Nasi Goreng Krengsengan Cak San

comments 3
Catatan Perjalanan / Tentang kawan / Tentang kota

 

collage caksan

Daerah Tegalsari, Surabaya, dulu cuma aku ingat sebagai lokasi markas sebuah organisasi mahasiswa yang sering jadi tempat rapat perencanaan demonstrasi menentang Soeharto. Selebihnya, Tegalsari yang aku ingat adalah sebuah daerah dengan jalanan yang minim pencahayaan lampu jalan. Tapi Tegalsari sekarang berubah, jadi daerah kawula muda Surabaya untuk melewatkan malam minggu.

Di situ sekarang ada dua tempat makan yang menarik. Yang pertama namanya Kedai Tua Baru. Di salah satu situsweb yang mengulas soal tempat itu, ditulis bahwa Kedai itu good for groups, alias cocok untuk makan rame-rame, dengan menu makanan-makanan tradisional Jawa dan khas Surabaya dengan harga yang cukup masuk akal. Fasad bangunan cukup menarik. Hasil googling gambar juga menunjukkan ruangan dalam yang luas dihiasi berbagai macam pernik interior dan gaya dekorasi kinfolk-ish dan instagramable. Bahkan dilengkapi dengan ruang penitipan anak-anak.

Yang kedua, namanya Bakmi Jogja Trunojoyo. Restoran dengan menu andalan Bakmi Jogja itu bertempat di sebuah bangunan tua yang dipertahankan arsitekturnya. Sama seperti Kedai Tua baru, Nampak bagus dan nyaman utk makan-makan bersama teman-teman atau kekasih. Kalau tidak salah aku pernah makan Bakmi Jogja seperti itu di dekat kantor Kontras Surabaya yang terletak di daerah Jalan Kartini. Aku masih ingat sekali memotret tulisan kasir dalam aksara Jawa dan mengunggahnya di Instagram. Sambil melintas aku melihat bingkai instagram terjatuh di fasad gedung peninggalan belanda itu. Lalu ada sekian puluh like dan beberapa komentar.

Tapi lalu aku sadar kalau hapeku batereinya habis, lapar karena telat makan malam dan sedang di Surabaya. Kalau mau makan penyetan ya di depan Unair atau Wonokromo, kalau mau Nasi goreng krengsengan ya ke Cak San di Embong Wungu atau Ondomohen, mau bakmi Yogya ya, ya ke Bakmi Trunojoyo situ, masa mau ngojek sampai ke Wirobrajan atau Monjali Yogya. Hehe. Lagipula kedua tempat itu sepertinya sdh mau tutup, karena saat aku melintas di situ, jam sudah menunjukkan 21:40. Daripada ditolak tukang parkir lebih aku meneruskan perjalananke Embong Wungu, tidak jauh dari Tegalsari.

Beberapa malam sebelumnya aku sempat salah sasaran. Setelah sekian lama tidak tinggal di Surabaya dan akibat malas bertanya, aku dan seorang teman kesasar makan di warung nasi goreng krengsengan yang kita kira diampu Cak San dan ternyata bukan. Lokasinya persis di samping situs patung Joko Dolog. Harganya murah, dua porsi cuma sepuluh ribu.

Beda dengan daerah Tegalsari, suasana Embong Wungu tidak jauh berbeda dari tahun 1997. Gelap tanpa penerangan jalan yang memadai dan jajaran seng di kiri jalan. Di situ berjejeran mobil-mobil yang penumpangnya sedang menikmati Nasi Goreng Krengsengan Cak San.

Kalau ditanya apa istimewanya Nasi Goreng Krengsengan Cak San, bisa dipastikan aku dan segenap penikmatnya malam itu tidak memiliki jawaban jelas. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Nasi Goreng Cak San itu enak karena kombinasi dari manisnya mie, datarnya rasa nasi goreng, dan gurihnya telur dadar. Tapi apa ya bener karena itu. Dibandingkan Nasi Goreng Krengsengan di Ondomohen, aku lebih cocok dengan masakan Cak San. Mungkin kapan-kapan aku harus ajak Coki, sang koki gadungan yang kini masuk jajaran delapan cowok berpengaruh 2015 (versi Mojok.co).

Cak San sendiri sudah meninggal dunia sejak tahun 2000-an. Rumahnya di daerah Ngaglik, Surabaya. Seorang pemuda yang bekerja di situ sudah tidak tahu menahu lagi soal Cak San. Ngakunya baru beberapa bulan kerja sebagai koki. Sebenarnya aku pengen ngajak ngobrol seorang ibu yang berfungsi sebagai kasir, sambil leyeh-leyeh beralaskan tikar. Sebuah kipas angin dan lampu neon membuatnya semakin nampak nyaman. Sayang ibu sedang asyik ngobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya pelanggan setia warung Cak San.

Mungkin pemuda itu sedang membicarakan sejarah Nasi Goreng Krengsengan Cak San, tentang asal muasal kata Krengsengan, kenapa bisnis sederhananya itu mampu bertahan sekian lama, kenapa tanpa business plan, di-rebranding jadi Cak San Eatery, atau dikelola profesional seperti Sambal Bu Rudy, Nasi Goreng Krengsengan Cak San tetap bisa eksis di ingatan kolektif orang muda Surabaya, seperti halnya warung-warung Nasi Bebek di Surabaya.

Setelah dua botol teh, akhirnya aku memilih pulang. Rasanya aku masih punya kesempatan lain untuk ngobrol dengan ibu itu soal Cak San. Toh, barisan seng pembatas lahan kosong tempat mangkal Cak San masih akan ada di situ sampai tahun depan, sampai ada investor yang akan membuka barisan seng atau pagar beton, menggusur rumah tua yang indah demi sebuah budget hotel atau cafe.

Sambil membayar, aku membayangkan betapa suramnya nasib bangunan tua dan usaha wong cilik di kota ini. Seakan tahu apa yang aku lamunkan, dia terdiam menatapku.

Mas, katanya lirih. Iya kenapa? balasku. Duike kurang iki, mas, katanya. Oalah, ternyata aku lali durung bayar dua botol teh. Sepurane, cak. Hehe.

Damai

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Tentang kawan

IMG_1406_res

Damai. Kata ini sering sekali saya ucapkan di gereja, terutama sambil menyanyikan penuh penghayatan bait terakhir lagu Anak Domba Allah. Saya ingin ada kedamaian dalam kehidupan pribadi saya, dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan sesama, dan dalam kehidupan berbangsa kita (hadeh…).

Tapi kalau dipikir-pikir selama setahun ini, saya jauh sekali dari apa yang dipesankan Santo Fransiskus dari Asisi. Saya masih sering ikut jadi pihak yang membakar bara perselisihan, minimal ikut mengipasi. Sekalipun perselisihan yang saya maksud itu tidak ada apa-apanya dibanding pertikaian Pak Rizal Ramli dengan Pak Sudirman Said atau antara Pak Sudirman Said dengan Setyo Novanto yang kemudian menggusur sinisme “Damai itu indah” dan “Damai itu 50.000” dengan “Yang penting kita happy.”

Saya dua level di bawah seorang teman dari negeri seberang yang baru saja belajar Bahasa Indonesia dan senang sekali dengan kata “Damai”, hingga dia ingin Damai menjadi nama anaknya kelak.

