laziness will always prevail

comments 2
Tentang kawan


le chat
Originally uploaded by absolute onie.

yap. benar sekali rol. aku nonton waking life itu di rumahmu ya. dan kita semua yang nonton pada bengong. kalo aku terlihat serius itu bukan karena aku mikir filsafat aneh-aneh di film itu. aku tersihir ngeliat animasi film itu. dan mungkin karena agak capek.

sama capeknya seperti sekarang. tadi pagi aku dibangunkan dengan tiga telepon yang semuanya mengagetkan. yang pertama, sekitar jam setengah 8, dari saudaraku, mengabarkan bahwa pak ali akan datang ke yogya siang tadi. kedua, seorang kawan dari surabaya, sekitar jam 9, bilang bahwa dia menerima aku (yeee) dan mengajak salaman lewat telepon. ketiga, siapa ya? kok aku lupa. ada tiga pokoknya, aku lupa yang terakhir. mungkin telepon salah sambung.

tapi yang paling bikin aku khawatir itu, rol. adalah telepon yang kedua. karena konsekuensi dari penerimaannya itu adalah aku harus bangun pagi (dan…ehem..sepertinya setiap hari. yuhu).

kalau aku bilang bangun pagi itu berarti aku bangun jam 8. dan kalau ada yang mencela kebiasaan buruk bangun siang aku akan menangkisnya dengan senjata yang itu itu saja: jam produktif tiap orang kan lain-lain.

si christo (yang kemarin aku ketemu di kantornya “temanku” itu dan diterima juga) mengkhawatirkan hal yang sama. doakan kita ya, rol. semoga bisa menikmati nikmatnya vitamin d setiap pagi.

kini kita beralih ke pembahasan yang lain; soal kedatangan ke rumahmu. waktu itu si sasi ngajak ngambil kaos. karena aku juga pesan ke nina jadi ya aku mengiyakan ajakan sasi. sekalian siapa tau ada koleksi filmmu yang ketinggalan dan bisa aku bawa pulang.hehe. ga lah.

yang jelas, udah lama ja ga nongkrong di rumahmu. nah begitu. pas baru mau nyampe di depan rumahmu kok ya ada mobilnya uyab. kebetulan sekali. maka jadilah kita sebentar-sebentar di antara ngobrol tentang ini itu, membicarakan dirimu. waktu itu rasanya kamu bakal nongol sambil bawa setumpuk film. tapi yang keluar malah mamamu, sambil bawa hape dan bilang kalau kamu nanya ngapain kita ngumpul di rumahmu. si sasi ketawa waktu itu, katanya, ‘aku bisa bayangin carol lagi marah-marah, gayanya itu lho, hehe….’

tidak lama kemudian uyab pulang, tinggal aku dan nina ngobrol2.

kalau ada kamu mungkin kita akan ngobrol soal pilihan studimu. semoga aku mengatakan hal yang baik untuk kamu. kalo katanya temanku, apa pun pilihan yang kita hadapi harus dihadapi dengan yakin. yakin dengan pilihan kita dan apa yang akan dijalani. kedengarannya sederhana. tapi yah ternyata untuk yang sederhana kita sering abai. apalagi aku. bangun pagi itu kurang sederhana bagaimana?

ya udah ya rol. aku mau tidur dulu. besok harus bangun lebih awal. untukmu aku cuma bisa menganjurkan mendengarkan band yang namanya explosions in the sky. aku lagi suka sama lagu mereka yang judulnya ‘first breath after coma’.

good luck, carol.

ps: aku jadi pengen nonton waking life lagi. kamu masih punya ga?

