Malam ini Aku Tidak Melihat Pesta Cahaya

Leave a comment
Tentang kota


Malam ini aku tidak melihat pesta cahaya. Tidak melihat lilin-lilin yang terbakar menerangi gereja yang gelap gulita. Ya. Masih kusimpan lilin dari Paskah yang lalu. Lilin yang nyaris aku tinggal saat aku pindah dari Yogyakarta ke Surabaya. Sekarang ada dan bisa kamu lihat di meja kecil dekat cermin di kamarku. Ah. Gereja Banteng setahun yang lalu. Saat itu kamu rasanya juga tidak bersamaku. Seperti sekarang ini. Sama seperti saat kita melayat ke pemakaman nenekmu. Di depan jenazah yang membeku kita merenungi kehidupan dari kursi kita masing-masing. Menghadap sosok manusia yang sudah beku, yang belum lama berselang dia masih menemanimu membuat kopi dan memberi makan si Coco anjing kesayanganmu. Dalam temaram cahaya lilin kita merenungi kehidupan yang diberikan kepada kita ini, merenungi tuhan yang menjadi manusia dan kemudian mati, yang menebus dosa-dosa kita, dengan ucapan lirih; tete lestai (selesailah sudah). Di acara perkabungan nenekmu, lilin menyala di ruangan yang dipenuhi manusia dan diterangi cahaya lampu neon, mendampingi-mengapit foto nenekmu dan mungkin dinyalakan oleh sisa-sisa daya hidup nenekmu. Di Gereja Banteng lilin-lilin menyala menerangi manusia-manusia, kursi-kursi, daun talas yang mengering, dekorasi gereja, jubah para diakon dan misdinar, dan anjing kampung yang selalu ikut misa dan menurutmu itu adalah anjing milik romo. Malam ini aku tidak melihat pesta cahaya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s