Surat untuk Keiko

Leave a comment
Tentang kawan

Halo Keiko, 

Bagaimana kabarmu? Semoga sehat dan baik selalu. Bagaimana kabar kotamu, Osaka? Semoga sudah tidak dicekam oleh pandemi. Di sini, pandemi seperti sudah benar -benar berlalu. Di Surabaya, hingga bulan Maret 2022 masih ada yang meninggal dan dimakamkan dengan prosedur Covid. Aku kurang tahu bagaimana di bulan Mei ini. 

Di bulan Mei ini aku malah teringat dirimu. Kamu berulang tahun di bulan Mei ini. Selain itu, beberapa belas tahun lalu di bulan Mei kamu tiba di Surabaya untuk sebuah proyek penelitian. Saat itu aku ditugaskan untuk menjemputmu di bandara. Berbekal sebuah kertas bertuliskan namamu dan ingatan dari fotomu yang aku lihat di komputer kampus, aku menunggu di depan pintu kedatangan. Itu pengalaman pertamaku menjemput orang di bandara. 

Aku tidak tahu bahwa akan ada banyak orang yang menjemput. Sambil agak berdesakan aku mengamati semua orang yang keluar dari pintu kedatangan. Melihat beberapa orang juga memegang kertas bertuliskan nama sambil memanggil-manggil nama orang itu, aku merasa konyol. Mau ikut manggil tapi kok ya malu. Mau diem aja takut kelewatan. 

Tepat di saat aku menunduk untuk mengeluarkan bungkus rokok, aku mendengar suara perempuan memanggilku, “Kahaya – san?” Belakangan aku baru tahu bahwa di Bahasa Jepang, Ca dieja menjadi Ka. 

Kamu benar – benar jauh dari bayanganku tentang orang dari “luar negeri.” Tinggi badanmu tidak lebih tinggi dariku. Di punggungmu tidak tersanding tas ransel besar. Yang ada sebuah tas selempang berwarna merah. Sambil berjalan memutar pagar pembatas, kamu menyeret sebuah koper besar berwarna biru. Rasanya seperti menjemput teman kuliah yang baru pulang bepergian dari Jakarta.  

Dalam perjalanan mengantarmu ke hotel, aku mendadak jadi pengemudi yang bodoh. Aku bingung antara harus lebih berhati2 mengemudikan mobil, mencari bahan pembicaraan dan berdiskusi dalam Bahasa Inggris.  Beberapa kali aku menginjak pedal rem agak mendadak, hingga tas selempangmu yang kamu taruh di jok belakang terjatuh ke bawah. Gedubrak. Ternyata isinya laptopmu. “Its okay,” katamu sambil merapikan rambut pendekmu. 

Aku agak lega karena Bahasa Inggrismu kira2 msh satu level lah denganku. Kalimatmu pendek2 rapi dengan tata bahasa yang apik dan kosakata yang belum pernah aku dengar seperti, “what is that building on our right hand side?”  

Apakah kamu masih susah membedakan kanan dan kiri? Awalnya aku kira karena kamu masih beradaptasi dengan kesemrawutan kota2 di Indonesia atau kamu cuma mau caper sama aku. Supaya aku mengantarmu ke mana2, mulai dari berbagai lorong di Sidotopo dan Ampel, sampai ke kafe2 di Surabaya. 

Saat itu pilihan kafe di Surabaya belum banyak seperti sekarang. Aku pernah mengajakmu ke sebuah warung kopi di dekat kampus, tapi kamu nampak kurang menikmatinya. Mungkin karena banyak nyamuk dan pria2 yg melihatmu. 

Baru di sebuah kafe di Tunjungan Plaza, aku melihatmu begitu santai dan bisa tertawa lepas.  Kamu ingat ga sih aku tidak mengoreksi caramu menyebut perahu menjadi pirahu? 

Kamu tertawa riang saat akhirnya aku beritahu yang benar adalah perahu? Derai tawa yang membuatku merasa menjadi pria paling diberkati se Surabaya timur.

Kamu menceritakan kesibukan penelitianmu. Aku yang cuma seorang staf biasa di universitas dan ditugaskan untuk menemanimu, hanya bisa sesekali menimpali. Selebihnya aku merasa sedang ikut mata kuliah antropologi yang diampu oleh seorang dosen yang menarik. 

Yang mengagetkan, kamu juga bercerita panjang lebar soal hubunganmu dg pacarmu di Jepang. “Hubungan kami serapuh tissue ini,”  katamu sambil meremas  tissue yang sempat aku gunakan untuk mengelap tumpahan kopi di meja. 

Sebelumnya kamu sempat cerita sedikit2 soal pacarmu itu. Aku membalasnya dengan menceritakan pacarku. Sesungguhnya saat itu aku berharap kamu cemburu mendengarkan cerita2 pacarku. Dan kadang, setibanya di rumah, aku suka berkhayal kamu memutuskan pacarmu seorang dokter muda yg membosankan itu, lalu memilih utk berpacaran denganku. 

Tentu saja itu hanya sekedar khayalan. Tapi di kafe itu, untuk sesaat aku merasa kita sudah berpacaran. 

Setelah kamu meremas tissue itu, aku mengenggam tanganmu. Aku seperti bisa merasakan semua kegelisahanmu. 

