Di sekitar 3 hari untuk selamanya

Leave a comment
Film


Nice point of view, Vero. Generasi muda sekarang memang punya banyak beban (beban sejarah misalnya, ciee…) tapi dalam perjalanannya tidak harus selalu mengumbar bebannya itu. Sekarang ini banyak anak muda yang kepengen tampil berisi nyatanya malah kosong at, padahal sudah telanjur menguras semua pengetahuannya. Dan begitu sadar bahwa semua pengetahuannya sudah telanjur dikeluarkan dan tidak ada yang “kena” mereka jadi bingung sendiri. Aku tidak ingin menyebutkan contohnya. Kita punya contoh masing-masing. Bahkan mungkin diriku sendiri sangat pantas digunakan sebagai contoh.

 

Bagaimana dengan para polisi moral itu? Mereka itu justru yang terlihat sangat penuh dan utuh. Gimana lagi, mereka bukan kumpulan orang, tapi cuma sekumpulan daging yang dinyalakan oleh kebencian dan kedengkian. Melihat mas-mas berjenggot dan celana kebanjiran itu, aku merasa seperti melihat pasukan Nazi yang tanpa ragu membunuh nenek-nenek di Prancis, seperti melihat anjing pitbull menyerang maling sampai tangan si maling sandal itu diamputasi.

 

Aku nulis ini di sini soalnya males bikin akun di multiply dan karena beberapa resensi “kosong” soal film ini yang aku baca di beberapa milis. Aku belum nonton film ini, dan kalau memang film ini jelek aku nggak akan ndhobos soal anak muda atau kesadaran atau apa gitu. Oh ya, semoga postingku beberapa hari sebelumnya tidak terlihat kosong. Coba, kawan-kawan, bacalah dan nilailah: kosong, ga jelas, atau malah bagus banget? Hehe.

Jalan-jalan ke Malang, Setahun yang Lalu

comments 2
Catatan pertunjukan

 

Setahun yang lalu, kalau tidak salah, aku terakhir melintasi jalan tol Waru-Gempol. Pemandangannya sama persis seperti yang kamu ceritakan: hamparan sawah nan hijau, desa-desa dan pabrik yang saling berjabat tangan, dan Gunung Semeru yang anteng duduk memangku semua dunia mimpi orang Jawa.

Aku sungguh sangat takjub melihat Semeru. Gunung Merapi yang biasa aku lihat dulu setiap berangkat kerja rasanya tidak ada apa-apanya. Bedanya, Merapi terlihat cantik sekali karena dari Jalan Monjali (sekarang namanya jadi Jalan Nyi Tjondrokilo), kalau cuacanya cerah, kamu bisa melihat bibir kawah Gunung Merapi. Melihat hal itu mungkin kamu akan merasa bahwa alam memiliki hak istimewa untuk membunuh manusia. Perasaan yang sama kalau kamu melihat laut yang luas dan tenang.

”Di balik sawah dan desa itu ada banyak candi,” katamu.

“Oh ya? Candi apa aja?” Tanyaku.

 

Bukannya menjawab, kamu malah membuka kaca dan memintaku mematikan AC mobil. Lalu memintaku mencarikan korek dan membuatku repot karena harus mencari korek di panel pintu sedangkan saat itu aku harus mengemudikan mobil. Setelah mendapatkan korek, kamu membuka sebungkus rokok, mengambil sebatang dan menyalakannya, kemudian memegang leherku, dan menciumku. Dulu kita kayaknya sering banget ya jalan-jalan, ke Malang, Porong, Pasuruan. Sampai sekarang aku masih belum sempat beli es campur (atau es teler?) dan bakso yang enak banget di Pasuruan.

Sekarang ini mungkin akan bilang bahwa peristiwa itu tidak layak dikenang. Kamu mungkin akan marah membaca tulisan ini. Tapi yah, emang siapa kamu, bisa ngelarang aku nulis.

Gara-gara Lumpur Lapindo, sekarang rute dari Surabaya ke Malang tambah jauh. Mungkin kamu sudah tahu kalau sekarang tidak bisa lewat jalan tol, tapi lewat ”bawah”, lewat Porong atau bahkan malah lewat Mojokerto-Mojosari. Jalan dari Gempol ke Lawang masih mulus seperti dulu. Empat lajur. Luas seperti di luar negeri.

Setahun yang lalu aku melalui jalan raya yang luas itu dengan perasaan yang sesak. Waktu itu jalan tol masih buka, sekalipun hanya satu lajur saja yang dibuka. Lumpur sudah terlihat mengganas. Dulu aku kira bukit-bukit gundul yang biasa aku lihat di Lawang adalah pemandangan yang paling membuat miris. Ternyata ada pemandangan lain yang membuatku merasa hancur lebur, yaitu pemandangan lumpur yang menelan sawah dan desa yang aku lihat di jalan tol.

