Membaca A29-S1

Leave a comment
Buku / Current issues / Tentang kawan / Tentang kota

Judul buku: A29 – S1; Mengurai Skenario Busuk Kriminalisasi Massa Aksi 29 Agustus – 1 September di Bandung  

Sesuai judulnya, buku ini secara khusus membahas kriminalisasi yang dialami massa aksi Agustus 2025 yang terjadi di Bandung. 

Apakah karena penerbit buku ini asalnya dari Bandung maka dari sekian kota yang bergolak dan direpresi, cuma Bandung yang ditulis? 

Apakah buku ini isinya kumpulan testimoni anak muda di Bandung yang ditangkap secara serampangan oleh polisi, sebagaimana di kota2 lain di Indonesia? Atau semacam pembelaan dari PRD setelah jadi buruan Orde Baru pasca Kerusuhan 27 Juli 1996? 

Ketika buku itu sampai di rumah, saya langsung membuka bungkusnya dan melihat desain sampulnya. Awalnya saya kira buku ini ditulis oleh Zen RS. Ternyata bukan. Di lembar kolofon tertulis @copyleft. 

Menurut Mirai apa artinya gambar ini? Tanya saya ke anak saya yang baru saja selesai ujian sumatif kelas 4 SD. 

Hmm… orang ini seperti lagi marah ke sesuatu. Di depan dia ada rumah yang terbakar. Di belakangnya ada ombak dan gelombang tinggi, kata Mirai spontan. 

Soal marah dan rumah yang terbakar itu sama sekali ga terlintas di pikiran saya.   

Isinya soal apa? Tanya Mirai sambil membuka buku. 

Saya lihat dia berhenti di halaman belakang yang isinya daftar nama anak muda yang digolongkan dalam beberapa kluster penangkapan.

Sebelum akhirnya membagi para korban ke beberapa kluster penangkapan di bagian terakhir buku, buku ini juga memberikan konteks, bukan hanya atas represi yang terjadi ketika dan pasca Agustus 2025 tapi juga atas Bandung. Peristiwa ini kemudian diberi nama A29 – S1. Singkatan dari Agustus 29 – September 1.    

Bandung bukan hanya diceritakan sebagai lokasi tapi sebagai latar sebagai ruang social yang memiliki sejarah panjang pertemuan antara kreativitas, perlawanan, dan ketimpangan. 

Kota yang sering dicitrakan sebagai kota romantis itu denyut ekonominya ditopang oleh mereka yang tak terlihat dalam brosur investasi: pekerja harian, buruh pabrik di selatan, personel band yang bertaruh nasib, desainer grafis yang begadang, pegiat UMKM, staf gudang, hingga guru honorer dan penjahit lepas di gang2 konveksi (Hal.82).

Mereka dihadapkan pada penggusuran demi “tata wilayah yang tidak pernah melihat kebutuhan masyarakatnya,” hingga jeratan tali gantungan berupa lintah darat digital (pinjaman online), candu judi online yang dipelihara negara secara diam2 hingga rayuan maut kredit motor. 

Ketika kemarahan massa meletus akibat mobil rantis Brimob yang melindas Affan Kurniawan, mereka itulah yang membentuk gelombang protes di Bandung.   

Saya sendiri pertama kali tahu peristiwa Agustus 2025 itu dari istri saya. Dia mengirimkan poster seruan aksi demonstrasi di Gedung DPR dari sebuah akun instagram. 

Tapi ada begitu banyak keanehan dari poster seruan aksi itu. Seruan itu bukan dari akun2 atau orang yang saya tahu. Dia datang dari akun2 anonim. Desainnya aneh cenderung jelek. Demikan pula redaksi bahasanya. 

Hal itu pula yang dicatat dalam buku ini. Seruan aksi muncul dari akun2 baru yang secara mencurigakan bahkan menawarkan digital form dengan dalih memudahkan pendataan aksi (hal. 100).  

Gelombang protes kemudian berubah arah. Dari kemarahan kepada Brimob dan negara, beralih ke anggota DPR yang joget2 di gedung DPR. Gedung2 pemerintahan terbakar dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan polisi sendiri. 

Di Surabaya, seorang teman sampai harus membentak anaknya kesayangannya yang masih sibuk Latihan cheerleader di SMA Trimurti yang bersebelahan persis dengan sayap kanan Gedung Grahadi yang mulai terbakar. Si anak dengan tenang menjawab di handphone, “Kebakaran apa, Pa? Aman kok. Ini di depan sekolah banyak polisi.” 

Tidak lama kemudian, api membubung tinggi melahap gedung itu. Selain Grahadi, Mapolsek Tegalsari dan puluhan pos polisi di Surabaya juga terbakar. 

Secepat gedung2 yang terbakar itulah kemudian negara mencari “para pelaku.” Buku ini mencatat, “negara tidak lagi hanya mengejar tindakan nyata, tapi juga menaruh curiga pada hal2 yang seharusnya wajar; bacaan, percakapan, bahkan lingkar pertemanan.” 

Meminjam judul buku Vincent Bevins, Jakarta Method, yang membedah cara kudeta yang dilakukan militer pada tahun 1965 dan perburuan pada semua yang dianggap bagian dari PKI, yang terjadi di Bandung dan semua kota di Indonesia sebagai Bandung method, di mana “asosiasi jadi bukti, daftar nama jadi alat, dan jaringan sosial warga jadi alasan untuk menghukum.” 

Bentuk hukuman seperti apa itu urusan nanti. Yang penting ada yang ditangkap dan dipaksa untuk mengaku. 

Di Surabaya, seorang Alfarisi bin Rikosen kemudian meninggal dunia di Rumah Tahanan Medaeng di Surabaya. Pemuda yatim usia 21 asal Madura itu ditangkap puluhan polisi berpakaian preman di rumahnya pada 9 September 2025. 

Berdasar keterangan Kontras Surabaya, Alfarisi ditangkap lantaran dugaan kepemilikan molotov. Dalam perkembangannya kemudian, polisi tidak menemukan bukti bahwa Alfarisi mempunyai atau menyimpan molotov. Polisi menangkap berdasarkan BAP, kesaksian teman2 yang menyebut Alfarisi membuat molotov. Mereka ditangkap di depan Gedung Grahadi dengan molotov yang belum dilempar. Setelah itu mereka dipaksa untuk mengaku kalau yang mengajarkan bikin molotov adalah Alfarisi (https://www.bbc.com/indonesia/articles/c86vw70nz6jo).

Sama seperti Alfarisi di Surabaya, Arfa Febrianto di Bandung ditangkap saat sedang bermain skateboard di depan ITB karena polisi menggunakan snapgram dirinya sedang melempar molotov. Aditya dikepung Detasemen 88 Anti Teror di rumahnya. Lakban hitam melilit matanya, pukulan, tendangan dan penyiksaan hebat terjadi di rumah Adit. Semuanya dengan “skenario imajiner” di kepala polisi yang diamini para jaksa. 

Skenario imajiner itu tidak muncul begitu saja. Dia sudah disiapkan. Beberapa tahun sebelum Agustus 2025, “empat lulusan Akpol diterbangkan khusus untuk membongkar gelombang pemuda berpakaian hitam di fakultas keamanan negara Prancis. Lulusan lainnya menempuh ribuan km di Inggris untuk merangkai hantu yang mereka buat sendiri ke dalam tesis ilmiah, memastikan kebodohan tersebut diyakini benar oleh publik dan institusi.” 

Aditya Dwi Laksana, dalam pledoinya menulis, Molotov yang tidak membakar dianggap ancaman serius, sementara kendaraan lapis baja yang melindas rakyat sipil tidak segera diadili denga ketegasan yang sama (hal. 168).

Pasca Agustus 2025, negara justru sibuk mencari celah penangkapan ketimbang memadamkan sumber yang memercikkan api (Hal. 87). Hal itu masih terus ditunjukkan hingga sekarang. Salah satu contohnya adalah hakim militer di persidangan militer atas kasus penyiraman air keras kepada Andri Yunus. Bukannya mencari kebenaran, si hakim malah menormalisasi kekerasan. 

Setelah gelombang represi dan kriminalisasi ini, apakah kita masih bisa membayangkan perubahan? Apakah ini “gelombang demoralisasi” berikutnya setelah 1998? 

Protes seharusnya dimiliki masyarakat luas secara harfiah, bukan tanggung jawab besar satu orang ber-priviledge pengetahuan ideologi tertentu, para pekerja NGO, seorang anarkis (hal. 175). 

Protes yang sebenar2nya adalah bukan yang sekedar di media sosial, tapi di lingkup sosial yang nyata. Seperti yang ditunjukkan warga Cheran di Meksiko yang berhasil mengusir polisi dan politisi dari wilayah mereka dan mendirikan pemerintahan otonom yang dikelola secara mandiri oleh warga lokal.  

Saya pun termasuk orang yang akan bilang, ah itu tidak mungkin. Melawan negara sejak 1998 aja ga berhasil kok kebayang mau bikin kota seperti Cheran. Tidak terbayangkan. Sampai akhirnya ada yang menunjukkan. Seperti Mirai yang bisa “membaca” sampul buku ini lebih baik dari saya. 

Algoritma mulai menggiring perilakumu secara halus agar sesuai dengan target pasar mereka. 

Jika marx bicara tentang alienasi di pabrik, zuboff bicara tentang alienasi di dalam pikiran kita sendiri. 

Ini bukan evolusi teknologi melainkan pilihan politik yang sengaja dilakukan korporasi besar untuk mendapatkan keuntungan dari ketidaktahuan kita. 

Di era digital, tidak mungkin Prabowo kembali represif secara telanjang. Realitanya, 959 orang jadi tersangka pasca a29-s1, genosida Gaza disiarkan secara langsung, dan bencana ekologis Aceh – Sumatera hanya berakhir di debat panas. Negara terus melempar ketakutan. 

