I’d rather dance than talk with you

Leave a comment
Musik


Ranu, akhir-akhir ini aku suka mendengarkan lagu dengan judul di atas. Yang nyanyi band entah dari mana bernama manis; king of convenience. Kalau kamu sudah pernah melihat video klipnya, aku tidak perlu menggelar cerita panjang di sini tentang bagaimana jalan cerita di video klip itu.

Bagaimana?

Sudah pernah? Lagi makan? Ya udah, aku certain lagi aja.

Di situ ditampilkan seorang pria yang rupanya punya hobi menari. Tapi tariannya buruk sekali. Tapi dia cinta sekali dengan tariannya, ditunjukkan ke semua orang caranya menari.

Kamu masih ingat kan cara pepen menari? Seperti itulah kurang lebih.

Suatu saat dia menunjukkan tariannya itu ke sebuah grup balet yang terdiri dari anak-anak perempuan. Awalnya dia ditertawakan, tapi berkat usaha kerasnya, anak-anak itu malah dengan riang mengikuti tarian itu. Bahkan ketika grup balet itu membawakan tarian baru mereka di depan penonton, ternyata para penonton menikmatinya.

Mungkin seperti itu seharusnya menari, melepaskan sejujurnya getaran-getaran yang sepanjang hari kita ikat rapat di antara otot-otot kita. Balet memang bagus, kamu tahu kan aku dulu pernah kursus balet, tapi di balik kesempurnaan gerak ada sisi diri kita yang bersembunyi sambil menangis. Sisi purba diri kita. Atau kalau dalam kata-katamu, sisi kanak-kanak manusia. Bersikap jenaka tanpa terlihat konyol, menjadi riang dengan alasan yang sederhana sekali, merayakan naik-turun kehidupan tanpa berharap banyak.

Raka, jangan marah ya, aku jadi berpikir; I’d rather dance than talk with you. Kamu memang terlihat manis kalau sedang bicara, tapi aku yakin kamu akan terlihat semakin manis jika sedang duduk diam di tepi sebuah pantai di pesisir selatan Jawa Timur. Mungkin itu di Grojogan, Watu Ulo, atau Ngliyep.

Sstt, ini rahasia; aku sudah lupa apa yang aku tulis tadi.

Besok ke kantor jam berapa? Jangan lupa bawa hasil Needs assessment dari pak Jarwo.

Keiko

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

keiko,

berapa harga minuman yang tadi kamu belikan untukku. apa namanya? maaf aku tidak bisa bahasa jepang. ternyata lama juga tadi kita bicara, tiga puntung rokok kira-kira. jauh sekali ya kamu datang, hanya untuk sebuah pertengkaran sepele.

kamu tahu benar warna kesukaanku kan? sejak kecil aku suka warna biru. dulu aku dan teman-teman sekampung suka bermain jadi google v. awalnya memang kami berebut jadi google merah, tapi semakin sering kami menonton google v semakin kami sadar bahwa setiap google punya keistimewaan sendiri. merah pemimpin tapi dia suka ceroboh dan itu diimbangi dengan sikap kalem google biru, tapi google biru terkadang gegabah dan ragu dalam bertindak, sikap ini diimbangi dengan sikap tenang google hitam yang mampu melihat suasana di luar dirinya dengan lebih bijak. tapi bukan itu yang ada di bayanganku sebagai anak kecil. sebagai anak-anak aku melihat semua warna punya arti sendiri-sendiri. biru memberi aku suasana yang berbeda dengan merah. kuning akan memberikan suasana yang lebih ceria daripada biru. anehnya kami tidak pernah menyuruh salah seorang teman kami menjadi monster. semua kebagian menjadi google. bisa jadi karena populasi anak di kampung kami tidak terlalu banyak.

aku selalu memilih dan dipilih menjadi google biru. dan tidak pernah terlintas di bayanganku untuk merebut posisi temanku sebagai google merah. sebuah pelajarankah bagi aku?

itulah yang membentuk masa kanak-kanakku. kamu pasti kaget bagaimana aku tidak mengenal permainan tradisional bangsaku sendiri.seorang teman pernah menulis bahwa kita tumbuh besar dengan rapuh, semua yang membangun diri kita didatangkan dari luar, dan tidak pernah tuntas dalam memberikan sesuatu dalam diri kita.

dia 100% benar. sampai sekarang aku selalu merasa diriku yang sekarang ini seolah boneka yang penuh tambal sulam. nah, ini yang gawat. aku merasa nyaman dengan segala tambalan itu.