Bagaimana ya rasanya kehilangan rumah, sekolah, atau sawah, dalam waktu yang singkat. Mungkin perasaan para korban Lumpur Lapindo sangatlah kacau. Mereka bukan korban bencana alam, seperti korban Gempa Yogya & Jateng dan Aceh. Mereka adalah korban kebodohan industri, yang mengira dengan membuat program CSR yang seadanya sudah bisa membuat industri menjadi berguna bagi masyarakat sekitar.

Dari Anis, temanku yang melakukan pendampingan korban Lumpur Lapindo, banyak ibu-ibu dan remaja putri yang sekarang terancam masuk ke dunia prostitusi. Ibu-ibu dan remaja putri yang kehilangan tempat bekerja dan sekolah mereka kini menganggur, dan mungkin sudah ada beberapa yang mengiyakan ajakan para germo dari Dolly atau Tretes.

Beberapa waktu lalu aku sempat mimpi buruk. Ada sosok mengerikan yang (semoga bukan) agak nampak seperti kakekku. Mungkin aku kurang berdoa untuk dia dan karena tidak pernah menyambangi makamnya selama dua tahun terakhir ini. Aku harus ke Malang. Kamu mau ikut?

Taman Bungkul

comments 7
Tentang kota

Gelembung-gelembung itu terbang meninggi dan meliuk ditiup angin. Beberapa gelembung melintasi segerombolan orang. Sebuah gelembung sanggup bertahan cukup lama, hingga menabrak lampu taman, tidak jauh dari seorang anak kecil yang berusaha melontarkan mainan “putar-putaran”nya. Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya anak kecil itu berhasil melontarkan mainan yang terbuat dari bambu dan kertas mika itu. Wussh…Mainan itu terlontar ke atas dan turun ke bumi sambil berputar-putar, sesuai namanya.

Hampir setiap sore kita sekarang bisa menikmati pemandangan menyenangkan tersebut di Taman Bungkul, Surabaya. Sejak dibuka untuk umum pada 21 Maret 2007 lalu, Taman Bungkul selalu ramai didatangi warga Surabaya. Sejak direnovasi, Taman Bungkul memang terlihat lebih hidup. Di taman itu, warga Surabaya bisa melakukan banyak hal, tidak sekedar jalan-jalan. Bagi yang sekedar jalan-jalan menghabiskan sore hari, jalan di Taman Bungkul sudah sangat memadai. Bagi yang gemar “Extreme Sports”, di Taman Bungkul tersedia arena permainan Skateboard dan BMX. Bagi yang sudah berkeluarga, anak-anak dijamin akan senang sekali bermain di Taman Bungkul.

Keramaian semacam itu berbeda dengan keramaian sebelum Taman Bungkul direnovasi. Taman Bungkul terkenal sebagai tempat rapat umum partai politik (terutama pada saat pemilihan umum), tempat demonstrasi, dan tempat peziarahan.

Tempat peziarahan? Ya. Banyak peziarah, baik dari Kota Surabaya maupun daerah lain seperti Kediri, Banyuwangi, Gresik, dan Lamongan, yang berkunjung secara berombongan (Kompas, 24/4/1999). Karena di Taman Bungkul terletak makam Mbah Bungkul yang merupakan Boleh jadi Mbah Bungkul dapat dikategorikan sebagai wali lokal, suatu konsep sejarawan UGM Sartono Kartodirdjo untuk menyebut tokoh Islamisasi tingkat lokal. Keberadaan dia sejajar dengan Syeh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Panggung (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), dan wali lokal yang lain (Kompas Jawa Timur, 6/8/2007).

Renovasi Taman Bungkul paling tidak bisa sedikit memenuhi kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Terlebih setelah sekian lama dihimpit pembangunan mal-mal baru. Pembangunan mal-mal itu memang menyediakan ruang, tapi sama sekali bukan ruang ekspresi atau pemenuhan kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Di selasar-selasar dan hall mal, warga Surabaya dipaksa untuk berjalan, membeli, atau pulang dalam perasaan sumpek karena tidak mampu membeli berbagai macam barang yang dipajang di mal.

Sekarang yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah konsistensi dalam perawatan. Selain itu pembangunan atau peremajaan taman di wilayah lain kota Surabaya. Taman Bungkul tentunya tidak akan mampu menampung kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Akan lebih baik jika ada pembangunan atau peremajaan serupa di wilayah Surabaya Utara, Selatan, Barat, dan Timur.

Sebentar. Bukankah di Surabaya Barat sudah ada banyak sekali taman? Lihatlah di perumahan-perumahan mewah yang menjamur di wilayah Surabaya Barat.

