Istirahatlah Kata-kata

Leave a comment
Tentang kawan / Tokoh / Current issues

Tadi malam nonton Istirahatlah, Kata-kata di Titikdua, Ubud. Film biografi penyair Wiji Thukul. Penyair yg hilang di akhir masa Orde Baru. 

“Jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi,” begitu kata Wiji Thukul dalam salah satu kamar persembunyiannya di Pontianak. Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini memang lebih banyak merekam kehidupan Thukul sebagai buronan aparat di era Orde Baru. 

Film ini menunjukkan, jadi buronan ga cuma perkara sembunyi atau menghindari kejaran aparat negara, tapi juga menghadapi kejengkelan dan kebosanan2 sehari2 seperti lagi enak2 ngetik di komputer tau2 mati lampu, bayi yg nangis krn takut gelap, toilet umum yg bobrok, antri cukur rambut lalu diserobot tentara, atau  berjalan pelan2 di jalanan yg becek dan gelap. 

Rasanya kok itu kisah sehari2 kita ya? Padahal kita ini bukan buronan. Di masa Orde Baru, antara buronan politik dan warga taat pajak itu sepertinya beda tipis2 aja. 

Satu2nya ketegangan yg saya rasakan di film ini adalah saat Thukul yg ditemani Martin Siregar lagi cukur rambut tiba2 diserobot seorang tentara. Saya mengira adegan berikutnya adalah Thukul ditanya2 oleh pak tentara dgn penuh curiga. Ternyata cuma ditanya dengan santai asalnya dari Jawa bagian mana. Semarang, Solo, Jogja? 

Thukul diam saja. Diam di balik topi belel yg menutupi rambutnya yg menggondrong dan luka akibat kena popor senjata di pelipis mata kanannya. Martin yg menjawab santai, mas ini mau pulang ke Jawa karena usaha baksonya habis kena rampok. 

Setelah mendapatkan identitas barunya dgn nama Paul, Thukul semakin berani jalan2 di kota persembunyiannya itu. Puncaknya adalah ketika Thukul, Martin dan Thomas nongkrong di pinggir Sungai Kapuas. 

Thukul yg lagi pamit kencing diledek oleh Martin, jangan kau pamerkan kami burung kau yg kecil itu! 

Dari kegelapan pinggiran Sungai Kapuas Thukul menyahut, wasyuuu!!! 

Obrolan lucu itu berakhir dgn Thukul membaca puisinya, kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tai! Disambut gelak tawa Martin dan Thomas. 

Rasanya seperti beneran lagi nongkrong dengan Wiji Thukul atau dengan Gunawan “Cindhil” Maryanto di Blimbingsari, Jogja. 

Tapi di  Solo, Mbak Sipon istri Thukul masih belum bisa tertawa. Hampir setiap hari rumahnya disatroni polisi dan intel. Bukan cuma aparat negara yg dihadapi Mbak Sipon tapi juga stigma masyarakat sbg istri yg ditinggal pergi suaminya.

Thukul akhirnya memutuskan pulang ke Solo. Sebuah tindakan yang sangat berani utk ukuran saat itu. Thukul sangat tahu resiko yg dihadapinya. Kecemasan akan anak istri dan kegentaran utk menghadapi resiko itu ditunjukkan dari adegan2 yg penuh simbolisme seperti segelas air putih yg dirubung semut atau mimpi Thukul diserbu sekelompok serdadu. 

Di akhir film, Mbak Sipon yg diperankan Marissa itu menangis. Menangis tdk tahu apakah dgn Thukul pulang itu dia harus senang atau sedih. Yang Mbak Sipon mau cuma Thukul harus ada. 

Menanggapi itu, Thukul cuma terdiam lalu menawari Mbak Sipon segelas air putih lalu kembali ke ruang belakang. 

Wiji Thukul kemudian kembali ke Pontianak. Pada tahun 1997 dia ke Jakarta utk ikut bergabung dgn demonstrasi2. Thukul terakhir berkomunikasi dgn keluarganya pada Mei 1998 tdk lama sebelum Soeharto lengser. 

 Setelah itu tdk ada kabar lagi hingga skrg. 

Mbak Sipon skrg sudah meninggal dunia. Kedua anak Thukul sdh besar. Seusai pemutaran film, Mas Anggi sang sutradara bilang kalau film ini seharusnya sdh tdk relevan. Tapi skrg ternyata malah makin relevan. 

Bagi saya, film ini masih akan semakin relevan, sekalipun sdh ada mahar perdamaian, sekalipun soeharto sdh dipahlawankan oleh prabowo, sekalipun pemerintah sdh siap dgn KUHAP baru dan seperti tdk ada perlawanan nyata di jalanan. Karena seperti tulis Wiji Thukul: 

istirahatlah kata-kata

jangan menyembur-nyembur

orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim

segala tangis dan kebusukan

….

tidurlah, kata-kata

kita bangkit nanti

menghimpun tuntutan-tuntutan

yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan

bersama tindakan

bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

Jangan Ada BuzzeRp di Antara Kita 

Leave a comment
Current issues

Hari minggu pagi kemarin cuacanya cerah dan sejuk. Jam 7 pagi matahari bersinar lembut dan angin berhembus sejuk. Setelah lari beberapa kilometer, aku berpapasan dengan seorang perempuan yang lagi lari pagi dengan anjingnya. Jilbab sport warna hitamnya yang berkibar kena angin pagi dan wajah anjingnya yang ceria seperti mengabarkan kemungkinan2 kebahagiaan di minggu baru. 

Di Bali, pemandangan yang seperti itu adalah hal lumrah. Kalau lari lewat jalanan desa yang sepi atau jalanan perumahan, kamu juga akan banyak ketemu akamsi (anjing kampung sekitar).

Ada anjing yang ramah tapi ada juga yang iseng gonggong2. Bagi yang ga biasa, digonggongi dan dibuntuti anjing, apalagi dalam jumlah lebih dari satu ekor, pasti adalah pengalaman yang menakutkan. 

Saya sendiri perlu waktu beberapa bulan buat menyesuaikan diri dengan anjing2 di Bali. Pada akhirnya saya jadi ga takut bukan karena dengerin tips2nya Cesar Milan. Tapi karena biasa ketemu aja. 

Sekarang ini kalau lagi lari dan ketemu anjing2, yang saya lakukan adalah berhenti lari. Ganti ke jalan kaki. Lalu kadang bilang permisii mau lewat. Kalau masih gonggong sambil mengikuti, saya cuekin saja. Tapi kalau gonggongannya semakin terdengar agresif, saya tinggal berbalik dan bentak sambil acungkan jari, setop!! Biasanya ini ga langsung bikin gonggongan berhenti, tapi bikin anjing itu jadi keder sama kita. 

Saya pernah dihadang sama anjing yang ukurannya nyaris segede anak sapi. Tapi dengan ketenangan diri yang sudah saya pelajari beberapa bulan ini, jadinya ya tinggal berhenti lari dan permisi mau lewat. Pernah juga digigit. Bukan sama anjing yg sangar, tapi sama anjing pom kecil yang terkenal cerewet itu. Rasanya seperti digigit gemes sama kucing. Tapi biar kucing sekalipun kalau sdh urusan menggigit bisa serius. Telapak kaki kanan saya sempat bengkak selama beberapa hari karena digigit si Minku kucing saya.  

Dibandingkan kucing, wajah anjing itu lebih ekspresif. Kita bisa langsung tahu dia lagi senang, takut, atau marah. Tapi sekalipun ekspresif, tidak bisa ditebak. Persis seperti yang ditulis Basuki Gunawan dalam novelnya, Winarta. 

Di salah satu postingan di akun stravanya, teman saya seorang pelari mencatat bahwa lari di dekat daerah rumah ini saya tidak enak. Too many dogs. Terlalu banyak anjing, katanya. Saya tahu dia bukan orang yang takut anjing. Saya menduga itu karena dia risih dikejar anjing saat lagi lari dan sudah nemu pace yang nyaman. 

Buat pelari rekreasional seperti saya ini, keberadaan anjing2 Bali itu justru bikin acara lari jadi seru. Seperti ketemu tim cheering atau penggembira di sepanjang perjalanan. 

Dari pengalaman saya, yang gonggongannya paling keras itu biasanya anjing2 gelandangan yang takut atau kaget melihat saya lewat. Apalagi kalau lagi lari di malam hari dengan headlamp menyala di kepala. 

Mereka memang ramai tapi ga berisik. Yang berisik dan bikin kita jadi tergidik terdistraksi itu justru ada di media sosial. Namanya buzzer alias pendengung.

Menurut pengamat media sosial Enda Nasution, buzzer adalah akun2 di media social yang tidak punya reputasi untuk dipertaruhkan. Biasanya tidak jelas identitasnya. 

Tujuannya menimbulkan kebingungan. Membuat masyarakat terjebak dalam popularisme. Yang paling populer itulah yang benar. Yang komentarnya paling banyak itulah pendapat yang benar. Yang jumlah view atau klik banyak itulah yang benar. 

