal sehat. Manusia juga menginginkan, paling tidak sesekali saja, perjuangan, pengorbanan diri, apalagi riuh tetabuhan drum, bendera, pawai – pawai. Sekalipun bisa dianggap sebagai teori ekonomi, secara psikologis Fasisme dan Nazisme jauh lebih kuat dibanding konsepsi kehidupan hedonistik yang ada. Hal yang sama juga berlaku bagi Sosialisme versi militer ala Stalin. Semua diktator besar mengembangkan kekuasaan mereka dengan memberikan beban besar bagi rakyat mereka. Sementara Sosialisme dan Kapitalisme menjanjikan “hidup yang baik,” Hitler malah menawarkan “perjuangan, bahaya, dan kematian.” Hasilnya, sebuah bangsa bertekuk lutut di bawah kakinya. Mungkin kelak ketika mereka sudah muak dan berubah pikiran, sebagaimana halnya di perang dunia sebelumnya. Setelah beberapa tahun pembantaian dan kelaparan, “kebahagiaan yang sebesar-besarnya dari sebanyak-banyak orang” terdengar seperti slogan yang baik. Tapi saat ini slogan yang lebih populer adalah “lebih baik mengakhiri dengan horror daripada horror tanpa akhir.” Karena sekarang kita berjuang melawan orang yang menciptakan istilah itu, tidak seharusnya kita meremehkan godaan emosional istilah itu. 

Diterjemahkan bebas oleh Onny Wiranda dari:  

Orwell, George (2013), Review of Mein Kampf, by Adolf Hitler, unabridged translation, dalam Politics and The English Language (p. 21-24), Penguin book. 

Aruna dan Lidahnya

Leave a comment
Film

Di pesawat, saya biasanya menghabiskan waku dg nonton film Indonesia. Terakhir kali saya nonton film “dokumenter” Indonesia, Bali Beats of Paradise. Sutradaranya katanya satu perguruan dengan sineas2 amerika. Hasilnya? Kalah jauh dengan yg saya tonton di penerbangan kali ini, Aruna dan Lidahnya.


Film yang dirilis tahun 2018 ini berkisah tentang Aruna, seorang ahli epidemiologi dan penggemar makanan, diberi tugas untuk menginvestigasi kasus flu burung di Surabaya, Pamekasan, dan Pontianak. Dia berangkat dengan sahabatnya, Bono seorang chef, yang sedang ingin jalan – jalan mencari inspirasi kuliner Indonesia.


Tujuan pertamanya, Surabaya, membuat saya terharu melihat makanan2  Jawa timur: Rawon (tidak dijelaskan rawon mana, tapi dari tempatnya sepertinya Rawon Nguling), Nasi Bebek, Bubur Madura, dan Campur Lorjuk di Pamekasan. Adegan yang paling saya suka adalah saat pak-siapa-namanya-saya-lupa menjelaskan cara memasak soto lamongan. 


Tanpa kemunculan Farish dan Nadezhda, film ini akan seperti nonton AADC versi Surabaya karena Mbak Dian dan Mas Nicsap. Farish bekerja di PWP2, lembaga pemerintah yg juga donor LSM tempat kerja Aruna. Nadezhda adalah seorang penulis muda berbakat dan cantik. 


Cerita jadi semakin menarik karena investigasi yg dilakukan Aruna dan Farish. Alih2 menemukan penularan flu burung ke manusia, mereka malah menemukan indikasi korupsi pengadaan alat kesehatan atas nama epidemi flu burung.  


Di sebuah warung nasi goreng di Pontianak, Aruna akhirnya mengaku kepada Farish bahwa sejak lama dia “naksir-naksir sebel” Farish. Dan tentu saja sebagai sebuah ending cerita yang bagus, Farish juga merasakan sebel yang sama. Ditambah lagi dengan Bono yang akhirnya jadian dengan Nadezhda dan memasak untuk Nadezhda di warung itu. 


Film yang diangkat dari novel Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama ini dikemas dengan bagus oleh sutradaranya, Edwin. Iya, Edwin yang dulu kuliah di PPKAI UK Petra Surabaya dan bersama dengan Christo dan Yudi suka bilang, “buat apa kuliah S1?” Cuk… 😆

By the Beaches of Keakwa

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua
I want to ride a bike by the beaches of Keakwa
with you.

 

Speeding along the cloudy horizon,
passing a Japanese artillery wreck,
feeling the wind in my face,
its April, I said
what the heck,  you said
you got a flat tire,
so we stop,
abruptly,
like any other event here.
Lets just run, you said
Feeling the sand in my foot,
And seeing the smiley faces
Of the Kamoro children
We run,
up into the old small airstrip
where Freeport
used to unload their equipment,
back in the late 1960s,
this place, abandoned now
its spirits taken away
to the city,
where we live,
and write this poem.

Membaca Pedro Paramo

Leave a comment
Buku

Novel ini dibuka dengan pesan sang ibu yang sekarat kepada anaknya, Juan Preciado, untuk pergi ke sebuah kota bernama Comala mencari ayahnya. “Jangan minta apa2 selain milik kita. Yang seharusnya dia berikan kepadaku…” Demikian kira2 pesan sang Ibu dalam terjemahan saya. Ah, ternyata buku ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Ga nyangka. Sama ga nyangkanya ketika nemu terjemahan Burmese Days (George Orwell). 