Ternyata bukan taman mewah dengan penataan yang indah dan dibangun dengan dana besar yang ingin dinikmati warga Surabaya, tapi cukup ruang terbuka yang aman dan sehat serta dihiasi dengan pohon-pohon rindang. Mungkin itulah pelajaran yang kita dapat dari renovasi Taman Bungkul.

 

Dialog Panjang 1998-2001

Leave a comment
Tentang kawan

Bila kau malu-malu mengakui dan mengenang “zaman perjuangan”, maka sejarah generasimu akan ditelan bulat-bulat oleh kemegahan Angkatan ’66. Bukan untuk meniadakan, tapi mengkritisi bahwa generasi kita jauh lebih “berdarah-darah” karena…tentara di depan kita dan bukan di belakang kita.

Raudal Tanjung Banua

Sekalipun berbeda, melihat sampah plastik dibakar dan melihat atribut polisi atau tentara yang dibakar membangkitkan perasaan yang sama; perasaan bahwa hubungan kita dengan sekeliling ternyata sangat rentan karena jembatan penghubung antara diri kita dengan kenyataan hanyalah benda-benda yang mudah musnah.
Ketika semua surat-surat dan potret-potretmu habis aku bakar, aku langsung tidak tahu pasti siapa dirimu. Kamu mendadak menjadi orang asing-manusia lain yang mengusung kepentingan dan keinginanmu sendiri untuk kemudian kamu gunakan untuk menduduki diriku. Baru saat itu aku paham kenapa sampai ada penulis yang mengatakan bahwa “orang lain adalah neraka.” Tanpa benda-benda itu, kamu hanyalah ancaman bagiku. Tanpa benda-benda, cinta dan kasih sayang hanyalah nama lain bagi kepicikan dan keculasan. Memang. Dengan tiba-tiba semua hal di dunia ini bisa terbalik dan terlihat mengerikan. Mana yang asli aku kurang tahu.
Ketika atribut polisi dan tentara –mulai dari helm, topi pet, atau tameng mereka– habis dibakar, kita langsung asing dengan tanah air yang subur makmur dan negara yang didirikan dengan susah payah ini. Negara ini mendadak menjadi kumpulan bajingan yang dengan serakah menguasai semuanya dan membunuhi sesama seenaknya sendiri. Ya aku tahu. Itu memang fakta. Tapi harap diingat bahwa aku sedang membicarakan kesan. Di mana posisi kesan dalam bangunan kenyataan aku tidak tahu jelas. Tapi itulah kesan, dia ada dan akan selalu kita bicarakan.
Kita langsung mendapat kesan bahwa patriotisme adalah nama lain bagi pengingkaran atas sikap berbela rasa, ideologi adalah nama lain bagi polisi khusus yang ditanam di kepala kita, bahwa kehormatan adalah pengganti bagi ketidakmampuan negara kita mengurus semua kekayaan dan rakyatnya. Yang lebih penting, kami (mungkin) menyadari bahwa semua yang dibangun manusia bisa dihancurkan. Mudah atau susah hanya perkara kemauan dan ketelatenan.
Tapi juga di antara kawan-kawan yang ikut membakar atribut aparat negara tersebut, ada kesan yang terbang melayang di antara kami bahwa kami sebenarnya sudah cacat. Kami tidak lagi memiliki imajinasi, hanya sikap percaya tahyul yang tersisa dari serbuan komik, majalah, dan televisi. Hanya karena kami berani melawan polisi dan tentara, bukan berari kami pemberani, kami hanya tukang main keroyok. Salah satu kena pukul kepalanya, sepuluh orang dalam satu barisan akan lari tunggang langgang atau paling tidak menjadi tertahan gerak majunya atau melupakan tugasnya sebagai “barisan pelopor”. Kami melupakan para pendahulu kami yang dengan berani dan tulus melempangkan jalan bagi kami, jauh di tahun 1994-1997 dan 1980-an. Kebanyakan di antara kami yang pada tahun 1998-1999 dengan “gagah berani” melawan polisi di jalanan pada umumnya adalah (seperti umumnya anak muda) para remaja yang sedang bingung dengan dirinya sendiri. Dan dengan kebetulan para polisi itu menyediakan diri mereka sebagai sansak berjalan bagi kami. Termasuk di antara anak muda yang bingung itu adalah aku sendiri.

Leave a comment
Tentang kawan

Namanya Andi

Namanya Andi. Tapi entah kenapa teman-temanku SMP dulu memanggilnya Sacing. Bukan ejaan “cing” seperti cara anak-anak Jakarta menggunakan “cing” di akhir kalimat (ya, sempat ngetren kan dulu?). Ejalah Sacing itu seperti kamu mengucapkan “Kucing”. Dan mungkin kata Kucing itu yang kemudian membentuk Sacing.

