Si Kecil Ducroo

Leave a comment
Buku / Keluarga

Kisah mengenai masa kecilku ini dimulai dari beberapa fakta yang aku temukan dari orang tuaku. Dokumen tertulis pertama yang aku temukan mengenai masa kecilku adalah sebuah salinan yang sudah menguning dari Bataviaasch Nieuwsblad, yang memuat pengumuman kelahiranku. Pada halaman utama, terpampang sebuah artikel mengenai Perang Boer (di Afrika Selatan); “Kaum Boer meneruskan pengepungan mereka atas Ladysmith, dan terus mendekatinya.”

Aku dilahirkan bersamaan dengan perayaan arwah tahun 1899, pada hari Kamis pukul 13.45 sore hari. Dua belas tahun sebelumnya, mama pernah mengalami kesulitan saat melahirkan adikku, Otto. Saat mengandung diriku, mama sudah lebih tua dan lebih memperhatikan kesehatan. Dokter yang menangani mama mencoba membuatku “tetap kecil”. Dokter itu meminta mama melakukan diet ketat supaya dia dapat senantiasa mengecek perkembangan tulangku di dalam kandungan mama. Kini rasanya metode semacam itu sudah tidak dilakukan lagi. Tapi dalam kasusku, dokter itu berhasil mencapai hasil yang dia inginkan. Aku dilahirkan dengan berat enam pon. Namun ajaibnya, dalam perkembangan tubuhku, tinggi badanku malah melebihi kedua tinggi badan kedua orang tuaku. Hidungku besar sekali. Mungkin karena ada lebih banyak daging daripada tulang di dalamnya. Ayah jadi takut sekali dengan hidung besarku itu, sampai dia meminta dokter untuk menghilangkan kelebihan hidung, atau untuk menanyakan dari mana datangnya kelebihan itu.

Aku dilahirkan di kamar pandjang di Gedong Lami, di paviliun utama yang menhadap ke sungai. Proses kelahiran diriku sangat menyusahkan ibu dan membuatnya harus mengalami perawatan setelah melahirkan diriku. Ibu percaya bahwa satu-satunya cara untuk membuatnya tetap hidup adalah dengan minum anggur merah dengan es. Dokter yang menangani adalah orang yang “manis”. Namanya Wittenrood, yang selalu dieja oleh para suster dengan wit en rood (putih dan merah). Ibu tidak mampu memberiku susu, bahkan susu kaleng, atau krim gandum. Setelah dua hari mereka berpikir bahwa aku pasti akan mati. Ayah kemudian mengirim beberapa orang untuk mencari seorang perempuan di sekeling perkebunannya yang mau menjadi ibu inang bagiku. Tapi tidak seorangpun muncul di rumah. Mungkin karena para penduduk di sekitar perkebunan ayah pada takut dengan ayah atau dengan rumah kami, atau mungkin juga karena mereka begitu benci dengan ayah. Dua dan tiga orang kemudian dipaksa datang ke rumah, tapi mereka terlihat begitu kotor dan enggan, hingga ibu dan ayah memutuskan untuk tidak terlalu memaksakan diri mencari mama inang demi kebaikan diriku. Akhirnya, saat aku semakin pucat dan kurus dan kedua orang tuaku hanya bisa memandangiku sambil bersedih, Niah datang. Niah adalah seorang perempuan dari desa Kebon Dalem. Saat itu Niah membawa serta Tjemplo, yang sedang sibuk menyusu kepada Niah, dan yang kemudian menjadi saudara inangku. Menurut mama, Niah adalah perempuan yang “suka tertawa genit dan memiliki payudara indah”. Ingatanku atas Niah baru tersusun secara jelas akhir-akhir ini berkat bantuan pengalaman dan gambar. Dia adalah perempuan berperawakan dan berparas namun wajahnya kadang terlihat lugu sekali, dengan mata yang sayu serta mulut yang membersil. Wajah Tjemplo, anak Niah dan saudara inangku, begitu mirip sekali dengan wajah ibunya. Aku masih ingat saat dia masih berumur delapan tahun dan tersenyum ramah sekali kepadaku. Alima datang ke kehidupanku saat aku masih berumur empat bulan.

