di jalan-jalan jakarta

Leave a comment
Tentang kota

keiko,

siang itu aku berdiri di sebuah perempatan terbesar yang pernah aku lihat. nama daerahnya kalau tidak salah slipi, atau grogol. informasi di layar hpku yang keluar cuma “mal taman anggrek”. berdiri, sendiri, tapi tidak ada ngeri atau sepi di hati. aku bebas memandangi orang-orang dan mobil yang lalu lalang di depanku, mendengarkan suara-suara yang dihasilkan persimpangan jalan, mencium bebauan yang dihasilkan keringat dan knalpot. lagipula sepertinya mereka tidak melihatku. kecuali seorang polisi di posnya, tidak ada orang lain yang memandangi aku.

rasanya cukup lama aku berdiri di situ, sekitar limabelas menit yang nanar. karena aku memandang jalan dengan nanar -serupa dengan nanar orang yang tidak tahu lagi harus berhutang ke siapa- yang aku keram dalam gelapnya kacamata hitamku. berbagai macam jenis bis datang berganti, dan bajaj, dan mikrolet, dan ojek. semua terlihat sama, begitu terburu-buru. pandanganku aku pusatkan pada tulisan-tulisan besar di kaca depan bis; grogol, slipi, kp. rambutan, roxy, blok m.

bicara soal memandang. aku merasa tidak adil sekali. aku memandangi mereka tanpa memberi mereka kesempatan untuk memandang aku balik. sudah ada dua orang barusan ini yang memandangi aku dan aku menolak memandang mereka balil.

tadi di mikrolet dalam perjalanan ke sini aku hanya saling pandang dengan orang di seberangku. orang di sebelahku memandang seorang pejalan kaki (ketika mikrolet sedang berhenti) selama beberapa saat. mereka cuma bertatapan tanpa hendak memulai apapun. di sini orang ingin menyentuh apa yang mereka tatap tanpa bersedia untuk disentuh. maka mereka larut ke dalam bilik sunyinya sendiri. ada ribuan, jutaan, termasuk aku sendiri.

sudahlah. aku bukan filsuf. aku cuma pejalan kaki. dan sekarang aku di depan mall citraland sedang mencari jalan terbaik menuju taman ismail marzuki. aku harus memikirkan apa yang harus aku pikirkan, bukan apa yang dipikirkan oleh seluruh umat manusia. aku begitu malu akan diriku dan terhadap semua manusia yang sedang bergerak di depanku. lalu aku tolehkan kepala ke belakang, ada sebuah flyer berwarna kuning dengan tulisan padat2. AWAS PENIPUAN DENGAN SIREP/HIPNOTIS!

keiko, kalau aku terus-terusan mikir seperti tadi, bisa dipastikan aku akan pulang telanjang, kena sirep/gendam. dengan perasaan tidak nyaman aku tinggalkan pojokan itu dan berjalan ke sebuah halte bus di depan sebuah kampus sebelah mall itu. di situ keadaanya lebih meriah. banyak mahasiswa/i yang menunggu bis mereka masing2.

tiba-tiba aku terkenang teman-temanku; jika mereka semua ada di halte ini,akan aku traktir minum es teh tawar. sekedar mencicipi kesegaran yang dingin…dan hambar.

olu

Sancaka, 19-01-2005

Leave a comment
Catatan Perjalanan
17:10 

Melakukan sebuah perjalanan selalu menyenangkan, walaupun banyak orang lebih suka dengan suasana di akhir perjalanan ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan dan bertemu dengan mereka yang hendak ditemui, aku tidak selalu demikian. Terkadang, aku merasa bahwa sampai di tempat tujuan malah lebih sering membuatku rindu dengan tempat yang kutinggalkan. Oh tidak! Aku tak ingin terjebak untuk sekali lagi menjelek-jelekkan kota asalku lagi.