google v tidak pernah mengajari aku memusuhi teman, google v mengajari aku bagaimana dan apa itu berteman. tapi harap diingat sekali lagi, yang sedang bicara saat ini adalah aku yang sekarang. aku masih ingat betul bagaimana dulu aku begitu gagap ketika berhadapan dengan teman-teman di desa nenekku yang bermain kemah-kemahan, umbulan, atau layangan.

tiba-tiba aku percaya sekali bahwa masyarakat kita sedang bergerak maju, dengan cara yang menyakitkan. tapi bukankah semua perubahan itu menyakitkan? kamu pernah bercerita padaku tentang larva yang menjadi kupu-kupu. menderitakah mereka menurutmu? tanyamu yang tidak bersambut jawabku.

keiko,

terimakasih banyak atas pemberianmu. ini mungkin keterlaluan. tapi ada yang harus aku jelaskan kepadamu. sudah aku singgung sedikit di atas tentang perubahan. dan bagaimana prosesnya yang menyakitkan itu.

selama beberapa hari ini aku banyak berpikir tentang banyak hal. dan ternyata di luar jangkauan pikiranku, sebagian diriku sedang berlari meninggalkanku. dan lihatlah hasilnya: aku sekarang lebih senang membayangkan segala sesuatu dengan warna hitam. jika kamu bertanya kenapa, jawabanku akan sangat apokrif;

aku tiba-tiba merasa nyaman sekali dengan warna hitam. hampir semua lukisan yang aku buat akhir-akhir ini lebih banyak menggunakan warna hitam. dan suatu malam, ketika aku berniat membeli rokok di warung langgananku, aku melihat sebuah mobil holden keluaran tahun 75 diparkir di sebelah warung. tidak lama kemudian seekor anjing berbulu hitam gelap menyeberang jalan sambil terpincang-pincang. entah kenapa sejak itu aku menjadi yakin sekali dengan warna hitam.

kamu tentu heran sekali ketika aku berpakaian serba hitam malam di pertemuan terakhir kita. susah sekali menjelaskannya padamu saat itu. kamupun sepertinya lebih memilih mendengarkan band jepang itu, yang susah sekali aku carikan kecocokannya dengan selera musikku.

keiko,

kamu salah. aku tidak berniat menghindarimu. jaket biru itu memang aku berikan ke temanku. tanpa tujuan apa-apa, aku cuma tidak suka warna biru lagi. nah, sekarang beritahu aku, apa warna kesukaanmu? masih suka warna orange?

Leave a comment
Catatan Perjalanan
maaf, aku tak sempat memberi judul
maaf, aku sibuk.
harus bertemu Mr.Anu disitu,
harus menyambut Bu Ini disini
aku tak ada waktu
***
maaf, ini sudah hampir deadline
laporan harus cepat diserahkan
atau aku dipecat juragan
dan dimarahi pelanggan
***
maaf, aku diminta untuk bernegosiasi
para buruh minta kenaikan gaji
bos sedang ke luar negeri
meski aku juga ingin naik gaji
tapi mereka bilang bisnis lagi sepi
****
maaf, apa katamu?
aku sudah tak seperti dulu lagi?
kita sudah tak cocok lagi?
sudah, kita bicara saja nanti
***
maaf, aku harus sering lembur
tak mungkin minta libur
tak bisa datang waktu kakek dikubur
(kukirim saja sumbangan lewat rekeningmu)
****
maaf, aku berjanji
sebentar lagi setelah dapat promosi
aku ajak kau jalan-jalan ke luar negeri
kebetulan aku dikirim mengecek produksi
sambil ketemu Mr.Lie
***
maaf, coba katakan sekali lagi?
kau tak sudi? lebih baik di rumah nonton tivi?
OK lah aku berangkat sendiri
****
maaf, sementara ini kita harus berpisah
aku tak bisa menolak untuk pindah
siapa sih yang bisa menolak tempat basah?
***
maaf,
aku lelah!
pergi dari sini!
siapa kau?
****
*****
******
*******
maaf, hidup memang tak mudah
tapi terlalu lama aku diam
dan kini semuanya makin hambar
***
maaf, semua semakin hilang arah
semua harus diakhiri dengan darah
keadaan…
jadi….
tak…
terarah…
maaf!

