Kuala Kencana; dari Freeport untuk Indonesia

Leave a comment
Papua / Tentang kota

 

Burung elang itu terbang rendah. Saking rendahnya aku bisa mendongak ke atas sambil mengendalikan mobil dan masih bisa mengikuti cara terbangnya yang anggun. Jam di hapeku menunjukkan pukul 07:30. Cuaca cerah sekali dan tidak lembab walau tadi malam hujan lebat. Masih cukup waktu menempuh jarak 22 kilometer dalam waktu kurang dari 30 menit dan menyeduh kopi di kantor. Pagi terasa begitu indah hingga di depan nampak deretan mobil berhenti dan orang-orang keluar dari dalam mobil. Mungkin pemeriksaan mobil, batinku. Tapi setelah 10 menit menunggu dan makin banyak orang turun sambil melihat ke arah pertigaan yang masih sekitar 500 meter lagi aku jadi penasaran dan bertanya pada seseorang. Ada palang jalan, pak. Kemarin ada motor ditabrak truk. Korbannya orang Moni, katanya. Bah, bisa lama ini, balasku. Itu sudah, pak, katanya.

Semua orang di Timika maklum jika ada pemalangan jalan. Biasanya karena ada permasalahan besar. Seperti peristiwa tabrakan hingga ada korban meninggal dunia. Tapi di Kuala Kencana, pemalangan jalan adalah hal yang luar biasa. Orang-orang mulai membahas bahwa korbannya adalah seorang mama yang baru saja pulang dari kebun, naik motor matic, truknya melaju kencang dari arah Timika, dan seterusnya.

Karena sia-sia saja mendengarkan berbagai macam versi cerita, aku kembali ke mobil. Burung elang itu sudah hilang. Mungkin sudah mendapat mangsa. Aku sudah pasti terlambat kerja. Di depan pintu mobil aku sontak tersadar, bahwa setelah 5 tahun tinggal di Kuala Kencana, baru kali ini aku bisa berdiri dan berjalan kaki di jalan yang biasa aku lalui dengan mobil sambil ngebut.

Saat itu, pada bulan Agustus 2008 aku sudah tinggal di Timika selama dua bulan. Aku cukup betah, karena semua yang aku butuhkan ada di Timika. Sekalipun agak males karena repot harus pindah dan menjauh dari keramaian kota Timika, aku menurut saja ketika diajak pindah ke Kuala Kencana. Di sana, kata seorang teman, enak karena bebas Malaria dan orang mabuk, listrik dan air bersih lancar. Pokoknya pak dorang bisa istirahat dengan tenang, imbuhnya. Wah, seperti mau ke kuburan saja.

Ternyata yang dia ucapkan itu benar adanya. Setelah menempuh jarak 22 kilometer dari Timika, kami tiba di sebuah gerbang dan pos penjagaan. Di dalamnya ada dua orang berseragam satpam warna biru dan helm proyek warna yang sama duduk berjaga. Aku langsung menurunkan kaca jendela dan mengucapkan salam. Lurus saja ini, kata Pak Yus, yang sebelumnya sudah pernah ke Kuala Kencana.

Selepas pos pemeriksaan, aku tercengang mendapati jalanan luas nan lengang dengan tekstur aspal yang kasar. Terasa lebih berkualitas dibandingkan jalanan di Timika dan di semua kota di Indonesia yang pernah aku lewati. Ban mobil terasa mencengkeram di aspal. Di sisi kanan dan kiri, pepohonan dengan tinggi sekitar 5 meter menghalangi sinar matahari.

Sekalipun sudah tinggal di Timika selama 2 bulan, baru saat itu merasakan suasana sejuk hutan dan teduh melihat tingginya pepohonan di sini. Sekitar 500 meter kemudian, sebuah pertigaan. Setelah pertigaan itu, pemandangan sedikit berubah, hutan di sisi kanan mundur sekitar 10 meter, memberi tempat bagi tiang-tiang listrik besar di sepanjang jalan. Mobil yang lalu lalang juga berbeda. Kebanyakan mobil bergarda-ganda bikinan Amerika, berwarna putih, dihiasi nomor lambung dan stiker Freeport di pintu depan. Jalanan lurus dan mulus itu menggodaku memacu laju mobil. Pak Yus yang menangkap gelagatku hendak ngebut mengingatkan, di sini hukumnya lain, lho, kalau ngebut kita terlacak radar gun dan didenda. Bah, ini kan masih Indonesia. Balasku sambil menekan pedal gas semakin dalam. Tidak sabar melihat tempat tinggal baruku.


Beda dengan Timika yang berkembang secara organis, Kuala Kencana adalah kota yang terencana dan ditujukan menjadi kota contoh di Indonesia serta menjadi akomodasi karyawan dan peralatan industri PT. Freeport yang semakin membesar. Semua itu karena keuntungan besar dari eksplorasi bijih mineral di tambang yang sudah ada serta dari kontrak kerja sama PT. Freeport Indonesia dengan perusahaan tambang raksasa Rio Tinto-CRA pada tahun 1992 (Soehoed, 2005, p.58). Kontrak ini adalah “nafas segar” karena Freeport mendapatkan pinjaman sebesar 250 juta dollar AS. Dengan akumulasi keuntungan sebelumnya plus dana segar itu, Freeport mampu melakukan ekspansi usahanya, mulai dari membeli sebuah pelebur tembaga di Huelva, Spanyol, lalu ikut urunan membangun pabrik pengolahan di Gresik. Sekalipun tidak ada literatur atau sumber yang dengan jelas menyebutkan hubungan antara kondisi keuangan Freeport pada paruh pertama tahun 1990-an dengan pembangunan Kuala Kencana, tanpa “nafas segar” itu Freeport tidak akan berani membangun sebuah kota baru bagi karyawannya yang semakin berjubel di Tembagapura dan diserbu Malaria di Timika.

Ada dua lokasi yang awalnya menjadi lokasi sebuah kota baru, di Mil 50 dan di Mil 32. Keduanya berada tidak jauh dari Kwamki Narama, daerah pemukiman pertama di Timika. Sebelumnya tidak pernah jadi daerah hunian baik bagi orang Amungme dan Kamoro. Mil 50 kemudian batal dijadikan lokasi kota karena setelah hasil survei tanah menunjukkan tanah di situ adalah tanah paling lunak di seluruh dataran rendah Mimika, tidak ideal untuk fondasi bangunan.

Setelah Mil 32 ditetapkan jadi lokasi kota baru, masalah lain muncul menghadang. Lokasi itu ternyata sudah dimiliki dan digarap oleh sebuah perusahaan kayu. Perusahaan itu sudah membuat jalan akses dari Timika dan menebangi sejumlah besar pepohonan. Dalam negosiasi dengan Freeport, perusahaan itu bersedia lokasinya dijadikan kota asal Freeport mau menunggu semua pohon di lahan yang diakuisisi perusahaan itu habis ditebang. Freeport menolak. Mereka tidak mau membangun kota di atas lahan yang baru saja digunduli. Dalam bukunya, George A. Mealey (1997, p.330), salah seorang eksekutif Freeport, mencatat bahwa Freeport “menginginkan hutan rimba yang masih perawan itu sebagai bagian integral kota.”

Negosiasi akhirnya berhasil. Perusahaan kayu itu bersedia menjual lahan konsesinya kepada Freeport senilai 5 juta dollar AS. Freeport segera membuat berbagai persiapan membangun sebuah kota baru, mulai dari survei topografi hingga membuat survei kepada para pekerjanya yang tinggal di Tembagapura tentang kota ideal menurut mereka. Sebuah survei yang pasti diisi dengan antusias oleh para karyawan dan buruh Freeport yang hidup berjubel di barak-barak di Tembagapura, dingin terpencil, jauh dari hiburan dan keluarga mereka.