Itulah, untuk satu dan lain hal aku lebih menikmati suasana saat kendaraan masih berjalan. Perjalanan memakai mobil bersama kawan atau keluarga kadang memang mengasyikan walaupun tak selalu, mengasyikan jika memang sepanjang perjalanan kita bisa menikmatinya dengan cara kita sendiri. Ini tentunya tidak mudah dilakukan mengingat kita sudah saling mengenal seluruh penumpang yang tak terlalu banyak itu sehingga otomatis pula kita membutuhkan toleransi yang lebih besar satu sama lainnya. Jadi? Mungkin sejauh ini, aku merasa bahwa perjalanan jauh dengan memakai transportasi umum yang dilakukan baik sendirian atau bersama beberapa orang yang kita kenal, diantara mayoritas orang yang asing bagi kita ternyata lebih dapat memberi sensasi yang berbeda daripada alternatif cara transportasi yang lainnya. Karena aku belum pernah naik pesawat terbang ataupun kapal laut, maka sementara ini kereta apilah alat angkutan yang paling dapat memberi sensasi itu.

Banyak kejadian spontan atau bahkan yang tak terduga yang dapat terjadi di dalam perjalanan dengan transportasi publik seperti kereta api, walaupun begitu, kita tak perlu mempersiapkan apa-apa untuk menghadapinya karena toh semua akan lewat saat kita sudah sampai di tujuan. Nah, untuk yang tak terduga ini barusan terjadi persis di balik punggungku. Baru saja penumpang di gerbong ini tiba-tiba gaduh, kereta kami dilempari oleh beberapa orang di luar sana. Selama 5 menit, sekitar 3 kali lemparan batu yang aku rasa cukup besar terdengar disertai suara pecahan kaca-kaca, yang terakhir bahkan terjadi di bangku belakangku walaupun mungkin di telingaku suaranya agak tertutupi suara piano Nick Cave yang berkata “people just ain’t no good…”. Entah apa tujuan mereka, apakah mereka sekedar mencari hiburan atau memang mereka sedang marah dengan kereta yang selalu membuat bising tiap kali melewati rumah orang-orang itu.

Barangkali kereta memang salah satu alat transportasi penting selain kapal uap yang menyimpan banyak sejarah yang sering dihubungkan dengan dimulainya masa industrialisasi. Kisah-kisah tragis nyatanya selalu ada dibalik setiap perubahan zaman, yang paling sering kudengar barangkali kisah-kisah mengenai para pekerja yang membangun rel-rel kereta itu sendiri, apakah pelemparan-pelemparan itu adalah salah satu sisa-sisa wujud dendam terhadap mesin-mesin ini? Mungkin aku terlalu berlebihan.

Penumpang di gerbong ini masih saja gaduh dan banyak yang sesegera mungkin menutup tirai-tirai jendela di dekat mereka. Walaupun hari masih cukup terang namun aku tak dapat melihat siapa yang melempari kami, hanya ada sawah tanpa rumah di luar. Pelemparan terhadap kereta api mungkin memang sering terjadi, yang paling sering terjadi atau yang sering kudengar di berita adalah mengenai pelemparan terhadap kereta api yang mengangkut pulang para supporter bola yang biasanya baru saja membuat masalah dan membuat jengkel penduduk daerah yang baru saja mereka tinggalkan. Untuk yang sekarang ini entahlah, aku rasa para pelempar itu cuma mau bersenang-senang saja, mungkin mereka juga enggan membayangkan kalau yang duduk di depan jendela yang pecah itu adalah seorang ibu tua yang hanya bisa pasrah membersihkan pecahan kaca yang masuk ke mata dan sebagian lagi melukai wajahnya. Namun walaupun demikian, ternyata sekarang aku masih bisa mengatakan kalau aku menikmati perjalanan ini, barangkali karena bukan aku yang duduk di tempat ibu itu.

