Asap Papua

Leave a comment
Current issues / Papua / Tentang kota

Di Mimika, bulan Oktober merupakan penanda berakhirnya musim hujan, meredanya gejolak laut Arafuru, dan melimpahnya udang dan hewan-hewan lainnya di delta sungai-sungai Mimika. Dulu sempat ada festival “Kamoro Kakuru” yang diadakan setiap bulan Oktober.

Tapi rupanya Oktober tahun ini adalah Oktober yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain udang, yang muncul hampir di seluruh Tanah Papua adalah kabut asap. Serupa dengan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

Semua dimulai pada 8 Oktober 2015. Saat itu dua penerbangan dari Makassar dan Denpasar yang biasanya mendarat jam 6 pagi di Timika terpaksa dialihkan ke Jayapura karena kabut di Bandara Mozes Kilangin.

Sekitar jam 10 pagi matahari sudah mulai nampak, tapi pesawat masih belum bisa diberangkatkan ke Timika. Pesawat baru bisa ke Timika sekitar jam 2 siang. Akibatnya, jadwal pertemuan penting yang sedianya dihadiri beberapa orang dari Jakarta terpaksa ditunda hingga setelah jam makan siang. Untunglah pesawat-pesawat kecil milik Trigana, Susi Air serta milik gereja seperti AMA dan CAMA masih berani menembus kabut asap menuju kampung-kampung di pedalaman Mimika.

Sekalipun dibilang kabut, itu bukan kabut pagi yang biasa aku lihat di Timika, Kuala Kencana, atau di dataran tinggi Mimika. Di Timika, kabut biasa mulai menghilang bersamaan dengan sinar matahari jam 6 pagi atau ketika hujan turun. Di dataran tinggi, kabut menghilang di jam yang sama tapi muncul lagi sekitar jam 11 siang.

Searah jarum jam: Rudi Wantik, warga Timika (Jumat, 16 Oktober 2015), dengan maskernya, Suasana Bandara Mozes Kilangin Timika, Kuala Kencana. (Minggu 18 Oktober 2015)

Searah jarum jam: Rudi Wantik, warga Timika (Jumat, 16 Oktober 2015), dengan maskernya, Suasana Bandara Mozes Kilangin Timika, Kuala Kencana. (Minggu 18 Oktober 2015)

Memasuki minggu ketiga Oktober, kabut makin nampak berbeda dari kabut pagi biasanya. Mulai muncul posting di Facebook soal asap, terutama yang tinggal di selatan kota Timika seperti SP 4. Di daerah yang mengarah ke pelabuhan Paumako itu kabut asap memang lebih terasa dibandingkan di Timika atau Kuala Kencana.

Keluhan dari warga Timika dan Kuala Kencana baru bermunculan di media sosial setelah tanggal 15 dan 16 Oktober, terutama setelah semua penerbangan ke dan dari Timika dibatalkan dan asap semakin parah di kedua kota itu.

Pemandangan Timika dan Kuala Kencana yang biasanya cerah dan hujan lebat jadi kelabu seperti kota-kota di Sumatera dan Kalimantan, sekalipun belum terlalu parah. Orang-orang mulai pakai masker dan menduga bahwa asap datang dari perkebunan kelapa sawit di Iwaka, sebelah barat Kuala Kencana. Kemudian ada yang bilang bahwa ini adalah asap kiriman dari Merauke atau kabupaten tetangga seperti Asmat atau Mappi. Melalui twitter aku tanyakan ke teman di Merauke, tapi ternyata pace bilang di kota Merauke cuaca cerah seperti biasa. Penasaran dengan asal muasal asap, aku terus memaksa Mbah Google bekerja, hingga akhirnya aku menemukan situsweb Global Forest Fire Watch.

