Pulang

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua
img_1919

Ketika mobilku melintas di depan Rumah Transit Bobaigo di SP-2, langit Timika memerah dan dua ekor burung Maung (Amungme: Rangkong) nampak terbang dengan tenang ke arah utara. Sudah lama aku tidak lihat burung Maung. Mereka biasanya terbang berpasangan, tidak terlalu tinggi sehingga jika suasana sepi kamu bisa mendengar kepakan sayapnya. Dengan semakin banyak penduduk, mereka pasti makin terdesak. Apalagi di daerah SP-2 yang makin padat setiap hari, sekalipun langganan jadi lokasi bentrokan antar kelompok warga atau akrab disebut perang suku. Apakah  burung Maung yang kesepian itu terbang dari rerimbunan pohon di dekat bandara Mozes Kilangin? Apakah mereka menuju ke belakang Rumah Transit Bobaigo, yang sepertinya masih kosong itu?

 

Aku terus melaju ke arah Kuala Kencana. Warna merah di langit sudah digantikan dengan pekatnya hitam. Berarti benar apa kata Mbak Naning di telfon saat aku menelfon memesan Nasi Goreng. Dia bilang, “Selamat malam.” Mungkin lebih ke utara, di SP-3, suasana memang sudah gelap. Yang aku saksikan tadi adalah sisa-sisa cahaya matahari Timika yang panas sekali selama beberapa hari ini. Menyambut gelap dan para pengendara motor Timika yang hobi balap, aku nyalakan lampu mobil. Sorot lampu mobil yang toh tidak banyak membantu pandanganku, selain membuat marka jalan makin terang. Aku kembali berpikir soal sepasang burung Maung tadi. Apakah benar mereka pulang? Apakah benar aku-yang-menyaksikan-mereka-yang-terbang-pulang sedang menuju ke rumahku? Apakah rumah kontrakanku dan para kucing yang ikut menghuni rumah itu adalah “rumah”ku?

 

Aku selalu membayangkan roh-roh Mbikao (Bahasa Kamoro: Setan. Aku lebih suka menyebut mereka peri) melayang-layang di jalan Timika – Kuala Kencana yang makin ramai. Mereka sudah tidak bisa menari di sungai Ajkwa atau Otakwa yang dangkal dan sudah ditinggalkan ikan-ikan dan keceriaan manusia. Jalan ini dan semua keriuhrendahannya, pasti dianggap sebagai sebuah karnaval bagi para Mbikao.

 

Perlu waktu lama bagi para Mbikao untuk membiasakan diri dengan asap knalpot dan untuk melihat manusia -seperti aku- yang sedang diburu waktu sambil memikirkan kapan semua keriuhan karnaval ini akan berakhir, dan bertanya lirih sambil melihat kaca spion mobil; apakah kamu benar-benar pulang? Untuk apa sebenarnya semua keriuhrendahan ini? Bisakah kita memutar sejarah dan membiarkan orang Kamoro dan Amungme hidup tenang tanpa tambang raksasa dan kekerasan militer dan budaya? Kenapa aku seperti melihat rombongan Mbikao menari-nari di depanku, lengkap dengan bendera merah putih yang membuatmu ingin menangis sedih. Mereka menari-nari ke hadapanku dan menyanyikan lagunya Sigur Ros dengan riang gembira, “Inní mér syngur vitleysingur….”, “inside me a madman sings…” di dalam tubuhku ada orang gila yang menyanyi.

 

Lamat-lamat para Mbikao terbang menghilang ke atas, menyusul burung Maung yang besok mungkin sudah ditembak atau pergi mencari sarang baru. Motor-motor dan mobil melaju ke arah Timika dengan kencang. Sinar matahari semakin menghilang ditelan cakrawala. Untuk sesaat aku merasa harus pulang, tiba di rumah kontrakan, mandi, tidur dengan Minyu, menatap tumpukan buku, tidak berpikir, tidak merasa di sini atau di mana saja.

 

Indonesia will go on

Leave a comment
Current issues

Barusan ngobrol melalui telefon dengan seorang paman yang tinggal di Malang selatan. Di sana, jauh dari ibukota dan para makelar dan analis politik, orang mengikuti perkembangan kasus Ahok. Paman saya bersusah payah menjelaskan kepada “umatnya” bahwa kasus ini bukan soal agama. Kalau sudah soal agama, bisa repot, negara bisa hancur, katanya. Yang lebih heran lagi, katanya, banyak sekali orang berpendidikan yang dengan gampang termakan isu politik berbalut penistaan agama ini.

 

Kalau cuma termakan isu dari WhatsApp soal jalanan di Malang yang retak karena gempa kemarin, itu gampang solusinya, tinggal telefon teman-teman nelayan di Sumbermanjing dan tanya apakah ada jalan yang retak (ternyata tidak ada jalan yang retak seperti yang tersebar di WhatsApp). Tapi kalau soal penistaan agama. Wah, gimana caranya menjelaskan bahwa apa yang banyak tersebar di media sosial itu ga benar?

 

Negara masih ada aja kita susah. Apalagi kalau hancur. Makin susahlah kita. Jualan ikan makin susah, nabung ga bisa, sekolahkan anak ga bisa, mau menikmati hawa Lumbangsari yang adem sambil ngopi dan elus-elus Luwak juga apalagi. Demikian penjelasan paman saya kepada “umatnya.”

 

Iya, balasku, sambil menepikan mobil daripada nabrak ojek Timika yang makin hari makin ngawur berkendaranya. Tukang ojek ngawur membahayakan penumpang dan pengguna jalan. Mereka mungkin menyadari hal itu. Tapi para politikus, makelar, segenap buzzer dan cyber army yang sekarang sedang giat-giatnya mengusung nama agama tidak menyadari bahwa mereka sedang menggerogoti sendi sebuah Negara. Saya tidak sedang bicara tentang superstruktur Negara, tapi cita-cita akan sebuah Negara yang manusiawi dan beradab, yang susah payah dibangun sejak tahun 1945, bahkan sempat dinistakan dengan pembantaian jutaan manusia tidak bersalah pada tahun 1965.

 

Kami kemudian sepakat bahwa memang cangkemnya Ahok bosok dan bahwa kalau mau demo dia sebaiknya soal masalah gusur-menggusur yang kurang dipertimbangkan dengan baik. Kalau soal agama, ya tadi itu, dampaknya akan lebih banyak dirasakan orang-orang biasa macam kita ini. Para makelar politik bisa berubah jadi makelar senjata seandainya terjadi perang saudara. Kita yang akan mampus kena tembak senjata-senjata yang mereka beli.

RK. Narayan, novelis India yang terkenal dengan novelnya, Malgudi Days, pernah bilang, seruwet-ruwetnya India dengan segala konflik primordialnya, “India will go on.” India akan maju terus. Terbukti memang,sekalipun masih belum bisa melepaskan diri dari keruwetan konflik primordial, India masih kokoh sebagai sebuah Negara dan berhasil menempatkan dirinya sebagai bagian dari poros kekuatan baru dunia bersama dengan Brazil, Cina, dan Rusia.

