Tiga Kisah dalam Satu Kota

Leave a comment
Buku / Tentang kota

Judul: Lupakan Aleppo

Penulis: Paola Salwan Daher 

Penerjemah: Lisa Soeranto

Penerbit: CV. Marjin Kiri, Tangerang Selatan, 2020

Tebal: 110 halaman

Tiga kisah di dalam novel ini menunjukkan bagaimana manusia berjuang menghadapi dampak dari agresi, konflik politik, dan tekanan masyarakat yang patriarkis.  

Abu Nuwas, yang terusir dari tanah airnya di Jaffa, Palestina; Shirine, seorang perawat yang memutuskan untuk meninggalkan Beirut, Lebanon yang diporakporandakan perang saudara; dan Noha, seorang perempuan Arab yang meninggalkan Paris ke Syria hanya demi menyenangkan ayahnya lalu menikah dengan seorang pria bernama Fouad. Mereka kemudian memulai kehidupan baru di Aleppo, Syria.

Abu Nuwas menjadi seorang pawang merpati yang terbaik di Aleppo, Shirine menjadi seorang pemandu wisata, dan Noha, sebagai seorang istri. Shirine dan Noha saling mengamati dari balkon apartemen mereka masing – masing.

Shirine berjuang menghadapi kenangan akan Beirut dan konflik yang mengoyak kota tercintanya itu, Georges kekasihnya yang gugur, dan perkembangan situasi di Aleppo. Dengan semua yang telah dialaminya itu, Shirine tidak mengejar akhir bahagia dari serangkaian kisah pilu akibat konflik. Bagi Shirine, dia sudah tidak punya tujuan untuk menjadi bahagia. “Hidupku harus bermanfaat dan patut dikenang, atau tidak hidup sama sekali.” (Hal. 75) 

Berbeda dengan Shirine yang sudah memilih jalan ninjanya tersebut, Noha berjuang menghadapi tragedi pribadi, menghadapi seorang suami yang menggilas identitasnya. Mereduksi dirinya sekedar jadi seorang istri yang submisif, sebuah “kartu nama yang bernyawa.” (Hal. 42) Noha menyadari dirinya “bukan sekedar adendum dari eksistensi seorang laki – laki yang tidak akan memberiku kepuasan.” (Hal. 55) 

Shirine dan Noha kemudian dipertemukan ketika Noha overdosis obat antidepresan. Sebuah pertemuan yang kemudian membuat Shirine menghentikan pertanyaan-pertanyaan untuk dirinya sendiri, mulai menyimak kisah Noha (Hal. 108), dan menemani Noha mengambil langkah berani dalam kehidupannya. 

Sementara di sisi lain Aleppo, Abu Nuwas memandang langit Aleppo dan merpati-merpatinya sambil terus mengenang Lamis dan tanahnya yang “dirampas oleh Bencana Nakba.” (Hal. 68) 

Menghadapi agresi, konflik, dan tragedi, apalagi yang bisa dilakukan manusia selain tertawa, tertawa, dan meneruskan perjuangan? 

Burung Kayu

Leave a comment
Buku

Burung Kayu

Penulis: Niduparas Erlang 

Editor: Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi

Penerbit: CV. Teroka Gaya Baru, Padang – Jakarta, 2020

Tebal: 174 halaman

Novel ini berlatar belakang kehidupan masyarakat Mentawai, tentang konflik antar suku dan uma yang terus diwariskan dan konflik yang lebih struktural antara kearifan lokal yang tidak berdaya menghadapi pembangunanisme yang datang dari pusat. Dua kisah yang juga bisa kita temukan di Papua. 

Saengrekerei, tokoh utama novel ini, adalah seorang pemuda dari suku-sura-boblo, uma Baumanai. Saengrekerei pernah mencoba menyekap seorang perempuan dari uma seberang. Tapi perempuan itu berhasil melarikan diri dan meninggalkan Saengrekerei memendam hasrat dan tindakannya itu, takut menambah keruwetan konflik yang sudah ada antar uma Baumanai dan Babuisiboje. 

Tapi kemudian Aman Legeumanai, kakak Saengrekerei, meninggal terjatuh dari ketinggian usai menenggerkan “burung-enggang–kayu” dan menudingkan parangnya ke arah uma yang dipermalukan (Hal. 60). Sepeninggal Aman Legeumanai, uma mengharuskan suami mendiang menikahi salah satu adik ipar yang masih membujang (Hal. 67). Maka, Saengrekerei menikahi Taksilitoni, nama kecil dari Bai Legeumanai, istri Aman Legeumanai dan menjadikan Legeumanai sebagai anaknya. 

Cerita kemudian bergeser dari uma ke barasi, dusun bikinan pemerintah. Di uma ada sikerei, di barasi cuma ada polisi. Uma adalah perlindungan, barasi ketercerabutan.