Begitulah, naik kereta api kelas bisnis yang bagiku terasa lebih nyaman dari naik bus yang ber AC sekalipun. Naik kereta selalu membuatku penasaran sejak langkah pertama yang kuinjakkan di stasiun. Penasaran pertama adalah apakah aku akan satu kereta dengan orang atau kenalan lama yang pernah aku kenal ataupun orang baru yang ingin aku kenal. Yang kedua adalah siapa yang akan duduk disebelahku, apa yang akan dia katakan dan bisakah aku kali ini jadi teman bicara yang baik. Sejauh ini, percakapan dengan orang di sebelahku tak pernah lebih dari 40 menit penuh basa-basi dan belum pernah pula kami saling memperkenalkan nama. Biasanya, setelah setengah hingga satu jam sejak aku menemukan tempat duduk yang terjadi adalah kami sudah mulai saling diam, akupun biasanya sudah mulai tenggelam dan menjadi tuli dengan earphone di kedua telingaku. Tetanggaku? Hmm biasanya sih dia juga sudah mulai sibuk, sibuk berupaya untuk menutup mata dan tidur.

Lalu dimana senangnya? Mengamati orang-orang yang lalu lalang dan yang duduk dengan diiringi musik di telinga rupanya masih kunikmati sebagai hiburan tersendiri. Membaca atau menulis di kereta sangat jarang kulakukan karena hasilnya selalu tak bisa maksimal. Musik, perjalanan, orang asing dan suasana diam seolah membuatku seperti sedang ada di sebuah film, atau barangkali sebuah video klip kukira, video klip dari Massive Attack dan sejenisnya. Melihat ke jendela juga seakan-akan membuatku mendapat inspirasi walaupun tak jelas inspirasinya apa; barangkali inspirasi yang akan muncul dalam mimpi saat aku tidur nanti. Inspirasi? mungkin perasaan itu hanya seperti perasaan saat kita memandangi hembusan asap rokok kita yang melayang-layang ke atas dan kemudian hilang…

— maybe I’ll named my daughter “electronica” —

Leave a comment
Tentang kawan / Web 2.0

Take the quiz: <a href=”“Which’>http://www.zenhex.com/quiz.php?id=5597”>”Which Dead Rock Star Are You?”

John Lennon

You are John Lennon! You’re a nerd to many young and old, and loved for it too. You have influenced many different people, you and old. You have magnetism. Oh, he died in 1980 from a moron… who shot him.

Masih Sulit Menerima Ini Sebagai Kebetulan

Leave a comment
Tentang kawan

Keiko…

Bulan Oktober aku lalu seorang teman yang sedang bingung bagaimana caranya membaca cerpen. Dalam beberapa hari mendatang dia harus membacakan cerpen itu di sebuah launching buku. Kira-kira dua bulan sebelumnya aku menemukan cerpen itu di tumpukan cerpen yang sedang aku edit. Karena cerpen itu datang melewati tenggat waktu pengumpulan naskah, aku agak merunduk-runduk membacanya. Rasanya seperti menyelidiki pulau Galapagos di bawah ancaman meriam-meriam kapal Prancis. Siapa nama ilmuwan malang di film The Master & the Commander itu?

Kemudian sebulan di antara dua kejadian di atas, aku membaca cerpen itu di sebuah koran terkenal. Baru saat itu membaca cerpen itu dengan sungguh-sungguh. Dalam hati aku berpikir: bagaimana dia bisa membuat cerpen itu? apakah sebelumnya dia kebanjiran? atau sebelumnya dia membaca riwayat Musa di Alkitab? atau di Quran?

Judul cerpen itu Air Raya. Aku sudah lupa persis isinya, tapi yang jelas ada Musa dan Ibunya di cerita itu. Kelanjutan ceritanya berkisar di hari-hari menjelang datangnya air bah yang membinasakan manusia, serta Musa dan ibunya.

Di launching cerpen itu aku bertemu si penulis cerita dan bicara sedikit. Dia memakai kaos oblong putih dan sedang menghabiskan rokok Samsoe-nya sambil mengamatiku dengan cermat. Bentuk wajah dan rahangnya seperti pelaut-pelaut Bugis, keras. Tapi sorot matanya seperti pelaut-pelaut Prancis yang kapalnya dikejar-kejar kapal Inggris di lepas pantai Brazil.