Seharusnya aku menciummu saat itu. Supaya ketika aku mengantarmu pulang ke bandara, aku bisa menciummu lagi saat kamu memintaku untuk  terus berkabar melalui email. 

Di saat aku menulis catatan ini, aku juga mencoba mencari tahu soal dirimu di facebook, instagram, dan twitter. Semuanya tanpa hasil. Di dunia di mana orang meninggalkan jejak digital, kamu seperti menghilang tanpa jejak. 

Aku cuma menemukan profil dirimu di sebuah situsweb dan abstrak penelitianmu. Mungkin kamu menggunakan nama lain atau nama samaran di media sosial. Mungkin kamu kembali ke pacarmu, menikah, lalu memiliki anak2 yang lucu. Semoga kamu mengingatku dan sesekali menyebutkan namaku. 

Seharusnya aku melakukan pesanmu untuk terus berkabar. Lebih jauh lagi, seharusnya aku berani untuk menjumpaimu di Osaka, seperti yang pernah kamu tuliskan di sebuah email kepadaku. 

Dengan demikian, aku akan bisa menulis jauh lebih banyak tentangmu, tentang kita. Aku mungkin juga akan bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu di sebuah hari yang sederhana di bulan Mei di Osaka, lalu mencium dan memelukmu. 

Salam dan doaku selalu untukmu, 

Cahaya 

Selamat ulang tahun, Ma

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Keluarga / Tentang kota

Perjalanan dari Surabaya ke Malang sekarang jauh lebih lancar dan nyaman dibanding tahun 2015, Ma. 2015 itu tahun terakhir Mama ke Malang denganku. Gerbang tol ada di Rungkut. Tidak perlu jauh – jauh ke bundaran Waru.

Jalan tol yg merentang dari Surabaya ke Malang ini mulus dan luas. Sekalipun agak padat krn musim mudik Lebaran setelah dua tahun terkurung di rumah karena pandemi , mobil2 berjalan dengan tertib. Seandainya Mama ikut, Mama ga perlu sampe nahan2 tangan di dashboard dan ngomel karena melihat aku ngebut. Biasanya Mama akan seperti itu di jalan yang menanjak sebelum Lawang.

Begitu masuk tol, tinggal tancap gas saja menempuh jalan tol sampai ke pintu keluar tol Pakisaji. Selepas pintu keluar, ada pertigaan dengan papan penunjuk jalan yang besar, lurus ke Sawojajar, belok kiri masuk ke kota Malang dan ke arah Blitar, kanan balik ke Surabaya.

Pertama kali lewat situ beberapa bulan lalu dengan Papa, aku berbelok kiri lalu belok kanan di sebuah pertigaan hingga tembus ke lapangan Rampal. Kemarin, di pertigaan itu, kami memutuskan berbelok kiri, lewat jalan kecil yang namanya Jalan Ki Ageng Gribig. Pasti Mama ga pernah dengar nama jalan itu. Papa aja baru dengar nama jalan itu. Mungkin kalau Kedungkandang, nama kecamatannya, Mama pernah dengar.

Jalan kecil itu tembus ke perempatan klenteng kota lama Malang. Kami memutuskan untuk singgah di Soto Lombok. Rame. Seandainya ga ketemu Tante Kadarwiyono ortunya Trevi yang datang serombongan dan ngajak ke lantai dua, Papa mungkin akan langsung ngajak pulang. Selesai makan, kami pamit cabut duluan ke keluarganya Trevy. Mereka mau liburan di salah satu hotel di Malang.

Perjalanan ke Krebet lancar jaya. Jalanan mulai padat di Pasar Bululawang hingga ke jalan utama sebelum masuk ke rumah. Sekarang di pertigaan mau masuk ke rumah ada dua orang yang membantu supaya mobil bisa masuk.

Sampai di rumah Krebet, aku masuk ke kamar tengah. Di situ biasanya Mama akan istirahat, setelah sebelumnya ngobrol2 dengan Mas Moko dan jalan2 ke dapur dan bagian belakang rumah.

Seperti itu rasanya skrg mengucapkan selamat ulang tahun ke Mama. Seperti membisikkan ucapan selamat ulang tahun kepada Mama yang sedang tertidur di kamar depan di rumah Krebet. Mama selalu terbangun kembali dan datang kepadaku di langit subuh dan senja, di obrolan2 dengan teman2, di roti bluder, di toko2 buku, dan di perjalanan dari Surabaya ke Malang.

Teman Pu Lahan

Leave a comment
Tentang kawan
Foto: Koleksi pribadi teman

“Pulang sudah. Ini hari Sabtu. Besok ibadah,” katanya sambil menyeruput Extrajoss susu. Aku tidak pernah memesan minuman kegemaran orang Timika itu. Tapi melihat temanku menyeruput segelas Extrajoss susu itu aku bisa mengerti kenapa minuman itu begitu digemari di sini.

Setelah menghabiskan Extrajoss susu, aku membantunya berkemas. Lumayan juga apa yang kami kerjakan hari ini. Mulai dari menyingkirkan kayu yang memalang jalan masuk ke lahannya, membersihkan sebagian kecil lahannya, menebar benih bayam, menanam beberapa biji alpukat, dan menerabas hutan di belakang lahannya. Rencananya mau lihat sungai yang menurut temanku itu bisa dijadikan tempat wisata alternatif di Timika. 

