Warung di Embong Malang

Leave a comment
Tentang kota / Tokoh


Di warung itu gorengannya masih hangat semua, lengkap dengan petisnya; ada kue lumpur yang selalu jadi tusukan garpu si pemilik warung setiap ada yang membelinya untuk dimakan di kantor; ada banyak macam krupuk, bahkan kripik kodok yang dulu biasa dibeli anak-anak untuk tambul mabuk; ada beberapa jenis kacang; ada banyak bungkusan nasi yang siap disantap sebagai sarapan dan mungkin makan siang juga; ada banyak pegawai bank dan pekerja swasta yang mampir sarapan; ada ibu-ibu yang membawa setumpuk gorengan hangat dan karena dia agak memaksa membuat segelas teh tumpah dan menyiram seorang pria; ada aku yang duduk melihat jalan raya ditemani segelas kecil teh hangat dan sebatang marlboro yang pagi itu rasanya jadi aneh sekali, sebatang gudang garam inter rasanya jauh lebih pas untuk mengawali hari daripada rokok penunggang kuda yang bisu itu, memikirkan Roland Barthes dan pleasure of text yang dia gambarkan seperti pengalamannya makan Sukiyaki serta perjumpaannya dengan Jepang atau tepatnya mungkin di negara yang dia sebut Jepang. Di seberang warung sebuah logo raksasa pusat perbelanjaan timbul tenggelam ditelan atap rumah-rumah sebuah perkampungan, tergantung bagaimana posisi dudukmu.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s