Bisakah kita bilang, Indonesia will go on!? Bisa sekali tapi perlu berhati-hati seperti melaju di jalan raya, karena tidak semua yang demonstrasi membawa bendera merah putih, apalagi yang ukurannya raksasa. Bisa jadi itu malah menunjukkan besarnya nafsu menguasai Indonesia dan membuang kemajemukannya.

 

Virus

Leave a comment
Current issues
img_1850

VIRUS
Sudah lama Minka, Onyong, dan segenap keluarga Onyong tidak berkunjung ke dokter hewan. Hari Sabtu (5/11/16) kemarin aku antar mereka ke drh. Erma di Timika. Sudah dua hari sebelumnya mereka bersin-bersin dan lemas badannya. Aku kira karena mereka keseringan makan rumput atau keracunan jamur/serangga.
Setelah diperiksa, ternyata mereka kena virus Rhinotach, yang gejalanya menyerupai influenza. Virus itu sedang mewabah di Timika. Seorang ibu di Jalan Pendidikan yang memiliki 12 kucing (warbyasah, bukan?) juga mengalami hal yang sama. Tiga ekor kucingnya meninggal dunia karena virus ini.
Untunglah Onyong sekeluarga sudah dua kali divaksin. Daya tahan mereka jadinya lebih kuat. Di kunjungan kali ini, mereka hanya disuntik obat dan diperbolehkan pulang. Di sepanjang perjalanan Timika – Kuala Kencana, Onyong tidak henti-hentinya mengeong.
Aku jadi merasa bersalah. Sebenarnya sempat terpikirkan olehku, tahun ini sudah tahun kedua sejak mereka terakhir kali divaksin dan mereka akan pindah rumah. Pikiran hanya tinggal pikiran. Aku lebih sibuk memperbaiki rumah baru mereka.
Menurut drh. Erma, kucing memang rentan terserang penyakit ini. Tapi di Timika, baru kali ini ada wabah Rhinotach. Biasanya, drh. Erma lebih sering menangani wabah penyakitnya anjing, seperti Parvo. Apakah karena populasi kucing makin banyak, dok? Tanyaku. Mungkin, tapi bisa juga karena ada kucing dari luar Papua yang terinfeksi lalu dibawa ke Papua, kata drh. Erma.
Parvo membuat anjing jadi lemas, berak darah, dan mati jika tidak ditangani dengan baik. Dulu ketika masih tinggal di Yogya, aku pernah beli anjing di Pasar Ngasem. Sebulan kemudian, anjing lucu itu meninggal karena Parvo sekalipun sudah aku bawa ke Klinik milik Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Setibanya di rumah, aku langsung memberi vitamin Nutri gel yang diresepkan oleh drh. Erma ke Onyong dan Minka. Virus sudah menyebar ke Beni dan Poni. Mereka juga sudah bersin-bersin dan nampak lesu. Duh.
Malam harinya, aku ke Timika lagi untuk berbincang-bincang dengan dua orang dosen dan dua orang perawat dari Bandung yang menemani seorang mahasiswa beasiswa LPMAK pulang ke Timika karena terserang Meningitis. Menurut Pak Ujo, perawat senior (dia pernah menangani wabah Tuberculosis di 4 kecamatan di Jawa Barat tahun 1979) yang menemani mahasiswa itu sejak bulan Juni tahun ini, virus itu membuat si mahasiswa jadi “terbelakang” mentalnya. Jadi suka klepto, berperilaku aneh, dan penyendiri. Solusinya, harus ada pendampingan intensif dari dokter di Timika dan asupan makanan yang bergizi. Rumahnya juga harus ventilasinya, supaya virus Tuberculosis mampus dan tidak menular.
Sambil menempuh perjalanan pulang ke Kuala, aku membuka Facebook dan mengikuti berita soal demo “damai” di Jakarta. Para pendemo menuntut Ahok untuk “ditangkap” dan “dihukum” karena sudah menista agama Islam.
Beberapa orang yang aku kenal di Facebook mendukung aksi ini. Umumnya berpendidikan sarjana. Bahkan ada yang sudah pasca-sarjana. Ada yang suka membaca buku. Sayangnya, aku tidak sempat tanya mereka, apakah sudah melihat langsung rekaman videonya yang aslinya dan menempatkannya dalam konteksnya, apakah sudah tahu bahwa Ahok sudah minta maaf, apakah tahu bahwa sudah ada Undang-undang yang mengatur, apakah tahu bahwa di republik ini tidak bisa asal tangkap dan hukum orang (sekalipun sebenarnya banyak juga yang mengalami hal ini), apakah sudah menimbang sebelum menulis status dan menyebarkan informasi.
Mereka punya kemampuan untuk melakukan itu tapi toh tidak dilakukan. Pokoknya menista. Begitu saja biasanya jawabannya.
Tidak ada lampu penerang jalan di jalan antara Timika – Kuala Kencana. Maka aku menutup handphone-ku dan kembali fokus ke jalan. Rupanya, dibandingkan Rhinotach di kucing atau Tuberculosis di manusia, virus politik kekuasaan dan kebebalan jauh lebih berbahaya. Dia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli setinggi apa pendidikannya.
Angin Malam Timika yang dingin menerpaku dari jendela mobil. Mendadak aku merasa letih. Kurasakan air mengalir di atas pelupuk bibirku. Ah, aku terharu rupanya.
Bah, tapi kok ternyata air keluar dari hidung, bukan dari mata. Tidak lama kemudian aku bersin dengan keras. Ealah, ternyata aku kena virus juga.

Selamat Jalan, Bapa John

comment 1
Papua / Tentang kawan
img_4583

Sambil memanaskan air untuk membuat kopi pagi, aku membaca semua pesan dan kabar yang muncul di handphone dan menekan tombol “mute for 1 week” (seharusnya “1 year”) di beberapa grup WhatsApp yang sedang meributkan rencana demonstrasi menolak Ahok di Jakarta, dan menyadari sudah hampir seminggu aku melewatkan rencana membuat status Facebook soal ulang tahun yang ku jamin akan mengharu-biru dan mendulang ratusan “like.” Aku juga baru sadar kalau sudah lama tidak baca koran lokal Timika.

Sudah lima hari aku berada di luar Timika untuk mengunjungi anak-anak Amungme dan Kamoro yang sedang kuliah di Surabaya dan Malang. Begitu banyak yang harus didengar dan dicatat dari pengalaman adik-adik penerima beasiswa LPMAK(Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro) ini. Akhirnya aku memilih mengikuti kabar Timika dari “Salam Papua” yang cukup rajin memposting tulisan-tulisannya. Beritanya cukup beragam, mulai dari pesawat milik Pemda Mimika yang tergelincir di Puncak Jaya, sengketa antara DPRD dan Bupati Mimika, dan sebuah obituari Pak John Nakiaya. Obituari itu dihiasi dengan foto Pak John sedang mengenakan aksesoris khasnya, topi baret.