Karena itu, saya sendiri harus berdamai dengan diri. Mengakui kekurangan dan berharap tahun depan bisa lebih nyata mewujudkan apa yang selalu jadi inti doa, mendapat dan membagikan damai.

Dengan doa teman-teman, bahkan bisa jadi seperti yang dipesankan Romo Dick Hartoko jauh di tahun 1978 yang lampau, saat usia saya masih dua bulan, memiliki “tekad untuk menegakkan perdamaian akibat keadilan, biarpun kita hanya merupakan minoritas, minoritas Abraham.”

Atau seperti paitua Mozes Kilangin, yang bersama-sama berdoa dengan para anggota dua keret/marga yang sudah berdamai, minta ampunan Tuhan atas kesalahan yang dilakukan dengan berperang.

Selamat Natal. Selamat menghayati dan menjalankan Damai.

Asap Papua

comment 1
Current issues / Papua / Tentang kota

Di Mimika, bulan Oktober merupakan penanda berakhirnya musim hujan, meredanya gejolak laut Arafuru, dan melimpahnya udang dan hewan-hewan lainnya di delta sungai-sungai Mimika. Dulu sempat ada festival “Kamoro Kakuru” yang diadakan setiap bulan Oktober.

Tapi rupanya Oktober tahun ini adalah Oktober yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain udang, yang muncul hampir di seluruh Tanah Papua adalah kabut asap. Serupa dengan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

Semua dimulai pada 8 Oktober 2015. Saat itu dua penerbangan dari Makassar dan Denpasar yang biasanya mendarat jam 6 pagi di Timika terpaksa dialihkan ke Jayapura karena kabut di Bandara Mozes Kilangin.

Sekitar jam 10 pagi matahari sudah mulai nampak, tapi pesawat masih belum bisa diberangkatkan ke Timika. Pesawat baru bisa ke Timika sekitar jam 2 siang. Akibatnya, jadwal pertemuan penting yang sedianya dihadiri beberapa orang dari Jakarta terpaksa ditunda hingga setelah jam makan siang. Untunglah pesawat-pesawat kecil milik Trigana, Susi Air serta milik gereja seperti AMA dan CAMA masih berani menembus kabut asap menuju kampung-kampung di pedalaman Mimika.

Sekalipun dibilang kabut, itu bukan kabut pagi yang biasa aku lihat di Timika, Kuala Kencana, atau di dataran tinggi Mimika. Di Timika, kabut biasa mulai menghilang bersamaan dengan sinar matahari jam 6 pagi atau ketika hujan turun. Di dataran tinggi, kabut menghilang di jam yang sama tapi muncul lagi sekitar jam 11 siang.

Searah jarum jam: Rudi Wantik, warga Timika (Jumat, 16 Oktober 2015), dengan maskernya, Suasana Bandara Mozes Kilangin Timika, Kuala Kencana. (Minggu 18 Oktober 2015)

Searah jarum jam: Rudi Wantik, warga Timika (Jumat, 16 Oktober 2015), dengan maskernya, Suasana Bandara Mozes Kilangin Timika, Kuala Kencana. (Minggu 18 Oktober 2015)

Memasuki minggu ketiga Oktober, kabut makin nampak berbeda dari kabut pagi biasanya. Mulai muncul posting di Facebook soal asap, terutama yang tinggal di selatan kota Timika seperti SP 4. Di daerah yang mengarah ke pelabuhan Paumako itu kabut asap memang lebih terasa dibandingkan di Timika atau Kuala Kencana.

Keluhan dari warga Timika dan Kuala Kencana baru bermunculan di media sosial setelah tanggal 15 dan 16 Oktober, terutama setelah semua penerbangan ke dan dari Timika dibatalkan dan asap semakin parah di kedua kota itu.

Pemandangan Timika dan Kuala Kencana yang biasanya cerah dan hujan lebat jadi kelabu seperti kota-kota di Sumatera dan Kalimantan, sekalipun belum terlalu parah. Orang-orang mulai pakai masker dan menduga bahwa asap datang dari perkebunan kelapa sawit di Iwaka, sebelah barat Kuala Kencana. Kemudian ada yang bilang bahwa ini adalah asap kiriman dari Merauke atau kabupaten tetangga seperti Asmat atau Mappi. Melalui twitter aku tanyakan ke teman di Merauke, tapi ternyata pace bilang di kota Merauke cuaca cerah seperti biasa. Penasaran dengan asal muasal asap, aku terus memaksa Mbah Google bekerja, hingga akhirnya aku menemukan situsweb Global Forest Fire Watch.

Asap Papua-2

Dari citra satelit NASA yang dimuat di situsweb Global Forest Fire Watch ini, kelihatan kalau angin berhembus dari Pulau Yos Sudarso di selatan Papua. Menurut BBMKG (Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Wilayah V Jayapura, terdapat 163 titik panas di wilayah selatan Papua dan 46 titik di provinsi Papua Barat (Kompas, Senin 19 Oktober 2015). Asap yang ditimbulkan kebakaran itu kemudian dibawa angin ke arah barat laut Papua, lalu mendadak berbelok tajam ke arah timur tepat di muara jejaring sungai yang mengarah ke Timika. Karena itu Timika mungkin kota yang paling parah menerima asap kebakaran ini. Sementara kota Merauke yang lokasinya paling dekat dengan titik api malah cerah.

Ada dua hal yang diduga menjadi penyebab kabut asap ini. Yang pertama, praktik pembukaan lahan yang dilakukan warga masyarakat untuk membuka lahan baru pertanian dan perburuan rusa di wilayah Kabupaten Merauke. Praktik ini sebenarnya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu, tapi tidak pernah sampai menimbulkan kabut asap karena curah hujan di Timika yang tinggi. Yang kedua, akibat kebakaran lahan di areal kelapa sawit di Kabupaten Merauke. Beberapa tahun belakangan ini memang semakin banyak hutan di Papua yang berganti jadi lahan kelapa sawit, termasuk di Kabupaten Mimika.

Menurut beberapa paitua Amungme, kabut tebal ini sudah mereka kenal sejak lama. Dalam bahasa Amungme disebut “Kiem”. Terjadinya setiap lima tahun sekali dan dialami di semua kampung orang Amungme, baik yang di dataran tinggi ataupun dataran rendah Mimika. “Kiem” juga menandai datangnya musim buah-buahan dan penyakit. Dulu, orang Amungme menghindari daerah dataran rendah setelah “Kiem” datang karena penyakit Malaria merebak.

Dari semua fakta dan cerita yang aku dengar itu, hanya satu yang aku alami, bahwa curah hujan di Timika semakin berkurang. Bulan Juli tahun 2008 saat aku pertama tiba di Timika, hujan terus mengguyur Timika hingga bulan Oktober. Tahun-tahun berikutnya, curah hujan kurasa semakin berkurang, hingga tahun 2015 ini hujan malah digantikan kabut asap yang mencekik pernafasan.

Sebelum kabut asap yang melanda Mimika dan beberapa kabupaten di Pulau Papua ini, asap adalah bagian dari keseharian kehidupan di Papua. Pemuda-pemuda Amungme berkumpul di rumah bujang yang dipenuhi asap perapian. Semakin tinggi dan pekat asap bakar batu, semakin meriah pula acaranya. Orang Kamoro membakar dedaunan sambil mengerjakan sampan mereka untuk mengusir nyamuk. Asap membubung dari pembakaran ikan di Jayapura dan Manokwari. Di sisi lain, dekatnya orang Papua dengan asap juga membuat banyak anak-anak Papua yang terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Sekarang makin nyata bahwa ada ancaman yang lebih mengerikan selain banyaknya anak-anak Papua yang mengidap ISPA, yaitu sudah takluknya bentang alam dan hutan di Papua oleh kekuatan industri, dengan kebakaran hutan dan perubahan iklim. Kabut asap kali ini sepertinya hanya permulaan saja dari anomali kondisi alam di Papua.

