Beberapa catatan dari Kuliah Umum Gayatri Spivak

comments 2
Buku



Terlambat Datang

Acara dimulai tepat jam 10:00 di Beringin Soekarno, USD. Aku datang terlambat 20 menit, seperti zaman kuliah dulu. Begitu tiba di tempat acara dan hendak mendaftar, ternyata Dodi dan kawan-kawannya dari Bandung juga baru mendaftar. Setelah menuliskan namaku pada kolom peserta, aku tebarkan pandangan ke tempat yang teduh itu. Ternyata ada Astrid, Faiz, dan Ope, sedang duduk di pinggir sambil merokok. Ah, seperti nonton konser musik saja.

Dan ada Keta! Anak punk nan sopan dari Bali itu ternyata masih berkeliaran di Yogya sini. Aku biarkan dia kebingungan sebentar dengan beberapa lembar kertas di tangannya untuk mengisi kolom registrasi.

Yang dimaksud dengan Beringin Soekarno ternyata adalah sebuah taman rindang yang berpusat pada sebuah pohon beringin besar. Pohon beringin itu memayungi sebuah panggung permanent kecil. Di situlah duduk tiga orang pembicara dalam kuliah umum yang bertajuk “Kemungkinan-kemungkinan bagi Gerakan Kebudayaan Saat Ini”: Gayatri Spivak, Kuan-Hsing Chen, dan Hilmar Farid, serta seorang moderator yang aku tidak tahu namanya. Sedang angkat bicara saat itu adalah Gayatri Spivak.

Karena bingung disapa beberapa kawan; Faiz, Astrid, dan Ope, yang duduk di pinggiran taman dan kehabisan kursi, aku tidak bisa langsung mengikuti pembicaraan Spivak. Lalu aku bergerak ke rumpun kursi yang ditata membentuk setengah lingkaran menghadap panggung. Penuh.

Entah siapa yang memulai, aku kembali terlibat pembicaraan dengan Keta. Ternyata dia tinggal di Pampringan. Dia juga menanyakan surat pengunduran diri AKY yang sekarang banyak berseliweran di beberapa milis. Gerimis mulai turun. Aku tidak sanggup menjelaskan banyak hal mengenai mundur massal para anggota AKY.

Sebelum aku tiba di lokasi, mendung sudah terlihat semakin berat dan akhirnya muntah beberapa saat setelah aku pembicaraan dengan Keta. Bukan lagi gerimis, tapi hujan deras. Acara terpaksa berpindah lokasi ke Lembaga Studi Realino. Sejauh itu hanya beberapa patah kata dari Spivak yang aku ingat: “…outraged…middle class” atau “outraged middle class”.

***

Tiba di Lembaga Studi Realino, Spivak kembali menghajar para hadirin dengan rangkaian kalimat-kalimat yang jernih dan tertata rapi. Bagi beberapa orang yang hadir di ruangan itu, yang cukup puas dengan pengetahuan mereka yang setengah-setengah dan merasa sudah layak angkat bicara, apa yang dikatakan Spivak terasa membingungkan. Termasuk di antara orang-orang semacam itu adalah aku pribadi.

Tapi yang jelas aku bukan termasuk orang yang memaksakan diri harus mengajukan pertanyaan kepada Spivak, seperti beberapa mahasiswa yang merasa dirinya harus melatih bahasa Inggrisnya.

Dan terjadilah bencana itu. Setelah usai Kuan-Hsing Chen dan Hilmar Farid selesai bicara, beberapa orang mengajukan pertanyaan yang membuat Spivak membahasnya sambil tersenyum-senyum. Mungkin kasihan.

Sekalipun demikian, sebenarnya ada beberapa topik pembicaraan mereka yang kemudian membuatku ingin mengajukan pertanyaan.

1. Komunalisme
Di Indonesia dewasa ini kita menyaksikan sebuah arus yang mengusung moral dan kerap memaksakan pendapatnya. Sekarang ini sedang ribut diperbincangkan gara-gara ulah mereka adalah RUU APP (Anti Pornografi dan Pornoaksi). Sementara pendapat menamai gerakan ini sebagai gerakan fundamentalisme. Sebuah gerakan yang akan membuat wajah agama manapun menjadi menjijikkan.

Spivak menunjuk gerakan tersebut sebagai Komunalisme karena tidak selalu menggunakan dasar keagamaan. Spivak mencontohkan beberapa gerakan di India yang –sayangnya aku lupa namanya– membuat wajah sedih India menjadi semakin menyedihkan.

Tapi di Indonesia, rasanya yang namanya komunalisme itu selalu menggunakan dasar keagamaan, mulai dari PKS, FPI, Hisbut Tahrir, Laskar Jihad, MMI, artis-artis ibukota yang “taubat”, majalah Sabili, dan macam-macam gerakan yang suka bikin onar dan menggerogoti nalar manusia Indonesia.

Beberapa di antara mereka memang tepat untuk digolongkan sebagai gerakan komunal. Namun beberapa, yang didirikan oleh militer dan jadi semacam pasukan paramiliter, rasanya lebih tepat digolongkan sebagai pasukan terror semacam Pemuda Hitler.