Anarkis adalah metode pembebasan 

Ya, saya anarkis. Aksi itu dipicu oleh kenaikan tunjangan DPR, tarian Uya Kuya dan puncaknya Affan Kurniawan dilindas oleh Rantis Brimob, maka sudah sangat wajar, manusia secara alamiah meluapkan amarahnya dengan kerusuhan.” Tubagus Andika Pradita menjawab pertanyaan Jaksa, “apakah kamu seorang anarkis?” 

Kalau iya anarko, emang kenapa? Apa itu bisa jadi dasar kepolisian menangkap seseorang? 

Makna yang membuka dunia yang baru (possible world) 

Buku yang diterbitkan tujuh bulan setelah Prahara Agustus 2025 ini seperti sedang berusaha mengejar tempo dunia di era digital yang semakin dikontrol algoritma. Cepat diklik, dibaca sekilas, dibagi ke banyak orang, lalu hilang ditimpa peristiwa lain. Di saat yang bersamaan, buku ini berhasil melampaui kecepatan penulisan memoir-memoir “masa muda penuh perlawanan” atau kronik kejadian yang biasanya baru ditulis beberapa tahun setelah peristiwa berlalu.

Ketika buku itu sampai di rumah, saya langsung membuka bungkusnya dan melihat desain sampulnya. Awalnya saya kira buku ini ditulis oleh Zen RS. Ternyata bukan. Di lembar kolofon tertulis @copyleft.

Menurut Mirai apa artinya gambar ini? Tanya saya ke anak saya yang baru saja selesai ujian sumatif kelas 4 SD.

Hmm… orang ini seperti lagi marah ke sesuatu. Di depan dia ada rumah yang terbakar. Di belakangnya ada ombak dan gelombang tinggi, kata Mirai spontan.

Soal marah dan rumah yang terbakar itu sama sekali ga terlintas di pikiran saya.

Isinya soal apa? Tanya Mirai sambil membuka buku. Saya lihat dia berhenti di halaman belakang yang isinya daftar nama anak muda yang digolongkan dalam beberapa kluster penangkapan.

Sesuai judulnya, buku ini secara khusus membahas kriminalisasi yang dialami massa aksi Agustus 2025 di Bandung. Peristiwa ini diberi nama A29–S1. Singkatan dari Agustus 29 – September 1.

Sebelum membagi para korban ke beberapa kluster penangkapan di bagian terakhir, buku ini memberikan konteks — bukan hanya atas represi yang terjadi ketika dan pasca Agustus 2025, tapi juga atas Bandung itu sendiri. Bandung bukan hanya diceritakan sebagai lokasi tapi sebagai ruang sosial yang punya sejarah panjang pertemuan antara kreativitas, perlawanan, dan ketimpangan.

Kota yang sering dicitrakan sebagai kota romantis itu denyut ekonominya ditopang oleh mereka yang tak terlihat dalam brosur investasi: pekerja harian, buruh pabrik di selatan, personel band yang bertaruh nasib, desainer grafis yang begadang, pegiat UMKM, guru honorer dan penjahit lepas di gang-gang konveksi. Mereka dihadapkan pada penggusuran demi tata wilayah yang tidak pernah melihat kebutuhan masyarakatnya, jeratan pinjaman online, candu judi online yang dipelihara negara secara diam-diam, hingga rayuan maut kredit motor. Ketika kemarahan massa meletus akibat mobil rantis Brimob yang melindas Affan Kurniawan, mereka itulah yang membentuk gelombang protes di Bandung.

Saya sendiri pertama kali tahu peristiwa Agustus 2025 itu dari istri saya. Dia mengirimkan poster seruan aksi demonstrasi di Gedung DPR dari sebuah akun Instagram. Tapi ada begitu banyak keanehan dari poster itu, seruan bukan dari akun yang saya kenal, desainnya aneh cenderung jelek, demikian pula redaksi bahasanya. Hal itu pula yang dicatat dalam buku ini: seruan aksi muncul dari akun-akun baru yang secara mencurigakan bahkan menawarkan digital form dengan dalih memudahkan pendataan aksi. Pertanyaan tentang siapa di balik akun-akun itu dibiarkan terbuka oleh buku ini dan mungkin memang belum bisa dijawab.

Gelombang protes kemudian berubah arah. Dari kemarahan kepada Brimob dan negara, beralih ke anggota DPR yang joget-joget di gedung DPR. Gedung-gedung pemerintahan terbakar dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan polisi sendiri.

Di Surabaya, seorang teman sampai harus membentak anaknya yang masih sibuk latihan cheerleader di SMA Trimurti yang bersebelahan persis dengan sayap kanan Gedung Grahadi yang mulai terbakar. Si anak dengan tenang menjawab di handphone, “Kebakaran apa, Pa? Aman kok. Ini di depan sekolah banyak polisi.”

Tidak lama kemudian, api membubung tinggi melahap gedung itu. Selain Grahadi, Mapolsek Tegalsari dan puluhan pos polisi di Surabaya juga terbakar.

Secepat gedung-gedung yang terbakar itulah kemudian negara mencari “para pelaku.” Buku ini mencatat: negara tidak lagi hanya mengejar tindakan nyata, tapi juga menaruh curiga pada hal-hal yang seharusnya wajar; bacaan, percakapan, bahkan lingkar pertemanan.

Meminjam judul buku Vincent Bevins, Jakarta Method, yang terjadi di Bandung dan semua kota bisa disebut sebagai Bandung method: asosiasi jadi bukti, daftar nama jadi alat, dan jaringan sosial warga jadi alasan untuk menghukum.

Bentuk hukuman seperti apa itu urusan nanti. Yang penting ada yang ditangkap dan dipaksa untuk mengaku.

Di Surabaya, Alfarisi bin Rikosen meninggal di Rumah Tahanan Medaeng. Pemuda yatim usia 21 asal Madura itu ditangkap puluhan polisi berpakaian preman di rumahnya pada 9 September 2025. Polisi tidak menemukan bukti kepemilikan molotov. Teman-temannya yang lebih dulu ditangkap di depan Gedung Grahadi dipaksa mengaku bahwa Alfarisi yang mengajarkan cara membuatnya.

Di Bandung, Arfa Febrianto ditangkap saat sedang bermain skateboard di depan ITB karena polisi menggunakan snapgram dirinya sedang melempar molotov. Aditya dikepung Detasemen 88 Anti Teror di rumahnya. Lakban hitam melilit matanya, pukulan dan tendangan terjadi di dalam rumah itu sendiri — semuanya dengan “skenario imajiner” di kepala polisi yang kemudian diamini para jaksa.

Skenario imajiner itu tidak muncul begitu saja. Buku ini mencatat bahwa beberapa tahun sebelum Agustus 2025, lulusan-lulusan Akpol sudah dikirim khusus ke Prancis dan Inggris untuk mempelajari dan merangkai ancaman yang mereka buat sendiri, lalu memastikan kebodohan itu diyakini benar oleh publik dan institusi.

Dalam pledoinya, Aditya menulis: Molotov yang tidak membakar dianggap ancaman serius, sementara kendaraan lapis baja yang melindas rakyat sipil tidak segera diadili dengan ketegasan yang sama.

Pasca Agustus 2025, negara justru sibuk mencari celah penangkapan ketimbang memadamkan sumber yang memercikkan api. Hal itu masih terus ditunjukkan hingga sekarang — salah satu contohnya adalah hakim militer dalam persidangan atas kasus penyiraman air keras kepada Andri Yunus, yang bukannya mencari kebenaran, malah menormalisasi kekerasan.

Setelah gelombang represi dan kriminalisasi ini, apakah kita masih bisa membayangkan perubahan? Apakah ini “gelombang demoralisasi” berikutnya setelah 1998?

Buku ini tidak menjawab dengan teori. Ia menjawab dengan menunjuk bahwa protes yang sebenarnya bukan milik satu orang berpriviledge ideologi tertentu, bukan tanggung jawab para pekerja NGO atau seorang anarkis saja. Protes yang sebenarnya juga bukan yang sekadar di media sosial, tapi di lingkup sosial yang nyata. Seperti yang ditunjukkan warga Cheran di Meksiko yang berhasil mengusir polisi dan politisi dari wilayah mereka dan mendirikan pemerintahan otonom yang dikelola secara mandiri oleh warga lokal.

Saya pun termasuk orang yang akan bilang, ah itu tidak mungkin. Melawan negara sejak 1998 saja ga berhasil, kok kebayang mau bikin kota seperti Cheran.

Sampai akhirnya ada yang menunjukkan. Seperti Mirai yang bisa “membaca” sampul buku ini lebih baik dari saya.

Cerita Anak Gunung Nemangkawi 

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

(Obituari singkat Vebian Magal)

Mt mlm Mas Oniyoma, tulis Pak Vebian Magal di inbox Facebook di awal bulan Desember 2025. Pesan itu baru saya baca beberapa hari kemudian dan cukup bikin kaget. 

Gimana ga kaget. Sejak bulan Agustus 2025 saya dengar kabar bahwa Pak Vebian sedang kurang sehat. Beberapa kali saya menyapa melalui whatsapp tapi tidak terbalas. Di bulan Desember saya Kembali dengar kalau kondisi kesehatannya menurun.  

Amole Kepala Suku. Selamat Natal dan Tahun Baru. Apa kabar, Pak. Balas saya. Pesan itu Kembali tidak berbalas. Saya jadi ragu apakah yang mengirim pesan itu benar dia atau keluarganya yang dimintanya mengetik. 

Panggilan Mas Oniyoma itu sendiri sejarahnya cukup lama. Sama lamanya dengan perkenalan saya dengan seorang Vebian Magal. 

