The Flight

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kota

image

“Yeah. The flight was good.” I said to her.

In fact, all I can remember about the flight is not the wheather as I keep on fall asleep. All I can remember is the strange man next to me. A short guy with hat and dark eye glasses who keep on whining about his congested nose. He’s probably in his 40 something. A small pierced heart tattoo on his upper right hand serves as a reminder that he has going through different stages of life.

I didnt open conversation until he struck me with bold east Javanese accent, not long before the pilot announce altitude decline, asking me, “asline ndi, mas?” (Where do you come from). It turned out that he is originally from Manado, grew up in Sidotopo (an area not far from Kenjeran – an area in Surabaya where I spent my youth), get married with Manadonese woman in Surabaya until 2003. Now he lives with his wife and two children in Tondano. He told me about his life and job in an oil palm plantation 100 km north of Timika. He said that its about 10 hectares of land full with oil palm plants and that he work everyday from 8 in the morning until he reach home at 9 just to fall asleep. He didnt mention about the Kamoros who abandoned their kampungs in the coastal area of Mimika to find work in that plantation nor about the habit of keeping in touch of whats going on in this world through television or newspapers. “Ga tau ndhelok tivi, mas.” (I never watch television). He answered me when I asked him about the Indonesian citizens who being held hostages in the Philipines, not far from where I am right now, Manado. A city that give Soekarno lenso dance. Some will probably said that Soekarno get the idea to use Lenso dance as national dance due to his visit to the Moluccas. I personally believe that Soekarno get the idea when he visited Manado. Some will said that it has nothing to do with Soekarno’s visit to both place. The only certain thing is that the dance was originally from those two places and that the project has long been abandoned by the fascist Orde Baru regime. Places where people enjoy songs, festivals, food, and all dramas of life, just like Barcelona or Paris.

A place where someone is sitting in an empty cafe, writing useless rants in Evernote, drinking not too cold beer and watching sunset through a bamboo screen. Not far from there, a little girl is taking a selfie with her tablet. Behind her a vast ocean full with islands, corals, and pirates. The pirates who, until now, still held his fellow Indonesian citizens as a hostages. He is suddenly sneezing. He is probably too tired of his flight to this place from Timika or probably get the virus from the strange man named Denny.

Yeah, the flight was good. All is good. I said that just for my self.

Liburan ke Rumah Cimot

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tokoh

Berbeda dengan akhir tahun sebelumnya, liburan akhir tahun 2015 tidak aku habiskan dengan bepergian ke tempat baru. Aku memilih pergi ke Yogyakarta untuk bertemu dengan beberapa teman lama.

Sepanjang perjalanan ke Yogya aku terus membayangkan apa yang hendak aku lakukan dengan tanah ukuran 10 x 9,6 meter yang baru saja aku beli. Puji Tuhan tanah itu aku beli setelah menabung dengan susah payah selama beberapa tahun bekerja. Sama sekali tidak ada peran pihak lain. Bisa beli tanah, apalagi rumah, di wilayah kota Surabaya, sangat tidak mudah. Bisa jadi aku termasuk di dalam 40% masyarakat yang mampu membeli rumah tetapi mesti dibantu pembiayaannya melalui bantuan uang muka atau angsurannya (Kompas, Kamis 25 Februari 2016)

Tanah itu terletak di bagian tenggara kota Surabaya, tidak jauh dari Perpustakaan Medayu Agung milik Pak Oey, kampus UPN Veteran Surabaya dan bandara udara Juanda. Nama daerahnya Medokan Ayu. Daerah yang sepertinya lebih dibentuk oleh berbagai macam developer perumahan dari berbagai kelas katimbang oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Sebenarnya itu bukan tempat tinggal yang ideal untukku. Selain karena sudah terlalu padat dan nyaris tidak tersentuh perencanaan wilayah yang baik, daerah itu terkenal panas karena sudah tidak jauh dari pantai. Dulu malah pernah kena serangan serangga Tomcat yang mengamuk karena habitat mereka, hutan bakau di pesisir Surabaya, yang rusak akibat perkembangan daerah pemukiman.

***

Di Yogya aku menginap di rumah Vembri, sesama “pendatang” di Papua yang juga sedang berliburan akhir tahun di Jawa.  Beberapa bulan sebelumnya di Timika, kami sempat ngobrol-ngobrol soal Rumah Cimot. Dia memberikan sebuah tautan blog yang menuliskan soal Rumah Cimot, yang dengan segera menjadi penghuni bookmark Safariku.

IMG_3361 copy

Tampak depan Rumah Cimot. Tamannya makin rimbun. 

Vembri sendiri punya pengalaman membangun rumah dengan Mas Yoshi. Namanya Omah Asu. Seperti namanya, Omah Asu adalah rumah yang ditempati Vembri, pacarnya, dan sembilan ekor Golden Retriever yang lucu-lucu.

Besoknya, Vembri mengajakku ke rumah Cimot. Tempatnya di Sleman, di sebuah lereng dekat sungai. Kontur jalannya agak landai. Lingkungannya masih belum sepadat daerah-daerah yang lebih ke selatan seperti Condongcatur.

Ketika kami datang, Mas Yoshi sedang menata kebun baru di samping rumahnya, untuk mengantisipasi sebuah tembok yang baru saja dibangun tetangga. Tembok itu menghalangi pandangan ke sawah yang terbentang di samping rumah Cimot. Tapi toh memberikan ruang untuk dijadikan taman yang sangat digemari kucing-kucing. Sayangnya, Cimot, si kucing yang namanya jadi nama rumah itu, sudah meninggal dunia dan tidak bisa ditemui lagi.

IMG_3363 copy

Ruang tamu/ruang baca/ruang keluarga

Rumah Cimot luasnya 3 x 9 meter. Dua lantai dengan umpak yang tinggi. Dari jauh nampak seperti rumah panggung. Ruang yang tercipta di bawahnya jadi tempat penyimpanan barang-barang. Semuanya menggunakan bahan-bahan bekas. Kata Mas Yoshi, rumahnya itu terus berkembang. Dia mencontohkan hiasan-hiasan di depan rumah yang sebelumnya tidak ada. Kayu yang menyangga kuda-kuda di atas rumah adalah kayu sengon berwarna merah dan bambu yang sudah dipotong-potong dengan perhitungan Jawa dan diawetkan sebelumnya.

