Leave a comment
Tentang kawan

Namanya Andi

Namanya Andi. Tapi entah kenapa teman-temanku SMP dulu memanggilnya Sacing. Bukan ejaan “cing” seperti cara anak-anak Jakarta menggunakan “cing” di akhir kalimat (ya, sempat ngetren kan dulu?). Ejalah Sacing itu seperti kamu mengucapkan “Kucing”. Dan mungkin kata Kucing itu yang kemudian membentuk Sacing.

Setahuku dia dulu bukan penggemar kucing. Wajahnya juga tidak mirip kucing. Tapi memang ada sesuatu yang ”kucing” di dalam dirinya; orangnya kalem dan lembut tapi terkadang bisa membuat orang-orang di sekitarnya menjadi terhenyak, baik karena ucapan dan tindakannya. Dia tidak pernah menunjukkan kelebihan-kelebihan dirinya.
Dia tidak pernah meminta teman-teman untuk memanggilnya kucing, tidak juga dengan sengaja menunjukkan ”kekucingan” di dalam dirinya. Kayak siapa? Ya kayak kamu itu, yang sok-sokan pengen dikenal sebagai penggemar kucing. Huh. Nyebahi, katanya orang Jogja. Mbencekno, katanya meme-meme Petra.

Yah begitulah. Ada dua Andi dulu. Andi Sacing dan Andi Widoto. Andi Sacing ini orangnya lebih kalem dan tidak populer dibandingkan Andi Widoto. Kalau Andi Widoto cocok banget jadi pemimpin, Andi Sacing ini lebih cocok jadi pengayom yang tidak pernah terlihat menonjol di tengah-tengah kerumunan. Andi Widoto kulitnya gelap, Andi Sacing lebih terang.

Beberapa hari lalu aku mendadak teringat bahwa selain dipanggil Sacing, Andi juga akrab dipanggil ”bayi”. Wajahnya memang kebayi-bayian dan membuat yang melihat menjadi tenang. Bayi…hehe lucu ya. Lebih lucu lagi kalau teman-teman sedang main bola (biasanya di lapangan Mundu, depan Stadion Tambaksari), si Andi sedang menggiring bola dan diteriakin oleh si Didit untuk mengumpankan bola kepadanya…Bayi!! Bayi!!!

Setelah lulus SMP aku sama sekali tidak pernah lagi bertemu atau mendengar berita dari si Andi Sacing ini. Tapi aku sama sekali tidak lupa padanya. Raut wajahnya masih selalu aku ingat, sepatunya, cara jalannya, caranya berbicara. Aku selalu berpikir bahwa kalau aku bertemu dengan dia aku tidak akan lupa. Paling cuma agak pangling sebentar lalu kemudian dengan yakin aku akan menyapanya. Kenapa ya? Padahal aku juga tidak terlalu dekat dengannya. Mungkin karena namanya.

Bagiku, sekalipun pasaran, beberapa nama menimbulkan perasaan tertentu. Salah satunya ya Andi ini. Ada beberapa nama ”pasaran” yang membuatku selalu merasa aneh, kebanyakan nama-nama Jawa; Bayu, Ranu, Andi, atau Seno. Orang dengan nama-nama seperti yang aku sebut tadi selalu menancap kuat di ingatanku. Aku selalu ingin punya nama seperti mereka, menggantikan namaku yang, sekalipun terdengar lucu dan menimbulkan ambiguitas seksual, ahistoris dan terkesan tidak memiliki akar.

Aku lebih bisa mengingat dengan baik orang-orang dengan nama semacam itu. Ingatanku seolah bekerja lebih baik. Selain nama-nama Jawa, aku juga bisa mengingat dengan baik orang dengan nama non Indonesia seperti Tito, Dodi, Olsy, atau Ramses. Tapi nuansa yang diberikan rasanya tetap berbeda. Namamu misalnya, kurang aneh seperti apa coba. Jangan heran kalau aku tidak pernah lupa sama kamu.

Lha kok pas tadi aku Gresik dan lagi sumpek sama suasana di kantor pabrik semen itu, aku kok tidak langsung ke warung makan di depan tapi milih ke warung yang pas di depan gerbang kantor. Aku pengen makan mie instan saja, bosan sama nasi. Si pemilik warung sedang sibuk melayani seseorang yang duduk di pojok. Dia mengenakan kemeja warna oranye. Sikap badannya santai. Cuaca Gresik mendung, padahal dua hari sebelumnya aku ke Gresik matahari selalu bersinar terik sekali.

Baru pada tatapan pertama aku langsung mengenali siapa orang itu: Sacing! Aku ragu menyapanya tapi aku tidak berhenti memandanginya. Ternyata benar itu Sacing. Senyumannya masih sama. Akhirnya malah dia duluan yang menyapa aku: “kaya tau ngerti arek iki aku, sapa ya?”

Dia lupa namaku, bingung antara Oki atau siapa gitu tadi nyebutnya. Sacing ternyata sekarang bekerja dan tinggal di Gresik, belum menikah, semakin sehat kelihatannya dia, masih suka main bola, dan masih tetap seperti Sacing yang dulu aku kenal.

Senang sekali rasanya bisa dengan yakin menyebutkan nama seseorang yang sudah lama tidak kita temui. Aku akan selalu ingat dia dan teman-temanku yang lain, baik yang memiliki nama Jawa, nama non Indonesia, dan bahkan yang sudah ganti nama. Aku akan selalu siap dengan perjumpaan-perjumpaan seperti yang aku alami saat berjumpa Sacing.

PS: Sindentosca, ya? Aku masih sering dengerin di sini. Tapi nggak diselingi kata-kata bodoh itu: this is demo version. Hehe

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s