Kota di Alkitab

comment 1
Kliping

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Kota: Bentuk peralihan dari hidup petani menuju hidup kota di Timur Tengah berlalu dari dasa abad ketujuh menuju dasa abad ketiga. Hal itu penting sekali bagi tahap perkembangan kebudayaan umat manusia. Persekutuan kelompok desa yang terutama terpusat pada usaha produksi makanan itu berkembang menuju masyarakat yang berbeda dan memiliki berbagai pekerjaan dengan kelompok jabatan baru seperti: tukang, pedagang, prajurit, pegawai, penulis, dan imam. Mereka membentuk sistem yang bertingkatan mengenai kekuasaan pengaruh dan haknya. Pada puncaknya bertumbuh sebuah pemusatan jenis kekuasaan teokratis, monarkis, atau aristokratis.

Hasil usaha rohani dari terpenting dalam kebudayaan kota adalah penemuan tulisan (abjad; Bahasa Ibrani, hieroglif, tulisan paku). Sebuah bentuk pendahulu yang lebih tua daripada puncak kebudayaan kota dibuktikan dari bukit tempat tinggal di Yeriko (dasa abad 7-6). Corak yang benar-benar bersifat kota di Palestina baru muncul pada kebudayaan tembaga. Kota-kota pada zaman ini (sekitar 3200-1200 SM) tanpa pengecualian selalu diperkuat dengan tembok-tembok yang kuat.

Kota-kota adalah negara kerdil yang berdiri sendiri dan sering saling bersaing dengan susunan masyarakat yang feodal. Dinasti yang berkuasa di Akropolis memerintah sekelompok rakyat yang tidak bebas, yang rumahnya miskin berdesakan di dalam lingkungan yang sempit (misalnya kota Yeriko pada awal zaman tembaga itu luasnya sekitar 225 x 80 meter). Kota-kota itu lebih mudah dimengerti dengan adanya tempat perlindungan dan tempat penyimpanan barang-barang dan tempat kediaman.

Bangsa Israel yang masuk ke Kanaan dari daerah padang stepa itu terasing dari kehidupan kota sampai waktu yang lama. Bagi mereka kehidupan kota nampak sebagai keangkuhan manusia (Kej. 11:1-9) dan kejahatan (19:1-28). Tempat-tempat pertama yang mereka kelilingi dengan tembok itu mirip dengan sebuah kota. Tempat-tempat itu semata-mata adalah tempat tinggal bagi para petani ladang. Di situ para penatua memegang tampuk pimpinan. Dengan pembentukan negara bagi bangsa Israel, barulah timbul proses urbanisasi (dan Kanaanisasi) dengan titik-titik pusat Yerusalem dan Samaria (: kenisah, istana, pusat-pusat pemerintahan dengan susunan tingkat atas yang dibentuk oleh para pegawai raja). Sebuah corak kota yang baru, ditemukan pada zaman Helenis, yang ditentukan oleh bentuk polis Yunani. Pada kedua sisi jalan utama yang lebar dibuatkan susunan-susunan persegi seperti pada papan catur. Di situ ada bagian-bagian yang diberi ketentuan-ketentuan lingkup-lingkup yang diatur untuk halaman umum dan bangunan-bangunan umum (Maresya). Kota-kota Romawi (Gerasa) mempersatukan tempat-tempat kediaman dalam bentuk salib. Suatu ciri khas kota Romawi adalah banyaknya gedung umum yang besar-besar. Keadaan otonom pada zaman Helenis tetap dipegang oleh kota-kota itu pada kekuasaan Romawi. Paling tidak mereka mempertahankan kebebasan agama, yurisdiksi, dan administrasi. Pimpinan, Dewan Penasihat dan Sidang Rakyat (atau mahkamah agama di Yerusalem) hanya terbuka bagi mereka yang memiliki hak warga negara. Dari situlah timbul cara bicara kiasan tentang kota Yerusalem surgawi ( Gal. 4: 25-26; Ibr. 11: 10.16; Why 21:2). Di situ umat Kristen menikmati hak warga negara dan tidak perlu memandang dirinya menjadi orang asing dan tamu (Ef. 2:19; Ibr. 11-13; 1 Ptr 2:11). Lihat juga Benteng

Sumber: Haag, Herbert (1992), Kamus Alkitab, Ende: Penerbit Nusa Indah.