RMH CIMOT-INTERIOR

Dapur dan wastafel

 

RMH CIMOT-BOOKS

Sebagian buku-buku di Rumah Cimot

Sambil nongkrong di “teras” samping rumah, aku bilang kalau mau bangun rumah di Surabaya dan nyerocos soal beberapa contoh rumah hasil browsing di internet. Ketika aku minta pendapatnya seperti apa rumah yang cocok untuk kota seperti Surabaya, jawaban arsitek lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu membuatku kaget. Dia malah nanya kesiapanku secara spiritual.

Yang dimaksud Mas Yoshi adalah kesiapan (atau kematangan mungkin, ya) dalam berbagai relasi yang kumiliki. Relasi dengan pasangan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Sambil makan nasi urap yang dibelikan Mas Yoshi, aku jadi mikir bahwa rumah memang bukan sekedar tempat tinggal fisik tapi juga hal-hal yang tidak kasat mata, seperti relasi, ide, dan harapan penghuninya. Sebuah rumah mestinya memungkinkan semua hal yang tidak kasat mata itu berkembang.

Ketika aku bilang bahwa aku hanya akan menempati rumah itu setiap 6 bulan sekali, Mas Yoshi bilang tidak apa-apa. Yang penting ada tempat untuk selalu pulang, katanya. Lalu dia mencontohkan rumah Farah Wardhani yang terletak di depan rumahnya. Kami jalan-jalan melihat ruangan-ruangan di dalam rumah. Tahun depan, rumah seluas 6 x 8 meter persegi itu sepertinya juga akan dipenuhi buku dan tamu seperti rumah Mas Yoshi.

RMH FARAH

Rumah Farah Wardhani

Mas Yoshi menyarankan supaya mulai mencari material bekas yang bisa digunakan untuk rumah. Karena di Surabaya, daerah yang bisa dieksplorasi adalah daerah pelabuhan. Material seperti kayu bekas galangan kapal atau rantai kapal itu bisa dipakai, kata Mas Yoshi. Seperti halnya ketika Mas Yoshi menggunakan kayu nangka ketika membantu pembangunan sebuah rumah yang bernama Rumah Condet di Jakarta.

Sambil berjalan kembali ke Rumah Cimot, aku masih belum punya bayangan seperti apa rumah yang cocok untuk daerah seperti Medokan Ayu, Surabaya, yang padat penduduk dan panas itu? Apakah rumah dengan rancang bangun seperti Rumah Cimot dan rumah Farah Wardhani ini bisa menjawab permasalahan khas Surabaya seperti panas dan nyamuk?

Atau mungkin yang perlu aku jawab duluan adalah soal relasi. Dengan siapa aku akan tinggal? Apakah dengan Minyu saja? Relasi sosial seperti apa yang aku harapkan dengan tinggal di situ (sekalipun hanya untuk secara berkala)? Benarkah aku mau tinggal di Surabaya katimbang di Papua? Jika iya, apakah benar rumah yang aku beri nama Rumah Minyu itu akan jadi tempat tinggal yang nyaman untuk Minyu?

Kepalaku sebelah kiri mendadak terasa berdenyut-denyut. Sepertinya untuk saat ini aku lebih perlu liburan daripada sebuah rumah. Dengan berlibur ke tempat yang asing sama sekali dan berjarak dari semua hal yang biasa melingkupiku, pelan-pelan mungkin akan terbayang sebuah rumah tempatku pulang.

Membaca “Kibaran Sampari” dan Hal-hal Lain yang Menyertai

Leave a comment
Buku / Papua

IMG_3709-res copy

Proses membaca buku karangan Robin Osborne ini tidak seintens saat aku membaca beberapa buku sebelumnya. Buku ini aku baca di akhir pekan pertama bulan Desember 2015, di saat aku sibuk membuat revisi laporan akhir tahun Program Pendidikan LPMAK, memikirkan rencana-rencana liburan dan resolusi tahun 2016 (kecuali revisi laporan akhir tahun, tidak ada yang bisa aku pikirkan dengan baik dan fokus). Format buku juga kurang nyaman untuk dipegang. Jenis kertas ditambah dengan ukuran huruf yang lumayan besar membuat jumlah halaman jadi banyak, 451 halaman sudah termasuk dengan Index.

Suatu saat, aku membaca di teras rumah. Di rumah seberang, Daniel, anak terkecil keluarga Omaleng sedang bermain jendela rumah sambil pakai popok kedodoran. Minyu menemaniku membaca sambil memanfaatkan waktu bermain di luar rumah. Beberapa hari sebelumnya, entah kenapa Minyu jadi was-was setiap kali mainan di dalam rumah. Di dalam rumah, Vembri dan Pipin sedang masak.

Melihat Minyu bermain dengan riang membuatku agak lega. Kemarin dia juga takut main di luar rumah karena mendadak muncul lima orang dari Dinas Pendapatan Daerah. Mereka tanya ini itu. Suasana semakin meriah ketika Pak Ronald sang pemilik rumah muncul. Pak Ronald agak keberatan dengan kunjungan yang mendadak itu. Suaranya bahkan sempat meninggi. Aku dan Vembri jadi pendengar diskusi menarik itu.

Seorang staf cewek, mungkin karena bosan dengan pekerjaannya, melihat rumah kucing dan bertanya-tanya soal kucing. Kenapa kok bisa banyak dan apa makannya. Dalam hati aku berharap semoga delapan ekor kucing ini tidak dikenai pendapatan daerah. Ketika mereka pamit pulang aku baru sadar kalau aku membiarkan pintu kasa terbuka lebar. Minyu bisa kabur ini, pikirku saat itu. Ternyata, setelah dicari keliling rumah, Minyu sedang sembunyi di kamar Vembri. Kucing yang makin gendut itu rupanya ketakutan mendengarkan keributan di teras rumah. Setelah disayang-sayang dan diberi cemilan kesukaannya, Minyu mulai berani beranjak ke ruang tengah rumah. Syukurlah.

Kalau Minyu sampai tidak bisa bermain dengan gembira lagi, semakin tidak terperikan lagi segala perubahan yang terjadi dalam setahun ini. Aku cuma bisa mengamati, mencatat, dan membacai buku-buku yang ada di rak bukuku. Salah satunya adalah Kibaran Sampari, dalam Bahasa Inggris judulnya “Indonesia’s Secret War; the Guerilla Struggle in Irian Jaya.”