Setahuku dia dulu bukan penggemar kucing. Wajahnya juga tidak mirip kucing. Tapi memang ada sesuatu yang ”kucing” di dalam dirinya; orangnya kalem dan lembut tapi terkadang bisa membuat orang-orang di sekitarnya menjadi terhenyak, baik karena ucapan dan tindakannya. Dia tidak pernah menunjukkan kelebihan-kelebihan dirinya.
Dia tidak pernah meminta teman-teman untuk memanggilnya kucing, tidak juga dengan sengaja menunjukkan ”kekucingan” di dalam dirinya. Kayak siapa? Ya kayak kamu itu, yang sok-sokan pengen dikenal sebagai penggemar kucing. Huh. Nyebahi, katanya orang Jogja. Mbencekno, katanya meme-meme Petra.

Yah begitulah. Ada dua Andi dulu. Andi Sacing dan Andi Widoto. Andi Sacing ini orangnya lebih kalem dan tidak populer dibandingkan Andi Widoto. Kalau Andi Widoto cocok banget jadi pemimpin, Andi Sacing ini lebih cocok jadi pengayom yang tidak pernah terlihat menonjol di tengah-tengah kerumunan. Andi Widoto kulitnya gelap, Andi Sacing lebih terang.

Beberapa hari lalu aku mendadak teringat bahwa selain dipanggil Sacing, Andi juga akrab dipanggil ”bayi”. Wajahnya memang kebayi-bayian dan membuat yang melihat menjadi tenang. Bayi…hehe lucu ya. Lebih lucu lagi kalau teman-teman sedang main bola (biasanya di lapangan Mundu, depan Stadion Tambaksari), si Andi sedang menggiring bola dan diteriakin oleh si Didit untuk mengumpankan bola kepadanya…Bayi!! Bayi!!!

Setelah lulus SMP aku sama sekali tidak pernah lagi bertemu atau mendengar berita dari si Andi Sacing ini. Tapi aku sama sekali tidak lupa padanya. Raut wajahnya masih selalu aku ingat, sepatunya, cara jalannya, caranya berbicara. Aku selalu berpikir bahwa kalau aku bertemu dengan dia aku tidak akan lupa. Paling cuma agak pangling sebentar lalu kemudian dengan yakin aku akan menyapanya. Kenapa ya? Padahal aku juga tidak terlalu dekat dengannya. Mungkin karena namanya.

Bagiku, sekalipun pasaran, beberapa nama menimbulkan perasaan tertentu. Salah satunya ya Andi ini. Ada beberapa nama ”pasaran” yang membuatku selalu merasa aneh, kebanyakan nama-nama Jawa; Bayu, Ranu, Andi, atau Seno. Orang dengan nama-nama seperti yang aku sebut tadi selalu menancap kuat di ingatanku. Aku selalu ingin punya nama seperti mereka, menggantikan namaku yang, sekalipun terdengar lucu dan menimbulkan ambiguitas seksual, ahistoris dan terkesan tidak memiliki akar.

Aku lebih bisa mengingat dengan baik orang-orang dengan nama semacam itu. Ingatanku seolah bekerja lebih baik. Selain nama-nama Jawa, aku juga bisa mengingat dengan baik orang dengan nama non Indonesia seperti Tito, Dodi, Olsy, atau Ramses. Tapi nuansa yang diberikan rasanya tetap berbeda. Namamu misalnya, kurang aneh seperti apa coba. Jangan heran kalau aku tidak pernah lupa sama kamu.

Lha kok pas tadi aku Gresik dan lagi sumpek sama suasana di kantor pabrik semen itu, aku kok tidak langsung ke warung makan di depan tapi milih ke warung yang pas di depan gerbang kantor. Aku pengen makan mie instan saja, bosan sama nasi. Si pemilik warung sedang sibuk melayani seseorang yang duduk di pojok. Dia mengenakan kemeja warna oranye. Sikap badannya santai. Cuaca Gresik mendung, padahal dua hari sebelumnya aku ke Gresik matahari selalu bersinar terik sekali.

Baru pada tatapan pertama aku langsung mengenali siapa orang itu: Sacing! Aku ragu menyapanya tapi aku tidak berhenti memandanginya. Ternyata benar itu Sacing. Senyumannya masih sama. Akhirnya malah dia duluan yang menyapa aku: “kaya tau ngerti arek iki aku, sapa ya?”

Dia lupa namaku, bingung antara Oki atau siapa gitu tadi nyebutnya. Sacing ternyata sekarang bekerja dan tinggal di Gresik, belum menikah, semakin sehat kelihatannya dia, masih suka main bola, dan masih tetap seperti Sacing yang dulu aku kenal.

Senang sekali rasanya bisa dengan yakin menyebutkan nama seseorang yang sudah lama tidak kita temui. Aku akan selalu ingat dia dan teman-temanku yang lain, baik yang memiliki nama Jawa, nama non Indonesia, dan bahkan yang sudah ganti nama. Aku akan selalu siap dengan perjumpaan-perjumpaan seperti yang aku alami saat berjumpa Sacing.

