Papua Anigou

Leave a comment
Papua

“Bapa, saya bisa belajar di sini, kah?” Tanya seorang anak pada seorang pengajar di Bimbingan Belajar Papua Anigou.

“Bisa. Kau pu rumah di mana?” tanya pengajar itu balik.

“Di dekat sini saja. Saya punya bapa kerja jadi tukang.”

Si anak kemudian masuk ke dalam rumah dan mulai membuka-buka halaman buku yang dia raih di sebuah rak buku sederhana di pojok ruangan. Di bagian lain rumah, seorang pengajar Bahasa Inggris sedang menyiapkan materi mengajarnya. Tidak lama berselang, beberapa anak berdatangan untuk memulai pelajaran sore mereka. Tanpa mereka sadari, anak-anak itu telah menemukan jati dirinya sebagai seorang pembelajar, yang tidak dibatasi oleh berbagai macam standar.

Dialog sederhana semacam itu yang kerap mengawali bergabungnya seorang anak di bimbingan belajar (Bimbel) Papua Anigou yang berlokasi di daerah Jalan Baru, Timika. Pesertanya cukup beragam, mulai dari anak-anak asli Mimika hingga anak-anak pendatang dari area Jalan Baru.  Mulai dari yang sekolah hingga yang putus sekolah. Kebanyakan anak-anak usia Sekolah Dasar.

Dalam bahasa Mee, bahasa daerah Willem Bobbii, “Papua Anigou” kurang lebih berarti, “Bangkitlah Papua.” Sebuah semangat yang berawal dari keprihatinan Willem Bobbii melihat begitu banyak anak-anak usia Sekolah Dasar di Timika yang minat belajarnya rendah. Bahkan banyak pula anak-anak, apalagi dari masyarakat asli Mimika, yang putus sekolah.

Anak-anak belajar di Bimbel Papua Anigou

Terlepas dari kemampuan orang tua untuk membiayai pendidikan, menurut Willem Bobbii, anak-anak sendiri seolah tidak terlalu peduli dengan pendidikan di sekolah. Apalagi di luar jam sekolah. Hal itu disebabkan oleh metode pendidikan di indonesia yang tidak membuat anak-anak menyenangi pelajaran mereka. Padahal dengan metode yang tepat, anak-anak akan menyenangi pelajaran apa pun tutur pemuda kelahiran Waghete tersebut. Bobbii kemudian mencontohkan pengalamannya menjelaskan konsep pecahan kepada siswa SMA Adhi Luhur Nabire. Anak-anak pada akhirnya memahami konsep pecahan setelah Bobbii menjelaskannya menggunakan contoh sebuah pepaya yang diambil dari halaman sekolah. Pepaya yang kemudian dibelah-belah itu akhirnya bisa membantu anak-anak memahami apa yang dimaksud dengan ½ atau 2/3. “Untung pepayanya sudah masak, jadi setelah belajar bisa dorang makan. Hehe,” tutur Bobbii mengakhiri kisahnya dengan canda.

Pengajar Bimbel Papua Anigou

Sikap riang dan semangat Bobbii dan rekan-rekannya itulah yang mungkin membuat setiap sore anak-anak usia Sekolah Dasar datang untuk belajar Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Komputer. Saking semangatnya, Bobbii dan rekan-rekan pengajarnya kerap merasa kewalahan. Satu unit komputer butut yang pada awalnya dirasa cukup, sudah tidak mampu lagi melayani hampir 40 anak yang ingin belajar komputer di Bimbel Papua Anigou. Akibatnya, banyak anak-anak yang tidak dapat kesempatan belajar komputer.

Di Timika, harga komputer bisa dua kali lipat dari harga di Jawa. Bagi Bimbel Papua Anigou, yang lebih sering tidak memungut biaya apa pun untuk anak-anak yang datang belajar, membeli sebuah komputer bukan sebuah hal yang mudah.

 

***

 

Tapi memang tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan di dunia ini.  Ribuan kilometer jauhnya dari Papua, di Jakarta dan Makassar, ada beberapa individu yang memiliki perhatian terhadap pendidikan di Papua dan telah lama ingin menyumbangkan komputer-komputer bekas yang ada di Jakarta. Tapi karena ongkos kirim yang cukup mahal ke Timika, rencana itu tertunda selama beberapa bulan.

Secara kebetulan, sebuah warung internet di daerah Mile 32 Timika, 20 kilometer jauhnya dari lokasi Bimbel Papua Anigou tutup karena pengelolanya pulang kampung. Pengelolanya bersedia menjual beberapa unit komputer dengan kondisi yang masih cukup bagus dengan harga yang cukup miring. Terlebih jika komputer itu digunakan untuk tujuan pendidikan anak-anak Papua.