Baca lebih lanjut di situsweb Sastra Papua

Ketinggalan Pesawat

Leave a comment
Catatan Perjalanan

petawat

Waktu menunjukkan pukul 16:30 WIB, masih 5 menit lagi dari waktu boarding yang tertera di tiket. Dengan pongahnya aku mengira keberangkatan pasti akan molor karena berbagai alasan, sebagaimana biasanya maskapai lokal.

Sekalipun pongah aku tetap datang di bandara Juanda lebih awal. Jam 16:00 aku sudah selesai check-in dan bergerak ke lantai dua. Setelah memastikan gerbang tempat pesawat akan mabur, aku menunggu di ruang merokok. Setelah dua batang rokok, jam 16:20-an aku jalan dengan santai ke ruang tunggu.

Di pemeriksaan X-Ray, petugas sangat kaget begitu melihat tiketku. Wah, sudah dipanggil dari tadi, mas. Katanya. Coba mas tanya ke petugas di situ, ujarnya sambil menunjuk seorang pria muda berkemeja putih yang berdiri di depan sebuah meja pemeriksaan tiket.

Aku sontak kaget. Sedari tadi aku menunggu di ruang merokok sampai di depan ruang tunggu, memang ada banyak pengumuman yang aku dengar. Tapi tidak satupun yang kudengar memanggil namaku. Memang saya dengar ada pengumuman, tapi tidak ada yang sebut Wings Air jurusan ke Yogya atau panggil nama saya, ujarku ke pemuda itu.

Awalnya dia bilang karena kebijakan Silent Airport yang diterapkan pengelola Bandara Juanda Surabaya sejak dua tahun lalu. Itu artinya di Juanda kita akan tidak mendengar pengumuman jadwal penerbangan melalui pengeras suara. Penumpang diharuskan mengikuti jadwal di papan informasi yang disediakan. Beberapa bandara udara internasional di Eropa sudah menerapkan kebijakan itu sejak tahun 2012.

Ketika diterapkan di Juanda, banyak orang mengeluh karena ketinggalan pesawat. Bahkan seingatku pernah seorang pengacara muda Surabaya menuntut pengelola Bandara Udara Juanda karena dia ketinggalan pesawat gara-gara silent airport ini.

Entah masih diterapkan atau tidak, alasan silent airport itu tidak aku terima, karena aku mendengar banyak sekali pengumuman keberangkatan pesawat. Saya sudah panggil 20 kali mas, katanya lagi dengan alasan yang baru.

20 kali panggilan itu rupanya hanya dilakukan di ruang tunggu, bukan dengan pengeras suara. Jelas aja saya ga dengar, mas, bantahku. Tapi dia bergeming. Pesawat sudah akan berangkat, katanya. Jancuk, makiku dalam hati. Di luar aku tidak melihat pesawat jenis ATR yang mulai bergerak ke landas pacu. Dia petugas yang baik dan tenang. Seandainya aku marah, dia pasti tidak langsung balas marah. Aku menduga dia akan ngeloyor pergi begitu saja jika aku marah.

Lagian ini jelas-jelas salahku sendiri, yang tidak mengikuti keterangan di tiket. Berbeda dengan tiket Garuda yang dicetak di kertas lumayan tebal dan kaku. Mungkin kertas berat 100 gram. Di situ tertera secara urutan keterangan boarding dan take-off. Sementara tiket Wings Air cuma seperti nota belanja. Tipis dan Keterangan boarding time: 16:05 tertera di sebelah kiri. Sedangkan flight time 16:35 di bagian kanan tiket. Sesuai dengan jam keberangkatan di Traveloka. Ketika aku lipat jadi dua yang nampak hanya keterangan boarding time. Dipadukan dengan sikap meremehkan maskapai lokal, jadilah aku terlambat terbang. Goblik…

Sambil berjalan keluar ruang tunggu aku jadi teringat bagaimana pada tahun 2008 aku diselamatkan oleh keajaiban dari peristiwa semacam ini. Saat itu aku sedang di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, menunggu penerbangan Garuda lanjutan ke Timika. Aku tiduran di depan sebuah tempat makan tidak jauh dari pintu masuk terminal keberangkatan (saat itu bandara Ngurah Rai masih belum sebagus sekarang). Sekitar jam 1 dinihari aku berjalan dengan barang-barangku ke counter check-in dan mendapati counter sudah tutup. Seorang petugas dengan tersenyum bilang kalau sudah tutup sejak setengah jam lalu.

Aku mbribik bilang kalau aku ga mungkin nunggu pesawat berikutnya karena itu berarti harus nunggu semalam lagi. Dan harus keluar uang sekitar 2 juta untuk beli tiket ke Timika. Mendadak si petugas menawarkan solusi menarik, bisa tetap berangkat dengan upgrade ke Kelas Bisnis. Untuk itu aku harus membayar 700 ribu rupiah. Aku setuju dan terbanglah aku dengan Kelas Bisnis untuk pertama kalinya.🙂

Dengan rute pendek Surabaya – Yogyakarta ini kemungkinan semacam pengalaman di Bali itu tidak mungkin ada. Aku coba beli melalui situsweb Traveloka tapi sudah tidak bisa karena waktunya terlalu mepet. Para calo mulai mengendus aroma gagal terbang yang keluar dari diriku. Silih berganti mereka berdatangan menawarkan tiket. Seseorang menawarkan tiket seharga 650 ribu. Aku tolak. Akhirnya aku beli di Kaha seharga 444 ribu dengan Wings Air juga.

Setelah itu aku menghabiskan waktu dengan beli kopi instan dan rokok di sebuah minimarket yang dijaga seorang pemudi yang manis. Dia masih magang sambil menyelesaikan skripsinya di UPN Surabaya jurusan Komunikasi. Sosoknya mengingatkan aku akan seseorang.

Notanya, mas, kata si mbak penjaga kios. Senyumnya membuat aku merasa berat meninggalkan dia tanpa ngobrol-ngobrol dulu. Tapi aku sudah kebelet ngerokok.

Di tempat merokok, aku buka-buka lagi tiket Wings Air yang baru dan nota belanjaan. Di nota belanja minimarket itu aku tidak membaca keterangan donasi untuk panti asuhan dari uang sisa belanjaanku. Seandainya aku Menteri, aku akan memanggil manajernya untuk minta penjelasan. Kalau perlu pimpinan jaringan minimarket  itu aku panggil, marahi habis-habisan, lalu aku pecat. Selain sebagai pelampiasan atas kemarahan yang tidak pantas aku hamburkan ke petugas darat Wings Air tadi, rasanya kok lebih baik marah soal donasi ga jelas ini daripada karena ketinggalan pesawat.

