Kota, Waktu, Puisi

Leave a comment
Kliping

GOENAWAN MOHAMAD

Perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim. Dengan demikian, sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang” dan tak hanya harus didirikan dengan ketidaksabaran.

Agaknya ada hubungan yang tersembunyi antara kesusastraan Indonesia, kota, dan sejarah. Hubungan itu tidak lazim dibicarakan, namun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa jika kita ingat akan Revolusi Agustus, ketika dari JakartaIndonesia” dimaklumkan, dan sebuah negara-bangsa berangkat dari pertengahan abad ke-20. Dalam suasana itu dorongan kreatif—dan juga ketegangan—terbit di Jakarta dalam bentuk semangat modernisme.

Pembawa suara modernisme yang paling jelas tentu saja Chairil Anwar. Saya kutip sebuah sajaknya yang menunjukkan sebuah hubungan erat antara ekspresi puitik dengan latar kota dan latar waktu:

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa

Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka

Pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:

Kenyataan-kenyataan yang didapatnya

(Bioskop Capitol putar film Amerika,

Lagu-lagu baru irama mereka berdansa).

Kami pulang tidak kena apa-apa

Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga

Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota

Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.

Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga

Sandarkan tulang-belulang pada lampu jalan saja

Sedang tahun gempita terus berkata

Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.

Dalam sajak yang ditulis di tahun 1949 ini, Jakarta hadir dalam sebuah sketsa yang cepat: bioskop Capitol, daerah Kota, arena dansa, trem, halte, tiang lampu jalan. Tapi, yang juga terasa dari karya Chairil ini adalah sebuah suasana monoton. Tiap baris berakhir dengan bunyi a yang sama. Tak ada nada riang, yakin, atau bangga, meskipun sajak ini menyebut gelanggang bersenda, jam-jam orang menonton film, mendengarkan lagu, dan berdansa.

Agaknya kesatunadaan yang muncul dari sajak itu berasal dari semacam rasa jemu: ada yang jadi rutin dalam sebuah keadaan di mana apa yang alamiah dan purba (hujan dan Ajal) telah kehilangan pesonanya di antara benda-benda teknologi (trem, lampu jalan), yang juga ditongkrongi sebuah tata yang sudah pasti (dengan halte sebagai penanda).

Paralel dengan itu, sebuah subyek, aku, juga nyaris kehilangan dirinya. Dalam sajak itu dikatakan, “aku” berkisar antara mereka, “aku” terpaksa bertukar rupa, dan aku mencoba pakai mata mereka. Ini tentu saja sebuah tema klasik yang kita kenal: individualitas yang harus bernegogisasi dengan kelompok. Pada akhirnya dalam sajak ini aku itu pun berbaur menjadi kami, atau berselang-seling dengan kami.

Menarik bahwa Chairil menyebut kami itu timpang dan pincang dan negatip dalam janji. Ada kesan bahwa ketika individu berubah jadi himpunan, manusia jadi acuh tak acuh kepada kefanaannya sendiri yang sunyi. Waktu tak menimbulkan gentar. Kefanaan itu kini hampir sepenuhnya berada dengan sebuah jarak, di luar diri: Ajal tampak jadi lazim, (macam rupa jadi tetangga, tulis Chairil); waktu yang menggerogoti usia datang dalam bentuk trem dari kota yang bergerak malam hari dengan suara yang seperti gigi yang gemertak.

Ada sikap lalai atau pasrah: orang-orang hanya menyandarkan tubuh mereka ke tiang lampu, menunggu kereta datang, juga ketika hujan turun. Orang-orang hanya pasif walaupun semua itu terjadi dalam sebuah tahun yang genting: tahun gempita terus berkata.

Chairil tak menyebutkan apa yang bergemuruh di saat itu; mungkin di tahun 1949 itu ia merasakan suasana hidup antara harapan dan rasa gentar, antara merasa berdaulat dan di ambang malapetaka, antara merasa perlu berdoa dan merasa berdosa, antara bebas dan terkutuk, tak lama setelah Perang Dunia selesai, Indonesia merdeka, dan Perang Dingin mulai. Saya menduga demikian karena dalam bagian lain dari sajak ini—yang tak saya kutip lengkap di sini—Chairil menyebut dalam malam ada doa sebelum ia menyebut segala sifilis dan segala kusta, dan derita bom atom pula.

