Membaca “Kibaran Sampari” dan Hal-hal Lain yang Menyertai

Leave a comment
Buku / Papua

IMG_3709-res copy

Proses membaca buku karangan Robin Osborne ini tidak seintens saat aku membaca beberapa buku sebelumnya. Buku ini aku baca di akhir pekan pertama bulan Desember 2015, di saat aku sibuk membuat revisi laporan akhir tahun Program Pendidikan LPMAK, memikirkan rencana-rencana liburan dan resolusi tahun 2016 (kecuali revisi laporan akhir tahun, tidak ada yang bisa aku pikirkan dengan baik dan fokus). Format buku juga kurang nyaman untuk dipegang. Jenis kertas ditambah dengan ukuran huruf yang lumayan besar membuat jumlah halaman jadi banyak, 451 halaman sudah termasuk dengan Index.

Suatu saat, aku membaca di teras rumah. Di rumah seberang, Daniel, anak terkecil keluarga Omaleng sedang bermain jendela rumah sambil pakai popok kedodoran. Minyu menemaniku membaca sambil memanfaatkan waktu bermain di luar rumah. Beberapa hari sebelumnya, entah kenapa Minyu jadi was-was setiap kali mainan di dalam rumah. Di dalam rumah, Vembri dan Pipin sedang masak.

Melihat Minyu bermain dengan riang membuatku agak lega. Kemarin dia juga takut main di luar rumah karena mendadak muncul lima orang dari Dinas Pendapatan Daerah. Mereka tanya ini itu. Suasana semakin meriah ketika Pak Ronald sang pemilik rumah muncul. Pak Ronald agak keberatan dengan kunjungan yang mendadak itu. Suaranya bahkan sempat meninggi. Aku dan Vembri jadi pendengar diskusi menarik itu.

Seorang staf cewek, mungkin karena bosan dengan pekerjaannya, melihat rumah kucing dan bertanya-tanya soal kucing. Kenapa kok bisa banyak dan apa makannya. Dalam hati aku berharap semoga delapan ekor kucing ini tidak dikenai pendapatan daerah. Ketika mereka pamit pulang aku baru sadar kalau aku membiarkan pintu kasa terbuka lebar. Minyu bisa kabur ini, pikirku saat itu. Ternyata, setelah dicari keliling rumah, Minyu sedang sembunyi di kamar Vembri. Kucing yang makin gendut itu rupanya ketakutan mendengarkan keributan di teras rumah. Setelah disayang-sayang dan diberi cemilan kesukaannya, Minyu mulai berani beranjak ke ruang tengah rumah. Syukurlah.

Kalau Minyu sampai tidak bisa bermain dengan gembira lagi, semakin tidak terperikan lagi segala perubahan yang terjadi dalam setahun ini. Aku cuma bisa mengamati, mencatat, dan membacai buku-buku yang ada di rak bukuku. Salah satunya adalah Kibaran Sampari, dalam Bahasa Inggris judulnya “Indonesia’s Secret War; the Guerilla Struggle in Irian Jaya.”

Baca lebih lanjut di situsweb Sastra Papua

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s