Tipu

Leave a comment
Papua / Tentang kawan

Ketemu XO lagi di sebuah bar di Timika. Seperti biasa dia lagi mabuk dan begitu mendapati diriku, dia langsung mengeluarkan semua keluhannya. Topiknya kali ini masih ada hubungannya dengan pertemuanku terakhir dengannya.

Aku dengarkan saja. Kali ini dia bilang akan bakar kantorku. Aku dengarkan saja. “Kamu datang kesini bikin apa?” Aku dengarkan saja.

Demikian pula dengan semua yang dia sampaikan kepadaku dalam waktu kira-kira 2 menit kemudian. Sambil sesekali ditingkahi telunjuk tangan yang seperti mau lepas dari tangannya dan menancap di mataku, cegukan karena terlalu banyak bir, hentakan tangan di meja yang (bisa) terdengar seperti gebrakan keras. Semua aku dengarkan.

Badannya yang pendek tidak menutup kemungkinan untuk sebuah perkelahian. XO memiliki otot yang liat dan berat badan yang cukup proporsional dan lincah jika bermanuver. Tangan dan kakinya telah terbiasa untuk “skirmish” sepele macam ini. Dan jenggotnya yang lebat. Pria gahar sekalipun akan sontak merasa gentar jika mendengar suara XO menggelegar.

Aku tahu, M dan S, dua orang ekspat yang berdiri di sampingku pasti mengikuti perkembangan diskusiku dg XO. Mereka cukup tahu Bahasa Indonesia dan cukup paham untuk tidak ikut campur. Mereka pura-pura ngobrol soal pertandingan tenis di Australia.

Memang seperti itulah adatnya di Timika (setahuku sih). Jika ada dua orang atau dua pihak yang saling berselisih paham dan bersitegang, orang lain yang kebetulan ada di situ tidak serta merta menjadi seorang juru damai. Dia harus mengamati terlebih dahulu, membiarkan pertengkaran terus terjadi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk ikut campur.

“Kamu mau bayar?” Tanya XO.
“Belikan 1 kaleng untuk saya.” Kali ini aku tidak merespon. Aku pergi ke istriku karena ternyata bar sedang tidak menerima kartu debet dan kredit.

Ketika aku balik dia sudah ngeloyor pergi dengan beberapa kaleng bir. Kata penjaga bar, yang heran setengah mati kok bisa aku kenal dia, bilang: “Itu dia mabuk, mas. Kalau sadar dia sopan sekali orangnya.”

“Ya saya tahu, mbak.” Balasku. Dalam hati aku mencoba mengingat apa yang aku rasakan di pertemuan terakhirku dengan XO. Ya, saat itu dia sedang sadar dan tertunduk lesu. Seperti orang kalah.

Orang macam XO ada banyak. Ketika sedang sadar hari-harinya penuh dengan pengalaman kena tipu.

Ada teman yang bilang, karena itulah dalam kondisi mabuk XO berani lantang menyuarakan kemarahannya. Atau jika pas, marah langsung ke orang-orang yang dianggapnya bagian dari masalahnya. Bisa teman mabuknya sendiri, bisa juga orang lain yang kebetulan kenal dan sedang berada di sekitar situ. Seperti aku di malam itu.

Ada juga yg pura-pura mabuk lalu marah-marah. Mungkin sekedar ingin merasakan bagaimana rasanya menipu.

Kemajuan Pendidikan di Mimika; Tanggung Jawab Kitong Semua

Leave a comment
Current issues / Papua

Sekolah Miria_2

Program Kampanye Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pendidikan dalam masyarakat dan keluarga serta untuk meningkatkan angka partisipasi anak sekolah, khususnya dari kalangan masyarakat Amungme dan Kamoro.

Program ini pertama kali diimplementasikan oleh Biro Pendidikan LPMAK pada tahun 2010 bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih Semarang di kampung basis masyarakat Kamoro seperti Koperapoka, Nawaripi, Mware, Kaugapu, dan Hiripau. Kegiatan diawali dengan baseline survey. Hasilnya, di lima kampung masyarakat Kamoro itu terdapat 225 anak usia SD-SMP yang tidak melanjutkan pendidikan mereka dengan berbagai penyebab dan 25 anak dan pemuda yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan.

Temuan tersebut ditindaklanjuti dengan pertemuan informal dengan para tokoh masyarakat setempat, guru, dan pemuda. Dalam pertemuan, tim kampanye mendorong para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka dan berembug bersama menemukan jalan keluar permasalahan kemandekan pendidikan di kampung mereka. Sedangkan bagi anak-anak, kegiatan berupa pemutaran film-film pendidikan dan pemberian motivasi.

Selanjutnya, Kampanye Pendidikan dilanjutkan dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar, koordinasi dengan pihak sekolah setempat dan pelatihan relawan pendidikan. Relawan pendidikan adalah warga setempat yang berkomitmen ikut memajukan pendidikan di kampung mereka masing-masing.