Setibanya di Comala, Juan Preciado bertemu dengan Abundio, lalu kemudian dengan Eduviges Dyada. Eduviges sudah tahu bahwa Juan adalah anak Dolores Preciado. Dolores menghubunginya seminggu sebelum Juan Preciado ke Comala. 


Setelah itu bertemu Damiana Cisneros, orang yg merawatnya saat baru dilahirkan. Damiana mengatakan bahwa Eduviges Dyada sudah mati. Sampai di situ saya baru ngeh bahwa ini adalah novel soal orang2 yang sudah mati, tapi masih enggan meninggalkan atau tepatnya, tidak bisa meninggalkan dunia. 


Naratornya berganti2 antara Juan Preciado, Dorotea, dan Pedro Paramo sendiri. Dialog2nya bercampur antara dialog orang yg masih hidup dan dialog antara mayat di dalam kuburan mereka. 


Keanehan itu bercampur dengan kerumitan cerita; Pedro Paramo yang ternyata menikahi Dolores karena berhutang pada Fulgor Sedano sang pemilik ranch Media Luna, Susana San Juan kekasih Pedro Paramo, Eduviges yang nyaris jadi ibu Juan Preciado karena menggantikan Dolores di malam pertama setelah pernikahannya dengan Pedro Paramo tapi toh mereka ga ngapa2in krn Pedro cuma tidur dan ngorok semalaman, dan Miguel Paramo saudara kandung Juan yang menyandang nama keluarga bapakanya (tdk seperti Juan yang menyandang nama ibunya). 


Di sini lah surga, kata Dorotea pada Juan Preciado (hal.66), di Comala, bukan Comala yang hidup tapi Comala yang penuh dengan gema masa lalu (hal.44), yang ia tinggali sebagai arwah karena tidak diterima di surga. 
Beda seperti Macondo di Seratus Tahun Kesunyian (yang katanya terinspirasi dari Pedro Paramo) yang fiktif, Comala benar2 ada di Meksiko. 
Saya harus membaca lagi novel ini (seperti yang disarankan Susan Sontag di kata pengantar) untuk memahami apakah wasiat sang ibunda dipenuhi oleh Juan Preciado? Apakah cinta Dolores pada Pedro Paramo benar2 sia2 karena Pedro lebih mencintai Susana San Juan? Apakah kenangan itu membebani perjalanan manusia dan orang2 yang dia sayangi setelah dia mati? 


Untuk sementara saya simpan dulu semua pertanyaan itu, karena mau masak pokcoy dan doa Rosario di Kombas baru sa.

Sorghum di Timika

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

Alkisah, di bulan Desember 2016 ada pembicaraan antar provinsi soal budidaya Sorghum di Papua. Dalam pembicaraan itu, seorang oknum dengan pede-nya bilang kalau di Papua pernah ada penanaman Sorghum. Tapi di Papua Nugini. Tidak lupa oknum kita itu menyertakan tautan berita hasil penanaman Sorghum di sebuah tempat di Papua Nugini bernama Lembah Markham. Oknum itu jadi ingat Aliarcham, anggota Sarekat Islam Merah yang dibuang ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan tentu saja buku berjudul “Pangan” yang pernah dia edit saat bekerja di @insistpress, ada soal Sorghum di buku itu. 

Pembicaraan itu kemudian disambung dengan diangkutnya benih-benih sorghum oleh @josephine_pranoto ke Timika, Papua. Rencananya akan ditanam di halaman belakang sebuah rumah, tapi setelah disurvei oleh @vembriwaluyas, diputuskan banwa kondisi tanah “tidak feasible.” 

Benih kemudian berpindah tangan ke Kang Oji, kawan baik oknum kita itu. Dengan ketangkasan Kang Oji, Sorghum akhirnya mendapatkan tempatnya untuk hidup di bilangan SP (Satuan Pemukiman) – 3, Timika, Papua. 

Cara Kang Oji adalah sebagai berikut: benih Sorghum di”deder” selama 6 jam, biar jadi kecambah dulu. Benih yang mengambang dibuang. Tujuannya, kata Kang Oji, “biar airnya masuk ke dalam benih dan merangsang pertumbuhan benih.” Sebuah pengetahuan yang Kang Oji dapat dari pengalaman Ibunda Kang Oji membuat tempe. 

Di rumahnya, Kang Oji pernah menanam benih jagung tanpa dideder. Hasilnya, tumbuhnya ga rata. Ada benih yang tidak tumbuh. “Kalo tumbuh semua gini kan enak dipandang,” kata Kang Oji sambil menunjukkan Sorghum yang sudah tumbuh setinggi kira-kira 5 cm sejak ditanam 10 hari sebelumnya. 

“Tanah di sini merah. Pupuknya alami aja. Cuma pake tanah yang dibalik,” kata Kang Oji sambil menyuguhkan makanan. 

Rencananya setelah Sorghum bisa dipanen, Kang Oji akan mengolahnya menjadi tape dan sebagai pengganti beras. Tidak perlu peresmian atau pencanangan panen raya Sorghum seperti di Keerom, Papua, walau tentu saja itu berita yang baik juga. 