Leave a comment
Catatan Perjalanan
tetap berjalan, hanya tanpa tujuan. tetap tersenyum, hanya kepada kehampaan. tetap tegak berdiri, hanya pada harapan yang patah. menanti waktu yang merangkak di tengah napas yang terengah. hidupmu pada seonggok optimisme, diserap oleh selembar ijazah. selalu bisu untuk rencana esok, terlalu layu menyambut keceriaan kawan. kadang kau berhenti sejenak, menengok ke sebuah ingatan indah dan menakutkan. jubah kebesaran itu masih terpampang, di atas tumpukan buku kusam dan berdebu, yang dulu dipuja dirawat penuh hormat. kini tak lebih dari memorabilia berkarat.
sarjanaku, tetaplah berdiri tegak, tetaplah tersenyum, karna cuma itu sisa yang kaupunya, sebelum nanti pesona dan ingatanmu akan segera pudar sebelum kandas ditelan jubah kebesaran, ijazah penuh harapan, perut yang lapar, penolakan dan hinaan kasar, sementara kau mengiba pada para majikan, berilah saya kesempatan…

Leave a comment
Musik

There was nothing to fear and nothing to doubt.
You are Pyramid Song…You’re kinda gloomy, but in
a beautiful way. A bit old-fashioned, but who
cares? Materials don’t matter cos you are who
you are…and that’s what really matters.

What Radiohead Song are you?
brought to you by <a href=”

Leave a comment
Buku / Tentang kota

Aku Ingin Bercinta Dengan Mayatmu

[Theressa kepada Camillus]

Camillus,

aku datang malam ini

ke ranjang kita

aku usir Laurent barusan

kini semuanya jelas, aku, ingin

mencium gigi yang tersisa

menyayat daging busuk yang tertinggal di rahangmu

aku jilati tandas

semuanya sampai habis

dari sisa daging di lidahmu;

aku menghisap aroma formalin

membiarkannya menusuk kerongkongan

dari tengkorak kepalamu

pelan aku susuri helai-helai terakhir rambutmu

aku lalui lobang bekas kelopak mata,

pulang ke hatimu

mengantarmu pulang ke Seine

melihatmu tenggelam kembali

Leave a comment
Buku / Tentang kawan

Date:

Sun, 3 Oct 2004 15:58:10 -0700 (PDT)

From:

“muhaimin syamsuddin” View Contact Details

Subject:

Re: Freedom is not free

To:

“onie”

saya sudah baca website kalian meskipun belum sempat tuntas. laziness starts here, i like that wise word.

saya baru saja pulang dari national galery of art washington dc. saya punya teman amerika namanya anne shoemake. dari namanya anda mungkin sudah bisa menebak kalau ada darah jerman mengalir dalam tubuhnya. dia seorang wanita, sedang mengerjakan Ph.D nya tentang Indonesia (tapi Ph.D bukan Pizza hut Delivery lho).

saya banyak bicara dengannya hari ini. topiknya yang ringan2 saja tentang kesenian terutaman lukisan. dia undergraduatenya tentang art dan dia juga seorang pelukis. dia hapal sekali sejarah karya2 yang dipajang di galer mulai van gogh, salvador dali, picasso sampai andy warhol dan basquiat. dan dia juga menjelaskan sedikit tentang dadaisme karena kami tadi melihat dua karya dadaisme dipajang bersebelahan dengan ruangan untuk picasso. sayang, memori otak saya tidak bisa menangkap secara utuh semua kuliah sejarah seni rupa dunia yang diberikan anne, begitu saya memanggilnya, dengan gratis.

di sebuah lorong yang menghubungkan gedung utama galeri dan east building, saya melintasi sebuah gerai yang menjual buku dan pernak-pernik galeri. ada postcard juga di sana. saya teringat janji saya kepada anda untuk membawakan postcard sebagai oleh-oleh. saya ambil dua dan saya niatkan untuk anda dan kawan mahardika (rupanya saya harus terbiasa memanggilnya demikian sesuai dengan nama di website itu kalian). maaf, kalau saya tidak bisa membelikan anda fahrenheit 9/11 karena jujur saja uang saku saya mepet sekali. belum lagi saya juga harus membelikan sekedar oleh-oleh untuk istri dan anak saya, kaos dan pesawat mainan. cukuplah untuk menebus penderitaan mereka yang ditinggalkan tanpa persediaan bekal yang pantas dari saya.

kalau boleh usul, sebagai perkenalan mungkin surat-menyurat ini bisa “ditempel” di website kalian. untuk berikutnya saya bisa diberikan tatacara yang sopan untuk menulis sesuatu di situ.

take care,

pak men.

onie wrote:

Aneh. beberapa hari lalu aku susah tidur. Semalam lalu tepatnya. Ketika akhirnya bisa tidur aku mimpi diajak geri (hotel) ngobrol sampe pagi dan saking jengkelnya aku usir dia pulang. Mimpi kedua ada sampean, tapi samar-samar belaka. Dan sekarang sampean berkabar di email ini. BD selalu menggunakan sampean di olenka.