Apa pun kurun sejarah yang hendak diungkapkan Chairil dalam sajak itu, di dalamnya tersirat rasa tertekan yang bergumam: rasa tertekan oleh waktu yang datang dengan teknologi dan organisasi—waktu sebuah kota besar, yang menyodorkan diri dalam bentuk jadwal kerja, batas awal dan akhir buat waktu senggang, jam yang menentukan trem datang dan pergi. Dengan kata lain, waktu yang telah menjadi sepenuhnya eksterior, yang tak ditentukan di dunia “kecil” seorang penghuni, dunia “interior”-ku, di momen ketika aku berdaulat.

Tapi, dunia interior itu tak hendak surut, apalagi punah. Justru sebaliknya. Kita tahu, kita yang tinggal di Jakarta yang kian padat dan kian mekar ini bahwa makin lama sebuah tempat tinggal makin berangsur jadi sebuah stasiun transit. Kita di sana seakan-akan hanya singgah, cuma beberapa jam dalam sehari. Selebihnya kita di tempat kerja atau di jalan yang macet dan panjang, dalam kendaraan atau dalam kelimun orang-orang yang umumnya tak saling kenal—sebuah himpunan di mana tiap orang hidup dengan pikiran, fantasi, rasa cemas, atau bahagia masing-masing.

Pada gilirannya, kepadatan dan mobilitas menyentuh tempat tinggal itu sendiri. Kamar dengan cepat berubah penghuninya, secepat iklan kontrak dan jual-beli rumah yang berbaris rapat di halaman surat kabar harian. Ketika sebuah ruang tinggal kian dialami sebagai komoditas—yang nilai gunanya telah diubah jadi nilai tukar—maka keadaan transit yang saya sebut tadi jadi lengkap. Bukan aku saja yang hanya “singgah” di rumahku, tapi rumahku juga hanya “singgah” dalam diriku.

Tapi, justru di dalam keadaan itulah terjadi apa yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai “fantasmagoria dari yang-interior”. Dalam tiap keadaan yang tak stabil dan mengalir lekas dari luar, ada dorongan hati manusia untuk menemukan yang tetap dan mengklaim kembali sifat permanen dalam tiap ruang privat.

Saya kira itu juga yang tersirat dalam puisi Chairil sebagai bentuk: sesuatu yang tercatat sebagai kesaksian yang akrab, “batin”, tentang sebuah latar ruang dan waktu. Puisi itu juga sebuah dorongan hati untuk mengembalikan yang “interior” dengan intens—satu ciri modernisme kesusastraan, yang mulai tampak secara terbatas bahkan sejak tahun 1930-an, dan kian jadi ekspresif di sekitar Revolusi Agustus, tatkala luruh, bahkan runtuh, pelbagai konstruksi sosial yang berkenaan dengan ruang dan waktu.

Di sini kita lihat sesuatu yang paradoksal: dalam arus modernitas—seperti yang terjadi dengan bangkitnya kota-kota besar, terutama di Dunia Ketiga—justru ada arus lain yang mencoba melawan atau mengelakkannya; arus itu adalah arus puisi yang menolak untuk menyerah jadi bagian dari instrumentalisasi ruang dan waktu, arus yang tak mau tunduk kepada yang eksterior. Mungkin itulah yang menjelaskan kenapa setelah Chairil, ketika modernitas semakin merasuk ke daam kehidupan Indonesia, puisi tak bisa kembali ditulis dengan ekspresi seperti masa sebelumnya, misalnya masa Pujangga Baru.

II

Harus saya katakan di sini, waktu yang tersembunyi akrab dalam puisi modernis adalah waktu yang sebenarnya menjadi bermakna justru karena ia lemah, lain, dan terasing.