Pada tahun 2011 Biro Pendidikan kembali bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih melakukan Kampanye Pendidikan. Daerah sasaran diperluas tidak hanya bagi masyarakat Kamoro, tapi juga masyarakat Amungme di Aramsolki (Akimuga) serta masyarakat Kamoro di Ayuka dan Fakafuku. Hasil baseline survei juga menunjukkan hal yang serupa dengan Kampanye sebelumnya. Di Aramsolki misalnya, murid SD YPPK Bulujaulaki berjumlah 72 anak. Tapi karena para guru tidak aktif mengajar, jumlah murid yang aktif hanya sekitar 35%.

 

Kemajuan Pendidikan di Mimika; Tanggung Jawab Kitong Semua

Dalam kelompok belajar yang diadakan pada sore hari, anak-anak di semua kampung yang terpapar Kampanye Pendidikan –baik yang sekolah maupun putus sekolah– nampak  antusias. Jadi apa sebenarnya yang membuat mereka tidak melanjutkan sekolah? Dan bagi yang sekolah, kenapa masih banyak yang belum tuntas 3M (Membaca, Menulis, Menghitung) sehingga kemudian gagal tidak bisa bersaing di jenjang yang lebih tinggi.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dibahas di workshop kampanye pendidikan yang diadakan di Timika pada tahun 2012. Workshop dihadiri oleh para relawan pendidikan, tokoh kampung, DPRD Kab. Mimika, Dinas P&K Mimika serta LPMAK dan PTFI selaku pengelola dan penyandang dana Kemitraan yang menjadi sumber pendanaan program Kampanye Pendidikan.

Rendahnya angka partisipasi sekolah anak-anak Amungme dan Kamoro disebabkan oleh banyak hal. Yang paling terlihat tentu saja adalah kurang aktifnya guru mengajar di kampung dan absennya modal sosial masyarakat dalam melakukan pengawasan pendidikan. Banyak orang tua yang prihatin anaknya tidak sekolah dan guru tidak aktif, tapi karena hanya sebatas kekecewaan pribadi dan cuma jadi bahan gerundelan maka perbaikan tidak kunjung nampak.

Bapak Sabinus Bokeyau, tokoh masyarakat Kamoro yang juga menjabat sebagai sekretaris Dewan Pendidikan Mimika, menyatakan bahwa pada masa lalu perhatian dan dukungan masyarakat sangat kuat. Guru yang bertugas di pedalaman diberi sayur, dibuatkan rumah guru, dan mereka aktif mengingatkan anak-anak untuk sekolah. Gaji dan kebutuhan guru lainnya diantar secara rutin oleh yayasan yang menaungi sekolah-sekolah di pesisir selatan Mimika.

Kini semua sudah berubah. Kurangnya kontrol dari pihak yang berwenang, guru lebih banyak di kota, hanyalah sebagian simpul dari adagium yang sudah sangat terkenal di Mimika, yakni “lingkaran setan kemunduran pendidikan.” Yang kerap luput disangkutpautkan dengan lingkaran setan itu adalah tidak terintegrasinya konteks dan kearifan lokal dalam kurikulum pendidikan di Mimika (dan di Papua secara keseluruhan juga).

Namun kemudian semua pihak kemudian sepakat bahwa sikap saling menyalahkan dan menjunjung diri sendiri tidak akan memperbaiki keadaan. Ada langkah yang harus diambil. Masyarakat Mimika sebenarnya sudah memiliki semangat untuk maju, untuk melihat anak-anak mereka menjadi orang terdidik, tapi itu saja tidak cukup. Lembaga adat, Pemerintah (dalam hal ini Dinas P&K), gereja, swasta, dan masyarakat sendiri harus saling bekerja sama secara bertahap mengembangkan pendidikan dasar di Mimika.

Kenapa terdengar macam berat begitu kah? Karena memang ada banyak tantangan yang harus dihadapi, khususnya di zaman ketika modernisasi menderu menerjang Mimika. Di satu sisi orang tua ingin anaknya sekolah. Tapi di sisi yang lain orang tua memandang anak-anak sebagai aset. Anak-anak diajak menokok sagu, mendulang emas, atau dibiarkan berkeliaran tra jelas. Kita tidak perlu heran. Masyarakat Mimika, Amungme dan Kamoro khususnya, sudah sangat sering menjadi obyek pembangunan dan sasaran program-program karitatif. Pengembangan masyarakat hanya sebatas pada pemberian yang instan dan pembangunan infrastruktur saja. Maka perlu usaha keras untuk meyakinkan konsep delayed gratification dari pendidikan anak-anak mereka. Bahwa buah dari pendidikan anak-anak baru bisa dinikmati beberapa tahun mendatang.

 

Rencana Ke Depan

Pada tahun 2013, Kampanye Pendidikan kembali dilakukan oleh Biro Pendidikan bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih serta melibatkan PSW (Pengurus Sekolah Wilayah) dari YPPK (Yayasan Pendidikan & Persekolah Katolik). Kampung yang dituju kali ini adalah Ipaya, Manasari, dan SP-1 Timika.