PS: Sindentosca, ya? Aku masih sering dengerin di sini. Tapi nggak diselingi kata-kata bodoh itu: this is demo version. Hehe

Seharusnya ini Tertulis di Kolom Comment

Leave a comment
Tentang kawan

(untuk tulisan berjudul A Mad Report)

Masa seperti kantormu? Aneh sekali, seperti masuk ke ruangannya Bu Ailanda saja.

Sesekali bertandanglah ke Gejayan Soropadan. Lebih banyak orang aneh atau paling tidak orang yang menganggapmu aneh padahal mereka sendiri aneh tidak karuan. Tapi paling tidak mereka tidak mengeluarkan suara seperti Gorila sedang birahi. Kecuali mungkin si Fembry atau Ramses yang suka tidur sembarangan (asal ada bidang datar) dan mengeluarkan suara dengkuran aneh. Akhir-akhir ini di Gejayan sering ada diskusi. Kata Hasta, mindring tandabaca berikutnya, diskusi tentang teknik pembuatan film. Dan sudah ada dua kali diskusi.

Paling enak main ke Gejayan Soropadan pas hari sabtu atau malam minggu. Pasti ada saja obrolan asyik atau film asyik.

Oh ya, jaga baik-baik korekmu kalau ke sana. Ditinggal lima menit saja, apalagi kalau lagi ramai, pasti sudah hilang entah kemana.

Berjalan Kaki di Indonesia

Leave a comment
Tentang kota

Di kota-kota besar Indonesia, mungkin kita jarang sekali menemukan trotoar-trotoar yang dipenuhi oleh para pejalan kaki yang berjalan tergegas. Mungkin hanya di Jakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia, itu pun pada jam-jam tertentu, pada jam makan siang misalnya. Setelah itu, trotoar biasanya lebih banyak kita saksikan digunakan oleh para pedagang kaki lima dan orang-orang yang menunggu angkutan umum.

Tulisan ini tidak berniat mencari penyebab mengapa trotoar diIndonesia tidak berfungsi, apalagi menyalahkan para pedagang kakilima. Tulisan ini hanyalah kumpulan transkripsi dari beberapa wawancara lepas dengan beberapa narasumber yang dilakukan antara bulan Februari-April 2007 di beberapa kota di Indonesia. Itu pun sebenarnya tidak diniatkan sebagai wawancara, melainkan hanya serangkaian obrolan yang kemudian berujung pada pembicaraan mengenai jalan kaki.

Kuzzy: Banyak Hotspot di Malioboro

Kuswidiantoro (27 tahun), warga Sendowo,
Yogyakarta, menuturkan bahwa pengalaman berjalan kakinya yang paling menarik adalah ketika berjalan kaki menyusuri Jalan Malioboro bersama dengan seorang temannya. Saat itu dia menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dan menggunakan trotoar sebelah barat. “Sebenarnya niatnya mau lewat yang sisi timur, tapi terlalu sesak, banyak pedagang kaki
lima.” Mereka memulai perjalanan dari Stasiun Tugu, mampir di Jalan Pajeksan, dan berakhir di Alun-alun Kidul. Ketika ditanya apakah berjalan kaki itu sambil mabuk, dengan cepat Kuswidiantoro menangkis, “lho warung lapennya khan belum buka kalau sore, lagian di sepanjang Jalan Malioboro hingga Alun-alun Selatan banyak hotspot.” Yang dimaksud dengan hotspot ternyata bukan tempat akses internet nirkabel, tapi adalah tempat menarik yang bisa dijadikan tempat rehat sejenak sambil memandangi keramaian jalan dan manusia yang melintasi trotoar. Pengalaman berjalan kakinya yang paling tidak menarik adalah saat melintasi perempatan Depok di Jalan Kaliurang. Menurut Kuswidiantoro, yang akrab dipanggil Kuzzy di kalangan teman-temannya ini, berjalan kaki di Yogyakarta sekarang semakin tidak menarik karena kondisi trotoar sangat tidak memadai dan sering kali dipadati oleh pedagang kaki lima. Bahkan di Jalan Malioboro, yang sebenarnya lebih tepat dinikmati sambil berjalan kaki. Lebih lanjut, Kuzz menjelaskan bahwa pengalaman berjalan kakinya lebih banyak diisi pengalaman yang tidak mengenakkan. Hal itu disebabkan karena “desakan ekonomi dan kesadaran masyarakat Indonesia yang masih rendah”. Kedua hal itu, menurut Kuzzy, membuat trotoar di Yogyakarta tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Olop: Kenangan Berjalan Kaki di Pematang Siantar