Yang begini saja sudah cukup, kata sang oknum. Sudah jadi semacam pembuka sebuah pembicaraan yang lebih maju. Seperti kata V kepada Evey Hammond, “there, the overture is finished… [come] we must prepare for the first act.” 

Kuala Kencana; dari Freeport untuk Indonesia

comment 1
Papua / Tentang kota

 

Burung elang itu terbang rendah. Saking rendahnya aku bisa mendongak ke atas sambil mengendalikan mobil dan masih bisa mengikuti cara terbangnya yang anggun. Jam di hapeku menunjukkan pukul 07:30. Cuaca cerah sekali dan tidak lembab walau tadi malam hujan lebat. Masih cukup waktu menempuh jarak 22 kilometer dalam waktu kurang dari 30 menit dan menyeduh kopi di kantor. Pagi terasa begitu indah hingga di depan nampak deretan mobil berhenti dan orang-orang keluar dari dalam mobil. Mungkin pemeriksaan mobil, batinku. Tapi setelah 10 menit menunggu dan makin banyak orang turun sambil melihat ke arah pertigaan yang masih sekitar 500 meter lagi aku jadi penasaran dan bertanya pada seseorang. Ada palang jalan, pak. Kemarin ada motor ditabrak truk. Korbannya orang Moni, katanya. Bah, bisa lama ini, balasku. Itu sudah, pak, katanya.

Semua orang di Timika maklum jika ada pemalangan jalan. Biasanya karena ada permasalahan besar. Seperti peristiwa tabrakan hingga ada korban meninggal dunia. Tapi di Kuala Kencana, pemalangan jalan adalah hal yang luar biasa. Orang-orang mulai membahas bahwa korbannya adalah seorang mama yang baru saja pulang dari kebun, naik motor matic, truknya melaju kencang dari arah Timika, dan seterusnya.

Karena sia-sia saja mendengarkan berbagai macam versi cerita, aku kembali ke mobil. Burung elang itu sudah hilang. Mungkin sudah mendapat mangsa. Aku sudah pasti terlambat kerja. Di depan pintu mobil aku sontak tersadar, bahwa setelah 5 tahun tinggal di Kuala Kencana, baru kali ini aku bisa berdiri dan berjalan kaki di jalan yang biasa aku lalui dengan mobil sambil ngebut.

Saat itu, pada bulan Agustus 2008 aku sudah tinggal di Timika selama dua bulan. Aku cukup betah, karena semua yang aku butuhkan ada di Timika. Sekalipun agak males karena repot harus pindah dan menjauh dari keramaian kota Timika, aku menurut saja ketika diajak pindah ke Kuala Kencana. Di sana, kata seorang teman, enak karena bebas Malaria dan orang mabuk, listrik dan air bersih lancar. Pokoknya pak dorang bisa istirahat dengan tenang, imbuhnya. Wah, seperti mau ke kuburan saja.

Ternyata yang dia ucapkan itu benar adanya. Setelah menempuh jarak 22 kilometer dari Timika, kami tiba di sebuah gerbang dan pos penjagaan. Di dalamnya ada dua orang berseragam satpam warna biru dan helm proyek warna yang sama duduk berjaga. Aku langsung menurunkan kaca jendela dan mengucapkan salam. Lurus saja ini, kata Pak Yus, yang sebelumnya sudah pernah ke Kuala Kencana.

Selepas pos pemeriksaan, aku tercengang mendapati jalanan luas nan lengang dengan tekstur aspal yang kasar. Terasa lebih berkualitas dibandingkan jalanan di Timika dan di semua kota di Indonesia yang pernah aku lewati. Ban mobil terasa mencengkeram di aspal. Di sisi kanan dan kiri, pepohonan dengan tinggi sekitar 5 meter menghalangi sinar matahari.

Sekalipun sudah tinggal di Timika selama 2 bulan, baru saat itu merasakan suasana sejuk hutan dan teduh melihat tingginya pepohonan di sini. Sekitar 500 meter kemudian, sebuah pertigaan. Setelah pertigaan itu, pemandangan sedikit berubah, hutan di sisi kanan mundur sekitar 10 meter, memberi tempat bagi tiang-tiang listrik besar di sepanjang jalan. Mobil yang lalu lalang juga berbeda. Kebanyakan mobil bergarda-ganda bikinan Amerika, berwarna putih, dihiasi nomor lambung dan stiker Freeport di pintu depan. Jalanan lurus dan mulus itu menggodaku memacu laju mobil. Pak Yus yang menangkap gelagatku hendak ngebut mengingatkan, di sini hukumnya lain, lho, kalau ngebut kita terlacak radar gun dan didenda. Bah, ini kan masih Indonesia. Balasku sambil menekan pedal gas semakin dalam. Tidak sabar melihat tempat tinggal baruku.