Di luarnya: sejarah.

“Sejarah” di sini punya dua pengertian yang saling bertentangan. Yang pertama, seperti ketika orang mengatakan “aku ingin membuat sejarah”, adalah proses melupakan. Inilah yang kita saksikan dalam terjadinya kota-kota di Dunia Ketiga di masa pascakolonial. Proses melupakan itu ada yang didorong oleh hasrat memutuskan secara radikal hubungan dengan masa lalu yang dibentuk sang penjajah.

Kita menyaksikannya di Jakarta bukan saja dengan perubahan nama-nama wilayah dan jalan, tapi juga dengan hancur atau terabaikannya arsitektur lama. Tapi, kemudian kehendak “membuat sejarah” itu punya dinamika tersendiri yang tak ada hubungan langsung dengan politika ingatan. Ledakan penduduk, ketimpangan antarwilayah, impetus modal dan pasar, dan lain-lain, ikut membuat Jakarta—seperti kota-kota besar lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—seakan-akan berangkat, dengan tergesa-gesa, dari tahun 0.

Di hari-hari ini agaknya tak ada yang lebih mencengangkan ketimbang Shanghai sebagai contoh kecenderungan itu. Kota di negeri dengan kebudayaan yang amat tua ini segera tak akan menyaksikan berdirinya kembali gaya arsitektur China lama, melainkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Perusahaan Inggris Atkins, misalnya, telah memenangi sebuah kompetisi untuk merancang Kota Taman Songjiang menjadi wilayah kota kecil dan dusun Inggris, di tengah sawah-sawah di Pudong. Kota Baru Gaoqiao disulap jadi sebuah wilayah dengan arsitektur gaya Belanda tradisional—lengkap dengan pahatan bunga tulip raksasa.

Yang menarik dari pembangunan di Shanghai ialah bahwa di sini sejarah dibuat dalam arti melupakan, tapi sekaligus juga mengingat. Persisnya, di sini yang direproduksi adalah ingatan yang berbeda. Memang orang dengan mudah akan mencemooh atau mempersoalkan: tidakkah China punya khasanah ingatannya sendiri—yang tak juga punah setelah Revolusi? Mengapa harus “Eropa” yang “asing”?

Di tahun 1957 eseis Mh Rustandi Kartakusuma mengecam tendensi yang disebutnya sebagai “Indonisasi Ciliwung” dalam kesusastraan dan kesenian Indonesia: lahirnya, di Jakarta, sebuah kebudayaan “indo” atau “mestizo”, juga kesusastraannya. Bagi Rustandi, sejarah adalah mengingat, bukan melupakan. Disuarakan menjelang tahun 1960-an, menjelang “kebudayaan nasional” yang otentik jadi doktrin resmi yang harus ditaati, ketika semangat “berdikari” menjulang, pandangan seperti Rustandi itu memang umum berlaku.

Tapi, baik sejarah sebagai produksi yang berdasarkan lupa maupun sejarah sebagai produksi ingatan, keduanya problematis. Pada akhirnya lupa ataupun ingatan adalah tafsir atas masa lalu, atau bisa dikatakan, tak ada masa lalu kecuali tafsir yang tak memadai.

Demikianlah Rustandi menampik lupa, tapi ia sendiri melupakan bahwa sejak kota ini berdiri, Jakarta adalah sebuah karya hibrida—dan agaknya ia tak seharusnya disalahkan. Yang bersifat “mestizo” tidak dengan sendirinya sebuah cela—sebagaimana ide tentang “Indonesia” sendiri adalah ide percampuran yang tak mudah, dianggit dari dan diperebutkan oleh pelbagai anasir yang masing-masing “lain” (dan dalam arti tertentu “asing”), meskipun tiap kali ia bisa memberi makna bagi unsur yang berbeda-beda itu.

Juga para pembangun Shanghai akan selalu bisa mengatakan, sebagaimana layaknya pewaris Marxisme, bahwa masa lalu, sebagai catatan sejarah, senantiasa merupakan catatan sejarah dari yang berkuasa. Mereka juga akan bisa menegaskan masa lalu China yang feodal tak punya tempat di abad ke-21.