Hasil survei itu kemudian dirangkum dalam sebuah laporan dan dikembangkan menjadi sebuah master plan desain kota. Tapi sebelumnya, Freeport meminta bantuan AR. Soehoed, seorang penasehat Freeport dan mantan Menteri Perindustrian masa Orde Baru, untuk menyesuaikan master plan kota dengan konteks masyarakat Indonesia. (Mealey, 1997, p.134) Penyesuaian itu cukup masif skalanya, mulai dari desain alun-alun ala Indonesia hingga dapur yang sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia. Kelar dengan penyesuaian desain, Freeport lalu mempercayakan proyek senilai 300 juta dollar AS itu pada sebuah perusahaan konstruksi asal Spanyol, OHL (Obrascón, Huarte, and Lain). Di situs webnya, perusahaan ini mengakui proyek pembangunan Kuala Kencana yang dimulai tahun 1992 itu sebagai salah satu proyek mereka yang paling menantang.

peta%20-%20kuala%20kencana

Peta kota Kuala Kencana. Copyright: PT. Freeport Indonesia

Perusahaan Spanyol itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Sepanjang jalan aku perhatikan semua hal ditata dan dibangun dengan penuh pertimbangan. Di samping kananku, tiang-tiang listrik besar berdiri berjajar setiap 500 meter. Karenanya rimbunan pepohonan dimundurkan sekitar 500 meetr memberikan ruang aman antara tiang listrik dan pepohonan. Tidak lama kemudian, jalan lurus berubah jadi sebuah boulevard yang menikung hingga sebuah pertigaan. Jika kamu belok kiri, akan langsung melihat mobil pemadam kebakaran berwarna hijau yang diparkir di gedung yang ditempati unit pemadam kebakaran dan unit keamanan Freeport . Belok kiri lagi akan bertemu dengan sebuah lapangan luas dan beberapa kantor departemen Freeport, yang sehari-harinya berurusan dengan masyarakat seperti PHMC (Public Health and Malaria Control) dan SLD (Social Outreach and Local Development). Di lapangan luas itu ada sebuah helipad tempat helikopter Freeport biasa mendarat untuk berbagai keperluan. Lurus saja dari pertigaan itu kamu akan bertemu sebuah perempatan yang tidak simetris. Empat buah patung Kamoro didirikan di tengah-tengah, seperti menjadi penunjuk bahwa ada empat bagian Kuala Kencana yang bisa dituju dari bundaran ini, mempertegas papan penunjuk arah yang ada di sebelum bundaran.

Hanya rimbunan pepohonan saja yang nampak di sepanjang boulevard. Di sisi kiri jalan ada sebuah drainase besar yang siap menampung limpahan air saat hujan tiba. Suasana yang asri. Timika jadi terasa seperti seorang gembel jika disandingkan dengan Kuala Kencana yang molek ini. Belok kiri, kata Pak Yus sambil memakai kacamatanya. Sore itu dia berpakaian santai, kaos dan celana pendek. Di kantor dia selalu mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kain. Orang kantoran sekali. Kami tiba di Rukun Wilayah A yang ditempati enam cluster perumahan. Di situ juga ada sebuah terminal angkot, pos polisi (yang selalu kosong), sebuah gedung pertemuan dan lapangan voli, serta beberapa toko dan warung makan. Masing-masing cluster disebut RT (Rukun Tetangga) 1 hingga 6. Satu cluster berbentuk huruf “U”, isinya 80 rumah dengan 2 tipe rumah; tipe 36 dan 46.

Tibalah kami di Jalan Elang, RT 4, rumah nomor 12, warna kuning, dengan halaman depan yang berantakan. Ada terpal warna biru membentang malas di depan rumah sebagai pelindung sebuah mobil, sebuah meja kerja rusak yang diletakkan di teras rumah, sepeda anak-anak tergolek di halaman rumah nyaris aku lindas. Seorang ibu menyambutku dari teras kecil di samping rumah. Silakan masuk, pak, katanya setengah berteriak tanpa beranjak dari teras itu.

Rumah itu sebelumnya ditempati konsultan pengembangan ekonomi dari Jakarta. Mereka tinggal bertiga di rumah ini dari tahun 2005 hingga tahun 2007. Teras di samping rumah itu ternyata teras masuk sebuah rumah lain yang menempel di belakang rumah yang kami kontrak. Di situ tinggal Ibu M, sang pemilik rumah dengan tiga anaknya. Yang paling besar duduk di kelas 1 SMP YPJ Kuala Kencana dan dua adiknya masih kelas 2 dan 3 di SD YPJ Kuala Kencana. Selain rumah yang kami tempati, Bu M ternyata juga menyewakan tiga kamar ukuran 4×6 dilengkapi dengan kamar mandi kecil. Ketiga kamar itu dihuni oleh seorang karyawan perusahaan kontraktor Freeport, seorang guru komputer, dan seorang karyawan Freeport.

Tetangga sebelah kiri adalah keluarga J , orang asli Amungme. Di depanku rumah yang dikontrak sebuah bank swasta sebagai gudang arsip-arsipnya. Sebelah kanan adalah Pak H dari Makassar. Semuanya sudah tinggal di Kuala Kencana sejak kota ini baru diresmikan pada tahun 1995.

“Kalau ga gini ga bisa hidup mas,” kata Bu M pada suatu hari. Sudah beberapa tahun ini dia harus membesarkan ketiga anaknya sendirian. Suaminya dulu termasuk 66 keluarga pertama yang pindah dari Timika ke Kuala Kencana secara buru-buru pada tahun 1995. Dia bekerja di tambang Freeport di Grasberg dan secara mendadak meninggal di rumah ini beberapa tahun lalu. Dengan uang sewa 30 juta setahun untuk rumah yang aku kontrak dan 1,5 juta x 3 kamar per bulan, sepertinya masalah Bu Marpaung tinggal mengelola keuangan dengan baik. Itu pun masih ditambah dengan usahanya di Timika sekalipun aku tidak tahu apa sebenarnya usahanya.

Bu S di RT 4 nomor 65 juga masih ingat sekali bagaimana suasana pindahan yang terburu-buru. Ibu yang sekarang membuka usaha warung kecil di depan rumahnya itu mengenang, “dulu itu diburu-buru, mas. Kita masih ga siap ya tetap diminta pindah. Disiapkan truk dengan gratis segala untuk angkut barang-barang.” Ketika aku tanya kenapa kok diburu-buru, Bu Siti menjawab, karena “kata orang Freeport, beberapa hari lagi mau diresmikan sama Presiden Soeharto.” Aku menyalakan rokok yang baru saja aku beli di warungnya dan Bu S terus bercerita soal rumah barunya ini, “waktu saya pindah itu Kuala [Kencana] masih sepi dan masih asri, tidak seperti sekarang ini.” Aku jadi membayangkan suasana rumah Bu S masih dalam bentuk awalnya, masih belum ada warung di samping rumah, belum ada rumah baru di belakang yang jadi kontrakan, belum ada pagar kawat setinggi 1 meter yang mengelilingi rumahnya. Pagar itu sengaja dibangun supaya ayam peliharaannya tidak lepas dan dimakan anjing-anjing yang banyak berkeliaran. “Saya sempat didatangi orang FM (Facilities Management – departemen di Freeport yang mengurusi semua infrastruktur di Kuala Kencana). Mereka minta pagar ini dibongkar. Saya balas saja, bapak bongkar dulu itu orang-orang lain punya pagar.” Cerita Bu S dengan penuh semangat.

Di Kuala Kencana, ada aturan bahwa semua rumah tidak boleh dipagar. Mungkin karena alasan estetika. Tapi dengan semakin banyaknya penduduk dan meningkatnya pencurian, banyak rumah mulai memasang pagar. Selain itu juga karena ada binatang peliharaan seperti anjing dan kucing. Mengembangkan rumah seperti yang dilakukan Bu M dan Bu S juga tidak boleh dilakukan sebenarnya. Tapi dengan semakin banyaknya karyawan Freeport dan perusahaan-perusahaan pendukungnya, makin meningkat pula permintaan akan hunian seperti kamar kost dan rumah kontrak.

