Menaga Nemunki*

Leave a comment
Papua

Menaga Rugby Club

Pada zaman dahulu, semua mahkluk hidup tinggal di dalam perut bumi. Mereka semua hidup tentram di bawah pimpinan Menaga Nemunki (papa Kuskus).
Suatu saat, mereka melihat seberkas sinar menyelinap masuk ke dalam perut bumi dari antara akar-akar pepohonan dan celah-celah bebatuan. Seketika suasana di dalam perut bumi menjadi gaduh.

“Ai, Lau-lau, ko ada lihat itu? Terang sekali” kata burung Mambruk kepada Lau-lau.
”Ada apa di atas sana?” tanya burung kasuari.
”Mari kita pergi lihat,” ajak Lau-lau dan burung Mambruk kepada hewan-hewan yang lain.
”Hei hei, apa-apaan ini? Berhenti sudah,” Menaga Nemunki mencoba mencegah hewan-hewan yang penasaran itu.
“Kitong bahagia di bawah sini, buat apa naik ke sana,” tambah Menaga Nemunki.
“Ah Bapa, kitongss hanya mau lihat ada apa di atassss ssssana,” kata ular sambil berdesis.

Menaga Nemunki tidak berdaya mencegah rasa penasaran akan dunia di atas yang cahayanya masuk melalui akar pepohonan dan celah bebatuan. Yang pertama mencoba adalah burung kasuari, tapi akhirnya dia gagal. Lalu giliran ular yang mencoba. Dia berusaha menyelinap melalui celah bebatuan, tetapi Menaga Nemunki memegang ekor ular dan menariknya kembali hingga terjatuh.

Sedangkan manusia tidak bisa menggali tanpa tidak ketahuan Menaga Nemunki. Badan manusia terlalu besar, sudah pasti akan dengan mudah dilihat Menaga Nemunki.

Tapi ternyata, tanpa sepengetahuan Menaga Nemunki, anjing berhasil membuat sebuah terowongan menuju dunia luar. Terowongan yang dibuat anjing itu cukup besar hingga dapat dilalui semua mahkluk, termasuk manusia.

”Berhenti!” cegah Papa Kuskus. Tapi terlambat sudah, semua mahkluk sudah pergi meninggalkan perut bumi. Sejak itu, semua mahkluk hidup tinggal di atas bumi dengan bahagia.

Semua mahkluk hidup berterima kasih kepada anjing, kecuali Kuskus. Oleh karena itu kini anjing selalu membantu manusia berburu kuskus.

*Dikutip dari Cook, Carolyn Diane Turinsky (1995), The Amung Way; the Subsistence Strategies, the Knowledge and the Dilemma of the Tsinga Valley People in Irian Jaya, Indonesia.
*Legenda asal muasal orang Amungme, pernah dikutip oleh seorang “antropolog” tanpa menyebutkan sumber aslinya dan tanpa memverifikasi ke masyarakat Amungme.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s