Mereka juga akan bisa menunjukkan bahwa Shanghai abad ke-21 berbeda dengan Shanghai di awal abad ke-20—Shanghai yang terbagi-bagi dalam pelbagai koloni orang Eropa dan Jepang, Shanghai dalam novel termasyhur Malraux, La Condition Humaine. Kini Shanghai ditentukan oleh para penguasa China yang berdaulat.

Sejarah sebagai masa lalu, sebagaimana sejarah sebagai proyek masa depan, selamanya mengandung unsur “asing” – bukan dalam arti etnis, atau “budaya”, tapi dalam arti generasi. Di awal abad ke-20 para penghuni Brugges, kota tua di Belgia itu, adalah orang yang asing dibandingkan dengan mereka yang mendirikan kota itu di abad ke-9. Tak mengherankan bahwa mereka mengabaikan peninggalan yang terhantar di dekat mereka. Baru setelah datang orang Inggris yang berkunjung, pelan-pelan arsitektur tua kota itu dibangun kembali.

Dalam hal ini, ingatan akan ke-“asli”-an tak relevan lagi. Menara yang menjulang di Balai Pasar kota itu, yang oleh buku panduan turis dikatakan berasal dari abad ke-14, sebenarnya hanya sebuah tiruan yang dibuat abad ke-19. Kanal-kanal Brugges yang cantik yang seakan-akan hidup terus berabad-abad itu sebenarnya berasal dari tahun 1932.

III

Sebab itu, perkenankanlah saya di sini menolak memberi sejarah bobot yang tinggi. Sejarah adalah perkara langkah besar, bagian dari waktu yang eksterior. Albert Camus, dalam mencoba memberi eulogi buat kota kelahirannya, Oran, di Aljazair—kota yang punya sedikit petilasan sejarah, dan hanya punya laut biru, langit lazuardi, gurun perkasa, dan tubuh yang akrab dengan matahari dan kematian—melihat kota-kota tua di Eropa dengan jeri: di sana, kata Camus, dalam “pusaran yang memusingkan dari abad-abad revolusi dan kemasyhuran”, ruang tak cukup memberikan sunyi.

Saya bukan datang dari kota seperti Oran, dan saya kira Camus berlebih-lebihan, tapi saya juga ingin kembali kepada dorongan untuk merayakan yang interior. Mungkin di sini kita bisa memakai kata yang tak kalah riskannya: nostalgia. Saya ingat kata-kata arsitek Meksiko terkenal, Luis Barragán, (1902-1988): “nostalgia adalah kesadaran puitis tentang masa lalu pribadi kita”.

Kota-kota perlu membuat peluang bagi “kesadaran puitis” itu—dengan kata lain, momen nostalgik itu—sebagaimana modernitas memerlukan antidotnya. “Masa lalu pribadi” dalam konteks ini adalah tafsir atas waktu yang melepaskan diri dari waktu eksterior, ketika kota-kota besar dibangun sebagai ruang “geografis”, dengan perspektif seorang penyusun peta dan perencana.

Dengan “masa lalu pribadi” itulah orang sehari-hari menyusuri jalan dan gang-gangnya. Di sanalah kita akan menemukan kota sebagai apa yang dikatakan Michel de Certeau: pelbagai ruang “migrasional”. Dengan itu kita akan tahu sebuah peta adalah sebuah hasil reduksi, dan sebuah rencana selalu mengandung represi. Hanya dalam momen jalan-jalan kita menemukan yang lebih hidup meskipun sama-sama tak lengkap. Dalam kiasan de Certeau, jalan-jalan adalah sebuah sajak panjang yang mempermainkan organisasi ruang.