Aku masih berumur delapan belas bulan saat keluargaku tinggal di Sukabumi. Saat itu aku nyaris mati akibat diserang demam. Serangan demam itu disebabkan oleh letusan Gunung Kelud. Sepanjang hari kota Sukabumi diguyur hujan abu. Orang tuaku tinggal di rumah kediaman Patih. Kebetulan istri sang patih adalah kawan baik mama. Mereka semua mengira aku akan mati dan sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Menurut dokter, aku terserang meningitis. Mama dan istri Patih kemudian memberi aku suntikan urus-urus. Beberapa jam kemudian penyakit itu hilang dari tubuhku. Saat dokter datang lagi di sore hari, aku sudah bisa tertawa-tawa di hadapannya. Dokter itu kemudian bersikukuh dengan penjelasan bodohnya atas kesembuhanku menganggapnya sebagai sebuah keajaiban. Rasanya ada yang salah dengan narasi saya ini. Sebuah rekoleksi yang keliru. Karena yang diceritakan mama saya sebenarnya berkaitan dengan kisah serangan penyakit yang lain. Ketika kami di Sukabumi, seorang dokter berjanggut mirip kambing yang bernama De Haan (artinya; Ayam Jantan) –nama yang cukup mengesankan– memberiku obat pencahar yang pada awalnya terasa enak namun setelah habis diminum rasanya begitu memuakkan. Aku muntahkan keluar semua obat itu sebelum obat itu mulai bekerja di dalam tubuhku. Kepalaku rasanya mau pecah, begitu banyak perempuan Sunda yang keluar dan masuk secara terburu-buru. Kali itu mama tidak sependapat dengan cara dokter menangani diriku. Tapi peristiwa itu sebenarnya terjadi empat tahun kemudian, saat kami akan bepergian ke Teluk Pasir.

Pintu yang terbuka itu merupakan pintu masuk ke sebuah kamar yang gelap yang bakal berujung di kamar pandjang. Seberkas cahaya terlihat datang dari kamar lain. Alima menggendongku menggunakan selendang ke sana ke mari, ke dalam kamar penghubung yang gelap itu, dan melalui pintu yang terbuka. Badan Alima yang kecil dan kurus, terasa begitu berbeda dengan badan mama yang besar. Aku mulai mengantuk dan mendaratkan kepalaku di dadanya, Alima mulai menyanyi “Dung indung, si toetoet bobo…”, lagu yang dimodifikasi dari lagu “Nina Bobo” yang kondang itu. Rupanya, Alima telah memberiku nama kecil, “si kecil toetoet”. Sedangkan dia sendiri menjadi Ma Lima. Seperti halnya di Batavia, huruf “a” di akhir kata diucapkan menjadi “e” yang lembut. Selain di lagu itu, Ma Lima juga muncul di lagu lain yang sudah dimodifikasi, seperti:

Burung kakatua
Mentjlok di djendela
Ma lima sudah tua
Giginja tinggal dua

Serta lagu lain yang pernah aku dengarkan di Cicurug. Dibandingkan Burung Kakatua, lagu yang ini nuansanya lebih sedih:

Ular kili, ular kumbang
Kumbangnya djamur
Ma lima gede utang
Ditagih, mabur

Kedua lagu itu tidak akan aku lupakan. Kedua lagu itu adalah lagu yang paling menyentuh di masa kecilku. Aku tidak pernah tertawa saat mendengarkan kedua lagu tersebut, sekalipun sosok Ma Lima muncul di kedua lagu tersebut dalam peran yang lucu. Kedua lagu itu memang bulan lagu lucu, tapi lagu yang sedih dan melankolis, sejenis lagu yang akan kamu nyanyikan saat patah hati.

