Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

keiko,

berapa harga minuman yang tadi kamu belikan untukku. apa namanya? maaf aku tidak bisa bahasa jepang. ternyata lama juga tadi kita bicara, tiga puntung rokok kira-kira. jauh sekali ya kamu datang, hanya untuk sebuah pertengkaran sepele.

kamu tahu benar warna kesukaanku kan? sejak kecil aku suka warna biru. dulu aku dan teman-teman sekampung suka bermain jadi google v. awalnya memang kami berebut jadi google merah, tapi semakin sering kami menonton google v semakin kami sadar bahwa setiap google punya keistimewaan sendiri. merah pemimpin tapi dia suka ceroboh dan itu diimbangi dengan sikap kalem google biru, tapi google biru terkadang gegabah dan ragu dalam bertindak, sikap ini diimbangi dengan sikap tenang google hitam yang mampu melihat suasana di luar dirinya dengan lebih bijak. tapi bukan itu yang ada di bayanganku sebagai anak kecil. sebagai anak-anak aku melihat semua warna punya arti sendiri-sendiri. biru memberi aku suasana yang berbeda dengan merah. kuning akan memberikan suasana yang lebih ceria daripada biru. anehnya kami tidak pernah menyuruh salah seorang teman kami menjadi monster. semua kebagian menjadi google. bisa jadi karena populasi anak di kampung kami tidak terlalu banyak.

aku selalu memilih dan dipilih menjadi google biru. dan tidak pernah terlintas di bayanganku untuk merebut posisi temanku sebagai google merah. sebuah pelajarankah bagi aku?

itulah yang membentuk masa kanak-kanakku. kamu pasti kaget bagaimana aku tidak mengenal permainan tradisional bangsaku sendiri.seorang teman pernah menulis bahwa kita tumbuh besar dengan rapuh, semua yang membangun diri kita didatangkan dari luar, dan tidak pernah tuntas dalam memberikan sesuatu dalam diri kita.

dia 100% benar. sampai sekarang aku selalu merasa diriku yang sekarang ini seolah boneka yang penuh tambal sulam. nah, ini yang gawat. aku merasa nyaman dengan segala tambalan itu.

google v tidak pernah mengajari aku memusuhi teman, google v mengajari aku bagaimana dan apa itu berteman. tapi harap diingat sekali lagi, yang sedang bicara saat ini adalah aku yang sekarang. aku masih ingat betul bagaimana dulu aku begitu gagap ketika berhadapan dengan teman-teman di desa nenekku yang bermain kemah-kemahan, umbulan, atau layangan.

tiba-tiba aku percaya sekali bahwa masyarakat kita sedang bergerak maju, dengan cara yang menyakitkan. tapi bukankah semua perubahan itu menyakitkan? kamu pernah bercerita padaku tentang larva yang menjadi kupu-kupu. menderitakah mereka menurutmu? tanyamu yang tidak bersambut jawabku.

keiko,

terimakasih banyak atas pemberianmu. ini mungkin keterlaluan. tapi ada yang harus aku jelaskan kepadamu. sudah aku singgung sedikit di atas tentang perubahan. dan bagaimana prosesnya yang menyakitkan itu.

selama beberapa hari ini aku banyak berpikir tentang banyak hal. dan ternyata di luar jangkauan pikiranku, sebagian diriku sedang berlari meninggalkanku. dan lihatlah hasilnya: aku sekarang lebih senang membayangkan segala sesuatu dengan warna hitam. jika kamu bertanya kenapa, jawabanku akan sangat apokrif;

aku tiba-tiba merasa nyaman sekali dengan warna hitam. hampir semua lukisan yang aku buat akhir-akhir ini lebih banyak menggunakan warna hitam. dan suatu malam, ketika aku berniat membeli rokok di warung langgananku, aku melihat sebuah mobil holden keluaran tahun 75 diparkir di sebelah warung. tidak lama kemudian seekor anjing berbulu hitam gelap menyeberang jalan sambil terpincang-pincang. entah kenapa sejak itu aku menjadi yakin sekali dengan warna hitam.

kamu tentu heran sekali ketika aku berpakaian serba hitam malam di pertemuan terakhir kita. susah sekali menjelaskannya padamu saat itu. kamupun sepertinya lebih memilih mendengarkan band jepang itu, yang susah sekali aku carikan kecocokannya dengan selera musikku.

keiko,

kamu salah. aku tidak berniat menghindarimu. jaket biru itu memang aku berikan ke temanku. tanpa tujuan apa-apa, aku cuma tidak suka warna biru lagi. nah, sekarang beritahu aku, apa warna kesukaanmu? masih suka warna orange?

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s