Asap Papua-2

Dari citra satelit NASA yang dimuat di situsweb Global Forest Fire Watch ini, kelihatan kalau angin berhembus dari Pulau Yos Sudarso di selatan Papua. Menurut BBMKG (Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Wilayah V Jayapura, terdapat 163 titik panas di wilayah selatan Papua dan 46 titik di provinsi Papua Barat (Kompas, Senin 19 Oktober 2015). Asap yang ditimbulkan kebakaran itu kemudian dibawa angin ke arah barat laut Papua, lalu mendadak berbelok tajam ke arah timur tepat di muara jejaring sungai yang mengarah ke Timika. Karena itu Timika mungkin kota yang paling parah menerima asap kebakaran ini. Sementara kota Merauke yang lokasinya paling dekat dengan titik api malah cerah.

Ada dua hal yang diduga menjadi penyebab kabut asap ini. Yang pertama, praktik pembukaan lahan yang dilakukan warga masyarakat untuk membuka lahan baru pertanian dan perburuan rusa di wilayah Kabupaten Merauke. Praktik ini sebenarnya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu, tapi tidak pernah sampai menimbulkan kabut asap karena curah hujan di Timika yang tinggi. Yang kedua, akibat kebakaran lahan di areal kelapa sawit di Kabupaten Merauke. Beberapa tahun belakangan ini memang semakin banyak hutan di Papua yang berganti jadi lahan kelapa sawit, termasuk di Kabupaten Mimika.

Menurut beberapa paitua Amungme, kabut tebal ini sudah mereka kenal sejak lama. Dalam bahasa Amungme disebut “Kiem”. Terjadinya setiap lima tahun sekali dan dialami di semua kampung orang Amungme, baik yang di dataran tinggi ataupun dataran rendah Mimika. “Kiem” juga menandai datangnya musim buah-buahan dan penyakit. Dulu, orang Amungme menghindari daerah dataran rendah setelah “Kiem” datang karena penyakit Malaria merebak.

Dari semua fakta dan cerita yang aku dengar itu, hanya satu yang aku alami, bahwa curah hujan di Timika semakin berkurang. Bulan Juli tahun 2008 saat aku pertama tiba di Timika, hujan terus mengguyur Timika hingga bulan Oktober. Tahun-tahun berikutnya, curah hujan kurasa semakin berkurang, hingga tahun 2015 ini hujan malah digantikan kabut asap yang mencekik pernafasan.

Sebelum kabut asap yang melanda Mimika dan beberapa kabupaten di Pulau Papua ini, asap adalah bagian dari keseharian kehidupan di Papua. Pemuda-pemuda Amungme berkumpul di rumah bujang yang dipenuhi asap perapian. Semakin tinggi dan pekat asap bakar batu, semakin meriah pula acaranya. Orang Kamoro membakar dedaunan sambil mengerjakan sampan mereka untuk mengusir nyamuk. Asap membubung dari pembakaran ikan di Jayapura dan Manokwari. Di sisi lain, dekatnya orang Papua dengan asap juga membuat banyak anak-anak Papua yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Sekarang makin nyata bahwa ada ancaman yang lebih mengerikan selain banyaknya anak-anak Papua yang mengidap ISPA, yaitu sudah takluknya bentang alam dan hutan di Papua oleh kekuatan industri, dengan kebakaran hutan dan perubahan iklim. Kabut asap kali ini sepertinya hanya permulaan saja dari anomali kondisi alam di Papua.

Oh… Begitu kah? Balas seorang teman saat aku bicara kabut asap sebagai awal anomali kondisi alam. Yang jelas setelah ini akan banyak penyakit, Ao (Amungme: Kamu) lihat saja, katanya yakin.

Ya, kita lihat saja. Balasku sambil membetulkan jaketku dan terbatuk-batuk. Udara Timika di malam hari tanggal 17 Oktober itu terasa berat. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena Karbon dioksida dan Sulfur oksida yang memenuhi udara Timika. Dalam hati aku berdoa semoga besok hari Minggu pagi sudah bisa lihat awan-awan dan puncak Nemangkawi yang, dalam diamnya, mengabarkan musim baru yang akan datang, yang belum pernah dialami Papua sebelumnya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s