Setelah dua batang rokok aku meninggalkannya, ada teman yang harus aku jemput. Malamnya, dia membacakan cerpennya seperti sedang membaca pamflet demonstrasi.

Setelah itu aku tidak pernah ketemu dia lagi. Tapi temanku yang kebagian membaca cerpen Air Raya menjadi cinta sekali dengan cerpen itu. Di mana-mana dia kutip paragraf awal cerpen itu: Ketika air raya tiba, perahu itu akan memanjang beberapa depa…

Sekarang ternyata air raya benar-benar tiba. Sehari sesudah Natal. Tidak di halaman-halaman koran atau buku. Tapi di kampung halamannya sendiri, Aceh, dan di beberapa negara lain. Di televisi aku lihat mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, rumah-rumah hancur, anak-anak kecil hanyut. Sekarang setelah empat hari aku terus-terusan mengikuti perkembangan bencana itu, aku jadi tambah sesak. Kenapa tidak banyak bantuan yang masuk?

apa karena jalur transportasi ke sana benar-benar hancur? Atau karena Atjeh masih tertutup bagi bantuan asing, yang bentuknya terkadang lebih masuk akal dan diperlukan daripada sekedar “kunjungan dan dialog” pejabat republik ini? Kalau memang seperti itu, aku mungkin akan menyalahkan semua institusi bersenjata di Atjeh karena sudah membuat begitu banyak huru-hara selama ini. Bisa jadi karena huru-hara itu begitu memalukan dan sadisnya, sebuah institusi bersenjata yang suka menyiksa dan membunuh orang biasa (tidak hanya di Atjeh, tapi juga di Timor, Papua, dan banyak tempat lagi), memutuskan untuk menutup provinsi itu dari intipan bangsa lain. Sekaranglah mereka harus menuai akibat dari perbuatan mereka.

Keiko…

Besok ada misa di Katedral jam 18:00, khusus mendoakan korban bencana di Aceh dan Sumut. Kamu datang kan? Ajak si Ranu sekalian, biar dia nggak busuk di rumah. Tolong juga sampaikan ke dia, aku masih susah menerima ini sebagai kebetulan belaka.

Olu

CHOCOLATE YORKIE BAR!

Leave a comment
Kliping / Musik

* gimana sih cara posting gambar?

RADIOHEAD singer THOM YORKE is pictured here covered in chocolate for a new OXFAM campaign.

He joins a host of stars including Chris Martin, Jamelia and Michael Stipe for the new series of ‘Ever Felt Dumped On?’ photographs to raise awareness for its ongoing Make Trade Fair campaign to reverse the crippling inequalities in the international farming trade.

All the shots, in which a celebrity is covered in foodstuffs, illustrate the plight of farmers who are systematically ‘dumped on’ by rich countries.

Yorke said: “How sweet does your chocolate taste when you know the producer in a country you will never see did not even get paid enough to feed his family? How sweet does it taste when you see the amount of profit a few multinational corporations make on it?

“How sweet does it taste, exactly, to know our own governments prevent these countries from ever getting off their knees and from ever being able to compete and get PAID, erecting barriers and then DUMPING on them from a great height whilst feigning concern? How delicious is it to know that sweet taste in your mouth is one of slavery, a nice new economic model?

“As it melts in your mouth, how sweet does your chocolate taste, now you know the suffering that it took to get to you?”

Other pictures in the campaign see Chris Martin covered in rice, Colin Firth showered in coffee, and corn raining down on Antonio Banderas. To see them all, and to learn more about the campaign, visit http://www.maketradefair.com.

http://www.nme.com/news/110667.htm

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

ranu,

kamu masih marah sama aku ya? kalau kamu bilang tidak kenapa kamu tidak membalas semua smsku, tidak menjawab telfonku dengan antusias, tidak membalas surat-suratku seperti biasanya?

iya aku bohong. aku tidak beli makan waktu itu.

sebenarnya aku bisa datang lima belas menit lebih awal. dua puluh menit sebelum waktu yang sudah kita tentukan bersama aku sudah selesai berdandan dan makan. kemudian seperti biasa aku memberi waktu bagi lambungku untuk bekerja. aku setel tv.