Yang jelas, dari 6 RT yang ada di RW A, hanya rumah-rumah di RT 1 dan RT 2 yang masih dimiliki oleh PT. Freeport Indonesia. Selebihnya sudah milik pribadi. Dan banyak yang sudah menjadikannya sebagai lahan usaha mulai dari membuka warung hingga menyewakan persewaan rumah, kamar, atau paviliun.

Kuala Kencana semakin berkembang. Dari 66 keluarga di tahun 1995, sensus penduduk yang dilakukan tahun 2013 menunjukkan bahwa jumlah penduduk distrik Kuala Kencana berjumlah 20.288 jiwa. Daerah terpadat kedua di Kabupaten Mimika setelah distrik Mimika Baru. Di sekitar Kuala Kencana kini ada beberapa daerah hunian yang berfungsi sebagai daerah pemukiman penyangga kota Timika. Umumnya ditinggali para kelas menengah Timika yang tidak mau tinggal di Timika yang padat dan banyak masalah. Termasuk aku.

Di malam hari, aku bisa beraktivitas dengan nyaman di rumah tanpa perlu khawatir listrik padam sampai 10 jam, berkat pembangkit listrik bertenaga 9,4 megawatt. Bisa membaca dan melamun dengan tenang di teras rumah tanpa khawatir digigit nyamuk aedes aegypti penyebab Malaria, berkat perawatan yang dilakukan Departemen PHMC. Bisa mandi dengan segar setiap hari, berkat sumur sedalam 50 meter yang memompa 25 liter setiap detik. Tidak perlu khawatir dengan perang suku atau pencurian.

img_5772

img_5781

Sekelompok penari Kamoro menari di perayaan ulang tahun Kuala Kencana pada tahun 2013. Sekarang muncul gugatan dari pemilik hak ulayat wilayah yang sekarang menjadi Kuala Kencana.

Dengan harga sewa rumah atau kamar yang tidak berbeda dengan Timika dan fasilitas air bersih dan listrik serta keamanan yang terjamin, tentu saja banyak warga kelas menengah Timika, terutama yang baru datang dari luar Papua memilih Kuala Kencana dan perumahan baru di sekitarnya katimbang Timika. Jarak 22 km Kuala Kencana ke Timika masih belum menjadi masalah. Di jam 8 pagi saat orang berangkat bekerja, jarak itu masih bisa ditempuh dalam waktu 35 menit dengan kecepatan kendaraan sekitar 40km/jam. Pada saat buku ini ditulis, jalan antara Kuala Kencana – Timika jadi semakin padat sejak Bupati membangun kantor Pemerintah Daerah di dekat Kuala Kencana.

Sebagai perusahaan multinasional pertama yang bekerjasama dengan Soeharto pada tahun 1967, tentu saja Soeharto dengan senang hati datang meresmikan kota baru itu. Bahkan membaptisnya dengan sebuah nama baru, Kuala Kencana, sungai emas, menggantikan nama generik yang digunakan Freeport pada saat pembangunan, New Town.

Kuala Kencana memang sebuah kota yang dipersembahkan Freeport bagi Indonesia, sebagai contoh bagaimana sebuah kota di wilayah tropis seharusnya dibangun. Sebagaimana Belanda membangun Bandung dan Bogor setelah Tanam Paksa (Cultuurstelsel) berakhir pada tahun 1900 dengan pasifikasi Hindia Belanda dan penuhnya pundi-pundi uang Kerajaan Belanda.

Kuala Kencana adalah wajah lain Mimika, wajah Papua yang cantik dan eksotis, yang membuat warga Timika berakhir pekan di alun-alun Kuala Kencana, para pejabat sipil dan militer menjamu dan mengajak tamu dan bersosialisasi sambil main golf di Rimba Golf, dan orang-orang seperti aku tinggal, yang di malam hari duduk memandangi pepohonan dan diam-diam merindukan kehidupan sebuah kota.

Pertanyaan

Leave a comment
Keluarga

Kemarin, Papa dikunjungi Pak Slamet Riyanto. Dengan nada tenang -agak khusyuk bahkan- Pak Riyanto menanyakan kabar dan perkembangan terakhir kesehatan Papa. 

Pak Slamet Riyanto bersama dengan Papa pada tahun 1980-an awal mengelilingi Indonesia dengan Eskader Nusantara TNI-AL (semacam Armada Ketujuh Amerika Serikat yang kerjaannya keliling dunia). Kapal markas (flagship) Eskader Nusantara adalah KRI Multatuli. 

Biasanya aku tanya Mama, “Papa kemana, Ma? Papa ke luar negeri, ya Ma? Iya, Papa layar,” kata Mama. Dan setiap kali Papa pulang ke rumah selesai berlayar, aku selalu meminta Papa untuk menceritakan tempat-tempat yang dikunjunginya; “dimana itu Guam dan Palau? Seperti apa Singapura dan Malaysia? Lebih maju mana, Malaysia atau Indonesia? Seperti apa kapalnya Papa? Gambarin, Pa.” Papa kemudian biasanya mengambil kertas kosong dan menggambar jajaran kapal-kapal perang. 

Sekarang, setelah hampir sebulan Papa diopname di RSAL Dr. Ramelan Surabaya karena operasi prostat, aku juga banyak bertanya, “berapa lama, Pa, operasinya? Apakah bius total waktu operasi? Berapa tensi Papa? Kapan boleh pulang, Pa?”

Tidak lama kemudian, Handphoneku berbunyi, ada sms dari Mama; Papa gimana? Kamu temani Papa saja malam ini di Rumah Sakit. Mama ditemani Mbak Ti. Di rumah, Mama juga sedang berjuang memulihkan diri setelah sempat diopname karena Trombositnya turun. 

Aku pengen sekali tanya, “Mama, gimana? Sudah enakan?” Tapi aku urungkan. 

Dunia memang selalu penuh dengan pertanyaan. Sebagian bisa dijawab dengan mudah, sebagian tidak terjawab. Sebagian lagi tidak perlu ditanyakan sama sekali, cukup dijalani saja. Seperti kata Rainer Maria Rilke, Live the questions now. 

“Bener ga?” Tanyaku kepadanya, yang sedari tadi diam mendengarkanku. 

“Emang kamu sudah baca bukunya Rilke?” Tanyanya sambil melumah. Dia memang kelihatan capek. Aku melihat dia hilir mudik di belakang paviliun dari pagi. “Kayaknya pernah. Judulnya, The Fall of the House of the Usher,” jawabku. 

“Mmm… kayaknya itu yang nulis Edgar Allan Poe, deh, bukan Rilke,” balasnya ketus. 

“Pinter juga kamu, ya.”

“Iyalah. Mamaku lama tinggal di Perpustakaan Daerah di Rungkut.”

“Terus kamu ngapain tinggal di sini sekarang?”

“Iseng aja. Emang kenapa kamu tanya-tanya? Katanya mau jalani saja semua pertanyaan?”

“Halah. Yawis, aku tidur aja,” balasku sambil beringsut masuk ke kamar. Papa pasti sudah tidur. Sudah jam 9 malam sekarang. 
“Oke, aku juga pergi.”

“Hati-hati ya, Pus. Jangan teriak-teriak kayak kemarin malam.”
Dia tidak menjawab. Pergi ngeloyor begitu saja seperti biasanya seekor kucing. 
    