Dia bangga sekali dengan lahannya yang berlokasi sekitar 50 km dari Timika. Sejak punya lahan itu, setiap hari sabtu dia ke pergi ke lahannya. Di hari senin, dia akan menceritakan apa saja yang dia lakukan. Setelah beberapa kali cerita dan setelah sama2 isoman, akhirnya sekarang aku bisa melihat langsung lahannya. 

Dari Timika, kami melaju ke utara ke arah Kuala Kencana.  Kami berbelok ke kiri di perempatan sebelum Kuala Kencana, ke arah jalan Trans Papua yang rencananya akan menghubungkan Timika dengan Nabire. Itu rute yang biasa ditempuh orang Timika yang mau berwisata ke sebuah sungai yang Namanya Kali Pindah – pindah.  

Sebelum Kali Pindah – pindah, kami berbelok ke sebuah jalan makadam. Kurang lebih 1 km kemudian kami tiba di pinggir lokasi lahan. Setelah turun dari mobil, masih harus jalan kaki sekitar 500 meter menembus pepohonan yang membentuk kanopi yang menghalangi sinar matahari. Di  separuh gelap yang hijau itu, kata Goenawan Moehamad, yang kekal hadir. Tiap detik yang berlalu di Mimika ini, lagi – lagi meminjam kata – kata GM, seakan “menyelinap menyatu ke dalam klorofil” daun – daun dan batang – batang pepohonan ini.

Hingga akhirnya aku melihat sebuah bukaan lahan. Dia langsung memamerkan berbagai tanaman yang sudah dia tanam. Ada keladi, ubi, pisang, pinang, buah merah, bahkan tebu. Banyak juga. 

“Tanah luas jadi, apa saja kita bisa tanam. Kalau tidak tanam, rumput liar bisa tumbuh lagi,” katanya sambil menaruh hape dan tasnya di pondok kecil. “Tapi tanah di sini masih tidak seperti di Jawa. Tidak ada gunung api,” tambahnya lagi. Aku jadi ingat catatan Pram Ketika dia pertama tiba di Pulau Buru Bersama dengan ratusan Tahanan Politik korban Tragedi 1965. Pram mencatat di “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, tanah di Pulau Buru tidak subur dan sebaiknya dibiarkan jadi hutan dulu selama 100 tahun. Apakah hal itu juga berlaku di Papua? Rasanya tidak. Apalagi setelah melihat berbagai macam tanaman yang temanku semai dan mulai bertumbuh subur. 

Sebenarnya aku lebih sering duduk – duduk di pondok dan melihat temanku bekerja. Sesekali aku saja membantunya menebar benih dan menanam. Setelah sekitar 30 menit menyibukkan diri dia kembali ke pondok, mengajakku ke hutan di belakang lahannya, menceritakan bahwa sebenarnya dulu leluhurnya tinggal di sekitar sini sebelum kemudian pergi ke danau Tigi dan beranak pinak di sana, serta bagaimana dia berharap sepuluh tahun lagi lahan ini akan dinikmati hasilnya oleh dua orang anaknya, sambil membuka wadah minum yang ternyata berisi extrajoss susu, lalu mengajakku pulang. 

“Sebentar. Hape saya ketinggalan di pondok kah?” tanyanya sambil mencari di sekitar tempat duduk dan sekitar dashboard mobilnya. “Ah sudah, besok ibadah. Buat apa pikir hape?” balasku. “Ah, jangan, kita balik dulu, ya,” katanya. Mobil berbalik ke jalan makadam. Untung masih belum terlalu jauh dari lahan temanku.

Senja untuk Sukab

Leave a comment
Catatan Perjalanan

Sukab yang baik, 

Bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik dan sehat selalu. Apakah kamu masih suka memotong dan mengirimkan senja ke pacarmu? Siapa Namanya? Alina ya kalau tidak salah. Kita lama tidak bertemu dan berkomunikasi ya, Kab. Aku kadang bertemu denganmu di mimpi. Bahkan di mimpi kamu membicarakan hal – hal yang menarik dan mengajakku untuk minum kopi. Ketika terbangun aku lupa apa yang kamu bicarakan tapi aku masih ingat caramu ngobrol dan mengajak ngopi. Aku belum pernah menemukan teman seperti dirimu. 

Tapi aku menemukan senja yang kamu sukai. Mungkin itu sama dengan senja yang kamu potong dan kirim melalui pos ke Alina. Aku menemukannya di kampung paling barat kabupaten ini, Potowayburu. Seperti yang kamu bilang, di setiap senja di pantai, pasti ada burung – burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan perahu. Selain itu, ada juga pohon kasuari, tenda terpal yang terkoyak, dan berbagai macam bungkusan plastik di pantai. Jika senja bisa dibuat tiruan dan dijual di toko, dikemas dalam bungkusan plastik, seperti yang kamu bilang, mungkin senja juga akan berakhir menjadi bungkusan di tepi pantai ini. 

Sebelum aku menemukan senjamu itu, aku bersama rombongan berangkat menuju kampung di barat timur Potowayburu bernama Umar. Kami berangkat dari sebuah dermaga kecil di Potowayburu. Dermaga itu bertempat di dekat Lokpon. Di Timika aku sering mendengar nama Lokpon dan selalu mengira itu adalah varian lain dari kata lowong atau tanah kosong. 

