Surat buat mas wahyu

Leave a comment
Tentang kawan

halo mas wahyu,

maaf aku belum bisa balas pesan sampean. saat itu aku baru saja menginjakkan kaki di stasiun gubeng, surabaya. malam itu lengang sekali tidak seperti biasanya. padahal mas wahyu tahu kan? biasanya selalu ada band yang main di situ dan ada beberapa orang yang sepertinya duduk di kursi tunggu tidak untuk menunggu kereta tapi untuk menunggu lagu kesayangan mereka dimainkan.

begitu turun dari kereta aku tidak langsung menuju ke pintu keluar tapi ke warung kopi di sebelah kanan dekat toilet. terlihat olehku peralatan band dikurung di dalam sebuah kotak, jam di atas loket masuk yang dulu sempat terekam kamera seorang teman, beberapa wajah yang begitu cepat sekali aku lupakan, dan warung kopi yang sudah bersiap mau tutup.

karena mau tutup akhirnya aku ga jadi mampir beli kopi lalu berbelok arah kembali ke pintu keluar, cari taksi, dan langsung melompat ke dalamnya.

pemandangan yang paling aku suka saat kereta mulai masuk surabaya adalah saat kereta melintasi stasiun wonokromo. di sebelah kanan akan kita lihat warung kopi yang didirikan di tengah2 kegelapan. beberapa orang terlihat bergerombol di kursi panjang yang diletakkan di depan, sebagian yang kurang beruntung terpaksa duduk berdesakan di kursi lebih kecil yang diletakkan di samping kiri dan kanan.

beda dengan di yogya, warung kopi di surabaya tidak menggunakan lampu ‘oblik’ sebagai penerangan tapi menggunakan neon atau lampu petromaks. ah ya sampean pernah bilang ya kalau perbandingan itu tidak tepat. angkringan di yogya tidak bisa serta merta disebut warung kopi karena “wong jogja gak doyan ngopi”.

tapi yah paling tidak itu adalah perbandingan yang aku buat antara titik pertemuan para flanerie (aku belum nemu terjemahan yang tepat untuk kata ini dan sejauh mana itu bisa dipertanggungjawabkan dalam konteks keindonesiaan).

pemandangan berikutnya adalah warung kopi di daerah kaliwaron tempat taksi biasa melintas membawaku ke rumah. banyak sekali warung dipenuhi orang.

aku jadi sering membayangkan ngobrol sama sampean di warung kopi di saat malam hari. mana pernah dulu kita ngobrol malam2? selalu di siang hari terik atau sore. sampean dengar ga kalo si jojo buka warung kopi juga? katanya di daerah unair depan warnet bintang.

pasti asyik rasanya. jauh lebih asyik dibandingkan balas2an sms. semoga nanti aku bisa mampir di warung sampean yang baru. katanya di dekat petra yah.

oalah petra petra

comments 2
Catatan pertunjukan


berikut adalah kutipan dari catatan perjalanan mas beng rahadian di blognya, yang kalo ga salah dulu pas diskusi komik di aky dia pernah datang:

Coffee morning with Seno Gumira Ajidarma
Kantin Petra, 10 Maret,
Dari keseluruhan acara PKN ini, gue ngasih highlight buat Jum’at 10 Maret pagi. Seno yang datang dari Jakarta kepagian itu langsung dibawa panitia ke dikantin, Gue, Alpie dan Injun dah sengaja bangun pagi nongkrong di kantin untuk nungguin Seno. Seno dijadwalkan ngisi acara seminar komik jam 10.30. Asyik banget.. semua obrolan keluar dari masalah komik Indonesia sampai kopi Vietnam, akhirnya obrolan harus berhenti karena kita harus menuju ruang seminar. Seminar nya sih boring banget karena peserta yang pasif dan acara harus dihentikan karena gedungnya mau dipake buat presentasi apartemen mahasiswa, aneh banget ya… kata Seno.. wah kalo di UI bisa marah tuh audience diskusi dihentikan tengah jalan. Kesimpulannya sih, diskusi 1 setengah jam bersama Seno pagi tadi lebih berbobot daripada seminar yang harus bayar 80.000 itu.

mas beng, begini ya, yang namanya petra itu kalo ada acara yang ga ada hubungannya dengan karya ilahi yesus kristus dan semua kerabatnya dijamin bakal digusur2 seperti itu. ga peduli siapa pembicaranya.

dulu kalo ga salah sastra juga pernah bikin acara ngundang seno gumira dan perlakuan terhadapnya jauh lebih manusiawi.

kok bisa nyambung dengan curhatku sebelumnya. jangan2 petra lagi kangen sama aku.

comments 2
Tentang kawan

ketemu anak pantai

“ayo on, anterin mama”
“kemana?”
“ke mantenan anaknya temennya mama.”
“males ah”
“ya udah kamu ngedrop mama ajah”
“oke”

siapa sangka ajakan mamaku untuk menemaninya ke mantenan itu membuat ketemu dengan anak-anak pantai lagi; goya, dika, martin, steve, dion (sekarang sudah pacaran),rika, tono dan anak perhotelan si geri.