Ke depannya, nama program akan lebih “dibumikan” dengan menggunakan istilah lokal, seperti “Kitong Pi Sekolah” dan lebih melibatkan masyarakat serta terintegrasi dengan program-program LPMAK lainnya yang ada di pedalaman Mimika, seperti program Kesehatan dan Ekonomi.

Tentu masih perlu waktu lama hingga masyarakat, guru, dan murid di kampung-kampung masyarakat Amungme dan Kamoro di Mimika menjadi aktif mengembangkan pendidikan dasar. Tapi toh yang namanya tradisi atau kebiasaan itu bisa dibangun. Seperti halnya Pak Sabinus Bokeyau mengingat lirik lagu yang dinyanyikan orang tuanya dulu di Keakwa tahun 1960-an, yang kemudian memacu semangat belajarnya:

Naik kapal, pergi ke tempat itu (sekolah)

Kau pergi, jangan patah, sekolah sampai selesai…

 

Ilmu Keladi

Leave a comment
Papua
Pak Thobias Jawame dan hasil kebun orang tuanya

Pak Thobias Jawame dan hasil kebun orang tuanya

Di kalangan masyarakat Amungme, ada sebuah kisah yang diceritakan turun temurun. Kisah sederhana mengenai asal mula keladi, makanan pokok orang Papua. Tumbuhan yang konon mengandung lebih banyak magnit dibanding padi dan karenanya membuat fisik orang Papua lebih kuat dibandingkan suku bangsa di Indonesia yang mengkonsumsi beras.

Alkisah, ada seorang kakak adik yang tinggal di hutan belantara Papua. Suatu hari sang kakak mengajak adik untuk membuka hutan menanam, namun adiknya tidak tahu apa yang hendak ditanam. Setelah mereka membersihkan sebidang lahan di tengah hutan, sang kakak meminta adiknya untuk memotong-motong anggota tubuhnya. Dengan sangat berat dan sedih hati sang adik memenuhi permintaan kakaknya itu. Usai memotong semua bagian tubuh kakaknya, sang adik membungkus masing-masing bagian tubuh dengan daun dan menanamnya di kebun. Sang kakak juga berpesan bahwa usai menanam, sang adik harus meninggalkan kebun itu dan melihat di keesokan harinya dengan cara berjalan menyisir kebun dari bawah ke atas.

Di keesokan harinya, alih-alih menuruti pesan sang kakak untuk menyisir kebun dari bawah ke atas, sang adik langsung berlari dari honainya di puncak bukit menuju kebun di bawah. Karena kelalaiannya itu, semua bagian tubuh sang kakak yang telah terkubur terbang ke ujung-ujung gunung di tempat lain. Hanya sebagian kecil saja yang tertinggal, yaitu bagian di mana sang adik menanam jantung kakaknya. Di situlah sang adik menemukan jantung kakaknya telah berubah menjadi keladi dan kemudian menikmatinya secara turun temurun hingga saat ini.

Kisah sederhana tentang asal mula keladi ini telah didokumentasikan menjadi sebuah video oleh Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan Studio Audio Visual PUSKAT Yogyakarta. Harapannya sederhana saja, supaya legenda ini terdokumentasi dan tetap lestari bagi generasi Amungme di masa mendatang.

Di bagian barat Indonesia, orang mengenal sekali yang namanya ilmu padi; kian berisi kian merunduk. Artinya kurang lebih, semakin berkemampuan tinggi seseorang, hendaknya dia tetap rendah hati, menunduk memandang lumpur kotor yang telah membesarkannya.

Anehnya, di sepenggal bagian Indonesia yang disebut Papua ini, orang tidak mengenal ilmu keladi. Saya sempat tanya ke beberapa teman, apa frase yang pas untuk ilmu keladi. Sebagian menjawab “semakin dalam semakin keras”. Ada yang membalas dengan ilmu betatas, “diam-diam ada isi”. Isinya ada yang manis ada pula yang pahit. Ada juga yang menjawab asal-asalan, “semakin tua semakin jadi”. Bah. Hasil penelusuran di internet dengan kata kunci “ilmu keladi” juga tidak memberikan temuan yang memuaskan.

Tapi toh jawaban asal-asalan itu yang membuat saya sedikit menemukan pelengkap jawaban kenapa  ilmu keladi atau ilmu jagung tidak cukup tenar untuk mendampingi ilmu padi dalam fakultas kehidupan masyarakat Indonesia.

Yang pertama, beras bukan sekedar makanan pokok, dia adalah agen sebuah komunitas imajiner yang bernama Indonesia ini. Diangkutlah beras ke Papua dan dikatakan pada orang Papua, jika koe masih makan keladi atau betatas, koe bukan orang Indonesia. Yang kedua, kata keladi sudah telanjur identik dengan ungkapan “tua-tua keladi, makin tua makin menjadi”. Sebuah ungkapan yang berlaku bagi pria paruh baya yang libidonya masih usia remaja. Tapi sayangnya ungkapan itu tidak berlaku untuk pejabat yang sudah tua dan doyan korupsi uang negara. Yang ketiga, pesan moral cerita rakyat Amungme itu belum bisa menancap di benak sekuat ilmu padi karena setiap suku di Papua memiliki kisah asal mula keladi versi mereka masing-masing.

