LISTEN IN EXTREME PREJUDICE

comment 1
Catatan Perjalanan / Catatan pertunjukan


Ajakan Ari sungguh susah ditolak, sama susahnya dengan menolak ajakan piknik ke Pantai Baron dari Mbak Fitri dkk. Ari mengajakku menonton “konsernya ‘Tika’, ‘Sore’, dan ‘Pure Saturday’ di universitas veteran. Jam 6. gratis.” Begitu sms yang dia kirim dari Solo.

Kedua ajakan tulus tersebut bertabrakan dengan jadwal kegiatan yang sudah aku rancang untuk akhir minggu yang panjang kemaren (Libur Jumat Agung).
Akhirnya, karena pertimbangan waktu dan ketepatan jadwal yang aku buat, ajakan piknik Mbak Fitri dkk dengan terpaksa tidak bisa aku ikuti karena bertepatan dengan agendaku pada hari Kamis. Sedangkan ajakan Ari bisa aku terima karena hanya selisih tiga jam sebelum agendaku pada hari Sabtu.

Dari beberapa band yang kami tonton, hanya ada dua band yang membuatku menyempatkan waktu untuk menuliskan catatan kecil.

Dalam catatan kecil ini, aku tidak bicara soal kemampuan teknis. Karena untuk itu aku yakin sudah banyak orang yang melakukannya dan aku pikir kemampuan bermusik band-band Indonesia sudah cukup bagus, sama bagusnya aku pikir dengan band-band dari Barat yang mereka tiru. Cukup beruntunglah kita memiliki kebudayaan yang menghargai musik.

Sesuai dengan judul tulisan ini, aku berharap pembaca tulisan ini –jika kebetulan namanya tersangkut atau band favoritnya tersebut– tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu mengenai tulisan ini atau diri saya. Dalam setiap konser musik, wajar adanya kita lihat segerombol orang yang duduk di pojok terjauh dan mencaci-maki walau tidak sambil berteriak-teriak. Atau lebih kerennya, wajar kita lihat ada catatan dari “kritikus” atau “pengamat” yang membuat banyak pihak terganggu.

1
Amarah Sesat “Six Seek Sick.”

Band ini sudah lama mencuri perhatianku. Kalau tidak salah pada tahun 2000 aku main ke Yogya dan membeli album mereka. Kesan pertama yang didapat dari band ini adalah mendengarkan Sonic Youth yang menyanyikan lagu-lagu mereka dalam bahasa Inggris kelas imigran, mulai dari imigran-imigran yang tinggal di East End-London atau di tempat penampungan sementara imigran (aku lupa namanya) di Darwin.

Dalam penampilan mereka yang aku lihat kemaren atas ajakan Ari, ternyata penampilan band dari Yogya ini lumayan sip. Ada amarah dalam musik mereka. dan ternyata mereka lebih mirip Manic Street Preacher daripada Sonic Youth. Apalagi basisnya, yang seringkali mencuri perhatian penonton dengan aksi-aksi gilanya: mulai dari memukul-mukul kepalanya di antara jeda rip gitar, menaiki bass drum, dan memukul simbal dengan kedua genggaman tangannya. Lumayan orisinil.

Dari semua lagu yang mereka bawakan itu, tidak satupun yang aku tahu judulnya. Mungkin dari rilis terbaru mereka yang tidak termasuk dalam album yang aku beli dulu itu.

Pada lagu ketiga, vokalisnya menyatakan bahwa melalui lagu itu mereka ingin mengingatkan para pendosa akan api dan siksa “neraka”. Bah. Murahan banget. Kalau Cuma pengen nulis hal murahan seperti itu biarkan saja para preman berselubung agama yang Cuma mikir kontol dan bawuk itu atau tukang ceramah karbitan yang necis-necis di TV itu yang melakukannya. Bah…Asu!! Jancuk…

Seketika itu aku menaruh kasihan dengan amarah yang mereka tampilkan sejak lagu awal mereka. Ternyata mereka tersesat. Aku tidak jadi minta stiker mereka ke si Tuwek, yang ternyata sekarang manajer Seek Six Sick. Dan dengan perasaan datar aku hapus satu lagu Seek Six Sick dari satu berkas berisi penuh mp3 beberapa band “indie” lokal.


2
(Not so) Pure Saturday

Aku datang tepat saat Pure Saturday (disingkat PS saja) membawakan lagu mereka. Ari, yang berdiri lima meter sebelah kanan mengajakku untuk maju ke depan. Dalam perjalanan menembus beberapa gerombolan orang, akhirnya aku bisa melihat band dari Bandung itu dengan jelas.

Aku masih kelas II SMA saat pertama kali aku mendapatkan album PS dari Yohanes. Dan langsung jatuh suka, apalagi setelah melihat klip mereka yang sederhana itu. Kalau tidak salah itu adalah klip “Coklat.” Setelah aku kembalikan kaset milik Yohanes itu, aku beli sendiri album PS untuk aku dengarkan hampir setiap hari sepulang sekolah sambil ngerokok di kamar.

Begitu ketemu Ari dan melihat PS dari dekat, setelah sekian lama mendengarkan lagu-lagu mereka, aku agak kaget. Berdiri sebagai vokalis adalah Satrio si editor Ripple. Sedikit catatan tentang kekagetan ini adalah sebagai berikut:

Si vokalis yang mantan manajer PS sendiri itu membawakan lagu-lagu PS dengan penuh kesadaran bahwa lagu-lagu PS adalah lagu-lagu yang enak dan memiliki sejarah yang lebih panjang dibanding lagu-lagu dari band-band lain yang manggung saat itu. Aduh. Sejak kapan mereka jadi ngartis seperti itu. Apalagi dengan aksi bagi-bagi stikernya. Satrio juga terlihat lebih pantas jadi vokalis sebuah “tribute band”, yang khusus menyanyikan lagu-lagunya Dave Matthews Band: dia sudah terlalu tua untuk membawakan lagu-lagu PS (terutama dari album-album lama PS).

Sebuah pengecualian untuk “Elora”. penampilan Satrio cukup bagus. Di album terbaru di mana Satrio jadi vokalis PS, ada kesempatan bagi PS untuk bisa menemukan kembali “soul”nya.

Lepas dari catatan itu, PS yang sekarang ternyata masih PS yang aku dengar dulu, sekalipun tidak terlalu “pure” terlebih dengan digantikannya posisi vokalis mereka dengan vokalis berjiwa manajer itu. dan kayaknya Satrio lebih cocok untuk jadi manajer. Dengan cara itu toh dia masih bisa menyanyi sesekali di pesta-pesta kecil atau jadi additional player. Dalam karir musik, rasanya dia lebih pantas membuat band sendiri tanpa membawa-bawa nama PS.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s