Alhamdullilah penyakit borjuis kecilku (bangun siang) sudah sembuh. Sekarang kegiatan dimulai jam8 pagi, diselingi tidur siang (sore biasanya) kalo sempat.

Senang sekali mendengar kabar sampean. Dari cerita soal demonstran itu aku kok jadi pengen nitip fahrenheit 9/11. di sini susah carinya, pemutaran film itu secara massal di sini baru di bandung.

Besok aku mau ke iain. Ada education book fair. Resist book diwakili oleh anak2 pdf karena ternyata anak2 sophia centre tidak mau ikut di acara itu.

Coba sampean buka http://www.insureksi.blogspot.com itu hasilku sama ari belajar web design. cukup sederhana. tapi lumayan untuk memuat unek-unek. ingat diskusi kita di perpus soal cara manusia buang hajat? Diskusi itu aku teruskan dengan seorang mahasiswa bandung, aku nggak kenal dia.

Kalau sampean tertarik jadi kontributor web sederhana itu. nanti aku jelaskan lebih lanjut tata-caranya.

amities,

onie

muhaimin syamsuddin wrote:

Hi there! How are u doing?

Apakah kalian masih bangun siang terus? Masih ke kampus? bagaimana penampilan geri di The Lesson? kayaknya masih banyak pertanyaan yang mesti ditanyakan lewat surat ini tapi rasanya tidak enak kalau harus mengetik tanda tanya terlalu banyak.

Saya (kata ganti pertama saya selalu digunakan Pak Budi Darma di Orang-orang Bloomington) sekarang ada di Washington D.C. the capitol of evil empire. Istilah the evil empire saya pinjam dari seorang demonstran yang saya temui tadi pagi di halaman White House. Dia seorang wanita yang menurut kira-kira usianya sudah lima puluhan. Ia orang Spanyol tapi juga berkewarganegaraan US. Ia menyembut dirinya the citizen of evil empire. Wanita ini sudah berada di taman White House selama 23 tahun tepatnya sejak 1981. Sepanjang musim, summer, fall, winter dan spring, dia selalu berada di rumah kardusnya sembari membawa berbagai poster dan gambar-gambar kekejaman kebijakan luar negeri US. Agak susah memang membayangkan ada orang yang bisa hidup hanya dengan kardus saat winter, tapi dia bilang “summer is hard here but winter is really really hard.” Bukankah Basquiat juga melakukan hal yang sama, tidur di kardus di taman kota?

Selama dua puluh tiga tahun perjuangannya itu, wanita spanyol ini tidak pernah mencukur rambutnya. Tidak dijelaskan mengapa ia membiarkan rambutnya panjang tumbuh berkumal. Alasan yang agak masuk akal barangkali karena terlalu mahal bagi orang yang menjalani hidupnya dengan absurd seperti dia melakukan perawatan rambut di salon-salon di D.C. yang tentu mahal bayarnya.

Hari ini ada dua demonstrasi di depan White House, yang satu demonstrasi permanen yang sudah dua puluh tiga tahun lamanya berlangsung dan yang satunya lagi demonstrasi yang digelar oleh orang-orang yang menginginkan serdadu Amerika segera ditarik dari Irak. Jumlah demonstran kedua ini banyak sekali tapi saya kira jumlahnya sekitar seribuan. Mereka datang dari berbagai kelompok, dari aktifis anti perang, keluarga militer (military families speak out), mahasiswa, kalangan biasa, dan saya lihat beberapa keturunan Cina atau Jepang (saya agak sulit membedakan karena bentuk matanya yang mirip sekali).

Yang menarik pandangan saya, selain demo dan poster-posternya, adalah bagaimana organisasi demonstrasi ini berjalan. Saya tadinya mengira demosntrasi di Amerika seperti di Indonesia. PMII atau LMND bikin rapat aksi, lalu cari massa dan sangat sibuk. sibuk melakukan apa saja, di hari H. Saya baru ngeh ketika saya pulang dari stasiun kereta bawah tanah Metro Center ke Bethesda. Ada seorang demonstran perempuan dengan paduan baju hijau muda dan celana hitam yang pulang lewat stasiun yang sama. Dia menenteng di tangannya satu poster. Nampaknya poster itu dibuat sendiri dan memang seperti itu kenyataannya. Di sini demosntran adalah partisipan aktif yang ikut demonstrasi dengan kesadaran penuh; mau bikin poster dan alat-alat aksi sendiri. Jadi, apa yang di kita disebut sebagai perangkat aksi atau katakanlah panitia aksi, hanya mengorganisir tanpa harus sibuk mencari massa dan bingung menghitung berapa massa yang datang di hari H. Kasarnya, perangkat aksi hampir bertindak seperti moderator yang mengatur lalu-lalang ide dan gerakan yang padat.