Substance D

comment 1
Film


scanner darkly
Originally uploaded by absolute onie.

awalnya aku kira film ini akan jadi film yang akan bisa membuat akhir mingguku jadi menyenangkan. ternyata malah kebalikannya. film yang ternyata adaptasi dari novelnya mas philip k. dick ini bikin aku jadi ingat novel neuromancer-ku yang aku berikan ke puthut (padahal aku belum selesai baca) dan sebuah film animasi yang judulnya ‘waking life’ (2001). konon genre film semacam ‘a scanner darkly’ dan ‘waking life’ itu namanya rotoscope.

adegan pembukanya akan langsung bikin kamu bangkit dari kursi atau tempat tidurmu: si charles (rory cohcrane) yang sedang kebingungan karena dirubung serangga sampai dia mandi berkali-kali dan tetap saja serangga warna hijau itu mengerubungi dia dan merayap di seluruh kamarnya. behh….

ternyata si charles itu kecanduan obat yang namanya ‘substance d’. obat ini tidak akan kamu temukan di masa kini, mungkin beberapa tahun mendatang. sekalipun obat yang bisa membuat otak pecandunya menjadi kacau sudah banyak kita temukan.

seperti film dystopis lainnya, film ini berlatar belakang masa depan yang tidak begitu jauh. sudah lewat lah rasanya masa film2 tentang masa depan yang jauh sekali (tahun 3030 misalnya) dan manusia yang dijadikan budak alien atau bumi yang hancur karena perang nuklir.

bumi yang kita lihat di film ini adalah bumi yang kita diami saat ini. satu-satunya benda dalam film ini yang membuat kita berpikir bahwa bumi tempat charles hidup bukan bumi yang kita kenal, adalah ‘scrambler suit’, pakaian yang membuat pemakainya tidak bisa diidentifikasi karena selalu menampilkan berbagai macam sosok manusia.

pakaian itu dipakai oleh bob arctor (keanu reeves), seorang pecandu ‘substance d’ yang menyamar jadi agen rahasia polisi (nah baru kali ini kan ada pecandu yang menyamar jadi polisi).

si bob muncul di adegan yang tidak kalah kerennya. dia jadi pembicara tamu di sebuah acara amal yang diadakan sebuah organisasi yang memerangi pemakaian dan peredaran ‘substance d’. sedianya dia akan memberikan testimoni sebagai seorang mantan pecandu ‘substance d’. tapi ujung2nya dia malah mempertanyakan kenapa orang bisa kecanduan ‘substance d’, bagaimana tata masyarakat membuat orang tidak memiliki banyak pilihan. dan kalau tidak salah dia mempertanyakan bagaimana orang2 yang menderita sakit keras tapi ternyata malah tidak bisa mendapatkan obat karena harga obat mahal sekali.

akhirnya testimoni yang subversif itu diinterupsi oleh polisi yang berbicara melalui ‘scrambler suit’ yang dikenakan bob.

si charles dan bob tinggal serumah dengan orang gila yang namanya aku lupa (robert downey, jr.) di daerah suburban di luar anaheim, california, amerika serikat. sebelumnya bob tinggal di rumah itu bersama keluarga kecilnya yang bahagia. tapi gara2 kepala bob membentur lemari, hidup bob jadi berubah total; dia mulai kecanduan substance d.

aha. satu lagi yang bikin dunia mereka terasa akrab dengan kita; mereka tinggal di masyarakat yang terkontrol. keberadaan seseorang bisa dilacak hanya dengan menyadap telepon genggam. orang memang bisa bebas berteriak di jalanan memrotes ketidakbecusan pemerintah, tapi kalau sudah memrotes hubungan pemerintah dengan perusahaan yang berusaha memerangi keberadaan ‘substance d’ kamu akan ditangkap begitu saja. mungkin kayak mas2 mahasiswa di indonesia yang sekarang sering demo mengajak masyarakat menangkap koruptor, pasti dibiarkan saja. tapi kalau udah ngomong soal bisnis militer atau ketundukan pemerintah terhadap imf atau bank dunia, bisa dipastikan mereka yang demo akan dapat hadiah bogem atau badan pegal2 kena pentung polisi.