MOZES KILANGIN

Leave a comment
Papua / Tentang kota / Tokoh

 

Mozes Kilangin

Patung Mozes Kilangin di depan Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika (TIM), Papua

Dalam sidang Mahkamah Kehormatan Dewan, seorang anggota Mahkamah bertanya kepada Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia, mengenai penerbangan mereka dengan helikopter ke Urumuka untuk melihat tempat yang akan menjadi lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Sekalipun hanya sebuah kampung kecil di sebelah timur Timika, Urumuka memiliki arti strategis karena di situ akan dibangun sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air yang akan memberikan pasokan listrik bagi kota Timika dan bagi Pabrik Pengolah Tembaga yang akan dibangun Freeport di pelabuhan Timika.

Pada tahun 1936, sebuah tim ekspedisi Belanda berhasil mencapai puncak gunung bersalju di pegunungan tengah Papua. Tim itu terdiri dari Anton Hendrijk Colijn, Frits Julius Wissel, dan Jean Jacques Dozy. Mereka terkejut karena mendapati sebuah gunung yang terdiri dari tembaga dan karena itu mereka beri nama Erstberg (Belanda: Gunung Tembaga). Oleh orang Amungme, gunung itu adalah tempat keramat dan dikenal sebagai Nemangkawi Ninggok. Laporan ekspedisi Colijn kemudian lama teronggok di sebuah perpustakaan di Belanda.

Laporan Colijn baru dibaca kembali pada tahun 1960, saat pemerintah Belanda baru berminat mengeksplorasi Erstberg. Pemerintah Belanda melalui NHM bekerjasama dengan sebuah perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Freeport Sulphur Company, untuk kembali melakukan ekspedisi. Tapi memasuki pertengahan tahun 1960, situasi politik berubah dengan cepat. Bung Karno mengintensifkan kampanye perebutan Irian Barat dari tangan Belanda. Situasi politik internasional yang saat itu lebih menguntungkan Indonesia membuat Belanda pasrah pada tekanan Amerika Serikat. Pada 5 April 1967, Freeport Sulphur Company tidak lagi berurusan dengan Pemerintah Belanda. Mereka sudah membuat Kontrak Karya selama 30 tahun dengan Pemerintahan baru Indonesia di bawah Mayjend Soeharto, yang secara tergesa-gesa membuat Undang-Undang baru untuk menaungi kontrak istimewa ini. Rencana itu ternyata tidak semudah di atas kertas. Orang Amungme menolak keras rencana pengeboran gunung keramat mereka.

Dari Gunung ke Pantai 

Mozes Kilangin dilahirkan di Diloa, sebuah kampung orang Amungme di pegunungan tengah Papua, pada tahun 1925 dari pasangan mama Awesomki Wanmang dan bapa Kilangin Tenbak. Mozes kecil tumbuh sebagai anak tunggal karena dua saudaranya meninggal dunia saat masih kecil. Suatu hari pada pertengahan tahun 1940, Mozes ikut bepergian dengan orang tua dan warga kampung untuk melakukan barter dengan orang Kamoro yang tinggal di daerah pesisir. Di tengah perjalanan melalui medan berat antara gunung dan daerah dataran rendah, Mozes terpisah dari rombongan dan tersesat. Mozes kemudian tinggal bersama keluarga guru asal Maluku di Koperapoka, sebuah kampung di pesisir Mimika. Di situ, dia mulai dikenal dengan nama barunya, Mozes Kilangin.

Mozes kemudian dikirimkan untuk sekolah di Kaokanao, pusat misi Katolik dan pemerintahan Belanda untuk wilayah selatan Papua. Mozes lulus VV (Ver Volgschool) di Merauke pada tahun 1950. Setelah itu Mozes melanjutkan pendidikan di OVVO (Opleiding Voor Volks Onderwijzer/Sekolah Guru) di Fak-fak dan lulus pada tahun 1953. Setelah lulus, Mozes dipercaya Pater Kammerer di Kaokanao pergi ke daerah pegunungan, untuk mencari anak Amungme yang mau mendapatkan pendidikan sebagaimana halnya Mozes.

Mozes Kilangin sangat bersemangat melihat anak-anak Amungme mendapatkan pendidikan. Pada bulan Desember 1953, Mozes membawa lima anak Amungme dari Tsinga untuk belajar di Kaokanao.

Belum lama ini saya sempat berjumpa dengan Bapa Karel Beanal, salah satu dari lima anak Amungme pertama yang dibawa Mozes Kilangin untuk mendapatkan pendidikan dari Belanda. Sekalipun sekarang sudah berusia 75 tahun, Pak Karel masih nampak sehat dan ingat semua pengalaman semasa di asrama  dan saat menempuh pendidikan di OVVO (bahkan masih bisa berdoa Bapa Kami dalam bahasa Belanda). Sampai akhir masa pensiunnya, Pak Karel adalah seorang guru yang berpengetahuan dan berdedikasi. Saya jadi membayangkan kenapa pendidikan Indonesia tidak bisa menghasilkan orang Papua sekelas Mozes Kilangin dan Karel Beanal.

Setelah bekerja sebagai guru selama hampir setahun di daerah pegunungan tengah daerah orang Mee, Mozes Kilangin mengajukan surat kepada Pater Kamerer. Mozes ingin bekerja di kampung halamannya sendiri, mendidik orang Amungme. Pater Kamerer mengabulkan permohonan ini. Mozes kemudian mejadi guru agama di Amyakagama, kampung orang Amungme di daerah dataran tinggi. Selain menjadi guru, Mozes juga aktif dalam kehidupan bermasyarakat orang Amungme. Mozes mengorganisir pembangunan rumah guru, pastoran, menjadi juru damai antara marga-marga suku Amungme yang saling berperang, dan menyakinkan orang Amungme untuk mau pindah ke daerah dataran rendah. Karena di dataran rendah, pelayanan masyarakat yang dilakukan gereja Katolik akan lebih mudah dibanding jika dilakukan di daerah dataran tinggi Papua. Atas ketekunan dan pengabdiannya kepada orang Amungme, Mozes Kilangin kemudian dipercaya menjadi Kepala Distrik Akimuga, sebuah daerah di dataran rendah yang menjadi tempat tinggal baru orang Amungme. Mozes Kilangin mulai dikenal orang Amungme sebagai seorang Uru Me Ki (Bahasa Amungme: Guru Besar).