Padahal kisah asal mula keladi dari masyarakat Amungme itu pesan moralnya cukup kuat. Pengorbanan seorang kakak demi kelangsungan hidup adiknya dan generasi mendatang. Seandainya sang adik tidak lalai, maka dia bisa menikmati semua hasil transfigurasi bagian tubuh kakaknya itu.  Bayangkan apa jadinya jika sang adik bisa menahan diri.

Di Timika ada pemandangan khas, Ibu-ibu Amungme yang membawa noken besar berisi keladi atau sayur mayur berjalan kaki atau naik ojek dan angkot menuju ke pasar-pasar di Timika. Akhir-akhir ini pemandangan indah itu agak terusik. Hampir semua angkot yang ditumpangi ibu-ibu ditempeli stiker besar para calon bupati Mimika lengkap dengan janji-janji nan indah. Bahkan ada yang berjanji akan menjadikan Mimika sebagai surga kecil di Tanah Papua. Ckck…

Sebagai rakyat kecil, saya cuma bisa berharap semoga di antara mereka yang mengajukan diri sebagai calon pemimpin itu ada yang mengamalkan ilmu keladi yang sebenarnya, yang diajarkan secara tersirat oleh kisah asal mula keladi orang Amungme.

Irama Papua

Leave a comment
Musik / Papua
Anak-anak Asrama Putri Salus Populi Timika

Anak-anak Asrama Putri Salus Populi Timika

Setiap kota di Indonesia punya lagu mereka masing-masing. Orang Yogya akan langsung kangen suasana Yogya setelah mendengarkan “Yogyakarta”-nya Katon Bagaskara, orang Jakarta akan nyanyi “Siapa suruh datang Jakarta…” setiap kali mereka sumpek kena macet. Orang Manado akan melantunkan langgam “Nyiur Melambai” setiap mereka rindu suasana Manado.

Nah, kitorang yang tinggal di Timika ini, lagu apa yang kitong punya? Orang Kamoro akan bilang “Airu Mimika”, orang Amungme akan pilih lagu-lagu Amungme yang penuh semangat hidup itu, orang Pemerintahan Daerah akan menyanyikan “Eme Neme Yaware” dengan penuh rasa khidmat, segenap suku bangsa yang bermukim di Timika mungkin akan punya lagu mereka sendiri-sendiri.

Untuk itu, kita harus mengangkat topi setinggi-tingginya untuk almarhum Arnold Ap, yang sudah mencoba merekam lagu-lagu daerah dari setiap daerah di Papua. Dalam albumnya, Mimika diwakili oleh “Akai Bipa Mare”. Lagu itu cukup bisa menunjukkan identitas dan irama daerah Mimika. Sayangnya, saat itu usaha Arnold Ap dipandang sebagai ancaman oleh penguasa Orde Baru dan akibatnya diberangus.

Toh, sampai saat ini, hampir semua orang Papua yang saya kenal tahu sekali nama Mambesak dan karya-karya mereka. Saya bukan pengamat musik, tapi menurut saya, nuansa Papua di karya-karya Mambesak jauh lebih terasa dibandingkan dengan lagu-lagu Papua yang dinyanyikan oleh Trio Ambisi dan Nanaku. Mohon maaf, tapi rasanya lagu-lagu Papua yang dibawakan oleh Trio Ambisi dan Nanaku sengaja diaransemen untuk dinyanyikan dan didengarkan di ruang karaoke atau restoran.

Saya paham logikanya. Zaman sekarang ini kalau mau populer ya harus ngepop. Kalau tidak mau ikutan dalam arus budaya pop silakan minggir saja. Demikianlah kiranya yang terjadi dengan lagu-lagu Papua. Senasib dengan langgam-langgam Jawa yang sekarang lebih dikenal sebagai Bosanova Jawa. Mendengarkan lagu-lagu Jawa yang dibawakan Pipi Lisna hampir tidak berbeda nuansa dengan lagu-lagu Paula Molerembaum dari Brasil. Lhah kok malah bicara Jawa sih ini, oke kita kembali ke Mimika.

Sepanjang pengalaman saya tinggal di Timika, lagu-lagu Papua yang masih dibawakan dengan irama Papua adalah lagu-lagu Kamoro dan Amungme di perayaan adat atau keagamaan. Di saat-saat seperti itulah saya yakin bahwa orang Papua masih memegang teguh warna dan identitasnya. Selebihnya adalah lagu-lagu Papua yang iramanya ditentukan oleh orang-orang dari jauh, yang lebih suka melihat orang Papua ribut sendiri dengan peliknya pemilihan daerah dan politik uang.