Berbeda dengan pengalaman Olop (25 tahun), mahasiswa Fakultas Elektro UGM asal kota Pematang Siantar, Sumatra Utara. Di Pematang Siantar, menurut Olop, jalan kaki masih merupakan aktivitas yang menyenangkan. Saat Olop masih duduk di bangku SMP dan SMA di Pematang Siantar dulu, dia biasa menghabiskan waktu sepulang sekolah berjalan kaki beramai-ramai bersama teman-temannya menelusuri pusat kota Pematang Siantar. Menurut Olop, jalan kaki di Pematang Siantar menyenangkan karena trotoar tidak dipenuhi dengan pedagang kaki lima seperti di Yogyakarta. Selain itu, kondisi trotoar juga cukup memadai dan luas (sekitar 3 meter). Kegiatan jalan kaki itu biasa dimulai di Jalan Diponegoro dan berujung di Pasar Horas dan memakan waktu kurang lebih 10 hingga 15 menit. Istilah yang dulu akrab digunakan untuk menyebut berjalan kaki adalah GL (Goyang Lutut). Karena itulah, walaupun sekarang Olop sudah meninggalkan kota kelahirannya tersebut, dia masih suka berjalan kaki. Menurut Olop, berjalan kaki membuat dia “lebih menghargai keadaan di sekitar” dan “menyehatkan raga dan pikiran”

Inyo: Jalan Tunjungan Sudah Mati

Pendapat Olop yang terakhir tersebut bisa kita pahami jika kita simak keterangan dan pengalaman Inyo Rohi (30 tahun), warga kampung Kedung Tarukan, Surabaya, berikut ini:

Berjalan kaki memang melelahkan, apalagi kalau tujuannya jauh. Tapi dengan melihat dan mengalami banyak hal; mulai dari melihat peristiwa aneh hingga perjumpaan yang tidak terduga, jiwa kita akan lebih kaya. Kita sekarang ini kan terbiasa dengan yang serba cepat. Yang penting tujuannya, bukan prosesnya…

Inyo tidak mengada-ada. Dia terbiasa berjalan kaki dari tempat tinggalnya ke kantornya di kawasan Gubeng. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu 30 menit itu memang tidak selalu dilakukannya setiap hari. Sejak dia masih kuliah di Universitas Airlangga hingga sekarang dia sudah bekerja. Biasanya dilakukan saat Inyo tidak sedang terburu-buru berangkat kerja dan setelah nongkrong di sebuah warung langganannya sepulang kerja. Beberapa ruas jalan yang dilalui Inyo, pemuda kelahiran Dili, Timor Leste ini, memang memiliki trotoar yang memadai dan bersih dari pedagang kaki lima. Tapi menurut Inyo trotoar-trotoar itu selalu kosong melompong dan “terkucilkan” dari penggunanya karena dikepung laju mobil, seperti di sepanjang Jalan Tunjungan dan Jalan Pemuda hingga Balai Kota Surabaya. Jarang sekali dia berpapasan dengan orang lain yang menggunakan trotoar tersebut. Justru di jalan yang memiliki trotoar yang tidak memadai, Inyo banyak berpapasan dengan sesama pejalan kaki. Sebenarnya alasan Inyo berjalan kaki adalah karena dia tidak memiliki kendaraan bermotor sendiri. Di masa kuliah dulu, jika kondisi badan sedang tidak baik atau sedang diburu waktu, Inyo biasanya menumpang temannya atau meminjam motor temannya. Ketika ditanya soal relevansi lagu “Mlaku-mlaku Nang Tunjungan”, dengan cepat Inyo menyatakan bahwa Jalan Tunjungan sudah mati.

Panjul: Mensyukuri Anugrah Tuhan

Pengalaman Inyo tersebut agak memiliki kemiripan dengan pengalaman Panjul (25 tahun), warga Kulon Progo yang bekerja di sebuah penerbitan terkemuka di Yogyakarta. Bagi Panjul, tidak memiliki kendaraan bukan alasan baginya untuk tidak bisa pergi berjalan-jalan. “Tuhan memberi kita kaki kok tidak dimanfaatkan,” begitu alasan Panjul. Titik awal perjalanan Panjul biasanya dari Kampus UGM Bulaksumur. Dari sana biasanya Panjul berjalan ke arah selatan dan “mampir” ke LIP (Lembaga Indonesia Prancis, Jl.Sagan). Setelah puas berlama-lama di LIP, Panjul kembali berjalan ke angkringan favoritnya, di depan Bentara Budaya (Jl. Suroto). Setelah itu dia kembali berjalan kaki ke daerah Kotabaru, ke arah kantor pos besar tepatnya, dan biasanya berakhir di angkringan Lik Man. Panjul menolak istilah hotspot. Berdasarkan pengalamannya, istilah yang tepat adalah hotposts (tempat-tempat perhentian yang menarik). Karena perjalanan Panjul selalu tidak direncanakan. Dia hanya berjalan sesuka hatinya. Rute perjalanan yang tidak direncanakan itu tentu saja selalu berubah-ubah, tidak ada rute yang pasti, seperti halnya dalam pengalaman Olop dan Inyo. Hanya ada satu hal yang pasti dalam perjalanan Panjul, bahwa “perjalanan itu selalu penuh dengan ketidakpastian”. Pernah setibanya di Stasiun Tugu dari Surabaya, Panjul menghabiskan waktu di angkringan Lik Man dan kemudian berjalan kaki ke selatan menelusuri Jl. AM Sangaji dan terus ke Jl. Nyi Candrakila (d/h Jl. Monjali) sebelum akhirnya bertemu dengan temannya di sebuah Warnet.