seperti biasa tv hanya dipenuhi acara-acara yang tidak menyehatkan. sinetron, acara horor (aneh, di luar negeri orang sudah berobsesi ketemu alien kita masih saja ribut kepengen ketemu setan), dan berita-berita kriminil. kalau sudah begini aku memilih nonton mtv. lebih jelas,dan begitu jauh berjarak dari semua acara tv indonesia. sekalipun mtv indonesia sebenarnya tidak jauh beda dengan sinteron-sinetron. masa semua anak muda hobinya dengerin r&b. untuk mengesankan diri punya selera musik beda dan gaya hidup yang “bengal” mereka terus menerus memutarkan video-video klip avril lavigne atau simple plan. menjijikkan. welcome to my lifeeee….sambil jingkrak-jingkrak di atas kap mobil, suaranya cempreng pula.

aku tahu sekarang kenapa dulu eyangmu suka bingung liat kita. arek zaman saiki, ck ck ck.

tidak terasa lima belas menit lewat begitu saja di remote control tv. tapi, mendadak di mtv ada mtv icon: the cure. iya, the cure! kamu ga percaya kan? aku memang nggak sms kamu,takut ketahuan alasan sebenarnya dari keterlambatanku.

pembawa acaranya marilyn manson. aneh ya? mungkin dipilih karena kesamaan gaya dandan dengan robert smith, sekalipun cuma di daerah sekitar mata. itupun kalau mau dicari-carikan kesamaannya. aku jadi tambah ga bisa bergerak dari tv ketika ada band yang namanya razorlight memainkan lagunya the cure.

from catchy tunes and sexy lyrics, and u starts to fall in love, and starts to be an obsession. lalu narylin manson bergerak ke kursi robert smith. waktu itu dia dishoot dari belakang dan gerakannya seolah-olah hendak mengoral robert smith. kool…sepertinya tuan manson lebih cocok jadi mc. kalo dia pindah ke indonesia pasti langsung diterima jadi pembawa acara uka-uka atau dunia lain.

aku sadar aku sudah terlambat saat itu,dan kamu pasti sudah marah-marah. tapi bukan karena acara itu semata aku terlambat ketemu kamu. karena marylin manson ternyata juga terlambat. terlambat suka dengan the cure. terlambat sadar kalau tidak hanya musik metal yang bisa menyuarakan kegelisahannya. kasihan sekali. usai dia membuat pengakuan itu aku baru sadar sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang kita sepakati. hi hi hi

bagaimana? tidak masuk akal memang alasan ini. tapi toh aku masih bisa menjemput kamu kan? kamu masih sesak nafas gara-gara rokok arab itu?

keiko

In Loving Memory of Kunti (Oktober 2001-November 2004)

comments 2
Keluarga

Olu…

masih ingat pertanyaanku beberapa hari lalu nggak? kenapa orang memajang foto kerabat mereka yang meninggal dunia di koran? seingatku kamu kurang bisa menjawab dengan hatimu. menurutmu mereka ingin membagi duka dan menunjukkan hormat kepada yang meninggal. ya aku sudah tahu itu. tapi kenapa? kenapa tidak ada yang memajang foto anjing atau kucing mereka yang meninggal.

dalam perjalanan menuju klinik dokter, mama menelfon ranu dan menanyakan kabar anjingku: gimana? mati yah? aku menyuruh ranu untuk tidak menjawab, karena memang tidak ada yang harus dijawab harus dari pertanyaan seperti itu. di sebelahku,kunti tergolek lemas di balutan handuk coklat Ranu. lehernya mungkin patah setelah terlindas mobil, tapi tidak satupun darah yang menetes keluar. dia mati dengan bersih.

Sama bersihnya dengan cara Kunti datang ke kehidupanku. Keiko membawanya dengan disembunyikan di dalam keranjang makanan. Anehnya di sepanjang perjalanan kereta api Jakarta-Malang, dia tidak mengeluarkan suara. Kalau dia menyalak pasti akan dikeluarkan dari kereta api. Pagi-pagi aku membuka mata dia sudah menunggu di samping tempat tidur, mohon izin mampir di kehidupanku.

