Suatu Sore di Kantor Ema

Leave a comment
Tentang kawan

“Timika, seh, siang panas bokar, sore hujan besar,” keluh Ema sambil menatap layar komputer. Sudah jam 5 sore, tapi Ema masih belum bisa pulang. Bukan karena hujan besar, tapi karena tugas kuliahnya yang belum kelar. Melanjutkan kuliah sambil kerja memang tidak mudah. Bagi Ema, itu sebuah tantangan tersendiri.

“Masih sibuk, kah?” tanya Astri, rekan kerja Ema. “Kasih selesai tugas kuliah ini yang…. Sa baru bisa bikin tadi siang. Kalau di rumah tra bisa kas selesai ini. Ka Astri mau pulang kah? Masih hujan besar ini.” tanya Ema. “Iyo. Pace ada tunggu depan kantor itu.” balas Astri.

Ema menoleh ke jendela besar di balik meja kerjanya. Benar, sebuah mobil avanza putih su parkir di balik pagar kantor. Hujan masih turun dengan deras. Suasana sudah mulai gelap.

Kantor Ema terletak di sebuah ruas jalan Timika yang dulu disebut dengan Jalan Freeport. Kalau malam agak sepi. Meja kerja Ema menghadap pintu masuk ruangannya. Di lorong balik pintu itu juga sudah gelap. Kenapa tidak ada yang kasih nyala lampu kah? Batin Ema.

Mendadak hujan agak mereda, tapi anehnya suhu jadi agak dingin. Ema meraih remote pendingin ruangan di meja Dokter Desi dan mematikan pendingin ruangan. Tapi Ema merasa ruangan masih agak dingin. Belum sampai di mejanya Kembali, Ema merasa ada sosok manusia di pintu masuknya. Sosok itu berdiri tepat di pintu masuk. Perempuan, sudah agak tua, rambutnya pendek, mengenakan kaos warna putih dan membawa kantong plastik warna hitam. Belum habis kaget Ema, perempuan itu sudah menyapanya.

“Anak, saya mau pulang ke rumah.” Katanya sambil menatap Ema, tapi tidak seperti menatap juga. “Aduh, ibu, bikin kaget saja. Rumah di mana, kah?” tanya Ema.

Si ibu menyebut nama sebuah daerah di Timika. Lumayan jauh jaraknya dari kantor. Ema mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Cukup untuk ongkos ibu itu naik ojek ke rumahnya. Setelah mengucapkan terima kasih, si ibu langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan Ema yang berdiri bingung.

Ema kembali duduk di kursinya dan menatap layer komputernya. Tapi pikirannya masih ke ibu misterius itu. Di luar, hujan kembali turun dengan deras. Hmm…Bagaimana ibu itu bisa tidak basah padahal tadi di luar hujan deras. Dia bawa payung, kah? Pikir Ema.

Ema mengintip keluar melalui jendela besar di belakang meja kerjanya. Seharusnya ibu itu masih ada di depan. Tidak ada orang sama sekali. Tiba2 Ema merasa bulu kuduk di tengkuknya berdiri.

Ema berlari ke luar ruangannya. Lorong dan lobi kantor masih gelap. Benar. Tidak ada orang sama sekali. Sambil berteriak, Ema bertanya ke Satpam apakah benar tadi seorang perempuan agak tua yang masuk ke kantor. “Tidak ada, ibu. Saya dari tadi duduk di sini tidak ada orang masuk,” Balas pak satpam dengan wajah kebingungan. Ema bergidik.

Ema langsung berlari Kembali ke ruangannya. Menyimpan semua barang2nya dan mengunci pintu. Dalam perjalanan pulang, Ema memikirkan ibu misterius itu. Tiba2 dia merasa menyesal, kenapa tidak tanya nomor togel ke ibu itu.

The Author

Sementara ini tinggal di Timika, Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s