Gayung pun bersambut. Dari Jakarta, Pak Budi Lais dan Ibu Ira Silalahi di Makassar mengirimkan dana untuk membeli satu unit komputer yang kini sudah digunakan anak-anak di Bimbel Papua Anigou.

Dengan komputer baru ini, anak-anak bisa belajar komputer tanpa harus berebutan. Sementara komputer yang lama digunakan seorang pengajar yang sedang sibuk membuat materi pelajaran bahasa Inggris menggunakan program Power Point.

Anak-anak belajar komputer

“Kita kasih kaget dorang dengan materi belajar yang kreatif supaya dorang semangat,” tekan Bobbii sambil mencatat jadwal pelatihan membuat film dokumenter di papan pengumuman. Tidak hanya anak-anak saja yang Bobbi kasih kaget. Saya pun ikut terhenyak. Baru kali ini ada pelatihan membuat film dokumenter di Timika, bahkan hingga mendatangkan fasilitator dari Jakarta yang lulusan sekolah film di Jerman. Semoga pihak-pihak di Timika yang selama ini  baku sikat saling menyalahkan soal kondisi pendidikan di Kabupaten Mimika juga ikut terhenyak melihat gerakan sederhana dari daerah Jalan Baru Timika ini.

 

 

Tari Semut (Kamoro)

Leave a comment
Catatan pertunjukan / Papua

Papua adalah tempat yang sangat kaya akan kebudayaan. 250 suku yang menghuni tanah ini memiliki kekhasan budaya mereka masing-masing. Tapi ketika seorang teman bertanya, adakah seni pertunjukan di Papua, aku terhenyak. Adakah seni pertunjukan di tanah ini? Apakah permainan perang-perangan yang dipentaskan orang Dani di Wamena itu bisa dibilang sebuah seni pertunjukan? Apakah memang memiliki sebuah plot cerita, selain sekedar dua pihak yang bertarung saling mempertontonkan keberanian mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab oleh orang Kamoro. Suku Kamoro adalah sebuah suku yang wilayahnya berada di pesisir selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Mimika, mulai dari Potowayburu di ujung barat hingga Sumapro di ujung timur Mimika. Bentuk kebudayaan mereka yang paling menonjol, sekalipun masih belum sepopuler orang Asmat, adalah ukiran. Pria-pria Kamoro umumnya pengukir yang handal.  Selain ukiran, budaya orang Kamoro juga kaya akan perayaan. Salah satu perayaan dalam siklus hidup orang Kamoro adalah Karapau, acara inisiasi anak muda.

Dalam acara Karapau, biasanya ada pementasan tarian yang melibatkan atraksi panjat memanjat sebuah panggung. Kisah di balik panggung itu akhirnya aku pahami pada kesempatan pementasan Tarian Semut oleh orang Kamoro dari Kaugapu di bawah pimpinan Bapak Markus Yemaro di Klub Golf Rimba Irian, Kuala Kencana (29/04/12).

Foto ©Onny Wiranda

Pada penjelasan yang diberikan Kal Muller, fotografer cum penulis yang sudah lama tinggal di Mimika, pesan dari Tari Semut adalah bahwa sebagai warga masyarakat, kita harus saling bantu membantu dan tolong menolong.

Aku kira hanya tarian biasa. Ternyata ada yang berperan sebagai troubadour, semut, dan biawak, dan sebuah jalan cerita.

Kurang lebih seperti ini ceritanya:

Pada suatu ketika, seorang paitua pergi masuk ke hutan untuk berburu. Di dalam hutan, betapa terkejutnya dia ketika mendapati sebuah menara yang menjulang tinggi. Takut bercampur kagum, dia kembali ke kampung dan tidak menceritakan temuannya itu kepada siapa-siapa.

Menara Semut | Foto ©Onny Wiranda

Para semut berjuang mengusir ular | Foto ©Onny Wiranda

Keesokan harinya, paitua itu kembali ke hutan untuk mencari lebih jauh soal menara itu. Dia bersembunyi dan mengamati. Ternyata menara itu dibangun oleh para semut. Mereka memasang tangga untuk meneruskan pekerjaan membangun menara serta menghiasi menara dengan dedaunan. Usai kerja, para semut kembali ke dalam sarang mereka.

Di malam hari, seekor ular menangkap biawak-biawak dan mengurungnya di ruangan bahwa menara. Para biawak yang malang itu diikat sehingga tidak berdaya.

