Kamar

Leave a comment
Keluarga
Mbak Yosi, aku, Okky

Mbak Yosi, aku, Okky

Dibandingkan anak-anak lain di komplek tempat tinggalku, aku termasuk yang paling terlambat tidur di kamar tersendiri. Aku terbiasa tidur secara bersama dengan kakak-kakak dan adikku di kamar depan. Ada empat kamar di rumah kami saat itu. Kamar depan tempat kami berempat tidur. Lalu kamar Mama dan Papa. Yoke, adikku, biasanya sering tidur di kamar Mama dan Papa. Di bagian belakang rumah utama, ada sebuah kamar kecil yang jadi kamar pembantu kami. Dan di samping rumah, ada sebuah paviliun, dengan ruang depan dan teras tersendiri dan sebuah kamar. Paviliun itu ditempati Mas Moko, adiknya Mama. Seharusnya aku memanggilnya Paklik. Tapi Mas Moko selalu melarangku memanggil dia Paklik. Mas saja, atau Mbah, haha…balasnya sambil tertawa saat aku beri pilihan panggilan apa yang pas untuk dia.

Di sekolah aku sering membuat cerita bohong ke teman-teman bahwa aku tidur sendiri di kamar sendiri, tidak bersama dengan saudara-saudaraku. Di kamarku itu aku menyimpan buku-buku koleksi prangko (yang ini aku tidak bohong) di sebuah rak buku. Di dindingnya terpajang gambar-gambar menarik yang aku lihat di Koran dan beberapa kartu pos kiriman tetanggaku yang pindah ke Prancis (ini juga beneran). Ada meja belajar tempat belajar dan membuat pekerjaan rumah (ini jelas bohong, karena kami berempat harus berbagi satu meja belajar yang lokasinya di dekat meja makan).

Yang menjadi korban cerita bohongku biasanya anak-anak perempuan. Mereka senang sekali mendengarkan cerita soal kamarku. Kadang-kadang aku merasa jahat pada mereka, karena sebenarnya cerita soal kamarku itu aku karang untuk membalas cerita teman-temanku soal kamar mereka. Terutama si Aldi kalo ga salah namanya, yang sering mengajakku ke rumahnya melihat koleksi mainan robot di kamarnya. Kamar yang nyaman dan bersih, menghadap taman di depan rumah dan jalanan yang sepi. Beda sekali dengan kamar yang aku tempati. Menghadap jalan raya yang bising. Di malam hari, kami harus sering berdamai dengan suara mesin pompa air yang dipasang pas di depan kamar.

Suatu saat, ketika aku kelas tiga SD, pembantu di rumah pulang ke kampungnya di Lumajang. Ga balik lagi dia, kata Mama. Kamar yang biasanya tidak pernah aku perhatikan itu mendadak merebut perhatianku.

Kamar pembantu, kamar berukuran kecil tanpa jendela kaca. Di bingkai jendela kaca hanya terpasang kawat. Di baliknya, sebuah kelambu berwarna biru. Di dalam kamar ada sebuah dipan dengan kasur tanpa sprei dan lemari pakaian dari plastik. Kamar pembantu, pikirku saat itu, haruskah ada kamar pembantu di dunia yang penuh dengan kamar ini? Jika memang harus ada, apakah harus seperti ini?

Pertanyaan yang sampai kini aku tidak tahu kadar filosofisnya itu masing aku ingat dengan baik. Terutama karena bau dan cahaya kamar yang sebelumnya ditempati Yu Sri. Di lemari pakaian, masih tercium bau bedaknya yang tercecer di lemari pakaian serta bau pakaiannya. Kata Mama, Yu Sri pulang karena mau nikah. Kok ga bilang aku? Protesku yang langsung dibalas Mama, ya kan sudah bilang Mama, buat apa bilang sama kamu?

Aku cuma ingat terakhir kali aku ngobrol dengan Yu Sri pada hari Sabtu sepulang sekolah. Yu Sri duduk di sebuah sudut dapur dan menangis sesenggukan. Aku tidak pernah melihat Yu Sri menangis. Aku juga tidak pernah melihat orang besar menangis seperti itu. Kenapa Yuk? Aku minta dibikinin Milo dingin. Kataku otomatis. Aku tidak tahu cara lain untuk merespon adegan itu. Tangis Yu Sri semakin menjadi. Dia memelukku dengan erat. Air matanya bisa aku rasakan di leherku. Aku diam saja. Yu Sri lalu bilang, Mas, Yu Sri minta maaf ya. Yu Sri mau pulang. Kenapa kok pulang? Tanyaku. Yu Sri makin menangis dan memelukku sebentar sebelum kemudian membuatkan aku segelas Milo dingin.