Satu akun buzzer menanggapi komentar saya di artikel media online Kompas.com soal pencalonan Soeharto sebagai pahlawan. Tanggapan akun buzzer itu ternyata banyak sekali saya temukan di media sosial. Biasanya mereka menganggap yang tidak setuju dengan pencalonan Soeharto adalah seorang simpatisan PKI. 

Setelah membaca laporan Drone Emprit soal sentimen publik terhadap rencana pemberian gelar pahlawan nasional ke soeharto, saya jadi paham kenapa buzzer2 itu begitu gencar membanjiri kolom2 komentar akun2 berita dan akun2 pribadi yang kontra daripada pemahlawanan soeharto. Drone Emprit mencatat bahwa sentimen publik di media online lebih banyak yang positif (64%). Tapi di media sosial, sentimennya lebih banyak yang negatif (63%). 


Sentimen positifnya paling banyak mengusung soal soeharto berjasa membangun ekonomi Indonesia. Kalau memang soeharto hebat, seharusnya dengan kekayaan dari oil boom tahun 1970an dan dari tambang di Mimika, Papua, semua anak Indonesia dan Papua bisa sekolah sampai kuliah dengan gratis. Tapi nyatanya hasil dari menjual kekayaan Indonesia ke asing itu jatuhnya ya cuma ke segelintir orang saja. 


Gencarnya buzzer di medsos membela soeharto sebagai pahlawan nasional bikin saya yakin, ada yang lagi ketakutan. Toh tanpa buzzer2 itu, sudah pasti soeharto akan dijadikan pahlawan nasional oleh pemerintahan sekarang ini. 

Kalau anjing di jalanan Bali takut lihat saya lari malam2 pake headlamp, pemodalnya buzzer takut apa? 

Mungkin takut kalo sejarah resmi yang lagi ditulis ulang dengan semangat toxic positivity itu sudah usang di zaman seperti ini. Takut masyarakat makin nuntut keterbukaan akan apa yang terjadi sebenarnya di tahun 1965-66 dan rangkaian kejahatan kemanusiaan lainnya yang dilakukan rezim Orba. Takut legitimasi pemerintahannya terkikis. 

Mempahlawanken Daripada Soeharto 

Leave a comment
Tokoh / Current issues

Dalam karya sastra, tak ada si suci atau si jahat abadi, tak ada pahlawan sejati, namun setiap tokoh berpotensi menjadi bajingan atau hero, demikian catat Sunlie Thomas Alexander, esais dari Belinyu itu. Dalam novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, Shodancho Supriyadi  pemimpin pemberontakan PETA di Blitar itu ternyata seorang penyelundup yang gemar berburu celeng. 

Karya sastra memang bukan buku motivasi atau bimbingan rohani. Karya sastra justru mengajak kita memahami kerumitan kehidupan dan menukik ke lubang hitam spiritualisme. 

Tidak semua orang bisa ngerti itu. Bahkan yang lulusan Fakultas Sastra Rusia Universitas Indonesia sekalipun seperti Fadli Zon. Bagi Fadli Zon, hidup ini harus jelas gamblang hitam putih. Perkara sejarah, tafsirnya harus tunggal dan harus istanasentris. 

Nilai tentang siapa pahlawan atau pengkhianat sekarang ini adalah warisan cap Orde Baru, kata Andi Achdian, sejarawan dari Universitas Nasional Jakarta. Sejak Prahara 1965, cap sebagai pengkhianat menempel di banyak orang yang punya jasa besar bagi Republik ini. 

Bagi Fadli Zon, sejarah itu adalah serangkaian kejadian yang “dia tahu”. Kalau dia “ga tahu” maka kejadian itu ga ada. Pendapat itu bisa berubah setelah didesak tapi berubahnya itu masih dalam batas pikirannya. Misalnya soal pemerkosaan massal 1998  yang disebutnya sebagai “rumor” itu. Awalnya dia ngotot bilang ga ada pemerkosaan massal 1998. Tapi setelah didesak masyarakat dan dicecar DPR, akhirnya dia minta maaf. 

Contoh berikutnya ya soal Soeharto ini. Awalnya dia bilang ga dengar ada yang mempermasalahkan. Eh setelah dia “dengar,” dia bilang  ga percaya kalo Soeharto terlibat dalam Genosida 1965. Saya yakin kalau didesak2 lagi, akhirnya ungkapan pamungkasnya yang pernah dia omongkan di tahun 2021 itu akan muncul, “Pak Harto orang yang menyelamatkan Indonesia dari komunisme 1965-1966.” 

Jadi ga masalah kalau ada jutaan orang yang dibantai di tahun 1965, di Tanjung Priok, di Aceh, di Papua, orang Tionghoa ditindas dicabut kewarganegaraanya ga boleh merayakan identitasnya, aktivis mahasiswa hilang sampai sekarang, korupsi, nepotisme keluarga Cendana, tidak diadili karena alasan sakit, seorang jaksa agung mati ditembak karena sedang mengusut kasus anaknya. Semua itu gapapa karena Soeharto sudah “menyelamatkan” Indonesia dari komunisme. Dalam alasan resminya sekarang ini, katanya karena Soeharto memimpin Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta.  

Itu sama seperti orang Italia bilang gapapa Mussolini jadi pahlawan nasional Italia karena dia pernah mendirikan kota2 seperti Sabaudia dan Aprilia, dan karenanya menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang Italia. 

Tapi orang Italia lebih pintar. Mereka memilih menembak dan menggantung mayat Mussolini terbalik di Milan.  

Soal gapapa karena Soeharto punya jasa itu ternyata juga diaminkan oleh orang2 yang pernah berseberangan dengan dia. Salah satunya yang sekarang jadi Wamensos. 

“Siapapun yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia ini berhak mendapatkan kehormatan sebagai pahlawan. Siapapun berhak jadi pahlawan,” jawab Agus Jabo di sebuah podcast youtube. 

“Siapapun” yang dimaksud oleh Agus Jabo itu tentu adalah Soeharto, bukan dan tidak termasuk orang2 seperti Amir Sjarifudin, pendiri Partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), tokoh perlawanan di masa pendudukan Jepang, mantan Perdana Menteri Indonesia. Karena rekan sekabinetnya, Fadli Zon, “ga tahu” atau ga menganggap penting penggalan sejarah Indonesia yang itu dalam narasi sejarah “resmi” yang sedang dibangunnya.  

Kita ga akan tahu apa jawaban Agus Jabo kepada anaknya atau murid sekolah yang dikunjunginya setelah melihat foto Soeharto di buku pelajaran sekolah. “Pak, ini orang yang dulu bapak demo kan? Kok dia malah jadi pahlawan sekarang?” 

Mungkin dia akan menjawab, “Yah, namanya juga kehidupan nak. Kita harus berhenti ribut. Kita tutup luka lama.” Mengulang jawabannya di podcast youtube, sambil menutup tabletnya setelah menjadi pembicara dalam seminar yang dilakukan secara daring dengan tema, “Buku Sejarah Indonesia yang Baru dan Relevasinya bagi Rekonsiliasi Nasional demi Perwujudan Sepenuhnya Daripada Pasal 33 UUD 1945.”

Reshuffle

Leave a comment
Current issues / Tentang kawan

Reshuffle. Beberapa Menteri diganti, mengakhiri berbagai spekulasi dan gosip2 politik yang biasa jadi bahan gagah2an saat ngobrol dengan teman2. 

Yang paling sering jadi bahan obrolan adalah Menteri Keuangan dan Menkopolhukam, karena masih ada hubungannya dengan gelombang aksi demonstrasi 25 – 31 Agustus 2025 kemarin. Yang ga banyak jadi bahan obrolan adalah pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengeluarkan edaran kepada pemerintah daerah untuk mencegah pelajar ikut turun ke jalan. 

“Memang sebaiknya pelajar, kalau ada aspirasi demokrasi, disalurkannya dengan cara yang lebih pas. Pesannya bisa sampai tanpa harus meninggalkan sekolah,” kata Pak Mendikdasmen. Soal banyaknya siswa dan mahasiswa yang meninggalkan rumah dan sampai sekarang masih belum pulang karena ditahan polisi, Pak Mendikdasmen sama sekali tidak berkomentar. 

Menurut YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) setidaknya 3.337 orang ditangkap, 1.042 mengalami luka2 dan 10 orang meninggal akibat kekerasan aparat. Ketika ditanya wartawan apakah pelajar yang ikut aksi demonstrasi itu adalah tanda meningkatnya kesadaran social pelajar saat ini? Pak Menteri menjawab singkat, “kami akan terus mendalami ya berbagai hal itu… soal motifnya biarlah aparatur keamanan yang menjelaskan.”  

Faktanya sampai sekarang masih tidak ada penjelasan dari polisi kenapa anak2 muda yang ditangkapi masih banyak yang belum dibebaskan. Tidak ada evaluasi bagi institusi polisi. Tidak ada pertanggungjawaban dari Kapolri atas kekerasan aparat dan persekusi yang menyusul bahkan setelah aksi2 demonstrasi usai. Pelaku pelindas Affan Kurniawan sampai sekarang belum ada kabarnya lagi. Bahkan ada kabar yang datangnya seperti dari masa Orde Baru, buku2 Pramoedya Ananta Toer jadi bahan bukti untuk mempidana peserta aksi demonstrasi.