Esoknya, paitua yang masih penasaran itu kembali ke menara dan mendapati seekor ular besar menguasai menara itu. Saat para semut datang, mereka kaget dan langsung mengusir ular dengan cara merayap naik turun. Gerakan para semut dipimpin oleh pimpinan koloni mereka yang berdiri di atas menara. Di balik dedaunan, paitua mengamati pertempuran itu.  Akhirnya ular berhasil dikalahkan dan para biawak dibebaskan.

Para Biawak yang malang menanti dibebaskan | Foto ©Onny Wiranda

Pimpinan Koloni Semut | | Foto ©Onny Wiranda

Paitua yang diliputi rasa takjub segera kembali ke kampung dan menceritakan panjang lebar peristiwa itu ke seluruh warga kampung. Mendengar cerita itu, para warga kampung ikutan kagum dan mencoba membangun menara seperti yang diceritakan paitua itu. Dalam pembangunannya, mereka saling membagi tugas dan bekerja sama sebagaimana halnya para semut.

Usai pementasan, semua pemain langsung menyingkir dari area pertunjukan. Tinggal seorang mama yang tadi menjadi troubadour, menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Kamoro. Lebih mirip tuturan sebenarnya katimbang nyanyian. Suasana magisnya sangat terasa. Tidak ada satu orang pun dari rombongan pemain tadi yang meminta mama itu untuk menyingkir. Mungkin ada pesan dari Tari Semut yang hanya dipahami oleh orang Kamoro.

Sirkus Intoleransi

Leave a comment
Current issues

Bahkan pada saat-saat seperti ini, di mana kita mendapat tontonan sirkus intoleransi, saya masih mendapatkan pesan damai setiap kali seseorang menyebutkan agamanya. Seperti itulah. Selang beberapa jam sebelum saya menulis catatan ini, seorang teman menyebutkan “Islam” ketika ditanya agamanya oleh staf bagian pendaftaran sebuah rumah sakit di Timika yang dikelola sebuah kongregasi suster.

Saat itu, teman saya juga tidak sadar bahwa dengan menyebutkan kata itu dia telah menyatakan pesan damai yang dengan indah diuntai dalam “Rahmatan lil alamin”. Pesan damai itu pula yang dibawa para suster, yang terwujud dalam karya bagi sesama di Kabupaten Mimika.

Di saat yang bersamaan, bagian dari kesadaran saya yang selama ini disuburkan oleh berbagai informasi dari media akibat riuh rendahnya sirkus intoleransi belakangan ini, menimbulkan berbagai catatan tentang berbagai keriuhan dalam sirkus intoleransi; tentang istri pendeta yang dilempari telur, tentang perihnya umat Katolik di Wedi yang Goa Marianya dirusak, tentang anak-anak di Padang yang dipaksa mengenakan jilbab. Tapi anehnya, hanya catatan kering saja yang muncul di benak saya. Bukan sebuah kesan, bahwa teman saya berada dalam satu kerumunan yang sedang giat-giatnya merangsek orang-orang dengan keyakinan yang sama dengan saya.

Bisa jadi kesan seperti itu yang berusaha dihasilkan oleh sirkus intoleransi yang sedang marak kita saksikan sekarang. Sebuah pertunjukan di mana kita sebagai warga negara dipaksa menyaksikan negara yang menjual tiket masuk, menyiapkan aturan main, dan menyediakan arena bagi warganya yang berbeda-beda keyakinan untuk saling bertarung. Siapa pawang dan siapa hewan jagoan sudah semakin susah dibedakan. Siapa penegak hukum dan perusak hukum juga semakin sulit dibedakan perangainya.

Dengan keadaan demikian, tidak heran jika semakin banyak orang di Papua yang terheran-heran: kenapa kami di Papua selalu dicurigai sebagai separatis dan berbagai macam cap lainnya sementara di Jawa sana ada pihak yang jelas-jelas merongrong kebhinekaan malah dibiarkan?

Sebagian teman dengan enteng mengatakan, “yah maklum, namanya juga sirkus, itu kan konspirasi si ini dengan si itu”. Setelah itu dia melenggang untuk mengurusi pekerjaannya. Kesan seperti ini pula yang diinginkan penyelenggara sirkus kepada kita; untuk membiarkan semua pertunjukan sirkus ini, karena toh pihak penyelenggara lebih tahu pasti kapan tepatnya pertunjukkan akan berakhir.

Apapun kesan yang kita dapatkan, jangan sampai kita lengah bahwa sirkus ini akan semakin besar dan mungkin akan melibatkan diri kita di dalamnya. Negara-negara yang membiarkan gejala semacam ini biasanya akan jatuh dalam cengkeraman kelompok preman berjubah, apapun jubahnya; Jerman dan Italia dengan jubah sosialisme nasionalisme, Afghanistan dan Mesir dengan jubah Islam, India dengan jubah Hindu kanan.