setiap orang dari mereka mengingatkan aku akan beberapa hal. ketemu goya aku ingat distribusi majalah outmagz yang nggak pernah laku itu dan rumahnya yang nyaman. di rumahnya si goya ini ada semacam cafe yang sayangnya tidak dimanfaatkan benar-benar. sekarang sama si iwan dia mau bikin sesuatu. sayangnya aku lupa apa pastinya. aku cuma ingat bahwa aku menganjurkan dia untuk membuka sebuah situs tertentu yang ada akitannya dengan sesuatu yang mau dia kerjakan itu. yang jelas berhubungan dengan arsitektur. ah ya, dia dan iwan mau bikin kajian arsitektur surabaya yang sekarang ini kecenderungannya hanya mementingkan kemegahan dan tampilan luar. lalu kalau tidak salah aku cerita tentang pak eko di yogya yang hasil karyanya bisa dilihat2 kalo kamu ke togamas yogya. beda sekali dengan togamas di surabaya, yang dipindahkan ke “mall” baru di depan stasiun wonokromo. yah seperti biasa, aku cuma jual omongan.hehe. daripada cuma ngomongin hal2 formal seperti tema tentang kelulusan atau karir yang aku pikir hak pribadi setiap orang untuk mau dibagi atau tidak. sekalipun sebenarnya kedua tema itu adalah tema yang paling menjual jika ketemu teman lama. goya mengaku belum lulus. kalau aku masih kuliah di deskomvis, pasti akan sama saja dengan dia. kuliah di sastra memang memberikan aku kelulusan yang cepat dan kesempatan untuk membuang2 waktu, dan sikap hidup baru yang rasanya cukup pantas untuk diberi nama “optimisme tragis”. soal optimisme yang aneh itu akan aku ceritakan di kesempatan berikutnya.
dari dulu aku ngeliat si goya ini benernya kurang pas kalo bergaul sama anak2 pantai yang “ndistro” itu. dia lebih pas sama iwan,dimas, dan yosep. malam itu dia lebih banyak duduk2 sama ceweknya geri dan ceweknya dion.

si martin mengingatkan akan masa kuliah di deskomvis, yang kemudian aku telantarkan begitu saja, dan teman2 deskomvis seperti ardi, gempur, gadis (kemana ya mbak ini), aak (kabarnya dulu dia pindah ke isi). di jam2 studio yang sangat menyiksa itu, aku biasa ngobrol dengan martin dan gempur. ketika obrolan usai, aku biasanya akan mencoret2 tembok dengan cat lalu ngelamun di jendela besar melihat awan2 surabaya yang menyingkir kena sengatan matahari, dan kaget setengah mati ketika deadline tugas nirmana harus ditumpuk besok pagi. padahal aku belum menemukan gradasi warna yang tepat.

tono dan steve. ah apa ya. tono dulu suka dipanggil2 “rangga” pas film aadc lagi rame2nya. lebih sip kalo ngobrol sama tono kalo pas ada johan. pokok pembicaraan tidak akan jauh2 dari sosok yesus dan karya keselamatannya, sambil sesekali diselingi obrolan2 yang sungguh2 tidak bermutu dan layak untuk ditinggalkan. soal steve aku tidak tahu banyak. dia itu semacam cameo. aduh steve, aku ga terlalu kenal kamu. gimana ya. kalo jadinya seperti ini aku nulis kayak kamu ya mungkin kita perlu ngobrol2 bareng. dari tono aku mendapat informasi bahwa johan sudah memutuskan untuk tidak meneruskan kuliahnya, sekalipun skripsinya sudah hampir rampung. dieu vos benit, johan!

rika. kamu tambah manis. makanya dandan. jangan pura2 jadi cowok terus, apalagi berteman dengan orang kayak martin dan alex. oiya, si alex kemarin ga muncul. urang sunda yang satu itu sama sekali tidak bisa dianggap anak pantai. aku lebih sering ketemu dia di kosannya yudi. mungkin sekarang dia sudah pulang ke jakarta.

bagaimana dengan geri perhotelan? wah, tidak berubah! masih doyan dandan ala makelar villa di tretes, terutama gara2 tas gaya ariel peterpan dan sikap ramahnya yang khas geri. sekarang rokoknya dji sam soe dan beberapa kali dibagi2 ke anak2. mungkin dia habis dapat ganti rugi lumpur panas di porong. kasihan memang dia, rumahnya bisa dipastikan tidak lama disapu lumpur. tapi yah kita semua tentu yakin bahwa geri selalu bisa memanfaatkan keadaan dengan baik. mungkin dia akan buka disaster tourism atau gulat lumpur seperti mbak2 di amerika yang suka gulat di lumpur itu.

tapi geri ini adalah sahabatku sejak aku pertama kuliah di petra. sejak masih sma dia sudah suka nongkrong di kampus dan ikutan demo tahun 98, bahkan hingga aksi2 menolak ruu pkb tahun 2000 sekian itu dia juga masih ikut. orangnya sangat terbuka dan suka membaca. supel dan tidak sombong. entah sejak kapan dia mulai sering nongkrong bareng anak pantai di selasar gedung p. sesekali aja dia mampir ke selasar gedung b dan nongkrong bareng anak sastra dan menjajakan guyonannya.

dari mereka kemudian aku baru tahu bahwa yang menikah adalah si arif. oalah. si arif yang suka tampil rapi dan memelihara kumis tipisnya itu. kecuali seorang arif yang aku kenal, aku kurang tahu kenapa semua orang yang pake nama arif yang aku kenal selalu seperti itu tampilannya.

tentu saja aku tidak menolak saat anak2 mengajak aku foto bareng arif saat pembaca acara mengajak “para alumni deskomvis uk petra surabaya” untuk berfoto bersama. gini2 aku juga alumni deskomvis lho. hehe. sekalipun cuma kuliah dua semester.

dalam perjalanan pulang, mama terus nyerocos menceritakan kegilaan kawan2 kuliahnya dulu. saat aku sibuk dengan anak2 deskomvis dia memang terlihat sibuk dengan kawan2 kuliahnya. sesekali terdengar guyonan saru ala mahasiswa tahun 60an yang anehnya masih sangat relevan untuk dibicarakan lagi saat ini. dulu mamaku kuliah di universitas brawijaya, malang.