Baru di Potowayburu itu aku sadar, setelah sebuah karyawan perusahaan kayu yang beroperasi di situ menunjuk sebuah tumpukan kayu besar di pinggir sungai, “itu lokpon-nya.” Karena tidak ada sinyal aku tidak bisa gugling kata “Log Pond” alias tempat penumpukan kayu. 

Begitulah, Kab, dari lokpon itu, kami menumpang sebuah speed boat menuju ke Umar. Hampir satu jam perjalanannya. Setiba di pantai tempat kapal berlabuh, sudah jam 12 siang. Aku mengetahuinya dari bayangan patok kayu yang ditanam di pinggir pantai dan merasakannya dari pasir yang panas membara. Untung aku masih menjinjing sandalku. 

Sukab yang mencuri senja demi Alina, 

Sebelum aku menceritakan dua hal lain, aku perlu menyampaikan sesuatu. Bukan, bukan soal aku jatuh suka kepadamu. Tapi soal kekagetanku mengetahui kamu sudah sampai di pulau ini. Aku tidak menyangka manusia kamar seperti dirimu bisa sampai ke tempat ini. Aku membacanya di buku yang berjudul Berita Kehilangan. Tahu gitu kita bisa ketemuan di Timika atau Jayapura. Aku akan mengajakmu ngopi di kedai kopi kecil milik seorang teman. 

Hal pertama mau aku ceritakan adalah kampung tadi. Kakiku kepanasan dan aku memakai sandalku lagi setelah sebelumnya aku jinjing setelah turun dari perahu. Aku merasa seperti balatentara Jepang yang mendarat di pantai Kekwa beberapa dekade lampau. Di sepanjang perjalanan dari pantai ke kampung, aku melihat anak – anak kecil berjalan kaki dengan kaki kosong. Mereka tidak Nampak kepanasan. Sudah sekolah kah? kelas berapa? tanyaku. Seseorang dari mereka menjawab, kelas 2. 

Apakah kamu juga menjumpai anak – anak di Gapudmutu? Apakah mereka bersekolah? Di tempatku datang itu, anak -anak tidak sekolah karena guru – guru sedang tidak ada di kampung. Seorang pemuda kuliah di Timika, tapi karena kehabisan biaya dia pulang ke kampung. 

Hal kedua adalah apa yang kami lakukan di kampung itu. Kampung kecil yang bersih dan tertata rapi. Aku pernah ke kampung seperti ini di pesisir Mimika. Namanya Ipaya. Setiba di kampung, kami langsung mengunjungi beberapa tempat lalu melakukan pertemuan dengan warga di balai kampung. Warga berdatangan. Tua muda anak2. Laki perempuan. Mereka datang menceritakan berbagai kegiatan di kampung dan menyampaikan harapan mereka. Tentu ini berbeda sekali dengan yang kamu lakukan di Gapudmutu. 

Setelah pertemuan itu, kami pamit dan mengunjungi kampung Yapakopa di arah timur. Kami mencapai kampung melalui sebuah sungai dan melakukan aktivitas serupa. Di kampung itu, harapan warga ada banyak sekali, tapi intinya mereka mau ada sekolah, fasilitas kesehatan yang baik, dan akses telekomunikasi.

Sukab yang ramah dan selalu ramah, 

Setelah dari kampung itu barulah kami kembali ke kampung Potowayburu. Kami tiba di kampung, bukan di dermaga kecil dekat lokpon tadi. Warga menyambut dengan meriah dengan tarian dan nyanyian. Aku melihat sebuah tifa yang dicat berwarna biru. Semua orang menari dan menyanyi. Mereka hidup dari ritme dan tarian. Kita, kamu dan aku mungkin, hidup dari ritme di Strava dan rutinitas. Dari balai kampung di tengah pertemuan, aku melihat senja. 

Orang – orang mengabadikannya dan menyimpannya. Seperti kamu. Dan seperti kamu pula, aku berjalan ke tepi pantai, memotret senja, dengan harapan aku bisa mengirimkannya kepadamu setiba di Timika nanti. Jika nomermu sudah berubah dan sudah dipakai orang lain, biarlah senja itu jadi tersimpan di handphone-nya. Syukur2 bisa jadi screensaver atau jadi foto profil WA dan menemani saat2 sunyinya. 

Lebih syukur lagi jika kamu bisa menemukan postingan ini. 

Doaku selalu untuk kesehatan dan kebahagiaanmu, Sukab.

Cahaya 

Meja Kerja Cahaya

Leave a comment
Tentang kawan / Uncategorized

Krek. Krekkk. Krek. Cahaya berdiri dari kursinya dan meregangkan kaki, jari jemari tangan, dan lehernya. Dia suka sekali suara2 itu. Suara2 yang pernah membuat seorang teman bulenya khawatir bahwa jari2 Cahaya pada patah. Dia juga tidak paham kebiasaan Cahaya minum Tolak Angin sacchetan. Cahaya tertawa mengingat itu. “Dasar bule,” katanya sambil beranjak dari mejanya.

Meja kerja Cahaya berada di sebuah kamar yang kecil. Ukurannya cuma 3 x 2 meter. Catnya abu2. Di atas meja kerja yg terbuat dari kayu besi itu cuma ada laptop, sebotol air, sebuah earphone warna putih, kotak plastik berisi buku tulis dan kain lap warna biru, sebuah handphobe, dan segelas kopi dengan sendok kecil terkulai di lepek.