Saat aku berusia empat tahun dan tinggal di Cicurug, beberapa kali Alima hendak pergi dari rumah. Suami Alima datang dari Batavia dan memaksa membawa Alima ke Batavia bersamanya. Namanya Djimbar. Wajahnya serius dan dihiasi kumis warna abu-abu. Sosok si Djimbar ini agak berbeda dengan sosok orang pribumi pada umumnya. Mirip pembantu rumah tangga, tapi juga mirip mandor. Dia selalu membawa serta sebuah tongkat. Mama selalu memperlakukan Djimbar dengan penuh hormat. Aku senang dan juga menaruh hormat pada Djimbar, karena dia selalu membawakan aku oleh-oleh. Tapi aku juga menaruh curiga padanya, karena selalu ada kemungkinan dia akan membawa Alima pergi dariku.

Suatu sore, Alima menangis tersedu-sedu dan Djimbar pergi meninggalkan rumah sambil marah. Alima telah memutuskan untuk tetap tinggal dan merawat diriku. Aku menduga bahwa sebelumnya mama membujuk Alima supaya tetap tinggal, “kamu tidak akan meninggalkan si kecil Toetoet khan, Alima?” Yang kemudian dibalas dengan pembantu yang sudah tua itu, “tidak nyonya, jangan khawatir”. Sore itu Alima terus menangis, menolak ajakan suaminya, pria yang penuh harga diri itu. Beberapa tahun kemudian, Alima kembali bersedih. Kali itu karena berita kematian Djimbar suaminya. Anak Alima, Djasima, datang ke rumah kami menemui Alima untuk meminta uang ongkos penguburan. Alima kemudian memberinya sejumlah uang dan mengajaknya bicara Djasima dengan sikap yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sekalipun demikian, Alima tidak pergi mengunjungi penguburan suaminya.

Aku masih menyimpan foto diriku bersama dengan Alima, mungkin setahun sebelum kematiannya. Saat itu aku sudah sedikit lebih tinggi darinya. Mama kemudian menunjukkan foto Alima yang sudah diperbesar. Foto itu menunjukkan sosok Alima saat aku masih kecil sekali dan belum bisa mengenalinya secara sadar. Foto yang diperbesar itu terlihat buruk, tapi menurut mama paling tidak foto itu menunjukkan dengan jelas sosok Alima saat baru pertama kali mulai bekerja bagi keluarga kami. Kata mama padaku, “Foto ini jangan dibuang. Perempuan ini meninggalkan suami dan keluarganya demi kamu”.

Sumber: Eduard du Perron (1999), Country of Origin, Periplus: Singapore. Lihat bagian 7; Child Ducroo.

Profil penulis
Eduard du Perron. Dilahirkan di Meester Cornelis, Jatinegara, 2 November 1899, dari keluarga keturunan Prancis. Dalam novel autobiografinya ini, Country of Origin (Tanah Asal Usul), E. du Perron melukiskan potret ibunya sebagai seorang “nyonya besar” yang mengurus segala seuatu dari serambi belakang. Selain menulis dan berkegiatan dalam dunia sastra, E. du Perron juga banyak membantu kalangan nasionalis awal Indonesia.

Teknologi Tepat Guna untuk Pedalaman

comments 2
Papua / Tokoh

Teen’s DIY Energy Hacking Gives African Village New Hope

Posted using ShareThis

Tautan di atas akan membawa kita ke tulisan tentang pengalaman William Kamkwamba menggunakan teknologi kincir angin di Malawi, Afrika bagian selatan. Selain sulitnya akses kepada pendidikan dan kesehatan, masyarakat yang tinggal di pedalaman juga menghadapi kesulitan akses kepada energi.

Selain kisah di atas, ada beberapa kisah lain yang bisa dijadikan referensi, seperti:

1. Yayasan Air Putih. Membuktikan bahwa Teknologi Informasi punya kekuatan untuk melakukan perubahan sosial. Lihathttp://airputih.or.id/
2. Gomukh. Pengalaman-pengalaman di India soal pengelolaan air. Lihat: http://www.gomukh.org/water_sanitation.html

 

 

Oliana!!!

comments 3
Papua
Oliana Omaleng

 

Di Papua aku tidak banyak berpikir soal hantu. Ada beberapa pengalaman “kehantuan”  memang yang kualami, seperti kaki ditarik mahkluk hijau besar di Hotel Serayu dan lihat orang gemuk pake celana kolor lewat kamarku. Keduanya dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

Di Aroanop aku mendengar beberapa cerita soal Suanggi dari anak-anak. Tapi selebihnya alam Papua tidak membuat aku banyak berpikir soal hantu.