 

Pulang

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua

Ketika mobilku melintas di depan Rumah Transit Bobaigo di SP-2, langit Timika memerah dan dua ekor burung Maung (Amungme: Rangkong) nampak terbang dengan tenang ke arah utara. Sudah lama aku tidak lihat burung Maung. Mereka biasanya terbang berpasangan, tidak terlalu tinggi sehingga jika suasana sepi kamu bisa mendengar kepakan sayapnya. Dengan semakin banyak penduduk, mereka pasti makin terdesak. Apalagi di daerah SP-2 yang makin padat setiap hari, sekalipun langganan jadi lokasi bentrokan antar kelompok warga atau akrab disebut perang suku. Apakah  burung Maung yang kesepian itu terbang dari rerimbunan pohon di dekat bandara Mozes Kilangin? Apakah mereka menuju ke belakang Rumah Transit Bobaigo, yang sepertinya masih kosong itu?

 

Aku terus melaju ke arah Kuala Kencana. Warna merah di langit sudah digantikan dengan pekatnya hitam. Berarti benar apa kata Mbak Naning di telfon saat aku menelfon memesan Nasi Goreng. Dia bilang, “Selamat malam.” Mungkin lebih ke utara, di SP-3, suasana memang sudah gelap. Yang aku saksikan tadi adalah sisa-sisa cahaya matahari Timika yang panas sekali selama beberapa hari ini. Menyambut gelap dan para pengendara motor Timika yang hobi balap, aku nyalakan lampu mobil. Sorot lampu mobil yang toh tidak banyak membantu pandanganku, selain membuat marka jalan makin terang. Aku kembali berpikir soal sepasang burung Maung tadi. Apakah benar mereka pulang? Apakah benar aku-yang-menyaksikan-mereka-yang-terbang-pulang sedang menuju ke rumahku? Apakah rumah kontrakanku dan para kucing yang ikut menghuni rumah itu adalah “rumah”ku?

 

Aku selalu membayangkan roh-roh Mbikao (Bahasa Kamoro: Setan. Aku lebih suka menyebut mereka peri) melayang-layang di jalan Timika – Kuala Kencana yang makin ramai. Mereka sudah tidak bisa menari di sungai Ajkwa atau Otakwa yang dangkal dan sudah ditinggalkan ikan-ikan dan keceriaan manusia. Jalan ini dan semua keriuhrendahannya, pasti dianggap sebagai sebuah karnaval bagi para Mbikao.

 

Perlu waktu lama bagi para Mbikao untuk membiasakan diri dengan asap knalpot dan untuk melihat manusia -seperti aku- yang sedang diburu waktu sambil memikirkan kapan semua keriuhan karnaval ini akan berakhir, dan bertanya lirih sambil melihat kaca spion mobil; apakah kamu benar-benar pulang? Untuk apa sebenarnya semua keriuhrendahan ini? Bisakah kita memutar sejarah dan membiarkan orang Kamoro dan Amungme hidup tenang tanpa tambang raksasa dan kekerasan militer dan budaya? Kenapa aku seperti melihat rombongan Mbikao menari-nari di depanku, lengkap dengan bendera merah putih yang membuatmu ingin menangis sedih. Mereka menari-nari ke hadapanku dan menyanyikan lagunya Sigur Ros dengan riang gembira, “Inní mér syngur vitleysingur….”, “inside me a madman sings…” di dalam tubuhku ada orang gila yang menyanyi.

 

Lamat-lamat para Mbikao terbang menghilang ke atas, menyusul burung Maung yang besok mungkin sudah ditembak atau pergi mencari sarang baru. Motor-motor dan mobil melaju ke arah Timika dengan kencang. Sinar matahari semakin menghilang ditelan cakrawala. Untuk sesaat aku merasa harus pulang, tiba di rumah kontrakan, mandi, tidur dengan Minyu, menatap tumpukan buku, tidak berpikir, tidak merasa di sini atau di mana saja.

 

Indonesia will go on

Leave a comment
Current issues

Barusan ngobrol melalui telefon dengan seorang paman yang tinggal di Malang selatan. Di sana, jauh dari ibukota dan para makelar dan analis politik, orang mengikuti perkembangan kasus Ahok. Paman saya bersusah payah menjelaskan kepada “umatnya” bahwa kasus ini bukan soal agama. Kalau sudah soal agama, bisa repot, negara bisa hancur, katanya. Yang lebih heran lagi, katanya, banyak sekali orang berpendidikan yang dengan gampang termakan isu politik berbalut penistaan agama ini.

 

Kalau cuma termakan isu dari WhatsApp soal jalanan di Malang yang retak karena gempa kemarin, itu gampang solusinya, tinggal telefon teman-teman nelayan di Sumbermanjing dan tanya apakah ada jalan yang retak (ternyata tidak ada jalan yang retak seperti yang tersebar di WhatsApp). Tapi kalau soal penistaan agama. Wah, gimana caranya menjelaskan bahwa apa yang banyak tersebar di media sosial itu ga benar?

 

Negara masih ada aja kita susah. Apalagi kalau hancur. Makin susahlah kita. Jualan ikan makin susah, nabung ga bisa, sekolahkan anak ga bisa, mau menikmati hawa Lumbangsari yang adem sambil ngopi dan elus-elus Luwak juga apalagi. Demikian penjelasan paman saya kepada “umatnya.”

 

Iya, balasku, sambil menepikan mobil daripada nabrak ojek Timika yang makin hari makin ngawur berkendaranya. Tukang ojek ngawur membahayakan penumpang dan pengguna jalan. Mereka mungkin menyadari hal itu. Tapi para politikus, makelar, segenap buzzer dan cyber army yang sekarang sedang giat-giatnya mengusung nama agama tidak menyadari bahwa mereka sedang menggerogoti sendi sebuah Negara. Saya tidak sedang bicara tentang superstruktur Negara, tapi cita-cita akan sebuah Negara yang manusiawi dan beradab, yang susah payah dibangun sejak tahun 1945, bahkan sempat dinistakan dengan pembantaian jutaan manusia tidak bersalah pada tahun 1965.

 

Kami kemudian sepakat bahwa memang cangkemnya Ahok bosok dan bahwa kalau mau demo dia sebaiknya soal masalah gusur-menggusur yang kurang dipertimbangkan dengan baik. Kalau soal agama, ya tadi itu, dampaknya akan lebih banyak dirasakan orang-orang biasa macam kita ini. Para makelar politik bisa berubah jadi makelar senjata seandainya terjadi perang saudara. Kita yang akan mampus kena tembak senjata-senjata yang mereka beli.

RK. Narayan, novelis India yang terkenal dengan novelnya, Malgudi Days, pernah bilang, seruwet-ruwetnya India dengan segala konflik primordialnya, “India will go on.” India akan maju terus. Terbukti memang,sekalipun masih belum bisa melepaskan diri dari keruwetan konflik primordial, India masih kokoh sebagai sebuah Negara dan berhasil menempatkan dirinya sebagai bagian dari poros kekuatan baru dunia bersama dengan Brazil, Cina, dan Rusia.

Bisakah kita bilang, Indonesia will go on!? Bisa sekali tapi perlu berhati-hati seperti melaju di jalan raya, karena tidak semua yang demonstrasi membawa bendera merah putih, apalagi yang ukurannya raksasa. Bisa jadi itu malah menunjukkan besarnya nafsu menguasai Indonesia dan membuang kemajemukannya.