Demikian juga dengan sengketa, beralih dari antara suku – uma menjadi antara pemerintah dan orang Mentawai yang sudah menjadi “warga.” Saengrekerei dan keluarga barunya tinggal di barasi dan dia didapuk sebagai pimpinan desa. Sebagai pimpinan desa, Saengrekerei kemudian menemukan dirinya berada di antara pemerintah dan warganya dalam proses pembentukan Taman Nasional yang luasnya lebih dari separuh pulau Siberut. Yang diserahkan ke pemerintah 36 hektar, yang dicatat malah 360 hektar. 

Menariknya, Saengrekerei malah ingin anaknya jadi sasareu, menyeberang ke Tanah Tepi (Hal. 121), sekolah, dan jadi PNS seperti orang Padang. Kau tak perlu belajar berburu seperti teteu-teteu-mu atau bajak-bajak-mu di hulu (Hal. 143), kata Saengrekerei kepada Legeumanai. Tapi Legeumanai sendiri kemudian malah terpanggil untuk menjadi seorang Sikerei

Novel ini bisa dibandingkan dengan Orang – orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Berlatarbelakang kehidupan di sebuah tempat di Indonesia yang jarang didengar oleh orang Indonesia, apalagi dipahami. Yang masyarakatnya berhadapan dengan negara dan agama. 

Bedanya, di Burung Kayu ini kita pembaca diposisikan sebagai pendengar, yang harus sabar membaca halaman demi halaman tanpa catatan kaki atau indeks di akhir buku yang menjelaskan arti kata – kata bahasa Mentawai yang banyak bertaburan di novel ini. 

Itu yang mungkin tidak dialami oleh orang Mentawai yang ingin disampaikan penulis, didengarkan dan dipahami. Gaya hidup di uma mereka lebih banyak diejek-dicela dan dijanjikan kesejahteraan-kemajuan-pendidikan-pelayanan (Hal. 167).

Catatan Malaria

Leave a comment
Papua

Malam senin awal minggu pertama bulan Mei, belum lama setelah membaca sebuah novel yang seorang tokohnya kena Malaria tetiba tubuh saya rasanya agak sedikit menggigil. Saya sudahi dulu membaca Burung Kayu karya Niduparas Erlang dan beranjak tidur sambil agak menggigil.

Malam berikutnya, tubuh makin terasa menggigil dan muncul rasa nyeri di lutut kiri. Di masa pandemi seperti ini, mengalami gejala seperti itu langsung menimbulkan tanya. Dan karena di Papua, pertanyaanya kemudian jadi; ini Covid atau Malaria? Atau Flu Tulang seperti yang dulu pernah mampir di tubuhku. 

Besok paginya, situasinya semakin jelas. Saya masih bisa mencium dan merasakan aroma kopi dan roti bakar, masih bisa bernafas dengan baik. Setelah selesai sarapan, tetiba muncul rasa pahit di mulut, perut terasa mual, lalu muntah. Setelah muntah agak mendingan rasanya tapi tidak lama kemudian tubuh kembali menggigil. Sepertinya ini malaria, deh. Supaya lebih pasti, saya memeriksakan diri ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Timika. 

Setelah mendaftarkan diri, saya mulai diperiksa. Berat badan 72 Kg, tekanan darah lupa berapa tapi normal menurut Ibu Suster. Kata Bu Suster lagi, jantung berdenyut agak kencang karena suhu tubuh tinggi, 38ºC. 

Di masa awal Covid melanda Timika di bulan Maret 2020, saya sempat tidak diperbolehkan masuk sebuah bank di Timika karena suhu tubuh saya tercatat 37,5 ºC di mesin pemeriksa suhu tubuh. Saya agak melawan waktu itu. Kalau suhu segitu saya tidak bisa jalan santai begini, coba cek lagi kah, pintaku kepada petugasnya. Ternyata benar, Cuma 36 ºC. Kali ini saya merasakan sendiri bagaimana beraktivitas dengan suhu tubuh tinggi. Agak melayang di suasana ambang batas, antara panas dan dingin, pusing dan ringan, keruwetan dan keindahan hidup. 

Setelah diberi paracetamol untuk menurunkan suhu tubuh, saya diminta untuk tes darah. Tidak lama kemudian hasilnya keluar, Malaria Tropika plus dua. Sirbeh! 

Di loket obat, ketika saya menerima empat buah pil warna biru yang harus diminum sekaligus setiap harinya selama tiga hari, seorang anak kecil di sebelahku tertawa kecil mendengarnya. Aku tersenyum balik kepadanya sambil berbisik, banyak juga ee, lalu berjalan pergi membawa semua obat2an yang diberikan. Belum lama saya berjalan, anak itu menowel dan menyorongkan botol minumku yang ternyata ketinggalan di loket obat. 

