Mimika; negeri di atas sungai

Leave a comment
Papua

Peta DAS di Mimika (Sumber: http://www.polapsda.net)

Selama ini Kabupaten Mimika lebih dikenal dengan kegagahan puncak  Cartensz (Amungme: Nemangkawi) yang berkalungkan salju. Sekalipun sekarang salju itu sudah mulai lumer akibat pemanasan global. Padahal jika kita lihat peta dan lihat langsung, mayoritas wilayah Kabupaten Mimika adalah daerah aliran sungai. Mimika sendiri dalam bahasa Kamoro berarti “sungai sedang meluap”.

Hingga kini, sungai masih menjadi denyut nadi perkembangan daerah. Berbagai macam kebutuhan dikirimkan dari Timika melalui sungai, khususnya untuk kampung-kampung di daerah pesisir. Semua kampung masyarakat Amungme di daerah dataran tinggi didirikan di daerah aliran sungai Otomona, seperti Tsinga, Aroanop, dan Jila.

Total ada 28 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Mimika. Ujung timur Mimika adalah daerah yang ditandai dengan sengkarut Daerah Aliran Sungai Namarepi (Nawaripi?), Ararau, Mupuruka, Ekopini, Yara, Aparuka.

Lebih ke barat ada Daerah Aliran Sungai Maparwa, Kipia, Akar, Makirimu, Wakia, Yawai, Urumuka, Karwabeau, Ibrawda, Mimika, Uta (di peta DAS ini sudah masuk Kabupetan Paniai), dan Yawai. Di DAS Urumuka ini kalau tidak salah akan didirikan sebuah pembangkit listrik berkekuatan besar yang mampu memasok kebutuhan listrik kota Timika. Zaman dulu daerah ini adalah pos pemerintahan kolonial Belanda di pesisir selatan Papua, namanya Uta. Seingatku, tanah di daerah Uta memang subur sekali. Terlebih jika dibandingkan dengan Kaokanao yang lebih mirip daerah rawa-rawa.

Mendekati kota Timika, ada DAS Keakwa, Kamora, Wania, Aiwanoi, Otakwa, Mawati, dan DAS Otomona di daerah dataran tinggi. Lebih ke timur ada DAS Akimuga dan Cemara yang sangat subur,serta DAS Noordwest dan Kastel Barat. Tidak heran jika dulu Dinas Pertanahan pemerintah Belanda merelokasi orang Amungme yang tinggal di dataran tinggi ke DAS Akimuga. Sampai tahun 1980-an, Akimuga masih terkenal sebagai daerah pemasok berbagai macam sayur dan buah-buah untuk Mimika.

Seorang paitua Kamoro mengatakan bahwa dia masih ingat benar bagaimana sungai Ajkwa yang kini menjadi hamparan tailing dulunya adalah jalur utama masyarakat Kamoro untuk mengadakan kontak dengan masyarakat Amungme. Paitua Kamoro itu juga bermimpi bahwa suatu saat sungai Ajkwa akan pulih dari limpahan tailing dan bisa kembali disusuri.  Dia pasti tidak pernah berpikir bahwa daerah aliran sungai Ajkwa akan jadi hamparan tailing. Dan sekarang jadi medan penembakan misterius pula.

Negara kita sebenarnya sudah mempunyai undang-undang tentang pengelolaan Daerah Aliran Sungai, yakni Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Di dalamnya, terurai 5 (lima) aspek dalam pengelolaan sumber daya air, yaitu Konservasi Sumber Daya Air, Pendayagunaan Sumber Daya Air, Pengendalian Daya Rusak Air, Sistem Informasi Sumber Daya Air serta Pemberdayaan Masyarakat (Stakeholders).  Tapi entahlah bagaimana pelaksanaannya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s