Mama akhirnya mengalah dan menjelaskan kenapa Yu Sri pulang; mau nikah. Mama kemudian menyalakan lampu kamar Yu Sri. Bohlam lampunya memancarkan cahaya warna kuning. Membuat seisi kamar jadi hidup. Kasur terlihat semakin jelas. Lemari pakaian terlihat jelas. Aku jadi memperhatikan kedua benda itu lebih seksama. Di kamarku, cahaya lampunya terang dan putih. Mungkin karena itu aku jadi tidak terlalu memperhatikan kasur tempat tidur, meja rias tempat Mbak Yosi menyiapkan diri di pagi hari. Di bawah cahaya lampu 5 watt warna kuning yang terasa aneh dan asing itu aku menyatakan diri ke Mama bahwa aku mau ini jadi kamarku. Mama kaget. Berani kamu tidur sendiri? Tanya Mama. Berani, jawabku.

Ketika semua orang berdatangan di rumah, Papa dari kantor, Mas Moko dari kampus, aku mengulang pernyataanku; aku sekarang punya kamar sendiri. Jawabannya semua sama, cuek dan tertawa. Wani tah? Kata Mas Moko sambil tertawa dan berjalan ke kamarnya yang gelap.   Setelah makan malam aku mengambil beberapa kartu pos Prancis kiriman temanku lalu masuk ke dalam kamar. Setelah dapat lokasi yang pas, aku tempel kartu pos itu di dinding dengan selotip. Menyusul kemudian gambar-gambar menarik yang aku temukan di koran-koran langganan Papa. Tidak lama kemudian dinding di sisi kasur sudah mulai penuh dengan gambar-gambar. Rasanya seperti menggunting sebagian dari hatimu dan menempelnya di dinding supaya semua orang bisa melihatnya. Di luar kamar, semua sedang menonton televisi. Sementara di dalam kamar kecil beraroma bedak Yu Sri diterangi lampu 5 watt itu aku sedang sibuk dengan duniaku sendiri. Melihat-lihat buku-buku koleksi prangko, mengembalikannya ke meja, mengambil buku Papa yang sedang coba aku baca, judulnya menarik; Kang Sejo Mencari Tuhan. Ternyata isinya tidak menarik. Baru sehalaman aku baca sambil rebahan, buku itu aku kembalikan ke meja. Menyenangkan ternyata!

Ketika jarum jam sudah menunjuk pukul Sembilan malam, televisi dimatikan, semua bergerak ke kamar. Mama-Papa dan semua saudara-saudaraku. Papa sempat mampir ke kamar baruku dan bertanya apakah aku tidur di situ. Papa hanya tersenyum ketika aku menjawab iya sambil rebahan di kasur. Lampu dimatikan? Tanya Papa. Aku bilang tidak usah, nanti aku takut. Hehe. Ya, tidur sendirian saat itu adalah hal baru bagiku. Apalagi tidur tanpa terang lampu. Lagipula aku sangat menikmati cahaya lampu 5 watt yang tidak terang tapi cukup untuk membuat benda-benda dan ruangan seolah memiliki nyawa.

Aku sudah lupa apa yang aku pikirkan saat menjelang tidur. Aku cuma ingat bahwa aku tertidur setelah memandangi gambar-gambar di dinding, kawat di jendela, dan lampu 5 watt di langit-langit kamar. Di balik semua itu, adalah ruang keluarga yang sudah gelap, suara-suara malam yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Hanya ada kawat dan kelambu yang membatasi aku dengan kegelapan di luar. Hanya lampu 5 watt itu yang membuatku bisa melihat suasana sekitarku. Sempat terlintas pikiran untuk keluar kamar dan lari ke kamar depan. Tapi pasti akan semakin mengerikan dan memalukan jadinya. Aku pasti akan lari sambil teriak-teriak dan dimarahi Mbak Yosi setibanya di kamar depan. Entah kenapa sejak kecil aku sangat takut dengan gelap dan sendiri. Untunglah aku kemudian tertidur.

Yang aku ingat sekali adalah saat aku terbangun. Aku terbangun sendiri, tidak seperti di kamar depan dimana Mama selalu membangunkan aku karena paling doyan terlambat bangun dibandingkan kakak adikku. Ayo, sekolah, On, kata Mama setiap pagi.

Ketika mataku terbuka, lampu 5 watt masih menyala, suasana rumah belum ramai, hawa terasa lebih sejuk dan segar, sinar matahari pagi pelan-pelan masuk ke kamar sekalipun terhalang kelambu. Aku melihat gambar-gambar di dinding, lemari plastic, buku-bukuku. Semua masih ada di tempatnya. Kemudian terdengar suara langkah kaki Mama, yang membuatku sontak beranjak dari tempat tidur keluar kamar dan menyapa Mama; Ma, aku tidur sendiri! Mama cuma tersenyum. Aku memandangi jendela yang hanya dihiasi kawat itu sambil tersenyum dan kemudian mandi dengan riangnya.

Sampai kini, kedua hal itu yang selalu aku inginkan terjadi dalam hidupku dan hidup semua orang, malam gelap yang dikalahkan oleh cahaya sederhana dan pagi yang damai penuh kegembiraan. Itu semua akan semakin lengkap jika setibamu di luar kamar ada seseorang yang menyambut dengan penuh kasih.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s