Oh… Begitu kah? Balas seorang teman saat aku bicara kabut asap sebagai awal anomali kondisi alam. Yang jelas setelah ini akan banyak penyakit, Ao (Amungme: Kamu) lihat saja, katanya yakin.

Ya, kita lihat saja. Balasku sambil membetulkan jaketku dan terbatuk-batuk. Udara Timika di malam hari tanggal 17 Oktober itu terasa berat. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena Karbon dioksida dan Sulfur oksida yang memenuhi udara Timika. Dalam hati aku berdoa semoga besok hari Minggu pagi sudah bisa lihat awan-awan dan puncak Nemangkawi yang, dalam diamnya, mengabarkan musim baru yang akan datang, yang belum pernah dialami Papua sebelumnya.

Rumah Kucing

comments 9
Keluarga / Papua

Sepeninggal Kasbi pada bulan Oktober 2011, tidak ada kucing lagi yang tinggal di dalam rumah kontrakanku. Aku bahkan sempat berjanji untuk tidak pelihara hewan lagi. Berat membayangkan kalau harus kehilangan lagi. Apalagi rumah cuma ngontrak. Hingga suatu hari, terjadilah suatu rangkaian peristiwa yang membuatku harus membuat sebuah tempat tersendiri untuk kucing. Yang aku ceritakan berikut ini cuma ringkasannya saja. Lain kali akan kuceritakan secara khusus soal nama-nama kucing yang aku sebut di bawah ini. 

Semua bermula dari datangnya seekor kucing yang bernama Ben. Kucing garong berwarna oranye itu awalnya sering nampak di halaman dan di rumah sebelah, Dia jadi sering ke rumah setelah aku beri makanan kucing peninggalan Kasbi. Suatu hari Ben muncul di rumah dengan seekor anak kucing dekil berwarna oranye-putih yang pemalu tapi setelah kenal dengan rumahku dia sangat manja dan gila perhatian. Setelah sempat tidak punya nama selama seminggu, hingga akhirnya aku beri nama dia Minyu.

IMG_9282_res

Ben dan Minyu (2012)

Di rumahku, Minyu jadi pusat perhatian dan hiburan. Karenanya, dia jadi kucing yang sehat, cerdas, dan nakal tentu saja (mungkin karena Minyu selalu tinggal di dalam rumah). Ben semakin lama semakin berkurang kunjungannya ke rumahku karena selalu diserang Minyu.

Sekitar tiga bulan kemudian, datanglah seekor kucing belang telon (tiga warna) yang lucu. Ada bekas luka di lehernya bekas digigit kucing garong. Minyu, yang sudah jadi mother superior di rumahku, mendua sikapnya dengan kehadiran kucing itu. Kadang nampak memusuhi, kadang nampak senang. Si belang telon bergeming. Dia sudah muak dengan para kucing garong yang hanya menginginkan tubuhnya. Dia perlu rumah dan kasih sayang. Akhirnya dia aku terima untuk tinggal di rumah, sekalipun aku curiga dia sudah hamil. Si belang telon itu kuberi nama Jennifer Mekitron. Nama panggilan: Onyong.

Ternyata Onyong memang hamil. Dia melahirkan lima anak kucing yang lucu-lucu. Dengan pengalamanku memelihara kucing dan anjing, aku mencoba merawat mereka. Resikonya jelas, aku keluar uang lebih untuk makanan dan pasir kucing. Untungnya di supermarket di Kuala Kencana dua barang itu tersedia. Dua anak Onyong kemudian meninggal karena kalah bersaing puting susu.  Maka jadilah aku tinggal dengan lima ekor kucing di dalam rumah; Minyu, Onyong dan anak-anaknya, Minka, Minku, Minke.

IMG_1538_res

Searah jarum jam; Onyong, Minke, Minka, Minku, Minyu (2012)

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Minyu aku steril. Rencananya, setelah Minyu sembuh aku akan mensteril Onyong. Tapi rupanya benar apa kata orang, manusia berencana Tuhan menentukan. Pada suatu hari Onyong kabur dari rumah dalam kondisi sedang heat alias birahi. Para kucing garong yang banyak berseliweran di depan rumah tentu tidak melewatkan kesempatan itu. Onyong akhirnya hamil dan beranak lagi. Kali ini anaknya empat dan semua sehat walafiat. Mereka kuberi nama, Beni, Poni, Susi, dan Lusi. Jadi kini rumah kontrakanku dihuni 9 ekor kucing. Sebulan kemudian Pak Asep pemilik rumah bilang kalau kontrakan rumah tidak bisa diperpanjang karena akan dipakai keluarga Pak Asep. Cocok dah.

Untungnya, rumah di seberang rumah kontrakanku akan ditinggalkan pemiliknya pindah ke Jakarta. Mereka setuju dengan penawaran harga dan syarat yang aku ajukan; boleh bikin rumah kucing. Setelah sepakat aku langsung minta bantuan Kang Oji, seorang teknisi andalan di Kuala Kencana untuk membuatkan rumah kucing yang sudah aku desain.

Sketsa Rumah Kucing

Sketsa Rumah Kucing

Skestsa rumah kucing

Skestsa rumah kucing

Tepat seminggu sebelum aku harus keluar dari rumah Pak Asep, rumah kucing sudah rampung dikerjakan Kang Oji dan sangat cocok dengan yang aku bayangkan dan lihat di internet. Ada beberapa hal yang tidak sesuai rencana. Yang pertama, lokasinya. Awalnya aku ingin rumah kucing itu berada di halaman belakang. Tapi karena pemilik rumah membangun kamar-kamar kost di belakang, maka lokasi rumah kucing terpaksa dibangun di samping rumah. Kedua, akses ke dalam rumah. Aku ingin mereka bebas keluar masuk rumah dan rumah mereka. Rencana ini aku batalkan karena pemilik rumah tidak mengizinkan rumahnya dimasuki kucing. Oke, batinku, aku simpan rencana ini untuk rumahku sendiri kelak.

Rumah kucing, atau dalam bahasa Inggris disebut Cat Enclosure itu, luasnya 1,8 x 5 m. Cukup lah untuk menampung sembilan ekor kucing.

Kang Oji mengerjakan rumah kucing

Kang Oji mengerjakan rumah kucing

Sudah jadi. Semalam sebelum kucing2 mulai masuk.

Sudah jadi. Semalam sebelum kucing2 mulai masuk.

Interior

Interior

Kini, setiap malam aku menyepi di tengah-tengah para kucing yang sliweran. Nyepi untuk merenungkan peristiwa yang ku alami seharian, memikirkan masa depan kucing-kucing ini jika kontrakan rumah habis dan harus pindah rumah. Atas nasehat seorang teman, aku kini biasanya mengajak mereka berdoa supaya aku bisa punya rumah yang lebih layak untuk mereka.

Mohon doanya, ya. 

