Senja untuk Sukab

Leave a comment
Catatan Perjalanan

Sukab yang baik, 

Bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik dan sehat selalu. Apakah kamu masih suka memotong dan mengirimkan senja ke pacarmu? Siapa Namanya? Alina ya kalau tidak salah. Kita lama tidak bertemu dan berkomunikasi ya, Kab. Aku kadang bertemu denganmu di mimpi. Bahkan di mimpi kamu membicarakan hal – hal yang menarik dan mengajakku untuk minum kopi. Ketika terbangun aku lupa apa yang kamu bicarakan tapi aku masih ingat caramu ngobrol dan mengajak ngopi. Aku belum pernah menemukan teman seperti dirimu. 

Tapi aku menemukan senja yang kamu sukai. Mungkin itu sama dengan senja yang kamu potong dan kirim melalui pos ke Alina. Aku menemukannya di kampung paling barat kabupaten ini, Potowayburu. Seperti yang kamu bilang, di setiap senja di pantai, pasti ada burung – burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan perahu. Selain itu, ada juga pohon kasuari, tenda terpal yang terkoyak, dan berbagai macam bungkusan plastik di pantai. Jika senja bisa dibuat tiruan dan dijual di toko, dikemas dalam bungkusan plastik, seperti yang kamu bilang, mungkin senja juga akan berakhir menjadi bungkusan di tepi pantai ini. 

Sebelum aku menemukan senjamu itu, aku bersama rombongan berangkat menuju kampung di barat timur Potowayburu bernama Umar. Kami berangkat dari sebuah dermaga kecil di Potowayburu. Dermaga itu bertempat di dekat Lokpon. Di Timika aku sering mendengar nama Lokpon dan selalu mengira itu adalah varian lain dari kata lowong atau tanah kosong. 

Baru di Potowayburu itu aku sadar, setelah sebuah karyawan perusahaan kayu yang beroperasi di situ menunjuk sebuah tumpukan kayu besar di pinggir sungai, “itu lokpon-nya.” Karena tidak ada sinyal aku tidak bisa gugling kata “Log Pond” alias tempat penumpukan kayu. 

Begitulah, Kab, dari lokpon itu, kami menumpang sebuah speed boat menuju ke Umar. Hampir satu jam perjalanannya. Setiba di pantai tempat kapal berlabuh, sudah jam 12 siang. Aku mengetahuinya dari bayangan patok kayu yang ditanam di pinggir pantai dan merasakannya dari pasir yang panas membara. Untung aku masih menjinjing sandalku. 

Sukab yang mencuri senja demi Alina, 

Sebelum aku menceritakan dua hal lain, aku perlu menyampaikan sesuatu. Bukan, bukan soal aku jatuh suka kepadamu. Tapi soal kekagetanku mengetahui kamu sudah sampai di pulau ini. Aku tidak menyangka manusia kamar seperti dirimu bisa sampai ke tempat ini. Aku membacanya di buku yang berjudul Berita Kehilangan. Tahu gitu kita bisa ketemuan di Timika atau Jayapura. Aku akan mengajakmu ngopi di kedai kopi kecil milik seorang teman. 

Hal pertama mau aku ceritakan adalah kampung tadi. Kakiku kepanasan dan aku memakai sandalku lagi setelah sebelumnya aku jinjing setelah turun dari perahu. Aku merasa seperti balatentara Jepang yang mendarat di pantai Kekwa beberapa dekade lampau. Di sepanjang perjalanan dari pantai ke kampung, aku melihat anak – anak kecil berjalan kaki dengan kaki kosong. Mereka tidak Nampak kepanasan. Sudah sekolah kah? kelas berapa? tanyaku. Seseorang dari mereka menjawab, kelas 2. 

Apakah kamu juga menjumpai anak – anak di Gapudmutu? Apakah mereka bersekolah? Di tempatku datang itu, anak -anak tidak sekolah karena guru – guru sedang tidak ada di kampung. Seorang pemuda kuliah di Timika, tapi karena kehabisan biaya dia pulang ke kampung. 

Hal kedua adalah apa yang kami lakukan di kampung itu. Kampung kecil yang bersih dan tertata rapi. Aku pernah ke kampung seperti ini di pesisir Mimika. Namanya Ipaya. Setiba di kampung, kami langsung mengunjungi beberapa tempat lalu melakukan pertemuan dengan warga di balai kampung. Warga berdatangan. Tua muda anak2. Laki perempuan. Mereka datang menceritakan berbagai kegiatan di kampung dan menyampaikan harapan mereka. Tentu ini berbeda sekali dengan yang kamu lakukan di Gapudmutu. 

Setelah pertemuan itu, kami pamit dan mengunjungi kampung Yapakopa di arah timur. Kami mencapai kampung melalui sebuah sungai dan melakukan aktivitas serupa. Di kampung itu, harapan warga ada banyak sekali, tapi intinya mereka mau ada sekolah, fasilitas kesehatan yang baik, dan akses telekomunikasi.

Sukab yang ramah dan selalu ramah, 

Setelah dari kampung itu barulah kami kembali ke kampung Potowayburu. Kami tiba di kampung, bukan di dermaga kecil dekat lokpon tadi. Warga menyambut dengan meriah dengan tarian dan nyanyian. Aku melihat sebuah tifa yang dicat berwarna biru. Semua orang menari dan menyanyi. Mereka hidup dari ritme dan tarian. Kita, kamu dan aku mungkin, hidup dari ritme di Strava dan rutinitas. Dari balai kampung di tengah pertemuan, aku melihat senja. 

Orang – orang mengabadikannya dan menyimpannya. Seperti kamu. Dan seperti kamu pula, aku berjalan ke tepi pantai, memotret senja, dengan harapan aku bisa mengirimkannya kepadamu setiba di Timika nanti. Jika nomermu sudah berubah dan sudah dipakai orang lain, biarlah senja itu jadi tersimpan di handphone-nya. Syukur2 bisa jadi screensaver atau jadi foto profil WA dan menemani saat2 sunyinya. 

Lebih syukur lagi jika kamu bisa menemukan postingan ini. 

Doaku selalu untuk kesehatan dan kebahagiaanmu, Sukab.

Cahaya 

The Author

Sementara ini tinggal di Timika, Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s