Surat untuk Keiko

Leave a comment
Tentang kawan

Halo Keiko, 

Bagaimana kabarmu? Semoga sehat dan baik selalu. Bagaimana kabar kotamu, Osaka? Semoga sudah tidak dicekam oleh pandemi. Di sini, pandemi seperti sudah benar -benar berlalu. Di Surabaya, hingga bulan Maret 2022 masih ada yang meninggal dan dimakamkan dengan prosedur Covid. Aku kurang tahu bagaimana di bulan Mei ini. 

Di bulan Mei ini aku malah teringat dirimu. Kamu berulang tahun di bulan Mei ini. Selain itu, beberapa belas tahun lalu di bulan Mei kamu tiba di Surabaya untuk sebuah proyek penelitian. Saat itu aku ditugaskan untuk menjemputmu di bandara. Berbekal sebuah kertas bertuliskan namamu dan ingatan dari fotomu yang aku lihat di komputer kampus, aku menunggu di depan pintu kedatangan. Itu pengalaman pertamaku menjemput orang di bandara. 

Aku tidak tahu bahwa akan ada banyak orang yang menjemput. Sambil agak berdesakan aku mengamati semua orang yang keluar dari pintu kedatangan. Melihat beberapa orang juga memegang kertas bertuliskan nama sambil memanggil-manggil nama orang itu, aku merasa konyol. Mau ikut manggil tapi kok ya malu. Mau diem aja takut kelewatan. 

Tepat di saat aku menunduk untuk mengeluarkan bungkus rokok, aku mendengar suara perempuan memanggilku, “Kahaya – san?” Belakangan aku baru tahu bahwa di Bahasa Jepang, Ca dieja menjadi Ka. 

Kamu benar – benar jauh dari bayanganku tentang orang dari “luar negeri.” Tinggi badanmu tidak lebih tinggi dariku. Di punggungmu tidak tersanding tas ransel besar. Yang ada sebuah tas selempang berwarna merah. Sambil berjalan memutar pagar pembatas, kamu menyeret sebuah koper besar berwarna biru. Rasanya seperti menjemput teman kuliah yang baru pulang bepergian dari Jakarta.  

Dalam perjalanan mengantarmu ke hotel, aku mendadak jadi pengemudi yang bodoh. Aku bingung antara harus lebih berhati2 mengemudikan mobil, mencari bahan pembicaraan dan berdiskusi dalam Bahasa Inggris.  Beberapa kali aku menginjak pedal rem agak mendadak, hingga tas selempangmu yang kamu taruh di jok belakang terjatuh ke bawah. Gedubrak. Ternyata isinya laptopmu. “Its okay,” katamu sambil merapikan rambut pendekmu. 

Aku agak lega karena Bahasa Inggrismu kira2 msh satu level lah denganku. Kalimatmu pendek2 rapi dengan tata bahasa yang apik dan kosakata yang belum pernah aku dengar seperti, “what is that building on our right hand side?”  

Apakah kamu masih susah membedakan kanan dan kiri? Awalnya aku kira karena kamu masih beradaptasi dengan kesemrawutan kota2 di Indonesia atau kamu cuma mau caper sama aku. Supaya aku mengantarmu ke mana2, mulai dari berbagai lorong di Sidotopo dan Ampel, sampai ke kafe2 di Surabaya. 

Saat itu pilihan kafe di Surabaya belum banyak seperti sekarang. Aku pernah mengajakmu ke sebuah warung kopi di dekat kampus, tapi kamu nampak kurang menikmatinya. Mungkin karena banyak nyamuk dan pria2 yg melihatmu. 

Baru di sebuah kafe di Tunjungan Plaza, aku melihatmu begitu santai dan bisa tertawa lepas.  Kamu ingat ga sih aku tidak mengoreksi caramu menyebut perahu menjadi pirahu? 

Kamu tertawa riang saat akhirnya aku beritahu yang benar adalah perahu? Derai tawa yang membuatku merasa menjadi pria paling diberkati se Surabaya timur.

Kamu menceritakan kesibukan penelitianmu. Aku yang cuma seorang staf biasa di universitas dan ditugaskan untuk menemanimu, hanya bisa sesekali menimpali. Selebihnya aku merasa sedang ikut mata kuliah antropologi yang diampu oleh seorang dosen yang menarik. 

Yang mengagetkan, kamu juga bercerita panjang lebar soal hubunganmu dg pacarmu di Jepang. “Hubungan kami serapuh tissue ini,”  katamu sambil meremas  tissue yang sempat aku gunakan untuk mengelap tumpahan kopi di meja. 

Sebelumnya kamu sempat cerita sedikit2 soal pacarmu itu. Aku membalasnya dengan menceritakan pacarku. Sesungguhnya saat itu aku berharap kamu cemburu mendengarkan cerita2 pacarku. Dan kadang, setibanya di rumah, aku suka berkhayal kamu memutuskan pacarmu seorang dokter muda yg membosankan itu, lalu memilih utk berpacaran denganku. 

Tentu saja itu hanya sekedar khayalan. Tapi di kafe itu, untuk sesaat aku merasa kita sudah berpacaran. 

Setelah kamu meremas tissue itu, aku mengenggam tanganmu. Aku seperti bisa merasakan semua kegelisahanmu. 

Seharusnya aku menciummu saat itu. Supaya ketika aku mengantarmu pulang ke bandara, aku bisa menciummu lagi saat kamu memintaku untuk  terus berkabar melalui email. 

Di saat aku menulis catatan ini, aku juga mencoba mencari tahu soal dirimu di facebook, instagram, dan twitter. Semuanya tanpa hasil. Di dunia di mana orang meninggalkan jejak digital, kamu seperti menghilang tanpa jejak. 

Aku cuma menemukan profil dirimu di sebuah situsweb dan abstrak penelitianmu. Mungkin kamu menggunakan nama lain atau nama samaran di media sosial. Mungkin kamu kembali ke pacarmu, menikah, lalu memiliki anak2 yang lucu. Semoga kamu mengingatku dan sesekali menyebutkan namaku. 

Seharusnya aku melakukan pesanmu untuk terus berkabar. Lebih jauh lagi, seharusnya aku berani untuk menjumpaimu di Osaka, seperti yang pernah kamu tuliskan di sebuah email kepadaku. 

Dengan demikian, aku akan bisa menulis jauh lebih banyak tentangmu, tentang kita. Aku mungkin juga akan bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu di sebuah hari yang sederhana di bulan Mei di Osaka, lalu mencium dan memelukmu. 

Salam dan doaku selalu untukmu, 

Cahaya 

The Author

Sementara ini tinggal di Timika, Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s