Aktivitas Kota dan Ekspresi Dramatik Kota

Jika Kuzzy dan Olop menganggap jalan kaki sebagai kegiatan yang rekreatif, maka Inyo dan Panjul cenderung memiliki pemahaman yang lebih “mendalam” dalam berjalan kaki. Atau kalau dibuat penggolongan, maka ada dua jenis pejalan kaki, yakni yang rekreatif (seperti Kuzzy dan Olop) dan yang prokreatif (Inyo dan Panjul). Mungkin sama seperti perbedaan antara Cinta dan Rangga di film AADC yang berjalan kaki menyusuri sebuah trotoar yang indah[i] tentu berbeda dengan seorang tokoh dalam komik karya Jan Mintaraga yang berjalan kaki sendirian di malam hari menyusuri jalanan Jakarta tahun 1970an yang becek dan gelap. Pengalaman berjalan kaki kini rasanya lebih banyak dirasakan manusia Indonesia di mal atau pusat perbelanjaan. Pemerintah kota sendiri kerap menganggap trotoar sebagai ornamen kota yang pembangunannya justru tidak mengutamakan pejalan kaki, tapi bagi yang melihat trotoar itu dari kejauhan (dari dalam mobil atau dari atas motor). Di Jakarta misalnya, trotoar yang sudah luas malah diberi ruang untuk bebungaan dan menyempitkan ruang untuk para pejalan kaki. Jane Jacobs (1961) memandang bahwa jalan adalah urat nadi sebuah kota, tempat bertemunya warga kota sekaligus tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi. Lebih jauh Jacobs menjelaskan bahwa aktivitas seremeh apa pun di jalan adalah sebuah tindakan yang sarat dengan ekspresi dramatik. Hal-hal kecil itu justru adalah hal yang sangat vital bagi perkembangan jiwa kota dan segenap warganya, yang membuat sebuah kota terasa begitu hidup. Mungkin karena itu dengan lancar Katon Bagaskara menciptakan lagu tentang Yogyakarta, Leo Kristi tentang wilayah Kiaracondong di Bandung dan tentang Surabaya. Para pengembang perumahan sekarang menyadari betul dengan yang disebut “ekspresi dramatik” oleh Jane Jacobs tersebut. Mereka rela mengeluarkan uang untuk membangun kawasan bagi pejalan kaki dan aktivitas warga. Mungkin karena terlalu sering memperhatikan kota dari jarak jauh (dari lembaran cetak biru pengembangan kota, maket-maket, dan proposal), para perencana pembangunan kota dan pemerintah kota di Indonesia sering kali abai dengan hal-hal kecil dalam pembangunan kota. Mungkin mereka harus sering berjalan kaki menyusuri jalanan kota mereka masing-masing.

Referensi: Jane Jacobs (1992). The Death and Life of Great American Cities.
New York: Vintage Books.

 



[i] Trotoar yang indah dan hidup sering sekali digunakan sebagai adegan pemanis dalam film-film
Indonesia sekarang ini.

 

Ketemu Plat M

Leave a comment
Tentang kawan


Halo Njul, piye kabarmu? Seperti biasa sore ini anak-anak mulai balapan. Suara mobil meraung-raung. Sementara ini aku belum jadi peserta tetap. Kadang ikut kadang enggak. Lebih enak internetan. Sambil ngopi2, tapi sayangnya ga bisa ngerokok di tempat ini.

Kemarin aku ketemu motor plat M. Nggak cuma ketemu, aku ngobrol sama orang plat M. Waktu itu aku pulang kerja, sambil nyantai menyusuri jalanan Surabaya. Menjelang viaduct Gubeng, mendadak ada motor mendekat. Wah rampok model apa lagi ini, pikirku saat itu. Tiba-tiba sang pengemudi bertanya, ‘Kalo mau ke Sidoarjo lewat mana, mas?’
Halah.

Aku tunjukkan bahwa kalau mereka lurus saja lalu belok kanan ke Jl.Pemuda terus di perempatan Mitra belok kanan dan terussss saja: dijamin tiba di Sidoarjo.