Sekarang, lima hari kemudian, semua obat itu sudah habis saya konsumsi. Tadi siang dalam perjalanan ke Timika untuk membeli beberapa barang, masih tersisa sedikit pusing dan demam, badan masih belum sepenuhnya bugar. Tapi sudah tidak sepayah dua hari sebelumnya, ketika demam, mual, pusing, datang silih berganti. 

Semangat makan juga sudah mulai membaik. Lima hari sebelumnya, saya hanya mampu makan beberapa sendok nasi. Beberapa teman yang pernah kena malaria malah tidak bisa makan sama sekali ketika Malaria datang di tubuh mereka. Tapi ada juga yang malah nafsu makan meningkat hingga berat badannya naik setelah sembuh dari Malaria. 

Penyakit aneh memang Malaria ini. Dia seperti bisa mendengar kita. Ketika saya sudah merasa sembuh pada hari ketujuh, tetiba kepala jadi pusing saat menata ulang buku di rak buku. 

Hari kesembilan, hari Senin, 10 Mei 2021, saya sudah merasa sehat dan kuat. Porsi makan sudah kembali ke porsi sebelum sakit. Masih ada sedikit pusing tapi saya merasa bisa beraktivitas di kantor. Hingga kemudian pada hari kedua Lebaran, 14 Mei 2021, usai berkunjung ke rumah seorang teman, demam kembali melanda di malam hari, berkeringat, dan susah tidur. Bahkan di dalam mimpi saya merasa lelah sekali dan ingin tidur. 

Keesokan pagi, setelah sarapan, saya muntah lagi. Terasa nyeri di siku kanan. Saya memutuskan untuk kembali ke RSMM untuk memeriksakan diri. Sampel darah kembali diambil. Sebagai antisipasi, saya juga meminta untuk tes antigen. 

Hasilnya, tekanan darah 130/80. Normal. Tes antigen negatif. Sampel darah menunjukkan tidak ada malaria lagi. Lalu apa? Dokter Theresia menjelaskan, saya jatuh sakit lagi karena leukosit di tubuh saya meningkat melebihi ambang batas normal. Hal itu terjadi karena ada infeksi dan normal bagi orang yang baru sembuh dari Malaria. Saya semakin salut dengan teman – teman Papua yang sekalipun Malaria tapi masih bisa beraktivitas. Sekalipun kemudian seringkali saya dengar ambruk juga ketika di rumah. 

Beberapa teman dengan bangga menyebutkan sampai sudah bosan kena Malaria. Kalau belum kena Malaria, belum jadi orang Papua, adalah sebuah ungkapan yang sering saya dengar. Ungkapan yang getir.

Menurut sebuah artikel di situsweb Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekalipun tren Malaria menurun, masih ada tiga provinsi di Indonesia yang “belum mencapai eliminasi Malaria”, yakni, Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Saya jadi bisa membayangkan perkataan Nagabonar, yang sepertinya tidak mendapatkan perawatan Malaria, ketika ditanya apakah masih Malaria atau tidak oleh Maryam. Nagabonar menjawab dengan ringan, datangnya seperti kereta Medan Tebing Tinggi, kalau lewat dia (Malaria), bergoyang rumah. Tanpa pengobatan, Malaria bisa bercokol di tubuh kita cukup lama. 

Saya kembali menerima obat, tapi bukan obat Malaria lagi. Pemulihannya memakan waktu kurang lebih tujuh hari, ketika Omeprazole terakhir sudah habis saya minum. Dua hari kemudian, saya dijadwalkan mengikuti vaksinasi Covid. Beberapa teman menyarankan saya untuk tidak divaksin karena baru sembuh dari Malaria. Tapi saya putuskan untuk berkonsultasi dengan dokter di saat screening sebelum vaksinasi. 

Setelah saya ceritakan riwayat sakit Malaria saya, Pak dokter dari Puskesmas Timika Jaya yang saya lupa namanya itu mengatakan bahwa saya bisa menerima vaksin Covid. “Jangankan yang baru sembuh, yang masih dalam pengobatan Malaria dan TBC saja ada yang menerima vaksin Covid,” imbuhnya. Baiklah, maka kemudian Sinovac mulai mengalir di dalam tubuh saya. 

Saya jadi membayangkan, semoga setelah usaha keras vaksinasi Covid di Indonesia ini, ada usaha juga untuk memberikan vaksin Malaria bagi orang Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Surabaya 10 November 1945

Leave a comment
Tentang kawan / Tentang kota

Setiap tanggal 10 November, saya selalu ingat perjumpaan dengan keluarga Hoogendijk dari Belanda. Oma Thera Andre dan kedua anaknya datang ke Surabaya untuk bernostalgia, mengenang masa ketika keluarga Oma tinggal di Surabaya. Saat itu, mereka menginap di Hotel Mojopahit, hotel bersejarah di Surabaya yang didirikan keluarga Armenia dan tempat Utik bekerja. Utik lah yang kemudian menjadi penerjemah bagi keluarga Oma selama mereka jalan2 di Surabaya. 