Saya kenal Vebian Magal sejak dia masih kuliah di Jakarta di tahun 2012. Ketika itu belum kenal baik. 

Setahun kemudian saya kembali ketemu dengan dia di Timika. Saat itu pria kelahiran Tsinga 12 September 1981 itu sudah menyelesaikan studinya di Universitas Nasional Jakarta dan diterima jadi karyawan di bagian Asrama Biro Pendidikan LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme & Kamoro), membantu Kepala Bagian Asrama Octovian Jangkup. 

Di salah satu ruang kerja kantor Biro Pendidikan yang dia bagi dengan Pak Octo itu, kami banyak ngobrol soal tugas utamanya, yaitu pengelolaan Asrama Penjunan milik LPMAK dan beberapa asrama lain yang dikelola Keuskupan Timika serta konsep pendidikan berasrama yang sedang dijalankan LPMAK Ketika itu. 

Asrama Penjunan yang didirikan tahun 2007 ketika itu ditujukan hanya untuk anak2 Amungme dari kampung2 di dataran tinggi Mimika seperti Aroanop, Tsinga, dan Banti. Jumlah penghuni di Asrama Penjunan pada tahun 2014 masih sekitar 150 anak. 

Yang menarik, selain soal pendidikan Vebian ternyata senang diskusi soal pentingnya orang Amungme Kamoro berdaya secara ekonomi, adat Amungne, dan pengembangan diri. Ide2 pria lulusan SMA Lokon Manado itu sering kali mengagetkan. Misalnya, dia sering bilang soal pembukaan “pos dagang” untuk orang2 Amungme dan Kamoro. Ternyata yang dimaksud “pos dagang” itu adalah unit usaha. 

Panggilan Oniyoma berasal dari sebuah email. Pada suatu malam saya iseng mengirim email ke Vebian dan Octo menggunakan email lain yang saya beri nama Victor Oniyoma. Besoknya di kantor saya tunggu reaksi Pak Vebian dan Pak Octo. 

Pak Octo bingung merasa tidak pernah tahu siapa itu Victor Oniyoma. Ketika saya temui Vebian, dia langsung ketawa, itu email Oniyoma pasti pak yang kirim toh? Haha.  

Kami kemudian ngobrol2 soal marga Oniyoma dan marga2 orang Amungme di Akimuga. Obrolan itu kemudian berkembang ke soal adat orang Amungme, sejarah Tsinga dan Beanekogom dan cerita bahwa banyak marga orang Amungme yang sudah hilang karena berbagai sebab. 

Pada tahun 2017, Vebian sudah dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Eksekutif (setara Wakil Direktur) LPMAK yang membawahi program Pendidikan dan Kesehatan LPMAK. 

Ketika LPMAK bertransformasi menjadi YPMAK pada tahun 2019, Vebian Magal mencalonkan diri sebagai Direktur YPMAK dan terpilih setelah melalui proses pemilihan yang Panjang. 

Di saat itu saya lihat seorang Vebian Magal sudah semakin berkembang. Pengalamannya mengelola Program Pendidikan dan Kesehatan LPMAK membuat dia sudah punya pemikiran sendiri soal Pendidikan berasrama di Kabupaten Mimika. Baginya, Pendidikan itu adalah hak semua anak2 Papua tanpa mengenal batas suku. Asrama baginya adalah cerminan alam yang menyediakan kekayaannya bagi semua suku di Papua. 

Dia suka menggunakan perbandingan Asrama milik LPMAK dengan Gunung Nemangkawi. Gunung yang (seharusnya) menjadi berkat bagi semua yang tinggal di sekitarnya, mulai dari orang Amungme, Migani, Damal, Nduga yang terdekat hingga Kamoro, Mee, dan Dani yang berjarak tapi masih dalam jangkauan Ibu Nemangkawi melalui sungai2 yang mengalir. 

Sesuai harapan Vebian, asrama milik YPMAK yang awalnya hanya ditujukan bagi anak Amungme dari daerah dataran tinggi Mimika itu sekarang terbuka bagi anak Amungme, Kamoro dan beberapa anak dari suku Mee dan Dani. 

Asrama itu pemersatu semua suku2 di Papua, bukan pemisah, kata Vebian suatu hari kepada saya. Asrama seperti punya LPMAK itu harus ada di tiap provinsi di Papua ini, lanjut Vebian. Nah meno, itu tugas pemerintah, bukan kita, balas saya.  

Pandangan Vebian soal Pendidikan dan asrama itu pada akhirnya membawanya untuk masuk ke dalam politik praktis. Sebuah langkah yang akhirnya tidak bisa saya ikuti dan tidak saya percayai. Saya tidak percaya bahwa sistem politik dan sistem elektoral Indonesia saat ini mampu menjadi jalan bagi orang sehebat Vebian untuk memperbaiki Pendidikan Papua. Vebian masih percaya perubahan bisa terjadi melalui cara yang ditempuhnya itu. 

Setelah saya mengundurkan diri dari YPMAK di akhir tahun 2024, saya masih tetap berkomunikasi dengan Vebian. Ada banyak ide dan hal yang dia mau wujudkan. Ide dan hal2 yang masih bikin saya kaget. Sama kagetnya seperti Ketika mendengarkan cerita2nya di awal perkenalan kami dulu. 

Anak gunung Nemangkawi itu rasanya masih ingin terus cerita. Bahkan di saat2 akhir hidupnya melalui sapaan kepada Mas Oniyoma di sebuah malam. 

Amole, meno. Beristirahatlah dalam damai. 

Istirahatlah Kata-kata

Leave a comment
Tentang kawan / Tokoh / Current issues

Tadi malam nonton Istirahatlah, Kata-kata di Titikdua, Ubud. Film biografi penyair Wiji Thukul. Penyair yg hilang di akhir masa Orde Baru. 

“Jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi,” begitu kata Wiji Thukul dalam salah satu kamar persembunyiannya di Pontianak. Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini memang lebih banyak merekam kehidupan Thukul sebagai buronan aparat di era Orde Baru. 

Film ini menunjukkan, jadi buronan ga cuma perkara sembunyi atau menghindari kejaran aparat negara, tapi juga menghadapi kejengkelan dan kebosanan2 sehari2 seperti lagi enak2 ngetik di komputer tau2 mati lampu, bayi yg nangis krn takut gelap, toilet umum yg bobrok, antri cukur rambut lalu diserobot tentara, atau  berjalan pelan2 di jalanan yg becek dan gelap. 

Rasanya kok itu kisah sehari2 kita ya? Padahal kita ini bukan buronan. Di masa Orde Baru, antara buronan politik dan warga taat pajak itu sepertinya beda tipis2 aja. 

Satu2nya ketegangan yg saya rasakan di film ini adalah saat Thukul yg ditemani Martin Siregar lagi cukur rambut tiba2 diserobot seorang tentara. Saya mengira adegan berikutnya adalah Thukul ditanya2 oleh pak tentara dgn penuh curiga. Ternyata cuma ditanya dengan santai asalnya dari Jawa bagian mana. Semarang, Solo, Jogja? 

Thukul diam saja. Diam di balik topi belel yg menutupi rambutnya yg menggondrong dan luka akibat kena popor senjata di pelipis mata kanannya. Martin yg menjawab santai, mas ini mau pulang ke Jawa karena usaha baksonya habis kena rampok. 

Setelah mendapatkan identitas barunya dgn nama Paul, Thukul semakin berani jalan2 di kota persembunyiannya itu. Puncaknya adalah ketika Thukul, Martin dan Thomas nongkrong di pinggir Sungai Kapuas. 

Thukul yg lagi pamit kencing diledek oleh Martin, jangan kau pamerkan kami burung kau yg kecil itu! 

Dari kegelapan pinggiran Sungai Kapuas Thukul menyahut, wasyuuu!!! 

Obrolan lucu itu berakhir dgn Thukul membaca puisinya, kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tai! Disambut gelak tawa Martin dan Thomas. 

Rasanya seperti beneran lagi nongkrong dengan Wiji Thukul atau dengan Gunawan “Cindhil” Maryanto di Blimbingsari, Jogja. 

Tapi di  Solo, Mbak Sipon istri Thukul masih belum bisa tertawa. Hampir setiap hari rumahnya disatroni polisi dan intel. Bukan cuma aparat negara yg dihadapi Mbak Sipon tapi juga stigma masyarakat sbg istri yg ditinggal pergi suaminya.

Thukul akhirnya memutuskan pulang ke Solo. Sebuah tindakan yang sangat berani utk ukuran saat itu. Thukul sangat tahu resiko yg dihadapinya. Kecemasan akan anak istri dan kegentaran utk menghadapi resiko itu ditunjukkan dari adegan2 yg penuh simbolisme seperti segelas air putih yg dirubung semut atau mimpi Thukul diserbu sekelompok serdadu. 

Di akhir film, Mbak Sipon yg diperankan Marissa itu menangis. Menangis tdk tahu apakah dgn Thukul pulang itu dia harus senang atau sedih. Yang Mbak Sipon mau cuma Thukul harus ada. 

Menanggapi itu, Thukul cuma terdiam lalu menawari Mbak Sipon segelas air putih lalu kembali ke ruang belakang. 

Wiji Thukul kemudian kembali ke Pontianak. Pada tahun 1997 dia ke Jakarta utk ikut bergabung dgn demonstrasi2. Thukul terakhir berkomunikasi dgn keluarganya pada Mei 1998 tdk lama sebelum Soeharto lengser. 

 Setelah itu tdk ada kabar lagi hingga skrg. 

Mbak Sipon skrg sudah meninggal dunia. Kedua anak Thukul sdh besar. Seusai pemutaran film, Mas Anggi sang sutradara bilang kalau film ini seharusnya sdh tdk relevan. Tapi skrg ternyata malah makin relevan. 