Pak John Nakiaya adalah Sekretaris Eksekutif LPMAK periode 2002 hingga 2010. Dua hari lalu pada 12 Oktober 2016, Pak John berpulang ke rumah Tete Manis di surga. Karena sedang di Surabaya, aku datang melayat ke rumah persemayaman jenazah Adi Jasa di Jalan Demak bersama dengan rekan kerja di LPMAK dan beberapa dosen Universitas Katolik Widya Mandala.

Jenazah Pak John baru saja dimandikan dan sudah mengenakan jas. Wajahnya Nampak damai. Beberapa kali bahkan aku seperti melihat beliau tersenyum simpul. Di masa akhir hidupnya, Pak John memang berjuang melawan diabetes.

Saat Bu Anita Lie berkunjung ke Timika bulan September lalu, Bu Anita mengajakku ke rumah Pak John di SP-2 Timika, saat itu Pak John nampak sehat dan gembira. Kami bertukar banyak cerita. Pak John sempat cerita bagaimana dulu dia meninggalkan pekerjaannya di Delegatus Sosial Keuskupan Jayapura untuk menjadi pimpinan LPMAK di tahun 2002. Masa itu dikenang sebagai masa yang berat. LPMAK baru saja mengalami perubahan struktur dan ada banyak sekali pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki lembaga dan pelayanan.

Kepergian pria kelahiran Kaokanao tahun 1953 itu membuat banyak rekan, sahabat, dan kolega terkejut tidak percaya. Selain terkejut, biasanya orang kemudian mendoakan arwahnya, dan mengingat etos kerja almarhum semasa masih menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif LPMAK dari tahun 2002 – 2010. Pak John orang yang ulet dan teliti. Sekalipun menjabat sebagai pimpinan tertinggi LPMAK, beliau tidak jarang ikut turun tangan menangani hal-hal kecil demi melancarkan program.

Selain sebagai pimpinan sebuah lembaga pengelola Dana Kemitraan PT. Freeport Indonesia, orang biasanya juga mengenang salah satu ciri khas Pak John, rasa humor dan koleksi cerita mop beliau yang banyak sekali. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan atau mengangkat-angkat, bagiku mengingat sosok Pak John sama seperti mengingat sosok Gus Dur. Gelak tawa Pak John di akhir cerita mop adalah gong yang sempurna, mengakhiri mop dan mengajak pendengar tertawa lepas. Tidak jarang, suasana rapat yang awalnya serius jadi bubar gara-gara cerita lucu Pak John. Bahkan menurut Pak Yeremias Imbiri, Pak John pernah membuat seluruh anggota Komisi VI DPR-RI tertawa terpingkal-pingkal saat rapat di Hotel Sheraton Timika.

Salah satu cerita lucu yang sering disampaikan Pak John adalah cerita Fuyunghai. Suatu saat, ada orang kampung di Timika pergi bersekolah di Jawa. Setelah lulus, pace pulang ke sebuah kampung. Di Timika, pace yang su lama hidup di Jawa itu masuk ke sebuah warung makan. Pace de pesan berbagai macam makanan yang pernah dia makan di Jawa, mulai dari pecel, rawon, soto ayam. Mace yang jual selalu jawab, “tidak ada, anak.” Pace lalu pesan lagi, “Ibu, kalau Fuyunghai ada kah? Mace menjawab, “Ah, apalagi itu anak. Tarada. Kalau Cukimai ada.” Haha…

Pria yang akrab dipanggil “Big John” oleh James Moffet (pendiri Freeport McMoran) ini bukan hanya suka mengulang cerita mop Fuyunghai. Pak John sangat berdedikasi dengan cita-cita untuk memajukan masyarakat Kamoro dan Amungme. Hal itu Nampak dari cerita-cerita Pak John soal pencapaian LPMAK seperti pendirian Asrama dan Sekolah Dasar Penjunan (sekarang namanya Sekolah Asrama Taruna Papua), anak Amungme pertama yang jadi pilot, Nalio Jangkup, Sekolah Sepak Bola Kaokanao, serta buku dan film cerita rakyat Amungme dan Kamoro.

Hingga akhir hayatnya pun, Pak John seolah bisa membuat mop. Bedanya mop ini yang cerita bukan Pak John, tapi salah satu staf LPMAK yang sudah cukup lama bekerja dengan Pak John, namanya Pak Thoby Maturbongs.

Ketika mendengar Pak John meninggal dunia di Rumah Sakit Katolik Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Pak Thobias yang akrab dipanggil Pak Thoby itu, langsung bergegas ke rumah sakit. Di depan jenazah Pak John yang bagi Pak Thoby juga terlihat seperti orang yang sedang tidur dengan tenang itu, Pak Thoby jadi ingat sebuah pengalaman beberapa tahun lampau dengan Pak John.

Saat itu, Bapa Leo Piry, anggota Badan Musyawarah LPMAK yang mewakili masyarakat Kamoro, meninggal dunia di Jakarta. Pak John meminta Pak Thoby pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa apakah benar yang meninggal adalah Pak Leo Piry.

Sekalipun heran karena sudah jelas bahwa yang meninggal adalah Pak Leo Piry, Pak Thoby tetap berangkat ke Rumah Sakit. Setibanya di RS, Pak Thoby menelfon Pak John. Mendengar itu, Pak John bilang “Ahh… kenapa paitua meninggal di perantauan?” Keesokan paginya, Pak John bilang bahwa dia susah tidur semalam, karena takut didatangi arwah Pak Leo Piry.

Pak Thoby mengingat pengalaman itu di depan jenazah Pak John sambil tersenyum. Pak Thoby kemudian berbisik lirih, “Kaka dulu bilang begitu tapi sekarang kaka meninggal di Surabaya. Hehe… tidak apa-apa, Kaka. Selamat jalan, Kaka. Ndoro (Bhs. Kamoro; saya) pamit pulang dulu. Nimao (Bhs. Kamoro; salam)”

Malam harinya, ganti Pak Thoby yang ketakutan di kamar hotel. Takut kalau Pak John menampakkan diri untuk pamit melalui kaca-kaca. Pak Thoby cuma bisa bilang, “Kaka, kalau mau datang bilang-bilang, kah.” Hehe.

Pak John mungkin menyadari benar betapa beratnya perjuangan mengangkat harkat dan martabat hidup orang Kamoro dan Amungme. Pak John pernah bercerita bagaimana kehidupan orang Kamoro makin terperosok di dalam keterbelakangan justru setelah Papua kembali ke dalam “pangkuan ibu pertiwi.” Pak John sangat khawatir dengan masa depan orang Kamoro. Kekhawatiran yang kemudian menjelma menjadi kerja keras. Setelah pension sebagai Sekretaris Eksekutif LPMAK, Pak John masih sibuk bergiat di LEMASKO (Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro) dan aktif memperjuangkan pemekaran Kabupaten Mimika Barat. Selain diwujudkan sebagai kerja keras, Pak John membatasi kekhawatirannya dengan canda tawa. Supaya ada batas demarkasi jelas antara realita yang penuh sengkarut dan dirinya yang harus tetap utuh tidak dirontokkan oleh kenyataan. Seperti yang dikatakan Milan Kundera, “joking is a barrier between man and the world.”

