Oliana!!!

comments 3
Papua
Oliana Omaleng

 

Di Papua aku tidak banyak berpikir soal hantu. Ada beberapa pengalaman “kehantuan”  memang yang kualami, seperti kaki ditarik mahkluk hijau besar di Hotel Serayu dan lihat orang gemuk pake celana kolor lewat kamarku. Keduanya dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.

Di Aroanop aku mendengar beberapa cerita soal Suanggi dari anak-anak. Tapi selebihnya alam Papua tidak membuat aku banyak berpikir soal hantu.

Sampai di suatu sore yang damai sepulang kerja. Aku baru saja berganti pakaian dan nonton TV di ruang tengah. Reza lagi di kamar. Romo kalau tidak salah sedang ke Yogyakarta. Hujan deras di luar.

Kalau tidak salah aku lagi terpaku nonton siaran berita dan sedang berbicara dengan Reza yang masih ngendon di kamar. Tiba-tiba di sudut pandanganku aku menangkap sesosok makhluk kecil berwarna hitam. Apa itu? Batinku. Biasanya aku seperti kalau melihat cicak yang merayap di tembok kamar. Pandangan seperti itu biasanya disertai dengan desiran di hati. Lebih tepatnya seperti jarum jam yang berhenti pas di jam 12 dan baterenya habis. Deg!

Mahkluk hitam itu berdiri di ujung sofa di dekat pintu rumah. Nyata sekali. Akhirnya aku punya cerita melihat hantu! Hantu! Eh, tuyul ding, tepatnya. Tuyul! Perasaanku sama persis seperti yang digambarkan orang-orang yang melihat hantu. Berhenti tercengang kaku dan lemas secara bersamaan.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku berhasil meraih kesadaranku dan langsung teriak keras-keras, “…Aduh, Yuliana..kalau masuk rumah bilang permisi dulu…”

“Tuyul” itu ternyata Yuliana. Anak kecil yang tinggal di rumah sebelah. Nama lengkapnya sebenarnya Oliana Omaleng. Aku baru tahu setelah dia muncul di depan rumah beberapa hari kemudian dengan kaos bergambar foto dirinya dan tulisan Oliana Omaleng di bawahnya. Oalah…Oliana…Oliana…

Hebatnya Oliana tidak kaget mendengar teriakanku. Bahkan ketika aku sampai jungkir balik di sofa untuk membuang kekagetanku. Benar-benar jungkir balik dengan kepala di bawah. Reza sampai kaget mendengar teriakanku dan melihatku jungkir balik di sofa.

Oliana cuma diam saja sambil memegang bajunya yang basah di tangan kiri dan permen di tangan kanannya. Duh. Setelah puas jungkir balik aku meminta dia memakai bajunya yang basah biar tidak masuk angin.

“Hush, diam, cerewet kamu..” bentakku halus padanya ketika dia tanya apa itu masuk angin dan siapa orang di foto anak-anak Kamoro di Potowayburu yang aku pasang di atas TV.

Setelah pakaiannya selesai kupasangkan dan ternyata terbalik, dia langsung memborbardirku dengan banyak pertanyaan, “mana temanmu?” (Romo maksudnya), “Ini siapa?” (Gambar Bunda Maria yang dia tunjuk).

“Ini Bapa Yesus pu mama…” balasku sambil memberikan gambar itu padanya. Eh malah tanya lagi, “namanya siapa?”

“Bapa Yesus pu mama nama Maria.” Duh Bunda Maria inikah caramu mengingatkanku untuk ikut doa Rosario, batinku saat itu sambil teringat email-email undangan doa Rosario yang tidak pernah aku gubris.

Kunjungan Oliana selalu seperti itu sudah. Selalu banyak pertanyaan dan keingintahuan. Tapi baru sekali itu dia bikin kaget orang.

Setelah semua permennya habis dan gambar Bunda Maria berpindah tangannya, sepertinya Oliana sudah merasa selesai dengan kunjungannya. Mungkin juga dia sudah tahu kalau Mamanya mencari.

Aku mengantarkan Oliana ke halaman rumah. Hujan deras sudah berhenti. Hanya gerimis kecil. Oliana berjalan pelan pulang.”Daa…itu mama ada cari…” balasku ketika dia menoleh dan menanyakan sesuatu hal yang tidak kudengar jelas.

Selamat malam, Oliana. Besok kalau sudah besar jangan suka bikin kaget orang dan  jangan lupa sama Om, ya. Kali itu Oliana yang tidak mendengarku karena aku mengucapkannya dalam hati.

 

 

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

3 Comments

  1. reza says

    ada yang kurang. sebelum ucapan “aduh yuliana” adalah teriakan pembuaka “wwwuuuuaaaaaaa!!!!!!!!”. what a moment.

  2. reza says

    aku aja sempat tertegun dan ga berani beranjak dari depan pintu kamar mandi apalagi menolehkan kepala ke kiri untuk liat apa yang ada di depan pintu masuk rumah. sampai kamu bilang “aduh yuliana” baru degdegan ku ilang. walah tnyata tuyul eh oliana toh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s