Sampai di suatu sore yang damai sepulang kerja. Aku baru saja berganti pakaian dan nonton TV di ruang tengah. Reza lagi di kamar. Romo kalau tidak salah sedang ke Yogyakarta. Hujan deras di luar.

Kalau tidak salah aku lagi terpaku nonton siaran berita dan sedang berbicara dengan Reza yang masih ngendon di kamar. Tiba-tiba di sudut pandanganku aku menangkap sesosok makhluk kecil berwarna hitam. Apa itu? Batinku. Biasanya aku seperti kalau melihat cicak yang merayap di tembok kamar. Pandangan seperti itu biasanya disertai dengan desiran di hati. Lebih tepatnya seperti jarum jam yang berhenti pas di jam 12 dan baterenya habis. Deg!

Mahkluk hitam itu berdiri di ujung sofa di dekat pintu rumah. Nyata sekali. Akhirnya aku punya cerita melihat hantu! Hantu! Eh, tuyul ding, tepatnya. Tuyul! Perasaanku sama persis seperti yang digambarkan orang-orang yang melihat hantu. Berhenti tercengang kaku dan lemas secara bersamaan.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku berhasil meraih kesadaranku dan langsung teriak keras-keras, “…Aduh, Yuliana..kalau masuk rumah bilang permisi dulu…”

“Tuyul” itu ternyata Yuliana. Anak kecil yang tinggal di rumah sebelah. Nama lengkapnya sebenarnya Oliana Omaleng. Aku baru tahu setelah dia muncul di depan rumah beberapa hari kemudian dengan kaos bergambar foto dirinya dan tulisan Oliana Omaleng di bawahnya. Oalah…Oliana…Oliana…

Hebatnya Oliana tidak kaget mendengar teriakanku. Bahkan ketika aku sampai jungkir balik di sofa untuk membuang kekagetanku. Benar-benar jungkir balik dengan kepala di bawah. Reza sampai kaget mendengar teriakanku dan melihatku jungkir balik di sofa.

Oliana cuma diam saja sambil memegang bajunya yang basah di tangan kiri dan permen di tangan kanannya. Duh. Setelah puas jungkir balik aku meminta dia memakai bajunya yang basah biar tidak masuk angin.

“Hush, diam, cerewet kamu..” bentakku halus padanya ketika dia tanya apa itu masuk angin dan siapa orang di foto anak-anak Kamoro di Potowayburu yang aku pasang di atas TV.

Setelah pakaiannya selesai kupasangkan dan ternyata terbalik, dia langsung memborbardirku dengan banyak pertanyaan, “mana temanmu?” (Romo maksudnya), “Ini siapa?” (Gambar Bunda Maria yang dia tunjuk).

“Ini Bapa Yesus pu mama…” balasku sambil memberikan gambar itu padanya. Eh malah tanya lagi, “namanya siapa?”

“Bapa Yesus pu mama nama Maria.” Duh Bunda Maria inikah caramu mengingatkanku untuk ikut doa Rosario, batinku saat itu sambil teringat email-email undangan doa Rosario yang tidak pernah aku gubris.

Kunjungan Oliana selalu seperti itu sudah. Selalu banyak pertanyaan dan keingintahuan. Tapi baru sekali itu dia bikin kaget orang.

Setelah semua permennya habis dan gambar Bunda Maria berpindah tangannya, sepertinya Oliana sudah merasa selesai dengan kunjungannya. Mungkin juga dia sudah tahu kalau Mamanya mencari.

Aku mengantarkan Oliana ke halaman rumah. Hujan deras sudah berhenti. Hanya gerimis kecil. Oliana berjalan pelan pulang.”Daa…itu mama ada cari…” balasku ketika dia menoleh dan menanyakan sesuatu hal yang tidak kudengar jelas.

Selamat malam, Oliana. Besok kalau sudah besar jangan suka bikin kaget orang dan  jangan lupa sama Om, ya. Kali itu Oliana yang tidak mendengarku karena aku mengucapkannya dalam hati.