Beda dengan Timika yang berkembang secara organis, Kuala Kencana adalah kota yang terencana dan ditujukan menjadi kota contoh di Indonesia serta menjadi akomodasi karyawan dan peralatan industri PT. Freeport yang semakin membesar. Semua itu karena keuntungan besar dari eksplorasi bijih mineral di tambang yang sudah ada serta dari kontrak kerja sama PT. Freeport Indonesia dengan perusahaan tambang raksasa Rio Tinto-CRA pada tahun 1992 (Soehoed, 2005, p.58). Kontrak ini adalah “nafas segar” karena Freeport mendapatkan pinjaman sebesar 250 juta dollar AS. Dengan akumulasi keuntungan sebelumnya plus dana segar itu, Freeport mampu melakukan ekspansi usahanya, mulai dari membeli sebuah pelebur tembaga di Huelva, Spanyol, lalu ikut urunan membangun pabrik pengolahan di Gresik. Sekalipun tidak ada literatur atau sumber yang dengan jelas menyebutkan hubungan antara kondisi keuangan Freeport pada paruh pertama tahun 1990-an dengan pembangunan Kuala Kencana, tanpa “nafas segar” itu Freeport tidak akan berani membangun sebuah kota baru bagi karyawannya yang semakin berjubel di Tembagapura dan diserbu Malaria di Timika.

Ada dua lokasi yang awalnya menjadi lokasi sebuah kota baru, di Mil 50 dan di Mil 32. Keduanya berada tidak jauh dari Kwamki Narama, daerah pemukiman pertama di Timika. Sebelumnya tidak pernah jadi daerah hunian baik bagi orang Amungme dan Kamoro. Mil 50 kemudian batal dijadikan lokasi kota karena setelah hasil survei tanah menunjukkan tanah di situ adalah tanah paling lunak di seluruh dataran rendah Mimika, tidak ideal untuk fondasi bangunan.

Setelah Mil 32 ditetapkan jadi lokasi kota baru, masalah lain muncul menghadang. Lokasi itu ternyata sudah dimiliki dan digarap oleh sebuah perusahaan kayu. Perusahaan itu sudah membuat jalan akses dari Timika dan menebangi sejumlah besar pepohonan. Dalam negosiasi dengan Freeport, perusahaan itu bersedia lokasinya dijadikan kota asal Freeport mau menunggu semua pohon di lahan yang diakuisisi perusahaan itu habis ditebang. Freeport menolak. Mereka tidak mau membangun kota di atas lahan yang baru saja digunduli. Dalam bukunya, George A. Mealey (1997, p.330), salah seorang eksekutif Freeport, mencatat bahwa Freeport “menginginkan hutan rimba yang masih perawan itu sebagai bagian integral kota.”

Negosiasi akhirnya berhasil. Perusahaan kayu itu bersedia menjual lahan konsesinya kepada Freeport senilai 5 juta dollar AS. Freeport segera membuat berbagai persiapan membangun sebuah kota baru, mulai dari survei topografi hingga membuat survei kepada para pekerjanya yang tinggal di Tembagapura tentang kota ideal menurut mereka. Sebuah survei yang pasti diisi dengan antusias oleh para karyawan dan buruh Freeport yang hidup berjubel di barak-barak di Tembagapura, dingin terpencil, jauh dari hiburan dan keluarga mereka.

Hasil survei itu kemudian dirangkum dalam sebuah laporan dan dikembangkan menjadi sebuah master plan desain kota. Tapi sebelumnya, Freeport meminta bantuan AR. Soehoed, seorang penasehat Freeport dan mantan Menteri Perindustrian masa Orde Baru, untuk menyesuaikan master plan kota dengan konteks masyarakat Indonesia. (Mealey, 1997, p.134) Penyesuaian itu cukup masif skalanya, mulai dari desain alun-alun ala Indonesia hingga dapur yang sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia. Kelar dengan penyesuaian desain, Freeport lalu mempercayakan proyek senilai 300 juta dollar AS itu pada sebuah perusahaan konstruksi asal Spanyol, OHL (Obrascón, Huarte, and Lain). Di situs webnya, perusahaan ini mengakui proyek pembangunan Kuala Kencana yang dimulai tahun 1992 itu sebagai salah satu proyek mereka yang paling menantang.

peta%20-%20kuala%20kencana

Peta kota Kuala Kencana. Copyright: PT. Freeport Indonesia

Perusahaan Spanyol itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Sepanjang jalan aku perhatikan semua hal ditata dan dibangun dengan penuh pertimbangan. Di samping kananku, tiang-tiang listrik besar berdiri berjajar setiap 500 meter. Karenanya rimbunan pepohonan dimundurkan sekitar 500 meetr memberikan ruang aman antara tiang listrik dan pepohonan. Tidak lama kemudian, jalan lurus berubah jadi sebuah boulevard yang menikung hingga sebuah pertigaan. Jika kamu belok kiri, akan langsung melihat mobil pemadam kebakaran berwarna hijau yang diparkir di gedung yang ditempati unit pemadam kebakaran dan unit keamanan Freeport . Belok kiri lagi akan bertemu dengan sebuah lapangan luas dan beberapa kantor departemen Freeport, yang sehari-harinya berurusan dengan masyarakat seperti PHMC (Public Health and Malaria Control) dan SLD (Social Outreach and Local Development). Di lapangan luas itu ada sebuah helipad tempat helikopter Freeport biasa mendarat untuk berbagai keperluan. Lurus saja dari pertigaan itu kamu akan bertemu sebuah perempatan yang tidak simetris. Empat buah patung Kamoro didirikan di tengah-tengah, seperti menjadi penunjuk bahwa ada empat bagian Kuala Kencana yang bisa dituju dari bundaran ini, mempertegas papan penunjuk arah yang ada di sebelum bundaran.

