Dialog Panjang 1998-2001

Leave a comment
Tentang kawan

Bila kau malu-malu mengakui dan mengenang “zaman perjuangan”, maka sejarah generasimu akan ditelan bulat-bulat oleh kemegahan Angkatan ’66. Bukan untuk meniadakan, tapi mengkritisi bahwa generasi kita jauh lebih “berdarah-darah” karena…tentara di depan kita dan bukan di belakang kita.

Raudal Tanjung Banua

Sekalipun berbeda, melihat sampah plastik dibakar dan melihat atribut polisi atau tentara yang dibakar membangkitkan perasaan yang sama; perasaan bahwa hubungan kita dengan sekeliling ternyata sangat rentan karena jembatan penghubung antara diri kita dengan kenyataan hanyalah benda-benda yang mudah musnah.
Ketika semua surat-surat dan potret-potretmu habis aku bakar, aku langsung tidak tahu pasti siapa dirimu. Kamu mendadak menjadi orang asing-manusia lain yang mengusung kepentingan dan keinginanmu sendiri untuk kemudian kamu gunakan untuk menduduki diriku. Baru saat itu aku paham kenapa sampai ada penulis yang mengatakan bahwa “orang lain adalah neraka.” Tanpa benda-benda itu, kamu hanyalah ancaman bagiku. Tanpa benda-benda, cinta dan kasih sayang hanyalah nama lain bagi kepicikan dan keculasan. Memang. Dengan tiba-tiba semua hal di dunia ini bisa terbalik dan terlihat mengerikan. Mana yang asli aku kurang tahu.
Ketika atribut polisi dan tentara –mulai dari helm, topi pet, atau tameng mereka– habis dibakar, kita langsung asing dengan tanah air yang subur makmur dan negara yang didirikan dengan susah payah ini. Negara ini mendadak menjadi kumpulan bajingan yang dengan serakah menguasai semuanya dan membunuhi sesama seenaknya sendiri. Ya aku tahu. Itu memang fakta. Tapi harap diingat bahwa aku sedang membicarakan kesan. Di mana posisi kesan dalam bangunan kenyataan aku tidak tahu jelas. Tapi itulah kesan, dia ada dan akan selalu kita bicarakan.
Kita langsung mendapat kesan bahwa patriotisme adalah nama lain bagi pengingkaran atas sikap berbela rasa, ideologi adalah nama lain bagi polisi khusus yang ditanam di kepala kita, bahwa kehormatan adalah pengganti bagi ketidakmampuan negara kita mengurus semua kekayaan dan rakyatnya. Yang lebih penting, kami (mungkin) menyadari bahwa semua yang dibangun manusia bisa dihancurkan. Mudah atau susah hanya perkara kemauan dan ketelatenan.
Tapi juga di antara kawan-kawan yang ikut membakar atribut aparat negara tersebut, ada kesan yang terbang melayang di antara kami bahwa kami sebenarnya sudah cacat. Kami tidak lagi memiliki imajinasi, hanya sikap percaya tahyul yang tersisa dari serbuan komik, majalah, dan televisi. Hanya karena kami berani melawan polisi dan tentara, bukan berari kami pemberani, kami hanya tukang main keroyok. Salah satu kena pukul kepalanya, sepuluh orang dalam satu barisan akan lari tunggang langgang atau paling tidak menjadi tertahan gerak majunya atau melupakan tugasnya sebagai “barisan pelopor”. Kami melupakan para pendahulu kami yang dengan berani dan tulus melempangkan jalan bagi kami, jauh di tahun 1994-1997 dan 1980-an. Kebanyakan di antara kami yang pada tahun 1998-1999 dengan “gagah berani” melawan polisi di jalanan pada umumnya adalah (seperti umumnya anak muda) para remaja yang sedang bingung dengan dirinya sendiri. Dan dengan kebetulan para polisi itu menyediakan diri mereka sebagai sansak berjalan bagi kami. Termasuk di antara anak muda yang bingung itu adalah aku sendiri.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s