Surat untuk Pak Ahok

comment 1
Catatan Perjalanan / Tentang kota / Tokoh
Peta Interaktif Jakarta di Galeri Antara

Peta Interaktif Jakarta di Galeri Antara

Yang saya hormati Pak Ahok.

Kenalkan, Pak, nama saya Onny, warga Timika, Papua. Sekalipun tempat tinggal saya ribuan kilometer jaraknya dari Jakarta, beberapa kali dalam setahun saya pergi ke Jakarta karena urusan pekerjaan atau pribadi.

Selain karena ikut-ikutan tren mengirim surat terbuka, saya ingin cerita-cerita dengan Anda soal Jakarta. Bukan solusi soal macet, banjir, atau penggusuran, bukan juga usulan soal pembentukan “sentra kuliner dan wisata” seperti yang banyak digagas sekarang, tapi soal perkara lain yang mungkin tidak penting bagi banyak orang dan mungkin bagi Anda sebagai Gubernur; Soal nyawa sebuah kota.

Sekalipun ada banyak saudara dan teman di Jakarta, biasanya saya memilih untuk tinggal di hotel di tengah kota Jakarta. Masa jalan-jalan di Jakarta dengan saudara-saudara sudah lama berakhir sejak saya SMA. Hampir semua teman sudah berkeluarga dan tinggal di pinggiran kota atau bahkan di luar Jakarta. Sesekali saja saya datang berkunjung ke rumah saudara atau teman. Sekarang ini saya lebih suka jadi turis lokal, sendirian menjelajahi jalanan ibukota negara, ibu yang tidak kunjung saya kenal dengan baik.

Daerah favorit tempat saya menginap adalah di daerah tengah kota seperti Menteng atau Pasar Baru. Dari situ saya bisa jalan-jalan ke Cikini, Taman Ismail Marzuki, Kemang, atau Pasar Baru, dengan berbagai macam alat transportasi. 

Ada perasaan aneh Pak, setiap kali saya ke Jakarta. Antara males dan senang. Males karena macetnya. Sebelum tiba di Jakarta, tubuh saya bahkan sudah merasakan lamanya menunggu bagasi di Bandara Soekarno Hatta, pegalnya duduk di kursi penumpang dalam mobil yang terjebak macet di Tol Karang Tengah atau di Rasuna Said.

Senangnya, karena ada begitu banyak hal yang bisa saya lihat, jumpai, dan pikirkan di Jakarta. Kota ini punya sejarah yang panjang dan membekas dalam di setiap sudut wilayahnya. Perasaan semacam itu tidak bisa saya dapatkan jika saya bepergian dengan teman atau saudara, yang pasti akan langsung mengajak ke mal.

Hampir semua mal di Jakarta sudah pernah saya kunjungi. Mulai dari Grand Indonesia, Mal Kota Casablanca (yang diindonesiakan jadi Kasablanka. Sungguh ahistoris) Atrium Senen, hingga Pluit Mal. Di sana saya bertemu dengan teman, melihat-lihat dan membeli berbagai macam barang, minum kopi, dan mengamati pengunjung mal, khususnya mbak-mbak Jakarta yang sering membuat saya hilang konsentrasi. Di dalam mal itu saya merasa hilang, merasa jadi orang asing di kota tanpa sejarah, yang identik dengan kota manapun di Indonesia dan di dunia ini,

Saya pernah menginap di sebuah hotel yang cukup bagus di daerah Serpong. Kota mandiri di barat Jakarta yang jadi simbol berkembangnya sebuah kelas menengah Indonesia, jalanan luas, mal besar, rumah sakit internasional, toko mobil mewah. Suatu pagi usai sarapan saya nongkrong di teras ruang makan dan memandangi jalanan pusat kota baru itu. Usai nongkrong saya putuskan untuk pindah hotel di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Teman seperjalanan saya langsung tersenyum sinis ketika saya bilang mau pindah. Mau cari hiburan malam, kah? Tanyanya.

Seperti itulah, Pak, kesan yang sering saya dapatkan setiap kali menyebutkan daerah di Jakarta pusat. Jakarta yang sebenarnya sekarang malah dikenal sebagai Jakarta-yang-tidak-semestinya, wilayah Jakarta yang tidak ada mall besar dan karenanya tidak oke, banyak tempat hiburan malam macam Malioboro atau Classic yang karenanya cuma pantas didatangi diam-diam lalu ditinggalkan begitu saja di dini hari.

Mungkin cuma wisatawan mancanegara saja yang suka tinggal di daerah Pasar Baru. Ada yang sedang transit dari berbagai daerah tujuan wisata di Indonesia atau memang sengaja ingin pelesir di Jakarta. Yang dimaksud Jakarta itu cuma daerah Kota Lama Jakarta dengan berbagai museumnya. Sepasang bule Prancis yang saya ajak ngobrol di depan minimarket terkesan seperti kagol dengan Jakarta, yang ternyata sangat tidak turistik. Usai ngobrol, mereka berjalan ke arah Pasar Baru. Mungkin untuk cari bir dingin yang sekarang susah didapat atau mungkin ke Museum Fatahillah di utara Pasar Baru. Jalan-jalan dan foto-fotoan lalu kembali ke hotel dan merasa kesepian. Besok paginya mungkin mereka memutuskan mempercepat jadwal perjalanan mereka ke daerah lain di Indonesia atau ganti tujuan ke Bangkok atau Hanoi.

Di Bangkok atau Hanoi, mereka akan langsung menemukan Khao Sanh dan French Quarter, lalu menghabiskan sore di tepi sungai Chao Praya dan Danau Hoan Kiem.  Di dua daerah yang sebenarnya tidak berbeda dengan Pasar Baru, Kota Lama Jakarta, atau Kota Lama Semarang dan Surabaya mereka merasa lebih merasa disambut oleh Asia Tenggara, bukannya disambut dingin oleh kota yang hanya memikirkan uang. Bisa ke museum lalu ngadem di sebuah cafe sederhana sambil minum bir dingin membaca buku yang dibeli dari sebuah toko buku bekas, berbagi cerita dengan warga setempat dan pelancong lainnya.

Benar Pak bahwa ada Kota Lama dan Jalan Jaksa. Tapi saya yakin Jakarta tidak cukup diwakili oleh sepenggal daerah dan jalan. Kota sebesar Jakarta memiliki banyak daerah yang bisa dikembangkan jadi daerah wisata, yang dekat dengan sejarah Jakarta. Sudah saatnya pula Pasar Baru dikembangkan, jadi poros Kota Lama-Jalan Jaksa-Pasar Baru yang semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki (kalau kuat) atau transportasi umum.   

Bapak bisa bayangkan, gedung-gedung tua yang saling berdempetan di Pasar Baru dipenuhi cafe, toko buku, hotel, dan para wisatawan yang baru saja dikejar komodo di Pulau Komodo, treking di Rinjani atau Danau Toba, menyelam di Raja Ampat, dan banyak cerita lainnya. Itulah Jakarta yang sebenarnya, Pak. Kota yang menerima dan berbagi kisah hidupnya dengan pelancong dari Indonesia sendiri dan berbagai belahan dunia, bukan kota yang hanya menerima orang-orang kaya dan menawarkan kehidupan dan barang-barang mewah melalui iklan di televisi.