 

Virus

Leave a comment
Current issues

VIRUS
Sudah lama Minka, Onyong, dan segenap keluarga Onyong tidak berkunjung ke dokter hewan. Hari Sabtu (5/11/16) kemarin aku antar mereka ke drh. Erma di Timika. Sudah dua hari sebelumnya mereka bersin-bersin dan lemas badannya. Aku kira karena mereka keseringan makan rumput atau keracunan jamur/serangga.
Setelah diperiksa, ternyata mereka kena virus Rhinotach, yang gejalanya menyerupai influenza. Virus itu sedang mewabah di Timika. Seorang ibu di Jalan Pendidikan yang memiliki 12 kucing (warbyasah, bukan?) juga mengalami hal yang sama. Tiga ekor kucingnya meninggal dunia karena virus ini.
Untunglah Onyong sekeluarga sudah dua kali divaksin. Daya tahan mereka jadinya lebih kuat. Di kunjungan kali ini, mereka hanya disuntik obat dan diperbolehkan pulang. Di sepanjang perjalanan Timika – Kuala Kencana, Onyong tidak henti-hentinya mengeong.
Aku jadi merasa bersalah. Sebenarnya sempat terpikirkan olehku, tahun ini sudah tahun kedua sejak mereka terakhir kali divaksin dan mereka akan pindah rumah. Pikiran hanya tinggal pikiran. Aku lebih sibuk memperbaiki rumah baru mereka.
Menurut drh. Erma, kucing memang rentan terserang penyakit ini. Tapi di Timika, baru kali ini ada wabah Rhinotach. Biasanya, drh. Erma lebih sering menangani wabah penyakitnya anjing, seperti Parvo. Apakah karena populasi kucing makin banyak, dok? Tanyaku. Mungkin, tapi bisa juga karena ada kucing dari luar Papua yang terinfeksi lalu dibawa ke Papua, kata drh. Erma.
Parvo membuat anjing jadi lemas, berak darah, dan mati jika tidak ditangani dengan baik. Dulu ketika masih tinggal di Yogya, aku pernah beli anjing di Pasar Ngasem. Sebulan kemudian, anjing lucu itu meninggal karena Parvo sekalipun sudah aku bawa ke Klinik milik Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Setibanya di rumah, aku langsung memberi vitamin Nutri gel yang diresepkan oleh drh. Erma ke Onyong dan Minka. Virus sudah menyebar ke Beni dan Poni. Mereka juga sudah bersin-bersin dan nampak lesu. Duh.
Malam harinya, aku ke Timika lagi untuk berbincang-bincang dengan dua orang dosen dan dua orang perawat dari Bandung yang menemani seorang mahasiswa beasiswa LPMAK pulang ke Timika karena terserang Meningitis. Menurut Pak Ujo, perawat senior (dia pernah menangani wabah Tuberculosis di 4 kecamatan di Jawa Barat tahun 1979) yang menemani mahasiswa itu sejak bulan Juni tahun ini, virus itu membuat si mahasiswa jadi “terbelakang” mentalnya. Jadi suka klepto, berperilaku aneh, dan penyendiri. Solusinya, harus ada pendampingan intensif dari dokter di Timika dan asupan makanan yang bergizi. Rumahnya juga harus ventilasinya, supaya virus Tuberculosis mampus dan tidak menular.
Sambil menempuh perjalanan pulang ke Kuala, aku membuka Facebook dan mengikuti berita soal demo “damai” di Jakarta. Para pendemo menuntut Ahok untuk “ditangkap” dan “dihukum” karena sudah menista agama Islam.
Beberapa orang yang aku kenal di Facebook mendukung aksi ini. Umumnya berpendidikan sarjana. Bahkan ada yang sudah pasca-sarjana. Ada yang suka membaca buku. Sayangnya, aku tidak sempat tanya mereka, apakah sudah melihat langsung rekaman videonya yang aslinya dan menempatkannya dalam konteksnya, apakah sudah tahu bahwa Ahok sudah minta maaf, apakah tahu bahwa sudah ada Undang-undang yang mengatur, apakah tahu bahwa di republik ini tidak bisa asal tangkap dan hukum orang (sekalipun sebenarnya banyak juga yang mengalami hal ini), apakah sudah menimbang sebelum menulis status dan menyebarkan informasi.
Mereka punya kemampuan untuk melakukan itu tapi toh tidak dilakukan. Pokoknya menista. Begitu saja biasanya jawabannya.
Tidak ada lampu penerang jalan di jalan antara Timika – Kuala Kencana. Maka aku menutup handphone-ku dan kembali fokus ke jalan. Rupanya, dibandingkan Rhinotach di kucing atau Tuberculosis di manusia, virus politik kekuasaan dan kebebalan jauh lebih berbahaya. Dia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli setinggi apa pendidikannya.
Angin Malam Timika yang dingin menerpaku dari jendela mobil. Mendadak aku merasa letih. Kurasakan air mengalir di atas pelupuk bibirku. Ah, aku terharu rupanya.
Bah, tapi kok ternyata air keluar dari hidung, bukan dari mata. Tidak lama kemudian aku bersin dengan keras. Ealah, ternyata aku kena virus juga.

Selamat Jalan, Bapa John

comment 1
Papua / Tentang kawan

Sambil memanaskan air untuk membuat kopi pagi, aku membaca semua pesan dan kabar yang muncul di handphone dan menekan tombol “mute for 1 week” (seharusnya “1 year”) di beberapa grup WhatsApp yang sedang meributkan rencana demonstrasi menolak Ahok di Jakarta, dan menyadari sudah hampir seminggu aku melewatkan rencana membuat status Facebook soal ulang tahun yang ku jamin akan mengharu-biru dan mendulang ratusan “like.” Aku juga baru sadar kalau sudah lama tidak baca koran lokal Timika.

Sudah lima hari aku berada di luar Timika untuk mengunjungi anak-anak Amungme dan Kamoro yang sedang kuliah di Surabaya dan Malang. Begitu banyak yang harus didengar dan dicatat dari pengalaman adik-adik penerima beasiswa LPMAK(Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro) ini. Akhirnya aku memilih mengikuti kabar Timika dari “Salam Papua” yang cukup rajin memposting tulisan-tulisannya. Beritanya cukup beragam, mulai dari pesawat milik Pemda Mimika yang tergelincir di Puncak Jaya, sengketa antara DPRD dan Bupati Mimika, dan sebuah obituari Pak John Nakiaya. Obituari itu dihiasi dengan foto Pak John sedang mengenakan aksesoris khasnya, topi baret.

Pak John Nakiaya adalah Sekretaris Eksekutif LPMAK periode 2002 hingga 2010. Dua hari lalu pada 12 Oktober 2016, Pak John berpulang ke rumah Tete Manis di surga. Karena sedang di Surabaya, aku datang melayat ke rumah persemayaman jenazah Adi Jasa di Jalan Demak bersama dengan rekan kerja di LPMAK dan beberapa dosen Universitas Katolik Widya Mandala.

Jenazah Pak John baru saja dimandikan dan sudah mengenakan jas. Wajahnya Nampak damai. Beberapa kali bahkan aku seperti melihat beliau tersenyum simpul. Di masa akhir hidupnya, Pak John memang berjuang melawan diabetes.

Saat Bu Anita Lie berkunjung ke Timika bulan September lalu, Bu Anita mengajakku ke rumah Pak John di SP-2 Timika, saat itu Pak John nampak sehat dan gembira. Kami bertukar banyak cerita. Pak John sempat cerita bagaimana dulu dia meninggalkan pekerjaannya di Delegatus Sosial Keuskupan Jayapura untuk menjadi pimpinan LPMAK di tahun 2002. Masa itu dikenang sebagai masa yang berat. LPMAK baru saja mengalami perubahan struktur dan ada banyak sekali pekerjaan yang dilakukan untuk memperbaiki lembaga dan pelayanan.

Kepergian pria kelahiran Kaokanao tahun 1953 itu membuat banyak rekan, sahabat, dan kolega terkejut tidak percaya. Selain terkejut, biasanya orang kemudian mendoakan arwahnya, dan mengingat etos kerja almarhum semasa masih menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif LPMAK dari tahun 2002 – 2010. Pak John orang yang ulet dan teliti. Sekalipun menjabat sebagai pimpinan tertinggi LPMAK, beliau tidak jarang ikut turun tangan menangani hal-hal kecil demi melancarkan program.