Kontras dengan Pak Mendikdasmen, Kepala Sekolah dan Siswa SMA Kolese Gonzaga punya jawaban yang lebih jernih. Sebagai pelajar SMA, mereka merasa berkewajiban untuk mengedepankan hati nurani, kecerdasan intelektual, kepedulian terhadap sesama, komitmen, kerendahan hati, dan integritas. Mereka juga menolak pandangan umum bahwa pelajar SMA/K dianggap tidak perlu untuk berpartisipasi dalam kegiatan demokratisasi melalui kampanye media social, penyebaran petisi, penyuaraan aspirasi dan sejenisnya, sebab itu dilindungi oleh Pasal 28 ayat 3 UUD 1945. 

Di tahun 1997, setahun sebelum tumbangnya Soeharto di tahun 1998, Romo Mangun sudah “meramalkan” bahwa perubahan masih akan dipelopori oleh anak muda, “hanya dari generasi muda kini yang sudah telanjur manja konsumeristis hedonistis dan hanya mencari karier serta diindoktrinasi selama puluhan tahun agar apolitis, mampu membuat pembaharuan yang mendasar? Jawabannya tak diragukan. Bisa. Mampu.”

Romo Mangun juga sudah membayangkan Indonesia 2045, jauh sebelum ada visi Indonesia Emas 2045, “pada perayaan HUT RI 100 tahun nanti (semoga sebelumnya sudah, berkat globalisasi akseklerasi perbaikan hidup planeter) kita sudah akan memiliki negara dan masyarakat hukum yang bersih dan dapat dibanggakan, bebas ketakutan.” 

Tapi kalau lihat ketakutan negara sekarang ini kepada anak muda melalui kekerasan, penangkapan dan kriminalisasi, visi Indonesia Emas 2045 itu tampak seperti ilusi yang jauh. Alih2 mengembangkan generasi emas yang kritis, demokratis, dan berani, negara justru melatih generasi muda untuk jadi takut dan diam. 

Mereka akan berkembang jadi manusia dengan senyum ramah khas Indonesia yang selalu dibangga2kan itu, tapi batinnya menanggung luka dan trauma, minder, kalah kreatif dan ekspresif dengan anak2 muda dari negara2 jiran kita yang hidupnya bebas dari kekerasan struktural dan budaya ketakutan. 

Negara jiran yang anak mudanya senasib dengan Indonesia dan kualitas demokrasi dan hukumnya seremuk Indonesia mungkin ya Myanmar atau Filipina. Nepal, negara asal serdadu2 Gurkha yang gagah berani itu mungkin akan jadi lebih maju dari Indonesia. 

Kalau begini terus keadaannya, sebaiknya Visi Indonesia Emas 2045 ditunda ke tahun simbolis berikutnya di tahun 2145. Itu pun kalau Republik Indonesia masih belum di-reshuffle oleh rakyatnya sendiri.

Angin Musim 

Leave a comment
Buku

Penulis: Mahbub Djunaidi 

Penerbit: Inti Idayu Press, Jakarta, 1985

Halaman: 176 hal

Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-80 ini, saya baru tahu kalau novel Animal Farm karya George Orwell yang terkenal itu diterbitkan pada 17 Agustus 1945. Novel itu adalah alegori tentang bagaimana perlawanan hewan2 tertindas melawan tirani manusia berubah menjadi tirani yang baru. Bagi yang tidak pernah baca buku2nya George Orwell, pasti langsung mendakwa bahwa buku itu adalah kritik bagi komunisme. 

Novel yang baru mulai popular di tahun 1950-an itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Mahbub Junaidi dan diterbitkan pada tahun 1983. Judulnya jadi “Binatangisme.” Dua tahun berikutnya, Mahbub Junaidi menerbitkan novel berjudul Angin Musim.  

Angin Musim adalah novel dengan tokoh utama non-manusia seperti Animal Farm. Tokoh utamanya seekor kucing betina yang dilahirkan dari hasil percintaan pasangan kucing milik seorang Wedana dan peliharaan seorang pemborong. Melalui si kucing yang tidak disebutkan namanya itu, Mahbub dengan jenaka menggambarkan masyarakat yang sedang berubah. Awalnya Wedana dan pemborong itu bersahabat karena saling menguntungkan. Tapi ketika posisi dan wewenang Wedana mulai digantikan oleh Bupati, si pemborong perlahan meninggalkan sang Wedana. 

Si kucing yang dilahirkan di “tepi pasar” itu usianya masih sekitar 19 bulan ketika dia dibawa ke sebuah penjara. Tugasnya, menjaga penjara bebas dari tikus. Di penjara itu, si “Aku” berkenalan dengan dua ekor kucing lain, si Pincang dan si Keropos. 

Mahbub dengan cerdas menggunakan sudut pandang kucing, hewan yang sudah ribuan tahun hidup berdampingan dengan manusia. Dekat tapi berjarak. Manja tapi independent. Kelihatannya cuek padahal sebenarnya sedang mengamati dan mengomentari kehidupan manusia. Di penjara, bukan hanya gerakan yang dibatasi, tapi juga pikiran. Soal itu si “aku” mencatat, koran dan radio bagi manusia sama pentingnya dengan kepala ikan bagi seekor kucing, atau sebutir buah kecapi bagi seekor beruk (Hal. 51). Tanpa kepala ikan atau sebutir buah kecapi, kucing atau beruk masih bisa hidup. Tanpa informasi dan pengetahuan, manusia masih bisa hidup. Tapi hidup yang seperti apa itu? 

Penjara yang digambarkan mirip dengan suasana penjara tahanan politik di masa Orde Baru atau mungkin Orde Lama. Di dalam penjara dikisahkan ada Pak Ahmad Darul Kutni, dulunya Kepala Jawatan Kereta Api; Pak Suryodiharjo, bekas Mayor Jenderal; Pak Max Karbonari, dulunya wartawan; dan seorang bekas Menteri Urusan Bahan Makanan yang tinggal di blok “Sadar Pangkal Selamat.” Dari semua tahanan itu, hanya Pak Ahmad Darul Kutni yang berbicara dengan si kucing ketika si kucing lagi bunting (Hal. 144). 

Jika Animal Farm bercerita soal pemberontakan hewan2 ternak melawan tirani manusia, Angin Musim menceritakan solidaritas antar spesies hewan dan manusia sebagai sesama mahkluk hidup yang dirampas kebebasannya, dengan caranya masing2. Para tahanan pengen bebas dari para sipir dan kungkungan tembok. Para kucing pengen berdamai dengan para tikus dan kembali ke pasar. Kata si “Aku”: coba pikir, sedangkan antar sesama manusia, pengawal dan penghuni tahanan tidak ada damai2nya, kenapa kita mesti ikut2? Mereka mengurung bangsanya sendiri sampai lumutan, mengapa kita jadi tersangkut-paut? (Hal. 131)

Awalnya saya kira akan ada perdamaian antara kucing dan tikus lalu terjadi perlawanan atas sipir2 penjara, sama seperti cerita Animal Farm. Apalagi mengingat novel ini diterbitkan setelah terjemahan Animal Farm. Tapi ternyata revolusi tidak terjadi. Para tahanan mendengar gossip bahwa mereka akan dibebaskan. Si “Aku” menyaksikan Pak Ahmad Darul Kutni meragukan kabar kebebasan itu; “…apa sebab mereka para pengawal tanpa kecuali berikut semua penunjangnya pegawai sipil mesti tertawa terbahak2? Apanya yang mesti jadi bahan tertawaan? (Hal.168)

Tidak ada revolusi. Reformasi pun tidak ada. Tidak ada pemberontakan. Tidak ada tirani yang terguling dan tirani baru seperti di Animal Farm. Cuma tirani yang sudah pergi tapi masih ada. Tirani yang mengubah penjara jadi hotel serta semua tahanan dan kucing2 disuruh pergi terserah mau ke mana. Kita ini semua sudah terlempar ke luar pagar oleh tiupan angin yang entah datangnya dari mana, kata Pak Ahmad Darul Kutni. 

Jadi inget sebuah negeri di mana kamu bisa tiba2 ditangkap, diadili dengan penuh komedi, ditahan, lalu tiba2 diberi amnesti atau abolisi. Di masa Mahbub masih jadi aktivis PMII di tahun 1960an, jutaan orang ditangkap dan dibunuh tanpa pengadilan. Yang hidup ditahan, disiksa, dikirim ke Pulau Buru, hingga tiba2 dikirim pulang ke rumahnya di akhir tahu 1970an. Persis seperti penjara tempat para tahanan dan kucing2 yang tiba2 jadi hotel. Bagaimana dengan para sipir penjara atau tiraninya? Mungkin juga lagi ikut merayakan kemerdekaan Indonesia Bersama dengan para mantan tahanannya, sambil joget2 diiringi lagu yang dorang tidak tahu judulnya.

Amole!