Instan banget pesannya. Karena mereka nanyanya pas sebelum jalan bercabang tiga: ke arah Karang Menjangan, Gubeng, dan Jl. Pemuda. Itu pun mereka nampaknya kurang paham benar.

Pas aku nanya asal mereka, dengan wajah kebingungan mereka menjawab: Madura. Kemudian kita berpisah di penghujung viaduct Gubeng. Mereka berbelok kanan dengan tajam hingga nyaris ditabrak mobil.

Aneh memang, di Surabaya jarang ketemu Plat M, di Jogja malah sering ketemu. Kok isa ya. Heh, Cong! Apa jawabanmu kali ini, ha?!

Katanya kamu mau cerita…mana…

Malam ini Aku Tidak Melihat Pesta Cahaya

Leave a comment
Tentang kota


Malam ini aku tidak melihat pesta cahaya. Tidak melihat lilin-lilin yang terbakar menerangi gereja yang gelap gulita. Ya. Masih kusimpan lilin dari Paskah yang lalu. Lilin yang nyaris aku tinggal saat aku pindah dari Yogyakarta ke Surabaya. Sekarang ada dan bisa kamu lihat di meja kecil dekat cermin di kamarku. Ah. Gereja Banteng setahun yang lalu. Saat itu kamu rasanya juga tidak bersamaku. Seperti sekarang ini. Sama seperti saat kita melayat ke pemakaman nenekmu. Di depan jenazah yang membeku kita merenungi kehidupan dari kursi kita masing-masing. Menghadap sosok manusia yang sudah beku, yang belum lama berselang dia masih menemanimu membuat kopi dan memberi makan si Coco anjing kesayanganmu. Dalam temaram cahaya lilin kita merenungi kehidupan yang diberikan kepada kita ini, merenungi tuhan yang menjadi manusia dan kemudian mati, yang menebus dosa-dosa kita, dengan ucapan lirih; tete lestai (selesailah sudah). Di acara perkabungan nenekmu, lilin menyala di ruangan yang dipenuhi manusia dan diterangi cahaya lampu neon, mendampingi-mengapit foto nenekmu dan mungkin dinyalakan oleh sisa-sisa daya hidup nenekmu. Di Gereja Banteng lilin-lilin menyala menerangi manusia-manusia, kursi-kursi, daun talas yang mengering, dekorasi gereja, jubah para diakon dan misdinar, dan anjing kampung yang selalu ikut misa dan menurutmu itu adalah anjing milik romo. Malam ini aku tidak melihat pesta cahaya.

Selamat Paskah

Leave a comment
Tentang kawan


Selamat Paskah semua; kawan-kawan dan saudara-saudara di mana saja. Aku cuma bisa memberi puisi di bawah ini. Telur paskahnya kapan-kapan saja, ya.

Kuasa-kuasa baik

Dikelilingi kuasa-kuasa yang baik, yang setia dan tenang,
dilindungi dan dihibur penuh keajaiban
demikian aku ingin hidup bersamamu
dan memasuki bersamamu tahun yang baru.

Yang lama masih ingin menyiksa hati-hati kita,
beban berat dari hari-hari yang jahat masih menekan kita.
Ya, Tuhan, kepada jiwa-jiwa kami yang gentar
berikan keselamatan yang Kaupersiapkan untuk kami.

Dan jika Engkau memberi kami cawan yang berat dan pahit itu
penuh penderitaan sampai di pinggirnya
maka kami akan mengambilnya
dengan bersyukur dan tanpa gemetar
dari tanganMu yang baik dan dikasihi.

Namun jika Engkau masih ingin menghadiahkan kami
kegembiraan akan dunia ini dan akan cahaya mata harinya,
maka kami ingin mengingat hal-hal yang sudah berlalu,
lalu hidup kami sepenuhnya akan menjadi milikMu.

Lilin-lilin yang Engkau bawa ke dalam kegelapan kami
biarkan menyala dengan hangat dan tenang.
Jika mungkin, kumpulkan kami kembali untuk bersatu.
Kami tahu, terangmu bersinar di malam yang gelap.

Jika kesunyian yang mendalam
akan menjalar di sekeliling kami,
maka biarkan kami mendengar bunyi yang sempurna itu
dari dunia yang tak nyata yang mengelingi kami,
madah pujian semua anak-anakMu.

Dilindungi kuasa-kuasa yang baik, yang setia dan tenang,
dengan penuh kepercayaan
kami menanti apapun yang terjadi
Allah bersama kita pada waktu malam dan pada pagi hari
dan tentu saja di setiap hari yang baru.

Dietrich Bonhoeffer
dalam penjara sebelum dieksekusi mati oleh resim Nazi, Desember 1944
(penerjemah: Markus Hildebrandt Rambe)