Dengan kondisi seperti itu, kebutuhan akan kesenian adalah kebutuhan nomor sekian. Padahal, seperti yang dituturkan oleh Paus emeritus Benediktus XVI, seni itu “mengelola keindahan lewat rasa halus kemanusiaan, pendorong daya hidup, dan kesadaran pelayanan meski lapar sekalipun.” (Kompas, 31 Maret 2013)

Saya sering membayangkan, apa jadinya bila di Papua sekarang ini muncul penerus proyek kebudayaan almarhum Arnold Ap atau band Papua yang ketenarannya menyamai Black Brothers? Pasti akan sangat menarik. Paling tidak untuk membantu kita mengunyah dan mengurai berbagai kenyataan pahit soal Papua.

Foto Paling Laris

Leave a comment
Foto / Kliping / Papua
Jadi Penghias Iklan Lowongan Kerja :)

Jadi Penghias Iklan Lowongan Kerja 🙂

Foto yang sudah ku olah dan tambah teks ini ternyata laris sekali dibajak. Bahkan oleh lembaga yang mestinya tahu etika. Sebenarnya sudah sejak lama aku mendengar bahwa foto anak-anak di Mware, Timika, yang pulang sekolah ini banyak dipakai orang. Bahkan pernah ada yang menunjukkan foto ini beredar di Blackberry Messenger sebagai foto profil, dengan tambahan teks yang jauh sekali dari pesan pendidikan.

Capture16_39_27

Kalau sudah beredar di BlackBerry Messenger jadinya memang ngawur. 😦

Secara kebetulan, ketika aku sedang berada di Jayapura, aku menemukan fotoku dipasang sebagai penghias iklan lowongan kerja sebuah lembaga di Jayapura. Hehe.

Entah siapa yang memasang foto itu, lembaganya, biro iklan, atau koran tempat iklan itu dipasang.

Tapi ada juga yang digunakan untuk tujuan yang sebagaimana mestinya, seperti yang dilakukan oleh teman-teman di Buku Untuk Papua dan LIPI.

BEyzynlCUAEBNJo

2013-12-06 22.21.05

 

Apa Gunanya Punya Ilmu?

comment 1
Papua
Belajar Bersama

Belajar Bersama

Suatu hari, di Laboratorium Komputer MPCC (Multi-Purpose Community Center), Timika, beberapa anak sedang asyik mengikuti pelajaran komputer dari instruktur. Tapi ada satu anak yang layar monitornya tidak sinkron dengan pelajaran yang diberikan. Anak itu, Henrikus Tsunme, rupanya sedang mengerjakan tugas Microsoft Word yang harus dikumpulkan keesokan harinya.

Menurut Pak John Angkasa, Manajer MPCC, jadwal belajar Henrikus Tsunme seharusnya hanya di hari Rabu. Tapi Henrikus selalu tiba kembali di Lab. Komputer sehari sesudah atau sebelum jadwalnya untuk mengerjakan tugas.

Semenjak lulus SMA, pemuda Amungme itu tidak melanjutkan studi karena orang tua tidak mampu membiayai studinya. Karena itu Henrikus sekarang berniat memiliki ketrampilan agar dapat mendapatkan pekerjaan dan tidak membebani orang tuanya.

Sementara itu di kantor LPMAK, Okeni Pekei sedang sibuk memilah buku-buku bekas yang berserakan di halaman kantor. Buku-buku itu adalah sisa dari program bantuan yang digalang oleh para pelajar Mimika yang studi di Jawa tahun 2008 lampau. Sebagian besar sudah disalurkan kepada sekolah-sekolah di dataran tinggi Mimika, seperti Aroanop, Tsinga, dan Banti, tapi ada beberapa kardus buku yang tersisa di kantor LPMAK.

Beberapa saat kemudian, dia membawa buku-buku itu ke sebuah kursi di depan ruanganku.  Karena penasaran, aku mendekati sekedar untuk mengetahui pilihan buku-bukunya. Ternyata buku-buku biasa saja,mulai dari buku PPKN entah warisan menteri pendidikan yang mana hingga buku cerita rakyat terbitan Dinas Pendidikan & Kebudayaan. Tapi toh Okeni nampak sangat menikmati buku-buku itu.

Okeni Pekei memilih2 buku

Okeni Pekei memilih2 buku

Pemuda yang pendiam itu kemudian menceritakan rumahnya yang dipenuhi dengan buku-buku. Sebagian milik Okeni sendiri, sebagian lagi milik kakak dan adiknya. Kakaknya adalah seorang pendeta yang bertugas di Jayapura dan sekarang sedang mengambil jenjang magister di sebuah kampus di Jayapura.

Mendengar rumah yang dipenuhi buku, apalagi di Papua, sungguh segar sekali rasanya. Mendapatkan buku di Papua bukan hal yang mudah. Di Timika misalnya, ada begitu banyak tempat makan dan belanja. Tapi hanya ada dua toko buku. Itu pun tempatnya kurang menarik. Tidak heran jika Kementrian Pendidikan “mendakwa” Papua, bersama dengan Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Bali, sebagai daerah dengan tingkat literasi paling rendah (Jakarta Post, 9 September 2011).