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua / Tentang kawan / Tentang kota

(Catatan perjalanan dari tahun 2008)

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Sebuah mobil Toyota Hilux di samping mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan berbelok ke timur. Menyusul di belakang mobil, serombongan motor bergerak tergesa-gesa. Hampir semua pengendara motor mengenakan jas hujan berwarna kuning dengan tanda silang warna perak di punggungnya. Mas Eko sedang menggaruk-garuk dagunya ketika aku menaikkan kecepatan kendaraan dan wiper. Hujan semakin deras. 

Mungkin dia sudah tahu bahwa aku memiliki cara sendiri dalam menikmati hujan. Bukan dengan melamun di beranda rumah dan merangkai kata-kata, tapi memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Semakin deras hujannya semakin asyik. 

Hujan deras di Timika ini adalah hujan paling deras yang pernah aku tembus setelah perjalanan Blitar-Surabaya bersama Puthut dan perjalanan singkat menyusuri Ring Road Utara Yogyakarta dari arah Wates hingga perempatan Kentungan. 

Sebenarnya di jalanan gelap dekat Bandara Mozes Kilangin, dia sepertinya sempat mencoba meminta aku mengurangi kecepatan melalui cerita-cerita kecelakaan lalu lintas yang pernah dia lihat sendiri. Tapi ada begitu banyak hal yang membuatku begitu sentimental hingga bisa mengacuhkan orang; butiran hujan yang menghantam kaca mobil, lampu hazard yang menerangi jalan, dan siluet jajaran pohon cemara di bantaran sungai Ajkwa.

Ketika aku menunjukkan pintu gerbang masuk wilayah Freeport kepada Mas Eko, aku sempat membayangkan diriku sebagai karyawan Freeport dan bisa membawa mobil hilir mudik dari Tembagapura-Timika setiap hari, menyusuri jalan akses Freeport yang tidak diaspal dan membelah hutan.  

Mas Eko sudah empat hari di Timika, dan belum pernah melihat matahari lebih dari satu jam. Sedangkan aku sendiri, sudah dua minggu sejak pertama tiba di Timika belum pernah satu hari penuh berlalu tanpa hujan deras. 

***

Menurut informasi dari situsweb BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), Timika akan terus diguyur hujan hingga bulan Agustus. Sama persis dengan informasi yang diberikan Geri, seorang kawan yang sekarang menetap di Ambon. “Cuaca di timur sedang buruk” katanya. Hm… bisa jadi curah hujan di Timika lebih tinggi daripada di Bogor.

Cuaca pula yang menyebabkan pesawat yang aku tumpangi agak bergoncang sebelum mendarat di bandara Mozes Kilangin. Dari balik jendela pesawat, hutan tropis nan lebat terhampar di bawah. Seumur-umur belum pernah aku melihat hutan selebat dan seluas itu. 

Ketika pesawat akhirnya mendarat, kaki kananku terasa berat untuk melangkah. Mungkin kram setelah tiga jam tidak bisa leluasa duduk di pesawat, tapi mungkin juga karena perasaan gentar dan takjub yang aku rasakan sejak di bandara Juanda, Surabaya; seperti apa sebenarnya Papua? Sekalipun ada banyak informasi soal Papua dan Timika, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak bahwa aku akan menjejakkan kaki di Papua, apalagi bekerja di Timika.

Perasaan gentar dan takjub itu sempat hilang ketika mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali. Saat itu aku berencana menghabiskan lima jam waktu transit untuk jalan-jalan ke Legian. Tapi begitu di pintu keluar, semua orang yang aku tanyai mengatakan bahwa jalan ke arah Legian macet, lagi banyak turis.

Sebenarnya ada dua orang teman yang aku andalkan untuk menjemput di bandara dan jalan-jalan ke Legian, tapi ternyata mereka semua sedang sibuk. Reza, teman kuliah yang bekerja di sebuah hotel di Bali, ternyata pulang ke Surabaya mempersiapkan pernikahannya. Seorang lagi, Lukman, sedang berada di Ubud. 

Sms balasan yang aku terima dari dua orang tersebut tiba dalam waktu yang hampir bersamaan, dan di saat rasa lapar memaksaku untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang dikuasai serombongan anak muda yang memakai topi golf. Hanya sebuah meja kecil di dekat wastafel yang tersisa. Itupun masih harus aku bagi dengan seorang pemuda.  

Seperti biasa, rokok mempermudah proses perkenalanku dengan orang asing. Setelah kami menandaskan makan malam dan menyalakan rokok, barulah kami berkenalan. Pemuda yang bernama Budi itu bekerja di Trakindo dan tinggal di Tembagapura, dua jam perjalanan darat dari Timika. 

Jawabannya sungguh singkat dan padat ketika aku tanya soal Timika, “wah, sarang malaria.” Sekalipun sudah satu tahun lebih bekerja di Tembagapura, baru dua kali Budi mengunjungi Timika. Kehidupan di Tembagapura memang membosankan, kata Budi, tapi masih jauh lebih baik dibandingkan Timika. Yang dimaksud lebih baik oleh Budi ternyata fasilitas dan keadaan kota. Tembagapura bersih dan teratur, Timika kotor dan semrawut. Di Tembagapura semua kebutuhan Mas Budi tercukupi, mulai dari tempat tinggal, makan, perpustakaan, dan sarana olahraga. Lhah, kenapa kok ga betah? Apalagi jika dibandingkan dengan Timika. 

“Bosen aja, Mas” balas pemuda asal Jombang penggemar berat bulutangkis itu. Kemudian dia menjelaskan lebih mendalam tentang kebosanannya yang terkadang sudah tak bisa ditahan lagi hingga hari-harinya hanya menjadi penantian jatah cuti setiap empat bulan sekali. Mengerikan sekali. Hebatnya, dia menceritakan semua itu dengan ekspresi yang datar saja, tidak ada penekanan pada kata atau suasana tertentu.

Kami kemudian menyingkir ke sebuah “kursi besar” tempat Mas Budi biasa menghabiskan waktu transit setelah semua kios makanan di bandara tutup. Kursi besar itu terletak di dekat toilet. Di atasnya tergantung layar jadwal penerbangan pesawat. Kami menunggu pesawat ke Timika sambil menelusuri dunia maya. 

***

Tiga jam setelah pesawat bertolak dari bandara Ngurah Rai, kakiku akhirnya menyentuh tanah Papua. Seperti turun dari angkot, kaki kiriku yang menjejak tanah Papua lebih dahulu. Jam di hape menunjukkan jam lima pagi waktu Surabaya, dan di Timika berarti sudah jam tujuh pagi. Gerimis kecil menyambut kedatanganku. 

Bandara yang sangat bersahaja itu dikelilingi hutan lebat. Hutan primer yang begitu kaya akan vegetasi, kata guru SMA kita dulu. Di Jawa hutan seperti itu mungkin tinggal tersisa di Ujung Kulon. Sebelum naik ke dalam bis yang siap membawa penumpang ke bandara, aku mengarahkan pandangan ke gerumbulan tanaman yang warna hijaunya begitu pejal dan basah. 

Akhirnya aku lihat sendiri papan kedatangan bandara yang pernah aku lihat di internet. Papan yang sudah reot itu tidak menerangkan nama bandara, hanya nama kota Timika. Tertulis dalam dua bahasa. Di bawahnya ada semacam ucapan terima kasih kepada para individu dari berbagai negara lengkap dari jajaran bendera-bendera negara asal mereka yang membantu pelaksanaan proyek Freeport. 

Papan yang tergantung di atas pintu ruang kedatangan itu seperti memintaku untuk menghormati dan berterima kasih kepada orang-orang dari negara asing itu. Tanpa mereka, orang-orang asing yang kesepian dan sekarang mungkin sudah sangat kaya tapi tetap saja kesepian ini, kamu tidak akan bisa menjejakkan kaki di Timika. 

Sampai di dalam ruang kedatangan, aku tetap saja tidak menemukan tulisan Mozes Kilangin. Kasihan sekali Pace Mozes ini. Sudah jauh-jauh dan capek-capek antar beberapa geolog muda Belanda “menemukan” sumber tembaga dan emas terbesar di dunia, namanya cuma jadi bandara yang lebih mirip stasiun kereta di kota-kota kecil di Jawa. Dan sudah bisa dipastikan, Pace Mozes tidak ditanya apa nama gunung itu. Maka Nemangkawi Ninggok pun kini lebih dikenal dengan nama Grasberg atau Puncak Jaya.  

***

Pak Yohan dan Pak Yus ternyata sudah agak lama menunggu aku. Selain karena masih tercenung dengan tempat yang masih asing bagiku ini, aku juga masih harus menunggu barang-barangku diturunkan dari bagasi pesawat dan menemukan troli. Setelah berhasil mendapatkan troli dan mengambil barang-barangku, masih harus antri keluar dari ruang kedatangan. Mas Budi, pegawai Trakindo asal Jombang yang menemaniku di Denpasar juga nampak sedang sibuk dengan barang bawaannya. Dia masih harus menunggu hingga jam empat sore sebelum dijemput bis yang akan membawanya ke Tembagapura. Tanpa sempat bertukar nomor telepon aku berpisah dengannya. 