dan ternyata orang di film itu yang memrotes perusahaan yang memerangi ‘substance d’ benar adanya. perusahaan itu namanya ‘new path’ dan memang ternyata perusahaan itu yang memroduksi ‘substance d’.

si bob yang akhirnya masuk ke lembaga rehabilitasi menemukan bahwa di antara hamparan luas ladang jagung tumbuh jutaan benih bunga berwarna ungu.

sampai bob masuk lembaga rehabilitasi, dia tidak tahu bahwa bosnya yang juga mengenakan ‘scrambler suit’ dan setiap hari dia temui di kantor ternyata adalah kekasihnya sendiri (winona ryder).

Apa yang Ditawarkan Surabaya?

comment 1
Tentang kota

Seorang teman saya akhir-akhir cukup gelisah mendapati beberapa fakta, yaitu bahwa Surabaya kerap terlewatkan begitu saja dalam sebuah rangkaian acara kebudayaan. Dari Jakarta, rangkaian itu biasanya mampir di Bandung, Yogyakarta, dan kota di Jawa Timur yang dituju malah Malang. Tidak habis dia berpikir, mengapa bisa seperti itu. Bukankah di Surabaya ada banyak gedung pertunjukan kesenian yang memadai, bukankah warga Surabaya relatif lebih banyak dan lebih makmur daripada warga Malang?
Alasannya tersebut lebih masuk akal jika melihat banyaknya rangkaian acara yang agak atau seolah “berbau kebudayaan” di Surabaya, seperti peluncuran produk yang melibatkan sebuah kelompok musik kontemporer atau peluncuran novel karya artis ibukota. Dan bukankah tur JIFFEST selalu mampir di Surabaya?
Tapi tetap saja dia gelisah. Kemudian dia menyamakan kondisi Surabaya dengan Makassar dan Bali (mungkin Denpasar maksudnya). Di kedua kota yang dia sebut sebagai pembanding itu, perkembangan kebudayaan juga tidak terlalu menggembirakan. Di Bali kebudayaan memang sangat hidup, tapi kebudayaan yang untuk dijual bagi para turis yang datang berlibur ke Bali. Sedangkan Makassar lebih karena suasana industrialnya.
Nah, jadi apa masalahnya dengan Surabaya? Sekalipun tidak terlalu banyak, Surabaya toh juga sudah menyumbangkan individu-individu yang memajukan kehidupan kebudayaan Indonesia. Entah itu penulis, musisi, pelawak, pakar arsitektur, atau pakar kebudayaan. Sekarang juga banyak kita lihat kemunculan pusat-pusat kebudayaan alternatif di Surabaya, mulai dari galeri hingga toko buku komunitas.
Dengan cepat dia menyanggah pernyataan saya tersebut. Memang benar bahwa ada “beberapa” warga Surabaya yang memiliki sumbangan bagi perkembangan kebudayaan Indonesia. Tapi tidak demikian dengan Kota Surabaya itu sendiri. Di Surabaya kita tidak bisa menemukan ruang publik yang bisa difungsikan warga Surabaya sebagai sebuah oase kebudayaan. Di ruang publik semacam itu, ada proses interaksi antara warga Surabaya dengan semangat kehidupan kota tempat mereka tinggal, ada perjumpaan sosial antara sesama warga Surabaya, dan ada pembebasan dari tekanan rutinitas sehari-hari. Surabaya sekarang ini sudah terlalu penuh dengan mal dan perumahan mewah yang menutup rapat dirinya. Memang benar bahwa kemunculan pusat-pusat kebudayaan alternatif, seperti yang sebut tadi, bisa menyegarkan atmosfer kebudayaan Surabaya yang selama ini terlalu banyak berkutat di Dewan Kesenian Surabaya dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Tapi sejauh mana galeri-galeri dan toko-toko buku komunitas itu bisa berkembang?
Menurut Jane Jacobs (1992), sebuah kota harus “memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada semua orang, karena [kota] diciptakan oleh semua orang.” Tanpa memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada semua orang, sebuah kota tidak ubahnya sebuah labirin yang akan membuat siapa saja tersesat dan merasa teralienasi. Mungkin sekarang ini Surabaya terlalu sering mengabaikan manusia dalam membuat penawaran, dengan menawarkan daerah industri, mal, atau ruko (rumah toko). Malang yang kota kecil itu saja memiliki sebuah perpustakaan daerah yang cukup nyaman, kata teman saya dengan raut muka yang serius cenderung sedih. Saya tidak mau berpandangan pesimis seperti dia dalam memandang Surabaya, tapi kenyataan memang kerap membuat kita harus menelan pil pahit.