Bagi saya, film ini masih akan semakin relevan, sekalipun sdh ada mahar perdamaian, sekalipun soeharto sdh dipahlawankan oleh prabowo, sekalipun pemerintah sdh siap dgn KUHAP baru dan seperti tdk ada perlawanan nyata di jalanan. Karena seperti tulis Wiji Thukul: 

istirahatlah kata-kata

jangan menyembur-nyembur

orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim

segala tangis dan kebusukan

….

tidurlah, kata-kata

kita bangkit nanti

menghimpun tuntutan-tuntutan

yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan

bersama tindakan

bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

Jangan Ada BuzzeRp di Antara Kita 

Leave a comment
Current issues

Hari minggu pagi kemarin cuacanya cerah dan sejuk. Jam 7 pagi matahari bersinar lembut dan angin berhembus sejuk. Setelah lari beberapa kilometer, aku berpapasan dengan seorang perempuan yang lagi lari pagi dengan anjingnya. Jilbab sport warna hitamnya yang berkibar kena angin pagi dan wajah anjingnya yang ceria seperti mengabarkan kemungkinan2 kebahagiaan di minggu baru. 

Di Bali, pemandangan yang seperti itu adalah hal lumrah. Kalau lari lewat jalanan desa yang sepi atau jalanan perumahan, kamu juga akan banyak ketemu akamsi (anjing kampung sekitar).

Ada anjing yang ramah tapi ada juga yang iseng gonggong2. Bagi yang ga biasa, digonggongi dan dibuntuti anjing, apalagi dalam jumlah lebih dari satu ekor, pasti adalah pengalaman yang menakutkan. 

Saya sendiri perlu waktu beberapa bulan buat menyesuaikan diri dengan anjing2 di Bali. Pada akhirnya saya jadi ga takut bukan karena dengerin tips2nya Cesar Milan. Tapi karena biasa ketemu aja. 

Sekarang ini kalau lagi lari dan ketemu anjing2, yang saya lakukan adalah berhenti lari. Ganti ke jalan kaki. Lalu kadang bilang permisii mau lewat. Kalau masih gonggong sambil mengikuti, saya cuekin saja. Tapi kalau gonggongannya semakin terdengar agresif, saya tinggal berbalik dan bentak sambil acungkan jari, setop!! Biasanya ini ga langsung bikin gonggongan berhenti, tapi bikin anjing itu jadi keder sama kita. 

Saya pernah dihadang sama anjing yang ukurannya nyaris segede anak sapi. Tapi dengan ketenangan diri yang sudah saya pelajari beberapa bulan ini, jadinya ya tinggal berhenti lari dan permisi mau lewat. Pernah juga digigit. Bukan sama anjing yg sangar, tapi sama anjing pom kecil yang terkenal cerewet itu. Rasanya seperti digigit gemes sama kucing. Tapi biar kucing sekalipun kalau sdh urusan menggigit bisa serius. Telapak kaki kanan saya sempat bengkak selama beberapa hari karena digigit si Minku kucing saya.  

Dibandingkan kucing, wajah anjing itu lebih ekspresif. Kita bisa langsung tahu dia lagi senang, takut, atau marah. Tapi sekalipun ekspresif, tidak bisa ditebak. Persis seperti yang ditulis Basuki Gunawan dalam novelnya, Winarta. 

Di salah satu postingan di akun stravanya, teman saya seorang pelari mencatat bahwa lari di dekat daerah rumah ini saya tidak enak. Too many dogs. Terlalu banyak anjing, katanya. Saya tahu dia bukan orang yang takut anjing. Saya menduga itu karena dia risih dikejar anjing saat lagi lari dan sudah nemu pace yang nyaman. 

Buat pelari rekreasional seperti saya ini, keberadaan anjing2 Bali itu justru bikin acara lari jadi seru. Seperti ketemu tim cheering atau penggembira di sepanjang perjalanan. 

Dari pengalaman saya, yang gonggongannya paling keras itu biasanya anjing2 gelandangan yang takut atau kaget melihat saya lewat. Apalagi kalau lagi lari di malam hari dengan headlamp menyala di kepala. 

Mereka memang ramai tapi ga berisik. Yang berisik dan bikin kita jadi tergidik terdistraksi itu justru ada di media sosial. Namanya buzzer alias pendengung.

Menurut pengamat media sosial Enda Nasution, buzzer adalah akun2 di media social yang tidak punya reputasi untuk dipertaruhkan. Biasanya tidak jelas identitasnya. 

Tujuannya menimbulkan kebingungan. Membuat masyarakat terjebak dalam popularisme. Yang paling populer itulah yang benar. Yang komentarnya paling banyak itulah pendapat yang benar. Yang jumlah view atau klik banyak itulah yang benar. 

Satu akun buzzer menanggapi komentar saya di artikel media online Kompas.com soal pencalonan Soeharto sebagai pahlawan. Tanggapan akun buzzer itu ternyata banyak sekali saya temukan di media sosial. Biasanya mereka menganggap yang tidak setuju dengan pencalonan Soeharto adalah seorang simpatisan PKI. 

Setelah membaca laporan Drone Emprit soal sentimen publik terhadap rencana pemberian gelar pahlawan nasional ke soeharto, saya jadi paham kenapa buzzer2 itu begitu gencar membanjiri kolom2 komentar akun2 berita dan akun2 pribadi yang kontra daripada pemahlawanan soeharto. Drone Emprit mencatat bahwa sentimen publik di media online lebih banyak yang positif (64%). Tapi di media sosial, sentimennya lebih banyak yang negatif (63%). 


Sentimen positifnya paling banyak mengusung soal soeharto berjasa membangun ekonomi Indonesia. Kalau memang soeharto hebat, seharusnya dengan kekayaan dari oil boom tahun 1970an dan dari tambang di Mimika, Papua, semua anak Indonesia dan Papua bisa sekolah sampai kuliah dengan gratis. Tapi nyatanya hasil dari menjual kekayaan Indonesia ke asing itu jatuhnya ya cuma ke segelintir orang saja. 


Gencarnya buzzer di medsos membela soeharto sebagai pahlawan nasional bikin saya yakin, ada yang lagi ketakutan. Toh tanpa buzzer2 itu, sudah pasti soeharto akan dijadikan pahlawan nasional oleh pemerintahan sekarang ini. 

Kalau anjing di jalanan Bali takut lihat saya lari malam2 pake headlamp, pemodalnya buzzer takut apa? 

Mungkin takut kalo sejarah resmi yang lagi ditulis ulang dengan semangat toxic positivity itu sudah usang di zaman seperti ini. Takut masyarakat makin nuntut keterbukaan akan apa yang terjadi sebenarnya di tahun 1965-66 dan rangkaian kejahatan kemanusiaan lainnya yang dilakukan rezim Orba. Takut legitimasi pemerintahannya terkikis. 

Mempahlawanken Daripada Soeharto 

Leave a comment
Tokoh / Current issues

Dalam karya sastra, tak ada si suci atau si jahat abadi, tak ada pahlawan sejati, namun setiap tokoh berpotensi menjadi bajingan atau hero, demikian catat Sunlie Thomas Alexander, esais dari Belinyu itu. Dalam novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, Shodancho Supriyadi  pemimpin pemberontakan PETA di Blitar itu ternyata seorang penyelundup yang gemar berburu celeng. 

Karya sastra memang bukan buku motivasi atau bimbingan rohani. Karya sastra justru mengajak kita memahami kerumitan kehidupan dan menukik ke lubang hitam spiritualisme. 

Tidak semua orang bisa ngerti itu. Bahkan yang lulusan Fakultas Sastra Rusia Universitas Indonesia sekalipun seperti Fadli Zon. Bagi Fadli Zon, hidup ini harus jelas gamblang hitam putih. Perkara sejarah, tafsirnya harus tunggal dan harus istanasentris. 

Nilai tentang siapa pahlawan atau pengkhianat sekarang ini adalah warisan cap Orde Baru, kata Andi Achdian, sejarawan dari Universitas Nasional Jakarta. Sejak Prahara 1965, cap sebagai pengkhianat menempel di banyak orang yang punya jasa besar bagi Republik ini. 

Bagi Fadli Zon, sejarah itu adalah serangkaian kejadian yang “dia tahu”. Kalau dia “ga tahu” maka kejadian itu ga ada. Pendapat itu bisa berubah setelah didesak tapi berubahnya itu masih dalam batas pikirannya. Misalnya soal pemerkosaan massal 1998  yang disebutnya sebagai “rumor” itu. Awalnya dia ngotot bilang ga ada pemerkosaan massal 1998. Tapi setelah didesak masyarakat dan dicecar DPR, akhirnya dia minta maaf. 

Contoh berikutnya ya soal Soeharto ini. Awalnya dia bilang ga dengar ada yang mempermasalahkan. Eh setelah dia “dengar,” dia bilang  ga percaya kalo Soeharto terlibat dalam Genosida 1965. Saya yakin kalau didesak2 lagi, akhirnya ungkapan pamungkasnya yang pernah dia omongkan di tahun 2021 itu akan muncul, “Pak Harto orang yang menyelamatkan Indonesia dari komunisme 1965-1966.” 

Jadi ga masalah kalau ada jutaan orang yang dibantai di tahun 1965, di Tanjung Priok, di Aceh, di Papua, orang Tionghoa ditindas dicabut kewarganegaraanya ga boleh merayakan identitasnya, aktivis mahasiswa hilang sampai sekarang, korupsi, nepotisme keluarga Cendana, tidak diadili karena alasan sakit, seorang jaksa agung mati ditembak karena sedang mengusut kasus anaknya. Semua itu gapapa karena Soeharto sudah “menyelamatkan” Indonesia dari komunisme. Dalam alasan resminya sekarang ini, katanya karena Soeharto memimpin Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta.  