Indonesia rasanya sudah memilih untuk mengikuti jalan sejarah negara-negara itu. Membawa serta kita yang masih yakin bahwa negara ini didirikan untuk merayakan perbedaan.

Alkinemokiye

comment 1
Papua

Hari sudah beranjak sore ketika Petrus Deikme bermain-main di halaman sebuah gedung yang nampak terlantar. Tidak nampak ada aktivitas. Sekalipun demikian, gedung itu masih menyimpan semacam pesona. Rancang bangunnya nampak beda dari bangunan lain di kampung Aramsolki, Akimuga yang kebanyakan berbentuk rumah panggung dengan material seluruhnya dari kayu dengan kualitas yang kurang baik.

Alkinemokiye

Bangunan tempat Petrus Deikme bermain itu menggunakan tembok sebatas pinggang orang dewasa dan disambung dengan papan kayu yang masih nampak kokoh, dihiasi dengan jendela yang sederhana tapi nampak manis. Petrus Deikme sedang bermain di semacam lorong masuk. Ketika aku datangi, di atas lorong masuk bangunan itu ada sebuah papan bergambar matahari yang terbit dari balik pegunungan dan dihiasi sebuah tulisan “Alkinemokiye”

Jangan tanya apa jawaban Petrus Deikme. Ketika ku tanya, dia cuma menjawab singkat dengan mengangkat alis matanya. Semacam tanda bahwa dia tidak tahu arti kata itu dan mungkin juga tidak tahu maksudku.

Anak-anak SD YPPK Aramsolki. Petrus Deikme yang paling kanan.

Tidak lama kemudian datanglah teman seperjalananku dari Timika, Pak Abraham Timang dan Pascalis Abner, bersama dengan Pak Mantri. Mereka langsung menuju ke tempatku dan Petrus Deikme duduk.

Aku langsung menanyakan arti kalimat itu kepada Pak Abraham. Dia langsung mengarahkan pandangan matanya ke Pak Mantri yang juga orang Amungme, seperti berusaha menyamakan pemahaman mereka. Lalu, masih dengan menatap mata Pak Mantri, Pak Abraham menjelaskan arti – yang ternyata lebih pas disebut – kalimat itu.

Kalimat itu menyimpan kenangan atas masa lalu orang Amungme. Saat mereka baru saja berkenalan dengan senjakala peradaban modern melalui kedatangan para misionaris di daerah pegunungan tengah Papua, seperti Tsinga dan Noema. Pada tahun 1958, para tetua Amungme sepakat untuk bermigrasi ke daerah dataran rendah, yang sudah disiapkan oleh para misionaris dan pemerintah kolonial Belanda. Daerah itu berada jauh dari kaki pegunungan tengah Papua dan diapit dua aliran sungai. Sebuah tanah subur yang merupakan daerah orang Sempan.

Setelah melalui serangkaian pembicaraan dengan suku Sempan, akhirnya disepakati bahwa orang Amungme boleh tinggal di daerah yang kemudian diberi nama Akimuga. Ada tiga kampung di Akimuga, yakni Aramsolki, Amungun, dan Kliarma.

Di daerah baru tersebut, orang Amungme tidak lagi terbatasi ruang geraknya oleh gunung, lembah, dan jurang. Tanah datar yang luas dan subur memungkinkan orang Amungme untuk mengembangkan pertanian dan peternakan. Selain itu, pelayanan pendidikan dan kesehatan tidak lagi terhalangi batasan geografis. Dengan semua itu, orang Amungme mulai menjajaki jalan panjang menuju tingkatan kehidupan kemanusiaan yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.

Hampir semua orang Amungme yang aku ajak bicara mengenai transisi mereka tersebut, selalu yakin bahwa inklusi mereka menuju peradaban baru adalah sebuah keniscayaan. Anak-anak mendapatkan pendidikan dan keahlian dari sekolah-sekolah dan Asrama St. Yohanes di Aramsolki serta sebuah bengkel kerja. Ibu-ibu bisa melahirkan dengan baik dan mendapatkan pelayanan kesehatan di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang didirikan Pater Frankenmoelen.

Mama dan anak-anaknya. Mau ke Aramsolki.

Bagi masyarakat Amungme di Akimuga saat itu, senjakala peradaban telah benar-benar mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Amungme. Matahari telah terbit untuk menerangi dunia dan segenap penghuninya atau dalam bahasa Amungme disebut dengan cukup singkat saja, “Alkinemokiye.”