Olu, kami menulis surat ini bersama-sama. Semoga tidak membuat kamu bingung. Kali ini giliran menulis aku serahkan ke Ranu.

Olu, aku tidak bisa menangis. kenapa ya? sejak aku mendengar keiko menangis keras di depan rumah sambil memeluk kunti, rasanya aku tidak layak menangis. sedekat apa dengan anjing malang itu?

Kemarin aku mencari informasi soal pekuburan hewan. Ternyata tidak mudah ditemukan di kota ini. maka aku usulkan kepada keiko untuk tidak mengutak-atik kuburannya (kami kuburkan dia di halaman rumah saja).

olu, itu kali pertama aku menggali lubang kuburan,di hari lebaran pula.

keiko-ranu

Leave a comment
Tentang kawan

Maybe its the town you live in making these noises or maybe its you.

-stanley donwood-

keiko, badanku lengket sekali. panas surabaya sudah keterlaluan.

tadi aku mandi dan memandangi bebek karet milik keponakanku yang kemampul-kemampul di bak mandi. warnanya kuning, kepalanya agak meleng ke kanan, tersenyum. lalu aku ingat bahwa beberapa hari lalu kamu cerita soal bebek belanda dan memaksa-maksa aku untuk datang ke rumahmu untuk melihatnya.

benar saja, aku tidak bisa menolak ajakanmu. maka kita duduk di pinggir kolam sambil melihat peternakan bebek belandamu. jumlahnya ada enam pasang. enam suami istri. siang itu, enam suami istri bebek asing itu sedang membiasakan diri dengan panas surabaya. ketika kamu sebutkan harganya aku seperti duduk di sebuah kamar hotel yang dingin disemburi ac dan menelan arsenium dengan bantuan dua gelas baileys atau red wine atau segelas es teh ukuran jumbo. arsenium, seperti penyebab kematian munir.

kamu selalu tidak percaya kan kalau munir diracun? nah, itu buktinya, di koran. sudah, tinggalkan dulu bebek-bebekmu itu sementara waktu. bebek belandamu akan baik-baik saja sementara kita membaca koran dan berdebat di sofamu.

sebuah koran yang memang terkenal dengan bahasanya yang bombastis menulis besar-besar di headlinenya; munir diracun tikus. semoga kelak ketika pemilik koran itu mati dia akan mati kepleset sabun di kamar mandi hotel. dan mau tidak mau para wartawannya akan terpaksa menulis di headline; pemilik koran ini mati kepleset.

keiko,

kenapa orang-orang gagah selalu diakhiri hidupnya oleh segerombolan pengecut? tidak, tidak, aku tidak akan membandingkannya dengan akhir hidup jesus atau pangeran diponegoro. kenapa mereka tidak melakukannya setiba munir di belanda saja? benar-benar menyakitkankah semua tindakan dan kata-kata munir sehingga dia harus diakhiri seperti itu? temanku pernah bilang (dia mantan santri, jadi harap maklum dengan pendapatnya ini) bahwa kematian di perjalanan itu sebenarnya bukanlah kematian yang baik. sebisa mungkin kita nanti meninggal di rumah.

menurut beberapa suara, kasus ini bisa menjadi skandal politik. bisa, sangat bisa. tapi kapan? sudah begitu banyak kematian-kematian misterius yang membawa semua petunjuk ke segerombolan orang berbaju doreng dan rambut cepak. tapi seolah-olah semua kematian itu menguap begitu saja di barak-barak mereka.

sementara itu, kita yang membaca dan menyaksikan peristiwa2 itu hanya bisa menjadi penikmat. kalaupun ada hal yang bisa kita lakukan hanya mencoba supaya semua kematian itu tidak dilupakan begitu saja. seperti yang sekarang aku lakukan ini, menjelaskan kepadamu seolah-olah aku ini juru bicara dari semua yang diperjuangkan munir.