Sekalipun kadang sumpek, apalagi jika cuaca Timika sedang panas, Cahaya suka dengan meja kerjanya, karena menghadap ke sebuah jendela kecil dan pemandangan rerimbunan batang2 lengkuas setinggi 2 meter. Biasanya setelah melakukan peregangan lengkap dengan suara krek2 itu, Cahaya tetap dalam posisi berdiri lalu menyalakan sebatang rokok. Asap rokok berhembus keluar dari jendela menimpa batang2 lengkuas.

Tiba2 dia teringat teman bulenya lagi, yang kini tinggal di sebuah rimba luas di Ekuador. Setiap bulan Cahaya rutin mengirimkan tulisan2nya utk temannya itu.

“Tulisanmu sama buruknya dg roman2 picisan yang saya baca di sini. Itu kenapa saya suka tulisan2mu. Tetap kirim saya, ya. Haha!” Kata bule itu.

“Taek,” balas Cahaya.

“Taek? Apa itu?” Tanya si bule yg tidak paham Bahasa Indonesia.

“Sama dengan baik, baek,” balas Cahaya.

“Ah, bagus sekali,” kata si Bule yg kemudian meneruskan tawanya.

Dialog itu berakhir dengan si bule yang memamerkan meja tempatnya membaca. Mejanya tinggi. Di pinggir sungai, si bule tua itu membaca perlahan2 cerita cintanya. “Momen2 kenikmatan” katanya.

Cahaya menatap mejanya sendiri. Meja yg tiba2 terasa pendek, jauh di bawah, mencengkeram tubuhnya ke kursi reot, menjauhkannya dari batang2 lengkuas.

.

Cahaya kemudian menyingkirkan mejanya, lalu membuat meja baru. Meja setinggi pinggangnya, yang membuatnya bisa menulis dalam posisi berdiri. Cahaya berharap dia bisa menulis cerita2 yg lebih buruk lagi si bule tua. Cerita2 yg mirip dg yg ditemui si bule tua di Ekuador. Tentang orang utan yg makin terdesak krn hutannya habis, seperti macan kumbang di Ekuador dan tentang kota yang akan dibangun di tengah belantara mirip Amazon. Cerita2 yg akan membuat Antonio Jose Bolivar, si bule tua itu, terduduk setelah membaca, dan menggumam, “ini taek sekali.”

Suatu Sore di Kantor Ema

Leave a comment
Tentang kawan

“Timika, seh, siang panas bokar, sore hujan besar,” keluh Ema sambil menatap layar komputer. Sudah jam 5 sore, tapi Ema masih belum bisa pulang. Bukan karena hujan besar, tapi karena tugas kuliahnya yang belum kelar. Melanjutkan kuliah sambil kerja memang tidak mudah. Bagi Ema, itu sebuah tantangan tersendiri.

“Masih sibuk, kah?” tanya Astri, rekan kerja Ema. “Kasih selesai tugas kuliah ini yang…. Sa baru bisa bikin tadi siang. Kalau di rumah tra bisa kas selesai ini. Ka Astri mau pulang kah? Masih hujan besar ini.” tanya Ema. “Iyo. Pace ada tunggu depan kantor itu.” balas Astri.

Ema menoleh ke jendela besar di balik meja kerjanya. Benar, sebuah mobil avanza putih su parkir di balik pagar kantor. Hujan masih turun dengan deras. Suasana sudah mulai gelap.

Kantor Ema terletak di sebuah ruas jalan Timika yang dulu disebut dengan Jalan Freeport. Kalau malam agak sepi. Meja kerja Ema menghadap pintu masuk ruangannya. Di lorong balik pintu itu juga sudah gelap. Kenapa tidak ada yang kasih nyala lampu kah? Batin Ema.

Mendadak hujan agak mereda, tapi anehnya suhu jadi agak dingin. Ema meraih remote pendingin ruangan di meja Dokter Desi dan mematikan pendingin ruangan. Tapi Ema merasa ruangan masih agak dingin. Belum sampai di mejanya Kembali, Ema merasa ada sosok manusia di pintu masuknya. Sosok itu berdiri tepat di pintu masuk. Perempuan, sudah agak tua, rambutnya pendek, mengenakan kaos warna putih dan membawa kantong plastik warna hitam. Belum habis kaget Ema, perempuan itu sudah menyapanya.

“Anak, saya mau pulang ke rumah.” Katanya sambil menatap Ema, tapi tidak seperti menatap juga. “Aduh, ibu, bikin kaget saja. Rumah di mana, kah?” tanya Ema.

Si ibu menyebut nama sebuah daerah di Timika. Lumayan jauh jaraknya dari kantor. Ema mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Cukup untuk ongkos ibu itu naik ojek ke rumahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, si ibu langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan Ema yang berdiri bingung.

Ema kembali duduk di kursinya dan menatap layer komputernya. Tapi pikirannya masih ke ibu misterius itu. Di luar, hujan kembali turun dengan deras. Hmm…Bagaimana ibu itu bisa tidak basah padahal tadi di luar hujan deras. Dia bawa payung, kah? Pikir Ema.

Ema mengintip keluar melalui jendela besar di belakang meja kerjanya. Seharusnya ibu itu masih ada di depan. Tidak ada orang sama sekali. Tiba2 Ema merasa bulu kuduk di tengkuknya berdiri.