Karena tertarik mengikuti tes beasiswa LPMAK, Okeni rela meninggalkan kuliahnya dan pergi ke Timika untuk ikut tes potensi akademik sebuah sekolah tinggi ilmu pendidikan dari Jakarta. Ketika aku tanya kenapa mau jadi guru, jawabannya cukup sederhana, “biar bisa jadi guru dan belajar terus, seperti kakak saya.”

Tes potensi akademik berhasil dilalui Okeni dengan baik. Dia dinyatakan lulus. Tapi sayangnya pada saat tes kesehatan Okeni dinyatakan tidak lulus. Tidak lama berselang aku bertemu Okeni lagi, yang ternyata masih suka membaca buku dan menyimpan keinginan besar untuk kuliah.

***

Okeni dan Henrikus memang dilahirkan di zaman digital, tapi masih sangat jauh dari budaya e-book atau cloud computing. Mereka adalah anasir literasi di tempat yang masih bergulat dengan dasar literasi, kemampuan membaca. Sekalipun demikian, Okeni dan Henrikus sudah punya modal penting untuk jadi seorang manusia yang terdidik, yakni kesukaan pada ilmu pengetahuan.

Tommy Tsolme (kiri) mengajari anak-anak belajar komputer di MPCC

Tommy Tsolme (kiri) mengajari anak-anak belajar komputer di MPCC

Mungkin tujuan punya ilmu dan ketrampilan hidup (life skills) itu sederhana saja, seperti halnya Okeni dan Henrikus, yaitu membahagiakan diri sendiri atau orang terdekatmu dan mengabdikan diri untuk masyarakat. Kalau mau dengar tujuan yang “berat”, silakan Anda buka daftar Kompetensi Inti dari Kurikulum 2013 yang sekarang sedang gencar disosialisasikan Pak Menteri Pendidikan.

Baik Okeni dan Henrikus memang belum pernah dan sepertinya tidak akan pernah membaca daftar kompetensi inti bikinan Kementrian Pendidikan. Tapi toh, sikap dan  kebiasaan mereka telah menunjukkan tujuan sebenarnya dari ilmu dan ketrampilan hidup.

Kepingan Masa Lalu Warisan Howard Sochurek

Leave a comment
Foto

©Howard Sochurek

Beberapa saat lalu di Facebook, seorang teman menautkan nama saya di sebuah foto. Tidak ada banyak keterangan di foto itu, hanya nama fotografer Howard Sochurek dan tahun 1955 saja yang tertera. Selebihnya adalah kemauan saya sendiri untuk membaca dan menjelaskan foto itu bagi diri saya.

Di dalam foto hitam putih berformat lanskap itu, nampak sebuah panggung pidato yang didirikan di kampung, tepat di depan sebuah rumah. Di sekeliling panggung yang dibebani bendera PKI dan foto Presiden Soekarno dan DN Aidit (?), orang-orang berkerumun. Sebagian besar duduk berjongkok menghadap podium. Mungkin karena tubuh Howard yang tinggi besar memegang kamera, beberapa orang sudah mengantisipasi dengan menoleh ke Howard dan tidak menghiraukan pembicara di podium.

Howard Sochurek mungkin sadar, bahwa dari seluruh rapat partai komunis di seluruh dunia yang pernah dia foto, hanya di Indonesia saja lah para pengunjung duduk berjongkok. Tidak nampak kerumunan yang mendengarkan dengan penuh semangat, hanya sekumpulan orang yang seperti tertarik oleh sosok manusia yang berbicara di tempat lebih tinggi diterangi cahaya lampu. Lebih mirip menghadiri pasar malam. Hanya saja yang dijajakan adalah impian dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Tapi hanya berselang 10 tahun setelah pemilihan umum yang paling demokratis di Indonesia itu, impian dan harapan akan hidup lebih baik jadi sirna. Orang-orang yang dipotret oleh Howard Sochurek itu pula mungkin yang 10 tahun kemudian menjadi korban Tragedi Nasional 1965. Dipenjarakan tanpa proses pengadilan dan dibunuh tanpa mengindahkan perikemanusiaan. Di Facebook dan oleh seorang fotografer majalah Life pula (yang sampai saat ini belum tahu namanya), foto-foto korban Tragedi 1965 banyak diunggah.

Howard Sochurek | Sumber: Situsweb Nobodycorp

Sayangnya, tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan soal Howard Sochurek di internet. Di situsweb Life, foto-foto Howard Sochurek tidak bisa ditemukan. Foto-foto Howard Sochurek yang merekam Pemilihan Umum Indonesia tahun 1955 bisa dilihat di blog Langit Kata.

Papua Anigou

Leave a comment
Papua

“Bapa, saya bisa belajar di sini, kah?” Tanya seorang anak pada seorang pengajar di Bimbingan Belajar Papua Anigou.

“Bisa. Kau pu rumah di mana?” tanya pengajar itu balik.

“Di dekat sini saja. Saya punya bapa kerja jadi tukang.”