Maka saya percaya, perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim—sesuatu yang ditunjukkan oleh para pemenang “Penghargaan A Teeuw” 2007 dari Jakarta. Ketika Marco Kusumawijaya, salah seorang angota juri, menilai mereka sebagai orang-orang yang telah “memberi kesempatan kepada sejarah mewujud nyata dan dicintai melalui arsitektur”, saya lebih memberi tekanan kepada kata mewujud dan dicintai. Bagi saya, dengan demikian mereka mengingatkan bahwa sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang”, dan tak hanya harus didirikan dengan ketidak-sabaran.

Jakarta, 15 Agustus 2007

GOENAWAN MOHAMAD Penyair, Pendiri Majalah Tempo

(Diolah kembali dari pidato untuk menghormati para penerima “Penghargaan A Teeuw” 2007: Soedarmadji Damais, Wastu Pragantha Zhong, dan Han Awal di Erasmus Huis, Jakarta, 10 Agustus 2007)

Dimuat di Kompas 1 September 2007

Surat untuk Kawanku, yang menderita

comment 1
Tokoh


Dear Multatuli…

Bagaimana kabarnya? Tadi malam secara tidak sengaja aku menemukan sebuah tulisan tentang dirimu. Tulisan Seno Gumira Ajidarma, judulnya ‘Insiden Lebak’.
Ah, kenapa aku selalu membaca kesan miring tentangmu. Di beberapa saat bahkan aku merasa bahwa penjelasan Sartono Kartodirdjo tentang dirimu da situasi yang kamu hadapi di Lebak, yang sangat sering dikutip dalam pembahasan dirimu, bernada cemoohan atas ketidakpahaman dan keluguanmu.
Makam bupati Lebak itu kini sering didatangi peziarah. Padahal oleh Gubernur Jenderal Pahud dia sudah didakwa bersalah. Yah, itulah Indonesia, Mul. Aku sendiri yakin sampai tua aku akan masih diliputi keheranan jika memikirkan Indonesia.
Dulu sampean pernah dapat pos di Natal, Sumatra Utara. Sekarang daerah itu mungkin juga merasakan dampak gempa besar yang menerjang pantai barat Sumatra. Bengkulu dan Padang luluh lantak.
Aku bisa membayangkan, jika kamu sekarang masih hidup kamu akan bekerja di sebuah perusahaan minyak dari Amerika Serikat atau Prancis yang sedang melakukan eksplorasi di Aceh atau pekerja kemanusiaan dari sebuah NGO internasional yang membantu korban gempa Aceh. Lalu saat gempa kemaren (7,9 skala richter, Mul! Gila, gede banget itu) kamu akan langsung melompat masuk ke Land Rovermu dan pergi ke Bengkulu. Meninggalkan semua pekerjaanmu dan membantu para korban gempa yang sekarang beritanya sudah nyaris pupus ditumpuk berita-berita aneh yang digemari koran-koran Indonesia.
Kamu akan melihat bahwa para korban itu ternyata orang-orang yang mandiri dan bermartabat, yang tidak merengek-rengek minta bantuan kepada pemerintah. Lalu kamu akan mendatangi kantor pemerintah setempat memaksa para pegawai di situ melakukan apa saja yang mereka bisa untuk membantu para korban. Dan kamu akan ditertawakan teman-teman bulemu, yang sedang sibuk nongkrong di warung-warung kopi di Banda Aceh.
Ah, kenapa aku ikut menertawakan kamu, ya. Padahal dulu aku bikin skripsi tentang novelmu.
Kalau aku menyebut kamu dengan ‘Mul’ itu lebih karena perasaan akrab yang kadang kesannya kurang ajar. Biasalah, Mul.

Jabat tangan erat,

Onny

Soal Hasif Amini,

comment 1
Tokoh

dan sedikit tentang puisi

Setelah sekian lama aku diamkan, tadi malam aku baca-baca koleksi tulisan Hasif Amini. Sekarang rasanya Hasif Amini sudah tidak pernah menulis di Kompas lagi. Kok bisa, ya. Aku selalu kesulitan memahami puisi. Tapi membaca tulisannya Hasif Amini, aku jadi suka puisi, atau tepatnya perpuisian. Seolah esai Hasif Amini itu sendiri adalah puisi yang sedang bercerita tentang puisi. Tidak hanya puisi di Indonesia, tapi juga di Islandia (aku paling suka esai Hasif Amini yang judulnya ‘Es’), Eropa (tentang Maria Rilke kalo ga salah).