Pak Yustinus adalah salah satu rekan kerjaku selama di Timika. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika pertemuan awal tim kerja kami di Surabaya. Sebelumnya dia mengambil kursus singkat dan bekerja di Australia. Sepulang dari Australia dia sempat bekerja di Yogyakarta dan Surabaya. Pak Yustinus adalah seorang mantan seminaris, dari Seminari Garum, Blitar. Rekan kerjaku yang lain adalah Pak Musa, seorang pendeta asal Kupang yang sudah menetap di Timika sejak tahun 2003. 

Tim kerja yang mantap sekali, kan? Seorang mantan seminaris dan seorang pengabar Injil dipertemukan dengan seorang Katolik murtad seperti aku ini.

Pak Yohan Zonggonau adalah kepala Biro Pendidikan di Lembaga tempatku bekerja. Pak Yohan orang asli Timika, suku Moni tepatnya. Pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas ditempuhnya di Kaokaonao, pesisir selatan Mimika, dan Akimuga. Setelah itu dia melanjutkan studi ke Semarang dan Jakarta.

            Setelah bersalaman dengan Pak Yohan dan Pak Yus, mereka mengenalkanku pada seorang anak muda Papua yang bernama Denias. “Wah, Denias yang di film itu?” tanyaku spontan. Dia mengiyakan dengan intonasi khas Papua.  

            Di dalam mobil, Pak Yus langsung memborbardir Denias dengan pertanyaan soal studinya di Darwin, Australia dan rencana-rencana Denias selama di Papua. Pak Yohan sekali lagi memastikan aku bahwa pemuda Papua yang duduk di sebelahku itu adalah pemuda yang menjadi inspirasi film Denias. Aku hanya mengiyakan sambil memandangi pemuda itu sambil senyum-senyum. Goblok banget. Aku tidak mungkin bilang bahwa aku belum nonton Denias, bahwa yang memprakarsai film itu adalah Ari Sihasale artis ngetop Indonesia. 

            Akhirnya kami tiba di sebuah terminal angkot, tempat Denias turun untuk melanjutkan perjalanan. Terminal itu terletak di dekat perempatan besar. Di tengah perempatan itu terpancang sebuah tugu yang bentuknya seperti empat buah perisai. Tepat di seberang terminal ada sebuah lapangan. Di tengah lapangan ada sebuah panggung permanen yang dicat warna khas subkultur Rastafarian: merah-hijau-kuning dan penuh dengan coret-coretan. Sampah bertebaran di mana-mana, mulai dari bungkus makanan hingga botol bir. Wah, jangan-jangan benar juga salah satu cerita ngeri soal Papua: orang Papua suka mabuk dan bikin onar. 

            Ya, itu cuma salah satu. Masih ada salah dua dan salah tiga cerita ngeri soal Papua. Cerita yang paling ngeri mungkin dari Mas Nanda. “Jangan sembarangan ajak bicara mama-mama (ibu-ibu). Kalau ketahuan suaminya, mampus ditombak kamu,” katanya sambil memilin-milin grenjeng rokok. Mas Nanda kemudian melanjutkan dengan cerita soal kebiasaan mabuk orang Papua. Dia menyarankan aku untuk berlagak sebagai orang yang tidak suka minum. Karena kalau mereka tahu aku suka minum dan ternyata tidak kuat minum, mereka tidak akan menghormatiku atau malah akan jadi sumber keributan karena dianggap tidak menghormati acara. 

***

Sebenarnya aku sudah meminta untuk langsung ke kantor saja. Soal istirahat bisa aku lakukan di sore hari sepulang kerja. Tapi ternyata Pak Yohan dan Pak Yus menyarankan aku untuk istirahat dahulu. Mereka mengantarku ke Hotel  Serayu, di Jalan Yos Sudarso. 

Nyaris tidak ada penanda bahwa aku sedang berada di sebuah kota di Papua. Sekilas nampak sama saja dengan kota-kota kabupaten di Jawa. Deretan bangunan yang nampak tidak tertata dengan baik, para tukang ojek yang melaju kencang, angkutan kota berwarna kuning dan biru, sampah, lampu jalanan yang buruk sekali kondisinya, dan becak. 

Selain Pak Yohan yang asli Timika, yang membuatku merasa bahwa aku sedang berada di sebuah kota di Papua adalah dua pace dan seorang mace yang aku lihat di pinggir jalan. Tidak jelas apakah mereka sedang menunggu angkutan atau cuma iseng nongkrong saja di pinggir jalan. Seorang dari mereka rambutnya dikuncir memanjang ala dreadlock, memakai topi Korpri, mengenakan celana pendek dan kaos kaki sepak bola warna merah. Seorang lagi berdiri berbicara sambil mengunyah pinang. Posturnya tinggi besar, dan semakin dipertegas dengan setelan warna gelap yang dikenakannya. Sedangkan sang mace mengenakan rok panjang, menyampirkan tas di kepalanya, dan juga nampak menikmati pembicaraan dan pinang yang dikunyahnya.  

Kembali aku teringat cerita soal Papua yang dijadikan pesangon untukku oleh seorang kawan, “jangan sampai ketularan makan pinang, hehe,” tulisnya dalam sebuah pesan singkat. 

Di perempatan dekat Jalan Yos Sudarso, semakin banyak pace dan mace berseliweran. Kalau para pace dan mace itu tidak ada, mungkin aku akan menduga bahwa aku tidak sedang berada di Timika, tapi di Turen, kota kecil selatan Malang. 

Di Jalan Yos Sudarso inilah terletak Hotel Serayu tempat tinggalku sementara sebelum mendapatkan tempat tinggal sendiri. Setelah membantu aku menurunkan barang bawaan hingga depan pintu kamar, Pak Yus dan Pak Yohan kemudian pamit untuk ke kantor dan mempersilakan aku istirahat dahulu. Mereka akan menjemputku jam 1 siang. Setelah selesai mandi, aku memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mencari nomor hape baru, karena nomor hapeku tidak aktif di Timika. Serta untuk berkenalan dengan kota yang akan aku tinggali beberapa saat ini. 

***

Baru empat hari di Timika, gaya bicara Mas Eko sudah seperti orang Papua. Hampir setiap omongan diakhiri dengan “…itu sudah.” Mungkin karena pembawaan Mas Eko yang terbuka atau mungkin karena Mas Eko sudah agak lama mengenal orang-orang LPMAK yang lumayan sering bertandang ke Jawa, seperti Pak Yohan, Pak Abraham, dan Pak Kemong . 

            Bahkan dalam perjalanan dari kawasan pinggiran Timika ke Hotel Serayu tempat workshop KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) untuk para guru se-Kabupaten Mimika percakapan antara Mas Eko dan aku lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia yang sesekali diwarnai dialek Papua ketimbang bahasa Jawa dialek Jawa Timuran.    

“Ah, sudah kita cari fotokopi di dekat pasar saja,” ajak Mas Eko yang pusing mencari tempat fotokopi untuk menggandakan beberapa materi workshop. Tidak lama kemudian akhirnya kami menemukan beberapa tempat fotokopi yang masih buka, tidak jauh dari Pasar Swadaya. 

Di Pasar yang terletak di sebelah selatan Hotel Serayu tempat workshop KTSP dan tempatku menginap kita dapat melihat betapa tidak seimbangnya persaingan antara warga asli Timika dan para pendatang. Para mama menggelar barang dagangan mereka, yang kebanyakan hasil bumi seperti sayuran dan buah pinang, di depan pasar bahkan hingga mencapai badan jalan. Itupun mereka harus masih bersaing tempat dagangan dengan para tukang ojek yang kebanyakan orang Makassar. Kios-kios kecil di dalam Pasar Swadaya lebih banyak ditempati oleh para pedagang Bugis, Makassar, Toraja, dan Jawa. Pada musim hujan seperti ini, Pasar Swadaya terlihat lebih kotor dan becek. Sampah terlihat menggunung di salah satu sudut pasar.    

Persaingan yang tidak seimbang itu semakin nampak di Jalan Yos Sudarso. Penjual pulsa adalah orang Malang yang baru tiga bulan di Timika, pemilik kios koran dan majalah asli orang Makassar, keluarga kecil yang mengelola sebuah warung ternyata datang dari Lamongan. Tepat di depan pintu masuk hotel, terdapat sebuah penjual makanan yang menghias gerobaknya dengan tulisan; http://www.suroboyo.com. 

Tidak jauh dari tempatku memarkir mobil, dua orang pace berjumpa dengan seorang kawannya. Mereka berjabat tangan khas Timika. Sebelum berjabat tangan mereka saling mengulurkan tangan yang setengah tergenggam dengan jari tengah agak maju. Sang kawan menyambut dengan posisi tangan serupa dan menjepit jari tengah, mengenggamnya erat lalu mereka saling menarik hingga berbunyi; ctak! Lalu disambung dengan jabat tangan biasa. Setelah semua orang dapat giliran untuk saling berjabat tangan mereka langsung terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Beberapa orang di antara mereka menyapaku ramah saat aku melintas untuk menjumpai Mas Eko di tempat fotokopi. 