Sebelum Perang Dunia II berkecamuk di Hindia Belanda pada tahun 1942, keluarga Oma tinggal di sebuah rumah di Jl. Gubeng. Oma masih ingat sekali tempat2 yang biasa dia kunjungi di Surabaya. 

Suatu ketika, Peter, anak Oma yang juga videografer, mewawancarai saya tentang peristiwa 10 November. Tentu saja saya jawab dengan penuh semangat bahwa itu adalah hari pahlawan bagi bangsa Indonesia. Hari di mana seluruh arek suroboyo merobek bendera belanda di Hotel Oranye (Mojopahit sekarang namanya) dan dengan gagah berani melawan serdadu2 Inggris dan NICA. Peter hanya mengangguk2 saja. 

Saya lupa tepatnya, tapi sepertinya ketika makan es krim di Zangrandi, gerai es krim tertua di Surabaya yang bertempat di depan kompleks Balai Pemuda sekarang. Di situlah kalau tidak salah Oma menceritakan bahwa Balai Pemuda itu adalah tempat banyak keluarga Belanda dan Indo disekap dan dibakar hidup2 oleh pemuda2 Surabaya. Saya tentu kaget sekali. Apa iya seperti itu? Kan itu hari pahlawan? Tidak mungkin pejuang2 kita berperilaku seperti itu. Saya simpan pertanyaan2 itu, karena saat itu saya tidak bisa langsung membuka handphone dan meng-googling kebenaran kejadian tersebut. 

Saya baru menemukannya di buku Revoloesi Pemoeda karya Ben Anderson. Situasi menjelang 10 November 1945 di Surabaya sangatlah kacau. Sekalipun kemerdekaan sudah diproklamasikan beberapa bulan sebelumnya, struktur sebuah negara masih belum terbentuk dengan baik. Yang ada adalah Presiden, Wakil Presiden, Komite Nasional Indonesia Pusat, serta Komite Nasional Indonesia di setiap provinsi. Tentara nasional? Kama. Tidak ada. Peta dan Heiho sudah dibubarkan Jepang secara tergesa2 pada 17 Agustus 1945. 

Kejadian yang bisa dibilang pemanasan menjelang 10 November 1945 adalah pada 21 Agustus 1945 saat para buruh di penyulingan minyak membentuk organisasi mereka yang kemudian berujung pada pembentukan organisasi Angkatan Muda pimpinan Sumarsono dan Ruslan Widjaja (yang memiliki kedekatan dengan Amir Sjarifudin). Organisasi ini berkembang sangat cepat hingga kemudian mampu menggalang rapat raksasa di Lapangan Tambaksari. Bahkan berani menantang larangan Kenpeitai (polisi rahasia Jepang) untuk melangsungkan rapat dan demonstrasi dan melakukannya di lapangan Pasar Turi. Tanpa organisasi bentukan buruh minyak itu, besar kemungkinan peristiwa 10 November 1945 akan terjadi. 

Ketika Inggris mendarat di Surabaya, di bawah pimpinan seorang kolonel Belanda (untuk menerima penyerahan dari Jepang), apalagi ketika kesepakatan Mallaby dengan pimpinan2 KNIP di Surabaya dianulir atasan Mallaby, keadaan jadi makin kacau. Semua yang dianggap sebagai personifikasi Belanda disikat. Gedung2 pemerintahan dan rumah2 orang Belanda diduduki, manusianya dibunuh. Bukan hanya Belanda2 yang baru saja keluar dari kamp2 interniran Jepang yang kemudian ditampung di Jl. Darmo, tapi juga orang2 Indo, China, dan yang dianggap kaki tangan Belanda seperti Ambon dan Manado. 

Setelah Brigadir Mallaby terbunuh, sikap Inggris yang mulanya agak pro dengan Indonesia jadi berubah. Surabaya kemudian diserang dengan sekuat tenaga dan terjadilah pertempuran 10 November 1945 itu. Sebelum terjadi penggempuran oleh Inggris, Soekarno dan Hatta memilih untuk menyerahkan sikap kepada pimpinan di Surabaya, mau melawan atau tidak. 

Beberapa bulan setelah keluarga Hoogendijk pulang ke Belanda, mereka mengirimkan dvd film dokumenter bikinan Peter Hoogendijk. Judulnya, Soerabaja Surabaya.

Karena dibuat dalam Bahasa Belanda dan zonder subtitle bahasa Indonesia atau Inggris, saya tidak mengerti banyak isi film itu. Tapi yang pasti sejarah itu kompleks, tidak sesimpel penggambaran diorama2 di museum2 kita apalagi di gapura2 setiap tujuhbelasan, yang biasanya dihiasi dengan sosok2 berseragam militer Jepang lengkap dengan peci. Sebuah sosok pemuda Indonesia yang sangat dibenci Sjahrir, karena hasil dari didikan militerisme/fasisme Jepang. 