Populasi buku puisi di rak bukuku tidak banyak. Mungkin cuma ada 10 buku. Buku puisi terakhir yang aku beli adalah antologi lengkap puisi-puisinya Joko Pinurbo (mulai dari ‘Pacar Kecilku’, ‘Di Bawah Kibaran Sarung, dan apa ya… ‘Di Celana’ apa ya?). Sebelumnya aku cuma fotokopi ‘Arsitektur Hujan’nya Afrizal Malna. Dari 10 buku itu hanya punya Joko Pinurbo dan Hasta Indriyana yang sering aku baca. Buku-buku yang lain cuma jadi pemenuh rak bukuku yang sekarang semakin hancur diserang ngengat dan hawa pantai.

Mungkin aku harus pergi ke pantai membawa beberapa buku puisi yang aku suka dan yang sekiranya pas dengan suasana pantai. Aku pernah mencoba sebenarnya. Tapi apa yang hendak kamu tulis jika kepalamu lebih ingin merekam semua yang kamu lihat dalam bentuk yang lebih menyerupai sebuah potret? Bangkai seekor kucing yang mengapung tetap sebagai bangkai seekor kucing yang mengapung di sebuah pantai berpasir hitam di sebuah sore yang tenang. Seseorang berusaha melemparkan puntung rokok ke laut, tapi gagal.

Setelah membaca dua esai aku putuskan untuk mengganti judul file yang dulu aku rubah jadi satu nama semua ‘hasifaminis’. Ada dua yang aku baca, ‘Derau’ dan ‘Es’.

Leave a comment
Tentang kawan

Yang Lebih Tua dan Mendukungmu

Adakah orang-orang semacam itu di sekitarmu? Bukan. Bukan orang tuamu, tapi orang di sekitarmu, kawan, kakak kelas, tetangga, atau kakak kawanmu. Aku kurang tahu bagaimana pengelompokan usia “yang lebih tua” menurutmu. Tapi kalau aku sendiri, aku cenderung tidak menganggap anak-anak Angkatan 94 ke atas sebagai senior. Sedangkan angkatan 95 ke bawah, hingga angkatan 97, sebagai sebayaku. Lho kamu lupa aku Angkatan berapa? Aku mulai kuliah tahun 1997. Lebih tua dua tahun dari kamu, lho.

Ada baiknya kamu mulai mengingat siapa dulu seniormu atau kawanmu yang usianya jauh lebih tua tapi memiliki pandangan yang cukup terbuka. Kalau aku, yang langsung teringat adalah Eri. Koko seniorku ini adalah mahasiswa jurusan Teknik Mesin angkatan 94 kalau tidak salah.

Aku lupa kapan pastinya mengenal Eri. Yang jelas pada bulan April 1998, aku sudah melihatnya dan mengenalnya. Saat itu aku sedang berdiri bersama banyak orang di atrium tower Petra. Beberapa orang memegang megaphone dan beberapa lagi membawa bendera Petra dan bendera Indonesia. Dia berjalan dengan tenang dari arah ATM Lippo dan melihat ke arah kerumunan orang tempatku berdiri. Perawakannya biasa saja. Agak gemuk sedikit. Tidak terlalu tinggi. Raut mukanya tenang dan membuat orang yang
melihatnya juga menjadi tenang. Kacamatanya seolah menjadi satu dengan dirinya. Mungkin karena dia sudah terlalu memakai kacamata, atau mungkin karena dia sudah memilih dengan tepat bingkai kacamata yang pas dengan raut muka. Dia tidak menggabungkan diri dengan kerumunan, hanya berdiri beberapa meter saja dan mengamati. Biasanya aku benci dengan orang semacam itu (apalagi di bulan-bulan itu). Tapi entah kenapa, dengan Eri aku tidak merasakan kebencian itu. Raut mukanya benar-benar menenangkan. Tidak seperti mengamati, tapi juga tidak menampakkan perasaan tertentu seperti mengagumi atau membenci.

