Selalu Ada Jalan Lain

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Current issues / Papua

Sore itu, langit Jila mulai dirundung awan gelap. Hawa dingin mulai datang menyergap. Tapi entah kenapa saya merasa hawa di Jila tidak sedingin di Aroanop dan tidak mengurungkan niat saya untuk berjalan hanya dengan bercelana pendek ke arah sekolah. Mungkin tubuh saya sudah cukup beraklimatisasi dengan hawa dataran tinggi setelah beberapa kali kunjungan ke beberapa tempat di dataran tinggi Kabupaten Mimika.

Tidak jauh dari sekolah yang saya tuju ternyata ada Pak Bambang dan Pak Andre Palambu. Mereka adalah para guru SD Hoya yang baru saja menghabiskan perjalanan dua malam berjalan kaki dari Hoya ke Jila. Mereka sedang duduk-duduk di lima buah batu besar yang tersusun seperti seperangkat meja makan keluarga. Saya langsung bergabung dengan mereka. Tidak lama kemudian, Pak Yohan Zonggonau, kepala Biro Pendidikan LPMAK juga ikut bergabung dengan kami.

Tidak lama kemudian dari arah sekolah datang seorang pria muda. Dia berjalan dengan tenang dan pasti menyusuri jalan setapak di depan SD. Tanpa rasa canggung dia langsung bergabung dengan kami. Pak Bambang dan Andre Palambu ternyata mengenalnya. Pria muda itulah yang menemani mereka dalam perjalanan dari Hoya ke Jila.

Dia ternyata baru pulang dari kebunnya di sebuah desa di selatan Jila. Di kebun miliknya sendiri itu Jakub Dolame menanam berbagai macam tanaman, mulai dari sayuran dan betatas.

Jakub hanya menjawab singkat ketika saya tanya jarak dari tempat kami nongkrong ke kebunnya, “jauh sekali…” balasnya singkat. Ketika saya tanya apakah dia ikut Tes Potensi Akademik untuk penerimaan beasiswa LPMAK tadi siang, dia juga menjawab dengan singkat dan tegas, “tidak…”

Jakub tahu sekali bahwa hari ini akan ada tes penerimaan beasiswa. Teman-temannya di sekolah sudah memberitahunya. Tadi siang rupanya Jakub sedang sibuk di kebunnya. Saya bisa membayangkan dia meneruskan pekerjaannya di kebun setelah sesaat memandang helikopter warna kuning yang kami tumpangi terbang di atas kebunnya. Baru pada sore hari setelah semua urusan di kebun beres dia memutuskan datang ke sekolah.

Jika tidak aral melintang, pada pertengahan tahun ini mereka yang dinyatakan lulus tes beasiswa LPMAK akan dikirim ke berbagai SMA di Jawa dan Sulawesi Utara. Sementara beberapa puluh anak berangkat melanjutkan studi ke luar Mimika, puluhan ratusan bahkan ribuan lainnya tinggal di Mimika dan bergulat dengan kenyataan. Termasuk mungkin Jakub Dolame, yang tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK.

Penerimaan beasiswa LPMAK telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dana komitmen sosial yang disalurkan PTFI, sejak namanya masih dana 1% hingga menjadi dana kemitraan sekarang ini. Sejak itu ribuan anak dari Kabupaten Mimika dibiayai studinya, kebanyakan di luar Kabupaten Mimika.

Namun ternyata seorang Jakub Dolame tidak menyesal karena tidak ikut tes beasiswa LPMAK. Besar kemungkinan masih ada banyak lagi Jakub Dolame yang lain, yang merasa bahwa Jila atau kampung mereka, sekalipun terpencil dan tidak ada listrik, tidak bisa dianggap “terbelakang”, yang merasa tidak harus meninggalkan Mimika untuk mencapai impian mereka. Apakah salah bercita-cita atau menjadi seorang kepala kampung atau petani yang sukses? Apakah semua orang harus jadi dokter atau pilot dan sekolah di Jawa atau Sulawesi?

Dunia pendidikan juga tidak luput dari bias wacana “sifat terbelakang” dan “kemajuan”, bahkan pendidikan adalah produsen utama dan pelestari bias tersebut. Sifat “susah maju” masyarakat Kamoro karena kekayaan alam daerah pesisir dan sifat “keras kepala” orang gunung karena kerasnya kondisi alam adalah salah satu contoh bagaimana pandangan yang bias itu sudah menjadi mitos, diterima begitu saja dan tidak dipertanyakan.

Sedikit sekali orang yang bisa melihat sisi lain karakter masyarakat Amungme dan Kamoro dengan cerdas. Apalagi mereka yang menentukan kebijakan pendidikan nasional di Jakarta sana. Bagi mereka, tidak ada model lain pendidikan di luar standar pendidikan nasional. Tidak ada jalan lain bagi mereka yang ingin “maju” kecuali melalui model pendidikan yang sekarang ini.

Padahal kenyataannya, semakin banyak muncul jalan lain dalam kondisi pendidikan Indonesia dewasa ini, seperti yang ditunjukkan Butet Manurung dengan Sokola Rimba-nya di pedalaman Jambi atau Mas Baharudin di Salatiga dengan SMP Qaryah Thayibah.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s