Reply 1988

Leave a comment
Film / Keluarga

Akhirnya tuntas juga nonton 20 episode Reply 1988. Ini serial terpanjang yg pernah saya tonton setelah Messiah dan The Man in the High Castle. 

Reply 1988 adalah kisah persahabatan lima orang remaja dan keluarga mereka yang tinggal di sebuah daerah bernama Ssangmun di Seoul. Keluarga Sung  yang tinggal di kontrakan semi bawah tanah krn bapaknya terjerat utang saudaranya, Keluarga Kim yg  awalnya miskin tapi lalu kaya mendadak krn menang lotere, keluarga Dong yg paling sibuk di antara semua keluarga, keluarga Ibu Sun yg menjanda dan hidup pas2an, dan keluarga Choi yg menduda dan memiliki toko jam. 

Masing2 keluarga itu memiliki anak2 yang dilahirkan pada awal tahun 1970an dan pada tahun 1988 sudah di bangku SMP.  Yang paling akrab di antara mereka adalah Deok Sun yg cantik tapi scr akademik tdk cemerlang, Bo Ra kakaknya yg pintar tapi judes, Sun Woo yg pintar dan bertanggungjawab, Jung Hwan si sinis tapi pintar, Dong Ryong yg lucu dan Choi Taek (dibaca: Cu Tek) pemain Go Game terkenal yg kalem.  

Yang menggerakkan cerita bukan hanya soal percintaan seiring mereka bertumbuh menjadi remaja, tapi juga kisah2 masing2 keluarga. Kalau dipikir2, sepertinya malah lebih banyak cerita lucunya, seperti ibu2 yg gagal ikut lomba nyanyi gegara mabuk dan salah bawa kaset. Selain ceritanya, yang membuat saya bertahan nonton hingga 20 episode drakor hasil karya sutradara Shin Won – ho ini adalah latar belakang sejarahnya. 

Latar belakang sejarahnya sangat menarik. Pada tahun 1988, Korea msh belum mengimpor K-pop, gawai2 canggih dan chaebol2 yg bisnisnya menggurita di banyak belahan dunia, bahkan hingga belantara Papua. Korea tahun itu baru saja beranjak menjadi macan Asia, yang ditandai dengan kemampuan mereka menggelar Olimpiade 1988. Karena itu suasana dan relik2 tahun 1980an yg ditampilkan di serial ini cukup akrab dg suasana negara berflower kita tercinta ini, seperti suasana kampung di tengah kota, ibu2 yg nongkrong, demonstrasi dan represi yg menyusul, warung kaki lima, jambret, dan gas elpiji bocor. 

Setelah Reply 1988 masih ada serial Reply 1994 dan 1997. Sepertinya menarik juga  tapi saya mau nonton film Indonesia dulu aja. Mungkin yg skrg lagi ramai dibicarakan, Tilik. 

Resensi Buku Mein Kampf, karya Adolf Hitler

Leave a comment
Buku

New English Weekly, 21 Maret 1940 

Penerbitan Mein Kampf dari Hurst dan Blackett setahun lalu yang disunting dari sisi pro Hitler, merupakan penanda cepatnya laju waktu. Tujuan utama pengantar penerjemah dan penambahan catatan adalah untuk melunakkan buku dan sebisa mungkin menampilkan wajah Hitler yang ramah. Karena saat itu Hitler masih merupakan sosok yang terhormat. Hitler telah menghancurkan gerakan buruh Jerman. Sebuah tindakan yang membuat kelas pemilik properti bersedia memaafkan Hitler atas apapun yang dia lakukan. Baik kaum Kiri dan Kanan sama-sama berpandangan bahwa Nasionalisme Sosialisme adalah sebentuk konservatisme belaka. 

Semuanya tiba-tiba berubah, Hitler bukan lagi orang yang terhormat. Akibatnya, edisi Hurst dan Blackett dicetak ulang dengan sampul baru ditambah penjelasan bahwa semua keuntungan akan disumbangkan kepada Palang Merah. Sekalipun demikian, sulit untuk mempercayai bahwa ada perubahan pada tujuan dan opini Hitler di dalam Mein Kampf. Jika membandingkan ujaran Hitler dengan lima belas tahun lalu, hal yang paling kentara adalah kekolotan cara berpikirnya, cara pandangnya yang tidak berubah, visi monomaniak yang kaku, yang sepertinya tidak terpengaruh dengan manuver-manuver kekinian dari politik kekuasaan. Dalam benak Hitler, bisa jadi pakta Jerman – Rusia mewakili perubahan rencana kerjanya.  Di Mein Kampf, rencananya adalah menyerang Rusia terlebih dulu, lalu berikutnya Inggris. Kenyataannya, Inggrislah yang harus dibereskan terlebih dulu, karena Rusia lebih mudah disuap. Rusia akan diurusi setelah Inggris selesai. Begitulah cara Hitler melihatnya. Apakah akan seperti itu jadinya adalah pertanyaan yang lain lagi. 