Itu sama seperti orang Italia bilang gapapa Mussolini jadi pahlawan nasional Italia karena dia pernah mendirikan kota2 seperti Sabaudia dan Aprilia, dan karenanya menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang Italia. 

Tapi orang Italia lebih pintar. Mereka memilih menembak dan menggantung mayat Mussolini terbalik di Milan.  

Soal gapapa karena Soeharto punya jasa itu ternyata juga diaminkan oleh orang2 yang pernah berseberangan dengan dia. Salah satunya yang sekarang jadi Wamensos. 

“Siapapun yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia ini berhak mendapatkan kehormatan sebagai pahlawan. Siapapun berhak jadi pahlawan,” jawab Agus Jabo di sebuah podcast youtube. 

“Siapapun” yang dimaksud oleh Agus Jabo itu tentu adalah Soeharto, bukan dan tidak termasuk orang2 seperti Amir Sjarifudin, pendiri Partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), tokoh perlawanan di masa pendudukan Jepang, mantan Perdana Menteri Indonesia. Karena rekan sekabinetnya, Fadli Zon, “ga tahu” atau ga menganggap penting penggalan sejarah Indonesia yang itu dalam narasi sejarah “resmi” yang sedang dibangunnya.  

Kita ga akan tahu apa jawaban Agus Jabo kepada anaknya atau murid sekolah yang dikunjunginya setelah melihat foto Soeharto di buku pelajaran sekolah. “Pak, ini orang yang dulu bapak demo kan? Kok dia malah jadi pahlawan sekarang?” 

Mungkin dia akan menjawab, “Yah, namanya juga kehidupan nak. Kita harus berhenti ribut. Kita tutup luka lama.” Mengulang jawabannya di podcast youtube, sambil menutup tabletnya setelah menjadi pembicara dalam seminar yang dilakukan secara daring dengan tema, “Buku Sejarah Indonesia yang Baru dan Relevasinya bagi Rekonsiliasi Nasional demi Perwujudan Sepenuhnya Daripada Pasal 33 UUD 1945.”

Reshuffle

Leave a comment
Current issues / Tentang kawan

Reshuffle. Beberapa Menteri diganti, mengakhiri berbagai spekulasi dan gosip2 politik yang biasa jadi bahan gagah2an saat ngobrol dengan teman2. 

Yang paling sering jadi bahan obrolan adalah Menteri Keuangan dan Menkopolhukam, karena masih ada hubungannya dengan gelombang aksi demonstrasi 25 – 31 Agustus 2025 kemarin. Yang ga banyak jadi bahan obrolan adalah pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengeluarkan edaran kepada pemerintah daerah untuk mencegah pelajar ikut turun ke jalan. 

“Memang sebaiknya pelajar, kalau ada aspirasi demokrasi, disalurkannya dengan cara yang lebih pas. Pesannya bisa sampai tanpa harus meninggalkan sekolah,” kata Pak Mendikdasmen. Soal banyaknya siswa dan mahasiswa yang meninggalkan rumah dan sampai sekarang masih belum pulang karena ditahan polisi, Pak Mendikdasmen sama sekali tidak berkomentar. 

Menurut YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) setidaknya 3.337 orang ditangkap, 1.042 mengalami luka2 dan 10 orang meninggal akibat kekerasan aparat. Ketika ditanya wartawan apakah pelajar yang ikut aksi demonstrasi itu adalah tanda meningkatnya kesadaran social pelajar saat ini? Pak Menteri menjawab singkat, “kami akan terus mendalami ya berbagai hal itu… soal motifnya biarlah aparatur keamanan yang menjelaskan.”  

Faktanya sampai sekarang masih tidak ada penjelasan dari polisi kenapa anak2 muda yang ditangkapi masih banyak yang belum dibebaskan. Tidak ada evaluasi bagi institusi polisi. Tidak ada pertanggungjawaban dari Kapolri atas kekerasan aparat dan persekusi yang menyusul bahkan setelah aksi2 demonstrasi usai. Pelaku pelindas Affan Kurniawan sampai sekarang belum ada kabarnya lagi. Bahkan ada kabar yang datangnya seperti dari masa Orde Baru, buku2 Pramoedya Ananta Toer jadi bahan bukti untuk mempidana peserta aksi demonstrasi.

Kontras dengan Pak Mendikdasmen, Kepala Sekolah dan Siswa SMA Kolese Gonzaga punya jawaban yang lebih jernih. Sebagai pelajar SMA, mereka merasa berkewajiban untuk mengedepankan hati nurani, kecerdasan intelektual, kepedulian terhadap sesama, komitmen, kerendahan hati, dan integritas. Mereka juga menolak pandangan umum bahwa pelajar SMA/K dianggap tidak perlu untuk berpartisipasi dalam kegiatan demokratisasi melalui kampanye media social, penyebaran petisi, penyuaraan aspirasi dan sejenisnya, sebab itu dilindungi oleh Pasal 28 ayat 3 UUD 1945. 

Di tahun 1997, setahun sebelum tumbangnya Soeharto di tahun 1998, Romo Mangun sudah “meramalkan” bahwa perubahan masih akan dipelopori oleh anak muda, “hanya dari generasi muda kini yang sudah telanjur manja konsumeristis hedonistis dan hanya mencari karier serta diindoktrinasi selama puluhan tahun agar apolitis, mampu membuat pembaharuan yang mendasar? Jawabannya tak diragukan. Bisa. Mampu.”

Romo Mangun juga sudah membayangkan Indonesia 2045, jauh sebelum ada visi Indonesia Emas 2045, “pada perayaan HUT RI 100 tahun nanti (semoga sebelumnya sudah, berkat globalisasi akseklerasi perbaikan hidup planeter) kita sudah akan memiliki negara dan masyarakat hukum yang bersih dan dapat dibanggakan, bebas ketakutan.” 

Tapi kalau lihat ketakutan negara sekarang ini kepada anak muda melalui kekerasan, penangkapan dan kriminalisasi, visi Indonesia Emas 2045 itu tampak seperti ilusi yang jauh. Alih2 mengembangkan generasi emas yang kritis, demokratis, dan berani, negara justru melatih generasi muda untuk jadi takut dan diam. 

Mereka akan berkembang jadi manusia dengan senyum ramah khas Indonesia yang selalu dibangga2kan itu, tapi batinnya menanggung luka dan trauma, minder, kalah kreatif dan ekspresif dengan anak2 muda dari negara2 jiran kita yang hidupnya bebas dari kekerasan struktural dan budaya ketakutan. 

Negara jiran yang anak mudanya senasib dengan Indonesia dan kualitas demokrasi dan hukumnya seremuk Indonesia mungkin ya Myanmar atau Filipina. Nepal, negara asal serdadu2 Gurkha yang gagah berani itu mungkin akan jadi lebih maju dari Indonesia. 

Kalau begini terus keadaannya, sebaiknya Visi Indonesia Emas 2045 ditunda ke tahun simbolis berikutnya di tahun 2145. Itu pun kalau Republik Indonesia masih belum di-reshuffle oleh rakyatnya sendiri.

Angin Musim 

Leave a comment
Buku

Penulis: Mahbub Djunaidi 

Penerbit: Inti Idayu Press, Jakarta, 1985

Halaman: 176 hal

Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-80 ini, saya baru tahu kalau novel Animal Farm karya George Orwell yang terkenal itu diterbitkan pada 17 Agustus 1945. Novel itu adalah alegori tentang bagaimana perlawanan hewan2 tertindas melawan tirani manusia berubah menjadi tirani yang baru. Bagi yang tidak pernah baca buku2nya George Orwell, pasti langsung mendakwa bahwa buku itu adalah kritik bagi komunisme. 

Novel yang baru mulai popular di tahun 1950-an itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Mahbub Junaidi dan diterbitkan pada tahun 1983. Judulnya jadi “Binatangisme.” Dua tahun berikutnya, Mahbub Junaidi menerbitkan novel berjudul Angin Musim.  

Angin Musim adalah novel dengan tokoh utama non-manusia seperti Animal Farm. Tokoh utamanya seekor kucing betina yang dilahirkan dari hasil percintaan pasangan kucing milik seorang Wedana dan peliharaan seorang pemborong. Melalui si kucing yang tidak disebutkan namanya itu, Mahbub dengan jenaka menggambarkan masyarakat yang sedang berubah. Awalnya Wedana dan pemborong itu bersahabat karena saling menguntungkan. Tapi ketika posisi dan wewenang Wedana mulai digantikan oleh Bupati, si pemborong perlahan meninggalkan sang Wedana. 

Si kucing yang dilahirkan di “tepi pasar” itu usianya masih sekitar 19 bulan ketika dia dibawa ke sebuah penjara. Tugasnya, menjaga penjara bebas dari tikus. Di penjara itu, si “Aku” berkenalan dengan dua ekor kucing lain, si Pincang dan si Keropos. 

Mahbub dengan cerdas menggunakan sudut pandang kucing, hewan yang sudah ribuan tahun hidup berdampingan dengan manusia. Dekat tapi berjarak. Manja tapi independent. Kelihatannya cuek padahal sebenarnya sedang mengamati dan mengomentari kehidupan manusia. Di penjara, bukan hanya gerakan yang dibatasi, tapi juga pikiran. Soal itu si “aku” mencatat, koran dan radio bagi manusia sama pentingnya dengan kepala ikan bagi seekor kucing, atau sebutir buah kecapi bagi seekor beruk (Hal. 51). Tanpa kepala ikan atau sebutir buah kecapi, kucing atau beruk masih bisa hidup. Tanpa informasi dan pengetahuan, manusia masih bisa hidup. Tapi hidup yang seperti apa itu? 