Si anak kemudian masuk ke dalam rumah dan mulai membuka-buka halaman buku yang dia raih di sebuah rak buku sederhana di pojok ruangan. Di bagian lain rumah, seorang pengajar Bahasa Inggris sedang menyiapkan materi mengajarnya. Tidak lama berselang, beberapa anak berdatangan untuk memulai pelajaran sore mereka. Tanpa mereka sadari, anak-anak itu telah menemukan jati dirinya sebagai seorang pembelajar, yang tidak dibatasi oleh berbagai macam standar.

Dialog sederhana semacam itu yang kerap mengawali bergabungnya seorang anak di bimbingan belajar (Bimbel) Papua Anigou yang berlokasi di daerah Jalan Baru, Timika. Pesertanya cukup beragam, mulai dari anak-anak asli Mimika hingga anak-anak pendatang dari area Jalan Baru.  Mulai dari yang sekolah hingga yang putus sekolah. Kebanyakan anak-anak usia Sekolah Dasar.

Dalam bahasa Mee, bahasa daerah Willem Bobbii, “Papua Anigou” kurang lebih berarti, “Bangkitlah Papua.” Sebuah semangat yang berawal dari keprihatinan Willem Bobbii melihat begitu banyak anak-anak usia Sekolah Dasar di Timika yang minat belajarnya rendah. Bahkan banyak pula anak-anak, apalagi dari masyarakat asli Mimika, yang putus sekolah.

Anak-anak belajar di Bimbel Papua Anigou

Terlepas dari kemampuan orang tua untuk membiayai pendidikan, menurut Willem Bobbii, anak-anak sendiri seolah tidak terlalu peduli dengan pendidikan di sekolah. Apalagi di luar jam sekolah. Hal itu disebabkan oleh metode pendidikan di indonesia yang tidak membuat anak-anak menyenangi pelajaran mereka. Padahal dengan metode yang tepat, anak-anak akan menyenangi pelajaran apa pun tutur pemuda kelahiran Waghete tersebut. Bobbii kemudian mencontohkan pengalamannya menjelaskan konsep pecahan kepada siswa SMA Adhi Luhur Nabire. Anak-anak pada akhirnya memahami konsep pecahan setelah Bobbii menjelaskannya menggunakan contoh sebuah pepaya yang diambil dari halaman sekolah. Pepaya yang kemudian dibelah-belah itu akhirnya bisa membantu anak-anak memahami apa yang dimaksud dengan ½ atau 2/3. “Untung pepayanya sudah masak, jadi setelah belajar bisa dorang makan. Hehe,” tutur Bobbii mengakhiri kisahnya dengan canda.

Pengajar Bimbel Papua Anigou

Sikap riang dan semangat Bobbii dan rekan-rekannya itulah yang mungkin membuat setiap sore anak-anak usia Sekolah Dasar datang untuk belajar Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Komputer. Saking semangatnya, Bobbii dan rekan-rekan pengajarnya kerap merasa kewalahan. Satu unit komputer butut yang pada awalnya dirasa cukup, sudah tidak mampu lagi melayani hampir 40 anak yang ingin belajar komputer di Bimbel Papua Anigou. Akibatnya, banyak anak-anak yang tidak dapat kesempatan belajar komputer.

Di Timika, harga komputer bisa dua kali lipat dari harga di Jawa. Bagi Bimbel Papua Anigou, yang lebih sering tidak memungut biaya apa pun untuk anak-anak yang datang belajar, membeli sebuah komputer bukan sebuah hal yang mudah.

 

***

 

Tapi memang tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan di dunia ini.  Ribuan kilometer jauhnya dari Papua, di Jakarta dan Makassar, ada beberapa individu yang memiliki perhatian terhadap pendidikan di Papua dan telah lama ingin menyumbangkan komputer-komputer bekas yang ada di Jakarta. Tapi karena ongkos kirim yang cukup mahal ke Timika, rencana itu tertunda selama beberapa bulan.

Secara kebetulan, sebuah warung internet di daerah Mile 32 Timika, 20 kilometer jauhnya dari lokasi Bimbel Papua Anigou tutup karena pengelolanya pulang kampung. Pengelolanya bersedia menjual beberapa unit komputer dengan kondisi yang masih cukup bagus dengan harga yang cukup miring. Terlebih jika komputer itu digunakan untuk tujuan pendidikan anak-anak Papua.

Gayung pun bersambut. Dari Jakarta, Pak Budi Lais dan Ibu Ira Silalahi di Makassar mengirimkan dana untuk membeli satu unit komputer yang kini sudah digunakan anak-anak di Bimbel Papua Anigou.

Dengan komputer baru ini, anak-anak bisa belajar komputer tanpa harus berebutan. Sementara komputer yang lama digunakan seorang pengajar yang sedang sibuk membuat materi pelajaran bahasa Inggris menggunakan program Power Point.

