Nasi Bebek Dharmahusada

Leave a comment
Tentang kota

Zaman kuliah dulu, Nasi Bebek di Jalan Dharmahusada, Surabaya ini aku kenal sebagai nasi bebek yang manis rasanya. Reputasinya tidak ada apa-apanya dibanding Nasi Bebek di depan SMAK Frateran atau Perak yang sangat tersohor di Surabaya itu. Kalau sekarang mungkin ditambah dengan Bebek Sinjai yang sudah membuka cabang di banyak tempat. Bahkan sekarang orang Malang pun juga suka makan bebek. Terakhir kali aku makan dengan teman-teman dari Papua di  LPMAK di daerah Karanglo, Malang.

Yang mengenalkan aku dengan Bebek ini namanya Dirun. Orang dengan selera makan yang unik; anti sayur! Apapun itu pokoknya sayurnya harus dibuang. Nasi goreng tanpa sayur, bakso tanpa sayur. Sayangnya aku belum pernah lihat dia pesan Capcay tanpa sayur.

Penampilan warungnya cukup meragukan. Berada di depan jajaran ruko di Jalan Dharmahusada. Kalau kamu dari arah Kampus C Universitas Airlangga bekas STOVIA itu, luruslah hingga pertigaan lalu lurus lagi ke arah Kenjeran. Sekarang lebih mudah menemukannya. Cari saja Alfamart pertama di sebelah kiri jalan. Warungnya ada tepat setelah Alfamart.

Setelah sekitar 10 tahun tidak makan di situ, dalam sebuah kesempatan di Surabaya, entah kenapa aku ingin sekali makan Nasi Bebek Dharmahusada itu. Padahal di Jalan Dharmahusada itu juga ada Soto Madura Tapaksiring.

Aku meluncur dari arah tengah kota Surabaya, meninggalkan barisan mal yang penuh kepalsuan itu, masuk ke daerah Universitas Airlangga. Seseorang pernah bilang padaku, bahwa daerah yang aku hafal dan akrabi di Surabaya bukan daerah yang nge-hip. Alih-alih sering nongkrong di Jalan Sumatera dan sekitarnya yang dipenuhi cafe atau resto yang sekarang jadi tongkrongan anak-anak muda dan sosialita Surabaya, aku lebih hafal dengan jalanan Surabaya yang tidak ada di peta pergaulan anak muda; Kenjeran, Bulak Cumpat, Rangkah, Pogot, Bronggalan, Sukodono, Kapas Krampung, Gubeng, dan banyak tempat lagi.

Nyatanya di tempat-tempat itulah aku mengenal manusia Surabaya yang sebenarnya. Yang tergolong aneh di jagat manusia Jawa. Dari manusia-manusia itu aku mengenali budayanya, dari artefaknya yang paling nyata dan laten, makanan. Mulai dari sego sambel, warung giras, dan nasi bebek yang sedang aku tuju sekarang ini.

Warungnya masih ada. Masih sama reotnya dengan yang dulu. Saat itu sudah sekitar jam 8 malam. Surabaya diguyur hujan lumayan deras. Jalan Dharmahusada tergenang air di sana-sini. Termasuk di depan dan di dalam warung. Aku jadi ingat dulu Dirun dan aku pernah spontan memaki “Jancuk!!” kepada mobil yang dengan enaknya menggasak genangan air dan mengirimkan ekstra kuah ke dalam piring nasi bebek kami.

Sepiring nasi bebek kemudian tersaji di hadapanku. Hujan masih turun rontok-rontok. Deras tidak reda juga tidak. Yang ada di piringku adalah nasi yang masih hangat, dua potong timun, dua helai kubis, sesendok sambal, serta sepotong paha bebek yang sudah dibumbui dan nampaknya lebih kurus dibanding dulu, apalagi jika dibandingkan dengan Bebek Sinjai atau Frateran.

Dan rasanya? Masih sama dengan yang kuingat. Manis. Rasa manis yang kemudian dipadukan sambal yang pedes. Ah, ternyata lebih cocok di hati menyebut pedes, katimbang pedas atau pedis (di Papua dan Indonesia Timur).

Daging bebek yang semakin kecil itu mendadak nyangkut di gigiku. Dengan kelabakan aku minta tusuk gigi. Ga ada, mas, kata penjualnya santai.

Sambil mencari cara mengeluarkan daging dari sela-sela gigi dengan cara yang paling beretika dan beradab, aku mengamati sekitarku.

Selain aku ada dua orang pemuda yang makan dengan senyap. Tidak merasa perlu saling menyapa menanyakan cuaca atau apa begitu. Satu perempuan dan satu laki-laki. Bertiga kami melengkapi sebuah pemandangan yang bagimu pasti menyedihkan, tiga pemuda kurus makan dengan diam berbagi tatapan kosong di sebuah warung dengan meja makan butut, duduk di kursi plastik reot yang berdiri gamang di atas tanah becek persis di depan jalan yang hiruk pikuk. Ketiganya menyantap makanan yang kandungan gizinya mungkin sama dengan makan belalang goreng. Lalu dua orang di antara mereka menyudahi makan malam. Mencuci tangan di kobokan dengan air yang tidak jelas darimana asalnya, minum segelas es teh, dan membakar sebatang rokok kretek mereka.

Seseorang lalu mengeluarkan telepon genggamnya yang berbunyi tidak lama setelah tarikan rokok yang ketiga, menjawab “halo” dan diam beberapa saat.

Kalau kamu punya pendengaran yang baik, kamu akan mendengar bahwa seseorang di telepon genggam yang lain mengatakan, “Melase, Rek, gak ono pilihan liyane ta?”

Tapi kalau tidak, kamu cuma akan mendengar pria kurus itu mengatakan, “Haha.. Jancuk. Sekarepku pak. Kangen ae karo bebekmu iki.”

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s