Irama Papua

Leave a comment
Musik / Papua
Anak-anak Asrama Putri Salus Populi Timika

Anak-anak Asrama Putri Salus Populi Timika

Setiap kota di Indonesia punya lagu mereka masing-masing. Orang Yogya akan langsung kangen suasana Yogya setelah mendengarkan “Yogyakarta”-nya Katon Bagaskara, orang Jakarta akan nyanyi “Siapa suruh datang Jakarta…” setiap kali mereka sumpek kena macet. Orang Manado akan melantunkan langgam “Nyiur Melambai” setiap mereka rindu suasana Manado.

Nah, kitorang yang tinggal di Timika ini, lagu apa yang kitong punya? Orang Kamoro akan bilang “Airu Mimika”, orang Amungme akan pilih lagu-lagu Amungme yang penuh semangat hidup itu, orang Pemerintahan Daerah akan menyanyikan “Eme Neme Yaware” dengan penuh rasa khidmat, segenap suku bangsa yang bermukim di Timika mungkin akan punya lagu mereka sendiri-sendiri.

Untuk itu, kita harus mengangkat topi setinggi-tingginya untuk almarhum Arnold Ap, yang sudah mencoba merekam lagu-lagu daerah dari setiap daerah di Papua. Dalam albumnya, Mimika diwakili oleh “Akai Bipa Mare”. Lagu itu cukup bisa menunjukkan identitas dan irama daerah Mimika. Sayangnya, saat itu usaha Arnold Ap dipandang sebagai ancaman oleh penguasa Orde Baru dan akibatnya diberangus.

Toh, sampai saat ini, hampir semua orang Papua yang saya kenal tahu sekali nama Mambesak dan karya-karya mereka. Saya bukan pengamat musik, tapi menurut saya, nuansa Papua di karya-karya Mambesak jauh lebih terasa dibandingkan dengan lagu-lagu Papua yang dinyanyikan oleh Trio Ambisi dan Nanaku. Mohon maaf, tapi rasanya lagu-lagu Papua yang dibawakan oleh Trio Ambisi dan Nanaku sengaja diaransemen untuk dinyanyikan dan didengarkan di ruang karaoke atau restoran.

Saya paham logikanya. Zaman sekarang ini kalau mau populer ya harus ngepop. Kalau tidak mau ikutan dalam arus budaya pop silakan minggir saja. Demikianlah kiranya yang terjadi dengan lagu-lagu Papua. Senasib dengan langgam-langgam Jawa yang sekarang lebih dikenal sebagai Bosanova Jawa. Mendengarkan lagu-lagu Jawa yang dibawakan Pipi Lisna hampir tidak berbeda nuansa dengan lagu-lagu Paula Molerembaum dari Brasil. Lhah kok malah bicara Jawa sih ini, oke kita kembali ke Mimika.

Sepanjang pengalaman saya tinggal di Timika, lagu-lagu Papua yang masih dibawakan dengan irama Papua adalah lagu-lagu Kamoro dan Amungme di perayaan adat atau keagamaan. Di saat-saat seperti itulah saya yakin bahwa orang Papua masih memegang teguh warna dan identitasnya. Selebihnya adalah lagu-lagu Papua yang iramanya ditentukan oleh orang-orang dari jauh, yang lebih suka melihat orang Papua ribut sendiri dengan peliknya pemilihan daerah dan politik uang.

Dengan kondisi seperti itu, kebutuhan akan kesenian adalah kebutuhan nomor sekian. Padahal, seperti yang dituturkan oleh Paus emeritus Benediktus XVI, seni itu “mengelola keindahan lewat rasa halus kemanusiaan, pendorong daya hidup, dan kesadaran pelayanan meski lapar sekalipun.” (Kompas, 31 Maret 2013)

Saya sering membayangkan, apa jadinya bila di Papua sekarang ini muncul penerus proyek kebudayaan almarhum Arnold Ap atau band Papua yang ketenarannya menyamai Black Brothers? Pasti akan sangat menarik. Paling tidak untuk membantu kita mengunyah dan mengurai berbagai kenyataan pahit soal Papua.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s