Hanya rimbunan pepohonan saja yang nampak di sepanjang boulevard. Di sisi kiri jalan ada sebuah drainase besar yang siap menampung limpahan air saat hujan tiba. Suasana yang asri. Timika jadi terasa seperti seorang gembel jika disandingkan dengan Kuala Kencana yang molek ini. Belok kiri, kata Pak Yus sambil memakai kacamatanya. Sore itu dia berpakaian santai, kaos dan celana pendek. Di kantor dia selalu mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kain. Orang kantoran sekali. Kami tiba di Rukun Wilayah A yang ditempati enam cluster perumahan. Di situ juga ada sebuah terminal angkot, pos polisi (yang selalu kosong), sebuah gedung pertemuan dan lapangan voli, serta beberapa toko dan warung makan. Masing-masing cluster disebut RT (Rukun Tetangga) 1 hingga 6. Satu cluster berbentuk huruf “U”, isinya 80 rumah dengan 2 tipe rumah; tipe 36 dan 46.

Tibalah kami di Jalan Elang, RT 4, rumah nomor 12, warna kuning, dengan halaman depan yang berantakan. Ada terpal warna biru membentang malas di depan rumah sebagai pelindung sebuah mobil, sebuah meja kerja rusak yang diletakkan di teras rumah, sepeda anak-anak tergolek di halaman rumah nyaris aku lindas. Seorang ibu menyambutku dari teras kecil di samping rumah. Silakan masuk, pak, katanya setengah berteriak tanpa beranjak dari teras itu.

Rumah itu sebelumnya ditempati konsultan pengembangan ekonomi dari Jakarta. Mereka tinggal bertiga di rumah ini dari tahun 2005 hingga tahun 2007. Teras di samping rumah itu ternyata teras masuk sebuah rumah lain yang menempel di belakang rumah yang kami kontrak. Di situ tinggal Ibu M, sang pemilik rumah dengan tiga anaknya. Yang paling besar duduk di kelas 1 SMP YPJ Kuala Kencana dan dua adiknya masih kelas 2 dan 3 di SD YPJ Kuala Kencana. Selain rumah yang kami tempati, Bu M ternyata juga menyewakan tiga kamar ukuran 4×6 dilengkapi dengan kamar mandi kecil. Ketiga kamar itu dihuni oleh seorang karyawan perusahaan kontraktor Freeport, seorang guru komputer, dan seorang karyawan Freeport.

Tetangga sebelah kiri adalah keluarga J , orang asli Amungme. Di depanku rumah yang dikontrak sebuah bank swasta sebagai gudang arsip-arsipnya. Sebelah kanan adalah Pak H dari Makassar. Semuanya sudah tinggal di Kuala Kencana sejak kota ini baru diresmikan pada tahun 1995.

“Kalau ga gini ga bisa hidup mas,” kata Bu M pada suatu hari. Sudah beberapa tahun ini dia harus membesarkan ketiga anaknya sendirian. Suaminya dulu termasuk 66 keluarga pertama yang pindah dari Timika ke Kuala Kencana secara buru-buru pada tahun 1995. Dia bekerja di tambang Freeport di Grasberg dan secara mendadak meninggal di rumah ini beberapa tahun lalu. Dengan uang sewa 30 juta setahun untuk rumah yang aku kontrak dan 1,5 juta x 3 kamar per bulan, sepertinya masalah Bu Marpaung tinggal mengelola keuangan dengan baik. Itu pun masih ditambah dengan usahanya di Timika sekalipun aku tidak tahu apa sebenarnya usahanya.

Bu S di RT 4 nomor 65 juga masih ingat sekali bagaimana suasana pindahan yang terburu-buru. Ibu yang sekarang membuka usaha warung kecil di depan rumahnya itu mengenang, “dulu itu diburu-buru, mas. Kita masih ga siap ya tetap diminta pindah. Disiapkan truk dengan gratis segala untuk angkut barang-barang.” Ketika aku tanya kenapa kok diburu-buru, Bu Siti menjawab, karena “kata orang Freeport, beberapa hari lagi mau diresmikan sama Presiden Soeharto.” Aku menyalakan rokok yang baru saja aku beli di warungnya dan Bu S terus bercerita soal rumah barunya ini, “waktu saya pindah itu Kuala [Kencana] masih sepi dan masih asri, tidak seperti sekarang ini.” Aku jadi membayangkan suasana rumah Bu S masih dalam bentuk awalnya, masih belum ada warung di samping rumah, belum ada rumah baru di belakang yang jadi kontrakan, belum ada pagar kawat setinggi 1 meter yang mengelilingi rumahnya. Pagar itu sengaja dibangun supaya ayam peliharaannya tidak lepas dan dimakan anjing-anjing yang banyak berkeliaran. “Saya sempat didatangi orang FM (Facilities Management – departemen di Freeport yang mengurusi semua infrastruktur di Kuala Kencana). Mereka minta pagar ini dibongkar. Saya balas saja, bapak bongkar dulu itu orang-orang lain punya pagar.” Cerita Bu S dengan penuh semangat.