padahal yang aku kerjakan cuma memandangi bebek-bebek belandamu sambil leyeh-leyeh menghindari panas surabaya. selama beberapa tahun ini juga tidak banyak hal berharga yang aku kerjakan. kalau aku jadi bebek di rumahmu itu akan aku atur sebuah usaha melarikan diri, seperti ayam-ayam di film chicken run.

keiko,

emang benar itu bebek dari belanda? maaf aku tidak bisa percaya begitu saja. bahkan di kamar mandi sekarang ini aku masih berkeringat. kalau bebek karet itu bisa mengeluarkan keringat dia pasti akan sudah mencemari bak mandiku dengan keringatnya.

“aku sudah siap, kmu jadi jemput ga?” aku kirim sms itu ke kamu setengah jam yang lalu. tapi masih belum ada balasan hingga sekarang.

ternyata tidak hanya panas surabaya yang keterlaluan, kamu juga agak keterlaluan membuat aku menunggu berpanas-panas di sini. atau dua-duanya?

I’d rather dance than talk with you

Leave a comment
Musik


Ranu, akhir-akhir ini aku suka mendengarkan lagu dengan judul di atas. Yang nyanyi band entah dari mana bernama manis; king of convenience. Kalau kamu sudah pernah melihat video klipnya, aku tidak perlu menggelar cerita panjang di sini tentang bagaimana jalan cerita di video klip itu.

Bagaimana?

Sudah pernah? Lagi makan? Ya udah, aku certain lagi aja.

Di situ ditampilkan seorang pria yang rupanya punya hobi menari. Tapi tariannya buruk sekali. Tapi dia cinta sekali dengan tariannya, ditunjukkan ke semua orang caranya menari.

Kamu masih ingat kan cara pepen menari? Seperti itulah kurang lebih.

Suatu saat dia menunjukkan tariannya itu ke sebuah grup balet yang terdiri dari anak-anak perempuan. Awalnya dia ditertawakan, tapi berkat usaha kerasnya, anak-anak itu malah dengan riang mengikuti tarian itu. Bahkan ketika grup balet itu membawakan tarian baru mereka di depan penonton, ternyata para penonton menikmatinya.

Mungkin seperti itu seharusnya menari, melepaskan sejujurnya getaran-getaran yang sepanjang hari kita ikat rapat di antara otot-otot kita. Balet memang bagus, kamu tahu kan aku dulu pernah kursus balet, tapi di balik kesempurnaan gerak ada sisi diri kita yang bersembunyi sambil menangis. Sisi purba diri kita. Atau kalau dalam kata-katamu, sisi kanak-kanak manusia. Bersikap jenaka tanpa terlihat konyol, menjadi riang dengan alasan yang sederhana sekali, merayakan naik-turun kehidupan tanpa berharap banyak.

Raka, jangan marah ya, aku jadi berpikir; I’d rather dance than talk with you. Kamu memang terlihat manis kalau sedang bicara, tapi aku yakin kamu akan terlihat semakin manis jika sedang duduk diam di tepi sebuah pantai di pesisir selatan Jawa Timur. Mungkin itu di Grojogan, Watu Ulo, atau Ngliyep.

Sstt, ini rahasia; aku sudah lupa apa yang aku tulis tadi.

Besok ke kantor jam berapa? Jangan lupa bawa hasil Needs assessment dari pak Jarwo.

Keiko

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

keiko,

berapa harga minuman yang tadi kamu belikan untukku. apa namanya? maaf aku tidak bisa bahasa jepang. ternyata lama juga tadi kita bicara, tiga puntung rokok kira-kira. jauh sekali ya kamu datang, hanya untuk sebuah pertengkaran sepele.