 

 

Akimuga

Leave a comment
Papua
Akimuga

Nama Akimuga (aku lebih memilih menggunakan Akimuga katimbang Agimuga, seperti Kaokanao katimbang Kokonao) sudah aku dengar sejak pertama kali kenal dengan Pak Abraham Timang. Demikian pula sejarahnya yang panjang, sekalipun hanya melalui penjelasan-penjelasan yang membingungkan dari Pak Abraham Timang dan Pak Titus Kemong. Di internet dan perpustakaan Kuala Kencana tidak banyak informasi yang aku dapatkan tentang distrik di sebelah timur Timika ini, selain penjelasan singkat mengenai kasus kejahatan dan program-program pemerintah yang dijalankan di Akimuga.

Selama setahun aku di Timika, selalu saja aku tidak sempat ikut perjalanan ke Akimuga. Tapi ada untungnya juga. Karena perjalanan terakhir ke Akimuga diwarnai dengan insiden yang menegangkan, speedboat yang mengangkut tim Biro Pendidikan nyaris meledak. Semua penumpang, kecuali Pak Titus Soway motorist, melompat ke dalam sungai dan demgan segera ditelan kegelapan malam dan kegagapan diri mereka berenang dengan pakaian lengkap.

Kalau aku ikut pasti udah bingung, mau nyelamatin diri atau kamera, atau malah diselamatkan teman karena timbul tenggelam. Kemarin dari helikopter aku lihat sungai yang menjadi jalur ke Akimuga. Panjang sekali. Kalau tidak ada perubahan rencana, sungai itu yang akan aku lalui minggu depan.

Perjalanan akan dimulai dari Kuala Kencana – Timika untuk menjemput teman-teman; Timika – Hiripau, tempat sandar speedboat; Hiripau – (kemungkinan) Amamapare atau mungkin langsung tembak ke Omawita menerobos keluar dari daerah kontrak karya PTFI; Omawita – Otakwa, kalau tidak salah ini sudah mulai masuk daerahnya orang Asmat; Otakwa – Fakafuku; Fakafuku – Kiliarma, kampung pertama dari rangkaian tiga kampung Kiliarma-Amungun-Aramsolki yang legendaris itu.

Semoga dari perjalanan kedua ke Akimuga aku akan membawa lebih banyak cerita. Perjalanan pertama kemarin bukannya tanpa cerita. Ada banyak sekali cerita. Bahkan sebuah cerita yang perlu diketahui semua manusia di Indonesia, bahwa tanah Akimuga pernah dicemari kejahatan militer dan masih terasa hingga kini dampaknya.

Kalau saja aku tidak malas dan pekerjaan tidak banyak pasti akhir minggu sudah bisa kupasang di sini tulisan itu. Tapi aku janji, kawan, akhir minggu ini akan aku selesaikan.

Selalu Ada Jalan Lain

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Current issues / Papua

Sore itu, langit Jila mulai dirundung awan gelap. Hawa dingin mulai datang menyergap. Tapi entah kenapa saya merasa hawa di Jila tidak sedingin di Aroanop dan tidak mengurungkan niat saya untuk berjalan hanya dengan bercelana pendek ke arah sekolah. Mungkin tubuh saya sudah cukup beraklimatisasi dengan hawa dataran tinggi setelah beberapa kali kunjungan ke beberapa tempat di dataran tinggi Kabupaten Mimika.

Tidak jauh dari sekolah yang saya tuju ternyata ada Pak Bambang dan Pak Andre Palambu. Mereka adalah para guru SD Hoya yang baru saja menghabiskan perjalanan dua malam berjalan kaki dari Hoya ke Jila. Mereka sedang duduk-duduk di lima buah batu besar yang tersusun seperti seperangkat meja makan keluarga. Saya langsung bergabung dengan mereka. Tidak lama kemudian, Pak Yohan Zonggonau, kepala Biro Pendidikan LPMAK juga ikut bergabung dengan kami.