Seandainya angan-angan Hitler berjalan sesuai rencana, sebuah ruang hidup bagi 250 juta orang Jerman yang terbentang sangat luas hingga Afghanistan dan sekitarnya. Sebuah imperium berisi manusia – manusia otak nangka yang tidak ada kegiatan lain selain latihan perang dan melahirkan serdadu – serdadu rendahan. Bagaimana Hitler bisa membuat visi mengerikan itu menjadi kenyataan? Hitler didukung oleh kaum industrialis (Jerman) yang memandang dia sebagai orang yang mampu menyingkirkan kaum Sosialis dan Komunis. Kaum industrialis tidak akan mendukung Hitler seandainya Hitler tidak berbicara tentang sebuah gerakan yang hebat. Situasi Jerman saat itu, dengan angka pengangguran mencapai tujuh juta orang, adalah situasi yang ideal bagi para demagog. Tapi Hitler tidak akan bisa mempecundangi para saingannya tanpa kepribadiannya. Kepribadian yang bisa dirasakan di tulisan – tulisan konyol dalam Mein Kampf dan tentu saja di pidato – pidatonya yang, tidak bisa disangkal, bisa membuai pendengarnya. Sampai di sini perlu saya jelaskan bahwa saya tidak pernah bisa membenci Hitler. Sejak Hitler meraih kekuasaan dan hingga sesudahnya. Saya tertipu dengan pandangan bahwa Hitler bukanlah siapa – siapa. Saya pernah membayangkan saya bisa membunuh Hitler tanpa merasa benci. Ada yang menarik dari orang yang satu itu. Kita bisa merasakannya saat kita melihat fotonya. Saya sarankan melihat foto Hitler di hari – hari awalnya berseragam coklat dari edisi awal terbitan Hurst dan Blackett. Di situ nampak wajah yang menyedihkan, mirip anjing, wajah orang yang didera begitu banyak ketidakadilan.  Semacam reproduksi yang maskulin dari berbagai lukisan Kristus yang disalibkan. Besar kemungkinan seperti itulah Hitler memandang dirinya. Kita hanya bisa menduga sebesar apa penyebab pribadi kemarahan Hitler kepada dunia. Dia adalah martir, korban, Prometheus yang terpasung, pahlawan tanpa pamrih yang bertarung mati-matian sendirian. Hitler tahu cara membuat membunuh tikus jadi nampak seperti membunuh naga. Seperti halnya Napoleon, dia merasa sedang melawan takdir dan tidak akan bisa menang, tapi dia tetap layak menang.  Sikap itu tentu saja sangat menarik. Separuh dari sekian banyak film yang kita tonton memiliki tema semacam itu. 

Hitler juga berhasil memahami kesesatan sikap hidup hedonistik. Hampir semua pemikiran di dunia Barat sejak Perang Dunia Pertama adalah pemikiran “progresif” yang mengasumsikan bahwa yang manusia inginkan tidak lebih dari kemudahan, keamanan, dan terhindar dari rasa sakit. Dalam pandangan semacam itu, tidak ada ruang bagi, misalnya, patriotisme dan nilai adiluhung militer. Seorang sosialis yang mendapati anaknya sedang bermain dengan tentara biasanya akan kecewa. Tapi dia tidak bisa menggantikan mainan serdadu. Menggantikan mainan serdadu dengan mainan aktivis perdamaian pasti aneh rasanya. Dalam pemikirannya yang muram, Hitler mengetahui bahwa manusia tidak menginginkan kenyamanan, keamanan, jam kerja yang singkat, higienitas, kontrol kelahiran, dan akal sehat. Manusia juga menginginkan, paling tidak sesekali saja, perjuangan, pengorbanan diri, apalagi riuh tetabuhan drum, bendera, pawai – pawai. Sekalipun bisa dianggap sebagai teori ekonomi, secara psikologis Fasisme dan Nazisme jauh lebih kuat dibanding konsepsi kehidupan hedonistik yang ada. Hal yang sama juga berlaku bagi Sosialisme versi militer ala Stalin. Semua diktator besar mengembangkan kekuasaan mereka dengan memberikan beban besar bagi rakyat mereka. Sementara Sosialisme dan Kapitalisme menjanjikan “hidup yang baik,” Hitler malah menawarkan “perjuangan, bahaya, dan kematian.” Hasilnya, sebuah bangsa bertekuk lutut di bawah kakinya. Mungkin kelak ketika mereka sudah muak dan berubah pikiran, sebagaimana halnya di perang dunia sebelumnya. Setelah beberapa tahun pembantaian dan kelaparan, “kebahagiaan yang sebesar-besarnya dari sebanyak-banyak orang” terdengar seperti slogan yang baik. Tapi saat ini slogan yang lebih populer adalah “lebih baik mengakhiri dengan horror daripada horror tanpa akhir.” Karena sekarang kita berjuang melawan orang yang menciptakan istilah itu, tidak seharusnya kita meremehkan godaan emosional istilah itu. 

