Sondang Hutagalung; Sebuah Baptisan Api

Leave a comment
Current issues / Tentang kawan

Bara api

“Semua yang berlebihan itu sia-sia,” kata Monsieur Charles Maurice de Talleyrand, Menteri luar negeri Prancis di era Napoleon. Kata-kata itu diucapkan kembali dengan penuh keyakinan oleh Jacques Verges, pengacara Pol Pot. Dan hingga kini, sama halnya dengan para despot lainnya di seluruh dunia, Pol Pot masih belum diganjar hukuman.

Kepada siapa dan dalam konteks apa kalimat itu diucapkan saya kurang tahu. Tapi jika kemudian kalimat itu dipinjam oleh seorang Jacques Verges yang pengacara Pol Pot, maka saya bisa memahami sasaran dan niatan kalimat tersebut. Cukup jelas bagi saya bahwa kalimat itu ditujukan bagi semua orang yang menuntut keadilan atas semua kejahatan Pol Pot. Bahwa hukuman atas Pol Pot adalah sebuah kemustahilan dan bahwa usaha untuk menghukum Pol Pot adalah sebuah tindakan yang berlebihan dan sia-sia.

Di Indonesia kita tidak mengenal sosok seperti Jacques Verges, tapi toh kita sepertinya sangat akrab dengan ancaman halus ala Verges. Marilah kita bertanya pada keluarga korban penghilangan paksa oleh negara yang setiap hari kamis berdemonstrasi di depan istana negara. Sikap negara yang mendiamkan aksi-aksi tersebut dan bahkan memandang penyelidikan Komnas HAM terkena azas “Nebis in idem” (alasan yang mengada-ada) adalah ancaman yang sama intimidatifnya dengan kalimat Menlu Prancis era Napoleon yang dikutip oleh Verges.

Saya yakin, hanya masalah waktu saja sampai ada seorang pejabat atau seseorang yang digunakan oleh pemerintah untuk mengatakan, “sudahlah, mendesak negara untuk mengakui semua kejahatannya itu tindakan yang mengada-ada, dan karena itu sia-sia.” Saya juga yakin, para orang tua korban sudah mendengarkan ujaran seperti itu di pikiran buruk mereka.

Dalam keadaan seperti itulah saya ingin mengenang seorang Sondang Hutagalung. Semasa hidupnya, sejauh yang saya tahu, dia adalah pemuda yang sangat aktif dalam usaha memperjuangkan keadilan bagi para korban penghilangan paksa. Semasa hidupnya, Sondang – dan semua pemuda Indonesia yang sadar – pasti kerap mendengarkan ujaran “kesia-siaan” itu dari sikap dan tindakan pemerintah yang masih memainkan nada militerisme Orde Baru, seperti banyak kejadian di Papua akhir-akhir ini.

Setelah menderita selama empat hari, Sondang Hutagalung akhirnya meninggal dunia pada hari Sabtu (10/12/11) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Seperti biasa, sikap pemerintah selalu bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan malah meragukan bahwa pemuda yang membakar dirinya itu adalah pemuda Sondang Hutagalung.

Bagi kita, tindakan protes berupa pembakaran diri ini adalah sebuah hal yang sangat baru. Kita hanya terbiasa pada aksi bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang muda dan menewaskan banyak orang. Bedanya dengan Sondang, orang-orang muda yang menghiasi dirinya dengan bom itu mati dengan janji akan mendapatkan imbalan di akhirat. Sedangkan Sondang?

Sayangnya Sondang tidak meninggalkan catatan apa pun.

Selamat jalan, kawan luka sebaya

Dalam banyak agama, api tidak hanya melulu dipandang sebagai lambang murka Tuhan, tapi juga lambang kasih Tuhan kepada manusia. Jika kita mau sejenak merenungkan peristiwa ini, bisa jadi kita akan berpikir bahwa Sondang telah memberikan sebuah “Baptisan Api” bagi pikiran kita yang sudah telanjur nyaman dan kehilangan pesona akan kemanusiaan, sebuah kesempatan kedua untuk menjalani hidup yang lebih memuliakan manusia.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s