2. Power Block dan Bahasa Inggris
Kembali ke pokok kuliah umum, Spivak mengusulkan tiga hal, tapi hanya dua yang aku ingat, yakni: pembentukan power block dan pengunaan bahasa Inggris. Lebih tepat sebenarnya adalah pemanfaatan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar urusan negara (state business). Namun Spivak mengingatkan bahwa Bahasa Inggris tidak akan pernah mungkin menjadi dasar bagi pembangunan sebuah gerakan kebudayaan.

Penjelasan itu searah dengan penjelasan Budi Darma mengapa sebaiknya penulis Indonesia tetap menulis dalam Bahasa Indonesia saja. tidak usah ikut-ikutan penulis-penulis Asia yang menulis dalam bahasa Inggris, yang notabene bukan bahasa ibu mereka. Menulis tidak dalam bahasa ibu mungkin akan membuat penulis tersebut kehilangan akarnya. Mungkin.

Bisa jadi Spivak mengutarakan hal tersebut karena bahasa Inggris dimaksud sebagai alat untuk menembus lingkar kekuatan modal –yang kini semakin menggerus Negara-negara welfare state dan Negara-negara Selatan– di Asia terutama. Dimana lingua franca kekuatan modal tersebut adalah bahasa Inggris. Dan untuk berkomunikasi secara imbang dengan mereka adalah dengan menggunakan bahasa Inggris.

Imbang, egaliter, setara; adakah ketiga kata benda itu dalam kenyataan kita? Pembicaraan dengan Dauz, Dodi, dan Rahmat malam hari di Tandabaca membuatku sadar bahwa ternyata egaliter itu adalah kondisi yang susah dicapai. Di antara kedua pihak yang sedang berkomunikasi, aku dan kamu misalnya, pasti selalu ada salah satu pihak yang memiliki keunggulan artikulasi bahasa dan pengolahan gagasan yang kemudian hasilnya akan dia tumpahkan kepada pihak yang lain.

3. Surga kecil NGO
Beberapa saat kemudian, Hilmar Farid menyatakan bahwa di Indonesia sekarang ini Negara cenderung dihindari dan banyak NGO membentuk “surga-surga kecil” mereka sendiri mengelilingi Negara.

4. Komuter kebudayaan
Yang menarik dalam perbincangan saat itu adalah yang dikemukakan oleh Hilmar Farid. Bahwa dia pernah bertemu seorang perempuan yang berbahasa Inggris cukup lancar dan kerap melakukan kunjungan ke luar negeri. Semacam kereta commuter, ulang alik antara dua kota. Perempuan ini kerap membawa pulang ke Indonesia setumpuk gagasan cemerlang dari dunia luar dan membagikan inspirasi bagi banyak orang. Menurut Farid, perempuan itu menjalankan fungsi yang semestinya dijalankan oleh NGO, dan lebih efektif!

Setuju 100% atas pendapat cerdas Hilmar Farid tersebut! Amerika tidak akan melahirkan penulis-penulis seperti Ernest Hemingway, Gertrude Stein, atau Ezra Pound jika mereka tidak meninggalkan negara mereka dan mencari dunia ide yang segar di negara lain.

Pertanyaan Tidak Jadi dan Pernyataan untuk aku sendiri
Inilah yang menjadi pertanyaanku saat itu, yang sampai akhir acara tidak terungkapkan: jika bahasa Inggris menjadi bahasa kedua sebuah negara dan diandaikan negara memimpin sebuah gerakan kebudayaan, mampukah sebuah bangsa memiliki kekuatan budaya untuk menghadapi kekuatan modal?

Dalam tulisan Puthut dan Antariksa, aku membaca bahwa negara sebaiknya memegang kendali atas gerakan kebudayaan. Bisa dilihat di situsnya kunci cultural studies.

Dengan mengusir orang-orang Belanda dari Indonesia, Soekarno dengan sendirinya juga mengusir para administrator rumah sakit, guru-guru, dan beberapa orang biasa yang memiliki perhatian besar kepada masyarakat sekitarnya. Dan yang lebih penting; Indonesia kehilangan bahasa pengantar ke pergaulan dunia. Jadilah sekarang Indonesia dipenuhi orang-orang yang berusaha sebisanya untuk bisa menguasai beberapa patah kata bahasa Inggris.

Dan yang menyedihkan menurutku, kita terputus dari masa lalu kita sendiri. Penjajahan 350 tahun memang pengalaman yang menyakitkan, tapi rasanya lebih menyakitkan jika kemudian kita menghapus paksa semua kenangan interaksi dengan mantan penjajah kita. Karena itu aku tidak terlalu sedih jika melihat bangunan-bangunan kolonial peninggalan Belanda dihancurkan dan digantikan dengan gedung-gedung kaku. Hal itu sudah seharusnya disadari sebagai konsekuensi kita karena memutus sejarah.

Hindia Belanda dan Indonesia kini adalah sosok persahabatan aneh antara dua orang yang sama-sama bodoh; antara negara penjajah yang kolot dan terbelakang di Eropa yang sangat terlambat menyadari pentingnya peran wilayah kolonial sebagai pasar mereka dan negara jajahan yang keras kepala dan mengganggap dirinya bisa bangkit dengan cepat sebagai negara yang bermartabat setelah 350 tahun jadi kuli bangsa-bangsa lain.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s