Tidak lama kemudian dari arah sekolah datang seorang pria muda. Dia berjalan dengan tenang dan pasti menyusuri jalan setapak di depan SD. Tanpa rasa canggung dia langsung bergabung dengan kami. Pak Bambang dan Andre Palambu ternyata mengenalnya. Pria muda itulah yang menemani mereka dalam perjalanan dari Hoya ke Jila.

Dia ternyata baru pulang dari kebunnya di sebuah desa di selatan Jila. Di kebun miliknya sendiri itu Jakub Dolame menanam berbagai macam tanaman, mulai dari sayuran dan betatas.

Jakub hanya menjawab singkat ketika saya tanya jarak dari tempat kami nongkrong ke kebunnya, “jauh sekali…” balasnya singkat. Ketika saya tanya apakah dia ikut Tes Potensi Akademik untuk penerimaan beasiswa LPMAK tadi siang, dia juga menjawab dengan singkat dan tegas, “tidak…”

Jakub tahu sekali bahwa hari ini akan ada tes penerimaan beasiswa. Teman-temannya di sekolah sudah memberitahunya. Tadi siang rupanya Jakub sedang sibuk di kebunnya. Saya bisa membayangkan dia meneruskan pekerjaannya di kebun setelah sesaat memandang helikopter warna kuning yang kami tumpangi terbang di atas kebunnya. Baru pada sore hari setelah semua urusan di kebun beres dia memutuskan datang ke sekolah.

Jika tidak aral melintang, pada pertengahan tahun ini mereka yang dinyatakan lulus tes beasiswa LPMAK akan dikirim ke berbagai SMA di Jawa dan Sulawesi Utara. Sementara beberapa puluh anak berangkat melanjutkan studi ke luar Mimika, puluhan ratusan bahkan ribuan lainnya tinggal di Mimika dan bergulat dengan kenyataan. Termasuk mungkin Jakub Dolame, yang tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK.

Penerimaan beasiswa LPMAK telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dana komitmen sosial yang disalurkan PTFI, sejak namanya masih dana 1% hingga menjadi dana kemitraan sekarang ini. Sejak itu ribuan anak dari Kabupaten Mimika dibiayai studinya, kebanyakan di luar Kabupaten Mimika.

Namun ternyata seorang Jakub Dolame tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK. Besar kemungkinan masih ada banyak lagi Jakub Dolame yang lain, yang merasa bahwa Jila atau kampung mereka, sekalipun terpencil dan tidak ada listrik, tidak bisa dianggap “terbelakang”, yang merasa tidak harus meninggalkan Mimika untuk mencapai impian mereka. Apakah salah bercita-cita atau menjadi seorang kepala kampung atau petani yang sukses? Apakah semua orang harus jadi dokter atau pilot dan sekolah di Jawa atau Sulawesi?

Dunia pendidikan juga tidak luput dari bias wacana “sifat terbelakang” dan “kemajuan”, bahkan pendidikan adalah produsen utama dan pelestari bias tersebut. Sifat “susah maju” masyarakat Kamoro karena kekayaan alam daerah pesisir dan sifat “keras kepala” orang gunung karena kerasnya kondisi alam adalah salah satu contoh bagaimana pandangan yang bias itu sudah menjadi mitos, diterima begitu saja dan tidak dipertanyakan.

Sedikit sekali orang yang bisa melihat sisi lain karakter masyarakat Amungme dan Kamoro dengan cerdas. Apalagi mereka yang menentukan kebijakan pendidikan nasional di Jakarta sana. Bagi mereka, tidak ada model lain pendidikan di luar standar pendidikan nasional. Tidak ada jalan lain bagi mereka yang ingin “maju” kecuali melalui model pendidikan yang sekarang ini.

Padahal kenyataannya, semakin banyak muncul jalan lain dalam kondisi pendidikan Indonesia dewasa ini, seperti yang ditunjukkan Butet Manurung dengan Sokola Rimba-nya di pedalaman Jambi atau Mas Baharudin di Salatiga dengan SMP Qaryah Thayibah.

