Ketinggalan Pesawat

Leave a comment
Catatan Perjalanan

petawat

Waktu menunjukkan pukul 16:30 WIB, masih 5 menit lagi dari waktu boarding yang tertera di tiket. Dengan pongahnya aku mengira keberangkatan pasti akan molor karena berbagai alasan, sebagaimana biasanya maskapai lokal.

Sekalipun pongah aku tetap datang di bandara Juanda lebih awal. Jam 16:00 aku sudah selesai check-in dan bergerak ke lantai dua. Setelah memastikan gerbang tempat pesawat akan mabur, aku menunggu di ruang merokok. Setelah dua batang rokok, jam 16:20-an aku jalan dengan santai ke ruang tunggu.

Di pemeriksaan X-Ray, petugas sangat kaget begitu melihat tiketku. Wah, sudah dipanggil dari tadi, mas. Katanya. Coba mas tanya ke petugas di situ, ujarnya sambil menunjuk seorang pria muda berkemeja putih yang berdiri di depan sebuah meja pemeriksaan tiket.

Aku sontak kaget. Sedari tadi aku menunggu di ruang merokok sampai di depan ruang tunggu, memang ada banyak pengumuman yang aku dengar. Tapi tidak satupun yang kudengar memanggil namaku. Memang saya dengar ada pengumuman, tapi tidak ada yang sebut Wings Air jurusan ke Yogya atau panggil nama saya, ujarku ke pemuda itu.

Awalnya dia bilang karena kebijakan Silent Airport yang diterapkan pengelola Bandara Juanda Surabaya sejak dua tahun lalu. Itu artinya di Juanda kita akan tidak mendengar pengumuman jadwal penerbangan melalui pengeras suara. Penumpang diharuskan mengikuti jadwal di papan informasi yang disediakan. Beberapa bandara udara internasional di Eropa sudah menerapkan kebijakan itu sejak tahun 2012.

Ketika diterapkan di Juanda, banyak orang mengeluh karena ketinggalan pesawat. Bahkan seingatku pernah seorang pengacara muda Surabaya menuntut pengelola Bandara Udara Juanda karena dia ketinggalan pesawat gara-gara silent airport ini.

Entah masih diterapkan atau tidak, alasan silent airport itu tidak aku terima, karena aku mendengar banyak sekali pengumuman keberangkatan pesawat. Saya sudah panggil 20 kali mas, katanya lagi dengan alasan yang baru.

20 kali panggilan itu rupanya hanya dilakukan di ruang tunggu, bukan dengan pengeras suara. Jelas aja saya ga dengar, mas, bantahku. Tapi dia bergeming. Pesawat sudah akan berangkat, katanya. Jancuk, makiku dalam hati. Di luar aku tidak melihat pesawat jenis ATR yang mulai bergerak ke landas pacu. Dia petugas yang baik dan tenang. Seandainya aku marah, dia pasti tidak langsung balas marah. Aku menduga dia akan ngeloyor pergi begitu saja jika aku marah.

Lagian ini jelas-jelas salahku sendiri, yang tidak mengikuti keterangan di tiket. Berbeda dengan tiket Garuda yang dicetak di kertas lumayan tebal dan kaku. Mungkin kertas berat 100 gram. Di situ tertera secara urutan keterangan boarding dan take-off. Sementara tiket Wings Air cuma seperti nota belanja. Tipis dan Keterangan boarding time: 16:05 tertera di sebelah kiri. Sedangkan flight time 16:35 di bagian kanan tiket. Sesuai dengan jam keberangkatan di Traveloka. Ketika aku lipat jadi dua yang nampak hanya keterangan boarding time. Dipadukan dengan sikap meremehkan maskapai lokal, jadilah aku terlambat terbang. Goblik…

Sambil berjalan keluar ruang tunggu aku jadi teringat bagaimana pada tahun 2008 aku diselamatkan oleh keajaiban dari peristiwa semacam ini. Saat itu aku sedang di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, menunggu penerbangan Garuda lanjutan ke Timika. Aku tiduran di depan sebuah tempat makan tidak jauh dari pintu masuk terminal keberangkatan (saat itu bandara Ngurah Rai masih belum sebagus sekarang). Sekitar jam 1 dinihari aku berjalan dengan barang-barangku ke counter check-in dan mendapati counter sudah tutup. Seorang petugas dengan tersenyum bilang kalau sudah tutup sejak setengah jam lalu.

Aku mbribik bilang kalau aku ga mungkin nunggu pesawat berikutnya karena itu berarti harus nunggu semalam lagi. Dan harus keluar uang sekitar 2 juta untuk beli tiket ke Timika. Mendadak si petugas menawarkan solusi menarik, bisa tetap berangkat dengan upgrade ke Kelas Bisnis. Untuk itu aku harus membayar 700 ribu rupiah. Aku setuju dan terbanglah aku dengan Kelas Bisnis untuk pertama kalinya.🙂

Dengan rute pendek Surabaya – Yogyakarta ini kemungkinan semacam pengalaman di Bali itu tidak mungkin ada. Aku coba beli melalui situsweb Traveloka tapi sudah tidak bisa karena waktunya terlalu mepet. Para calo mulai mengendus aroma gagal terbang yang keluar dari diriku. Silih berganti mereka berdatangan menawarkan tiket. Seseorang menawarkan tiket seharga 650 ribu. Aku tolak. Akhirnya aku beli di Kaha seharga 444 ribu dengan Wings Air juga.

Setelah itu aku menghabiskan waktu dengan beli kopi instan dan rokok di sebuah minimarket yang dijaga seorang pemudi yang manis. Dia masih magang sambil menyelesaikan skripsinya di UPN Surabaya jurusan Komunikasi. Sosoknya mengingatkan aku akan seseorang.

Notanya, mas, kata si mbak penjaga kios. Senyumnya membuat aku merasa berat meninggalkan dia tanpa ngobrol-ngobrol dulu. Tapi aku sudah kebelet ngerokok.

Di tempat merokok, aku buka-buka lagi tiket Wings Air yang baru dan nota belanjaan. Di nota belanja minimarket itu aku tidak membaca keterangan donasi untuk panti asuhan dari uang sisa belanjaanku. Seandainya aku Menteri, aku akan memanggil manajernya untuk minta penjelasan. Kalau perlu pimpinan jaringan minimarket  itu aku panggil, marahi habis-habisan, lalu aku pecat. Selain sebagai pelampiasan atas kemarahan yang tidak pantas aku hamburkan ke petugas darat Wings Air tadi, rasanya kok lebih baik marah soal donasi ga jelas ini daripada karena ketinggalan pesawat.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s