UNTITLED

Leave a comment
Tentang kawan

Oleh:@lalathijau


Rambut itu hitam lurus dan hanya sehelai. Baru saja ia jatuh, berputar-putar, sempat beberapa saat melayang seperti tenggelam mengikuti hembusan dan pusaran angin penuh debu yang panas. Sampai akhirnya helaian itu menggelepar tak bergerak di tanah. Kini ia merasa bukan milik siapa-siapa lagi, dalam batang tubuhnya ia masih bersaudara dengan rambut-rambut lain di kepala asalnya, berbagi DNA yang sama. Tapi kini ia merasa sendiri, bahkan dengan kehadiran setetes air liur yang telah terlebih dulu menempel beberapa senti dari posisinya kini. Mereka tak lagi saling menyapa, keduanya asing satu sama lain, keduanya berhadapan tapi tak saling bertatapan. Tak ada alasan yang bisa membuat pemandangan tersebut lebih banyak dibicarakan lebih dari ini. Masa mereka telah lewat, mereka tak mampu untuk bergerak apalagi menari-nari lagi karena mereka akan segera bersatu dengan bumi. Tanpa sadar ketika hal itu terjadi, air liur itu secepatnya mengering, sehelai rambut itu tersapu dalam pusaran yang lebih hebat lagi. Hilang.
Tapi semua masih belum terjadi. Rambut masih punya waktu mengingat dan memutar ulang kembali sejarahnya. Beberapa bulan terakhir ini, guyuran air selalu terasa berat, kuku- kuku yang menghitam semakin sering memakan korban bersama setiap gerusan, setiap cabikan di kepala, seperti sekop dan sebidang tanah subur. Beberapa rambut tercabut dan pasrah saat mereka terselip di sela-sela kulit dan tulang rawan yang tipis itu. Ketika kepala mengeluh pening, seharusnya kepala tahu jika rasa pening itu bukan tanggung jawab mereka. Namun kepala amatlah sombong, ia selalu menyalahkan, ia memerintah dan semua wajib melaksanakannya. Sekuat apapun rambut berontak, menghindar atau mencoba mencengkeram kepala, akan sia-sia saja. “Sakit adalah bagian dari nikmat dan bahagia” seru kepala dengan pongah.
Nah tak ada lagi yang dapat diperbuat. Bagaimana dengan air liur? Tak ada yang membuat nasib mereka berbeda. Setiap hari ia hanya menempuh rute dan perjalanan yang sama. Lidah, mulut, kerongkongan, dinding-dinding berwarna merah darah. Sesekali darah memang suka berkunjung dan membaur. Mereka berpelukan dan berdansa mengikuti apa yang dirasakan sang kepala. Sang kepala menginginkan beat-beat yang lebih cepat, dentuman jantung yang melambat, beberapa ulangan nada dalam tempo yang sama, terserah! Dialah sang composer, dialah DJ nya dan dialah sang arsitek.
Air liur berjalan naik turun, terangkat sampai ke langit-langit, terhempas sampai liang tenggorokan. Ia harus selalu jujur, tak bisa berkata yang manis ketika perasaannya getir dan pahit. Dalam lubang dimana ia hidup, seringkali mereka ditendang keluar tanpa pemberitahuan saat hasil laporannya tak memuaskan perasaan sang kepala. Ia sering dicampakkan bersama umpatan dan kemarahan. Bahkan saat kepala senang, tak ada yang menjamin ia akan tetap aman. Acapkali dituding sebagai pembawa sial, pembawa penyakit dan pembawa masalah, mungkin adalah lebih baik bagi air liur untuk keluar dan mati.
Air liur yang satu ini bukanlah sebuah pengecualian. Ia terlempar dari dunia saat kepala kabarnya sedang sedih. Mereka tak paham tapi mereka juga tak berhak menanyakan apa-apa. Hanya kepalalah yang punya jawaban, pikir keduanya kini. Saatnya hampir tiba, segera bumi akan membuka mulut dan menelan apapun bentuk mereka. Tanpa satupun hal yang akan ditanyakan atau diceritakan lagi, mereka diam sebelum sosok yang lain tiba. Lihatlah, yang ini bukanlah tamu biasa, tak biasa untuk berada di tempat ini, tamu yang ini seharusnya diperlakukan lebih istimewa. Air seni membasahi tanah kiamat itu dan bergerak lebih cepat dari angin atau bumi yang akan membawa mereka berdua. Kini keduanya berada di situasi yang berbeda namun tetap kembali dihempas dan terombang-ambing dalam arus baru itu. Saat yang tak terbayangkan, mereka kini dapat melihat dalam posisi yang lebih jelas. Jauh sekitar 3 meter di atas sana, sang kepala terlihat lesu, ia terkulai seperti tak bertenaga. Beberapa mili dibawah kepala, semacam ikatan tali yang kuat telah membuat warna kulit kepala perlahan-lahan memerah, memucat sebelum kemudian membiru. Sang kepala sepertinya begitu sedih, begitu sunyi dan begitu mati.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s