Selain sebagai pimpinan sebuah lembaga pengelola Dana Kemitraan PT. Freeport Indonesia, orang biasanya juga mengenang salah satu ciri khas Pak John, rasa humor dan koleksi cerita mop beliau yang banyak sekali. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan atau mengangkat-angkat, bagiku mengingat sosok Pak John sama seperti mengingat sosok Gus Dur. Gelak tawa Pak John di akhir cerita mop adalah gong yang sempurna, mengakhiri mop dan mengajak pendengar tertawa lepas. Tidak jarang, suasana rapat yang awalnya serius jadi bubar gara-gara cerita lucu Pak John. Bahkan menurut Pak Yeremias Imbiri, Pak John pernah membuat seluruh anggota Komisi VI DPR-RI tertawa terpingkal-pingkal saat rapat di Hotel Sheraton Timika.

Salah satu cerita lucu yang sering disampaikan Pak John adalah cerita Fuyunghai. Suatu saat, ada orang kampung di Timika pergi bersekolah di Jawa. Setelah lulus, pace pulang ke sebuah kampung. Di Timika, pace yang su lama hidup di Jawa itu masuk ke sebuah warung makan. Pace de pesan berbagai macam makanan yang pernah dia makan di Jawa, mulai dari pecel, rawon, soto ayam. Mace yang jual selalu jawab, “tidak ada, anak.” Pace lalu pesan lagi, “Ibu, kalau Fuyunghai ada kah? Mace menjawab, “Ah, apalagi itu anak. Tarada. Kalau Cukimai ada.” Haha…

Pria yang akrab dipanggil “Big John” oleh James Moffet (pendiri Freeport McMoran) ini bukan hanya suka mengulang cerita mop Fuyunghai. Pak John sangat berdedikasi dengan cita-cita untuk memajukan masyarakat Kamoro dan Amungme. Hal itu Nampak dari cerita-cerita Pak John soal pencapaian LPMAK seperti pendirian Asrama dan Sekolah Dasar Penjunan (sekarang namanya Sekolah Asrama Taruna Papua), anak Amungme pertama yang jadi pilot, Nalio Jangkup, Sekolah Sepak Bola Kaokanao, serta buku dan film cerita rakyat Amungme dan Kamoro.

Hingga akhir hayatnya pun, Pak John seolah bisa membuat mop. Bedanya mop ini yang cerita bukan Pak John, tapi salah satu staf LPMAK yang sudah cukup lama bekerja dengan Pak John, namanya Pak Thoby Maturbongs.

Ketika mendengar Pak John meninggal dunia di Rumah Sakit Katolik Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya, Pak Thobias yang akrab dipanggil Pak Thoby itu, langsung bergegas ke rumah sakit. Di depan jenazah Pak John yang bagi Pak Thoby juga terlihat seperti orang yang sedang tidur dengan tenang itu, Pak Thoby jadi ingat sebuah pengalaman beberapa tahun lampau dengan Pak John.

Saat itu, Bapa Leo Piry, anggota Badan Musyawarah LPMAK yang mewakili masyarakat Kamoro, meninggal dunia di Jakarta. Pak John meminta Pak Thoby pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa apakah benar yang meninggal adalah Pak Leo Piry.

Sekalipun heran karena sudah jelas bahwa yang meninggal adalah Pak Leo Piry, Pak Thoby tetap berangkat ke Rumah Sakit. Setibanya di RS, Pak Thoby menelfon Pak John. Mendengar itu, Pak John bilang “Ahh… kenapa paitua meninggal di perantauan?” Keesokan paginya, Pak John bilang bahwa dia susah tidur semalam, karena takut didatangi arwah Pak Leo Piry.

Pak Thoby mengingat pengalaman itu di depan jenazah Pak John sambil tersenyum. Pak Thoby kemudian berbisik lirih, “Kaka dulu bilang begitu tapi sekarang kaka meninggal di Surabaya. Hehe… tidak apa-apa, Kaka. Selamat jalan, Kaka. Ndoro (Bhs. Kamoro; saya) pamit pulang dulu. Nimao (Bhs. Kamoro; salam)”

Malam harinya, ganti Pak Thoby yang ketakutan di kamar hotel. Takut kalau Pak John menampakkan diri untuk pamit melalui kaca-kaca. Pak Thoby cuma bisa bilang, “Kaka, kalau mau datang bilang-bilang, kah.” Hehe.

Pak John mungkin menyadari benar betapa beratnya perjuangan mengangkat harkat dan martabat hidup orang Kamoro dan Amungme. Pak John pernah bercerita bagaimana kehidupan orang Kamoro makin terperosok di dalam keterbelakangan justru setelah Papua kembali ke dalam “pangkuan ibu pertiwi.” Pak John sangat khawatir dengan masa depan orang Kamoro. Kekhawatiran yang kemudian menjelma menjadi kerja keras. Setelah pension sebagai Sekretaris Eksekutif LPMAK, Pak John masih sibuk bergiat di LEMASKO (Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro) dan aktif memperjuangkan pemekaran Kabupaten Mimika Barat. Selain diwujudkan sebagai kerja keras, Pak John membatasi kekhawatirannya dengan canda tawa. Supaya ada batas demarkasi jelas antara realita yang penuh sengkarut dan dirinya yang harus tetap utuh tidak dirontokkan oleh kenyataan. Seperti yang dikatakan Milan Kundera, “joking is a barrier between man and the world.”

Selamat jalan, Bapa John. Terima kasih atas semua canda, tawa, dan pelajarannya. Semoga makin banyak anak-anak muda Kamoro yang meneruskan cita-citamu.

Nimao!

Penjual Emas

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua / Tentang kawan

Bapak itu menumpang mobil kami ke Timika. Mau ke Timika Indah katanya. Dia berasal dari Nabire daerah gunung ke arah Homeyo. “Lewat Kilo 100?” tanya Vembri. “Ah, tidak, dari Homeyo lurus ke Enarotali, lurus ke Enaro, ke Dumada, ke Tembagapura. 1 minggu jalan kaki dengan John Kas.” Dia menjelaskan rute perjalanannya ke Timika. Perjalanan yang ditempuhnya 16 tahun yang lalu dengan John Kas (pendeta John Cutts maksudnya). Sejak itu dia tinggal dan bekerja di Timika.

Ketika mobil berbelok ke arah lapangan Timika Indah, Bapak itu (ah, kami dua lupa tanya namanya), menyodorkan sebuah kantong plastik berisi sebuk pasir berwarna keemasan. “Ini emas, harga dua ratus ribu, bos.” Aku dan Vembri tidak tertarik membelinya. Aku pernah dengar bahwa serbuk emas warnanya malah bukan kekuningan, tapi kehijauan. Dia tidak menjawab dengan jelas ketika Vembri tanya apakah itu hasil mendulang di sungai.

Tiga puluh menit sebelumnya. Kami tidak mengenal bapak itu. Dia datang di bengkel sekitar jam setengah sebelas siang, ketika sepeda motor adek DD hampir selesai diperbaiki dengan suku cadang yang dibeli di dekat bandara.

Keluarga DD yang datang ke bengkel ada beberapa orang, seorang perempuan adik DD, seorang perempuan tua usia kira-kira 40 tahun, seorang pemuda, dan seorang pria yang kemudian menumpang kami ke Timika. Semua orang Moni dan datang dari tempat tinggal mereka di sebuah lorong sebelum jembatan Selamat Datang. Tepat di jalan raya Timika – Kuala Kencana itu DD datang dari arah pasar, hendak berbelok masuk ke lorong, dan diserempet oleh mobil seorang dokter yang melaju dari arah Kuala Kencana.

“Saya sudah kasih sein kanan dan mobil itu balap-balap dari arah Kuala. Saya jatuh dan motor saya bawa ke pinggir,”kata DD di bengkel sekitar jam 8 pagi, setelah suasana hatinya lebih enak. Kira-kira sepuluh menit sebelumnya, dia menolak ketus ketika saya tanya namanya. “Buat apa tanya nama?” Saya balas supaya saling kenal dan menyebutkan nama. Sebuah tawaran yang dia balas dengan ketus, “tipu.”