Penjara yang digambarkan mirip dengan suasana penjara tahanan politik di masa Orde Baru atau mungkin Orde Lama. Di dalam penjara dikisahkan ada Pak Ahmad Darul Kutni, dulunya Kepala Jawatan Kereta Api; Pak Suryodiharjo, bekas Mayor Jenderal; Pak Max Karbonari, dulunya wartawan; dan seorang bekas Menteri Urusan Bahan Makanan yang tinggal di blok “Sadar Pangkal Selamat.” Dari semua tahanan itu, hanya Pak Ahmad Darul Kutni yang berbicara dengan si kucing ketika si kucing lagi bunting (Hal. 144). 

Jika Animal Farm bercerita soal pemberontakan hewan2 ternak melawan tirani manusia, Angin Musim menceritakan solidaritas antar spesies hewan dan manusia sebagai sesama mahkluk hidup yang dirampas kebebasannya, dengan caranya masing2. Para tahanan pengen bebas dari para sipir dan kungkungan tembok. Para kucing pengen berdamai dengan para tikus dan kembali ke pasar. Kata si “Aku”: coba pikir, sedangkan antar sesama manusia, pengawal dan penghuni tahanan tidak ada damai2nya, kenapa kita mesti ikut2? Mereka mengurung bangsanya sendiri sampai lumutan, mengapa kita jadi tersangkut-paut? (Hal. 131)

Awalnya saya kira akan ada perdamaian antara kucing dan tikus lalu terjadi perlawanan atas sipir2 penjara, sama seperti cerita Animal Farm. Apalagi mengingat novel ini diterbitkan setelah terjemahan Animal Farm. Tapi ternyata revolusi tidak terjadi. Para tahanan mendengar gossip bahwa mereka akan dibebaskan. Si “Aku” menyaksikan Pak Ahmad Darul Kutni meragukan kabar kebebasan itu; “…apa sebab mereka para pengawal tanpa kecuali berikut semua penunjangnya pegawai sipil mesti tertawa terbahak2? Apanya yang mesti jadi bahan tertawaan? (Hal.168)

Tidak ada revolusi. Reformasi pun tidak ada. Tidak ada pemberontakan. Tidak ada tirani yang terguling dan tirani baru seperti di Animal Farm. Cuma tirani yang sudah pergi tapi masih ada. Tirani yang mengubah penjara jadi hotel serta semua tahanan dan kucing2 disuruh pergi terserah mau ke mana. Kita ini semua sudah terlempar ke luar pagar oleh tiupan angin yang entah datangnya dari mana, kata Pak Ahmad Darul Kutni. 

Jadi inget sebuah negeri di mana kamu bisa tiba2 ditangkap, diadili dengan penuh komedi, ditahan, lalu tiba2 diberi amnesti atau abolisi. Di masa Mahbub masih jadi aktivis PMII di tahun 1960an, jutaan orang ditangkap dan dibunuh tanpa pengadilan. Yang hidup ditahan, disiksa, dikirim ke Pulau Buru, hingga tiba2 dikirim pulang ke rumahnya di akhir tahu 1970an. Persis seperti penjara tempat para tahanan dan kucing2 yang tiba2 jadi hotel. Bagaimana dengan para sipir penjara atau tiraninya? Mungkin juga lagi ikut merayakan kemerdekaan Indonesia Bersama dengan para mantan tahanannya, sambil joget2 diiringi lagu yang dorang tidak tahu judulnya.

Amole!

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua / Tentang kawan / Tentang kota

(Catatan perjalanan dari tahun 2008)

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Sebuah mobil Toyota Hilux di samping mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan berbelok ke timur. Menyusul di belakang mobil, serombongan motor bergerak tergesa-gesa. Hampir semua pengendara motor mengenakan jas hujan berwarna kuning dengan tanda silang warna perak di punggungnya. Mas Eko sedang menggaruk-garuk dagunya ketika aku menaikkan kecepatan kendaraan dan wiper. Hujan semakin deras. 

Mungkin dia sudah tahu bahwa aku memiliki cara sendiri dalam menikmati hujan. Bukan dengan melamun di beranda rumah dan merangkai kata-kata, tapi memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Semakin deras hujannya semakin asyik. 

Hujan deras di Timika ini adalah hujan paling deras yang pernah aku tembus setelah perjalanan Blitar-Surabaya bersama Puthut dan perjalanan singkat menyusuri Ring Road Utara Yogyakarta dari arah Wates hingga perempatan Kentungan. 

Sebenarnya di jalanan gelap dekat Bandara Mozes Kilangin, dia sepertinya sempat mencoba meminta aku mengurangi kecepatan melalui cerita-cerita kecelakaan lalu lintas yang pernah dia lihat sendiri. Tapi ada begitu banyak hal yang membuatku begitu sentimental hingga bisa mengacuhkan orang; butiran hujan yang menghantam kaca mobil, lampu hazard yang menerangi jalan, dan siluet jajaran pohon cemara di bantaran sungai Ajkwa.

Ketika aku menunjukkan pintu gerbang masuk wilayah Freeport kepada Mas Eko, aku sempat membayangkan diriku sebagai karyawan Freeport dan bisa membawa mobil hilir mudik dari Tembagapura-Timika setiap hari, menyusuri jalan akses Freeport yang tidak diaspal dan membelah hutan.  

Mas Eko sudah empat hari di Timika, dan belum pernah melihat matahari lebih dari satu jam. Sedangkan aku sendiri, sudah dua minggu sejak pertama tiba di Timika belum pernah satu hari penuh berlalu tanpa hujan deras. 

***

Menurut informasi dari situsweb BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), Timika akan terus diguyur hujan hingga bulan Agustus. Sama persis dengan informasi yang diberikan Geri, seorang kawan yang sekarang menetap di Ambon. “Cuaca di timur sedang buruk” katanya. Hm… bisa jadi curah hujan di Timika lebih tinggi daripada di Bogor.

Cuaca pula yang menyebabkan pesawat yang aku tumpangi agak bergoncang sebelum mendarat di bandara Mozes Kilangin. Dari balik jendela pesawat, hutan tropis nan lebat terhampar di bawah. Seumur-umur belum pernah aku melihat hutan selebat dan seluas itu. 

Ketika pesawat akhirnya mendarat, kaki kananku terasa berat untuk melangkah. Mungkin kram setelah tiga jam tidak bisa leluasa duduk di pesawat, tapi mungkin juga karena perasaan gentar dan takjub yang aku rasakan sejak di bandara Juanda, Surabaya; seperti apa sebenarnya Papua? Sekalipun ada banyak informasi soal Papua dan Timika, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak bahwa aku akan menjejakkan kaki di Papua, apalagi bekerja di Timika.

Perasaan gentar dan takjub itu sempat hilang ketika mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali. Saat itu aku berencana menghabiskan lima jam waktu transit untuk jalan-jalan ke Legian. Tapi begitu di pintu keluar, semua orang yang aku tanyai mengatakan bahwa jalan ke arah Legian macet, lagi banyak turis.

Sebenarnya ada dua orang teman yang aku andalkan untuk menjemput di bandara dan jalan-jalan ke Legian, tapi ternyata mereka semua sedang sibuk. Reza, teman kuliah yang bekerja di sebuah hotel di Bali, ternyata pulang ke Surabaya mempersiapkan pernikahannya. Seorang lagi, Lukman, sedang berada di Ubud. 

Sms balasan yang aku terima dari dua orang tersebut tiba dalam waktu yang hampir bersamaan, dan di saat rasa lapar memaksaku untuk makan di sebuah restoran cepat saji yang dikuasai serombongan anak muda yang memakai topi golf. Hanya sebuah meja kecil di dekat wastafel yang tersisa. Itupun masih harus aku bagi dengan seorang pemuda.  

Seperti biasa, rokok mempermudah proses perkenalanku dengan orang asing. Setelah kami menandaskan makan malam dan menyalakan rokok, barulah kami berkenalan. Pemuda yang bernama Budi itu bekerja di Trakindo dan tinggal di Tembagapura, dua jam perjalanan darat dari Timika. 

Jawabannya sungguh singkat dan padat ketika aku tanya soal Timika, “wah, sarang malaria.” Sekalipun sudah satu tahun lebih bekerja di Tembagapura, baru dua kali Budi mengunjungi Timika. Kehidupan di Tembagapura memang membosankan, kata Budi, tapi masih jauh lebih baik dibandingkan Timika. Yang dimaksud lebih baik oleh Budi ternyata fasilitas dan keadaan kota. Tembagapura bersih dan teratur, Timika kotor dan semrawut. Di Tembagapura semua kebutuhan Mas Budi tercukupi, mulai dari tempat tinggal, makan, perpustakaan, dan sarana olahraga. Lhah, kenapa kok ga betah? Apalagi jika dibandingkan dengan Timika. 

“Bosen aja, Mas” balas pemuda asal Jombang penggemar berat bulutangkis itu. Kemudian dia menjelaskan lebih mendalam tentang kebosanannya yang terkadang sudah tak bisa ditahan lagi hingga hari-harinya hanya menjadi penantian jatah cuti setiap empat bulan sekali. Mengerikan sekali. Hebatnya, dia menceritakan semua itu dengan ekspresi yang datar saja, tidak ada penekanan pada kata atau suasana tertentu.

Kami kemudian menyingkir ke sebuah “kursi besar” tempat Mas Budi biasa menghabiskan waktu transit setelah semua kios makanan di bandara tutup. Kursi besar itu terletak di dekat toilet. Di atasnya tergantung layar jadwal penerbangan pesawat. Kami menunggu pesawat ke Timika sambil menelusuri dunia maya. 