Di Kuala Kencana, ada aturan bahwa semua rumah tidak boleh dipagar. Mungkin karena alasan estetika. Tapi dengan semakin banyaknya penduduk dan meningkatnya pencurian, banyak rumah mulai memasang pagar. Selain itu juga karena ada binatang peliharaan seperti anjing dan kucing. Mengembangkan rumah seperti yang dilakukan Bu M dan Bu S juga tidak boleh dilakukan sebenarnya. Tapi dengan semakin banyaknya karyawan Freeport dan perusahaan-perusahaan pendukungnya, makin meningkat pula permintaan akan hunian seperti kamar kost dan rumah kontrak.

Yang jelas, dari 6 RT yang ada di RW A, hanya rumah-rumah di RT 1 dan RT 2 yang masih dimiliki oleh PT. Freeport Indonesia. Selebihnya sudah milik pribadi. Dan banyak yang sudah menjadikannya sebagai lahan usaha mulai dari membuka warung hingga menyewakan persewaan rumah, kamar, atau paviliun.

Kuala Kencana semakin berkembang. Dari 66 keluarga di tahun 1995, sensus penduduk yang dilakukan tahun 2013 menunjukkan bahwa jumlah penduduk distrik Kuala Kencana berjumlah 20.288 jiwa. Daerah terpadat kedua di Kabupaten Mimika setelah distrik Mimika Baru. Di sekitar Kuala Kencana kini ada beberapa daerah hunian yang berfungsi sebagai daerah pemukiman penyangga kota Timika. Umumnya ditinggali para kelas menengah Timika yang tidak mau tinggal di Timika yang padat dan banyak masalah. Termasuk aku.

Di malam hari, aku bisa beraktivitas dengan nyaman di rumah tanpa perlu khawatir listrik padam sampai 10 jam, berkat pembangkit listrik bertenaga 9,4 megawatt. Bisa membaca dan melamun dengan tenang di teras rumah tanpa khawatir digigit nyamuk aedes aegypti penyebab Malaria, berkat perawatan yang dilakukan Departemen PHMC. Bisa mandi dengan segar setiap hari, berkat sumur sedalam 50 meter yang memompa 25 liter setiap detik. Tidak perlu khawatir dengan perang suku atau pencurian.

img_5772

img_5781

Sekelompok penari Kamoro menari di perayaan ulang tahun Kuala Kencana pada tahun 2013. Sekarang muncul gugatan dari pemilik hak ulayat wilayah yang sekarang menjadi Kuala Kencana.

Dengan harga sewa rumah atau kamar yang tidak berbeda dengan Timika dan fasilitas air bersih dan listrik serta keamanan yang terjamin, tentu saja banyak warga kelas menengah Timika, terutama yang baru datang dari luar Papua memilih Kuala Kencana dan perumahan baru di sekitarnya katimbang Timika. Jarak 22 km Kuala Kencana ke Timika masih belum menjadi masalah. Di jam 8 pagi saat orang berangkat bekerja, jarak itu masih bisa ditempuh dalam waktu 35 menit dengan kecepatan kendaraan sekitar 40km/jam. Pada saat buku ini ditulis, jalan antara Kuala Kencana – Timika jadi semakin padat sejak Bupati membangun kantor Pemerintah Daerah di dekat Kuala Kencana.

Sebagai perusahaan multinasional pertama yang bekerjasama dengan Soeharto pada tahun 1967, tentu saja Soeharto dengan senang hati datang meresmikan kota baru itu. Bahkan membaptisnya dengan sebuah nama baru, Kuala Kencana, sungai emas, menggantikan nama generik yang digunakan Freeport pada saat pembangunan, New Town.

Kuala Kencana memang sebuah kota yang dipersembahkan Freeport bagi Indonesia, sebagai contoh bagaimana sebuah kota di wilayah tropis seharusnya dibangun. Sebagaimana Belanda membangun Bandung dan Bogor setelah Tanam Paksa (Cultuurstelsel) berakhir pada tahun 1900 dengan pasifikasi Hindia Belanda dan penuhnya pundi-pundi uang Kerajaan Belanda.

Kuala Kencana adalah wajah lain Mimika, wajah Papua yang cantik dan eksotis, yang membuat warga Timika berakhir pekan di alun-alun Kuala Kencana, para pejabat sipil dan militer menjamu dan mengajak tamu dan bersosialisasi sambil main golf di Rimba Golf, dan orang-orang seperti aku tinggal, yang di malam hari duduk memandangi pepohonan dan diam-diam merindukan kehidupan sebuah kota.

Pertanyaan

Leave a comment
Keluarga

Kemarin, Papa dikunjungi Pak Slamet Riyanto. Dengan nada tenang -agak khusyuk bahkan- Pak Riyanto menanyakan kabar dan perkembangan terakhir kesehatan Papa. 

Pak Slamet Riyanto bersama dengan Papa pada tahun 1980-an awal mengelilingi Indonesia dengan Eskader Nusantara TNI-AL (semacam Armada Ketujuh Amerika Serikat yang kerjaannya keliling dunia). Kapal markas (flagship) Eskader Nusantara adalah KRI Multatuli. 