dia juga mengeluh kenapa adik2nya tidak memiliki comradeship yang sekental dirinya dan kawan2nya. aku jawab saja sekenanya bahwa setiap angkatan (di kampus maksudnya) memiliki karakter sendiri2. sambil mendengarkan dia bernostalgia, aku memikirkan diriku sendiri yang tidak punya kedekatan seperti dia dengan kawan2 seangkatanku. aku lebih punya kawan segagasan timbang kawan seangkatan. yang bisa disebut kawan2 seangkatanku adalah kawan2 sma. kawan2 kuliah lebih banyak kawan2 nongkrong dari berbagai fakultas dan jenis komunitas, mulai dari anak sastra, anak arsitek lawas2 sebangsa dimas, iwan dan goya, anak2 di kosannya yudi, dan anak2 pantai.

untuk hal pertemanan aku sudah tuntas. aku tidak membedakan kawan seangkatan atau kawan setongkrongan atau kawan segagasan. yang penting asik aku bisa ikutan nongkrong dan melakukan sesuatu bersama mereka. yang sampai sekarang masih belum tuntas di pikiran adalah; kok bisa ya dulu aku kuliah di petra?

tapi yah dari kampus aneh itu kenal banyak orang2 menarik. anak2 komunitas pantai hanyalah satu saja dari sekian banyak pribadi menarik yang kenal di petra. anak2 komunitas pantai itu termasuk golongan orang2 menarik peringkat menengah dari tiga tingkatan peringkat yang aku bikin dengan total entri sebanyak 123 orang.

siapa saja? yap sabar yo mas. ngeteh dhisik yo.

heh! jangan diem gitu. terusin bacanya ke tulisan yang di atas.

teringat neruda

comments 2
Buku



teringat dengan nerudakah dirimu, ketika melihat sebuah buku besar berwarna sampul merah muda, yang dulu kamu bawa kesana kemari di sebuah hari yang panas. lalu karena capek atau karena ingin melupakan pekerjaan kamu duduk di bangku panjang, tidak jauh dari tempatku duduk.

sekilas aku melihat kamu memandangi buku itu dengan pandangan yang kosong, lalu mulai membuka lembaran kertas dan membuat teman-temanmu bertanya “tumben baca buku”. tapi mungkin karena sudah terlalu kesal dengan seseorang di antara mereka yang suka membicarakan dirinya sendiri tanpa henti, kamu memilih tidak menjawab pernyataan itu, kamu memilih membaca sebuah puisi dengan judul yang lumayan panjang; fable of the mermaid and the drunks. karena merasa akrab dengan kata “fable” dan “mermaid” kamu memilih membaca buku kumpulan puisi yang ditulis dalam dua bahasa itu dari puisi neruda yang satu itu.

lalu mulailah kamu membaca, dalam hati, sekalipun ada gejolak perasaan antara ingin membaca dalam hati dan ingin membacakan puisi itu kepada kawan-kawanmu;

fable of the mermaid and the drunks

All those men were there inside,
when she came in totally naked.
They had been drinking: they began to spit.
Newly come from the river, she knew nothing.
She was a mermaid who had lost her way.
The insults flowed down her gleaming flesh.
Obscenities drowned her golden breasts.
Not knowing tears, she did not weep tears.
Not knowing clothes, she did not have clothes.
They blackened her with burnt corks and cigarette stubs,
and rolled around laughing on the tavern floor.
She did not speak because she had no speech.

hingga baris itu kemudian kamu tergoda untuk membacakannya pada kawan-kawanmu, she did not speak because she had no speech. cukup keras hingga aku mendengar satu baris itu dengan cukup jelas dan untuk diingat dalam-dalam dan untuk aku ingat dengan jelas hingga hari ini.

kemudian karena seseorang sudah menantimu, kamu beranjak meninggalkan tempat dudukmu dan membawa serta buku tebal berwarna sampul merah muda itu, lalu melintas dengan cepat dari tempatku duduk. tentu kamu tidak akan melihat bahwa saat itu aku sedang bersama dua orang kawanku, bahwa hanya aku yang memandangi dirimu, dan mungkin karena arah angin bau badanmu sempat tercium olehku dan membuatku memandangi kelopak matamu dengan lebih seksama, dan bahwa saat itu kamu juga sempat mengarahkan pandangan ke diriku,


Her eyes were the colour of distant love,
her twin arms were made of white topaz.
Her lips moved, silent, in a coral light,
and suddenly she went out by that door.
Entering the river she was cleaned,
shining like a white stone in the rain,
and without looking back she swam again
swam towards emptiness, swam towards death.

dan karena peristiwa itu aku sambar lagi sebuah botol air mineral berisi vodka yang sedari tadi aku konsumsi bersama dengan dua orang kawanku, aku nyalakan rokok dan tidak berhenti mengulang-ulang baris kalimat puisi neruda yang tadi kamu bacakan.

mungkin sesampainya di rumah, kamu hanya akan membaca buku itu sekedar untuk menuruti anjuran seseorang yang -karena begitu kurang kerjaannya dan dengan kurang ajar memandang dirinya sebagai penggemar neruda- menyarankan kamu membaca puisi-puisi neruda. ketika kamu bertanya “untuk apa?”, dia harus memeras keras otaknya hanya untuk sekedar membalas “bagus pokoknya”.

sekitar jam 9 malam kamu melihat buku tebal berwarna sampul merah muda itu tergolek di ranjangmu, disapu hawa dari pendingin ruangan, dan ditimpa beberapa jepit rambutmu, dan sebuah sms datang menanyakan bagaimana isi buku itu menurutmu. dan dengan berat hati kamu membuka buku itu, lalu berbaring di ranjangmu, melihat ke arah jendela sebentar untuk melihat cahaya ganjil yang muncul di jendela kamarmu (seperti cahaya pagi), yang membuatmu teringat akan pagi dimana kamu harus berangkat kuliah sambil masih mengantuk sekalipun wajahmu sebenarnya bagi orang lain terlihat sangat segar.

