comments 2
Tentang kawan

ketemu anak pantai

“ayo on, anterin mama”
“kemana?”
“ke mantenan anaknya temennya mama.”
“males ah”
“ya udah kamu ngedrop mama ajah”
“oke”

siapa sangka ajakan mamaku untuk menemaninya ke mantenan itu membuat ketemu dengan anak-anak pantai lagi; goya, dika, martin, steve, dion (sekarang sudah pacaran),rika, tono dan anak perhotelan si geri.

setiap orang dari mereka mengingatkan aku akan beberapa hal. ketemu goya aku ingat distribusi majalah outmagz yang nggak pernah laku itu dan rumahnya yang nyaman. di rumahnya si goya ini ada semacam cafe yang sayangnya tidak dimanfaatkan benar-benar. sekarang sama si iwan dia mau bikin sesuatu. sayangnya aku lupa apa pastinya. aku cuma ingat bahwa aku menganjurkan dia untuk membuka sebuah situs tertentu yang ada akitannya dengan sesuatu yang mau dia kerjakan itu. yang jelas berhubungan dengan arsitektur. ah ya, dia dan iwan mau bikin kajian arsitektur surabaya yang sekarang ini kecenderungannya hanya mementingkan kemegahan dan tampilan luar. lalu kalau tidak salah aku cerita tentang pak eko di yogya yang hasil karyanya bisa dilihat2 kalo kamu ke togamas yogya. beda sekali dengan togamas di surabaya, yang dipindahkan ke “mall” baru di depan stasiun wonokromo. yah seperti biasa, aku cuma jual omongan.hehe. daripada cuma ngomongin hal2 formal seperti tema tentang kelulusan atau karir yang aku pikir hak pribadi setiap orang untuk mau dibagi atau tidak. sekalipun sebenarnya kedua tema itu adalah tema yang paling menjual jika ketemu teman lama. goya mengaku belum lulus. kalau aku masih kuliah di deskomvis, pasti akan sama saja dengan dia. kuliah di sastra memang memberikan aku kelulusan yang cepat dan kesempatan untuk membuang2 waktu, dan sikap hidup baru yang rasanya cukup pantas untuk diberi nama “optimisme tragis”. soal optimisme yang aneh itu akan aku ceritakan di kesempatan berikutnya.
dari dulu aku ngeliat si goya ini benernya kurang pas kalo bergaul sama anak2 pantai yang “ndistro” itu. dia lebih pas sama iwan,dimas, dan yosep. malam itu dia lebih banyak duduk2 sama ceweknya geri dan ceweknya dion.

si martin mengingatkan akan masa kuliah di deskomvis, yang kemudian aku telantarkan begitu saja, dan teman2 deskomvis seperti ardi, gempur, gadis (kemana ya mbak ini), aak (kabarnya dulu dia pindah ke isi). di jam2 studio yang sangat menyiksa itu, aku biasa ngobrol dengan martin dan gempur. ketika obrolan usai, aku biasanya akan mencoret2 tembok dengan cat lalu ngelamun di jendela besar melihat awan2 surabaya yang menyingkir kena sengatan matahari, dan kaget setengah mati ketika deadline tugas nirmana harus ditumpuk besok pagi. padahal aku belum menemukan gradasi warna yang tepat.

tono dan steve. ah apa ya. tono dulu suka dipanggil2 “rangga” pas film aadc lagi rame2nya. lebih sip kalo ngobrol sama tono kalo pas ada johan. pokok pembicaraan tidak akan jauh2 dari sosok yesus dan karya keselamatannya, sambil sesekali diselingi obrolan2 yang sungguh2 tidak bermutu dan layak untuk ditinggalkan. soal steve aku tidak tahu banyak. dia itu semacam cameo. aduh steve, aku ga terlalu kenal kamu. gimana ya. kalo jadinya seperti ini aku nulis kayak kamu ya mungkin kita perlu ngobrol2 bareng. dari tono aku mendapat informasi bahwa johan sudah memutuskan untuk tidak meneruskan kuliahnya, sekalipun skripsinya sudah hampir rampung. dieu vos benit, johan!

rika. kamu tambah manis. makanya dandan. jangan pura2 jadi cowok terus, apalagi berteman dengan orang kayak martin dan alex. oiya, si alex kemarin ga muncul. urang sunda yang satu itu sama sekali tidak bisa dianggap anak pantai. aku lebih sering ketemu dia di kosannya yudi. mungkin sekarang dia sudah pulang ke jakarta.