Selamat jalan, Bapa John. Terima kasih atas semua canda, tawa, dan pelajarannya. Semoga makin banyak anak-anak muda Kamoro yang meneruskan cita-citamu.

Nimao!

Penjual Emas

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua / Tentang kawan
dd

Bapak itu menumpang mobil kami ke Timika. Mau ke Timika Indah katanya. Dia berasal dari Nabire daerah gunung ke arah Homeyo. “Lewat Kilo 100?” tanya Vembri. “Ah, tidak, dari Homeyo lurus ke Enarotali, lurus ke Enaro, ke Dumada, ke Tembagapura. 1 minggu jalan kaki dengan John Kas.” Dia menjelaskan rute perjalanannya ke Timika. Perjalanan yang ditempuhnya 16 tahun yang lalu dengan John Kas (pendeta John Cutts maksudnya). Sejak itu dia tinggal dan bekerja di Timika.

Ketika mobil berbelok ke arah lapangan Timika Indah, Bapak itu (ah, kami dua lupa tanya namanya), menyodorkan sebuah kantong plastik berisi sebuk pasir berwarna keemasan. “Ini emas, harga dua ratus ribu, bos.” Aku dan Vembri tidak tertarik membelinya. Aku pernah dengar bahwa serbuk emas warnanya malah bukan kekuningan, tapi kehijauan. Dia tidak menjawab dengan jelas ketika Vembri tanya apakah itu hasil mendulang di sungai.

Tiga puluh menit sebelumnya. Kami tidak mengenal bapak itu. Dia datang di bengkel sekitar jam setengah sebelas siang, ketika sepeda motor adek DD hampir selesai diperbaiki dengan suku cadang yang dibeli di dekat bandara.

Keluarga DD yang datang ke bengkel ada beberapa orang, seorang perempuan adik DD, seorang perempuan tua usia kira-kira 40 tahun, seorang pemuda, dan seorang pria yang kemudian menumpang kami ke Timika. Semua orang Moni dan datang dari tempat tinggal mereka di sebuah lorong sebelum jembatan Selamat Datang. Tepat di jalan raya Timika – Kuala Kencana itu DD datang dari arah pasar, hendak berbelok masuk ke lorong, dan diserempet oleh mobil seorang dokter yang melaju dari arah Kuala Kencana.

“Saya sudah kasih sein kanan dan mobil itu balap-balap dari arah Kuala. Saya jatuh dan motor saya bawa ke pinggir,”kata DD di bengkel sekitar jam 8 pagi, setelah suasana hatinya lebih enak. Kira-kira sepuluh menit sebelumnya, dia menolak ketus ketika saya tanya namanya. “Buat apa tanya nama?” Saya balas supaya saling kenal dan menyebutkan nama. Sebuah tawaran yang dia balas dengan ketus, “tipu.”

Mendengar itu, bu dokter makin nampak gugup. Sama gugupnya ketika kami mendapatinya sedang memarkir mobil di depan lorong masuk. Di sebelah mobilnya, ada sebuah sepeda motor dan bu dokter nampak sedang bicara dengan beberapa orang. Melihat itu, kami menepikan mobil setelah jembatan Selamat Datang, menelfon bu dokter, dan berputar balik untuk memastikan keadaan. Di situ, pembicaraan berlangsung tenang, tidak ribut seperti yang aku duga. Seorang pemuda yang mengunyah pinang dan meludah berkali-kali menyarankan membawa motor ke bengkel untuk diperbaiki. Beberapa tukang ojek berdiri melihat-lihat. Bu dokter menanyakan kepada lokasi bengkel terdekat. Aku jawab di sana, sambil menunjuk ke arah SP2. Padahal sebenarnya yang terbayang adalah Bengkel Surabaya di Timika.

“Mama naik mobil saya. Motor dibawa tukang ojek ke bengkel,” kata bu dokter. Dia nampak menguasai keadaan. Setelah itu dia bisik saya, “saya tidak tahu apa-apa soal motor. Kamu ikut saya kah?” pinta bu dokter. Tanpa diminta pun sebenarnya saya akan temani dia ke bengkel. Hari ini kebetulan tidak ada acara penting, Vembri juga cuma perlu ke Bank Mandiri saja urus ATM. Bu dokter ada rapat jam 9.

Setiba di bengkel, kami langsung menyampaikan perbaikan yang harus dilakukan; plastik bagian depan yang pecah, stang miring, pijakan kaki dan rem sebelah kanan yang bengkok. Selebihnya, motor merk Honda tanpa plat nomor itu sudah nampak  rusak karena kurang perawatan. Menurut pemilik bengkel, biaya perbaikan sejumlah 425 ribu. “Saya bayar sudah. Tapi kamu bawa uang kah? Saya sepertinya tidak ada,” kata bu dokter. “Gampang, dok,” balasku.

DD masih nampak sewot akibat ditabrak. “Diajak bicara-bicara saja, dok,”saranku. Setelah itu bu dokter kembali kepadaku dan minta tolong beli alcohol swab, alkohol, betadine, dan tensoplast.  Aku dan Vembri bergegas ke Apotik di dekat pom bensin SP2. Sekembalinya di bengkel, baru sadar kalau lupa beli alkohol dan aku lihat darah mengalir dari telapak kaki kanan DD. “Mama, ini kasih bersih dulu, ya,” kata bu dokter was-was melihat luka itu. Dia sudah tidak sempat menanyakan botol alkohol yang harusnya aku beli. Dua bungkus kecil alcohol swab dicukup-cukupkan untuk membersihkan luka di kaki DD. Sebelum membersihkan, bu dokter bilang kalau alcohol swab biasanya untuk sterilkan lengan yang akan disuntik. Paling tidak seperti itulah pemahamanku dari cara dia menunjuk2 lengannya.

Sekitar jam 9:15, beberapa kolega bu dokter datang ke bengkel. Mereka dengar kabar dari grup WA bahwa bu dokter terlihat di jalan SP-2 sedang berurusan dengan “masyarakat.”

Suasana jadi agak mencair setelah Vembri cerita bahwa dia pernah ke Paniai dan Wamena. Mama itu, yang ternyata nampak masih muda dilihat dari jarak dekat, menyebutkan nama fam-nya. “Saudaranya Pak kepala sekolah D kah?” Tanyaku yang dijawabnya dengan senyum simpul.

Seorang pria berusia sekitar 30 tahun datang bergabung dengan kami. Dia orang Moni, tetangganya DD. Setelah bicara-bicara dengan DD dalam bahasa Moni, bapak itu bilang bahwa kami sebaiknya memberi sejumlah uang ke DD. Dengan uang itu, DD bisa pergi berobat jika nanti di rumah ada rasa sakit yang timbul akibat kecelakaan ini. “Saya juga pernah dapat tabrak seperti ini,” kenangnya.

“Sedikit saja. 150 ribu kah. Kalau bawa ke rumah biaya besar. Kalau di sini biaya sedikit saja,” imbuh bapak itu kemudian sambil mengayun-ayunkan palu di tangan kanannya.