Mendengar itu, bu dokter makin nampak gugup. Sama gugupnya ketika kami mendapatinya sedang memarkir mobil di depan lorong masuk. Di sebelah mobilnya, ada sebuah sepeda motor dan bu dokter nampak sedang bicara dengan beberapa orang. Melihat itu, kami menepikan mobil setelah jembatan Selamat Datang, menelfon bu dokter, dan berputar balik untuk memastikan keadaan. Di situ, pembicaraan berlangsung tenang, tidak ribut seperti yang aku duga. Seorang pemuda yang mengunyah pinang dan meludah berkali-kali menyarankan membawa motor ke bengkel untuk diperbaiki. Beberapa tukang ojek berdiri melihat-lihat. Bu dokter menanyakan kepada lokasi bengkel terdekat. Aku jawab di sana, sambil menunjuk ke arah SP2. Padahal sebenarnya yang terbayang adalah Bengkel Surabaya di Timika.

“Mama naik mobil saya. Motor dibawa tukang ojek ke bengkel,” kata bu dokter. Dia nampak menguasai keadaan. Setelah itu dia bisik saya, “saya tidak tahu apa-apa soal motor. Kamu ikut saya kah?” pinta bu dokter. Tanpa diminta pun sebenarnya saya akan temani dia ke bengkel. Hari ini kebetulan tidak ada acara penting, Vembri juga cuma perlu ke Bank Mandiri saja urus ATM. Bu dokter ada rapat jam 9.

Setiba di bengkel, kami langsung menyampaikan perbaikan yang harus dilakukan; plastik bagian depan yang pecah, stang miring, pijakan kaki dan rem sebelah kanan yang bengkok. Selebihnya, motor merk Honda tanpa plat nomor itu sudah nampak  rusak karena kurang perawatan. Menurut pemilik bengkel, biaya perbaikan sejumlah 425 ribu. “Saya bayar sudah. Tapi kamu bawa uang kah? Saya sepertinya tidak ada,” kata bu dokter. “Gampang, dok,” balasku.

DD masih nampak sewot akibat ditabrak. “Diajak bicara-bicara saja, dok,”saranku. Setelah itu bu dokter kembali kepadaku dan minta tolong beli alcohol swab, alkohol, betadine, dan tensoplast.  Aku dan Vembri bergegas ke Apotik di dekat pom bensin SP2. Sekembalinya di bengkel, baru sadar kalau lupa beli alkohol dan aku lihat darah mengalir dari telapak kaki kanan DD. “Mama, ini kasih bersih dulu, ya,” kata bu dokter was-was melihat luka itu. Dia sudah tidak sempat menanyakan botol alkohol yang harusnya aku beli. Dua bungkus kecil alcohol swab dicukup-cukupkan untuk membersihkan luka di kaki DD. Sebelum membersihkan, bu dokter bilang kalau alcohol swab biasanya untuk sterilkan lengan yang akan disuntik. Paling tidak seperti itulah pemahamanku dari cara dia menunjuk2 lengannya.

Sekitar jam 9:15, beberapa kolega bu dokter datang ke bengkel. Mereka dengar kabar dari grup WA bahwa bu dokter terlihat di jalan SP-2 sedang berurusan dengan “masyarakat.”

Suasana jadi agak mencair setelah Vembri cerita bahwa dia pernah ke Paniai dan Wamena. Mama itu, yang ternyata nampak masih muda dilihat dari jarak dekat, menyebutkan nama fam-nya. “Saudaranya Pak kepala sekolah D kah?” Tanyaku yang dijawabnya dengan senyum simpul.

Seorang pria berusia sekitar 30 tahun datang bergabung dengan kami. Dia orang Moni, tetangganya DD. Setelah bicara-bicara dengan DD dalam bahasa Moni, bapak itu bilang bahwa kami sebaiknya memberi sejumlah uang ke DD. Dengan uang itu, DD bisa pergi berobat jika nanti di rumah ada rasa sakit yang timbul akibat kecelakaan ini. “Saya juga pernah dapat tabrak seperti ini,” kenangnya.

“Sedikit saja. 150 ribu kah. Kalau bawa ke rumah biaya besar. Kalau di sini biaya sedikit saja,” imbuh bapak itu kemudian sambil mengayun-ayunkan palu di tangan kanannya.

Dengan sigap seorang kolega bu dokter menyodorkan padaku uang 150 ribu dalam pecahan 100 dan 50 ribu. Awalnya akan aku serahkan ke DD, tapi atas nasehat Vembri, akhirnya bu dokter yang menyerahkan ke DD sambil minta maaf. DD masih nampak belum terima akibat bu dokter yang “balap-balap.”

Bu dokter akhirnya bisa pergi meninggalkan bengkel. Ada rapat penting yang harus dia hadiri. Aku bilang ke DD bahwa bu dokter harus periksa orang. Sebelum bu dokter pergi bersama dengan rombongan kolega bu dokter, seorang kolega bu dokter sempat membisiki aku untuk segera meninggalkan bengkel. Dia khawatir anggota keluarga DD akan datang dan memperpanjang urusan. Aku cuma bilang, sambil setengah berbisik, “saya atur saja bagaimana supaya aman.”

Akhirnya tinggal kami bertiga, DD, aku, dan Vembri. Bapak tadi melanjutkan perjalanannya ke pasar SP2 untuk bekerja. Tak lupa dia meminta 50 ribu dari DD.

Perbaikan motor ternyata makan biaya lebih besar dari yang disepakati sebelumnya. Ganti plastik bagian depan motor biayanya 425 ribu, tapi karena harus beli satu bagian utuh di Timika dan harganya jadi 1.700.000. Bu dokter, yang aku hubungi via telepon, menyetujui kenaikan biaya itu. Dengan gembira aku sampaikan ke ade DD bahwa motor akan diperbaiki semua. Dia nampak senang. Pemilik bengkel juga nampak menikmati perjalanan ke Timika naik mobil sedannya yang bagus itu.

Tapi rasa senang itu memang selalu tidak awet. Karena tidak lama kemudian, Pak pemilik bengkel datang dan mengabarkan bahwa ternyata cuma dapat bagian setir saja dan biaya kembali jadi seperti yang disepakati di awal. DD sepertinya kurang paham atau kecewa dengan penjelasan dari aku dan Vembri. Sebagai solusi supaya tidak terlalu kecewa, Vembri mengusulkan untuk beli beras. Kebetulan di depan bengkel ada toko yang menjual beras berbagai macam karung. Kami beli yang 15kg seharga 145 ribu.

Motor mulai nampak kembali ke wujudnya semula ketika beberapa orang angggota keluarga DD datang. DD menjelaskan peristiwa yang dialaminya. Aku cuma paham kata “balap-balap” saja. Dia juga sepertinya menjelaskan bahwa bukan kami yang menabrak dia, tapi orang lain yang sudah pergi dan memasrahkan urusan ini kepada kami. Keluarga mulai berunding. Tidak lama kemudian, seorang pria yang nampak paling tua di antara mereka menasehati DD untuk berhati2 di jalan, tapi lalu mulai menyebut nilai uang, “dua ratus ribu,” “lima ratus ribu,” sampaiii “satu juta lima ratus.” Inilah yang dimaksud kolega bu dokter tadi. Tapi di angka 1.500.000 itu, sesuai dugaanku, mereka berhenti membahas.

Aku dan Vembri memilih untuk tidak ikut campur dalam obrolan mereka. Lagipula kami harus menyelesaikan pembayaran. Kami menambah uang 50 ribu untuk membeli sepasang spion.

“Ini kami tambah spion. Supaya ade bisa lihat belakang. Lihat apa ada yang balap-balap kah tidak,” kataku sambil melihat mekanik memasang spion. “Bisa tambah plastik bagian ini, bos?” Tanya bapak tadi sambil menunjuk bagian depan bawah lampu. Aku bilang bisa.