Biasanya aku tanya Mama, “Papa kemana, Ma? Papa ke luar negeri, ya Ma? Iya, Papa layar,” kata Mama. Dan setiap kali Papa pulang ke rumah selesai berlayar, aku selalu meminta Papa untuk menceritakan tempat-tempat yang dikunjunginya; “dimana itu Guam dan Palau? Seperti apa Singapura dan Malaysia? Lebih maju mana, Malaysia atau Indonesia? Seperti apa kapalnya Papa? Gambarin, Pa.” Papa kemudian biasanya mengambil kertas kosong dan menggambar jajaran kapal-kapal perang. 

Sekarang, setelah hampir sebulan Papa diopname di RSAL Dr. Ramelan Surabaya karena operasi prostat, aku juga banyak bertanya, “berapa lama, Pa, operasinya? Apakah bius total waktu operasi? Berapa tensi Papa? Kapan boleh pulang, Pa?”

Tidak lama kemudian, Handphoneku berbunyi, ada sms dari Mama; Papa gimana? Kamu temani Papa saja malam ini di Rumah Sakit. Mama ditemani Mbak Ti. Di rumah, Mama juga sedang berjuang memulihkan diri setelah sempat diopname karena Trombositnya turun. 

Aku pengen sekali tanya, “Mama, gimana? Sudah enakan?” Tapi aku urungkan. 

Dunia memang selalu penuh dengan pertanyaan. Sebagian bisa dijawab dengan mudah, sebagian tidak terjawab. Sebagian lagi tidak perlu ditanyakan sama sekali, cukup dijalani saja. Seperti kata Rainer Maria Rilke, Live the questions now. 

“Bener ga?” Tanyaku kepadanya, yang sedari tadi diam mendengarkanku. 

“Emang kamu sudah baca bukunya Rilke?” Tanyanya sambil melumah. Dia memang kelihatan capek. Aku melihat dia hilir mudik di belakang paviliun dari pagi. “Kayaknya pernah. Judulnya, The Fall of the House of the Usher,” jawabku. 

“Mmm… kayaknya itu yang nulis Edgar Allan Poe, deh, bukan Rilke,” balasnya ketus. 

“Pinter juga kamu, ya.”

“Iyalah. Mamaku lama tinggal di Perpustakaan Daerah di Rungkut.”

“Terus kamu ngapain tinggal di sini sekarang?”

“Iseng aja. Emang kenapa kamu tanya-tanya? Katanya mau jalani saja semua pertanyaan?”

“Halah. Yawis, aku tidur aja,” balasku sambil beringsut masuk ke kamar. Papa pasti sudah tidur. Sudah jam 9 malam sekarang. 
“Oke, aku juga pergi.”

“Hati-hati ya, Pus. Jangan teriak-teriak kayak kemarin malam.”
Dia tidak menjawab. Pergi ngeloyor begitu saja seperti biasanya seekor kucing. 
    

 

Pulang

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua

Ketika mobilku melintas di depan Rumah Transit Bobaigo di SP-2, langit Timika memerah dan dua ekor burung Maung (Amungme: Rangkong) nampak terbang dengan tenang ke arah utara. Sudah lama aku tidak lihat burung Maung. Mereka biasanya terbang berpasangan, tidak terlalu tinggi sehingga jika suasana sepi kamu bisa mendengar kepakan sayapnya. Dengan semakin banyak penduduk, mereka pasti makin terdesak. Apalagi di daerah SP-2 yang makin padat setiap hari, sekalipun langganan jadi lokasi bentrokan antar kelompok warga atau akrab disebut perang suku. Apakah  burung Maung yang kesepian itu terbang dari rerimbunan pohon di dekat bandara Mozes Kilangin? Apakah mereka menuju ke belakang Rumah Transit Bobaigo, yang sepertinya masih kosong itu?

 

Aku terus melaju ke arah Kuala Kencana. Warna merah di langit sudah digantikan dengan pekatnya hitam. Berarti benar apa kata Mbak Naning di telfon saat aku menelfon memesan Nasi Goreng. Dia bilang, “Selamat malam.” Mungkin lebih ke utara, di SP-3, suasana memang sudah gelap. Yang aku saksikan tadi adalah sisa-sisa cahaya matahari Timika yang panas sekali selama beberapa hari ini. Menyambut gelap dan para pengendara motor Timika yang hobi balap, aku nyalakan lampu mobil. Sorot lampu mobil yang toh tidak banyak membantu pandanganku, selain membuat marka jalan makin terang. Aku kembali berpikir soal sepasang burung Maung tadi. Apakah benar mereka pulang? Apakah benar aku-yang-menyaksikan-mereka-yang-terbang-pulang sedang menuju ke rumahku? Apakah rumah kontrakanku dan para kucing yang ikut menghuni rumah itu adalah “rumah”ku?

 

Aku selalu membayangkan roh-roh Mbikao (Bahasa Kamoro: Setan. Aku lebih suka menyebut mereka peri) melayang-layang di jalan Timika – Kuala Kencana yang makin ramai. Mereka sudah tidak bisa menari di sungai Ajkwa atau Otakwa yang dangkal dan sudah ditinggalkan ikan-ikan dan keceriaan manusia. Jalan ini dan semua keriuhrendahannya, pasti dianggap sebagai sebuah karnaval bagi para Mbikao.