Dengan sigap seorang kolega bu dokter menyodorkan padaku uang 150 ribu dalam pecahan 100 dan 50 ribu. Awalnya akan aku serahkan ke DD, tapi atas nasehat Vembri, akhirnya bu dokter yang menyerahkan ke DD sambil minta maaf. DD masih nampak belum terima akibat bu dokter yang “balap-balap.”

Bu dokter akhirnya bisa pergi meninggalkan bengkel. Ada rapat penting yang harus dia hadiri. Aku bilang ke DD bahwa bu dokter harus periksa orang. Sebelum bu dokter pergi bersama dengan rombongan kolega bu dokter, seorang kolega bu dokter sempat membisiki aku untuk segera meninggalkan bengkel. Dia khawatir anggota keluarga DD akan datang dan memperpanjang urusan. Aku cuma bilang, sambil setengah berbisik, “saya atur saja bagaimana supaya aman.”

Akhirnya tinggal kami bertiga, DD, aku, dan Vembri. Bapak tadi melanjutkan perjalanannya ke pasar SP2 untuk bekerja. Tak lupa dia meminta 50 ribu dari DD.

Perbaikan motor ternyata makan biaya lebih besar dari yang disepakati sebelumnya. Ganti plastik bagian depan motor biayanya 425 ribu, tapi karena harus beli satu bagian utuh di Timika dan harganya jadi 1.700.000. Bu dokter, yang aku hubungi via telepon, menyetujui kenaikan biaya itu. Dengan gembira aku sampaikan ke ade DD bahwa motor akan diperbaiki semua. Dia nampak senang. Pemilik bengkel juga nampak menikmati perjalanan ke Timika naik mobil sedannya yang bagus itu.

Tapi rasa senang itu memang selalu tidak awet. Karena tidak lama kemudian, Pak pemilik bengkel datang dan mengabarkan bahwa ternyata cuma dapat bagian setir saja dan biaya kembali jadi seperti yang disepakati di awal. DD sepertinya kurang paham atau kecewa dengan penjelasan dari aku dan Vembri. Sebagai solusi supaya tidak terlalu kecewa, Vembri mengusulkan untuk beli beras. Kebetulan di depan bengkel ada toko yang menjual beras berbagai macam karung. Kami beli yang 15kg seharga 145 ribu.

Motor mulai nampak kembali ke wujudnya semula ketika beberapa orang angggota keluarga DD datang. DD menjelaskan peristiwa yang dialaminya. Aku cuma paham kata “balap-balap” saja. Dia juga sepertinya menjelaskan bahwa bukan kami yang menabrak dia, tapi orang lain yang sudah pergi dan memasrahkan urusan ini kepada kami. Keluarga mulai berunding. Tidak lama kemudian, seorang pria yang nampak paling tua di antara mereka menasehati DD untuk berhati2 di jalan, tapi lalu mulai menyebut nilai uang, “dua ratus ribu,” “lima ratus ribu,” sampaiii “satu juta lima ratus.” Inilah yang dimaksud kolega bu dokter tadi. Tapi di angka 1.500.000 itu, sesuai dugaanku, mereka berhenti membahas.

Aku dan Vembri memilih untuk tidak ikut campur dalam obrolan mereka. Lagipula kami harus menyelesaikan pembayaran. Kami menambah uang 50 ribu untuk membeli sepasang spion.

“Ini kami tambah spion. Supaya ade bisa lihat belakang. Lihat apa ada yang balap-balap kah tidak,” kataku sambil melihat mekanik memasang spion. “Bisa tambah plastik bagian ini, bos?” Tanya bapak tadi sambil menunjuk bagian depan bawah lampu. Aku bilang bisa.

Dengan itu kami pamit pulang. ade DD akan pulang ditemani keluarganya. Di saat itulah, bapak penjual emas meminta menumpang ke Timika.

Kisah Anton Pinimet

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

“Anak perempuan (saya) dua sudah ke Moanemani, sekarang mau bawa anak bungsu laki ke Kaokanao? Jangan, Pater” Tukas Mama Julita Deikme sambil mendekap anaknya. Pater Frankenmollen, pastur paroki Akimuga, dengan sabar melanjutkan penjelasannya. Beberapa saat kemudian, dengan bantuan Pak Marten Katagame, Mama Julita akhirnya mengizinkan Anton Pinimet untuk melanjutkan sekolah kelas 3 SD di Kaokanao.

Di Kaokanao, Anton tinggal di asrama di bawah binaan para pater. Sayangnya, Anton hanya setahun saja di Kaokanao. Menjelang naik kelas 4 SD, Anton harus pulang ke Akimuga karena ayahnya meninggal dunia. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu kemudian menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD YPPK Bulujaulaki, Akimuga. Karena sudah sempat merasakan sekolah di Kaokanao, Anton kecil kemudian berinisiatif sendiri melanjutkan pendidikan di SMP YPPK Lecoq d’Armanville Kaokanao hingga lulus.

Anton kemudian pergi ke Timika untuk sekolah di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) Petra Timika. Setelah lulus pada tahun 2004, pemuda kelahiran kampung Aramsolki, Akimuga, 24 November 1983 ini kemudian memberanikan diri untuk mengikuti tes beasiswa LPMAK. Anton dinyatakan lulus dan diterima di IKOPIN Bandung. Sebelum berangkat ke Bandung, Anton menyempatkan pamit ke Mama di Akimuga.

Di kampus IKOPIN, Anton harus mengikuti program Matrikulasi. Awalnya Anton meragukan dirinya. karena semasa SMA, Anton merasa tidak belajar dengan baik. “Di Timika, teman banyak yang ajak hal tidak baik. Akhirnya lupa belajar dan buat tugas sekolah,” kenang Anton. Tapi Anton tidak ingin terus menyesali yang sudah lalu.

Selama setahun ikut Matrikulasi, Anton mengikuti semua mata kuliah bersama penerima beasiwa lain dari Timika. “Awalnya bingung, karena pelajarannya beda sekali dengan di Timika,” kata Anton. Seiring dengan berjalannya waktu, Anton semakin terbiasa dengan semua materi dan tidak ragu menghadapi kuliah.

Selain menyiapkan diri untuk kuliah yang sebenarnya, Anton juga mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ada banyak cara yang digunakan, mulai dari ikut membantu berkebun masyarakat sekitar hingga berteman dengan tukang ojek.

Karena itu, Anton tidak menemukan kesulitan berarti ketika mulai kuliah di Jurusan D3 Manajemen Pemasaran IKOPIN Bandung. Hal itu juga ditambah dengan dukungan teman-teman. Menurut Anton, bedanya dengan di Timika, “teman-teman kuliah di Bandung datang untuk bahas materi kuliah, tidak untuk ajak hal tidak baik.”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, Anton pulang ke Timika. Sayangnya, Ibunda Anton, Mama Julita tidak bisa ikut secara langsung menemani kegembiraan Anton. Mama Julita meninggal dunia dengan tenang di rumahnya di Akimuga ketika Anton sedang ujian skripsi.