Tapi di sisi lain kota bisa jadi sedang ada seorang bapa yang menenteng busur dan anak panahnya sambil berteriak-teriak menuntut keadilan akan keponakannya yang mati terbunuh setelah mabuk-mabukan, seorang pace yang membawa parang menuntut ijazah anaknya yang jadi korban kebobrokan sistem pendidikan Indonesia, atau segerombolan anak-anak merusuhi sebuah keluarga Manado yang sedang makan malam di sebuah restoran cepat saji.

Beberapa kejadian di atas tidak aku ambil dari kumpulan cerita mengerikan soal Papua dari teman-temanku, tapi kejadian-kejadian yang saksikan dan dengar sendiri dari guru SMAK Bernardus Timika. 

Catatan ini aku tulis setelah tiga minggu berada di Timika dan setelah sampai pada kesadaran bahwa mau tidak mau aku telah menjadi bagian dari sebuah masyarakat hibrida yang tercipta dari kegiatan pertambangan di Grasberg. Mungkin sekilas aku terlihat seperti sedang membantu masyarakat tujuh suku; Amungme, Kamoro, Mee, Damal, Nduga, Dani, dan Moni. Tapi bisa jadi sebenarnya aku tidak lebih dari para pendatang yang menggusur masyarakat asli serta pulang ke kampung halaman membawa setumpuk keuntungan dan sekumpulan cerita soal keterbelakangan orang Papua. 

Akankah pengamatan yang intens akan keseharian kota dan daerah ini, keinginan untuk belajar dari orang Papua mengenai sejarah, budaya dan masyarakat mereka, dan keterlibatan langsung dalam keseharian mereka akan memberikan sesuatu bagi masyarakat Papua? Aku belum bisa menjawab. 

Bagi orang Papua hal-hal yang selama tiga minggu aku pikirkan itu pasti dianggap terlalu muluk dan mengada-ada. Pasti Pak Titus akan menjawab “ah sudah, bapa, mainkan saja…,” sambil menawari nongkrong mendiskusikan asal muasal babi di Papua, bertukars mop, dan gosip terkini di Timika. Aku cuma berharap semoga mereka maklum kalau aku menolak mengunyah pinang atau minum Cap Tikus. Ajakan makan papeda, babi, dan Bir Bintang mungkin masih bisa aku terima. Tapi kalau dorang minta sa kunyah pinang, ah sudah, hormat pace, tapi sa tra suka… 

Aku berjalan mendahului Mas Eko yang sudah selesai menggandakan beberapa materi workshop ketika kemudian segerombolan pemuda itu serempak berseru, amole! Ternyata mereka membalas Mas Eko yang mencoba mempraktekkan mengucapkan salam dalam bahasa Amungme itu. Di dalam mobil, kami menurunkan jendela dan menyapa mereka sekali lagi dalam bahasa Indonesia, tapi kali itu mereka hanya membalas dengan anggukan kepala.  

Sabar

Leave a comment
Current issues / Tokoh

Ada orang yg sabar krn itu memang sikapnya. Ada yg sabar krn memilih utk sabar. Dari pengalaman, saya lebih sering ketemu yg kedua. Yg sabar krn pilihan. Milih sabar krn ga mau repot. Mau itu repot krn berantem serempetan di jalan, rebutan jalur di CFD atau milih sayur di pasar.

Sama kayak pak menteri kita yg milih tidak mau percaya sama tragedi Mei 1998 karena merasa tdk terjadi scr massal dan tdk bisa dicari saksi2nya. Saya kira itu pilihan.

Saya ga yakin orang yg punya perpustakaan pribadi begitu besar -dgn koleksi buku dan foto begitu banyak sampai bisa tahu lokasi eksekusi mati Kartosoewirjo- sampai tdk bisa nemu atau mbaca laporan2 temuan2 kerusuhan Mei 1998.

Dia tahu sekali soal pemerkosaan di Nanjing (seperti yg dia sampaikan di rapat dgn DPR) dan mgkn Geger Pecinan 1740 di Batavia. Tapi soal tragedi Mei 98, dia milih ga percaya.

Di masa pandemi lalu, kita sering lihat orang dan pilihan semacam itu. Yg nampaknya bijak dan berpengetahuan, ternyata ga percaya dgn pandemi dan milih percaya teori2 konspirasi. Yg di posisi bisa ngambil keputusan utk nyegah, malah nyuruh rakyat utk berjemur dan minum jamu2an.

Setelah pandemi usai, yg milih tdk percaya pandemi akan lebih mengingat teori konspirasinya ketimbang mengenang korban2 pandemi. Sikap yang 11-12 dgn yg ga mau berempati dgn korban Mei 98 dan memilih percaya teori bahwa Mei 98 adalah persekongkolan aseng utk mendiskreditkan Indonesia.

Sikap yg sama dgn presiden di pidatonya di kongres partai yg baru ganti logonya jadi gajah. Di pidatonya, prabowo bilang bahwa skrg ini banyak org yg sok pintar, bahwa gerakan2 semacam Indonesia Gelap itu disponsori koruptor.

Di akhir pidato, prabowo malah seperti mengkritik diri dan menteri2nya sendiri. “Tadi disebut Mas Kaesang benar teknologi informatika bagus tapi berbahaya bisa disalahgunakan hoaks ujaran kebencian ujaran kebohongan, fake news kadang-kadang, dan tidak mau dikoreksi tidak mau minta maaf dan sebagainya ini yang kita waspada,” kata Prabowo.

Tidak mau dikoreksi dan tidak mau minta maaf. Benar pak. Itu sikap pejabat2 indonesia skrg ini.

Seorang Joko Pinurbo nyatanya lebih bisa membuat pilihan yg benar dibandingkan pejabat2. Jokpin tdk mencatat tragedi dgn “tone positif” atau “demi kebesaran bangsa”. Dia mencatat perasaan kolektif yg ditimbulkan tragedi. Hari2ku terbuat dari innalilahi, tulis Joko Pinurbo.

Orang indonesia sering disebut sebagai orang yg sabar. Selain krn pilihan, utk tinggal di negara seperti Indonesia memang harus sabar, krn itu satu2nya solusi.

Apakah puisi Jokpin yg cuma sepenggal itu mencerminkan kesabaran yg semacam itu? Rasanya tidak.

Membaca puisi Jokpin membuat saya ingat bahwa sabar adalah solusi (jangka pendek) bagi orang yg tdk punya solusi. Sabar yg membangkitkan perlawanan. Dan yang pasti, Jokpin tdk memilih melupakan apalagi menghapus sebuah penggalan sejarah.

Oktober (Robert Frost)

Leave a comment
Uncategorized

O pagi Oktober yang hening,

Dedaunanmu telah matang untuk musim gugur;

Angin esok hari, jika ia liar,

Akan menyia-nyiakan mereka semua.

Burung gagak berseru-seru di atas hutan;

Besok mereka mungkin akan berkumpul dan pergi.

O pagi Oktober yang hening,

Mulailah jam-jam hari ini dengan lambat.

Buatlah hari ini terasa tidak singkat

Hati yang tak enggan diperdaya,

Pukau kami dengan cara yang kamu tahu.

Lepaskan satu daun saat matahari terbit;

Pada tengah hari lepaskanlah daun yang lain;

Satu dari pohon kami, satu dari yang jauh.

Perlambat sinar matahari dengan embun yang lembut;

Mempesona tanah dengan bunga kecubung.

Lambat, lambat!

Demi buah anggur, jika semuanya,

Yang daunnya sudah terbakar oleh embun beku,

Yang buahnya bergerombol harus hilang—Demi buah anggur, di sepanjang tembok.

Road Trip Bali – Malang – Surabaya

comment 1
Catatan Perjalanan

Dari kejauhan nampak Selat Bali dihiasi kerlap kerlip lampu feri yang hilir mudik dari Ketapang ke Gilimanuk. Cahaya matahari masih lembut sekali. Setelah menepikan mobil di depan deretan kios yang sepertinya masih baru dibangun, aku beranjak keluar dari mobil, merenggangkan badan dan menatap kesibukan di Selat Bali di pagi hari. Aku lelah tapi lega sudah menempuh separuh perjalanan Malang – Bali dengan cepat dan selamat. Di dalam mobil, tiga anak kecil dan dua ibu muda sedang tertidur lelap. 

Seorang teman pernah bilang, driving is therapeutic. Kalau bahasa sekarangnya, driving is healing. Itu benar sekali. Tapi kalau nyetir mobil dengan penumpang seperti mereka, rasanya kok ga sido therapeutic. Jadinya malah deg2an apakah bisa menjadi pengemudi yang baik dan mengantar mereka dengan selamat ke tujuan. 

Untunglah kedua ibu2 itu bukan tipe penumpang yang rewel, yang suka gebrak2 dashboard mobil kalau merasa mobil ngebut atau teriak2 kalau papasan dengan bus malam yang melaju kencang. Seingatku mereka cuma sekali agak berteriak kaget ketika sebuah bus malam melaju kencang nyaris bersenggolan spion dengan mobil kami di sebuah tikungan di Alas Baluran.  

Anak2 kecil itu juga. Di sepanjang perjalanan mereka lebih banyak tidur. Kecuali Mirai. Di bagian berikutnya akan aku ceritakan bagaimana Mirai adalah seorang navigator yang handal. 