Yeah, kamu benar. Bulan April 1998 adalah bulan-bulan ”panas” dalam sejarah republik kita yang masih muda ini. Dan mungkin aku agak salah dalam mengenal konsep ”crowd” atau ”kerumunan”. Mestinya aku mengenalnya di pentas kesenian atau nonton konser sebuah band. Bukannya di demonstrasi. Tapi dalam ingatan keremajaanku, baru di sekitar bulan April-Mei 1998 itulah aku merasakan kerumunan orang yang diikat oleh perasaan dan pikiran yang sama. Tidak ada seorang pun yang akan terlempar ke bilik kesendirian mereka. Semua orang adalah satu gagasan, semua orang terhubung. Sebelum bulan itu aku sempat merasakan apa itu kerumunan. Yang pertama adalah ketika nonton konsernya Firehouse di JW Marriott (ehmm…kamu tahu kan, aku nonton sama siapa). Yang kedua adalah saat di mana aku sering ke Colors bareng sama Aldi, Dirun, (Alm.) Didik, dan Ambon nonton sebuah band Top 40 yang suka membawakan lagu-lagunya Radiohead dan Rage Against the Machine. Tapi kedua pengalaman itu sama sekali tidak sebanding dengan ”pengalaman mengerumun” yang aku rasakan pada bulan April-Mei 1998.

Baik, kembali ke Eri. Eh, bagi rokoknya, dong.

Semenjak itu aku sering melihatnya dengan Ardi, mahasiswa Teknik Arsitektur ’95. Mereka mengajakku untuk melihat keadaan dengan lebih tenang. Semua hal yang terlihat spontan saat itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada begitu banyak penyebab dan urutan kejadian yang terentang di belakangnya, tak terlihat dan tersadari olehku. Aku baru tahu bahwa ada beberapa kelompok anak muda pemberani yang melawan rezim. Semenjak itu aku sering bertemu dengan wajah-wajah baru, yang sama sekali tidak terbayang olehku bahwa ada orang-orang semacam mereka di dunia ini.

ayu nikah

Leave a comment
Foto / Tentang kawan


dokar-2
Originally uploaded by absolute onie.

akhirnya ayu nikah. setelah melalui masa gundah gulana dan kegelisahan, kini ayu bisa dengan tenang melihat hidupnya. selamat, ayu. sori ayu anak2 cuma bisa datang pas resepsi. tapi sumpah itu tidak direncanakan. semata karena semua pada sibuk. padahal mestinya bisa jadi bahan testimonial kaya yang diputer di resepsi itu ya. aku ga bisa bayangin seperti apa testimonialnya malonda, pak min, dwi, dan anak2 lain. pasti isinya puja-puji semua. hahaha.

foto2 ini hasil jepretan pak men semua. aku sesuaikan ukurannya supaya gampang diunggah. aslinya sekitar 3024×2346. gede banget kan.

dari proses mengunggah semua foto ini aku jadi membanding2kan flickr dengan picasa. flickr lebih meriah dan ada banyak foto2 asik di situ dan banyak komunitas. kendalanya adalah koneksi. kadang2 agak lambat pas mengunggah foto.
proses mengunggah di picasa tergolong cepat. tapi rasanya tidak banyak foto menarik di situ. picasa terintegrasi dengan aku gmailku. sedangkan flickr dengan yahoo.
baik di flickr dan picasa ada geotag. aku belum tahu apa gunanya. atau mungkin untuk negara dengan bandwidth kecil kaya indonesia gini fitur2 semacam itu tidak terlalu berguna.

jadi bingung mau terus pake flickr atau pindah ke picasa. yawislah, selamat honeymoon. oh ya jangan lupa kirim ungkapan bela sungkawa untuk keluarga pak leo dan pak bin. keduanya orang baik yang sudah mewarnai hari-harimu di kampus. aku merasa berhutang dengan pak bin, karena tidak mengenal dia dengan baik.