Jakarta bukan Singapura, KL, atau Dubai yang berkilau dalam kekinian mereka. Jakarta adalah saudara sepantaran Hanoi dan Phnom Penh, sesama ibu yang sudah menyaksikan banyak perang, percintaan, pengkhianatan, dan pengharapan. Walah, melankonli habis. Hehe. Maklum pak, ini saya nulisnya di sebuah cafe di Mall Kemang Village bersebelahan dengan segerombolan Mbak-mbak yang lagi ngobrol dengan asyiknya.

Bisa juga, Pak, kalau Pasar Baru ini di-Pasar Santa-kan. Pasar yang awalnya tidak banyak berbeda nasibnya dengan pasar-pasar lain di Indonesia. Pasar Santa sekarang tidak lagi kumuh, becek dan melulu jualan sembako. Pasar Santa sekarang jadi tempat ekspresi kreativitas anak-anak muda. Para pedagang sayur mayur dan toko kelontong berdampingan dengan penjual rekaman Vinyl, kaos, toko buku dan warung kopi milik anak-anak muda. Suasananya kayak di Kemang atau Tebet atau gitu lah, Pak. Istilah kerennya, Pasar Santa mengalami gentrifikasi. Sama halnya seperti yang terjadi dengan Cikini pada tahun 1990-an, daerah Soho di New York, atau Tiong Bahru di Singapura. 

Proses gentrifikasi ada untung ruginya. Yang paling jelas, pedagang-pedagang asli bisa tergusur dengan pola perdagangan baru dan nilai tempat yang meningkat. Tapi di tangan Pak Ahok, yang sudah terbiasa dengan revitalisasi sungai dan penggusuran (sekalipun benernya saya agak kurang setuju dengan kekerasan yang terjadi di Pulo), mengubah Pasar Baru sebagai daerah wisata pasti bisa dilakukan.

Di masa depan, saya bisa nongkrong di sebuah cafe di Pasar Baru, ngobrol dengan mbak-mbak dari Spanyol soal sejarah kelam dan keemasan Jakarta dan seorang gubernurnya yang akrab dipanggil Ahok.

Itu saja, Pak Ahok, yang ingin saya ceritakan. Saya tahu Anda ga suka rapat, apalagi nongkrong dengerin orang nerocos soal Jakarta, orang dari Papua pula. Hehe.

Sukses selalu, Pak. 

Nasi Bebek Dharmahusada

Leave a comment
Tentang kota

Zaman kuliah dulu, Nasi Bebek di Jalan Dharmahusada, Surabaya ini aku kenal sebagai nasi bebek yang manis rasanya. Reputasinya tidak ada apa-apanya dibanding Nasi Bebek di depan SMAK Frateran atau Perak yang sangat tersohor di Surabaya itu. Kalau sekarang mungkin ditambah dengan Bebek Sinjai yang sudah membuka cabang di banyak tempat. Bahkan sekarang orang Malang pun juga suka makan bebek. Terakhir kali aku makan dengan teman-teman dari Papua di  LPMAK di daerah Karanglo, Malang.

Yang mengenalkan aku dengan Bebek ini namanya Dirun. Orang dengan selera makan yang unik; anti sayur! Apapun itu pokoknya sayurnya harus dibuang. Nasi goreng tanpa sayur, bakso tanpa sayur. Sayangnya aku belum pernah lihat dia pesan Capcay tanpa sayur.

Penampilan warungnya cukup meragukan. Berada di depan jajaran ruko di Jalan Dharmahusada. Kalau kamu dari arah Kampus C Universitas Airlangga bekas STOVIA itu, luruslah hingga pertigaan lalu lurus lagi ke arah Kenjeran. Sekarang lebih mudah menemukannya. Cari saja Alfamart pertama di sebelah kiri jalan. Warungnya ada tepat setelah Alfamart.

Setelah sekitar 10 tahun tidak makan di situ, dalam sebuah kesempatan di Surabaya, entah kenapa aku ingin sekali makan Nasi Bebek Dharmahusada itu. Padahal di Jalan Dharmahusada itu juga ada Soto Madura Tapaksiring.

Aku meluncur dari arah tengah kota Surabaya, meninggalkan barisan mal yang penuh kepalsuan itu, masuk ke daerah Universitas Airlangga. Seseorang pernah bilang padaku, bahwa daerah yang aku hafal dan akrabi di Surabaya bukan daerah yang nge-hip. Alih-alih sering nongkrong di Jalan Sumatera dan sekitarnya yang dipenuhi cafe atau resto yang sekarang jadi tongkrongan anak-anak muda dan sosialita Surabaya, aku lebih hafal dengan jalanan Surabaya yang tidak ada di peta pergaulan anak muda; Kenjeran, Bulak Cumpat, Rangkah, Pogot, Bronggalan, Sukodono, Kapas Krampung, Gubeng, dan banyak tempat lagi.

Nyatanya di tempat-tempat itulah aku mengenal manusia Surabaya yang sebenarnya. Yang tergolong aneh di jagat manusia Jawa. Dari manusia-manusia itu aku mengenali budayanya, dari artefaknya yang paling nyata dan laten, makanan. Mulai dari sego sambel, warung giras, dan nasi bebek yang sedang aku tuju sekarang ini.

Warungnya masih ada. Masih sama reotnya dengan yang dulu. Saat itu sudah sekitar jam 8 malam. Surabaya diguyur hujan lumayan deras. Jalan Dharmahusada tergenang air di sana-sini. Termasuk di depan dan di dalam warung. Aku jadi ingat dulu Dirun dan aku pernah spontan memaki “Jancuk!!” kepada mobil yang dengan enaknya menggasak genangan air dan mengirimkan ekstra kuah ke dalam piring nasi bebek kami.

Sepiring nasi bebek kemudian tersaji di hadapanku. Hujan masih turun rontok-rontok. Deras tidak reda juga tidak. Yang ada di piringku adalah nasi yang masih hangat, dua potong timun, dua helai kubis, sesendok sambal, serta sepotong paha bebek yang sudah dibumbui dan nampaknya lebih kurus dibanding dulu, apalagi jika dibandingkan dengan Bebek Sinjai atau Frateran.

Dan rasanya? Masih sama dengan yang kuingat. Manis. Rasa manis yang kemudian dipadukan sambal yang pedes. Ah, ternyata lebih cocok di hati menyebut pedes, katimbang pedas atau pedis (di Papua dan Indonesia Timur).

Daging bebek yang semakin kecil itu mendadak nyangkut di gigiku. Dengan kelabakan aku minta tusuk gigi. Ga ada, mas, kata penjualnya santai.

Sambil mencari cara mengeluarkan daging dari sela-sela gigi dengan cara yang paling beretika dan beradab, aku mengamati sekitarku.

Selain aku ada dua orang pemuda yang makan dengan senyap. Tidak merasa perlu saling menyapa menanyakan cuaca atau apa begitu. Satu perempuan dan satu laki-laki. Bertiga kami melengkapi sebuah pemandangan yang bagimu pasti menyedihkan, tiga pemuda kurus makan dengan diam berbagi tatapan kosong di sebuah warung dengan meja makan butut, duduk di kursi plastik reot yang berdiri gamang di atas tanah becek persis di depan jalan yang hiruk pikuk. Ketiganya menyantap makanan yang kandungan gizinya mungkin sama dengan makan belalang goreng. Lalu dua orang di antara mereka menyudahi makan malam. Mencuci tangan di kobokan dengan air yang tidak jelas darimana asalnya, minum segelas es teh, dan membakar sebatang rokok kretek mereka.