***

Tiga jam setelah pesawat bertolak dari bandara Ngurah Rai, kakiku akhirnya menyentuh tanah Papua. Seperti turun dari angkot, kaki kiriku yang menjejak tanah Papua lebih dahulu. Jam di hape menunjukkan jam lima pagi waktu Surabaya, dan di Timika berarti sudah jam tujuh pagi. Gerimis kecil menyambut kedatanganku. 

Bandara yang sangat bersahaja itu dikelilingi hutan lebat. Hutan primer yang begitu kaya akan vegetasi, kata guru SMA kita dulu. Di Jawa hutan seperti itu mungkin tinggal tersisa di Ujung Kulon. Sebelum naik ke dalam bis yang siap membawa penumpang ke bandara, aku mengarahkan pandangan ke gerumbulan tanaman yang warna hijaunya begitu pejal dan basah. 

Akhirnya aku lihat sendiri papan kedatangan bandara yang pernah aku lihat di internet. Papan yang sudah reot itu tidak menerangkan nama bandara, hanya nama kota Timika. Tertulis dalam dua bahasa. Di bawahnya ada semacam ucapan terima kasih kepada para individu dari berbagai negara lengkap dari jajaran bendera-bendera negara asal mereka yang membantu pelaksanaan proyek Freeport. 

Papan yang tergantung di atas pintu ruang kedatangan itu seperti memintaku untuk menghormati dan berterima kasih kepada orang-orang dari negara asing itu. Tanpa mereka, orang-orang asing yang kesepian dan sekarang mungkin sudah sangat kaya tapi tetap saja kesepian ini, kamu tidak akan bisa menjejakkan kaki di Timika. 

Sampai di dalam ruang kedatangan, aku tetap saja tidak menemukan tulisan Mozes Kilangin. Kasihan sekali Pace Mozes ini. Sudah jauh-jauh dan capek-capek antar beberapa geolog muda Belanda “menemukan” sumber tembaga dan emas terbesar di dunia, namanya cuma jadi bandara yang lebih mirip stasiun kereta di kota-kota kecil di Jawa. Dan sudah bisa dipastikan, Pace Mozes tidak ditanya apa nama gunung itu. Maka Nemangkawi Ninggok pun kini lebih dikenal dengan nama Grasberg atau Puncak Jaya.  

***

Pak Yohan dan Pak Yus ternyata sudah agak lama menunggu aku. Selain karena masih tercenung dengan tempat yang masih asing bagiku ini, aku juga masih harus menunggu barang-barangku diturunkan dari bagasi pesawat dan menemukan troli. Setelah berhasil mendapatkan troli dan mengambil barang-barangku, masih harus antri keluar dari ruang kedatangan. Mas Budi, pegawai Trakindo asal Jombang yang menemaniku di Denpasar juga nampak sedang sibuk dengan barang bawaannya. Dia masih harus menunggu hingga jam empat sore sebelum dijemput bis yang akan membawanya ke Tembagapura. Tanpa sempat bertukar nomor telepon aku berpisah dengannya. 

Pak Yustinus adalah salah satu rekan kerjaku selama di Timika. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika pertemuan awal tim kerja kami di Surabaya. Sebelumnya dia mengambil kursus singkat dan bekerja di Australia. Sepulang dari Australia dia sempat bekerja di Yogyakarta dan Surabaya. Pak Yustinus adalah seorang mantan seminaris, dari Seminari Garum, Blitar. Rekan kerjaku yang lain adalah Pak Musa, seorang pendeta asal Kupang yang sudah menetap di Timika sejak tahun 2003. 

Tim kerja yang mantap sekali, kan? Seorang mantan seminaris dan seorang pengabar Injil dipertemukan dengan seorang Katolik murtad seperti aku ini.

Pak Yohan Zonggonau adalah kepala Biro Pendidikan di Lembaga tempatku bekerja. Pak Yohan orang asli Timika, suku Moni tepatnya. Pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas ditempuhnya di Kaokaonao, pesisir selatan Mimika, dan Akimuga. Setelah itu dia melanjutkan studi ke Semarang dan Jakarta.

            Setelah bersalaman dengan Pak Yohan dan Pak Yus, mereka mengenalkanku pada seorang anak muda Papua yang bernama Denias. “Wah, Denias yang di film itu?” tanyaku spontan. Dia mengiyakan dengan intonasi khas Papua.  

            Di dalam mobil, Pak Yus langsung memborbardir Denias dengan pertanyaan soal studinya di Darwin, Australia dan rencana-rencana Denias selama di Papua. Pak Yohan sekali lagi memastikan aku bahwa pemuda Papua yang duduk di sebelahku itu adalah pemuda yang menjadi inspirasi film Denias. Aku hanya mengiyakan sambil memandangi pemuda itu sambil senyum-senyum. Goblok banget. Aku tidak mungkin bilang bahwa aku belum nonton Denias, bahwa yang memprakarsai film itu adalah Ari Sihasale artis ngetop Indonesia. 

            Akhirnya kami tiba di sebuah terminal angkot, tempat Denias turun untuk melanjutkan perjalanan. Terminal itu terletak di dekat perempatan besar. Di tengah perempatan itu terpancang sebuah tugu yang bentuknya seperti empat buah perisai. Tepat di seberang terminal ada sebuah lapangan. Di tengah lapangan ada sebuah panggung permanen yang dicat warna khas subkultur Rastafarian: merah-hijau-kuning dan penuh dengan coret-coretan. Sampah bertebaran di mana-mana, mulai dari bungkus makanan hingga botol bir. Wah, jangan-jangan benar juga salah satu cerita ngeri soal Papua: orang Papua suka mabuk dan bikin onar. 

            Ya, itu cuma salah satu. Masih ada salah dua dan salah tiga cerita ngeri soal Papua. Cerita yang paling ngeri mungkin dari Mas Nanda. “Jangan sembarangan ajak bicara mama-mama (ibu-ibu). Kalau ketahuan suaminya, mampus ditombak kamu,” katanya sambil memilin-milin grenjeng rokok. Mas Nanda kemudian melanjutkan dengan cerita soal kebiasaan mabuk orang Papua. Dia menyarankan aku untuk berlagak sebagai orang yang tidak suka minum. Karena kalau mereka tahu aku suka minum dan ternyata tidak kuat minum, mereka tidak akan menghormatiku atau malah akan jadi sumber keributan karena dianggap tidak menghormati acara. 

***

Sebenarnya aku sudah meminta untuk langsung ke kantor saja. Soal istirahat bisa aku lakukan di sore hari sepulang kerja. Tapi ternyata Pak Yohan dan Pak Yus menyarankan aku untuk istirahat dahulu. Mereka mengantarku ke Hotel  Serayu, di Jalan Yos Sudarso. 

Nyaris tidak ada penanda bahwa aku sedang berada di sebuah kota di Papua. Sekilas nampak sama saja dengan kota-kota kabupaten di Jawa. Deretan bangunan yang nampak tidak tertata dengan baik, para tukang ojek yang melaju kencang, angkutan kota berwarna kuning dan biru, sampah, lampu jalanan yang buruk sekali kondisinya, dan becak. 

Selain Pak Yohan yang asli Timika, yang membuatku merasa bahwa aku sedang berada di sebuah kota di Papua adalah dua pace dan seorang mace yang aku lihat di pinggir jalan. Tidak jelas apakah mereka sedang menunggu angkutan atau cuma iseng nongkrong saja di pinggir jalan. Seorang dari mereka rambutnya dikuncir memanjang ala dreadlock, memakai topi Korpri, mengenakan celana pendek dan kaos kaki sepak bola warna merah. Seorang lagi berdiri berbicara sambil mengunyah pinang. Posturnya tinggi besar, dan semakin dipertegas dengan setelan warna gelap yang dikenakannya. Sedangkan sang mace mengenakan rok panjang, menyampirkan tas di kepalanya, dan juga nampak menikmati pembicaraan dan pinang yang dikunyahnya.  

Kembali aku teringat cerita soal Papua yang dijadikan pesangon untukku oleh seorang kawan, “jangan sampai ketularan makan pinang, hehe,” tulisnya dalam sebuah pesan singkat. 

Di perempatan dekat Jalan Yos Sudarso, semakin banyak pace dan mace berseliweran. Kalau para pace dan mace itu tidak ada, mungkin aku akan menduga bahwa aku tidak sedang berada di Timika, tapi di Turen, kota kecil selatan Malang. 

Di Jalan Yos Sudarso inilah terletak Hotel Serayu tempat tinggalku sementara sebelum mendapatkan tempat tinggal sendiri. Setelah membantu aku menurunkan barang bawaan hingga depan pintu kamar, Pak Yus dan Pak Yohan kemudian pamit untuk ke kantor dan mempersilakan aku istirahat dahulu. Mereka akan menjemputku jam 1 siang. Setelah selesai mandi, aku memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mencari nomor hape baru, karena nomor hapeku tidak aktif di Timika. Serta untuk berkenalan dengan kota yang akan aku tinggali beberapa saat ini. 

***

Baru empat hari di Timika, gaya bicara Mas Eko sudah seperti orang Papua. Hampir setiap omongan diakhiri dengan “…itu sudah.” Mungkin karena pembawaan Mas Eko yang terbuka atau mungkin karena Mas Eko sudah agak lama mengenal orang-orang LPMAK yang lumayan sering bertandang ke Jawa, seperti Pak Yohan, Pak Abraham, dan Pak Kemong . 

            Bahkan dalam perjalanan dari kawasan pinggiran Timika ke Hotel Serayu tempat workshop KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) untuk para guru se-Kabupaten Mimika percakapan antara Mas Eko dan aku lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia yang sesekali diwarnai dialek Papua ketimbang bahasa Jawa dialek Jawa Timuran.    