Menurut Pak Abraham dan Pak Mantri, papan bertuliskan “Alkinemokiye” yang sekarang tergantung di atas lorong masuk BKIA itu adalah pengganti papan lama yang sudah rusak. Setelah ngobrol di depan lorong masuk, Pak Mantri mengajak masuk ke ruangan-ruangan BKIA. Dia sangat sedih dengan kondisi BKIA ini sekarang. Pasokan obat-obatan semakin tidak menentu, perlengkapan yang semakin lama semakin banyak yang rusak, kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin menurun. “Kalau seperti ini terus, akan seperti apa nasib orang Amungme?” tutur Pak Mantri sambil menutup lemari penyimpan obatnya.

Kelesuan Pak Mantri cukup beralasan. Sebagaimana halnya daerah lain di Papua sejak tahun 1968, masyarakat Amungme di Akimuga dan yang masih tinggal di pegunungan tengah Papua juga merasakan suasana yang semakin tegang. Saat itu sudah banyak pasukan Indonesia yang berkeliaran di Papua sibuk memaksa rakyat untuk “menyukseskan” Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat). Setelah Pepera, keadaan tidak menjadi lebih baik. Menurut Mozes Kilangin, Akimuga menjadi kota mati setelah peralihan ke Indonesia. Semua kegiatan pembangunan, seperti pelayanan kesehatan terhenti begitu saja. Penyakit malaria merebak (Kilangin, 2009, Hal. 149).

Kehidupan tenang di Akimuga  benar-benar berakhir pada tahun 1977. Saat itu, beberapa kelompok milisi OPM tiba di Akimuga. Untuk menyatakan kemarahan mereka, semua guru yang bukan orang Papua dibunuh atau diusir. Akibatnya, sekolah tutup dan anak-anak hidup dalam ketakutan. Sebagai tindakan balasan, TNI mengirim pesawat-pesawat Bronco untuk mengebom lokasi-lokasi yang diduga sebagai basis OPM dan menempatkan tentara dari Batalyon 753 di Akimuga (Al Araf et al, 2011, Hal. 58).

Akibatnya, banyak warga Akimuga mengungsi masuk ke hutan dan ke Timika. Menurut kesaksian seorang warga Aramsolki, saat itu Pater Frankenmoelen sampai keluar masuk hutan untuk meyakinkan para pengungsi agar kembali ke Akimuga.

Aku jadi teringat sebuah foto di buku memoar Mozes Kilangin. Di situ ada foto Pater Frankenmoelen beserta anak-anak Asrama St. Yohanes Akimuga. Tertera keterangan bahwa foto diambil pada tahun 1980. Bisa ku bayangkan bagaimana suasana Akimuga saat itu. Luka akibat konflik dan kekerasan di Akimuga pasti masih terasa sangat segar. Hingga kini rasanya luka itu masih belum pulih. Sekolah memang ada, tapi kegiatan belajar dilakukan sekedarnya saja.

(Repro) Pater Frankenmoelen dan Bruder Edi dengan anak-anak Asrama St. Yohanes

Yang masih nampak lumayan adalah Puskesmas Kliarma, yang digawangi oleh seorang dokter PTT dari Jakarta. Entah bagaimana jadinya bila dokter itu kembali ke Jakarta. Yang nampak hidup justru pos-pos tentara. Selalu saja ada kegiatan di pos yang dipenuhi serdadu-serdadu muda itu. Beberapa tahun lalu bahkan aku melihat seorang serdadu yang –hanya karena– iseng menembakkan senjatanya ke udara membuat takut serombongan anak SMP yang pulang sekolah.

Tanpa terasa, suasana mulai gelap. Cakrawala barat yang berwarna kemerahan seolah memberi pesan bahwa ada urusan yang belum diselesaikan sang matahari. Kami beranjak kembali ke penginapan. Besok pasti matahari akan terbit lagi. Sebuah hari baru. Semoga bagi orang Amungme, matahari yang terbit setiap pagi senantiasa menjadi pengingat akan perjalanan mereka yang belum selesai.

Bacaan lebih lanjut:

Kilangin, Mozes (2009). Uru Me Ki. Jayapura: Penerbit Tabura

Al Araf et al (2011). Sekuritisasi Papua. Jakarta: Imparsial

Bahagia ala Henry Lefebvre

Leave a comment
Buku / Tentang kota / Tokoh

“In 1955, Lefebvre warned how’d we lost Rabelais’s laughter. And in losing it, he said, we’ve lost a big part of our cultural heritage, even lost a weapon in our revolutionary arsenal.”