Seseorang lalu mengeluarkan telepon genggamnya yang berbunyi tidak lama setelah tarikan rokok yang ketiga, menjawab “halo” dan diam beberapa saat.

Kalau kamu punya pendengaran yang baik, kamu akan mendengar bahwa seseorang di telepon genggam yang lain mengatakan, “Melase, Rek, gak ono pilihan liyane ta?”

Tapi kalau tidak, kamu cuma akan mendengar pria kurus itu mengatakan, “Haha.. Jancuk. Sekarepku pak. Kangen ae karo bebekmu iki.”

Kamar

Leave a comment
Keluarga
Mbak Yosi, aku, Okky

Mbak Yosi, aku, Okky

Dibandingkan anak-anak lain di komplek tempat tinggalku, aku termasuk yang paling terlambat tidur di kamar tersendiri. Aku terbiasa tidur secara bersama dengan kakak-kakak dan adikku di kamar depan. Ada empat kamar di rumah kami saat itu. Kamar depan tempat kami berempat tidur. Lalu kamar Mama dan Papa. Yoke, adikku, biasanya sering tidur di kamar Mama dan Papa. Di bagian belakang rumah utama, ada sebuah kamar kecil yang jadi kamar pembantu kami. Dan di samping rumah, ada sebuah paviliun, dengan ruang depan dan teras tersendiri dan sebuah kamar. Paviliun itu ditempati Mas Moko, adiknya Mama. Seharusnya aku memanggilnya Paklik. Tapi Mas Moko selalu melarangku memanggil dia Paklik. Mas saja, atau Mbah, haha…balasnya sambil tertawa saat aku beri pilihan panggilan apa yang pas untuk dia.

Di sekolah aku sering membuat cerita bohong ke teman-teman bahwa aku tidur sendiri di kamar sendiri, tidak bersama dengan saudara-saudaraku. Di kamarku itu aku menyimpan buku-buku koleksi prangko (yang ini aku tidak bohong) di sebuah rak buku. Di dindingnya terpajang gambar-gambar menarik yang aku lihat di Koran dan beberapa kartu pos kiriman tetanggaku yang pindah ke Prancis (ini juga beneran). Ada meja belajar tempat belajar dan membuat pekerjaan rumah (ini jelas bohong, karena kami berempat harus berbagi satu meja belajar yang lokasinya di dekat meja makan).

Yang menjadi korban cerita bohongku biasanya anak-anak perempuan. Mereka senang sekali mendengarkan cerita soal kamarku. Kadang-kadang aku merasa jahat pada mereka, karena sebenarnya cerita soal kamarku itu aku karang untuk membalas cerita teman-temanku soal kamar mereka. Terutama si Aldi kalo ga salah namanya, yang sering mengajakku ke rumahnya melihat koleksi mainan robot di kamarnya. Kamar yang nyaman dan bersih, menghadap taman di depan rumah dan jalanan yang sepi. Beda sekali dengan kamar yang aku tempati. Menghadap jalan raya yang bising. Di malam hari, kami harus sering berdamai dengan suara mesin pompa air yang dipasang pas di depan kamar.

Suatu saat, ketika aku kelas tiga SD, pembantu di rumah pulang ke kampungnya di Lumajang. Ga balik lagi dia, kata Mama. Kamar yang biasanya tidak pernah aku perhatikan itu mendadak merebut perhatianku.

Kamar pembantu, kamar berukuran kecil tanpa jendela kaca. Di bingkai jendela kaca hanya terpasang kawat. Di baliknya, sebuah kelambu berwarna biru. Di dalam kamar ada sebuah dipan dengan kasur tanpa sprei dan lemari pakaian dari plastik. Kamar pembantu, pikirku saat itu, haruskah ada kamar pembantu di dunia yang penuh dengan kamar ini? Jika memang harus ada, apakah harus seperti ini?

Pertanyaan yang sampai kini aku tidak tahu kadar filosofisnya itu masing aku ingat dengan baik. Terutama karena bau dan cahaya kamar yang sebelumnya ditempati Yu Sri. Di lemari pakaian, masih tercium bau bedaknya yang tercecer di lemari pakaian serta bau pakaiannya. Kata Mama, Yu Sri pulang karena mau nikah. Kok ga bilang aku? Protesku yang langsung dibalas Mama, ya kan sudah bilang Mama, buat apa bilang sama kamu?

Aku cuma ingat terakhir kali aku ngobrol dengan Yu Sri pada hari Sabtu sepulang sekolah. Yu Sri duduk di sebuah sudut dapur dan menangis sesenggukan. Aku tidak pernah melihat Yu Sri menangis. Aku juga tidak pernah melihat orang besar menangis seperti itu. Kenapa Yuk? Aku minta dibikinin Milo dingin. Kataku otomatis. Aku tidak tahu cara lain untuk merespon adegan itu. Tangis Yu Sri semakin menjadi. Dia memelukku dengan erat. Air matanya bisa aku rasakan di leherku. Aku diam saja. Yu Sri lalu bilang, Mas, Yu Sri minta maaf ya. Yu Sri mau pulang. Kenapa kok pulang? Tanyaku. Yu Sri makin menangis dan memelukku sebentar sebelum kemudian membuatkan aku segelas Milo dingin.

Mama akhirnya mengalah dan menjelaskan kenapa Yu Sri pulang; mau nikah. Mama kemudian menyalakan lampu kamar Yu Sri. Bohlam lampunya memancarkan cahaya warna kuning. Membuat seisi kamar jadi hidup. Kasur terlihat semakin jelas. Lemari pakaian terlihat jelas. Aku jadi memperhatikan kedua benda itu lebih seksama. Di kamarku, cahaya lampunya terang dan putih. Mungkin karena itu aku jadi tidak terlalu memperhatikan kasur tempat tidur, meja rias tempat Mbak Yosi menyiapkan diri di pagi hari. Di bawah cahaya lampu 5 watt warna kuning yang terasa aneh dan asing itu aku menyatakan diri ke Mama bahwa aku mau ini jadi kamarku. Mama kaget. Berani kamu tidur sendiri? Tanya Mama. Berani, jawabku.

Ketika semua orang berdatangan di rumah, Papa dari kantor, Mas Moko dari kampus, aku mengulang pernyataanku; aku sekarang punya kamar sendiri. Jawabannya semua sama, cuek dan tertawa. Wani tah? Kata Mas Moko sambil tertawa dan berjalan ke kamarnya yang gelap.   Setelah makan malam aku mengambil beberapa kartu pos Prancis kiriman temanku lalu masuk ke dalam kamar. Setelah dapat lokasi yang pas, aku tempel kartu pos itu di dinding dengan selotip. Menyusul kemudian gambar-gambar menarik yang aku temukan di koran-koran langganan Papa. Tidak lama kemudian dinding di sisi kasur sudah mulai penuh dengan gambar-gambar. Rasanya seperti menggunting sebagian dari hatimu dan menempelnya di dinding supaya semua orang bisa melihatnya. Di luar kamar, semua sedang menonton televisi. Sementara di dalam kamar kecil beraroma bedak Yu Sri diterangi lampu 5 watt itu aku sedang sibuk dengan duniaku sendiri. Melihat-lihat buku-buku koleksi prangko, mengembalikannya ke meja, mengambil buku Papa yang sedang coba aku baca, judulnya menarik; Kang Sejo Mencari Tuhan. Ternyata isinya tidak menarik. Baru sehalaman aku baca sambil rebahan, buku itu aku kembalikan ke meja. Menyenangkan ternyata!

