Surat untuk Kawanku, yang menderita

comment 1
Tokoh


Dear Multatuli…

Bagaimana kabarnya? Tadi malam secara tidak sengaja aku menemukan sebuah tulisan tentang dirimu. Tulisan Seno Gumira Ajidarma, judulnya ‘Insiden Lebak’.
Ah, kenapa aku selalu membaca kesan miring tentangmu. Di beberapa saat bahkan aku merasa bahwa penjelasan Sartono Kartodirdjo tentang dirimu da situasi yang kamu hadapi di Lebak, yang sangat sering dikutip dalam pembahasan dirimu, bernada cemoohan atas ketidakpahaman dan keluguanmu.
Makam bupati Lebak itu kini sering didatangi peziarah. Padahal oleh Gubernur Jenderal Pahud dia sudah didakwa bersalah. Yah, itulah Indonesia, Mul. Aku sendiri yakin sampai tua aku akan masih diliputi keheranan jika memikirkan Indonesia.
Dulu sampean pernah dapat pos di Natal, Sumatra Utara. Sekarang daerah itu mungkin juga merasakan dampak gempa besar yang menerjang pantai barat Sumatra. Bengkulu dan Padang luluh lantak.
Aku bisa membayangkan, jika kamu sekarang masih hidup kamu akan bekerja di sebuah perusahaan minyak dari Amerika Serikat atau Prancis yang sedang melakukan eksplorasi di Aceh atau pekerja kemanusiaan dari sebuah NGO internasional yang membantu korban gempa Aceh. Lalu saat gempa kemaren (7,9 skala richter, Mul! Gila, gede banget itu) kamu akan langsung melompat masuk ke Land Rovermu dan pergi ke Bengkulu. Meninggalkan semua pekerjaanmu dan membantu para korban gempa yang sekarang beritanya sudah nyaris pupus ditumpuk berita-berita aneh yang digemari koran-koran Indonesia.
Kamu akan melihat bahwa para korban itu ternyata orang-orang yang mandiri dan bermartabat, yang tidak merengek-rengek minta bantuan kepada pemerintah. Lalu kamu akan mendatangi kantor pemerintah setempat memaksa para pegawai di situ melakukan apa saja yang mereka bisa untuk membantu para korban. Dan kamu akan ditertawakan teman-teman bulemu, yang sedang sibuk nongkrong di warung-warung kopi di Banda Aceh.
Ah, kenapa aku ikut menertawakan kamu, ya. Padahal dulu aku bikin skripsi tentang novelmu.
Kalau aku menyebut kamu dengan ‘Mul’ itu lebih karena perasaan akrab yang kadang kesannya kurang ajar. Biasalah, Mul.

Jabat tangan erat,

Onny

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s