Tidak usahlah kita merasa rendah diri karena kita memang punya juga demonstran yang dengan pikiran 100 % kalau lagi aksi. Tapi yang ingin saya katakan adalah kita lengah dalam membina hubungan dengan massa potensial yang bisa diajak aksi. Tapi justru di sini susahnya, misalnya bagaimana mengajak keluarga militer untuk bicara anti perang seperti military families speak out. Ini bukan soal urusan semata manajemen aksi tapi bagaimana mengolah isu dan membangun masyarakat sipil karena kebebasan/kemerdekaan, sebagai sebuah gagasan dan hak yang harus dinikmati oleh setiap individu, bukanlah barang gratis. Seperti yang dialami wanita absurd (absurd karena saya kaget melihat tontonan seperti itu di depan rumah Bush) di halaman White House itu yang harus membayar gagasannya tentang dunia yang bebas dari ancaman perang yang tidak adil dengan berkali-kali dibui dan tidak sempat menata mahkotanya yang terurai kumal. Freedom is not free.

Pak Men.

Leave a comment
Tentang kawan

Date:

September 19, 2004 6:12 AM

Subject:

saya terpesona

Message:

pilihan nama yang bagus.sebagus itukah, pembicaraan kita nantinya

Date:

September 20, 2004 7:19 AM

Subject:

asshole

Message:

JIWA Danindra wrote:

pilihan nama yang bagus(multatuli).sebagus itukah, pembicaraan kita nantinya

multatuli wrote :

semoga kang,

hanya saja saya susah menilai bagaimana pembicaraan itu bagus atau tidak. pernah saya dan teman2 bicara tentang perbedaan cara buang air masyarakat timur dan barat, menarik memang. tapi kami mual semua jadinya. nah, bagaimana?

maxelaar

JIWA DANINDRA WROTE :

karena yang ‘bagaimana’ selalu menarik buat kita.”omong omong soal kemualan, apa karena jijik?atau karena kita terbiasa berbicara tentang manusia yang bersih?”terus terang, asshole saya warnanya memang afro. Jadinya saya sedikit malu,makanya tidak perlulah orang lain tau.biasanya kan’ yang hitam hitam kotor.” sisi gelap (tepatnya anus ) saya jangan sampai diketahui umum, telah ditetapkan begitu. lkarena telah lama kita menyetujui, juga tak lagi memperselisihkannya (dengan begitu saya memperoleh pendasaran) menyembunyikan sisi gelap manusia menjadi wacana umum.”, tepat sekali untuk membela diri, begitu saya simpulkan.

Date:

September 21, 2004 12:06 PM

Subject:

tanda tanya tanpa titik

Message:

bang mul’, sepertinya ingatan saya akan mencatatkan anda, sebagai tanda tanya tanpa titik.mudah mudahan setiap pembicaran kita, selalu berakhir koma. ( o.iya. harus diakhiri dengan koma ) (waduuh, apalagi ini tanda kurung, harus konsisten dong! ),

multatuli wrote:

> kang jiwa yang baik,

> > memang begitu adanya. tapi saya pikir kita tidak > perlu mengaitkan terlalu “gelap” dengan id, sisi > tergelap kita. konstruksi sosial selama ini > memang menempatkan anus kita di bagian > terbawah kesadaran. begitu adanya. > > saya lama tinggal di surabaya, umpatan yang > acap dipakai masyarakat yang industrial nan > urban itu juga tidak ada mengacu ke anus. contoh; > asu! (anjing), tempik! (vagina), jembut (pubic hair), > kontol, dan sederet lagi perbendaharaan benda > vital manusia.

> > ah, saya lupa. memang ada; silit (anus). nah, tapi > ini lebih ke candaan antar teman. dan sifatnya > tidak offensif. kenapa ya?

> > ibu-ibu tidak pernah merasa jijik membersihkan > anus anaknya karena sudah mampu berabstraksi > dengan obyek itu (anus).

> > kami, yang diskusi tentang cara buang air barat-> timur, saling mual karena kami menolak untuk > mengabstraksikan anus masing2. memang bisa > saja kalau ada kemauan, setiap anak > memandangi anus anak lain. tapi buang-buang > waktu saja. kami orang biasa saja kok, bukan > seniman dadais.

> > apalagi membayangkan deskripsi anus anda. > wah, saya kenal anda saja belum. >