“Ah, sudah kita cari fotokopi di dekat pasar saja,” ajak Mas Eko yang pusing mencari tempat fotokopi untuk menggandakan beberapa materi workshop. Tidak lama kemudian akhirnya kami menemukan beberapa tempat fotokopi yang masih buka, tidak jauh dari Pasar Swadaya. 

Di Pasar yang terletak di sebelah selatan Hotel Serayu tempat workshop KTSP dan tempatku menginap kita dapat melihat betapa tidak seimbangnya persaingan antara warga asli Timika dan para pendatang. Para mama menggelar barang dagangan mereka, yang kebanyakan hasil bumi seperti sayuran dan buah pinang, di depan pasar bahkan hingga mencapai badan jalan. Itupun mereka harus masih bersaing tempat dagangan dengan para tukang ojek yang kebanyakan orang Makassar. Kios-kios kecil di dalam Pasar Swadaya lebih banyak ditempati oleh para pedagang Bugis, Makassar, Toraja, dan Jawa. Pada musim hujan seperti ini, Pasar Swadaya terlihat lebih kotor dan becek. Sampah terlihat menggunung di salah satu sudut pasar.    

Persaingan yang tidak seimbang itu semakin nampak di Jalan Yos Sudarso. Penjual pulsa adalah orang Malang yang baru tiga bulan di Timika, pemilik kios koran dan majalah asli orang Makassar, keluarga kecil yang mengelola sebuah warung ternyata datang dari Lamongan. Tepat di depan pintu masuk hotel, terdapat sebuah penjual makanan yang menghias gerobaknya dengan tulisan; http://www.suroboyo.com. 

Tidak jauh dari tempatku memarkir mobil, dua orang pace berjumpa dengan seorang kawannya. Mereka berjabat tangan khas Timika. Sebelum berjabat tangan mereka saling mengulurkan tangan yang setengah tergenggam dengan jari tengah agak maju. Sang kawan menyambut dengan posisi tangan serupa dan menjepit jari tengah, mengenggamnya erat lalu mereka saling menarik hingga berbunyi; ctak! Lalu disambung dengan jabat tangan biasa. Setelah semua orang dapat giliran untuk saling berjabat tangan mereka langsung terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Beberapa orang di antara mereka menyapaku ramah saat aku melintas untuk menjumpai Mas Eko di tempat fotokopi. 

Tapi di sisi lain kota bisa jadi sedang ada seorang bapa yang menenteng busur dan anak panahnya sambil berteriak-teriak menuntut keadilan akan keponakannya yang mati terbunuh setelah mabuk-mabukan, seorang pace yang membawa parang menuntut ijazah anaknya yang jadi korban kebobrokan sistem pendidikan Indonesia, atau segerombolan anak-anak merusuhi sebuah keluarga Manado yang sedang makan malam di sebuah restoran cepat saji.

Beberapa kejadian di atas tidak aku ambil dari kumpulan cerita mengerikan soal Papua dari teman-temanku, tapi kejadian-kejadian yang saksikan dan dengar sendiri dari guru SMAK Bernardus Timika. 

Catatan ini aku tulis setelah tiga minggu berada di Timika dan setelah sampai pada kesadaran bahwa mau tidak mau aku telah menjadi bagian dari sebuah masyarakat hibrida yang tercipta dari kegiatan pertambangan di Grasberg. Mungkin sekilas aku terlihat seperti sedang membantu masyarakat tujuh suku; Amungme, Kamoro, Mee, Damal, Nduga, Dani, dan Moni. Tapi bisa jadi sebenarnya aku tidak lebih dari para pendatang yang menggusur masyarakat asli serta pulang ke kampung halaman membawa setumpuk keuntungan dan sekumpulan cerita soal keterbelakangan orang Papua. 

Akankah pengamatan yang intens akan keseharian kota dan daerah ini, keinginan untuk belajar dari orang Papua mengenai sejarah, budaya dan masyarakat mereka, dan keterlibatan langsung dalam keseharian mereka akan memberikan sesuatu bagi masyarakat Papua? Aku belum bisa menjawab. 

Bagi orang Papua hal-hal yang selama tiga minggu aku pikirkan itu pasti dianggap terlalu muluk dan mengada-ada. Pasti Pak Titus akan menjawab “ah sudah, bapa, mainkan saja…,” sambil menawari nongkrong mendiskusikan asal muasal babi di Papua, bertukars mop, dan gosip terkini di Timika. Aku cuma berharap semoga mereka maklum kalau aku menolak mengunyah pinang atau minum Cap Tikus. Ajakan makan papeda, babi, dan Bir Bintang mungkin masih bisa aku terima. Tapi kalau dorang minta sa kunyah pinang, ah sudah, hormat pace, tapi sa tra suka… 

Aku berjalan mendahului Mas Eko yang sudah selesai menggandakan beberapa materi workshop ketika kemudian segerombolan pemuda itu serempak berseru, amole! Ternyata mereka membalas Mas Eko yang mencoba mempraktekkan mengucapkan salam dalam bahasa Amungme itu. Di dalam mobil, kami menurunkan jendela dan menyapa mereka sekali lagi dalam bahasa Indonesia, tapi kali itu mereka hanya membalas dengan anggukan kepala.  

Sabar

Leave a comment
Current issues / Tokoh

Ada orang yg sabar krn itu memang sikapnya. Ada yg sabar krn memilih utk sabar. Dari pengalaman, saya lebih sering ketemu yg kedua. Yg sabar krn pilihan. Milih sabar krn ga mau repot. Mau itu repot krn berantem serempetan di jalan, rebutan jalur di CFD atau milih sayur di pasar.

Sama kayak pak menteri kita yg milih tidak mau percaya sama tragedi Mei 1998 karena merasa tdk terjadi scr massal dan tdk bisa dicari saksi2nya. Saya kira itu pilihan.

Saya ga yakin orang yg punya perpustakaan pribadi begitu besar -dgn koleksi buku dan foto begitu banyak sampai bisa tahu lokasi eksekusi mati Kartosoewirjo- sampai tdk bisa nemu atau mbaca laporan2 temuan2 kerusuhan Mei 1998.

Dia tahu sekali soal pemerkosaan di Nanjing (seperti yg dia sampaikan di rapat dgn DPR) dan mgkn Geger Pecinan 1740 di Batavia. Tapi soal tragedi Mei 98, dia milih ga percaya.

Di masa pandemi lalu, kita sering lihat orang dan pilihan semacam itu. Yg nampaknya bijak dan berpengetahuan, ternyata ga percaya dgn pandemi dan milih percaya teori2 konspirasi. Yg di posisi bisa ngambil keputusan utk nyegah, malah nyuruh rakyat utk berjemur dan minum jamu2an.

Setelah pandemi usai, yg milih tdk percaya pandemi akan lebih mengingat teori konspirasinya ketimbang mengenang korban2 pandemi. Sikap yang 11-12 dgn yg ga mau berempati dgn korban Mei 98 dan memilih percaya teori bahwa Mei 98 adalah persekongkolan aseng utk mendiskreditkan Indonesia.

Sikap yg sama dgn presiden di pidatonya di kongres partai yg baru ganti logonya jadi gajah. Di pidatonya, prabowo bilang bahwa skrg ini banyak org yg sok pintar, bahwa gerakan2 semacam Indonesia Gelap itu disponsori koruptor.

Di akhir pidato, prabowo malah seperti mengkritik diri dan menteri2nya sendiri. “Tadi disebut Mas Kaesang benar teknologi informatika bagus tapi berbahaya bisa disalahgunakan hoaks ujaran kebencian ujaran kebohongan, fake news kadang-kadang, dan tidak mau dikoreksi tidak mau minta maaf dan sebagainya ini yang kita waspada,” kata Prabowo.

Tidak mau dikoreksi dan tidak mau minta maaf. Benar pak. Itu sikap pejabat2 indonesia skrg ini.

Seorang Joko Pinurbo nyatanya lebih bisa membuat pilihan yg benar dibandingkan pejabat2. Jokpin tdk mencatat tragedi dgn “tone positif” atau “demi kebesaran bangsa”. Dia mencatat perasaan kolektif yg ditimbulkan tragedi. Hari2ku terbuat dari innalilahi, tulis Joko Pinurbo.

Orang indonesia sering disebut sebagai orang yg sabar. Selain krn pilihan, utk tinggal di negara seperti Indonesia memang harus sabar, krn itu satu2nya solusi.

Apakah puisi Jokpin yg cuma sepenggal itu mencerminkan kesabaran yg semacam itu? Rasanya tidak.

Membaca puisi Jokpin membuat saya ingat bahwa sabar adalah solusi (jangka pendek) bagi orang yg tdk punya solusi. Sabar yg membangkitkan perlawanan. Dan yang pasti, Jokpin tdk memilih melupakan apalagi menghapus sebuah penggalan sejarah.

Oktober (Robert Frost)

Leave a comment
Uncategorized

O pagi Oktober yang hening,

Dedaunanmu telah matang untuk musim gugur;

Angin esok hari, jika ia liar,

Akan menyia-nyiakan mereka semua.

Burung gagak berseru-seru di atas hutan;

Besok mereka mungkin akan berkumpul dan pergi.

O pagi Oktober yang hening,

Mulailah jam-jam hari ini dengan lambat.

Buatlah hari ini terasa tidak singkat

Hati yang tak enggan diperdaya,

Pukau kami dengan cara yang kamu tahu.

Lepaskan satu daun saat matahari terbit;

Pada tengah hari lepaskanlah daun yang lain;

Satu dari pohon kami, satu dari yang jauh.

Perlambat sinar matahari dengan embun yang lembut;

Mempesona tanah dengan bunga kecubung.

Lambat, lambat!

Demi buah anggur, jika semuanya,

Yang daunnya sudah terbakar oleh embun beku,

Yang buahnya bergerombol harus hilang—Demi buah anggur, di sepanjang tembok.