Diterjemahkan bebas oleh Onny Wiranda dari:  

Orwell, George (2013), Review of Mein Kampf, by Adolf Hitler, unabridged translation, dalam Politics and The English Language (p. 21-24), Penguin book. 

Aruna dan Lidahnya

Leave a comment
Film

Di pesawat, saya biasanya menghabiskan waku dg nonton film Indonesia. Terakhir kali saya nonton film “dokumenter” Indonesia, Bali Beats of Paradise. Sutradaranya katanya satu perguruan dengan sineas2 amerika. Hasilnya? Kalah jauh dengan yg saya tonton di penerbangan kali ini, Aruna dan Lidahnya.


Film yang dirilis tahun 2018 ini berkisah tentang Aruna, seorang ahli epidemiologi dan penggemar makanan, diberi tugas untuk menginvestigasi kasus flu burung di Surabaya, Pamekasan, dan Pontianak. Dia berangkat dengan sahabatnya, Bono seorang chef, yang sedang ingin jalan – jalan mencari inspirasi kuliner Indonesia.


Tujuan pertamanya, Surabaya, membuat saya terharu melihat makanan2  Jawa timur: Rawon (tidak dijelaskan rawon mana, tapi dari tempatnya sepertinya Rawon Nguling), Nasi Bebek, Bubur Madura, dan Campur Lorjuk di Pamekasan. Adegan yang paling saya suka adalah saat pak-siapa-namanya-saya-lupa menjelaskan cara memasak soto lamongan. 


Tanpa kemunculan Farish dan Nadezhda, film ini akan seperti nonton AADC versi Surabaya karena Mbak Dian dan Mas Nicsap. Farish bekerja di PWP2, lembaga pemerintah yg juga donor LSM tempat kerja Aruna. Nadezhda adalah seorang penulis muda berbakat dan cantik. 


Cerita jadi semakin menarik karena investigasi yg dilakukan Aruna dan Farish. Alih2 menemukan penularan flu burung ke manusia, mereka malah menemukan indikasi korupsi pengadaan alat kesehatan atas nama epidemi flu burung.  


Di sebuah warung nasi goreng di Pontianak, Aruna akhirnya mengaku kepada Farish bahwa sejak lama dia “naksir-naksir sebel” Farish. Dan tentu saja sebagai sebuah ending cerita yang bagus, Farish juga merasakan sebel yang sama. Ditambah lagi dengan Bono yang akhirnya jadian dengan Nadezhda dan memasak untuk Nadezhda di warung itu. 


Film yang diangkat dari novel Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama ini dikemas dengan bagus oleh sutradaranya, Edwin. Iya, Edwin yang dulu kuliah di PPKAI UK Petra Surabaya dan bersama dengan Christo dan Yudi suka bilang, “buat apa kuliah S1?” Cuk… 😆

By the Beaches of Keakwa

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua
I want to ride a bike by the beaches of Keakwa
with you.

 

Speeding along the cloudy horizon,
passing a Japanese artillery wreck,
feeling the wind in my face,
its April, I said
what the heck,  you said
you got a flat tire,
so we stop,
abruptly,
like any other event here.
Lets just run, you said
Feeling the sand in my foot,
And seeing the smiley faces
Of the Kamoro children
We run,
up into the old small airstrip
where Freeport
used to unload their equipment,
back in the late 1960s,
this place, abandoned now
its spirits taken away
to the city,
where we live,
and write this poem.

Membaca Pedro Paramo

Leave a comment
Buku

Novel ini dibuka dengan pesan sang ibu yang sekarat kepada anaknya, Juan Preciado, untuk pergi ke sebuah kota bernama Comala mencari ayahnya. “Jangan minta apa2 selain milik kita. Yang seharusnya dia berikan kepadaku…” Demikian kira2 pesan sang Ibu dalam terjemahan saya. Ah, ternyata buku ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Ga nyangka. Sama ga nyangkanya ketika nemu terjemahan Burmese Days (George Orwell). 


Setibanya di Comala, Juan Preciado bertemu dengan Abundio, lalu kemudian dengan Eduviges Dyada. Eduviges sudah tahu bahwa Juan adalah anak Dolores Preciado. Dolores menghubunginya seminggu sebelum Juan Preciado ke Comala. 


Setelah itu bertemu Damiana Cisneros, orang yg merawatnya saat baru dilahirkan. Damiana mengatakan bahwa Eduviges Dyada sudah mati. Sampai di situ saya baru ngeh bahwa ini adalah novel soal orang2 yang sudah mati, tapi masih enggan meninggalkan atau tepatnya, tidak bisa meninggalkan dunia. 