Kita Cubit Dulu

Setelah ditandatanganinya Kontrak Karya pada tahun 1967, Freeport langsung bergegas membuka hutan di sekitar Gunung Erstberg dan mengirimkan berbagai macam peralatan untuk kegiatan pengeboran. Semua dilakukan tanpa melibatkan orang Amungme sebagai pemilik hak ulayat daerah tersebut. Orang Amungme, khususnya yang timbal di daerah Waa dan Banti, merasa tersinggung dengan tindakan sepihak tersebut dan kemudian menutup wilayah di sekitar Nemangkawi dengan patok-patok.

Pihak Freeport kemudian menugaskan dua orang stafnya untuk menjemput Mozes Kilangin di Akimuga. Dengan harapan supaya Mozes dapat membantu memberikan penjelasan kepada orang Amungme yang marah. Awalnya Mozes merasa enggan membantu. Tapi setelah dibujuk dengan susah payah, Mozes akhirnya bersedia.

Sebuah helikopter Freeport kemudian membawa Mozes terbang dari Akimuga ke lokasi pengeboran. Di sana, Mozes mendapati orang-orang Amungme yang rupanya semakin marah karena kehadiran polisi. Mozes menjelaskan bahwa proses pengeboran yang dilakukan oleh Freeport ibaratnya seperti “kita orang Amungme beli tembakau isap itu. Sebelum kita beli, kita cubit dulu atau ambil sedikit untuk rasa dulu. Kalau baik baru kita beli.” Selanjutnya Mozes juga menjelaskan manfaat jika “hasilnya bagus”, maka “suatu saat nanti kamu punya masa depan dan anak-anak akan lebih baik. Barang-barang yang belum kamu punya dan belum lihat dunia di luar sana, nanti kalian akan lihat juga.”

Mendengarkan penjelasan itu, orang Amungme mengalah dan mengizinkan kegiatan pengeboran berjalan kembali. Sebagai ungkapan atas besarnya jasa Mozes Kilangin bagi Freeport, bandara di Timika yang dibuka Freeport pada tahun 1970 diberi nama Bandar Udara Mozes Kilangin. Kini bahkan dihiasi dengan patung Mozes Kilangin yang sedang mengenakan jas seperti sedang menghadiri rapat direksi Freeport.

Dalam buku biografinya, Mozes Kilangin mengingatkan bahwa “kalau ada hasil, bicara baik-baik dengan masyarakat. Jangan meremehkan masyarakat. Perhatikan mereka punya pendidikan, kesehatan, perumahan yang baik. Hak-hak masyarakat harus dihargai, dan hormati masyarakat Amungme sebagai penduduk asli dan sebagai manusia.”

Sekalipun cukup besar jasanya bagi Freeport, Mozes memilih tetap melanjutkan profesinya sebagai seorang guru di Kaimana dan kemudian diserahi tanggung jawab oleh pemerintah untuk membuka daerah baru di Timika sebagai tempat tinggal orang Amungme. Paitua yang pernah mendapat penghargaan dari Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II atas dukungannya pada Misi Gereja Katolik di Papua ini meninggal dunia dengan damai di Timika pada 18 Agustus 1999.

Hingga sekarang, pesan Mozes Kilangin masih terasa sangat kontekstual. Terlebih di saat segelintir orang di Jakarta yang dengan serakahnya ingin meraup keuntungan dan sama sekali tidak menghargai orang Amungme, sebagaimana pesan paitua Mozes dalam buku biografinya.

 

Nasi Goreng Krengsengan Cak San

comments 2
Catatan Perjalanan / Tentang kawan / Tentang kota

 

collage caksan

Daerah Tegalsari, Surabaya, dulu cuma aku ingat sebagai lokasi markas sebuah organisasi mahasiswa yang sering jadi tempat rapat perencanaan demonstrasi menentang Soeharto. Selebihnya, Tegalsari yang aku ingat adalah sebuah daerah dengan jalanan yang minim pencahayaan lampu jalan. Tapi Tegalsari sekarang berubah, jadi daerah kawula muda Surabaya untuk melewatkan malam minggu.

Di situ sekarang ada dua tempat makan yang menarik. Yang pertama namanya Kedai Tua Baru. Di salah satu situsweb yang mengulas soal tempat itu, ditulis bahwa Kedai itu good for groups, alias cocok untuk makan rame-rame, dengan menu makanan-makanan tradisional Jawa dan khas Surabaya dengan harga yang cukup masuk akal. Fasad bangunan cukup menarik. Hasil googling gambar juga menunjukkan ruangan dalam yang luas dihiasi berbagai macam pernik interior dan gaya dekorasi kinfolk-ish dan instagramable. Bahkan dilengkapi dengan ruang penitipan anak-anak.

Yang kedua, namanya Bakmi Jogja Trunojoyo. Restoran dengan menu andalan Bakmi Jogja itu bertempat di sebuah bangunan tua yang dipertahankan arsitekturnya. Sama seperti Kedai Tua baru, Nampak bagus dan nyaman utk makan-makan bersama teman-teman atau kekasih. Kalau tidak salah aku pernah makan Bakmi Jogja seperti itu di dekat kantor Kontras Surabaya yang terletak di daerah Jalan Kartini. Aku masih ingat sekali memotret tulisan kasir dalam aksara Jawa dan mengunggahnya di Instagram. Sambil melintas aku melihat bingkai instagram terjatuh di fasad gedung peninggalan belanda itu. Lalu ada sekian puluh like dan beberapa komentar.

Tapi lalu aku sadar kalau hapeku batereinya habis, lapar karena telat makan malam dan sedang di Surabaya. Kalau mau makan penyetan ya di depan Unair atau Wonokromo, kalau mau Nasi goreng krengsengan ya ke Cak San di Embong Wungu atau Ondomohen, mau bakmi Yogya ya, ya ke Bakmi Trunojoyo situ, masa mau ngojek sampai ke Wirobrajan atau Monjali Yogya. Hehe. Lagipula kedua tempat itu sepertinya sdh mau tutup, karena saat aku melintas di situ, jam sudah menunjukkan 21:40. Daripada ditolak tukang parkir lebih aku meneruskan perjalananke Embong Wungu, tidak jauh dari Tegalsari.