Andy Merrifield

Henry Lefebvre, penulis kiri dari Prancis ini awalnya tidak terlalu menarik perhatianku. Mengeja namanya saja aku kesulitan. Sama sulitnya seperti mengeja merk parfum Bvlgari.Aku membayangkan membaca buku Lefebvre akan seperti membaca tulisan Louis Althusser atau Walter Benjamin yang terlalu berat bagi otakku yang pas-pasan ini.  Dari Althusser, hanya penjelasan soal ISA (Internal State Apparatus) yang bisa aku cerna. Lainnya kebanyakan aku lupa atau memang tidak paham sama sekali.

Tapi setelah aku ingat kembali, ternyata aku tidak pernah membaca buku pengantar masuk ke alam pikiran Louis Althusser. Aku langsung masuk ke rimba raya pemikiran Althusser, dan mendapati diriku tersesat di dalam halaman-halaman beberapa buku Althusser yang aku unduh dari internet.

Dengan Lefebvre ini agak berbeda ceritanya. Aku memilih membaca buku pengantarnya sebelum membaca karya-karyanya. Padahal, judul buku Lefebvre banyak yang terdengar seksi dan terkesan ringan, misalnya; Critique of Everyday Life dan Production of Cities. Buku pengantar masuk ke alam pikiran Lefebvre yang aku temukan judulnya “Henry Lefebvre; A Critical Introduction” yang ditulis oleh Andy Merrifield.

Sebagai seorang pemikir kiri, Lefebvre ini agak beda. Seperti kata Merrifield, Lefebvre ini “terlalu komunis untuk disebut sebagai seorang romantis, tapi juga terlalu romantis untuk disebut sebagai seorang komunis.” Hehe. Dan memang terbukti di tulisannya Lefebvre. Penulis Marxis mana yang akan mengutip Ulysses-ny James Joyce atau konsep kehidupan Dionysiac yang sangat berbau Nietzche itu?

Merrifield melacak keanehan cara berpikir Lefebvre hingga ke kampung halaman Lefebvre di Pyrennes- Atlantique di Prancis Selatan, daerah orang Basque. Kebudayaan orang Basque sangat unik. Takut sekali dengan dosa, tapi juga tukang pesta. Lefebvre meyakini, bahwa festival adalah saat di mana manusia terlepas dari semua identitas yang ditimpakan kepadanya.

Tanpa sebuah penelitian yang muluk-muluk, kita bisa melihat hal ini, terutama di kebudayaan Latin. Lihatlah bagaimana orang-orang dari berbagai kalangan diuber-uber banteng di Spanyol atau joget-joget di jalanan di Brazil. Kalender di Indonesia sendiri sebenarnya banyak diwarnai hari festival perayaan ini dan itu, tapi sepertinya akhir-akhir ini kita semakin jadi bangsa yang serius dan bermuram durja. Rasanya kita sebagai bangsa hanya berpesta bersama di saat pergantian tahun.

Sebuah festival atau perayaan, menurut Lefebvre, adalah pelipatgandaan hal-hal yang mengelilingi kita di kehidupan keseharian (bagiku, frasa itu sudah sangat pas menggantikan Everyday Life dan La Vie Quotidienne), sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan keseharian tapi tetap menjadi bagian dari keseharian, sebuah penyerahan diri kepada Dionysius, kepada Eros. Dengan melonggarnya semua tekanan kehidupan keseharian, sebuah festival atau perayaan malah memperkuat jejaring sosial sebuah masyarakat.

Aku jadi ingat sebuah obrolan dengan seorang teman. Dia bilang bahwa orang NU (Nahdlatul Ulama) dengan kekayaan tradisinya membuat mereka punya banyak “kanalisasi sosial.” Yang dia maksud dengan kanalisasi sosial adalah perayaan keagamaan yang kerap bercampur aduk dengan tradisi lokal Jawa. Dengan perayaan-perayaan tersebut, warga NU memiliki kanal untuk membuang segala kepenatan kehidupan dan (kalau istilah zaman sekarang) kegalauan mereka untuk kemudian kembali ke dalam kehidupan keseharian sebagai warga yang bahagia.

Bagi Lefebvre, negara-negara komunis, alih-alih ingin menjunjung tinggi kemanusiaan, malah mengiris rasa kemanusiaan warga negaranya dengan membuat kehidupan keseharian begitu garing dan membosankan dan dinodai oleh pengulangan ideologi dalam keseharian (mungkin maksudnya melalui papan atau grafiti yang berisi slogan atau propaganda). Harap diingat bahwa Lefebvre menulis bukunya di masa kejayaan Uni Soviet pada tahun 1980-an. Jika dia hidup di era kini, maka masyarakat yang dia telisik adalah masyarakat di negara-negara kapitalis. Seperti halnya tulisan-tulisan Umberto Eco.

