Berkarya Atau Mati; Beberapa Tips dari Pram

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tokoh
Kamarku. Semacam ruang tunggu sebelum memasuki ruang mistikum.

Kamarku. Semacam ruang tunggu sebelum memasuki ruang mistikum.

Ini tulisan lamaku. 11 tahun yang lalu aku menulisnya. Aku sudah lupa dimana aku menerbitkan tulisan ini. Yang jelas bukan di media-media besar nan mapan seperti Kompas, Tempo, dll. (padahal ya ga pernah diterima, hehe). Aku cek di arsip blog ternyata tidak ada. Kemungkinan besar aku menulis ini untuk “Kesasar”, terbitan sastra masa kuliah dulu.

Judul aslinya, “Pram dan Kita Sekarang”. Lagi-lagi aku lupa kenapa aku memberinya judul seperti itu. Dari isi tulisan ternyata lebih merupakan kumpulan tips menulis dari Pram yang –lagi-lagi– aku sudah lupa dari mana sumbernya.

Karena itu judul tulisan aku ganti, supaya sesuai dengan isinya. Isi tulisan juga aku sunting di beberapa bagian supaya lebih relevan dengan konteks waktu masa kini. Mengenai tanggungjawab sumber tips ini, kepada sidang pembaca, yang kebetulan mampir, mohon dapat membantu saya mengingat sumber tulisan ini.

Selamat membaca.

 ***

 Pernah ditanyakan padaku: mengapa kamu sekarang jarang menulis? Apapun bentuknya. Jawabku selalu seperti ini; “sedang dalam proses pemadatan”, “komputer rusak”, “banyak kerjaan”. Dan biasanya, tanggapan yang aku terima bukannya pujian melainkan cemoohan yang terbungkus dengan apik dan ringkas: “ohh…” Saat itu agak beda. Temanku menjawab dengan lugas: “Bah, semua sudah ada kok, rumah nyaman, komputer, buku. Apa lagi yang kurang?” Jangan tanya seperti apa rasanya dapat balasan macam itu. Mak jleb lah rasanya.

Kemudian aku pulang dengan lemas. Di rumah aku mulai membuka buku yang kebetulan tergeletak di mejaku, Proverbia Latina alias Kumpulan Peribahasa Bahasa Latin. Masih dengan perasaan dongkol, aku buka halaman demi halaman, dan kaget. Bagaimana tidak, orang Romawi ternyata juga ikut memperingatkan aku, begini: Otium sine literaris mors est. Yang terjemahan bebasnya kira-kira “waktu luang tanpa berkarya adalah maut/mati”

 ***

 Aku sempat memandang bahwa menulis adalah sebuah rangkaian. Sebuah kegiatan yang memerlukan beberapa prasyarat (prerequisite). Antara basis pengalaman keseharian kita dan mekanisme misterius di otak kita dalam mengelaborasikannya dengan pengetahuan yang kita miliki. Semua itu ditunjang oleh alat produksi seperti buku catatan, komputer, dan buku referensi. Jika ada salah satu anggota rangkaian tersebut tidak terpenuhi maka sudah sewajarnya operasi menulis kita berakhir dengan kegagalan.

Bagi seorang Pramoedya Ananta Toer, yang karya-karya besarnya lahir di Pulau Buru, pendapat di atas ternyata mengandung cacat logika dan mental. Sekalipun dia juga melihat operasi menulis sebagai sebuah rangkaian, dalam perspektif yang berbeda. Dalam penjelasannya mengenai proses kreatif dirinya sebagai penulis, Pram menawarkan kepada kita obat cacat tersebut kita sebagai berikut:

 

  • Religio Potae / Distraksi

Bagi Pram, yang pernah jadi juru ketik di kantor berita Domei, proses kreatif bersifat individual. Seorang pribadi harus dapat melepaskan dirinya dari realitas yang melingkunginya dan memasuki sebuah ruang yang dinamakan oleh Pram sebagai mistikum. Dalam mistikum ini seorang pribadi yang ada hanya hubungan antara sang kawula dengan Gusti. Hal ini sebetulnya paralel dengan apa yang dilakukan oleh para sastrawan Jawa Kuna dahulu sebelum menulis sebuah naskah. Hanya bedanya Pram tidak kemudian menganjurkan untuk menghapuskan kedirian sang kawula di hadapan sang Gusti melainkan menggunakan Gusti sebagai acuan untuk menjadi “wasit” antara seluruh data informasi yang dihimpun melalui pengalaman  dan posisi kini seorang pribadi. Religio potae yang demikian ini bisa dilakukan di mana saja.