Seharusnya Seperti Jan Sochor

Leave a comment
Foto

Jan Sochor

 

Seharusnya seperti ini hasil foto-foto pentahbisan imam Keuskupan Timika beberapa bulan lalu. Banyak sekali sudut pandang dan komposisi bagus yang terlewatkan begitu saja. Padahal cahayanya tidak terlalu terik saat itu, masih pagi. Bedanya mungkin adalah ritme. Arak-arakan di Malaga ini pasti pelan sekali, seperti jalan salib atau passio pada masa Paskah. Sementara arak-arakan pentahbisan imam Keuskupan Timika lebih mirip pesta orang Kamoro dan orang Mee. Saking meriahnya sampai aku sendiri larut hingga nyaris mengikuti gaya jogetnya Mama-mama Kamoro yang rancak itu. Mas Sochor ini pasti punya banyak waktu untuk mengamati dan menentukan komposisi foto.

Anyway, bravo buat mas Jan Sochor, fotografer kelahiran Republik Ceko yang sekarang ulang-alik antara Amerika Selatan dan Eropa.

 

Doa Penulis Gagal Di Hari Ulang Tahunnya

Leave a comment
Tentang kawan

Aku percaya bahwa kata-kata tidak akan pernah mengecewakan aku. Bahwa kata-kata adalah satu-satunya sumber penghidupanku, baik rohani dan jasmani.

Dalam saat-saat tergelap aku kembali menemukan kehidupan dari kata-kata yang Dia tinggalkan di selokan, di bawah kursi warung yang kotor, di jalanan, di ruang tamu yang sepi, dan tuts-tuts komputer yang berdebu.

Dalam saat-saat terbaikku, kata-kata menunjukkan begitu banyak hal yang begitu bisa aku lakukan untuk memuliakan kehidupan dan manusia.

Hanya melalui kedua ruang hatiMu yang aku alami di kehidupan ini itulah aku bisa meraba diriMu dan ikut menjadi bagian dari keIlahianMu, yang bagiku nampak seperti bunga mawar yang tersaput lumpur; karena justru dalam derita Kau menunjukkan diriMu dan dalam kegetiran hidup Kau menemani semua umatMu.

Bahwa penuntun dari jemariku yang menorehkan kata-kata adalah hatiMu yang bekerja melalui semua ciptaanMu, sesamaku yang dina, yang dalam sepi mendengar suara kasutMu namun tak kuasa menumpahkannya dalam kata-kata selain dalam pengharapan sederhana yang terucap lirih.

Aku percaya bahwa kata-kataku adalah perpanjangan dari karya kasihMu, yang senantiasa menawarkan pengharapan dan sebuah alas untuk memasuki pintu hatiMu, bagi siapapun yang membaca atau mendengarnya.

Menaga Nemunki*

Leave a comment
Papua

Menaga Rugby Club

Pada zaman dahulu, semua mahkluk hidup tinggal di dalam perut bumi. Mereka semua hidup tentram di bawah pimpinan Menaga Nemunki (papa Kuskus).
Suatu saat, mereka melihat seberkas sinar menyelinap masuk ke dalam perut bumi dari antara akar-akar pepohonan dan celah-celah bebatuan. Seketika suasana di dalam perut bumi menjadi gaduh.

“Ai, Lau-lau, ko ada lihat itu? Terang sekali” kata burung Mambruk kepada Lau-lau.
”Ada apa di atas sana?” tanya burung kasuari.
”Mari kita pergi lihat,” ajak Lau-lau dan burung Mambruk kepada hewan-hewan yang lain.
”Hei hei, apa-apaan ini? Berhenti sudah,” Menaga Nemunki mencoba mencegah hewan-hewan yang penasaran itu.
“Kitong bahagia di bawah sini, buat apa naik ke sana,” tambah Menaga Nemunki.
“Ah Bapa, kitongss hanya mau lihat ada apa di atassss ssssana,” kata ular sambil berdesis.

Menaga Nemunki tidak berdaya mencegah rasa penasaran akan dunia di atas yang cahayanya masuk melalui akar pepohonan dan celah bebatuan. Yang pertama mencoba adalah burung kasuari, tapi akhirnya dia gagal. Lalu giliran ular yang mencoba. Dia berusaha menyelinap melalui celah bebatuan, tetapi Menaga Nemunki memegang ekor ular dan menariknya kembali hingga terjatuh.