Dengan itu kami pamit pulang. ade DD akan pulang ditemani keluarganya. Di saat itulah, bapak penjual emas meminta menumpang ke Timika.

Kisah Anton Pinimet

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

“Anak perempuan (saya) dua sudah ke Moanemani, sekarang mau bawa anak bungsu laki ke Kaokanao? Jangan, Pater” Tukas Mama Julita Deikme sambil mendekap anaknya. Pater Frankenmollen, pastur paroki Akimuga, dengan sabar melanjutkan penjelasannya. Beberapa saat kemudian, dengan bantuan Pak Marten Katagame, Mama Julita akhirnya mengizinkan Anton Pinimet untuk melanjutkan sekolah kelas 3 SD di Kaokanao.

Di Kaokanao, Anton tinggal di asrama di bawah binaan para pater. Sayangnya, Anton hanya setahun saja di Kaokanao. Menjelang naik kelas 4 SD, Anton harus pulang ke Akimuga karena ayahnya meninggal dunia. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu kemudian menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD YPPK Bulujaulaki, Akimuga. Karena sudah sempat merasakan sekolah di Kaokanao, Anton kecil kemudian berinisiatif sendiri melanjutkan pendidikan di SMP YPPK Lecoq d’Armanville Kaokanao hingga lulus.

Anton kemudian pergi ke Timika untuk sekolah di SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) Petra Timika. Setelah lulus pada tahun 2004, pemuda kelahiran kampung Aramsolki, Akimuga, 24 November 1983 ini kemudian memberanikan diri untuk mengikuti tes beasiswa LPMAK. Anton dinyatakan lulus dan diterima di IKOPIN Bandung. Sebelum berangkat ke Bandung, Anton menyempatkan pamit ke Mama di Akimuga.

Di kampus IKOPIN, Anton harus mengikuti program Matrikulasi. Awalnya Anton meragukan dirinya. karena semasa SMA, Anton merasa tidak belajar dengan baik. “Di Timika, teman banyak yang ajak hal tidak baik. Akhirnya lupa belajar dan buat tugas sekolah,” kenang Anton. Tapi Anton tidak ingin terus menyesali yang sudah lalu.

Selama setahun ikut Matrikulasi, Anton mengikuti semua mata kuliah bersama penerima beasiwa lain dari Timika. “Awalnya bingung, karena pelajarannya beda sekali dengan di Timika,” kata Anton. Seiring dengan berjalannya waktu, Anton semakin terbiasa dengan semua materi dan tidak ragu menghadapi kuliah.

Selain menyiapkan diri untuk kuliah yang sebenarnya, Anton juga mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ada banyak cara yang digunakan, mulai dari ikut membantu berkebun masyarakat sekitar hingga berteman dengan tukang ojek.

Karena itu, Anton tidak menemukan kesulitan berarti ketika mulai kuliah di Jurusan D3 Manajemen Pemasaran IKOPIN Bandung. Hal itu juga ditambah dengan dukungan teman-teman. Menurut Anton, bedanya dengan di Timika, “teman-teman kuliah di Bandung datang untuk bahas materi kuliah, tidak untuk ajak hal tidak baik.”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, Anton pulang ke Timika. Sayangnya, Ibunda Anton, Mama Julita tidak bisa ikut secara langsung menemani kegembiraan Anton. Mama Julita meninggal dunia dengan tenang di rumahnya di Akimuga ketika Anton sedang ujian skripsi.

Tidak banyak penerima beasiswa yang menempuh jalan yang dipilih Anton, yang tidak mengarahkan orang menjadi tokoh politik atau pejabat. Jalan yang ditempuh Anton adalah jalan menuju pribadi yang bermartabat. Pemuda Amungme itu memilih untuk jadi wirausahawan.

Semua ilmu pemasaran yang didapat semasa kuliah langsung dipraktekkan. Anton berjualan sepatu yang dibeli dari Bandung. Kenapa sepatu? Karena “belum ada orang Papua yang jualan sepatu dan karena ada banyak sepatu bagus di Bandung,” jawab Anton.

Setelah setahun berjalan, usaha Anton makin maju. Anton jadi cukup percaya diri untuk mengajukan pinjaman ke bank untuk meningkatkan usahanya. Pada tahun 2012, Anton semakin sering menjajakan dagangannya dengan sepeda motor kesayangannya. Dengan sepeda motor itu Anton berjualan di berbagai tempat di Timika, bahkan hingga ke kantor Bupati Mimika.

“Kam (kamu) orang Papua tanah sendiri, baru, kenapa jualan macam pendatang saja?” protes seorang teman kepada Anton. “Banyak teman yang bilang seperti itu. Tong (Mereka) heran,” kata pemuda yang ramah senyum itu.

Anton terus berdagang hingga pada tahun 2013 Anton mendapat tawaran kerja di LPMAK sebagai administrator bagian Monitoring Evaluasi Biro Ekonomi LPMAK. Selain menjadi admin, Anton juga dipercaya menjadi asisten bagian kesehatan hewan. Anton banyak belajar dari dokter hewan  mengenai cara vaksin hewan ternak hingga cara menghitung makanan.

Sekalipun sudah sibuk bekerja di LPMAK, Anton masih ingin punya usaha sendiri. Anton kini meluangkan waktu membimbing adik-adik sepupunya berwirausaha. Bagi adik-adik dari suku Amungme yang sedang kuliah di luar Papua, Anton hanya bisa berpesan, “merantau itu cari kawan, bukan cari lawan, dan untuk mendapatkan ilmu.”

The Flight

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kota

image

“Yeah. The flight was good.” I said to her.

In fact, all I can remember about the flight is not the wheather as I keep on fall asleep. All I can remember is the strange man next to me. A short guy with hat and dark eye glasses who keep on whining about his congested nose. He’s probably in his 40 something. A small pierced heart tattoo on his upper right hand serves as a reminder that he has going through different stages of life.

I didnt open conversation until he struck me with bold east Javanese accent, not long before the pilot announce altitude decline, asking me, “asline ndi, mas?” (Where do you come from). It turned out that he is originally from Manado, grew up in Sidotopo (an area not far from Kenjeran – an area in Surabaya where I spent my youth), get married with Manadonese woman in Surabaya until 2003. Now he lives with his wife and two children in Tondano. He told me about his life and job in an oil palm plantation 100 km north of Timika. He said that its about 10 hectares of land full with oil palm plants and that he work everyday from 8 in the morning until he reach home at 9 just to fall asleep. He didnt mention about the Kamoros who abandoned their kampungs in the coastal area of Mimika to find work in that plantation nor about the habit of keeping in touch of whats going on in this world through television or newspapers. “Ga tau ndhelok tivi, mas.” (I never watch television). He answered me when I asked him about the Indonesian citizens who being held hostages in the Philipines, not far from where I am right now, Manado. A city that give Soekarno lenso dance. Some will probably said that Soekarno get the idea to use Lenso dance as national dance due to his visit to the Moluccas. I personally believe that Soekarno get the idea when he visited Manado. Some will said that it has nothing to do with Soekarno’s visit to both place. The only certain thing is that the dance was originally from those two places and that the project has long been abandoned by the fascist Orde Baru regime. Places where people enjoy songs, festivals, food, and all dramas of life, just like Barcelona or Paris.

A place where someone is sitting in an empty cafe, writing useless rants in Evernote, drinking not too cold beer and watching sunset through a bamboo screen. Not far from there, a little girl is taking a selfie with her tablet. Behind her a vast ocean full with islands, corals, and pirates. The pirates who, until now, still held his fellow Indonesian citizens as a hostages. He is suddenly sneezing. He is probably too tired of his flight to this place from Timika or probably get the virus from the strange man named Denny.

Yeah, the flight was good. All is good. I said that just for my self.