Politik yang tidak berusaha memahami kehidupan masyarakat dalam skala mikro, kata Lefebvre, adalah politik tanpa konsituen. Tidak mengherankan memang. Baik di negara komunis, kapitalis, fasis, atau teokratis hingga yang tidak jelas macam Indonesia ini, semua rekayasa sosial yang disusun di atas meja dengan tingkat abstraksi yang tinggi pasti akan hancur luluh lantak dan menyisakan masyarakat yang tidak bahagia.

Tapi sebenarnya saya jadi berpikir, jangan-jangan ada semacam pengecualian, seperti; masyarakat Kuba yang (sepertinya) nampak bahagia di dalam keterisolasian mereka atau warga Sabaudia, kota yang dibangun Mussolini di atas rawa-rawa itu, yang mengenang Mussolini dengan kebimbangan “benci tapi cinta.”

Begitulah. Dengan gaya bahasa yang ringan, Andy Merrifield tidak hanya membuat kita memahami Lefebvre tapi juga sudah berhasil menyampaikan pesan Lefebvre bahwa manusia yang berdaulat atas masa lalu, masa kini, dan masa depannya adalah manusia yang bahagia. Tanpa terasa, kita akan sudah menyelesaikan 8 Bab dalam buku ini.

Mimika; negeri di atas sungai

Leave a comment
Papua

Peta DAS di Mimika (Sumber: http://www.polapsda.net)

Selama ini Kabupaten Mimika lebih dikenal dengan kegagahan puncak  Cartensz (Amungme: Nemangkawi) yang berkalungkan salju. Sekalipun sekarang salju itu sudah mulai lumer akibat pemanasan global. Padahal jika kita lihat peta dan lihat langsung, mayoritas wilayah Kabupaten Mimika adalah daerah aliran sungai. Mimika sendiri dalam bahasa Kamoro berarti “sungai sedang meluap”.

Hingga kini, sungai masih menjadi denyut nadi perkembangan daerah. Berbagai macam kebutuhan dikirimkan dari Timika melalui sungai, khususnya untuk kampung-kampung di daerah pesisir. Semua kampung masyarakat Amungme di daerah dataran tinggi didirikan di daerah aliran sungai Otomona, seperti Tsinga, Aroanop, dan Jila.

Total ada 28 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Mimika. Ujung timur Mimika adalah daerah yang ditandai dengan sengkarut Daerah Aliran Sungai Namarepi (Nawaripi?), Ararau, Mupuruka, Ekopini, Yara, Aparuka.

Lebih ke barat ada Daerah Aliran Sungai Maparwa, Kipia, Akar, Makirimu, Wakia, Yawai, Urumuka, Karwabeau, Ibrawda, Mimika, Uta (di peta DAS ini sudah masuk Kabupetan Paniai), dan Yawai. Di DAS Urumuka ini kalau tidak salah akan didirikan sebuah pembangkit listrik berkekuatan besar yang mampu memasok kebutuhan listrik kota Timika. Zaman dulu daerah ini adalah pos pemerintahan kolonial Belanda di pesisir selatan Papua, namanya Uta. Seingatku, tanah di daerah Uta memang subur sekali. Terlebih jika dibandingkan dengan Kaokanao yang lebih mirip daerah rawa-rawa.

Mendekati kota Timika, ada DAS Keakwa, Kamora, Wania, Aiwanoi, Otakwa, Mawati, dan DAS Otomona di daerah dataran tinggi. Lebih ke timur ada DAS Akimuga dan Cemara yang sangat subur,serta DAS Noordwest dan Kastel Barat. Tidak heran jika dulu Dinas Pertanahan pemerintah Belanda merelokasi orang Amungme yang tinggal di dataran tinggi ke DAS Akimuga. Sampai tahun 1980-an, Akimuga masih terkenal sebagai daerah pemasok berbagai macam sayur dan buah-buah untuk Mimika.

Seorang paitua Kamoro mengatakan bahwa dia masih ingat benar bagaimana sungai Ajkwa yang kini menjadi hamparan tailing dulunya adalah jalur utama masyarakat Kamoro untuk mengadakan kontak dengan masyarakat Amungme. Paitua Kamoro itu juga bermimpi bahwa suatu saat sungai Ajkwa akan pulih dari limpahan tailing dan bisa kembali disusuri.  Dia pasti tidak pernah berpikir bahwa daerah aliran sungai Ajkwa akan jadi hamparan tailing. Dan sekarang jadi medan penembakan misterius pula.