baru pada saat itulah kamu begitu yakin bahwa kamu hanya akan membalas “aku belum sempat baca, sekarang sudah mau tidur” yang pasti akan menjelaskan beberapa hal bagi penganjur bacaan itu dan sekaligus si pengirim sms.

dan di seberang sana, di sisi lain kota, si penerima sms balasanmu dengan berani membayangkan sebuah hari dimana kamu sudah lulus kuliah dan tenggelam dalam kesibukan, mendadak kamu melihat sebuah buku tebal berwarna sampul merah muda dan membuatmu teringat akan neruda. dan mungkin puisi yang sempat kamu baca itu.

bagi dia, si penerima sms balasanmu itu, dan mungkin bagi aku yang sempat bertatapan mata denganmu, kamu adalah pembaca neruda yang paling baik, karena dengan tidak mengenal neruda kamu akan tetap murni; dirimu yang tidak mengenal puisi dan permainan kata-kata, selalu sibuk dengan hal-hal praktis yang bisa diukur dan dikalkulasi, yang sibuk mengumpulkan nilai bagus sebanyak-banyaknya, yang pulang ke kamarmu yang nyaman untuk mengerjakan tugas kuliah sambil memikirkan keuntungan yang akan kamu raih dengan kuliah di salah satu kampus ternama. begitulah dirimu tetap murni; tidak mengenal air mata, pakaian, dan kata-kata, seperti putri duyung yang sejenak mampir di sebuah bar penuh pemabuk, seperti kamu sendiri yang melintasi tiga orang pemabuk di sebuah kantin di sebuah kampus, dan salah satu di antara tiga orang pemabuk itu begitu kurang kerjaannya hingga membayangkan banyak hal antara dirimu, baris puisi neruda yang kamu baca itu, dan dirinya.

namun dia begitu seriusnya bertanya dalam hati; teringatkah kamu akan neruda, jika suatu saat kamu melihat buku tebal berwarna sampul merah muda?

Halooo…

comments 2
Tentang kota


Aku baik2 saja lho. Kok ga ada yang nanya sih. Yogya sempat semrawut gara2 gempa. Kayaknya kalian harus ke yogya untuk merasakan digoyang gempa2 susulan dengan skala sekitar 2 sampe 3 skala richter. Bahkan pernah beberapa hari lalu sempat mencapai 4 skala richter. Waktu itu aku sedang ngenet di lantai 2 warnet dekat rumah, bareng sama panjul. Wah rasanya keren. Goyang ngebor…lewat…goyang patah2 apalagi. Semua orang langsung terlihat agak panik. Aku berusaha tenang. Sedangkan Panjul –seperti biasanya dan tak perlu aku jelaskan lebih jauh di sini– terlihat tenang dan terkendali.

Beberapa waktu lalu si ari sempat ke Yogya. Untungnya dia ga ikutan wisata bencana (orang2 yang cuma bawa bendera partai besar-besar dan banyak padahal cuma nyumbang indomie dua kardus. Orang-orang yang merasa bisa memberikan ‘trauma healing’ padahal otak mereka sendiri perlu digiling. Dan maaf seribu maaf, saya semakin muak sama partai yang namanya PKS. Penyebabnya ya dua hal yang tadi disebut).

Ya begitulah, aku baik2 saja. Tidak peduli kalian mikirin aku atau ga. hehe.

Pandanganku tentang gempa Yogya dan Jateng sudah lewat masanya untuk dibicarakan di sini. Sama halnya dengan sudah basinya pandanganku tentang kematian PAT. Yang kemudian hanya aku wakilkan dengan puisi Joko Pinurbo (padahal sebenarnya aku ingin bicara tentang kehebatan PAT dalam menyeret keluasan dan kerumitan sejarah dalam tokoh-tokoh yang dia hadirkan. Sebelumnya sosok seperti Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Bupati pada zaman tanam paksa hanya aku kenal nama saja). dan aku pikir sudah terwakili secara lebih utuh di sebuah situs. Okelah, sebagai perkenalan juga bahwa ada situs menarik yang harus kalian akses secara teratur, silakan mampir ke tandabaca. Kita bisa ngirim karya ke situs itu. Sekarang ini masih fokus ke permasalahan di sekitar gempa.

LISTEN IN EXTREME PREJUDICE

comment 1
Catatan Perjalanan / Catatan pertunjukan


Ajakan Ari sungguh susah ditolak, sama susahnya dengan menolak ajakan piknik ke Pantai Baron dari Mbak Fitri dkk. Ari mengajakku menonton “konsernya ‘Tika’, ‘Sore’, dan ‘Pure Saturday’ di universitas veteran. Jam 6. gratis.” Begitu sms yang dia kirim dari Solo.

Kedua ajakan tulus tersebut bertabrakan dengan jadwal kegiatan yang sudah aku rancang untuk akhir minggu yang panjang kemaren (Libur Jumat Agung).
Akhirnya, karena pertimbangan waktu dan ketepatan jadwal yang aku buat, ajakan piknik Mbak Fitri dkk dengan terpaksa tidak bisa aku ikuti karena bertepatan dengan agendaku pada hari Kamis. Sedangkan ajakan Ari bisa aku terima karena hanya selisih tiga jam sebelum agendaku pada hari Sabtu.

Dari beberapa band yang kami tonton, hanya ada dua band yang membuatku menyempatkan waktu untuk menuliskan catatan kecil.

Dalam catatan kecil ini, aku tidak bicara soal kemampuan teknis. Karena untuk itu aku yakin sudah banyak orang yang melakukannya dan aku pikir kemampuan bermusik band-band Indonesia sudah cukup bagus, sama bagusnya aku pikir dengan band-band dari Barat yang mereka tiru. Cukup beruntunglah kita memiliki kebudayaan yang menghargai musik.