Anak-anak belajar komputer

“Kita kasih kaget dorang dengan materi belajar yang kreatif supaya dorang semangat,” tekan Bobbii sambil mencatat jadwal pelatihan membuat film dokumenter di papan pengumuman. Tidak hanya anak-anak saja yang Bobbi kasih kaget. Saya pun ikut terhenyak. Baru kali ini ada pelatihan membuat film dokumenter di Timika, bahkan hingga mendatangkan fasilitator dari Jakarta yang lulusan sekolah film di Jerman. Semoga pihak-pihak di Timika yang selama ini  baku sikat saling menyalahkan soal kondisi pendidikan di Kabupaten Mimika juga ikut terhenyak melihat gerakan sederhana dari daerah Jalan Baru Timika ini.

 

 

Tari Semut (Kamoro)

Leave a comment
Catatan pertunjukan / Papua

Papua adalah tempat yang sangat kaya akan kebudayaan. 250 suku yang menghuni tanah ini memiliki kekhasan budaya mereka masing-masing. Tapi ketika seorang teman bertanya, adakah seni pertunjukan di Papua, aku terhenyak. Adakah seni pertunjukan di tanah ini? Apakah permainan perang-perangan yang dipentaskan orang Dani di Wamena itu bisa dibilang sebuah seni pertunjukan? Apakah memang memiliki sebuah plot cerita, selain sekedar dua pihak yang bertarung saling mempertontonkan keberanian mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab oleh orang Kamoro. Suku Kamoro adalah sebuah suku yang wilayahnya berada di pesisir selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Mimika, mulai dari Potowayburu di ujung barat hingga Sumapro di ujung timur Mimika. Bentuk kebudayaan mereka yang paling menonjol, sekalipun masih belum sepopuler orang Asmat, adalah ukiran. Pria-pria Kamoro umumnya pengukir yang handal.  Selain ukiran, budaya orang Kamoro juga kaya akan perayaan. Salah satu perayaan dalam siklus hidup orang Kamoro adalah Karapau, acara inisiasi anak muda.

Dalam acara Karapau, biasanya ada pementasan tarian yang melibatkan atraksi panjat memanjat sebuah panggung. Kisah di balik panggung itu akhirnya aku pahami pada kesempatan pementasan Tarian Semut oleh orang Kamoro dari Kaugapu di bawah pimpinan Bapak Markus Yemaro di Klub Golf Rimba Irian, Kuala Kencana (29/04/12).

Foto ©Onny Wiranda

Pada penjelasan yang diberikan Kal Muller, fotografer cum penulis yang sudah lama tinggal di Mimika, pesan dari Tari Semut adalah bahwa sebagai warga masyarakat, kita harus saling bantu membantu dan tolong menolong.

Aku kira hanya tarian biasa. Ternyata ada yang berperan sebagai troubadour, semut, dan biawak, dan sebuah jalan cerita.

Kurang lebih seperti ini ceritanya:

Pada suatu ketika, seorang paitua pergi masuk ke hutan untuk berburu. Di dalam hutan, betapa terkejutnya dia ketika mendapati sebuah menara yang menjulang tinggi. Takut bercampur kagum, dia kembali ke kampung dan tidak menceritakan temuannya itu kepada siapa-siapa.

Menara Semut | Foto ©Onny Wiranda

Para semut berjuang mengusir ular | Foto ©Onny Wiranda

Keesokan harinya, paitua itu kembali ke hutan untuk mencari lebih jauh soal menara itu. Dia bersembunyi dan mengamati. Ternyata menara itu dibangun oleh para semut. Mereka memasang tangga untuk meneruskan pekerjaan membangun menara serta menghiasi menara dengan dedaunan. Usai kerja, para semut kembali ke dalam sarang mereka.

Di malam hari, seekor ular menangkap biawak-biawak dan mengurungnya di ruangan bahwa menara. Para biawak yang malang itu diikat sehingga tidak berdaya.

Esoknya, paitua yang masih penasaran itu kembali ke menara dan mendapati seekor ular besar menguasai menara itu. Saat para semut datang, mereka kaget dan langsung mengusir ular dengan cara merayap naik turun. Gerakan para semut dipimpin oleh pimpinan koloni mereka yang berdiri di atas menara. Di balik dedaunan, paitua mengamati pertempuran itu.  Akhirnya ular berhasil dikalahkan dan para biawak dibebaskan.

Para Biawak yang malang menanti dibebaskan | Foto ©Onny Wiranda

Pimpinan Koloni Semut | | Foto ©Onny Wiranda

Paitua yang diliputi rasa takjub segera kembali ke kampung dan menceritakan panjang lebar peristiwa itu ke seluruh warga kampung. Mendengar cerita itu, para warga kampung ikutan kagum dan mencoba membangun menara seperti yang diceritakan paitua itu. Dalam pembangunannya, mereka saling membagi tugas dan bekerja sama sebagaimana halnya para semut.

Usai pementasan, semua pemain langsung menyingkir dari area pertunjukan. Tinggal seorang mama yang tadi menjadi troubadour, menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Kamoro. Lebih mirip tuturan sebenarnya katimbang nyanyian. Suasana magisnya sangat terasa. Tidak ada satu orang pun dari rombongan pemain tadi yang meminta mama itu untuk menyingkir. Mungkin ada pesan dari Tari Semut yang hanya dipahami oleh orang Kamoro.