di jalan-jalan jakarta

Leave a comment
Tentang kota

keiko,

siang itu aku berdiri di sebuah perempatan terbesar yang pernah aku lihat. nama daerahnya kalau tidak salah slipi, atau grogol. informasi di layar hpku yang keluar cuma “mal taman anggrek”. berdiri, sendiri, tapi tidak ada ngeri atau sepi di hati. aku bebas memandangi orang-orang dan mobil yang lalu lalang di depanku, mendengarkan suara-suara yang dihasilkan persimpangan jalan, mencium bebauan yang dihasilkan keringat dan knalpot. lagipula sepertinya mereka tidak melihatku. kecuali seorang polisi di posnya, tidak ada orang lain yang memandangi aku.

rasanya cukup lama aku berdiri di situ, sekitar limabelas menit yang nanar. karena aku memandang jalan dengan nanar -serupa dengan nanar orang yang tidak tahu lagi harus berhutang ke siapa- yang aku keram dalam gelapnya kacamata hitamku. berbagai macam jenis bis datang berganti, dan bajaj, dan mikrolet, dan ojek. semua terlihat sama, begitu terburu-buru. pandanganku aku pusatkan pada tulisan-tulisan besar di kaca depan bis; grogol, slipi, kp. rambutan, roxy, blok m.

bicara soal memandang. aku merasa tidak adil sekali. aku memandangi mereka tanpa memberi mereka kesempatan untuk memandang aku balik. sudah ada dua orang barusan ini yang memandangi aku dan aku menolak memandang mereka balil.

tadi di mikrolet dalam perjalanan ke sini aku hanya saling pandang dengan orang di seberangku. orang di sebelahku memandang seorang pejalan kaki (ketika mikrolet sedang berhenti) selama beberapa saat. mereka cuma bertatapan tanpa hendak memulai apapun. di sini orang ingin menyentuh apa yang mereka tatap tanpa bersedia untuk disentuh. maka mereka larut ke dalam bilik sunyinya sendiri. ada ribuan, jutaan, termasuk aku sendiri.

sudahlah. aku bukan filsuf. aku cuma pejalan kaki. dan sekarang aku di depan mall citraland sedang mencari jalan terbaik menuju taman ismail marzuki. aku harus memikirkan apa yang harus aku pikirkan, bukan apa yang dipikirkan oleh seluruh umat manusia. aku begitu malu akan diriku dan terhadap semua manusia yang sedang bergerak di depanku. lalu aku tolehkan kepala ke belakang, ada sebuah flyer berwarna kuning dengan tulisan padat2. AWAS PENIPUAN DENGAN SIREP/HIPNOTIS!

keiko, kalau aku terus-terusan mikir seperti tadi, bisa dipastikan aku akan pulang telanjang, kena sirep/gendam. dengan perasaan tidak nyaman aku tinggalkan pojokan itu dan berjalan ke sebuah halte bus di depan sebuah kampus sebelah mall itu. di situ keadaanya lebih meriah. banyak mahasiswa/i yang menunggu bis mereka masing2.

tiba-tiba aku terkenang teman-temanku; jika mereka semua ada di halte ini,akan aku traktir minum es teh tawar. sekedar mencicipi kesegaran yang dingin…dan hambar.

olu

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s