Sesuai dengan judul tulisan ini, aku berharap pembaca tulisan ini –jika kebetulan namanya tersangkut atau band favoritnya tersebut– tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu mengenai tulisan ini atau diri saya. Dalam setiap konser musik, wajar adanya kita lihat segerombol orang yang duduk di pojok terjauh dan mencaci-maki walau tidak sambil berteriak-teriak. Atau lebih kerennya, wajar kita lihat ada catatan dari “kritikus” atau “pengamat” yang membuat banyak pihak terganggu.

1
Amarah Sesat “Six Seek Sick.”

Band ini sudah lama mencuri perhatianku. Kalau tidak salah pada tahun 2000 aku main ke Yogya dan membeli album mereka. Kesan pertama yang didapat dari band ini adalah mendengarkan Sonic Youth yang menyanyikan lagu-lagu mereka dalam bahasa Inggris kelas imigran, mulai dari imigran-imigran yang tinggal di East End-London atau di tempat penampungan sementara imigran (aku lupa namanya) di Darwin.

Dalam penampilan mereka yang aku lihat kemaren atas ajakan Ari, ternyata penampilan band dari Yogya ini lumayan sip. Ada amarah dalam musik mereka. dan ternyata mereka lebih mirip Manic Street Preacher daripada Sonic Youth. Apalagi basisnya, yang seringkali mencuri perhatian penonton dengan aksi-aksi gilanya: mulai dari memukul-mukul kepalanya di antara jeda rip gitar, menaiki bass drum, dan memukul simbal dengan kedua genggaman tangannya. Lumayan orisinil.

Dari semua lagu yang mereka bawakan itu, tidak satupun yang aku tahu judulnya. Mungkin dari rilis terbaru mereka yang tidak termasuk dalam album yang aku beli dulu itu.

Pada lagu ketiga, vokalisnya menyatakan bahwa melalui lagu itu mereka ingin mengingatkan para pendosa akan api dan siksa “neraka”. Bah. Murahan banget. Kalau Cuma pengen nulis hal murahan seperti itu biarkan saja para preman berselubung agama yang Cuma mikir kontol dan bawuk itu atau tukang ceramah karbitan yang necis-necis di TV itu yang melakukannya. Bah…Asu!! Jancuk…

Seketika itu aku menaruh kasihan dengan amarah yang mereka tampilkan sejak lagu awal mereka. Ternyata mereka tersesat. Aku tidak jadi minta stiker mereka ke si Tuwek, yang ternyata sekarang manajer Seek Six Sick. Dan dengan perasaan datar aku hapus satu lagu Seek Six Sick dari satu berkas berisi penuh mp3 beberapa band “indie” lokal.


2
(Not so) Pure Saturday

Aku datang tepat saat Pure Saturday (disingkat PS saja) membawakan lagu mereka. Ari, yang berdiri lima meter sebelah kanan mengajakku untuk maju ke depan. Dalam perjalanan menembus beberapa gerombolan orang, akhirnya aku bisa melihat band dari Bandung itu dengan jelas.

Aku masih kelas II SMA saat pertama kali aku mendapatkan album PS dari Yohanes. Dan langsung jatuh suka, apalagi setelah melihat klip mereka yang sederhana itu. Kalau tidak salah itu adalah klip “Coklat.” Setelah aku kembalikan kaset milik Yohanes itu, aku beli sendiri album PS untuk aku dengarkan hampir setiap hari sepulang sekolah sambil ngerokok di kamar.

Begitu ketemu Ari dan melihat PS dari dekat, setelah sekian lama mendengarkan lagu-lagu mereka, aku agak kaget. Berdiri sebagai vokalis adalah Satrio si editor Ripple. Sedikit catatan tentang kekagetan ini adalah sebagai berikut:

Si vokalis yang mantan manajer PS sendiri itu membawakan lagu-lagu PS dengan penuh kesadaran bahwa lagu-lagu PS adalah lagu-lagu yang enak dan memiliki sejarah yang lebih panjang dibanding lagu-lagu dari band-band lain yang manggung saat itu. Aduh. Sejak kapan mereka jadi ngartis seperti itu. Apalagi dengan aksi bagi-bagi stikernya. Satrio juga terlihat lebih pantas jadi vokalis sebuah “tribute band”, yang khusus menyanyikan lagu-lagunya Dave Matthews Band: dia sudah terlalu tua untuk membawakan lagu-lagu PS (terutama dari album-album lama PS).

Sebuah pengecualian untuk “Elora”. penampilan Satrio cukup bagus. Di album terbaru di mana Satrio jadi vokalis PS, ada kesempatan bagi PS untuk bisa menemukan kembali “soul”nya.

Lepas dari catatan itu, PS yang sekarang ternyata masih PS yang aku dengar dulu, sekalipun tidak terlalu “pure” terlebih dengan digantikannya posisi vokalis mereka dengan vokalis berjiwa manajer itu. dan kayaknya Satrio lebih cocok untuk jadi manajer. Dengan cara itu toh dia masih bisa menyanyi sesekali di pesta-pesta kecil atau jadi additional player. Dalam karir musik, rasanya dia lebih pantas membuat band sendiri tanpa membawa-bawa nama PS.

Beberapa catatan dari Kuliah Umum Gayatri Spivak

comments 2
Buku



Terlambat Datang

Acara dimulai tepat jam 10:00 di Beringin Soekarno, USD. Aku datang terlambat 20 menit, seperti zaman kuliah dulu. Begitu tiba di tempat acara dan hendak mendaftar, ternyata Dodi dan kawan-kawannya dari Bandung juga baru mendaftar. Setelah menuliskan namaku pada kolom peserta, aku tebarkan pandangan ke tempat yang teduh itu. Ternyata ada Astrid, Faiz, dan Ope, sedang duduk di pinggir sambil merokok. Ah, seperti nonton konser musik saja.