Tidak banyak penerima beasiswa yang menempuh jalan yang dipilih Anton, yang tidak mengarahkan orang menjadi tokoh politik atau pejabat. Jalan yang ditempuh Anton adalah jalan menuju pribadi yang bermartabat. Pemuda Amungme itu memilih untuk jadi wirausahawan.

Semua ilmu pemasaran yang didapat semasa kuliah langsung dipraktekkan. Anton berjualan sepatu yang dibeli dari Bandung. Kenapa sepatu? Karena “belum ada orang Papua yang jualan sepatu dan karena ada banyak sepatu bagus di Bandung,” jawab Anton.

Setelah setahun berjalan, usaha Anton makin maju. Anton jadi cukup percaya diri untuk mengajukan pinjaman ke bank untuk meningkatkan usahanya. Pada tahun 2012, Anton semakin sering menjajakan dagangannya dengan sepeda motor kesayangannya. Dengan sepeda motor itu Anton berjualan di berbagai tempat di Timika, bahkan hingga ke kantor Bupati Mimika.

“Kam (kamu) orang Papua tanah sendiri, baru, kenapa jualan macam pendatang saja?” protes seorang teman kepada Anton. “Banyak teman yang bilang seperti itu. Tong (Mereka) heran,” kata pemuda yang ramah senyum itu.

Anton terus berdagang hingga pada tahun 2013 Anton mendapat tawaran kerja di LPMAK sebagai administrator bagian Monitoring Evaluasi Biro Ekonomi LPMAK. Selain menjadi admin, Anton juga dipercaya menjadi asisten bagian kesehatan hewan. Anton banyak belajar dari dokter hewan  mengenai cara vaksin hewan ternak hingga cara menghitung makanan.

Sekalipun sudah sibuk bekerja di LPMAK, Anton masih ingin punya usaha sendiri. Anton kini meluangkan waktu membimbing adik-adik sepupunya berwirausaha. Bagi adik-adik dari suku Amungme yang sedang kuliah di luar Papua, Anton hanya bisa berpesan, “merantau itu cari kawan, bukan cari lawan, dan untuk mendapatkan ilmu.”

The Flight

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kota

image

“Yeah. The flight was good.” I said to her.

In fact, all I can remember about the flight is not the wheather as I keep on fall asleep. All I can remember is the strange man next to me. A short guy with hat and dark eye glasses who keep on whining about his congested nose. He’s probably in his 40 something. A small pierced heart tattoo on his upper right hand serves as a reminder that he has going through different stages of life.

I didnt open conversation until he struck me with bold east Javanese accent, not long before the pilot announce altitude decline, asking me, “asline ndi, mas?” (Where do you come from). It turned out that he is originally from Manado, grew up in Sidotopo (an area not far from Kenjeran – an area in Surabaya where I spent my youth), get married with Manadonese woman in Surabaya until 2003. Now he lives with his wife and two children in Tondano. He told me about his life and job in an oil palm plantation 100 km north of Timika. He said that its about 10 hectares of land full with oil palm plants and that he work everyday from 8 in the morning until he reach home at 9 just to fall asleep. He didnt mention about the Kamoros who abandoned their kampungs in the coastal area of Mimika to find work in that plantation nor about the habit of keeping in touch of whats going on in this world through television or newspapers. “Ga tau ndhelok tivi, mas.” (I never watch television). He answered me when I asked him about the Indonesian citizens who being held hostages in the Philipines, not far from where I am right now, Manado. A city that give Soekarno lenso dance. Some will probably said that Soekarno get the idea to use Lenso dance as national dance due to his visit to the Moluccas. I personally believe that Soekarno get the idea when he visited Manado. Some will said that it has nothing to do with Soekarno’s visit to both place. The only certain thing is that the dance was originally from those two places and that the project has long been abandoned by the fascist Orde Baru regime. Places where people enjoy songs, festivals, food, and all dramas of life, just like Barcelona or Paris.

A place where someone is sitting in an empty cafe, writing useless rants in Evernote, drinking not too cold beer and watching sunset through a bamboo screen. Not far from there, a little girl is taking a selfie with her tablet. Behind her a vast ocean full with islands, corals, and pirates. The pirates who, until now, still held his fellow Indonesian citizens as a hostages. He is suddenly sneezing. He is probably too tired of his flight to this place from Timika or probably get the virus from the strange man named Denny.

Yeah, the flight was good. All is good. I said that just for my self.

Liburan ke Rumah Cimot

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tokoh

Berbeda dengan akhir tahun sebelumnya, liburan akhir tahun 2015 tidak aku habiskan dengan bepergian ke tempat baru. Aku memilih pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan beberapa teman lama.

Sepanjang perjalanan ke Yogya aku terus membayangkan apa yang hendak aku lakukan dengan tanah ukuran 10 x 9,6 meter yang baru saja aku beli. Puji Tuhan tanah itu aku beli setelah menabung dengan susah payah selama beberapa tahun bekerja. Sama sekali tidak ada peran pihak lain. Bisa beli tanah, apalagi rumah, di wilayah kota Surabaya, sangat tidak mudah. Bisa jadi aku termasuk di dalam 40% masyarakat yang mampu membeli rumah tetapi mesti dibantu pembiayaannya melalui bantuan uang muka atau angsurannya (Kompas, Kamis 25 Februari 2016)

Tanah itu terletak di bagian tenggara kota Surabaya, tidak jauh dari Perpustakaan Medayu Agung milik Pak Oey, kampus UPN Veteran Surabaya dan bandara udara Juanda. Nama daerahnya Medokan Ayu. Daerah yang sepertinya lebih dibentuk oleh berbagai macam developer perumahan dari berbagai kelas katimbang oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Sebenarnya itu bukan tempat tinggal yang ideal untukku. Selain karena sudah terlalu padat dan nyaris tidak tersentuh perencanaan wilayah yang baik, daerah itu terkenal panas karena sudah tidak jauh dari pantai. Dulu malah pernah kena serangan serangga Tomcat yang mengamuk karena habitat mereka, hutan bakau di pesisir Surabaya, yang rusak akibat perkembangan daerah pemukiman.

***

Di Yogya aku menginap di rumah Vembri, sesama “pendatang” di Papua yang juga sedang berliburan akhir tahun di Jawa.  Beberapa bulan sebelumnya di Timika, kami sempat ngobrol-ngobrol soal Rumah Cimot. Dia memberikan sebuah tautan blog yang menuliskan soal Rumah Cimot, yang dengan segera menjadi penghuni bookmark Safariku.

IMG_3361 copy

Tampak depan Rumah Cimot. Tamannya makin rimbun. 

Vembri sendiri punya pengalaman membangun rumah dengan Mas Yoshi. Namanya Omah Asu. Seperti namanya, Omah Asu adalah rumah yang ditempati Vembri, pacarnya, dan sembilan ekor Golden Retriever yang lucu-lucu.

Besoknya, Vembri mengajakku ke rumah Cimot. Tempatnya di Sleman, di sebuah lereng dekat sungai. Kontur jalannya agak landai. Lingkungannya masih belum sepadat daerah-daerah yang lebih ke selatan seperti Condongcatur.