Membaca Danziger’s Britain

Leave a comment
Buku / Tentang kota


Aku jadi lebih bisa memahami beberapa video klip yang menampilkan pabrik yang nampaknya sudah mati dan jadi tempat nongkrong anak-anak muda. Halifax, Leicester, Brixton, semuanya sekarang pingsan dilibas perkembangan industri dan teknologi informasi. Seolah kota-kota yang menyimpan pabrik-pabrik dan galangan kapal dari masa awal Revolusi Industri itu tidak layak dilestarikan sebagai semacam ”Athena”nya Kapitalisme. Mungkin pemandangan semacam itu yang dilihat Emen di Krembung dan Tulangan, Sidoarjo. Aku membayangkan dia berkeliling memotret pabrik-pabrik lama, mesin-mesin yang sekarang teronggok, ruang-ruang administrasi dengan jendela-jendela dan meja-meja besar. Tapi ternyata Emen datang dengan membawa satu foto saja tentang papan pabrik gula Tulangan, yang dia potret pagi hari.

Suatu Siang di RSUD Dr. Soetomo

Leave a comment
Tentang kawan / Tentang kota

Banyak sekali yang ingin aku bicarakan padamu siang itu, tentang kengerian “mati potensi”, tentang “your work does not define you”, tentang makanan terenak di kota ini, tentang hubungan antara rokok dan pertemanan, tentang Henry Miller, dan tentang bir Tiger yang rasanya ga jelas itu.
Tapi mungkin aku terlalu sibuk mendengarkan ceritamu tentang keluargamu, dan peristiwa “kelilipan” yang baru saja kamu alami (ternyata kecil saja ya debu yang nyaris melukai retina matamu itu).
Atau mungkin aku terlalu terpana dengan seekor kucing kecil yang berhenti melintasi taman tempat kita ngobrol. Dia berhenti begitu saja dan duduk menikmati teduhnya suasana di bawah pohon. Kamu cuma bisa melihat dua ujung telinganya yang membuat kucing itu nampak seperti pelapis tutup toples.

comments 3
Tentang kawan / Tokoh


Magic Displacement

Hari ini aku pulang lebih malam, melewati gedung Bala Keselamatan di Pregolan yang dari dulu ingin aku kunjungi sekedar untuk memotret dua ekor anjing yang selalu mengonggong. Suara gonggongannya terdengar seperti anjing kampung. Aku berhenti untuk menyalakan rokok dan mencoba melihat mereka. Sia-sia. Gelap sekali malam itu. Kegelapan menelan mereka seperti berbungkus-bungkus rokok yang perlahan-lahan menelan paru-paruku.

Dulu biasanya di malam hari seperti ini aku mampir beli burger Monalisa di Jalan Kaliurang. Terus duduk sendirian melihat keramaian jalan. Selesai makan kalau masih malas pulang ke kosan biasanya muter-muter dulu. Terus sampai di kos baca-baca buku sampai ketiduran. Aku kangen dengan semua perasaan ringan itu.

Aku ingin membacakan sebuah surat yang dibaca Anais Nin di sebuah majalah. Surat itu ditulis oleh Antonin Artaud dari rumah sakit jiwa di Ville Ervard, Prancis. Bagus sekali. Pasti kamu suka:

You came to help me last Monday, Tuesday, and Wednesday, but through a magic displacement I lost you in front of the Matin at the angle of the Rue de Faubourg Montmartre for the illness prevented you from maintaining your self there and you had to be in Morocco and take the boat, that is, follow what are called the normal ways. But the Bohemians who were at Palais de Justice Tuesday evening and who burned it after having massacred the judge cannot follow the normal ways, they must penetrate our world from the same level and as one passes from ship to quai and their world which is the OTHER world will be installed in our own at the moment they come to meet me.

Selamat jalan, kawan. Semoga dunia barumu lebih menyenangkan. Selamat berakhir pekan.