Dan ada Keta! Anak punk nan sopan dari Bali itu ternyata masih berkeliaran di Yogya sini. Aku biarkan dia kebingungan sebentar dengan beberapa lembar kertas di tangannya untuk mengisi kolom registrasi.

Yang dimaksud dengan Beringin Soekarno ternyata adalah sebuah taman rindang yang berpusat pada sebuah pohon beringin besar. Pohon beringin itu memayungi sebuah panggung permanent kecil. Di situlah duduk tiga orang pembicara dalam kuliah umum yang bertajuk “Kemungkinan-kemungkinan bagi Gerakan Kebudayaan Saat Ini”: Gayatri Spivak, Kuan-Hsing Chen, dan Hilmar Farid, serta seorang moderator yang aku tidak tahu namanya. Sedang angkat bicara saat itu adalah Gayatri Spivak.

Karena bingung disapa beberapa kawan; Faiz, Astrid, dan Ope, yang duduk di pinggiran taman dan kehabisan kursi, aku tidak bisa langsung mengikuti pembicaraan Spivak. Lalu aku bergerak ke rumpun kursi yang ditata membentuk setengah lingkaran menghadap panggung. Penuh.

Entah siapa yang memulai, aku kembali terlibat pembicaraan dengan Keta. Ternyata dia tinggal di Pampringan. Dia juga menanyakan surat pengunduran diri AKY yang sekarang banyak berseliweran di beberapa milis. Gerimis mulai turun. Aku tidak sanggup menjelaskan banyak hal mengenai mundur massal para anggota AKY.

Sebelum aku tiba di lokasi, mendung sudah terlihat semakin berat dan akhirnya muntah beberapa saat setelah aku pembicaraan dengan Keta. Bukan lagi gerimis, tapi hujan deras. Acara terpaksa berpindah lokasi ke Lembaga Studi Realino. Sejauh itu hanya beberapa patah kata dari Spivak yang aku ingat: “…outraged…middle class” atau “outraged middle class”.

***

Tiba di Lembaga Studi Realino, Spivak kembali menghajar para hadirin dengan rangkaian kalimat-kalimat yang jernih dan tertata rapi. Bagi beberapa orang yang hadir di ruangan itu, yang cukup puas dengan pengetahuan mereka yang setengah-setengah dan merasa sudah layak angkat bicara, apa yang dikatakan Spivak terasa membingungkan. Termasuk di antara orang-orang semacam itu adalah aku pribadi.

Tapi yang jelas aku bukan termasuk orang yang memaksakan diri harus mengajukan pertanyaan kepada Spivak, seperti beberapa mahasiswa yang merasa dirinya harus melatih bahasa Inggrisnya.

Dan terjadilah bencana itu. Setelah usai Kuan-Hsing Chen dan Hilmar Farid selesai bicara, beberapa orang mengajukan pertanyaan yang membuat Spivak membahasnya sambil tersenyum-senyum. Mungkin kasihan.

Sekalipun demikian, sebenarnya ada beberapa topik pembicaraan mereka yang kemudian membuatku ingin mengajukan pertanyaan.

1. Komunalisme
Di Indonesia dewasa ini kita menyaksikan sebuah arus yang mengusung moral dan kerap memaksakan pendapatnya. Sekarang ini sedang ribut diperbincangkan gara-gara ulah mereka adalah RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi). Sementara pendapat menamai gerakan ini sebagai gerakan fundamentalisme. Sebuah gerakan yang akan membuat wajah agama manapun menjadi menjijikkan.

Spivak menunjuk gerakan tersebut sebagai Komunalisme karena tidak selalu menggunakan dasar keagamaan. Spivak mencontohkan beberapa gerakan di India yang –sayangnya aku lupa namanya– membuat wajah sedih India menjadi semakin menyedihkan.

Tapi di Indonesia, rasanya yang namanya komunalisme itu selalu menggunakan dasar keagamaan, mulai dari PKS, FPI, Hisbut Tahrir, Laskar Jihad, MMI, artis-artis ibukota yang “taubat”, majalah Sabili, dan macam-macam gerakan yang suka bikin onar dan menggerogoti nalar manusia Indonesia.

Beberapa di antara mereka memang tepat untuk digolongkan sebagai gerakan komunal. Namun beberapa, yang didirikan oleh militer dan jadi semacam pasukan paramiliter, rasanya lebih tepat digolongkan sebagai pasukan terror semacam Pemuda Hitler.

2. Power Block dan Bahasa Inggris
Kembali ke pokok kuliah umum, Spivak mengusulkan tiga hal, tapi hanya dua yang aku ingat, yakni: pembentukan power block dan pengunaan bahasa Inggris. Lebih tepat sebenarnya adalah pemanfaatan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar urusan negara (state business). Namun Spivak mengingatkan bahwa Bahasa Inggris tidak akan pernah mungkin menjadi dasar bagi pembangunan sebuah gerakan kebudayaan.

Penjelasan itu searah dengan penjelasan Budi Darma mengapa sebaiknya penulis Indonesia tetap menulis dalam Bahasa Indonesia saja. tidak usah ikut-ikutan penulis-penulis Asia yang menulis dalam bahasa Inggris, yang notabene bukan bahasa ibu mereka. Menulis tidak dalam bahasa ibu mungkin akan membuat penulis tersebut kehilangan akarnya. Mungkin.

Bisa jadi Spivak mengutarakan hal tersebut karena bahasa Inggris dimaksud sebagai alat untuk menembus lingkar kekuatan modal –yang kini semakin menggerus Negara-negara welfare state dan Negara-negara Selatan– di Asia terutama. Dimana lingua franca kekuatan modal tersebut adalah bahasa Inggris. Dan untuk berkomunikasi secara imbang dengan mereka adalah dengan menggunakan bahasa Inggris.

