Liburan ke Rumah Cimot

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tokoh

Berbeda dengan akhir tahun sebelumnya, liburan akhir tahun 2015 tidak aku habiskan dengan bepergian ke tempat baru. Aku memilih pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan beberapa teman lama.

Sepanjang perjalanan ke Yogya aku terus membayangkan apa yang hendak aku lakukan dengan tanah ukuran 10 x 9,6 meter yang baru saja aku beli. Puji Tuhan tanah itu aku beli setelah menabung dengan susah payah selama beberapa tahun bekerja. Sama sekali tidak ada peran pihak lain. Bisa beli tanah, apalagi rumah, di wilayah kota Surabaya, sangat tidak mudah. Bisa jadi aku termasuk di dalam 40% masyarakat yang mampu membeli rumah tetapi mesti dibantu pembiayaannya melalui bantuan uang muka atau angsurannya (Kompas, Kamis 25 Februari 2016)

Tanah itu terletak di bagian tenggara kota Surabaya, tidak jauh dari Perpustakaan Medayu Agung milik Pak Oey, kampus UPN Veteran Surabaya dan bandara udara Juanda. Nama daerahnya Medokan Ayu. Daerah yang sepertinya lebih dibentuk oleh berbagai macam developer perumahan dari berbagai kelas katimbang oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Sebenarnya itu bukan tempat tinggal yang ideal untukku. Selain karena sudah terlalu padat dan nyaris tidak tersentuh perencanaan wilayah yang baik, daerah itu terkenal panas karena sudah tidak jauh dari pantai. Dulu malah pernah kena serangan serangga Tomcat yang mengamuk karena habitat mereka, hutan bakau di pesisir Surabaya, yang rusak akibat perkembangan daerah pemukiman.

***

Di Yogya aku menginap di rumah Vembri, sesama “pendatang” di Papua yang juga sedang berliburan akhir tahun di Jawa.  Beberapa bulan sebelumnya di Timika, kami sempat ngobrol-ngobrol soal Rumah Cimot. Dia memberikan sebuah tautan blog yang menuliskan soal Rumah Cimot, yang dengan segera menjadi penghuni bookmark Safariku.

IMG_3361 copy

Tampak depan Rumah Cimot. Tamannya makin rimbun. 

Vembri sendiri punya pengalaman membangun rumah dengan Mas Yoshi. Namanya Omah Asu. Seperti namanya, Omah Asu adalah rumah yang ditempati Vembri, pacarnya, dan sembilan ekor Golden Retriever yang lucu-lucu.

Besoknya, Vembri mengajakku ke rumah Cimot. Tempatnya di Sleman, di sebuah lereng dekat sungai. Kontur jalannya agak landai. Lingkungannya masih belum sepadat daerah-daerah yang lebih ke selatan seperti Condongcatur.

Ketika kami datang, Mas Yoshi sedang menata kebun baru di samping rumahnya, untuk mengantisipasi sebuah tembok yang baru saja dibangun tetangga. Tembok itu menghalangi pandangan ke sawah yang terbentang di samping rumah Cimot. Tapi toh memberikan ruang untuk dijadikan taman yang sangat digemari kucing-kucing. Sayangnya, Cimot, si kucing yang namanya jadi nama rumah itu, sudah meninggal dunia dan tidak bisa ditemui lagi.

IMG_3363 copy

Ruang tamu/ruang baca/ruang keluarga

Rumah Cimot luasnya 3 x 9 meter. Dua lantai dengan umpak yang tinggi. Dari jauh nampak seperti rumah panggung. Ruang yang tercipta di bawahnya jadi tempat penyimpanan barang-barang. Semuanya menggunakan bahan-bahan bekas. Kata Mas Yoshi, rumahnya itu terus berkembang. Dia mencontohkan hiasan-hiasan di depan rumah yang sebelumnya tidak ada. Kayu yang menyangga kuda-kuda di atas rumah adalah kayu sengon berwarna merah dan bambu yang sudah dipotong-potong dengan perhitungan Jawa dan diawetkan sebelumnya.

RMH CIMOT-INTERIOR

Dapur dan wastafel

 

RMH CIMOT-BOOKS

Sebagian buku-buku di Rumah Cimot

Sambil nongkrong di “teras” samping rumah, aku bilang kalau mau bangun rumah di Surabaya dan nyerocos soal beberapa contoh rumah hasil browsing di internet. Ketika aku minta pendapatnya seperti apa rumah yang cocok untuk kota seperti Surabaya, jawaban arsitek lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu membuatku kaget. Dia malah nanya kesiapanku secara spiritual.

Yang dimaksud Mas Yoshi adalah kesiapan (atau kematangan mungkin, ya) dalam berbagai relasi yang kumiliki. Relasi dengan pasangan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Sambil makan nasi urap yang dibelikan Mas Yoshi, aku jadi mikir bahwa rumah memang bukan sekedar tempat tinggal fisik tapi juga hal-hal yang tidak kasat mata, seperti relasi, ide, dan harapan penghuninya. Sebuah rumah mestinya memungkinkan semua hal yang tidak kasat mata itu berkembang.

Ketika aku bilang bahwa aku hanya akan menempati rumah itu setiap 6 bulan sekali, Mas Yoshi bilang tidak apa-apa. Yang penting ada tempat untuk selalu pulang, katanya. Lalu dia mencontohkan rumah Farah Wardhani yang terletak di depan rumahnya. Kami jalan-jalan melihat ruangan-ruangan di dalam rumah. Tahun depan, rumah seluas 6 x 8 meter persegi itu sepertinya juga akan dipenuhi buku dan tamu seperti rumah Mas Yoshi.

RMH FARAH

Rumah Farah Wardhani

Mas Yoshi menyarankan supaya mulai mencari material bekas yang bisa digunakan untuk rumah. Karena di Surabaya, daerah yang bisa dieksplorasi adalah daerah pelabuhan. Material seperti kayu bekas galangan kapal atau rantai kapal itu bisa dipakai, kata Mas Yoshi. Seperti halnya ketika Mas Yoshi menggunakan kayu nangka ketika membantu pembangunan sebuah rumah yang bernama Rumah Condet di Jakarta.

Sambil berjalan kembali ke Rumah Cimot, aku masih belum punya bayangan seperti apa rumah yang cocok untuk daerah seperti Medokan Ayu, Surabaya, yang padat penduduk dan panas itu? Apakah rumah dengan rancang bangun seperti Rumah Cimot dan rumah Farah Wardhani ini bisa menjawab permasalahan khas Surabaya seperti panas dan nyamuk?

Atau mungkin yang perlu aku jawab duluan adalah soal relasi. Dengan siapa aku akan tinggal? Apakah dengan Minyu saja? Relasi sosial seperti apa yang aku harapkan dengan tinggal di situ (sekalipun hanya untuk secara berkala)? Benarkah aku mau tinggal di Surabaya katimbang di Papua? Jika iya, apakah benar rumah yang aku beri nama Rumah Minyu itu akan jadi tempat tinggal yang nyaman untuk Minyu?

Kepalaku sebelah kiri mendadak terasa berdenyut-denyut. Sepertinya untuk saat ini aku lebih perlu liburan daripada sebuah rumah. Dengan berlibur ke tempat yang asing sama sekali dan berjarak dari semua hal yang biasa melingkupiku, pelan-pelan mungkin akan terbayang sebuah rumah tempatku pulang.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s