kamu tahu benar warna kesukaanku kan? sejak kecil aku suka warna biru. dulu aku dan teman-teman sekampung suka bermain jadi google v. awalnya memang kami berebut jadi google merah, tapi semakin sering kami menonton google v semakin kami sadar bahwa setiap google punya keistimewaan sendiri. merah pemimpin tapi dia suka ceroboh dan itu diimbangi dengan sikap kalem google biru, tapi google biru terkadang gegabah dan ragu dalam bertindak, sikap ini diimbangi dengan sikap tenang google hitam yang mampu melihat suasana di luar dirinya dengan lebih bijak. tapi bukan itu yang ada di bayanganku sebagai anak kecil. sebagai anak-anak aku melihat semua warna punya arti sendiri-sendiri. biru memberi aku suasana yang berbeda dengan merah. kuning akan memberikan suasana yang lebih ceria daripada biru. anehnya kami tidak pernah menyuruh salah seorang teman kami menjadi monster. semua kebagian menjadi google. bisa jadi karena populasi anak di kampung kami tidak terlalu banyak.

aku selalu memilih dan dipilih menjadi google biru. dan tidak pernah terlintas di bayanganku untuk merebut posisi temanku sebagai google merah. sebuah pelajarankah bagi aku?

itulah yang membentuk masa kanak-kanakku. kamu pasti kaget bagaimana aku tidak mengenal permainan tradisional bangsaku sendiri.seorang teman pernah menulis bahwa kita tumbuh besar dengan rapuh, semua yang membangun diri kita didatangkan dari luar, dan tidak pernah tuntas dalam memberikan sesuatu dalam diri kita.

dia 100% benar. sampai sekarang aku selalu merasa diriku yang sekarang ini seolah boneka yang penuh tambal sulam. nah, ini yang gawat. aku merasa nyaman dengan segala tambalan itu.

google v tidak pernah mengajari aku memusuhi teman, google v mengajari aku bagaimana dan apa itu berteman. tapi harap diingat sekali lagi, yang sedang bicara saat ini adalah aku yang sekarang. aku masih ingat betul bagaimana dulu aku begitu gagap ketika berhadapan dengan teman-teman di desa nenekku yang bermain kemah-kemahan, umbulan, atau layangan.

tiba-tiba aku percaya sekali bahwa masyarakat kita sedang bergerak maju, dengan cara yang menyakitkan. tapi bukankah semua perubahan itu menyakitkan? kamu pernah bercerita padaku tentang larva yang menjadi kupu-kupu. menderitakah mereka menurutmu? tanyamu yang tidak bersambut jawabku.

keiko,

terimakasih banyak atas pemberianmu. ini mungkin keterlaluan. tapi ada yang harus aku jelaskan kepadamu. sudah aku singgung sedikit di atas tentang perubahan. dan bagaimana prosesnya yang menyakitkan itu.

selama beberapa hari ini aku banyak berpikir tentang banyak hal. dan ternyata di luar jangkauan pikiranku, sebagian diriku sedang berlari meninggalkanku. dan lihatlah hasilnya: aku sekarang lebih senang membayangkan segala sesuatu dengan warna hitam. jika kamu bertanya kenapa, jawabanku akan sangat apokrif;

aku tiba-tiba merasa nyaman sekali dengan warna hitam. hampir semua lukisan yang aku buat akhir-akhir ini lebih banyak menggunakan warna hitam. dan suatu malam, ketika aku berniat membeli rokok di warung langgananku, aku melihat sebuah mobil holden keluaran tahun 75 diparkir di sebelah warung. tidak lama kemudian seekor anjing berbulu hitam gelap menyeberang jalan sambil terpincang-pincang. entah kenapa sejak itu aku menjadi yakin sekali dengan warna hitam.

kamu tentu heran sekali ketika aku berpakaian serba hitam malam di pertemuan terakhir kita. susah sekali menjelaskannya padamu saat itu. kamupun sepertinya lebih memilih mendengarkan band jepang itu, yang susah sekali aku carikan kecocokannya dengan selera musikku.

keiko,

kamu salah. aku tidak berniat menghindarimu. jaket biru itu memang aku berikan ke temanku. tanpa tujuan apa-apa, aku cuma tidak suka warna biru lagi. nah, sekarang beritahu aku, apa warna kesukaanmu? masih suka warna orange?