Sedangkan manusia tidak bisa menggali tanpa tidak ketahuan Menaga Nemunki. Badan manusia terlalu besar, sudah pasti akan dengan mudah dilihat Menaga Nemunki.

Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Menaga Nemunki, anjing berhasil membuat sebuah terowongan menuju dunia luar. Terowongan yang dibuat anjing itu cukup besar hingga dapat dilalui semua mahkluk, termasuk manusia.

”Berhenti!” cegah Papa Kuskus. Tapi terlambat sudah, semua mahkluk sudah pergi meninggalkan perut bumi. Sejak itu, semua mahkluk hidup tinggal di atas bumi dengan bahagia.

Semua mahkluk hidup berterima kasih kepada anjing, kecuali Kuskus. Oleh karena itu kini anjing selalu membantu manusia berburu kuskus.

*Dikutip dari Cook, Carolyn Diane Turinsky (1995), The Amung Way; the Subsistence Strategies, the Knowledge and the Dilemma of the Tsinga Valley People in Irian Jaya, Indonesia.
*Legenda asal muasal orang Amungme, pernah dikutip oleh seorang “antropolog” tanpa menyebutkan sumber aslinya dan tanpa memverifikasi ke masyarakat Amungme.

Penembak Misterius di Kaki Gunung

Leave a comment
Current issues / Papua
Jobsite PTFI

Jobsite PTFI

Siapapun pelakunya, rentetan peristiwa penembakan di sekitar areal Freeport ini telah mencapai target mereka; menyebarkan ketakutan. Sejak ditembaknya rombongan Sesko Polhutkam dua hari lalu, suasana jadi agak mencekam. Warga Kuala Kencana yang beraktivitas di Timika, 20 km dari Kuala Kencana, sudah meninggalkan Timika sejak pukul 4 sore. Di siang harinya sempat ada isu penembakan di Kuala Kencana. Ternyata hanya mobil yang melindas botol kosong. Di saat seperti ini memang mulut manusia jadi lebih efektif dan bahkan menyamai kekuatan mulut senapan dalam menyebarkan ketakutan.

Aku sendiri juga jadi ketar-ketir. Kuala Kencana itu kurang lebih sejajar dengan Mile 30-an. Di peta daerah kontrak karya PTFI bisa kamu lihat. Timika berada sejajar dengan Milepost 26.  Penembak misterius itu berkeliaran di daerah antara Milepost 30 hingga Milepost 50-an, daerah perbatasan antara daerah ulayat orang Amungme di pegunungan Jayawijaya dan orang Kamoro di dataran rendah. Bagi masyarakat Amungme dan Kamoro, daerah itu adalah daerah perjumpaan pertama dan selanjutnya menjadi daerah tempat barter antara orang Amungme dan Kamoro. Di tempat itulah para penembak misterius berkeliaran.

Aku bisa membayangkan bagaimana ngerinya naik mobil lewat jalan yang gelap dan hutan di kiri kanan jalan lalu ditembak. Dalam perjalanan pulang dari Ayuka (sekitar 20 km selatan Timika) mobil yang aku tumpangi dengan seorang teman dilempar beberapa “anggota” mabuk yang ingin menumpang. Suaranya keras sekali sampai aku kira mereka menembak. Padahal hanya melempar batu sambil misuh-misuh.  Kami menolak memberi tumpangan karena mereka berenam sementara bagian belakang mobil sudah dipenuhi peralatan fotografi milik kantor. Sebenarnya mobil mau aku hentikan untuk memeriksa kondisi dan, mungkin, balas memaki mereka. Tapi akhirnya aku dan temanku hanya bisa memaki-maki “anggota” mabuk itu sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Suasana sekeliling yang gelap membuat perjalanan jadi terasa lebih menegangkan. Itu baru dilempar batu. Bisa aku bayangkan ngerinya mendengar suara letusan di dalam kegelapan dan mendadak orang di sebelah kita berteriak kesakitan.

Semoga peristiwa ini cepat diungkap dan tidak tertumpuk permasalahan lain lagi. Apalagi setelah dua bom meledak di Jakarta pagi ini.