Terakhir kali aku menempuh perjalanan darat dari Surabaya ke Bali adalah pada tahun 1997 untuk merayakan kelulusan SMA. Aku dan ketiga temanku, Dira, Didik, dan Kembon bergantian menyetir mobil Taft GT berbahan bakar diesel. Tentu saja aku sudah lupa berapa lama waktu dan secapek apa perjalanan ketika itu. Aku kebagian menyetir dari Surabaya hingga Paiton. Lalu ketika balik ke Surabaya, aku dapat gillran menyetir dari Denpasar ke Gilimanuk. Selain itu, seingatku saat itu kami tidak sering berhenti di jalanan. Tancap gas terus. Maklum, darah muda. Wkwkw. 

Berbekal pengalaman itu aku mengiyakan ajakan dua ibu2 muda, Oca dan Putri , untuk melakukan road trip Surabaya – Malang – Bali pulang pergi.  Semua barang akan dikirim dengan ekspedisi ke Malang dan Surabaya. Dengan demikian, mobil Mitsubishi Expander itu akan cukup lega diisi kami bertiga dan 3 anak kecil, Mirai dan Pao anaknya Oca serta Sebas anaknya Putri. 

Beberapa hari sebelum berangkat,  ada perubahan rencana. Ada tambahan mobil dan Dira menawarkan diri untuk menemani karena dia sekalian mau pulang ke Surabaya dari Bali. 

Persiapan kami standar saja, seperti memastikan kondisi mesin, ban dan perlengkapan seperti dongkrak. Persiapanku pribadi adalah untuk menyiapkan kondisi kesehatan dan mental. Soal kesehatan aku memastikan cukup tidur dan fit sebelum berangkat. Untuk melawan kantuk di jalan, aku membekali diri dengan kopi cold brew Gambino dan Amo Gambino. Kalau memang ngantuk bener ya aku akan memilih untuk menepi dan tidur. Soal mental, aku membagi perjalanan Surabaya – Malang – Denpasar yang total berjarak total 530 km ini ke dalam lima etape. Setiap etape aku bagi lagi jadi jarak per 25 km. Jarak normal yang aku tempuh setiap hari dari rumah ke kantor setiap hari di Timika. 

Puas menatap lalu lalang feri di Selat Bali, aku kembali masuk ke mobil. Semua masih tertidur dengan lelap. Aku memasang seat belt, menyalakan mesin mobil, membacai catatan di setiap etape yang aku lalui dari Bali ke Surabaya. Catatan itu  aku tulis ketika sedang berhenti atau ketika kena macet. Sambil melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan Ketapang menempuh jalan yang belum ramai,  aku mengagumi diriku yang tidak kedinginan kena AC mobil sekalipun cuma bercelana pendek dan merasa kasihan pada kameraku yang nganggur. Rencanaku untuk foto tempat2 yang  menarik sama tidak terlaksana. Aku terlalu fokus nyetir. 

Denpasar – Gilimanuk 

Menurut Putri, jalanan di Bali lebih sempit dibanding di Jawa. Kalau kamu melintas di malam hari,  jalanan dari Denpasar ke Gilimanuk memang akan nampak sempit. Tapi kalau kamu melintas di pagi hari seperti ketika perjalananku dari Surabaya ke Bali, jalanan yang sempit itu terkompensasi dengan pemandangan indah di sepanjang jalan, terutama di daerah Jembrana dan Tabanan.  Dari arah Gilimanuk begitu masuk di Kabupaten Tabanan, kamu akan dihadapkan pada pilihan antara mengikuti jalan raya yang lurus atau berbelok ke kanan memasuki sebuah jalan yang disarankan Google Maps. Aku memilih mengikuti penunjuk jalan yang mengarahkan ke arah Denpasar. Dalam perjalanan dari Denpasar ke Gilimanuk, Dira menunjukkan pengalamannya menyetir Bali – Surabaya. Dengan sat set dia mencari celah untuk menyalip di antara rangkaian truk dan bus. Aku jadi terpacu mengikuti kecepatannya yang rata2 100 km/jam itu. Dari belakang aku bisa melihat Sebas sedang berlompatan dari jok tengah ke depan. 

Saat hendak menyeberang ke Pulau Jawa, pelabuhan Gilimanuk cukup padat. Mungkin karena banyak yang mudik ke arah barat menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Kami sempat menunggu selama kurang lebih 40 menit sebelum akhirnya masuk ke perut feri. Sebaliknya ketika hendak menyeberang ke Pulau Bali, suasananya cukup sepi. Begitu tiba di Ketapang aku langsung ke loket untuk membeli tiket feri. Menurut mbak penjual tiket, setelah Natal penyeberangan jadi sepi. Ramenya adalah mulai tanggal 21 hingga 25 Desember.  Setelah memarkirkan mobil di dalam feri yang cuma terisi separuhnya itu, aku sempat tidur selama 45 menit selama penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk. Beda dengan ketika tiba di Ketapang, begitu tiba di Gilimanuk akan ada pemeriksaan KTP seluruh penumpang mobil yang dewasa.  Di Ketapang, setelah keluar dari feri kami  langsung melaju ke luar pelabuhan. 

Ketapang – Situbondo 

Keluar dari pelabuhan Ketapang, kaki sebelah kanan agak kram rasanya. Aku biarkan saja sambil sesekali mengurangi tekanan pedal gas untuk meregangkan kaki. Dira yang lebih dulu tiba di Ketapang sudah jauh di depan kami. Dari live location yang dia kirim, jaraknya sudah 30 menit di depan mobil kami. Aku terus memacu mobil hingga jalanan mendadak menjadi gelap dan semua bangunan di tepi jalan diganti pepohonan. Aku lihat Mirai dan Pao sudah tertidur. Kedua lenganku mendadak terasa dingin. Aku meminta Oca untuk mengambilkan jaketku yang tergeletak di bawah kakinya di antara berbagai tas. Di Alas Baluran, jalanannya agak menanjak di beberapa bagian. Berhati2lah di bagian itu, truk2 besar  kepayahan menanjak, bus2  melaju dengan cepat memanfaatkan jalanan menurun. 

Lepas dari Alas Baluran di tengah2 perjalanan menuju ke Situbondo, kami terjebak macet yang cukup parah. Semua mobil berhenti bergerak. Jam 3 pagi. Oca yang kelelahan setelah menemaniku ngobrol sepanjang Alas Baluran memilih untuk tidur dan memintaku untuk beristirahat sambil menunggu macet. Dira yang sudah berjarak 30 menit di depan ternyata juga kena macet. Turu ae turu, kata Putri. 

Aku memilih untuk turun dan ngobrol dengan beberapa sopir truk yang bergerombol di belakang mobilku. Ada mobil pribadi (sambil menunjuk ke mobilku) berhenti di tengah jalan, seru seorang sopir dari dalam truknya yang melaju dari arah berlawanan. Mendengar itu seorang sopir memilih menjalankan truknya yang berplat nomor Rembang di lajur kanan. Setengah jam kemudian barulah kami bisa kembali melaju. 

Dari arah Surabaya, ada SPBU terakhir di kiri jalan sebelum Alas Baluran yang menurutku enak untuk dijadikan tempat istirahat yang murah. Tempat parkir mobil dan motornya luas dan tidak mepet ke mesin pompa bensin. Aku bertemu dengan keluarga dari Bekasi yang beristirahat di situ setelah berkendara dari Bekasi selama lebih dari 12 jam. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Bali setelah beristirahat sepanjang subuh.  Di belakang deretan toko yang menghadap parkiran mobil ada toilet yang bisa digunakan untuk buang air dan mandi. Bahkan ada dua gazebo yang pagi itu digunakan dua orang untuk tiduran. 

Situbondo – Probolinggo

Setelah keluar dari kota Situbondo, kami kembali kena macet di jalanan  depan PLTU Paiton tanpa penyebab jelas. Nah di ruas jalan ini Mirai terbukti menjadi navigator yang baik. Anak usia 6 tahun yang cerewet itu menceritakan berbagai macam hal. Mulai dari peliharaan imajinernya hingga mitos yang dia dengar di Youtube bahwa hal2 buruk selalu terjadi di jam 3 pagi. Sambil cerita Mirai memegang handphone yang baterenya sudah mau habis dan membacakan semua yang dia baca di Google maps. 

You look tired and sleepy, uncle, kata Mirai yang lebih sering berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. 

Ya, Mirai, after this macet, if you are sleepy and your mom is not awake, we will pull over to sleep, balasku dalam bahasa Inggris dengan logat yang aku mirip2kan dengan Uncle Roger.  

Beberapa menit kemudian kami kembali jalan dan melaju melintasi pembangkit listrik bagi pulau Jawa & Bali itu. Look, Mirai, this place bring lights to the entire island of Java and Bali, kataku. Mirai tidak membalas. Dia sibuk membahas warna2 jalan di peta Google Maps. 