Ketika kami datang, Mas Yoshi sedang menata kebun baru di samping rumahnya, untuk mengantisipasi sebuah tembok yang baru saja dibangun tetangga. Tembok itu menghalangi pandangan ke sawah yang terbentang di samping rumah Cimot. Tapi toh memberikan ruang untuk dijadikan taman yang sangat digemari kucing-kucing. Sayangnya, Cimot, si kucing yang namanya jadi nama rumah itu, sudah meninggal dunia dan tidak bisa ditemui lagi.

IMG_3363 copy

Ruang tamu/ruang baca/ruang keluarga

Rumah Cimot luasnya 3 x 9 meter. Dua lantai dengan umpak yang tinggi. Dari jauh nampak seperti rumah panggung. Ruang yang tercipta di bawahnya jadi tempat penyimpanan barang-barang. Semuanya menggunakan bahan-bahan bekas. Kata Mas Yoshi, rumahnya itu terus berkembang. Dia mencontohkan hiasan-hiasan di depan rumah yang sebelumnya tidak ada. Kayu yang menyangga kuda-kuda di atas rumah adalah kayu sengon berwarna merah dan bambu yang sudah dipotong-potong dengan perhitungan Jawa dan diawetkan sebelumnya.

RMH CIMOT-INTERIOR

Dapur dan wastafel

 

RMH CIMOT-BOOKS

Sebagian buku-buku di Rumah Cimot

Sambil nongkrong di “teras” samping rumah, aku bilang kalau mau bangun rumah di Surabaya dan nyerocos soal beberapa contoh rumah hasil browsing di internet. Ketika aku minta pendapatnya seperti apa rumah yang cocok untuk kota seperti Surabaya, jawaban arsitek lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu membuatku kaget. Dia malah nanya kesiapanku secara spiritual.

Yang dimaksud Mas Yoshi adalah kesiapan (atau kematangan mungkin, ya) dalam berbagai relasi yang kumiliki. Relasi dengan pasangan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Sambil makan nasi urap yang dibelikan Mas Yoshi, aku jadi mikir bahwa rumah memang bukan sekedar tempat tinggal fisik tapi juga hal-hal yang tidak kasat mata, seperti relasi, ide, dan harapan penghuninya. Sebuah rumah mestinya memungkinkan semua hal yang tidak kasat mata itu berkembang.

Ketika aku bilang bahwa aku hanya akan menempati rumah itu setiap 6 bulan sekali, Mas Yoshi bilang tidak apa-apa. Yang penting ada tempat untuk selalu pulang, katanya. Lalu dia mencontohkan rumah Farah Wardhani yang terletak di depan rumahnya. Kami jalan-jalan melihat ruangan-ruangan di dalam rumah. Tahun depan, rumah seluas 6 x 8 meter persegi itu sepertinya juga akan dipenuhi buku dan tamu seperti rumah Mas Yoshi.

RMH FARAH

Rumah Farah Wardhani

Mas Yoshi menyarankan supaya mulai mencari material bekas yang bisa digunakan untuk rumah. Karena di Surabaya, daerah yang bisa dieksplorasi adalah daerah pelabuhan. Material seperti kayu bekas galangan kapal atau rantai kapal itu bisa dipakai, kata Mas Yoshi. Seperti halnya ketika Mas Yoshi menggunakan kayu nangka ketika membantu pembangunan sebuah rumah yang bernama Rumah Condet di Jakarta.

Sambil berjalan kembali ke Rumah Cimot, aku masih belum punya bayangan seperti apa rumah yang cocok untuk daerah seperti Medokan Ayu, Surabaya, yang padat penduduk dan panas itu? Apakah rumah dengan rancang bangun seperti Rumah Cimot dan rumah Farah Wardhani ini bisa menjawab permasalahan khas Surabaya seperti panas dan nyamuk?

Atau mungkin yang perlu aku jawab duluan adalah soal relasi. Dengan siapa aku akan tinggal? Apakah dengan Minyu saja? Relasi sosial seperti apa yang aku harapkan dengan tinggal di situ (sekalipun hanya untuk secara berkala)? Benarkah aku mau tinggal di Surabaya katimbang di Papua? Jika iya, apakah benar rumah yang aku beri nama Rumah Minyu itu akan jadi tempat tinggal yang nyaman untuk Minyu?

Kepalaku sebelah kiri mendadak terasa berdenyut-denyut. Sepertinya untuk saat ini aku lebih perlu liburan daripada sebuah rumah. Dengan berlibur ke tempat yang asing sama sekali dan berjarak dari semua hal yang biasa melingkupiku, pelan-pelan mungkin akan terbayang sebuah rumah tempatku pulang.

Membaca “Kibaran Sampari” dan Hal-hal Lain yang Menyertai

Leave a comment
Buku / Papua

IMG_3709-res copy

Proses membaca buku karangan Robin Osborne ini tidak seintens saat aku membaca beberapa buku sebelumnya. Buku ini aku baca di akhir pekan pertama bulan Desember 2015, di saat aku sibuk membuat revisi laporan akhir tahun Program Pendidikan LPMAK, memikirkan rencana-rencana liburan dan resolusi tahun 2016 (kecuali revisi laporan akhir tahun, tidak ada yang bisa aku pikirkan dengan baik dan fokus). Format buku juga kurang nyaman untuk dipegang. Jenis kertas ditambah dengan ukuran huruf yang lumayan besar membuat jumlah halaman jadi banyak, 451 halaman sudah termasuk dengan Index.

Suatu saat, aku membaca di teras rumah. Di rumah seberang, Daniel, anak terkecil keluarga Omaleng sedang bermain jendela rumah sambil pakai popok kedodoran. Minyu menemaniku membaca sambil memanfaatkan waktu bermain di luar rumah. Beberapa hari sebelumnya, entah kenapa Minyu jadi was-was setiap kali mainan di dalam rumah. Di dalam rumah, Vembri dan Pipin sedang masak.

Melihat Minyu bermain dengan riang membuatku agak lega. Kemarin dia juga takut main di luar rumah karena mendadak muncul lima orang dari Dinas Pendapatan Daerah. Mereka tanya ini itu. Suasana semakin meriah ketika Pak Ronald sang pemilik rumah muncul. Pak Ronald agak keberatan dengan kunjungan yang mendadak itu. Suaranya bahkan sempat meninggi. Aku dan Vembri jadi pendengar diskusi menarik itu.

Seorang staf cewek, mungkin karena bosan dengan pekerjaannya, melihat rumah kucing dan bertanya-tanya soal kucing. Kenapa kok bisa banyak dan apa makannya. Dalam hati aku berharap semoga delapan ekor kucing ini tidak dikenai pendapatan daerah. Ketika mereka pamit pulang aku baru sadar kalau aku membiarkan pintu kasa terbuka lebar. Minyu bisa kabur ini, pikirku saat itu. Ternyata, setelah dicari keliling rumah, Minyu sedang sembunyi di kamar Vembri. Kucing yang makin gendut itu rupanya ketakutan mendengarkan keributan di teras rumah. Setelah disayang-sayang dan diberi cemilan kesukaannya, Minyu mulai berani beranjak ke ruang tengah rumah. Syukurlah.

