Ilmu Keladi

Leave a comment
Papua
Pak Thobias Jawame dan hasil kebun orang tuanya

Pak Thobias Jawame dan hasil kebun orang tuanya

Di kalangan masyarakat Amungme, ada sebuah kisah yang diceritakan turun temurun. Kisah sederhana mengenai asal mula keladi, makanan pokok orang Papua. Tumbuhan yang konon mengandung lebih banyak magnit dibanding padi dan karenanya membuat fisik orang Papua lebih kuat dibandingkan suku bangsa di Indonesia yang mengkonsumsi beras.

Alkisah, ada seorang kakak adik yang tinggal di hutan belantara Papua. Suatu hari sang kakak mengajak adik untuk membuka hutan menanam, namun adiknya tidak tahu apa yang hendak ditanam. Setelah mereka membersihkan sebidang lahan di tengah hutan, sang kakak meminta adiknya untuk memotong-motong anggota tubuhnya. Dengan sangat berat dan sedih hati sang adik memenuhi permintaan kakaknya itu. Usai memotong semua bagian tubuh kakaknya, sang adik membungkus masing-masing bagian tubuh dengan daun dan menanamnya di kebun. Sang kakak juga berpesan bahwa usai menanam, sang adik harus meninggalkan kebun itu dan melihat di keesokan harinya dengan cara berjalan menyisir kebun dari bawah ke atas.

Di keesokan harinya, alih-alih menuruti pesan sang kakak untuk menyisir kebun dari bawah ke atas, sang adik langsung berlari dari honainya di puncak bukit menuju kebun di bawah. Karena kelalaiannya itu, semua bagian tubuh sang kakak yang telah terkubur terbang ke ujung-ujung gunung di tempat lain. Hanya sebagian kecil saja yang tertinggal, yaitu bagian di mana sang adik menanam jantung kakaknya. Di situlah sang adik menemukan jantung kakaknya telah berubah menjadi keladi dan kemudian menikmatinya secara turun temurun hingga saat ini.

Kisah sederhana tentang asal mula keladi ini telah didokumentasikan menjadi sebuah video oleh Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan Studio Audio Visual PUSKAT Yogyakarta. Harapannya sederhana saja, supaya legenda ini terdokumentasi dan tetap lestari bagi generasi Amungme di masa mendatang.

Di bagian barat Indonesia, orang mengenal sekali yang namanya ilmu padi; kian berisi kian merunduk. Artinya kurang lebih, semakin berkemampuan tinggi seseorang, hendaknya dia tetap rendah hati, menunduk memandang lumpur kotor yang telah membesarkannya.

Anehnya, di sepenggal bagian Indonesia yang disebut Papua ini, orang tidak mengenal ilmu keladi. Saya sempat tanya ke beberapa teman, apa frase yang pas untuk ilmu keladi. Sebagian menjawab “semakin dalam semakin keras”. Ada yang membalas dengan ilmu betatas, “diam-diam ada isi”. Isinya ada yang manis ada pula yang pahit. Ada juga yang menjawab asal-asalan, “semakin tua semakin jadi”. Bah. Hasil penelusuran di internet dengan kata kunci “ilmu keladi” juga tidak memberikan temuan yang memuaskan.

Tapi toh jawaban asal-asalan itu yang membuat saya sedikit menemukan pelengkap jawaban kenapa  ilmu keladi atau ilmu jagung tidak cukup tenar untuk mendampingi ilmu padi dalam fakultas kehidupan masyarakat Indonesia.

Yang pertama, beras bukan sekedar makanan pokok, dia adalah agen sebuah komunitas imajiner yang bernama Indonesia ini. Diangkutlah beras ke Papua dan dikatakan pada orang Papua, jika koe masih makan keladi atau betatas, koe bukan orang Indonesia. Yang kedua, kata keladi sudah telanjur identik dengan ungkapan “tua-tua keladi, makin tua makin menjadi”. Sebuah ungkapan yang berlaku bagi pria paruh baya yang libidonya masih usia remaja. Tapi sayangnya ungkapan itu tidak berlaku untuk pejabat yang sudah tua dan doyan korupsi uang negara. Yang ketiga, pesan moral cerita rakyat Amungme itu belum bisa menancap di benak sekuat ilmu padi karena setiap suku di Papua memiliki kisah asal mula keladi versi mereka masing-masing.

Padahal kisah asal mula keladi dari masyarakat Amungme itu pesan moralnya cukup kuat. Pengorbanan seorang kakak demi kelangsungan hidup adiknya dan generasi mendatang. Seandainya sang adik tidak lalai, maka dia bisa menikmati semua hasil transfigurasi bagian tubuh kakaknya itu.  Bayangkan apa jadinya jika sang adik bisa menahan diri.

Di Timika ada pemandangan khas, Ibu-ibu Amungme yang membawa noken besar berisi keladi atau sayur mayur berjalan kaki atau naik ojek dan angkot menuju ke pasar-pasar di Timika. Akhir-akhir ini pemandangan indah itu agak terusik. Hampir semua angkot yang ditumpangi ibu-ibu ditempeli stiker besar para calon bupati Mimika lengkap dengan janji-janji nan indah. Bahkan ada yang berjanji akan menjadikan Mimika sebagai surga kecil di Tanah Papua. Ckck…

Sebagai rakyat kecil, saya cuma bisa berharap semoga di antara mereka yang mengajukan diri sebagai calon pemimpin itu ada yang mengamalkan ilmu keladi yang sebenarnya, yang diajarkan secara tersirat oleh kisah asal mula keladi orang Amungme.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s