Naratornya berganti2 antara Juan Preciado, Dorotea, dan Pedro Paramo sendiri. Dialog2nya bercampur antara dialog orang yg masih hidup dan dialog antara mayat di dalam kuburan mereka. 


Keanehan itu bercampur dengan kerumitan cerita; Pedro Paramo yang ternyata menikahi Dolores karena berhutang pada Fulgor Sedano sang pemilik ranch Media Luna, Susana San Juan kekasih Pedro Paramo, Eduviges yang nyaris jadi ibu Juan Preciado karena menggantikan Dolores di malam pertama setelah pernikahannya dengan Pedro Paramo tapi toh mereka ga ngapa2in krn Pedro cuma tidur dan ngorok semalaman, dan Miguel Paramo saudara kandung Juan yang menyandang nama keluarga bapakanya (tdk seperti Juan yang menyandang nama ibunya). 


Di sini lah surga, kata Dorotea pada Juan Preciado (hal.66), di Comala, bukan Comala yang hidup tapi Comala yang penuh dengan gema masa lalu (hal.44), yang ia tinggali sebagai arwah karena tidak diterima di surga. 
Beda seperti Macondo di Seratus Tahun Kesunyian (yang katanya terinspirasi dari Pedro Paramo) yang fiktif, Comala benar2 ada di Meksiko. 
Saya harus membaca lagi novel ini (seperti yang disarankan Susan Sontag di kata pengantar) untuk memahami apakah wasiat sang ibunda dipenuhi oleh Juan Preciado? Apakah cinta Dolores pada Pedro Paramo benar2 sia2 karena Pedro lebih mencintai Susana San Juan? Apakah kenangan itu membebani perjalanan manusia dan orang2 yang dia sayangi setelah dia mati? 


Untuk sementara saya simpan dulu semua pertanyaan itu, karena mau masak pokcoy dan doa Rosario di Kombas baru sa.

Sorghum di Timika

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

Alkisah, di bulan Desember 2016 ada pembicaraan antar provinsi soal budidaya Sorghum di Papua. Dalam pembicaraan itu, seorang oknum dengan pede-nya bilang kalau di Papua pernah ada penanaman Sorghum. Tapi di Papua Nugini. Tidak lupa oknum kita itu menyertakan tautan berita hasil penanaman Sorghum di sebuah tempat di Papua Nugini bernama Lembah Markham. Oknum itu jadi ingat Aliarcham, anggota Sarekat Islam Merah yang dibuang ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan tentu saja buku berjudul “Pangan” yang pernah dia edit saat bekerja di @insistpress, ada soal Sorghum di buku itu. 

Pembicaraan itu kemudian disambung dengan diangkutnya benih-benih sorghum oleh @josephine_pranoto ke Timika, Papua. Rencananya akan ditanam di halaman belakang sebuah rumah, tapi setelah disurvei oleh @vembriwaluyas, diputuskan banwa kondisi tanah “tidak feasible.” 

Benih kemudian berpindah tangan ke Kang Oji, kawan baik oknum kita itu. Dengan ketangkasan Kang Oji, Sorghum akhirnya mendapatkan tempatnya untuk hidup di bilangan SP (Satuan Pemukiman) – 3, Timika, Papua. 

Cara Kang Oji adalah sebagai berikut: benih Sorghum di”deder” selama 6 jam, biar jadi kecambah dulu. Benih yang mengambang dibuang. Tujuannya, kata Kang Oji, “biar airnya masuk ke dalam benih dan merangsang pertumbuhan benih.” Sebuah pengetahuan yang Kang Oji dapat dari pengalaman Ibunda Kang Oji membuat tempe. 

Di rumahnya, Kang Oji pernah menanam benih jagung tanpa dideder. Hasilnya, tumbuhnya ga rata. Ada benih yang tidak tumbuh. “Kalo tumbuh semua gini kan enak dipandang,” kata Kang Oji sambil menunjukkan Sorghum yang sudah tumbuh setinggi kira-kira 5 cm sejak ditanam 10 hari sebelumnya. 

“Tanah di sini merah. Pupuknya alami aja. Cuma pake tanah yang dibalik,” kata Kang Oji sambil menyuguhkan makanan. 

Rencananya setelah Sorghum bisa dipanen, Kang Oji akan mengolahnya menjadi tape dan sebagai pengganti beras. Tidak perlu peresmian atau pencanangan panen raya Sorghum seperti di Keerom, Papua, walau tentu saja itu berita yang baik juga. 

Yang begini saja sudah cukup, kata sang oknum. Sudah jadi semacam pembuka sebuah pembicaraan yang lebih maju. Seperti kata V kepada Evey Hammond, “there, the overture is finished… [come] we must prepare for the first act.”