Ema berlari ke luar ruangannya. Lorong dan lobi kantor masih gelap. Benar. Tidak ada orang sama sekali. Sambil berteriak, Ema bertanya ke Satpam apakah benar tadi seorang perempuan agak tua yang masuk ke kantor. “Tidak ada, ibu. Saya dari tadi duduk di sini tidak ada orang masuk,” Balas pak satpam dengan wajah kebingungan. Ema bergidik.

Ema langsung berlari Kembali ke ruangannya. Menyimpan semua barang2nya dan mengunci pintu. Dalam perjalanan pulang, Ema memikirkan ibu misterius itu. Tiba2 dia merasa menyesal, kenapa tidak tanya nomor togel ke ibu itu.

Sebuah Perjalanan

Leave a comment
Catatan Perjalanan

Foto Kapal Motor (KM) Dobonsolo ini diambil seorang teman, sekitar jam 5 sore tidak lama setelah terompet kapal berbunyi dan kapal meninggalkan pelabuhan Jayapura.

“Sio, sayang,” katanya. Dia teringat dirinya menumpang KM Ciremai 26 tahun lalu untuk kuliah di sebuah universitas swasta terkemuka di Semarang. Setelah lulus dan meraih gelar Sarjana Ekonomi (Akuntansi), barulah ia kembali ke Jayapura pada tahun 2001.

Jayapura sdh banyak berubah saat itu, katanya. Pasar yang dulunya di Abepura pindah ke Youtefa, ke daerah yg di masa dia masih SMA adalah daerah rawa, hutan sagu, dan sering banjir.

Dia tdk heran jika sekarang pasar itu dan beberapa tempat di daerah itu jadi tempat langganan banjir. Yang bikin dia heran adalah derasnya curah hujan di Jayapura pada awal Januari 2022 kemarin.

“Tahun kembar (tahun 2022 maksudnya) ini memang….” katanya. Memang apa? Tanyaku balik. Pria kelahiran Paniai itu diam saja sambil mengeluarkan sebungkus rokok rasa jeruk dan memandang KM Dobonsolo yg semakin menjauh. Mungkin dia mau bilang dunia sudah berubah. Aku tdk bertanya lagi.

Tiga Kisah dalam Satu Kota

Leave a comment
Buku / Tentang kota

Judul: Lupakan Aleppo

Penulis: Paola Salwan Daher 

Penerjemah: Lisa Soeranto

Penerbit: CV. Marjin Kiri, Tangerang Selatan, 2020

Tebal: 110 halaman

Tiga kisah di dalam novel ini menunjukkan bagaimana manusia berjuang menghadapi dampak dari agresi, konflik politik, dan tekanan masyarakat yang patriarkis.  

Abu Nuwas, yang terusir dari tanah airnya di Jaffa, Palestina; Shirine, seorang perawat yang memutuskan untuk meninggalkan Beirut, Lebanon yang diporakporandakan perang saudara; dan Noha, seorang perempuan Arab yang meninggalkan Paris ke Syria hanya demi menyenangkan ayahnya lalu menikah dengan seorang pria bernama Fouad. Mereka kemudian memulai kehidupan baru di Aleppo, Syria.

Abu Nuwas menjadi seorang pawang merpati yang terbaik di Aleppo, Shirine menjadi seorang pemandu wisata, dan Noha, sebagai seorang istri. Shirine dan Noha saling mengamati dari balkon apartemen mereka masing – masing.

Shirine berjuang menghadapi kenangan akan Beirut dan konflik yang mengoyak kota tercintanya itu, Georges kekasihnya yang gugur, dan perkembangan situasi di Aleppo. Dengan semua yang telah dialaminya itu, Shirine tidak mengejar akhir bahagia dari serangkaian kisah pilu akibat konflik. Bagi Shirine, dia sudah tidak punya tujuan untuk menjadi bahagia. “Hidupku harus bermanfaat dan patut dikenang, atau tidak hidup sama sekali.” (Hal. 75) 

Berbeda dengan Shirine yang sudah memilih jalan ninjanya tersebut, Noha berjuang menghadapi tragedi pribadi, menghadapi seorang suami yang menggilas identitasnya. Mereduksi dirinya sekedar jadi seorang istri yang submisif, sebuah “kartu nama yang bernyawa.” (Hal. 42) Noha menyadari dirinya “bukan sekedar adendum dari eksistensi seorang laki – laki yang tidak akan memberiku kepuasan.” (Hal. 55) 

Shirine dan Noha kemudian dipertemukan ketika Noha overdosis obat antidepresan. Sebuah pertemuan yang kemudian membuat Shirine menghentikan pertanyaan-pertanyaan untuk dirinya sendiri, mulai menyimak kisah Noha (Hal. 108), dan menemani Noha mengambil langkah berani dalam kehidupannya. 

Sementara di sisi lain Aleppo, Abu Nuwas memandang langit Aleppo dan merpati-merpatinya sambil terus mengenang Lamis dan tanahnya yang “dirampas oleh Bencana Nakba.” (Hal. 68) 

Menghadapi agresi, konflik, dan tragedi, apalagi yang bisa dilakukan manusia selain tertawa, tertawa, dan meneruskan perjuangan? 