Imbang, egaliter, setara; adakah ketiga kata benda itu dalam kenyataan kita? Pembicaraan dengan Dauz, Dodi, dan Rahmat malam hari di Tandabaca membuatku sadar bahwa ternyata egaliter itu adalah kondisi yang susah dicapai. Di antara kedua pihak yang sedang berkomunikasi, aku dan kamu misalnya, pasti selalu ada salah satu pihak yang memiliki keunggulan artikulasi bahasa dan pengolahan gagasan yang kemudian hasilnya akan dia tumpahkan kepada pihak yang lain.

3. Surga kecil NGO
Beberapa saat kemudian, Hilmar Farid menyatakan bahwa di Indonesia sekarang ini Negara cenderung dihindari dan banyak NGO membentuk “surga-surga kecil” mereka sendiri mengelilingi Negara.

4. Komuter kebudayaan
Yang menarik dalam perbincangan saat itu adalah yang dikemukakan oleh Hilmar Farid. Bahwa dia pernah bertemu seorang perempuan yang berbahasa Inggris cukup lancar dan kerap melakukan kunjungan ke luar negeri. Semacam kereta commuter, ulang alik antara dua kota. Perempuan ini kerap membawa pulang ke Indonesia setumpuk gagasan cemerlang dari dunia luar dan membagikan inspirasi bagi banyak orang. Menurut Farid, perempuan itu menjalankan fungsi yang semestinya dijalankan oleh NGO, dan lebih efektif!

Setuju 100% atas pendapat cerdas Hilmar Farid tersebut! Amerika tidak akan melahirkan penulis-penulis seperti Ernest Hemingway, Gertrude Stein, atau Ezra Pound jika mereka tidak meninggalkan negara mereka dan mencari dunia ide yang segar di negara lain.

Pertanyaan Tidak Jadi dan Pernyataan untuk aku sendiri
Inilah yang menjadi pertanyaanku saat itu, yang sampai akhir acara tidak terungkapkan: jika bahasa Inggris menjadi bahasa kedua sebuah negara dan diandaikan negara memimpin sebuah gerakan kebudayaan, mampukah sebuah bangsa memiliki kekuatan budaya untuk menghadapi kekuatan modal?

Dalam tulisan Puthut dan Antariksa, aku membaca bahwa negara sebaiknya memegang kendali atas gerakan kebudayaan. Bisa dilihat di situsnya kunci cultural studies.

Dengan mengusir orang-orang Belanda dari Indonesia, Soekarno dengan sendirinya juga mengusir para administrator rumah sakit, guru-guru, dan beberapa orang biasa yang memiliki perhatian besar kepada masyarakat sekitarnya. Dan yang lebih penting; Indonesia kehilangan bahasa pengantar ke pergaulan dunia. Jadilah sekarang Indonesia dipenuhi orang-orang yang berusaha sebisanya untuk bisa menguasai beberapa patah kata bahasa Inggris.

Dan yang menyedihkan menurutku, kita terputus dari masa lalu kita sendiri. Penjajahan 350 tahun memang pengalaman yang menyakitkan, tapi rasanya lebih menyakitkan jika kemudian kita menghapus paksa semua kenangan interaksi dengan mantan penjajah kita. Karena itu aku tidak terlalu sedih jika melihat bangunan-bangunan kolonial peninggalan Belanda dihancurkan dan digantikan dengan gedung-gedung kaku. Hal itu sudah seharusnya disadari sebagai konsekuensi kita karena memutus sejarah.

Hindia Belanda dan Indonesia kini adalah sosok persahabatan aneh antara dua orang yang sama-sama bodoh; antara negara penjajah yang kolot dan terbelakang di Eropa yang sangat terlambat menyadari pentingnya peran wilayah kolonial sebagai pasar mereka dan negara jajahan yang keras kepala dan mengganggap dirinya bisa bangkit dengan cepat sebagai negara yang bermartabat setelah 350 tahun jadi kuli bangsa-bangsa lain.

KE PASAR BERTEMU FIDEL

comment 1
Catatan Perjalanan / Tentang kawan


Sebelum membicarakan Fidel, anjing kelas kampung dari Pasar Ngasem, Yogyakarta, ada baiknya aku menceritakan beberapa hal yang aku rasa lebih menarik kalau kita membicarakan pasar.

Kalau kamu berkesempatan ke Yogya, datanglah ke pasar-pasarnya. Jika pilihan pertamamu adalah ke Pasar Ngasem, jangan sampai salah masuk. Pasar ini terletak di sebelah selatan Alun-Alun Kidul.
Pasar ini bukan pasar hewan saja, tapi juga pasar biasa yang menjual berbagai jenis kebutuhan. Waktu itu aku ke sana bareng Dody, Anwar, dan Mila, rasanya sehat sekali. Sesehat ketika aku di Malang mengunjungi pasar di depan rumah nenekku. Sekalipun suasananya ramai tapi tidak gaduh. Meriah tepatnya. Orang-orang berjualan berbagai macam barang.

Tidak seperti mengunjungi mall atau berbagai jenis pusat belanja modern lainnya, sekalipun banyak barang, pasar tidak memaksa-maksamu untuk membeli. Kamu seolah hanya menggelinding dan menjadi satu dengan kerumunan orang disitu. kenyataan menjadi satu dengan orang-orang di pasar tidak akan membuat kamu merasa hilang.

Dari pintu masuk jalanlah lurus menelusuri lorong pasar. Di situ banyak jenis hewan. Tapi rasanya hewan peliharaan, atau bagi beberpa orang mungkin hewan-hewan malang itu adalah menu makan atau obat mereka. Kalau tidak salah di kios yang ketiga sebelah kiri setelah pertigaan, kami bertemu dengan fidel.