Ketika jarum jam sudah menunjuk pukul Sembilan malam, televisi dimatikan, semua bergerak ke kamar. Mama-Papa dan semua saudara-saudaraku. Papa sempat mampir ke kamar baruku dan bertanya apakah aku tidur di situ. Papa hanya tersenyum ketika aku menjawab iya sambil rebahan di kasur. Lampu dimatikan? Tanya Papa. Aku bilang tidak usah, nanti aku takut. Hehe. Ya, tidur sendirian saat itu adalah hal baru bagiku. Apalagi tidur tanpa terang lampu. Lagipula aku sangat menikmati cahaya lampu 5 watt yang tidak terang tapi cukup untuk membuat benda-benda dan ruangan seolah memiliki nyawa.

Aku sudah lupa apa yang aku pikirkan saat menjelang tidur. Aku cuma ingat bahwa aku tertidur setelah memandangi gambar-gambar di dinding, kawat di jendela, dan lampu 5 watt di langit-langit kamar. Di balik semua itu, adalah ruang keluarga yang sudah gelap, suara-suara malam yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Hanya ada kawat dan kelambu yang membatasi aku dengan kegelapan di luar. Hanya lampu 5 watt itu yang membuatku bisa melihat suasana sekitarku. Sempat terlintas pikiran untuk keluar kamar dan lari ke kamar depan. Tapi pasti akan semakin mengerikan dan memalukan jadinya. Aku pasti akan lari sambil teriak-teriak dan dimarahi Mbak Yosi setibanya di kamar depan. Entah kenapa sejak kecil aku sangat takut dengan gelap dan sendiri. Untunglah aku kemudian tertidur.

Yang aku ingat sekali adalah saat aku terbangun. Aku terbangun sendiri, tidak seperti di kamar depan dimana Mama selalu membangunkan aku karena paling doyan terlambat bangun dibandingkan kakak adikku. Ayo, sekolah, On, kata Mama setiap pagi.

Ketika mataku terbuka, lampu 5 watt masih menyala, suasana rumah belum ramai, hawa terasa lebih sejuk dan segar, sinar matahari pagi pelan-pelan masuk ke kamar sekalipun terhalang kelambu. Aku melihat gambar-gambar di dinding, lemari plastic, buku-bukuku. Semua masih ada di tempatnya. Kemudian terdengar suara langkah kaki Mama, yang membuatku sontak beranjak dari tempat tidur keluar kamar dan menyapa Mama; Ma, aku tidur sendiri! Mama cuma tersenyum. Aku memandangi jendela yang hanya dihiasi kawat itu sambil tersenyum dan kemudian mandi dengan riangnya.

Sampai kini, kedua hal itu yang selalu aku inginkan terjadi dalam hidupku dan hidup semua orang, malam gelap yang dikalahkan oleh cahaya sederhana dan pagi yang damai penuh kegembiraan. Itu semua akan semakin lengkap jika setibamu di luar kamar ada seseorang yang menyambut dengan penuh kasih.

Es Kacang Ijo

Leave a comment
Tentang kota
Not much thing happened here

Not much thing happened here

Behind this humble street vendor in Rungkut, Surabaya, a guy cool himself down with a bowl of Es Kacang Ijo. He look like a worker from the nearby factories. His age must be around 40 years. And it seems that he just finish his meal back home. One bowl of Es Kacang Ijo is enough to boost his morale and make him look fresh. After he finish with the dishes he walk to me and borrow my lighter. “Nyantai, pak?” I ask him calmly. He only nod, and with a smile he said thanks and continue his life.

Bis Ajaib

Leave a comment
Catatan Perjalanan
Gedung-gedung sintal di Hanoi

Gedung-gedung sintal di Hanoi

2014-12-30 17.55.14
Seperti ini wujudnya interior bis antar kota nyaman yang disarankan Toan, concierge di sebuah hotel di Hanoi. Nampak di belakangku adalah seseorang dari dua orang turis Israel yang sepertinya juga kena anjuran manis naik bis ke Hoi An. Setelah deal dengan Toan, kami dijemput sebuah taksi dan seseorang yang naik motor dan nampak tergesa-gesa. Sepertinya dia makelar bis. Dari tempat kami menginap di Lo Su, taksi mengarah ke Old Quarter Hanoi. Di Hanoi sepertinya orang tidak kesulitan mencari alamat. Di dalam labirin kota tua dengan jalanan yang ramai itu, sang makelar dan sopir taksi dengan gampang menemukan hotel tempat dua orang turis asal Israel yang ikut juga di bis ini.
“Pertama kali naik bis ini?” Tanyaku sambil membenahi posisi duduk akibat tergencet badan dan tas ransel mereka yang besar. Untung Sasi duduk di kursi depan. Tapi toh dia mengomel juga.
“Bau badan mereka itu, lho, pasti sudah lama ga mandi.” Katanya.
***
Dulu sekali, ada teman yang bilang, kalau mau merasakan demokrasi. Merasakan lho ya, bukan memikirkan, imbuhnya, naiklah bis kota. Dalam bus Surabaya-Malang, ucapan temanku itu benar adanya. Kita tidak punya kuasa untuk menentukan siapa yang akan duduk di sebelah kita. Semua indra kita harus terbuka untuk berbagai rangsangan yang datang. Mulai dari bau knalpot yang bocor masuk ke dalam kabin bus hingga bau rheumason dan aroma muntah dari penumpang di belakang yang baru saja muntah. Kita dipaksa terbuka dengan keadaan, berdialog, dan entah mau kita jadikan apa, bisa jadi sumpah serapah soal buruknya transportasi Indonesia atau jadi catatan perjalanan yang nikmat dibaca.
Beberapa hari sebelum Sasi dan aku memutuskan naik bus yang memakan waktu 16 jam ini, aku agak ragu dengan kemampuan Sasi menghadapi suasana bus dan perjalanan yang melelahkan. Dia memutuskan mau naik bus karena kata Toan (sambil menunjukkan foto-foto hasil Googling), kursinya bisa ditekuk jadi tempat tidur, AC dan Wifi mengalir lancar.
“Aku dulu sudah biasa naik bis 6 jam Surabaya ke Yogyakarta atau lebih lama lagi dari Surabaya ke Jakarta. Kamu?” tanyaku ke Sasi.
“Gakpapa. Aku sudah bawa obat anti mual dan mending naik ini daripada naik pesawat. Cuma 35 USD”
Mendadak, atau untuk sementara waktu, Sasi berubah dari Flashpacker jadi Semi-backpacker. Okelah. Balasku santai.
***
Keluar dari keramaian Old Quarter, taksi kemudian mlipir ke pinggir jalan raya. Ada dua bus besar yang sudah parkir. Sepertinya bukan pangkalan bus resmi. Setelah menunjukkan tiket, seorang pria yang pemarah mengajak kami masuk ke dalam dan meminta kami melepas sepatu. Dia menyorongkan sebuah kantong plastik. “Isi disini,” katanya dalam bahasa isyarat.
Bis besar itu sudah dimodifikasi untuk perjalanan jauh. Ada 2 lantai. Di lantai atas aku hitung ada 19 kursi dari depan ke belakang. Di bawah sepertinya juga ada 19 kursi. Beberapa penumpang pertama yang masuk bersamaan denganku dan Sasi adalah sepasang turis laki-laki dari Israel yang setaksi dengan kami, sepasang turis perempuan dari Spanyol sepertinya dan sepasang muda-mudi dari Belanda. Setelah itu datang seorang pemuda Vietnam.
Tidak lama kemudian bis yang mangkal di jalan raya dekat Sungai Merah itu segera dipenuhi penumpang. Di bawah ada 4 orang Vietnam. 1 ibu memangku anaknya yg berusia 5 tahunan. Pasti berat rasanya memangku anak yang gemuk itu. Tapi toh si ibu tidak nampak terganggu. Mereka sepertinya sudah biasa naik bis ini. Orang Vietnam pasti bayar lebih murah dibanding turis-turis macam kami ini.