Rasa kantukku langsung hilang begitu melihat lampu2 pembangkit listrik dan cerobong PLTU Paiton. Aku langsung tancap gas menelusuri jalanan lurus ke arah Probolinggo. Matahari sudah mulai terbit ketika aku singgah di sebuah pom bensin sebelum kota Probolinggo. Setelah secangkir kopi hitam seharga lima ribu rupiah berpindah ke botol minumku, aku merasa semakin segar dan kuat untuk melanjutkan perjalanan.  Now you can sleep, Mirai, its past your bed time, kataku pada Mirai yang sudah tidak cerewet lagi. 

Probolinggo – Malang 

Memasuki kota Probolinggo, kami disambut dengan suasana sebuah pasar pagi  dan kabar dari Putri bahwa mereka sudah tiba di Malang. Tidak lama kemudian kami sudah tiba di pintu tol Probolinggo Barat. Dalam perjalanan kembali dari Malang ke Bali, kami diingatkan oleh mamanya Oca agar memilih pintu tol Probolinggo Barat. Dari Malang kami bertolak ke Probolinggo melalui pintu tol Sawojajar. Setelah itu terus melaju ke arah Pandaan hingga akhirnya menemukan gerbang tol ke arah Probolinggo. Jalan tolnya sepi dan aspalnya bagus. Jalan tol itu kemudian bercabang di Probolinggo Barat dan Timur. 

Malang – Surabaya

Kami akhirnya tiba di rumah orang tua Putri jam 8:30 pagi. Dira yang sedang menikmati kopi dan jajanan pasar langsung menyambut dari balik pagar. Oca dan Pao langsung turun dari mobil dan memeluk kedua orang tua Putri. Mirai sang navigator masih tertidur. Setelah beristirahat kurang lebih 1 jam, Dira bergabung dengan aku dan Oca meneruskan perjalanan ke Surabaya.  Rute Surabaya – Malang ini  sama dengan Denpasar – Jimbaran. Kemacetan dan kepadatan jalan membuat rute ini menurutku sudah tidak bisa digolongkan sebagai road trip. 

Semakin mendekati kota Denpasar, jalanan semakin macet. Oca dan Putri memutar lagu2 masa remaja mereka, yang semuanya tidak pernah aku dengar. Sekalipun di perjalanan kembali ke Bali ini Dira tidak ikut menemani,  ternyata tidak secapek yang aku kira. Road trip ini juga tidak sesetress yang aku kira, sekalipun semobil dengan Oca, Mirai, Pao, Putri, dan Sebas. Semua keributan anak2 selama perjalanan dan keseruan berbagai obrolan Oca, Putri, dan Dira ternyata semakin menambah keseruan road trip ini. Kalau suatu saat mereka mengajakku lagi, aku pasti akan langsung menyahut, budhal

Surat untuk Keiko

Leave a comment
Tentang kawan

Halo Keiko, 

Bagaimana kabarmu? Semoga sehat dan baik selalu. Bagaimana kabar kotamu, Osaka? Semoga sudah tidak dicekam oleh pandemi. Di sini, pandemi seperti sudah benar -benar berlalu. Di Surabaya, hingga bulan Maret 2022 masih ada yang meninggal dan dimakamkan dengan prosedur Covid. Aku kurang tahu bagaimana di bulan Mei ini. 

Di bulan Mei ini aku malah teringat dirimu. Kamu berulang tahun di bulan Mei ini. Selain itu, beberapa belas tahun lalu di bulan Mei kamu tiba di Surabaya untuk sebuah proyek penelitian. Saat itu aku ditugaskan untuk menjemputmu di bandara. Berbekal sebuah kertas bertuliskan namamu dan ingatan dari fotomu yang aku lihat di komputer kampus, aku menunggu di depan pintu kedatangan. Itu pengalaman pertamaku menjemput orang di bandara. 

Aku tidak tahu bahwa akan ada banyak orang yang menjemput. Sambil agak berdesakan aku mengamati semua orang yang keluar dari pintu kedatangan. Melihat beberapa orang juga memegang kertas bertuliskan nama sambil memanggil-manggil nama orang itu, aku merasa konyol. Mau ikut manggil tapi kok ya malu. Mau diem aja takut kelewatan. 

Tepat di saat aku menunduk untuk mengeluarkan bungkus rokok, aku mendengar suara perempuan memanggilku, “Kahaya – san?” Belakangan aku baru tahu bahwa di Bahasa Jepang, Ca dieja menjadi Ka. 

Kamu benar – benar jauh dari bayanganku tentang orang dari “luar negeri.” Tinggi badanmu tidak lebih tinggi dariku. Di punggungmu tidak tersanding tas ransel besar. Yang ada sebuah tas selempang berwarna merah. Sambil berjalan memutar pagar pembatas, kamu menyeret sebuah koper besar berwarna biru. Rasanya seperti menjemput teman kuliah yang baru pulang bepergian dari Jakarta.  

Dalam perjalanan mengantarmu ke hotel, aku mendadak jadi pengemudi yang bodoh. Aku bingung antara harus lebih berhati2 mengemudikan mobil, mencari bahan pembicaraan dan berdiskusi dalam Bahasa Inggris.  Beberapa kali aku menginjak pedal rem agak mendadak, hingga tas selempangmu yang kamu taruh di jok belakang terjatuh ke bawah. Gedubrak. Ternyata isinya laptopmu. “Its okay,” katamu sambil merapikan rambut pendekmu. 

Aku agak lega karena Bahasa Inggrismu kira2 msh satu level lah denganku. Kalimatmu pendek2 rapi dengan tata bahasa yang apik dan kosakata yang belum pernah aku dengar seperti, “what is that building on our right hand side?”  

Apakah kamu masih susah membedakan kanan dan kiri? Awalnya aku kira karena kamu masih beradaptasi dengan kesemrawutan kota2 di Indonesia atau kamu cuma mau caper sama aku. Supaya aku mengantarmu ke mana2, mulai dari berbagai lorong di Sidotopo dan Ampel, sampai ke kafe2 di Surabaya. 

Saat itu pilihan kafe di Surabaya belum banyak seperti sekarang. Aku pernah mengajakmu ke sebuah warung kopi di dekat kampus, tapi kamu nampak kurang menikmatinya. Mungkin karena banyak nyamuk dan pria2 yg melihatmu. 

Baru di sebuah kafe di Tunjungan Plaza, aku melihatmu begitu santai dan bisa tertawa lepas.  Kamu ingat ga sih aku tidak mengoreksi caramu menyebut perahu menjadi pirahu? 

Kamu tertawa riang saat akhirnya aku beritahu yang benar adalah perahu? Derai tawa yang membuatku merasa menjadi pria paling diberkati se Surabaya timur.

Kamu menceritakan kesibukan penelitianmu. Aku yang cuma seorang staf biasa di universitas dan ditugaskan untuk menemanimu, hanya bisa sesekali menimpali. Selebihnya aku merasa sedang ikut mata kuliah antropologi yang diampu oleh seorang dosen yang menarik. 

Yang mengagetkan, kamu juga bercerita panjang lebar soal hubunganmu dg pacarmu di Jepang. “Hubungan kami serapuh tissue ini,”  katamu sambil meremas  tissue yang sempat aku gunakan untuk mengelap tumpahan kopi di meja. 

Sebelumnya kamu sempat cerita sedikit2 soal pacarmu itu. Aku membalasnya dengan menceritakan pacarku. Sesungguhnya saat itu aku berharap kamu cemburu mendengarkan cerita2 pacarku. Dan kadang, setibanya di rumah, aku suka berkhayal kamu memutuskan pacarmu seorang dokter muda yg membosankan itu, lalu memilih utk berpacaran denganku. 

Tentu saja itu hanya sekedar khayalan. Tapi di kafe itu, untuk sesaat aku merasa kita sudah berpacaran. 

Setelah kamu meremas tissue itu, aku mengenggam tanganmu. Aku seperti bisa merasakan semua kegelisahanmu. 

Seharusnya aku menciummu saat itu. Supaya ketika aku mengantarmu pulang ke bandara, aku bisa menciummu lagi saat kamu memintaku untuk  terus berkabar melalui email. 

Di saat aku menulis catatan ini, aku juga mencoba mencari tahu soal dirimu di facebook, instagram, dan twitter. Semuanya tanpa hasil. Di dunia di mana orang meninggalkan jejak digital, kamu seperti menghilang tanpa jejak. 

Aku cuma menemukan profil dirimu di sebuah situsweb dan abstrak penelitianmu. Mungkin kamu menggunakan nama lain atau nama samaran di media sosial. Mungkin kamu kembali ke pacarmu, menikah, lalu memiliki anak2 yang lucu. Semoga kamu mengingatku dan sesekali menyebutkan namaku. 

Seharusnya aku melakukan pesanmu untuk terus berkabar. Lebih jauh lagi, seharusnya aku berani untuk menjumpaimu di Osaka, seperti yang pernah kamu tuliskan di sebuah email kepadaku. 

Dengan demikian, aku akan bisa menulis jauh lebih banyak tentangmu, tentang kita. Aku mungkin juga akan bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu di sebuah hari yang sederhana di bulan Mei di Osaka, lalu mencium dan memelukmu. 

Salam dan doaku selalu untukmu, 

Cahaya