Nasi Goreng Krengsengan Cak San

comments 2
Catatan Perjalanan / Tentang kawan / Tentang kota

 

collage caksan

Daerah Tegalsari, Surabaya, dulu cuma aku ingat sebagai lokasi markas sebuah organisasi mahasiswa yang sering jadi tempat rapat perencanaan demonstrasi menentang Soeharto. Selebihnya, Tegalsari yang aku ingat adalah sebuah daerah dengan jalanan yang minim pencahayaan lampu jalan. Tapi Tegalsari sekarang berubah, jadi daerah kawula muda Surabaya untuk melewatkan malam minggu.

Di situ sekarang ada dua tempat makan yang menarik. Yang pertama namanya Kedai Tua Baru. Di salah satu situsweb yang mengulas soal tempat itu, ditulis bahwa Kedai itu good for groups, alias cocok untuk makan rame-rame, dengan menu makanan-makanan tradisional Jawa dan khas Surabaya dengan harga yang cukup masuk akal. Fasad bangunan cukup menarik. Hasil googling gambar juga menunjukkan ruangan dalam yang luas dihiasi berbagai macam pernik interior dan gaya dekorasi kinfolk-ish dan instagramable. Bahkan dilengkapi dengan ruang penitipan anak-anak.

Yang kedua, namanya Bakmi Jogja Trunojoyo. Restoran dengan menu andalan Bakmi Jogja itu bertempat di sebuah bangunan tua yang dipertahankan arsitekturnya. Sama seperti Kedai Tua baru, Nampak bagus dan nyaman utk makan-makan bersama teman-teman atau kekasih. Kalau tidak salah aku pernah makan Bakmi Jogja seperti itu di dekat kantor Kontras Surabaya yang terletak di daerah Jalan Kartini. Aku masih ingat sekali memotret tulisan kasir dalam aksara Jawa dan mengunggahnya di Instagram. Sambil melintas aku melihat bingkai instagram terjatuh di fasad gedung peninggalan belanda itu. Lalu ada sekian puluh like dan beberapa komentar.

Tapi lalu aku sadar kalau hapeku batereinya habis, lapar karena telat makan malam dan sedang di Surabaya. Kalau mau makan penyetan ya di depan Unair atau Wonokromo, kalau mau Nasi goreng krengsengan ya ke Cak San di Embong Wungu atau Ondomohen, mau bakmi Yogya ya, ya ke Bakmi Trunojoyo situ, masa mau ngojek sampai ke Wirobrajan atau Monjali Yogya. Hehe. Lagipula kedua tempat itu sepertinya sdh mau tutup, karena saat aku melintas di situ, jam sudah menunjukkan 21:40. Daripada ditolak tukang parkir lebih aku meneruskan perjalananke Embong Wungu, tidak jauh dari Tegalsari.

Beberapa malam sebelumnya aku sempat salah sasaran. Setelah sekian lama tidak tinggal di Surabaya dan akibat malas bertanya, aku dan seorang teman kesasar makan di warung nasi goreng krengsengan yang kita kira diampu Cak San dan ternyata bukan. Lokasinya persis di samping situs patung Joko Dolog. Harganya murah, dua porsi cuma sepuluh ribu.

Beda dengan daerah Tegalsari, suasana Embong Wungu tidak jauh berbeda dari tahun 1997. Gelap tanpa penerangan jalan yang memadai dan jajaran seng di kiri jalan. Di situ berjejeran mobil-mobil yang penumpangnya sedang menikmati Nasi Goreng Krengsengan Cak San.

Kalau ditanya apa istimewanya Nasi Goreng Krengsengan Cak San, bisa dipastikan aku dan segenap penikmatnya malam itu tidak memiliki jawaban jelas. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa Nasi Goreng Cak San itu enak karena kombinasi dari manisnya mie, datarnya rasa nasi goreng, dan gurihnya telur dadar. Tapi apa ya bener karena itu. Dibandingkan Nasi Goreng Krengsengan di Ondomohen, aku lebih cocok dengan masakan Cak San. Mungkin kapan-kapan aku harus ajak Coki, sang koki gadungan yang kini masuk jajaran delapan cowok berpengaruh 2015 (versi Mojok.co).

Cak San sendiri sudah meninggal dunia sejak tahun 2000-an. Rumahnya di daerah Ngaglik, Surabaya. Seorang pemuda yang bekerja di situ sudah tidak tahu menahu lagi soal Cak San. Ngakunya baru beberapa bulan kerja sebagai koki. Sebenarnya aku pengen ngajak ngobrol seorang ibu yang berfungsi sebagai kasir, sambil leyeh-leyeh beralaskan tikar. Sebuah kipas angin dan lampu neon membuatnya semakin nampak nyaman. Sayang ibu sedang asyik ngobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya pelanggan setia warung Cak San.

Mungkin pemuda itu sedang membicarakan sejarah Nasi Goreng Krengsengan Cak San, tentang asal muasal kata Krengsengan, kenapa bisnis sederhananya itu mampu bertahan sekian lama, kenapa tanpa business plan, di-rebranding jadi Cak San Eatery, atau dikelola profesional seperti Sambal Bu Rudy, Nasi Goreng Krengsengan Cak San tetap bisa eksis di ingatan kolektif orang muda Surabaya, seperti halnya warung-warung Nasi Bebek di Surabaya.

Setelah dua botol teh, akhirnya aku memilih pulang. Rasanya aku masih punya kesempatan lain untuk ngobrol dengan ibu itu soal Cak San. Toh, barisan seng pembatas lahan kosong tempat mangkal Cak San masih akan ada di situ sampai tahun depan, sampai ada investor yang akan membuka barisan seng atau pagar beton, menggusur rumah tua yang indah demi sebuah budget hotel atau cafe.

Sambil membayar, aku membayangkan betapa suramnya nasib bangunan tua dan usaha wong cilik di kota ini. Seakan tahu apa yang aku lamunkan, dia terdiam menatapku.

Mas, katanya lirih. Iya kenapa? balasku. Duike kurang iki, mas, katanya. Oalah, ternyata aku lali durung bayar dua botol teh. Sepurane, cak. Hehe.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. Great post – story/review! Translated by google – “…rows of zinc barrier” – has a nice ring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s