 

Perlu waktu lama bagi para Mbikao untuk membiasakan diri dengan asap knalpot dan untuk melihat manusia -seperti aku- yang sedang diburu waktu sambil memikirkan kapan semua keriuhan karnaval ini akan berakhir, dan bertanya lirih sambil melihat kaca spion mobil; apakah kamu benar-benar pulang? Untuk apa sebenarnya semua keriuhrendahan ini? Bisakah kita memutar sejarah dan membiarkan orang Kamoro dan Amungme hidup tenang tanpa tambang raksasa dan kekerasan militer dan budaya? Kenapa aku seperti melihat rombongan Mbikao menari-nari di depanku, lengkap dengan bendera merah putih yang membuatmu ingin menangis sedih. Mereka menari-nari ke hadapanku dan menyanyikan lagunya Sigur Ros dengan riang gembira, “Inní mér syngur vitleysingur….”, “inside me a madman sings…” di dalam tubuhku ada orang gila yang menyanyi.

 

Lamat-lamat para Mbikao terbang menghilang ke atas, menyusul burung Maung yang besok mungkin sudah ditembak atau pergi mencari sarang baru. Motor-motor dan mobil melaju ke arah Timika dengan kencang. Sinar matahari semakin menghilang ditelan cakrawala. Untuk sesaat aku merasa harus pulang, tiba di rumah kontrakan, mandi, tidur dengan Minyu, menatap tumpukan buku, tidak berpikir, tidak merasa di sini atau di mana saja.

 

Indonesia will go on

Leave a comment
Current issues

Barusan ngobrol melalui telefon dengan seorang paman yang tinggal di Malang selatan. Di sana, jauh dari ibukota dan para makelar dan analis politik, orang mengikuti perkembangan kasus Ahok. Paman saya bersusah payah menjelaskan kepada “umatnya” bahwa kasus ini bukan soal agama. Kalau sudah soal agama, bisa repot, negara bisa hancur, katanya. Yang lebih heran lagi, katanya, banyak sekali orang berpendidikan yang dengan gampang termakan isu politik berbalut penistaan agama ini.

 

Kalau cuma termakan isu dari WhatsApp soal jalanan di Malang yang retak karena gempa kemarin, itu gampang solusinya, tinggal telefon teman-teman nelayan di Sumbermanjing dan tanya apakah ada jalan yang retak (ternyata tidak ada jalan yang retak seperti yang tersebar di WhatsApp). Tapi kalau soal penistaan agama. Wah, gimana caranya menjelaskan bahwa apa yang banyak tersebar di media sosial itu ga benar?

 

Negara masih ada aja kita susah. Apalagi kalau hancur. Makin susahlah kita. Jualan ikan makin susah, nabung ga bisa, sekolahkan anak ga bisa, mau menikmati hawa Lumbangsari yang adem sambil ngopi dan elus-elus Luwak juga apalagi. Demikian penjelasan paman saya kepada “umatnya.”

 

Iya, balasku, sambil menepikan mobil daripada nabrak ojek Timika yang makin hari makin ngawur berkendaranya. Tukang ojek ngawur membahayakan penumpang dan pengguna jalan. Mereka mungkin menyadari hal itu. Tapi para politikus, makelar, segenap buzzer dan cyber army yang sekarang sedang giat-giatnya mengusung nama agama tidak menyadari bahwa mereka sedang menggerogoti sendi sebuah Negara. Saya tidak sedang bicara tentang superstruktur Negara, tapi cita-cita akan sebuah Negara yang manusiawi dan beradab, yang susah payah dibangun sejak tahun 1945, bahkan sempat dinistakan dengan pembantaian jutaan manusia tidak bersalah pada tahun 1965.

 

Kami kemudian sepakat bahwa memang cangkemnya Ahok bosok dan bahwa kalau mau demo dia sebaiknya soal masalah gusur-menggusur yang kurang dipertimbangkan dengan baik. Kalau soal agama, ya tadi itu, dampaknya akan lebih banyak dirasakan orang-orang biasa macam kita ini. Para makelar politik bisa berubah jadi makelar senjata seandainya terjadi perang saudara. Kita yang akan mampus kena tembak senjata-senjata yang mereka beli.

RK. Narayan, novelis India yang terkenal dengan novelnya, Malgudi Days, pernah bilang, seruwet-ruwetnya India dengan segala konflik primordialnya, “India will go on.” India akan maju terus. Terbukti memang,sekalipun masih belum bisa melepaskan diri dari keruwetan konflik primordial, India masih kokoh sebagai sebuah Negara dan berhasil menempatkan dirinya sebagai bagian dari poros kekuatan baru dunia bersama dengan Brazil, Cina, dan Rusia.

Bisakah kita bilang, Indonesia will go on!? Bisa sekali tapi perlu berhati-hati seperti melaju di jalan raya, karena tidak semua yang demonstrasi membawa bendera merah putih, apalagi yang ukurannya raksasa. Bisa jadi itu malah menunjukkan besarnya nafsu menguasai Indonesia dan membuang kemajemukannya.