Negara kita sebenarnya sudah mempunyai undang-undang tentang pengelolaan Daerah Aliran Sungai, yakni Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Di dalamnya, terurai 5 (lima) aspek dalam pengelolaan sumber daya air, yaitu Konservasi Sumber Daya Air, Pendayagunaan Sumber Daya Air, Pengendalian Daya Rusak Air, Sistem Informasi Sumber Daya Air serta Pemberdayaan Masyarakat (Stakeholders).  Tapi entahlah bagaimana pelaksanaannya.

Sondang Hutagalung; Sebuah Baptisan Api

Leave a comment
Current issues / Tentang kawan

Bara api

“Semua yang berlebihan itu sia-sia,” kata Monsieur Charles Maurice de Talleyrand, Menteri luar negeri Prancis di era Napoleon. Kata-kata itu diucapkan kembali dengan penuh keyakinan oleh Jacques Verges, pengacara Pol Pot. Dan hingga kini, sama halnya dengan para despot lainnya di seluruh dunia, Pol Pot masih belum diganjar hukuman.

Kepada siapa dan dalam konteks apa kalimat itu diucapkan saya kurang tahu. Tapi jika kemudian kalimat itu dipinjam oleh seorang Jacques Verges yang pengacara Pol Pot, maka saya bisa memahami sasaran dan niatan kalimat tersebut. Cukup jelas bagi saya bahwa kalimat itu ditujukan bagi semua orang yang menuntut keadilan atas semua kejahatan Pol Pot. Bahwa hukuman atas Pol Pot adalah sebuah kemustahilan dan bahwa usaha untuk menghukum Pol Pot adalah sebuah tindakan yang berlebihan dan sia-sia.

Di Indonesia kita tidak mengenal sosok seperti Jacques Verges, tapi toh kita sepertinya sangat akrab dengan ancaman halus ala Verges. Marilah kita bertanya pada keluarga korban penghilangan paksa oleh negara yang setiap hari kamis berdemonstrasi di depan istana negara. Sikap negara yang mendiamkan aksi-aksi tersebut dan bahkan memandang penyelidikan Komnas HAM terkena azas “Nebis in idem” (alasan yang mengada-ada) adalah ancaman yang sama intimidatifnya dengan kalimat Menlu Prancis era Napoleon yang dikutip oleh Verges.

Saya yakin, hanya masalah waktu saja sampai ada seorang pejabat atau seseorang yang digunakan oleh pemerintah untuk mengatakan, “sudahlah, mendesak negara untuk mengakui semua kejahatannya itu tindakan yang mengada-ada, dan karena itu sia-sia.” Saya juga yakin, para orang tua korban sudah mendengarkan ujaran seperti itu di pikiran buruk mereka.

Dalam keadaan seperti itulah saya ingin mengenang seorang Sondang Hutagalung. Semasa hidupnya, sejauh yang saya tahu, dia adalah pemuda yang sangat aktif dalam usaha memperjuangkan keadilan bagi para korban penghilangan paksa. Semasa hidupnya, Sondang – dan semua pemuda Indonesia yang sadar – pasti kerap mendengarkan ujaran “kesia-siaan” itu dari sikap dan tindakan pemerintah yang masih memainkan nada militerisme Orde Baru, seperti banyak kejadian di Papua akhir-akhir ini.

Setelah menderita selama empat hari, Sondang Hutagalung akhirnya meninggal dunia pada hari Sabtu (10/12/11) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Seperti biasa, sikap pemerintah selalu bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan malah meragukan bahwa pemuda yang membakar dirinya itu adalah pemuda Sondang Hutagalung.

Bagi kita, tindakan protes berupa pembakaran diri ini adalah sebuah hal yang sangat baru. Kita hanya terbiasa pada aksi bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang muda dan menewaskan banyak orang. Bedanya dengan Sondang, orang-orang muda yang menghiasi dirinya dengan bom itu mati dengan janji akan mendapatkan imbalan di akhirat. Sedangkan Sondang?

Sayangnya Sondang tidak meninggalkan catatan apa pun.

Selamat jalan, kawan luka sebaya

Dalam banyak agama, api tidak hanya melulu dipandang sebagai lambang murka Tuhan, tapi juga lambang kasih Tuhan kepada manusia. Jika kita mau sejenak merenungkan peristiwa ini, bisa jadi kita akan berpikir bahwa Sondang telah memberikan sebuah “Baptisan Api” bagi pikiran kita yang sudah telanjur nyaman dan kehilangan pesona akan kemanusiaan, sebuah kesempatan kedua untuk menjalani hidup yang lebih memuliakan manusia.