Beberapa malam sebelumnya aku sempat salah sasaran. Setelah sekian lama tidak tinggal di Surabaya dan akibat malas bertanya, aku dan seorang teman kesasar makan di warung nasi goreng krengsengan yang kita kira diampu Cak San dan ternyata bukan. Lokasinya persis di samping situs patung Joko Dolog. Harganya murah, dua porsi cuma sepuluh ribu.

Beda dengan daerah Tegalsari, suasana Embong Wungu tidak jauh berbeda dari tahun 1997. Gelap tanpa penerangan jalan yang memadai dan jajaran seng di kiri jalan. Di situ berjejeran mobil-mobil yang penumpangnya sedang menikmati Nasi Goreng Krengsengan Cak San.

Kalau ditanya apa istimewanya Nasi Goreng Krengsengan Cak San, bisa dipastikan aku dan segenap penikmatnya malam itu tidak memiliki jawaban jelas. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Nasi Goreng Cak San itu enak karena kombinasi dari manisnya mie, datarnya rasa nasi goreng, dan gurihnya telur dadar. Tapi apa ya bener karena itu. Dibandingkan Nasi Goreng Krengsengan di Ondomohen, aku lebih cocok dengan masakan Cak San. Mungkin kapan-kapan aku harus ajak Coki, sang koki gadungan yang kini masuk jajaran delapan cowok berpengaruh 2015 (versi Mojok.co).

Cak San sendiri sudah meninggal dunia sejak tahun 2000-an. Rumahnya di daerah Ngaglik, Surabaya. Seorang pemuda yang bekerja di situ sudah tidak tahu menahu lagi soal Cak San. Ngakunya baru beberapa bulan kerja sebagai koki. Sebenarnya aku pengen ngajak ngobrol seorang ibu yang berfungsi sebagai kasir, sambil leyeh-leyeh beralaskan tikar. Sebuah kipas angin dan lampu neon membuatnya semakin nampak nyaman. Sayang ibu sedang asyik ngobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya pelanggan setia warung Cak San.

Mungkin pemuda itu sedang membicarakan sejarah Nasi Goreng Krengsengan Cak San, tentang asal muasal kata Krengsengan, kenapa bisnis sederhananya itu mampu bertahan sekian lama, kenapa tanpa business plan, di-rebranding jadi Cak San Eatery, atau dikelola profesional seperti Sambal Bu Rudy, Nasi Goreng Krengsengan Cak San tetap bisa eksis di ingatan kolektif orang muda Surabaya, seperti halnya warung-warung Nasi Bebek di Surabaya.

Setelah dua botol teh, akhirnya aku memilih pulang. Rasanya aku masih punya kesempatan lain untuk ngobrol dengan ibu itu soal Cak San. Toh, barisan seng pembatas lahan kosong tempat mangkal Cak San masih akan ada di situ sampai tahun depan, sampai ada investor yang akan membuka barisan seng atau pagar beton, menggusur rumah tua yang indah demi sebuah budget hotel atau cafe.

Sambil membayar, aku membayangkan betapa suramnya nasib bangunan tua dan usaha wong cilik di kota ini. Seakan tahu apa yang aku lamunkan, dia terdiam menatapku.

Mas, katanya lirih. Iya kenapa? balasku. Duike kurang iki, mas, katanya. Oalah, ternyata aku lali durung bayar dua botol teh. Sepurane, cak. Hehe.

Damai

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

IMG_1406_res

Damai. Kata ini sering sekali saya ucapkan di gereja, terutama sambil menyanyikan penuh penghayatan bait terakhir lagu Anak Domba Allah. Saya ingin ada kedamaian dalam kehidupan pribadi saya, dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan sesama, dan dalam kehidupan berbangsa kita (hadeh…).

Tapi kalau dipikir-pikir selama setahun ini, saya jauh sekali dari apa yang dipesankan Santo Fransiskus dari Asisi. Saya masih sering ikut jadi pihak yang membakar bara perselisihan, minimal ikut mengipasi. Sekalipun perselisihan yang saya maksud itu tidak ada apa-apanya dibanding pertikaian Pak Rizal Ramli dengan Pak Sudirman Said atau antara Pak Sudirman Said dengan Setyo Novanto yang kemudian menggusur sinisme “Damai itu indah” dan “Damai itu 50.000” dengan “Yang penting kita happy.”

Saya dua level di bawah seorang teman dari negeri seberang yang baru saja belajar Bahasa Indonesia dan senang sekali dengan kata “Damai”, hingga dia ingin Damai menjadi nama anaknya kelak.

Karena itu, saya sendiri harus berdamai dengan diri. Mengakui kekurangan dan berharap tahun depan bisa lebih nyata mewujudkan apa yang selalu jadi inti doa, mendapat dan membagikan damai.

Dengan doa teman-teman, bahkan bisa jadi seperti yang dipesankan Romo Dick Hartoko jauh di tahun 1978 yang lampau, saat usia saya masih dua bulan, memiliki “tekad untuk menegakkan perdamaian akibat keadilan, biarpun kita hanya merupakan minoritas, minoritas Abraham.”

Atau seperti paitua Mozes Kilangin, yang bersama-sama berdoa dengan para anggota dua keret/marga yang sudah berdamai, minta ampunan Tuhan atas kesalahan yang dilakukan dengan berperang.

Selamat Natal. Selamat menghayati dan menjalankan Damai.

Asap Papua

Leave a comment
Current issues / Papua / Tentang kota

Di Mimika, bulan Oktober merupakan penanda berakhirnya musim hujan, meredanya gejolak laut Arafuru, dan melimpahnya udang dan hewan-hewan lainnya di delta sungai-sungai Mimika. Dulu sempat ada festival “Kamoro Kakuru” yang diadakan setiap bulan Oktober.

Tapi rupanya Oktober tahun ini adalah Oktober yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain udang, yang muncul hampir di seluruh Tanah Papua adalah kabut asap. Serupa dengan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

Semua dimulai pada 8 Oktober 2015. Saat itu dua penerbangan dari Makassar dan Denpasar yang biasanya mendarat jam 6 pagi di Timika terpaksa dialihkan ke Jayapura karena kabut di Bandara Mozes Kilangin.

Sekitar jam 10 pagi matahari sudah mulai nampak, tapi pesawat masih belum bisa diberangkatkan ke Timika. Pesawat baru bisa ke Timika sekitar jam 2 siang. Akibatnya, jadwal pertemuan penting yang sedianya dihadiri beberapa orang dari Jakarta terpaksa ditunda hingga setelah jam makan siang. Untunglah pesawat-pesawat kecil milik Trigana, Susi Air serta milik gereja seperti AMA dan CAMA masih berani menembus kabut asap menuju kampung-kampung di pedalaman Mimika.