 

  • Faktor pribadi

Setelah memiliki pesangon berupa data dan informasi. Kini yang dihadapi adalah diri sendiri. Komputer, tanpa penjelasan lebih panjang, mempermudah pengolahan data dan informasi yang kita miliki. Tinggal faktor pribadi yang membedakannya dari komputer, seperti keberanian, kemauan, disiplin, keyakinan, tanggung jawab dan kesadaran yang membuat berprakarsa tanpa perintah. Dengan semua itu, ditambah jaringan syaraf yang waras dan otot sehat, kreasi justru sebuah keharusan.

 

  • Ilham

Banyak yang bilang, ilham (bukan nama orang) datang setelah sebungkus rokok dan segelas kopi, ilham datang setelah dengerin lagu. Ilham menurut Pram adalah bangunnya kesadaran hasil dari “pesangon” yang kita miliki.

 

  • Condensed freedom

Dari semua yang dipaparkan di atas, Pram sangat menekankan pada yang satu ini. Seseorang harus mampu melakukan pendistansian diri dari realita, bahkan dari dirinya sendiri. Tanpa mistikum, orang hanya bisa berproduksi dan mereproduksi. Lebih lanjut lagi Pram menjelaskan bahwa produksi saja tidak menambah benda rohani yang ada. Sedangkan reproduksi menambah jumlah ulangan informasi yang ada.

 

 

Seperti Schopenhauer, Pram juga dikecewakan oleh harapan. Perpustakaannya dimusnahkan, karya-karyanya dilarang (padahal di Malaysia jadi buku wajib anak sekolah), sebagian besar usia produktifnya dihabiskan di kamp kerja paksa, para penghukumnya hingga hari ini masih melenggang bebas. Namun Pram memilih untuk terus menjalaninya dan merekam semua tragedi kemanusiaan yang terjadi, untuk dielaborasikan dengan data dan informasi yang tersisa di otaknya. Berbeda dengan para penghukumnya yang kini hanya sekedar menjalani hari tua mereka dengan menyedihkan.

 

***

 

Sebelum mengakhiri diskusi ini kita perlu mengingat kembali adagium Latin tadi, “waktu luang tanpa berkarya adalah maut.”

Kita ini hidup di zaman informasi. Sepanjang hari kita dibanjiri informasi. Perkembangan teknologi bahkan telah memungkinkan kita untuk memproduksi informasi, melalui media sosial seperti Facebook, Twitter atau Path. Saya seringkali merasa bahwa dengan memperbarui status di Twitter atau Facebook itu adalah berkarya.

Seorang teman berpendapat bahwa status-status itu juga karya, karena itu lahir dari pemikiran kita. Tanpa perlu berdebat panjang, saya memilih setuju saja dengan pendapatnya, karena toh sekarang banyak buku yang isinya cuma kumpulan twit. Yang bisa habis dibaca hanya dalam waktu satu jam. Status-status itu memang karya, dalam pengertian yang sama seperti coretan-coretan di tembok atau bangku sekolah, yang pasti akan hilang, karena coretan-coretan itu tidak mencerminkan siapa diri kita sebenarnya dan karena kedua tempat itu bukan media untuk menulis.

Dalam hal berkarya, pandangan saya masih cukup konvensional sekalipun sekarang ini saya menulis di ranah media yang sama dengan Facebook atau Twitter. Karya penulis itu ya harus buku, karya petani itu hasil bumi yang subur, karya penggemar keris itu bisa buku bisa juga berupa keris itu sendiri, dan demikian seterusnya, baik menurut profesi maupun kegemarannya.

Saya harap Anda juga sama konvensionalnya dengan saya, terutama di dunia yang semakin mendewakan “karya” dalam pengertian transaksional: rumah dan mobil mewah, gadget, kartu kredit, dan semua hal lain yang bisa diperoleh tanpa perlu repot-repot memasuki mistikum dan melakukan perenungan.

 

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s