Semua yang dibilang Toan benar adanya kecuali soal Wifi. Kursi selonjor bisa ditekuk ke belakang, supaya bisa rebahan. Yang tidak dijelaskan adalah panjang kursi. Dengan tinggi 175 cm, kakiku ternyata tidak bisa lurus. Sedikit menekuk.

2014-12-30 21.39.20

Sandal pinjam untuk turun di tempat peristirahatan

Sandal pinjam untuk turun di tempat peristirahatan

Jam 6:20 malam, bis berangkat. Sambil melihat deretan mozaic terpanjang di bantaran sungai Merah yang disusun untuk merayakan 1000 tahun kota Hanoi, aku mencoba mencari posisi yg paling nyaman untuk kakiku yg tdk bisa terlentang lurus. Sasi, dengan tinggi badan 150 cm, tidak ada masalah. Dia nampak senang sekali. Apalagi bisa lihat pemandangan di luar.

Untuk mengusir kebosanan dalam perjalanan naik bis yang lama seperti Surabaya – Yogya atau Surabaya – Jakarta, aku dulu biasa mengaitkan tempat yang aku lewati dengan sejarah tempat itu yang aku tahu. Sekarang, tidak banyak yang aku tahu soal jalur antara Hanoi dan Hoi-An. Kecuali bahwa kami akan melewati Hue, kota tua tempat terjadinya pertempuran seru antara tentara Amerika Serikat dan gerilyawan Vietcong. Bis terus melaju melalui jalanan antar kota yang gelap.

Jam 8.20, bis berhenti menjemput pasangan bule di sebuah hotel di tempat yang seperti kota level kabupaten. Di papan penunjuk arah tertulis “Thanh Hoa 58km”. Lepas dari kota itu, sopir bis menunjukkan kelakuan yang tidak jauh beda dengan sopir-sopir bis malam di Jawa; ngebut dan main seruduk, klakson-klakson kendaraan, dan ngerem mendadak. Sasi mulai nampak gelisah.

Kelakuan itu semakin menjadi hingga Sasi terbangun dan, seperti biasa, langsung mendesis tanda jengkel. Cewek bule di depan Renata juga nampak khawatir. Lalu memandangi pacar di sebelahnya seperti ingin berbagi kekhawatiran sambil agak menyalahkan pacarnya. Mungkin naik bis ini pilihan atau saran pacarnya.
Aksi nyetir ugal-ugalan itu mendadak berhenti untuk mengisi bensin. Di sini bensin pakai RON 92. Harganya sekitar 17ribuan Dong/liter. RON95 lebih mahal 1000an Dong. Murah itu, kata Son, kenalanku di Hanoi.

Sekitar 15 menit kemudian, kondektur berteriak-teriak dengan Bahasa Vietnam. Kepada bule di depanku dia bilang dengan Bahasa Inggris level primitif; “Kamu bisa turun 20 menit lagi.” Si bule nampak kebingungan. Dia merasa seperti diusir disuruh turun.

Kuperjelas dalam Bahasa Inggris semi-modern supaya semua orang paham; “Bisa istirahat 20 menit?”.

“Iya, jangan bawa sepatu. Kami sediakan alas kaki, balasnya.

Lalu dia minta aku bilang ke bule-bule di belakangku. Aku balas, bilang aja sendiri, kan cuma bilang stop fot (“s” di akhir kata sering dieja jadi “t”) 20 minutes. Maka melajulah dia ke belakang dan menjelaskan. Tapi ternyata jadi ribut karena bule-bule itu tidak paham apa maksudnya. Sasi kemudian membantu menjelaskan.

Di tempat perhentian, aku beli kopi dan pisang. Tidak kuturuti rasa laparku. Aku cuma merokok dan minum kopi. Di tempat yg lebih kotor daripada tempat pemberhentian bis di Ngawi itu, ada 2 bis lain yg memuntahkan orang-orang yg kelelahan. Mereka langsung membeli makan dan minum.
2014-12-30 21.01.22
2014-12-30 21.16.00

Menanti bis berangkat

Pemuda Viet di sebelahku tadi juga makan dan segera menunggu di dekat bis. Di dalam bis aku tanya dia nama tempat ini, yang langsung dibalasnya dengan bahasa isyarat, nama saya? Iya aku balas. Namanya Giang a Tua. Benar seperti itu yg tertera di KTPnya, yang dia tunjukkan padaku.

Jam 8 pagi bis tiba di Hue. Penumpang jurusan Hue dan Hoi An diminta turun untuk ganti bis. Penumpang jurusan Danang tetap di bis. Sambil menunggu, aku makan pisang yang aku beli di tempat perhentian. Pisang yang enak itu langsung terasa hambar setelah seseorang mengumumkan bahwa perjalanan dari Hue ke Hoi-An masih makan waktu 4 jam lagi.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, sebuah bis tiba. Kali ini seperti bis biasa. Aku duduk di sebelah Sasi yang sudah kelelahan. Masih mampir di beberapa hotel untuk menjemput penumpang yg mau ke Hoi-An. Pemandangan tidak bisa begitu dinikmati. Pantai di Danang yang sudah aku nantikan karena muncul di film Apocalypse Now, nampak sepi dan bergelombang besar, dikepung jalanan besar dan gedung-gedung besar. Danang memang kota bisnis. Beda sekali dengan Hanoi yang bahagia dengan kekunoan dan kendesoan-nya.

Bis terus melaju. Melewati sebuah jembatan yang nampaknya masih baru. Berhiaskan naga. Di ujung jembatan itu ada museum kebudayaan Champa yang ingin sekali aku kunjungi. Entah kenapa bis berjalan pelan sekali sejak dari Hue. Perjalanan terasa begitu membosankan. Untunglah bis kemudian berhenti lagi. Sambil minum kopi dan makan lumpia aku ngobrol dengan seorang pemuda Vietnam. Katanya nama tempat ini Long Co, satu jam perjalanan lagi ke Hoi-An.
Ya seperti ini memang kalau naik bis, kataku mencoba menabahkan Sasi yang sudah sangat tidak sabar tiba di Hoi-An. Beberapa bule yang tadi naik bis bersamaku juga ikut di dalam bis ini dan sudah mulai berebut posisi duduk yang enak dengan sepasang suami istri Vietnam di belakang mereka, yang meminta mereka menegakkan kursi. Si ibu ngomel-ngomel terus dan meminta suaminya menegur pasangan bule  yang cuek itu. Di luar, jalanan nampak semakin mengecil hingga akhirnya kami tiba di Hoi-An.