Sekalipun dibilang kabut, itu bukan kabut pagi yang biasa aku lihat di Timika, Kuala Kencana, atau di dataran tinggi Mimika. Di Timika, kabut biasa mulai menghilang bersamaan dengan sinar matahari jam 6 pagi atau ketika hujan turun. Di dataran tinggi, kabut menghilang di jam yang sama tapi muncul lagi sekitar jam 11 siang.

Searah jarum jam: Rudi Wantik, warga Timika (Jumat, 16 Oktober 2015), dengan maskernya, Suasana Bandara Mozes Kilangin Timika, Kuala Kencana. (Minggu 18 Oktober 2015)

Searah jarum jam: Rudi Wantik, warga Timika (Jumat, 16 Oktober 2015), dengan maskernya, Suasana Bandara Mozes Kilangin Timika, Kuala Kencana. (Minggu 18 Oktober 2015)

Memasuki minggu ketiga Oktober, kabut makin nampak berbeda dari kabut pagi biasanya. Mulai muncul posting di Facebook soal asap, terutama yang tinggal di selatan kota Timika seperti SP 4. Di daerah yang mengarah ke pelabuhan Paumako itu kabut asap memang lebih terasa dibandingkan di Timika atau Kuala Kencana.

Keluhan dari warga Timika dan Kuala Kencana baru bermunculan di media sosial setelah tanggal 15 dan 16 Oktober, terutama setelah semua penerbangan ke dan dari Timika dibatalkan dan asap semakin parah di kedua kota itu.

Pemandangan Timika dan Kuala Kencana yang biasanya cerah dan hujan lebat jadi kelabu seperti kota-kota di Sumatera dan Kalimantan, sekalipun belum terlalu parah. Orang-orang mulai pakai masker dan menduga bahwa asap datang dari perkebunan kelapa sawit di Iwaka, sebelah barat Kuala Kencana. Kemudian ada yang bilang bahwa ini adalah asap kiriman dari Merauke atau kabupaten tetangga seperti Asmat atau Mappi. Melalui twitter aku tanyakan ke teman di Merauke, tapi ternyata pace bilang di kota Merauke cuaca cerah seperti biasa. Penasaran dengan asal muasal asap, aku terus memaksa Mbah Google bekerja, hingga akhirnya aku menemukan situsweb Global Forest Fire Watch.

Asap Papua-2

Dari citra satelit NASA yang dimuat di situsweb Global Forest Fire Watch ini, kelihatan kalau angin berhembus dari Pulau Yos Sudarso di selatan Papua. Menurut BBMKG (Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Wilayah V Jayapura, terdapat 163 titik panas di wilayah selatan Papua dan 46 titik di provinsi Papua Barat (Kompas, Senin 19 Oktober 2015). Asap yang ditimbulkan kebakaran itu kemudian dibawa angin ke arah barat laut Papua, lalu mendadak berbelok tajam ke arah timur tepat di muara jejaring sungai yang mengarah ke Timika. Karena itu Timika mungkin kota yang paling parah menerima asap kebakaran ini. Sementara kota Merauke yang lokasinya paling dekat dengan titik api malah cerah.

Ada dua hal yang diduga menjadi penyebab kabut asap ini. Yang pertama, praktik pembukaan lahan yang dilakukan warga masyarakat untuk membuka lahan baru pertanian dan perburuan rusa di wilayah Kabupaten Merauke. Praktik ini sebenarnya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu, tapi tidak pernah sampai menimbulkan kabut asap karena curah hujan di Timika yang tinggi. Yang kedua, akibat kebakaran lahan di areal kelapa sawit di Kabupaten Merauke. Beberapa tahun belakangan ini memang semakin banyak hutan di Papua yang berganti jadi lahan kelapa sawit, termasuk di Kabupaten Mimika.

Menurut beberapa paitua Amungme, kabut tebal ini sudah mereka kenal sejak lama. Dalam bahasa Amungme disebut “Kiem”. Terjadinya setiap lima tahun sekali dan dialami di semua kampung orang Amungme, baik yang di dataran tinggi ataupun dataran rendah Mimika. “Kiem” juga menandai datangnya musim buah-buahan dan penyakit. Dulu, orang Amungme menghindari daerah dataran rendah setelah “Kiem” datang karena penyakit Malaria merebak.

Dari semua fakta dan cerita yang aku dengar itu, hanya satu yang aku alami, bahwa curah hujan di Timika semakin berkurang. Bulan Juli tahun 2008 saat aku pertama tiba di Timika, hujan terus mengguyur Timika hingga bulan Oktober. Tahun-tahun berikutnya, curah hujan kurasa semakin berkurang, hingga tahun 2015 ini hujan malah digantikan kabut asap yang mencekik pernafasan.

Sebelum kabut asap yang melanda Mimika dan beberapa kabupaten di Pulau Papua ini, asap adalah bagian dari keseharian kehidupan di Papua. Pemuda-pemuda Amungme berkumpul di rumah bujang yang dipenuhi asap perapian. Semakin tinggi dan pekat asap bakar batu, semakin meriah pula acaranya. Orang Kamoro membakar dedaunan sambil mengerjakan sampan mereka untuk mengusir nyamuk. Asap membubung dari pembakaran ikan di Jayapura dan Manokwari. Di sisi lain, dekatnya orang Papua dengan asap juga membuat banyak anak-anak Papua yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Sekarang makin nyata bahwa ada ancaman yang lebih mengerikan selain banyaknya anak-anak Papua yang mengidap ISPA, yaitu sudah takluknya bentang alam dan hutan di Papua oleh kekuatan industri, dengan kebakaran hutan dan perubahan iklim. Kabut asap kali ini sepertinya hanya permulaan saja dari anomali kondisi alam di Papua.

Oh… Begitu kah? Balas seorang teman saat aku bicara kabut asap sebagai awal anomali kondisi alam. Yang jelas setelah ini akan banyak penyakit, Ao (Amungme: Kamu) lihat saja, katanya yakin.