Kalau Minyu sampai tidak bisa bermain dengan gembira lagi, semakin tidak terperikan lagi segala perubahan yang terjadi dalam setahun ini. Aku cuma bisa mengamati, mencatat, dan membacai buku-buku yang ada di rak bukuku. Salah satunya adalah Kibaran Sampari, dalam Bahasa Inggris judulnya “Indonesia’s Secret War; the Guerilla Struggle in Irian Jaya.”

Baca lebih lanjut di situsweb Sastra Papua

Ketinggalan Pesawat

Leave a comment
Catatan Perjalanan

petawat

Waktu menunjukkan pukul 16:30 WIB, masih 5 menit lagi dari waktu boarding yang tertera di tiket. Dengan pongahnya aku mengira keberangkatan pasti akan molor karena berbagai alasan, sebagaimana biasanya maskapai lokal.

Sekalipun pongah aku tetap datang di bandara Juanda lebih awal. Jam 16:00 aku sudah selesai check-in dan bergerak ke lantai dua. Setelah memastikan gerbang tempat pesawat akan mabur, aku menunggu di ruang merokok. Setelah dua batang rokok, jam 16:20-an aku jalan dengan santai ke ruang tunggu.

Di pemeriksaan X-Ray, petugas sangat kaget begitu melihat tiketku. Wah, sudah dipanggil dari tadi, mas. Katanya. Coba mas tanya ke petugas di situ, ujarnya sambil menunjuk seorang pria muda berkemeja putih yang berdiri di depan sebuah meja pemeriksaan tiket.

Aku sontak kaget. Sedari tadi aku menunggu di ruang merokok sampai di depan ruang tunggu, memang ada banyak pengumuman yang aku dengar. Tapi tidak satupun yang kudengar memanggil namaku. Memang saya dengar ada pengumuman, tapi tidak ada yang sebut Wings Air jurusan ke Yogya atau panggil nama saya, ujarku ke pemuda itu.

Awalnya dia bilang karena kebijakan Silent Airport yang diterapkan pengelola Bandara Juanda Surabaya sejak dua tahun lalu. Itu artinya di Juanda kita akan tidak mendengar pengumuman jadwal penerbangan melalui pengeras suara. Penumpang diharuskan mengikuti jadwal di papan informasi yang disediakan. Beberapa bandara udara internasional di Eropa sudah menerapkan kebijakan itu sejak tahun 2012.

Ketika diterapkan di Juanda, banyak orang mengeluh karena ketinggalan pesawat. Bahkan seingatku pernah seorang pengacara muda Surabaya menuntut pengelola Bandara Udara Juanda karena dia ketinggalan pesawat gara-gara silent airport ini.

Entah masih diterapkan atau tidak, alasan silent airport itu tidak aku terima, karena aku mendengar banyak sekali pengumuman keberangkatan pesawat. Saya sudah panggil 20 kali mas, katanya lagi dengan alasan yang baru.

20 kali panggilan itu rupanya hanya dilakukan di ruang tunggu, bukan dengan pengeras suara. Jelas aja saya ga dengar, mas, bantahku. Tapi dia bergeming. Pesawat sudah akan berangkat, katanya. Jancuk, makiku dalam hati. Di luar aku tidak melihat pesawat jenis ATR yang mulai bergerak ke landas pacu. Dia petugas yang baik dan tenang. Seandainya aku marah, dia pasti tidak langsung balas marah. Aku menduga dia akan ngeloyor pergi begitu saja jika aku marah.

Lagian ini jelas-jelas salahku sendiri, yang tidak mengikuti keterangan di tiket. Berbeda dengan tiket Garuda yang dicetak di kertas lumayan tebal dan kaku. Mungkin kertas berat 100 gram. Di situ tertera secara urutan keterangan boarding dan take-off. Sementara tiket Wings Air cuma seperti nota belanja. Tipis dan Keterangan boarding time: 16:05 tertera di sebelah kiri. Sedangkan flight time 16:35 di bagian kanan tiket. Sesuai dengan jam keberangkatan di Traveloka. Ketika aku lipat jadi dua yang nampak hanya keterangan boarding time. Dipadukan dengan sikap meremehkan maskapai lokal, jadilah aku terlambat terbang. Goblik…

Sambil berjalan keluar ruang tunggu aku jadi teringat bagaimana pada tahun 2008 aku diselamatkan oleh keajaiban dari peristiwa semacam ini. Saat itu aku sedang di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, menunggu penerbangan Garuda lanjutan ke Timika. Aku tiduran di depan sebuah tempat makan tidak jauh dari pintu masuk terminal keberangkatan (saat itu bandara Ngurah Rai masih belum sebagus sekarang). Sekitar jam 1 dinihari aku berjalan dengan barang-barangku ke counter check-in dan mendapati counter sudah tutup. Seorang petugas dengan tersenyum bilang kalau sudah tutup sejak setengah jam lalu.

Aku mbribik bilang kalau aku ga mungkin nunggu pesawat berikutnya karena itu berarti harus nunggu semalam lagi. Dan harus keluar uang sekitar 2 juta untuk beli tiket ke Timika. Mendadak si petugas menawarkan solusi menarik, bisa tetap berangkat dengan upgrade ke Kelas Bisnis. Untuk itu aku harus membayar 700 ribu rupiah. Aku setuju dan terbanglah aku dengan Kelas Bisnis untuk pertama kalinya.🙂

Dengan rute pendek Surabaya – Yogyakarta ini kemungkinan semacam pengalaman di Bali itu tidak mungkin ada. Aku coba beli melalui situsweb Traveloka tapi sudah tidak bisa karena waktunya terlalu mepet. Para calo mulai mengendus aroma gagal terbang yang keluar dari diriku. Silih berganti mereka berdatangan menawarkan tiket. Seseorang menawarkan tiket seharga 650 ribu. Aku tolak. Akhirnya aku beli di Kaha seharga 444 ribu dengan Wings Air juga.

Setelah itu aku menghabiskan waktu dengan beli kopi instan dan rokok di sebuah minimarket yang dijaga seorang pemudi yang manis. Dia masih magang sambil menyelesaikan skripsinya di UPN Surabaya jurusan Komunikasi. Sosoknya mengingatkan aku akan seseorang.

Notanya, mas, kata si mbak penjaga kios. Senyumnya membuat aku merasa berat meninggalkan dia tanpa ngobrol-ngobrol dulu. Tapi aku sudah kebelet ngerokok.

Di tempat merokok, aku buka-buka lagi tiket Wings Air yang baru dan nota belanjaan. Di nota belanja minimarket itu aku tidak membaca keterangan donasi untuk panti asuhan dari uang sisa belanjaanku. Seandainya aku Menteri, aku akan memanggil manajernya untuk minta penjelasan. Kalau perlu pimpinan jaringan minimarket  itu aku panggil, marahi habis-habisan, lalu aku pecat. Selain sebagai pelampiasan atas kemarahan yang tidak pantas aku hamburkan ke petugas darat Wings Air tadi, rasanya kok lebih baik marah soal donasi ga jelas ini daripada karena ketinggalan pesawat.