Burung Kayu

Leave a comment
Buku

Burung Kayu

Penulis: Niduparas Erlang 

Editor: Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi

Penerbit: CV. Teroka Gaya Baru, Padang – Jakarta, 2020

Tebal: 174 halaman

Novel ini berlatar belakang kehidupan masyarakat Mentawai, tentang konflik antar suku dan uma yang terus diwariskan dan konflik yang lebih struktural antara kearifan lokal yang tidak berdaya menghadapi pembangunanisme yang datang dari pusat. Dua kisah yang juga bisa kita temukan di Papua. 

Saengrekerei, tokoh utama novel ini, adalah seorang pemuda dari suku-sura-boblo, uma Baumanai. Saengrekerei pernah mencoba menyekap seorang perempuan dari uma seberang. Tapi perempuan itu berhasil melarikan diri dan meninggalkan Saengrekerei memendam hasrat dan tindakannya itu, takut menambah keruwetan konflik yang sudah ada antar uma Baumanai dan Babuisiboje. 

Tapi kemudian Aman Legeumanai, kakak Saengrekerei, meninggal terjatuh dari ketinggian usai menenggerkan “burung-enggang–kayu” dan menudingkan parangnya ke arah uma yang dipermalukan (Hal. 60). Sepeninggal Aman Legeumanai, uma mengharuskan suami mendiang menikahi salah satu adik ipar yang masih membujang (Hal. 67). Maka, Saengrekerei menikahi Taksilitoni, nama kecil dari Bai Legeumanai, istri Aman Legeumanai dan menjadikan Legeumanai sebagai anaknya. 

Cerita kemudian bergeser dari uma ke barasi, dusun bikinan pemerintah. Di uma ada sikerei, di barasi cuma ada polisi. Uma adalah perlindungan, barasi ketercerabutan.

Demikian juga dengan sengketa, beralih dari antara suku – uma menjadi antara pemerintah dan orang Mentawai yang sudah menjadi “warga.” Saengrekerei dan keluarga barunya tinggal di barasi dan dia didapuk sebagai pimpinan desa. Sebagai pimpinan desa, Saengrekerei kemudian menemukan dirinya berada di antara pemerintah dan warganya dalam proses pembentukan Taman Nasional yang luasnya lebih dari separuh pulau Siberut. Yang diserahkan ke pemerintah 36 hektar, yang dicatat malah 360 hektar. 

Menariknya, Saengrekerei malah ingin anaknya jadi sasareu, menyeberang ke Tanah Tepi (Hal. 121), sekolah, dan jadi PNS seperti orang Padang. Kau tak perlu belajar berburu seperti teteu-teteu-mu atau bajak-bajak-mu di hulu (Hal. 143), kata Saengrekerei kepada Legeumanai. Tapi Legeumanai sendiri kemudian malah terpanggil untuk menjadi seorang Sikerei

Novel ini bisa dibandingkan dengan Orang – orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Berlatarbelakang kehidupan di sebuah tempat di Indonesia yang jarang didengar oleh orang Indonesia, apalagi dipahami. Yang masyarakatnya berhadapan dengan negara dan agama. 

Bedanya, di Burung Kayu ini kita pembaca diposisikan sebagai pendengar, yang harus sabar membaca halaman demi halaman tanpa catatan kaki atau indeks di akhir buku yang menjelaskan arti kata – kata bahasa Mentawai yang banyak bertaburan di novel ini. 

Itu yang mungkin tidak dialami oleh orang Mentawai yang ingin disampaikan penulis, didengarkan dan dipahami. Gaya hidup di uma mereka lebih banyak diejek-dicela dan dijanjikan kesejahteraan-kemajuan-pendidikan-pelayanan (Hal. 167).

Catatan Malaria

Leave a comment
Papua

Malam senin awal minggu pertama bulan Mei, belum lama setelah membaca sebuah novel yang seorang tokohnya kena Malaria tetiba tubuh saya rasanya agak sedikit menggigil. Saya sudahi dulu membaca Burung Kayu karya Niduparas Erlang dan beranjak tidur sambil agak menggigil.

Malam berikutnya, tubuh makin terasa menggigil dan muncul rasa nyeri di lutut kiri. Di masa pandemi seperti ini, mengalami gejala seperti itu langsung menimbulkan tanya. Dan karena di Papua, pertanyaanya kemudian jadi; ini Covid atau Malaria? Atau Flu Tulang seperti yang dulu pernah mampir di tubuhku. 

Besok paginya, situasinya semakin jelas. Saya masih bisa mencium dan merasakan aroma kopi dan roti bakar, masih bisa bernafas dengan baik. Setelah selesai sarapan, tetiba muncul rasa pahit di mulut, perut terasa mual, lalu muntah. Setelah muntah agak mendingan rasanya tapi tidak lama kemudian tubuh kembali menggigil. Sepertinya ini malaria, deh. Supaya lebih pasti, saya memeriksakan diri ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Timika. 

Setelah mendaftarkan diri, saya mulai diperiksa. Berat badan 72 Kg, tekanan darah lupa berapa tapi normal menurut Ibu Suster. Kata Bu Suster lagi, jantung berdenyut agak kencang karena suhu tubuh tinggi, 38ºC. 

Di masa awal Covid melanda Timika di bulan Maret 2020, saya sempat tidak diperbolehkan masuk sebuah bank di Timika karena suhu tubuh saya tercatat 37,5 ºC di mesin pemeriksa suhu tubuh. Saya agak melawan waktu itu. Kalau suhu segitu saya tidak bisa jalan santai begini, coba cek lagi kah, pintaku kepada petugasnya. Ternyata benar, Cuma 36 ºC. Kali ini saya merasakan sendiri bagaimana beraktivitas dengan suhu tubuh tinggi. Agak melayang di suasana ambang batas, antara panas dan dingin, pusing dan ringan, keruwetan dan keindahan hidup. 