Ya, kita lihat saja. Balasku sambil membetulkan jaketku dan terbatuk-batuk. Udara Timika di malam hari tanggal 17 Oktober itu terasa berat. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena Karbon dioksida dan Sulfur oksida yang memenuhi udara Timika. Dalam hati aku berdoa semoga besok hari Minggu pagi sudah bisa lihat awan-awan dan puncak Nemangkawi yang, dalam diamnya, mengabarkan musim baru yang akan datang, yang belum pernah dialami Papua sebelumnya.

Rumah Kucing

comments 9
Keluarga / Papua

Sepeninggal Kasbi pada bulan Oktober 2011, tidak ada kucing lagi yang tinggal di dalam rumah kontrakanku. Aku bahkan sempat berjanji untuk tidak pelihara hewan lagi. Berat membayangkan kalau harus kehilangan lagi. Apalagi rumah cuma ngontrak. Hingga suatu hari, terjadilah suatu rangkaian peristiwa yang membuatku harus membuat sebuah tempat tersendiri untuk kucing. Yang aku ceritakan berikut ini cuma ringkasannya saja. Lain kali akan kuceritakan secara khusus soal nama-nama kucing yang aku sebut di bawah ini. 

Semua bermula dari datangnya seekor kucing yang bernama Ben. Kucing garong berwarna oranye itu awalnya sering nampak di halaman dan di rumah sebelah, Dia jadi sering ke rumah setelah aku beri makanan kucing peninggalan Kasbi. Suatu hari Ben muncul di rumah dengan seekor anak kucing dekil berwarna oranye-putih yang pemalu tapi setelah kenal dengan rumahku dia sangat manja dan gila perhatian. Setelah sempat tidak punya nama selama seminggu, hingga akhirnya aku beri nama dia Minyu.

IMG_9282_res

Ben dan Minyu (2012)

Di rumahku, Minyu jadi pusat perhatian dan hiburan. Karenanya, dia jadi kucing yang sehat, cerdas, dan nakal tentu saja (mungkin karena Minyu selalu tinggal di dalam rumah). Ben semakin lama semakin berkurang kunjungannya ke rumahku karena selalu diserang Minyu.

Sekitar tiga bulan kemudian, datanglah seekor kucing belang telon (tiga warna) yang lucu. Ada bekas luka di lehernya bekas digigit kucing garong. Minyu, yang sudah jadi mother superior di rumahku, mendua sikapnya dengan kehadiran kucing itu. Kadang nampak memusuhi, kadang nampak senang. Si belang telon bergeming. Dia sudah muak dengan para kucing garong yang hanya menginginkan tubuhnya. Dia perlu rumah dan kasih sayang. Akhirnya dia aku terima untuk tinggal di rumah, sekalipun aku curiga dia sudah hamil. Si belang telon itu kuberi nama Jennifer Mekitron. Nama panggilan: Onyong.

Ternyata Onyong memang hamil. Dia melahirkan lima anak kucing yang lucu-lucu. Dengan pengalamanku memelihara kucing dan anjing, aku mencoba merawat mereka. Resikonya jelas, aku keluar uang lebih untuk makanan dan pasir kucing. Untungnya di supermarket di Kuala Kencana dua barang itu tersedia. Dua anak Onyong kemudian meninggal karena kalah bersaing puting susu.  Maka jadilah aku tinggal dengan lima ekor kucing di dalam rumah; Minyu, Onyong dan anak-anaknya, Minka, Minku, Minke.

IMG_1538_res

Searah jarum jam; Onyong, Minke, Minka, Minku, Minyu (2012)

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Minyu aku steril. Rencananya, setelah Minyu sembuh aku akan mensteril Onyong. Tapi rupanya benar apa kata orang, manusia berencana Tuhan menentukan. Pada suatu hari Onyong kabur dari rumah dalam kondisi sedang heat alias birahi. Para kucing garong yang banyak berseliweran di depan rumah tentu tidak melewatkan kesempatan itu. Onyong akhirnya hamil dan beranak lagi. Kali ini anaknya empat dan semua sehat walafiat. Mereka kuberi nama, Beni, Poni, Susi, dan Lusi. Jadi kini rumah kontrakanku dihuni 9 ekor kucing. Sebulan kemudian Pak Asep pemilik rumah bilang kalau kontrakan rumah tidak bisa diperpanjang karena akan dipakai keluarga Pak Asep. Cocok dah.

Untungnya, rumah di seberang rumah kontrakanku akan ditinggalkan pemiliknya pindah ke Jakarta. Mereka setuju dengan penawaran harga dan syarat yang aku ajukan; boleh bikin rumah kucing. Setelah sepakat aku langsung minta bantuan Kang Oji, seorang teknisi andalan di Kuala Kencana untuk membuatkan rumah kucing yang sudah aku desain.

Sketsa Rumah Kucing

Sketsa Rumah Kucing

Skestsa rumah kucing

Skestsa rumah kucing

Tepat seminggu sebelum aku harus keluar dari rumah Pak Asep, rumah kucing sudah rampung dikerjakan Kang Oji dan sangat cocok dengan yang aku bayangkan dan lihat di internet. Ada beberapa hal yang tidak sesuai rencana. Yang pertama, lokasinya. Awalnya aku ingin rumah kucing itu berada di halaman belakang. Tapi karena pemilik rumah membangun kamar-kamar kost di belakang, maka lokasi rumah kucing terpaksa dibangun di samping rumah. Kedua, akses ke dalam rumah. Aku ingin mereka bebas keluar masuk rumah dan rumah mereka. Rencana ini aku batalkan karena pemilik rumah tidak mengizinkan rumahnya dimasuki kucing. Oke, batinku, aku simpan rencana ini untuk rumahku sendiri kelak.

Rumah kucing, atau dalam bahasa Inggris disebut Cat Enclosure itu, luasnya 1,8 x 5 m. Cukup lah untuk menampung sembilan ekor kucing.

Kang Oji mengerjakan rumah kucing

Kang Oji mengerjakan rumah kucing

Sudah jadi. Semalam sebelum kucing2 mulai masuk.

Sudah jadi. Semalam sebelum kucing2 mulai masuk.

Interior

Interior

Kini, setiap malam aku menyepi di tengah-tengah para kucing yang sliweran. Nyepi untuk merenungkan peristiwa yang ku alami seharian, memikirkan masa depan kucing-kucing ini jika kontrakan rumah habis dan harus pindah rumah. Atas nasehat seorang teman, aku kini biasanya mengajak mereka berdoa supaya aku bisa punya rumah yang lebih layak untuk mereka.

Mohon doanya, ya.