bagaimana dengan geri perhotelan? wah, tidak berubah! masih doyan dandan ala makelar villa di tretes, terutama gara2 tas gaya ariel peterpan dan sikap ramahnya yang khas geri. sekarang rokoknya dji sam soe dan beberapa kali dibagi2 ke anak2. mungkin dia habis dapat ganti rugi lumpur panas di porong. kasihan memang dia, rumahnya bisa dipastikan tidak lama disapu lumpur. tapi yah kita semua tentu yakin bahwa geri selalu bisa memanfaatkan keadaan dengan baik. mungkin dia akan buka disaster tourism atau gulat lumpur seperti mbak2 di amerika yang suka gulat di lumpur itu.

tapi geri ini adalah sahabatku sejak aku pertama kuliah di petra. sejak masih sma dia sudah suka nongkrong di kampus dan ikutan demo tahun 98, bahkan hingga aksi2 menolak ruu pkb tahun 2000 sekian itu dia juga masih ikut. orangnya sangat terbuka dan suka membaca. supel dan tidak sombong. entah sejak kapan dia mulai sering nongkrong bareng anak pantai di selasar gedung p. sesekali aja dia mampir ke selasar gedung b dan nongkrong bareng anak sastra dan menjajakan guyonannya.

dari mereka kemudian aku baru tahu bahwa yang menikah adalah si arif. oalah. si arif yang suka tampil rapi dan memelihara kumis tipisnya itu. kecuali seorang arif yang aku kenal, aku kurang tahu kenapa semua orang yang pake nama arif yang aku kenal selalu seperti itu tampilannya.

tentu saja aku tidak menolak saat anak2 mengajak aku foto bareng arif saat pembaca acara mengajak “para alumni deskomvis uk petra surabaya” untuk berfoto bersama. gini2 aku juga alumni deskomvis lho. hehe. sekalipun cuma kuliah dua semester.

dalam perjalanan pulang, mama terus nyerocos menceritakan kegilaan kawan2 kuliahnya dulu. saat aku sibuk dengan anak2 deskomvis dia memang terlihat sibuk dengan kawan2 kuliahnya. sesekali terdengar guyonan saru ala mahasiswa tahun 60an yang anehnya masih sangat relevan untuk dibicarakan lagi saat ini. dulu mamaku kuliah di universitas brawijaya, malang.

dia juga mengeluh kenapa adik2nya tidak memiliki comradeship yang sekental dirinya dan kawan2nya. aku jawab saja sekenanya bahwa setiap angkatan (di kampus maksudnya) memiliki karakter sendiri2. sambil mendengarkan dia bernostalgia, aku memikirkan diriku sendiri yang tidak punya kedekatan seperti dia dengan kawan2 seangkatanku. aku lebih punya kawan segagasan timbang kawan seangkatan. yang bisa disebut kawan2 seangkatanku adalah kawan2 sma. kawan2 kuliah lebih banyak kawan2 nongkrong dari berbagai fakultas dan jenis komunitas, mulai dari anak sastra, anak arsitek lawas2 sebangsa dimas, iwan dan goya, anak2 di kosannya yudi, dan anak2 pantai.

untuk hal pertemanan aku sudah tuntas. aku tidak membedakan kawan seangkatan atau kawan setongkrongan atau kawan segagasan. yang penting asik aku bisa ikutan nongkrong dan melakukan sesuatu bersama mereka. yang sampai sekarang masih belum tuntas di pikiran adalah; kok bisa ya dulu aku kuliah di petra?

tapi yah dari kampus aneh itu kenal banyak orang2 menarik. anak2 komunitas pantai hanyalah satu saja dari sekian banyak pribadi menarik yang kenal di petra. anak2 komunitas pantai itu termasuk golongan orang2 menarik peringkat menengah dari tiga tingkatan peringkat yang aku bikin dengan total entri sebanyak 123 orang.

siapa saja? yap sabar yo mas. ngeteh dhisik yo.

heh! jangan diem gitu. terusin bacanya ke tulisan yang di atas.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. lalathijau says

    karena sudah bukan jaman rangga, si tono sekarang mungkin jadi kayak vokalis nidji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s