Setelah diberi paracetamol untuk menurunkan suhu tubuh, saya diminta untuk tes darah. Tidak lama kemudian hasilnya keluar, Malaria Tropika plus dua. Sirbeh! 

Di loket obat, ketika saya menerima empat buah pil warna biru yang harus diminum sekaligus setiap harinya selama tiga hari, seorang anak kecil di sebelahku tertawa kecil mendengarnya. Aku tersenyum balik kepadanya sambil berbisik, banyak juga ee, lalu berjalan pergi membawa semua obat2an yang diberikan. Belum lama saya berjalan, anak itu menowel dan menyorongkan botol minumku yang ternyata ketinggalan di loket obat. 

Sekarang, lima hari kemudian, semua obat itu sudah habis saya konsumsi. Tadi siang dalam perjalanan ke Timika untuk membeli beberapa barang, masih tersisa sedikit pusing dan demam, badan masih belum sepenuhnya bugar. Tapi sudah tidak sepayah dua hari sebelumnya, ketika demam, mual, pusing, datang silih berganti. 

Semangat makan juga sudah mulai membaik. Lima hari sebelumnya, saya hanya mampu makan beberapa sendok nasi. Beberapa teman yang pernah kena malaria malah tidak bisa makan sama sekali ketika Malaria datang di tubuh mereka. Tapi ada juga yang malah nafsu makan meningkat hingga berat badannya naik setelah sembuh dari Malaria. 

Penyakit aneh memang Malaria ini. Dia seperti bisa mendengar kita. Ketika saya sudah merasa sembuh pada hari ketujuh, tetiba kepala jadi pusing saat menata ulang buku di rak buku. 

Hari kesembilan, hari Senin, 10 Mei 2021, saya sudah merasa sehat dan kuat. Porsi makan sudah kembali ke porsi sebelum sakit. Masih ada sedikit pusing tapi saya merasa bisa beraktivitas di kantor. Hingga kemudian pada hari kedua Lebaran, 14 Mei 2021, usai berkunjung ke rumah seorang teman, demam kembali melanda di malam hari, berkeringat, dan susah tidur. Bahkan di dalam mimpi saya merasa lelah sekali dan ingin tidur. 

Keesokan pagi, setelah sarapan, saya muntah lagi. Terasa nyeri di siku kanan. Saya memutuskan untuk kembali ke RSMM untuk memeriksakan diri. Sampel darah kembali diambil. Sebagai antisipasi, saya juga meminta untuk tes antigen. 

Hasilnya, tekanan darah 130/80. Normal. Tes antigen negatif. Sampel darah menunjukkan tidak ada malaria lagi. Lalu apa? Dokter Theresia menjelaskan, saya jatuh sakit lagi karena leukosit di tubuh saya meningkat melebihi ambang batas normal. Hal itu terjadi karena ada infeksi dan normal bagi orang yang baru sembuh dari Malaria. Saya semakin salut dengan teman – teman Papua yang sekalipun Malaria tapi masih bisa beraktivitas. Sekalipun kemudian seringkali saya dengar ambruk juga ketika di rumah. 

Beberapa teman dengan bangga menyebutkan sampai sudah bosan kena Malaria. Kalau belum kena Malaria, belum jadi orang Papua, adalah sebuah ungkapan yang sering saya dengar. Ungkapan yang getir.

Menurut sebuah artikel di situsweb Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekalipun tren Malaria menurun, masih ada tiga provinsi di Indonesia yang “belum mencapai eliminasi Malaria”, yakni, Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Saya jadi bisa membayangkan perkataan Nagabonar, yang sepertinya tidak mendapatkan perawatan Malaria, ketika ditanya apakah masih Malaria atau tidak oleh Maryam. Nagabonar menjawab dengan ringan, datangnya seperti kereta Medan Tebing Tinggi, kalau lewat dia (Malaria), bergoyang rumah. Tanpa pengobatan, Malaria bisa bercokol di tubuh kita cukup lama. 

Saya kembali menerima obat, tapi bukan obat Malaria lagi. Pemulihannya memakan waktu kurang lebih tujuh hari, ketika Omeprazole terakhir sudah habis saya minum. Dua hari kemudian, saya dijadwalkan mengikuti vaksinasi Covid. Beberapa teman menyarankan saya untuk tidak divaksin karena baru sembuh dari Malaria. Tapi saya putuskan untuk berkonsultasi dengan dokter di saat screening sebelum vaksinasi. 

Setelah saya ceritakan riwayat sakit Malaria saya, Pak dokter dari Puskesmas Timika Jaya yang saya lupa namanya itu mengatakan bahwa saya bisa menerima vaksin Covid. “Jangankan yang baru sembuh, yang masih dalam pengobatan Malaria dan TBC saja ada yang menerima vaksin Covid,” imbuhnya. Baiklah, maka kemudian Sinovac mulai mengalir di dalam tubuh saya. 

Saya jadi membayangkan, semoga setelah usaha keras vaksinasi Covid di Indonesia ini, ada usaha juga untuk memberikan vaksin Malaria bagi orang Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.