Fidel adalah anjing kampung berwarna hitam. Saat itu, matanya tidak bercahaya. Badannya lemas dan lebih lemas lagi ketika kami membelinya dan membawanya ke rumah. Fidel bisa kami bawa pulang setelah uang sejumlah Rp.80.000 dari Dodi berpindah tangan ke ibu pemilik kios tersebut.

Bersama fidel, di berbagai kurungan di kios itu ada anjing, kucing, dan burung kalau tidak salah, yang semuanya terlihat kehilangan gairah hidup.

Sampai di rumah, fidel langsung mencret-mencret dan tidak mau makan. Kalau tidak salah…ah siapa yang bilang kalau ingatan itu tergantung selera kita juga. Kita hapus jika berkaitan dengan peristiwa atau kejadian yang menyakitkan dan ingat betul ketika berkaitan dengan kejadian yang menyenangkan…benar sekali dia…

Aku enggan mengingat anjing ini karena begitu banyak kesedihan di hidupnya yang sungguh singkat. Catatan-catatan berikut ini adalah bukti bahwa di rumah kontrakanku pernah hidup seekor anjing yang keceriaannya dirampas manusia. Fidel akhirnya meninggal setelah dirawat dua hari di rumah sakit hewan UGM. Menurut Pipiet dokter yang menangani fidel, pembunuh fidel adalah virus bernama Parvo. Dari luar virus ini nampak dari semakin lemahnya kondisi tubuh fidel akibat kurang cairan dan berak darah.

Catatan ini aku buat di komputer kantor. Dan semoga bisa menjadi karangan bungaku kepada fidel di pusaranya yang sekarang mungkin diatasnya sudah didirikan sebuah warung atau bangunan lain.

Tuesday, September 13, 2005
Fidel muntah2 lagi. he’s so fragile and its really sad to see a dog vomiting in the morning.
padahal tadi malam dia masih sehat2 saja. mungkin angin malam dan dinginnya teras yang menganjlokkan kondisi tubuhnya lagi.

Thursday, September 15, 2005
sepulang mengantar fidel ke rumahsakit (lagi) aku duduk merokok di ruang tengah. halaman depan terlihat begitu kering dan meranggas siang tadi. aku membayangkan fidel sudah sehat dan duduk-duduk di sebuah semak-semak atau pohon yang ditanam di situ. andai ada pot besar berisi tanaman yang menjulur2 itu (aku ga tau namanya) pasti rumah ini terlihat lebih enak dan teduh.

Friday, September 16, 2005
fidel mati. ini serius. (sms dari Dodi) sms itu datang nyelonong begitu saja, menggondol serta semua kenangan sedih atas anjing kecil yang merana itu. aku cerita ke iwan kalo anjingku mati. Saat itu aku sedang di Surabaya menghadiri pernikahan Dimas.

Monday, September 19, 2005
fidel’s still around. i can clearly sense his “amis” body odour in my pants. i doubt that this odour come from the train. this is clearly fidel’s odour! fidel, goo’ boy, come come.

Lalu Johan Menulis Puisi

comments 3
Tentang kawan

remind me of johan
Originally uploaded by absolute onie.

Aku tidak pernah bisa menjelaskan kepada diriku sendiri, seperti apa sebenarnya hubungan perkawananku dengan Johan.
Teman kuliahku ini kadang-kadang terlihat begitu tegang, penuh dan ingin meledak. Tapi begitu diajak ngobrol, ternyata ketegangannya, sesak pikirannya itu seolah memiliki banyak kanal, bisa dipastikan kamu akan mengalir dari serius ke sarkas dan jatuh ke guyonan pasar. dan semuanya itu tetap dalam satu topik pembahasan.
Yang tidak boleh dilupakan dari ciptaan Tuhan yang bernama Johan ini adalah mimik wajahnya. Kadang, dalam sebuah pembicaraan, dia terlihat begitu bersahaja, namun kadang terlihat bersikukuh mempertahankan pemikirannya. Semua orang memang seperti itu, tapi di Johan kamu akan melihatnya dengan jelas.
Dulu pernah aku dengan Johan dan dengan Geri kalau tidak salah, duduk-duduk di dalam sebuah gereja di dekat kampus. Kami cuma saling diam dan menghadap ke deretan lilin-lilin dan patung Bunda Maria. Waktu itu Johan sedang mengalami kebangkitan rohani yang, untungnya, membawa Johan ke sebuah agama yang sudah berevolusi dari agama yang god-oriented ke human-oriented (Note: penggolongan bikinanku sendiri dan sangat debatable).
Iren sungguh tidak salah menjadikan Johan sebagai Final Projectnya. Dari Iren aku baru tahu bahwa Johan ternyata menulis puisi, dan banyak sekali ternyata. Sayangnya hanya ada dua puisi Johan yang bisa aku baca. Salah satunya adalah yang di bawah ini:

The White Empty Page

the white empty page
is unbelieveable innocent

like a lake of morning summer
we can face ourselves on
with tens of imaginery friends,
daycaring nurses shaver lambs

a fountain of laugh
cause the birds to perch
just to feel the splashes
of baptism urge

every step is wonderland
every glance is golden band
the rhymed swing of cherubim
so naive and supreme

the white empty page
once was scared to be printed

Cukup manis bukan? Itulah Johan. Dia memang sungguh sangat pas untuk disandingkan dengan kutipan dari Allen Ginsberg yang bisa kamu lihat di gambar yang aku sertakan di posting kali ini.

Oke Johan, seperti yang kamu bilang; semoga nasib akan mempertemukan kita di warung soto dekat katedral di sebuah minggu pagi.