Referensi:
Jane Jacobs (1992), The Death and Life of Great American Cities, New York: Vintage Books.

Prajurit Kraton Yogyakarta

comments 2
Tentang kota

Sebagai kota kebudayaan, Yogyakarta seharusnya menggunakan pendekatan keamanan yang lebih memiliki warna budaya. Tentunya agak pincang diskusi ini jika kemudian prajurit Keraton Yogyakarta dibandingkan dengan Pecalang di Bali. Sementara Pecalang adalah sebuah unit pengamanan yang diusahakan oleh tata adat masyarakat Bali, prajurit Keraton Yogyakarta adalah hasil dan perangkat tata kenegaraan Mataram.

Sejak abad 17, prajurit Keraton Yogyakarta telah menjaga Yogyakarta dan menjelajah Jawa. Di bawah pendudukan Belanda, peran kemiliteran mereka mengalami kemunduran. Setelah dibubarkan oleh pemerintahan militer pendudukan Jepang pada tahun 1942, baru pada tahun 1970 (25 tahun setelah kemerdekaan RI dan bergabungnya Kesultanan Yogyakarta dengan RI) prajurit keraton dihidupkan kembali sekalipun tidak utuh semua Bregada (kesatuan). Dengan demikian, tindakan penghidupan kembali Prajurit Kraton tentunya tidak atas dasar pertimbangan militer. Dan bahkan bisa jadi tidak dilakukan di bawah bayang-bayang romantisme kebesaran mereka.

Sejak tahun 1970, 10 Bregada (kesatuan) Prajurit Keraton Yogyakarta (Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Nyutro, Prajurit Surokarso dan Prajurit Bugis) bisa disaksikan masyarakat Yogyakarta pada setiap upacara Garebeg Mulud, Garebeg Besar dan Garebeg Syawal, di alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dalam upacara Garebeg Syawal yang baru saja berlalu, saya berkesempatan menyaksikan kembali secara langsung prajurit-prajurit Kraton. Sekalipun kebanyakan sudah berusia lanjut dan sepertinya kurang leluasa bergerak dengan seragam yang “ribet”, mereka melakukan tugasnya dengan penuh semangat. Tidak jauh dari lokasi upacara Garebeg syawal, di Mirota Batik Jl. Malioboro, patung-patung prajurit Bugisan, Prawirotaman, tampak berdiri berdampingan dengan patung-patung serdadu Yunani Kuno. Ada kebetulan yang pahit dengan pemandangan itu. Patung prajurit Yunani kuno (sekalipun warisan kebudayaan Yunani masih lestari) yang sudah lama lenyap, berdiri berdampingan dengan patung-patung prajurit Kraton Yogyakarta. Seakan posisi mereka dalam sejarah Yogyakarta sudah ditetapkan; siap digerus waktu dan hilang.

Prajurit Kraton semestinya mendapatkan tempat pula dalam posisi “keistimewaan” DIY. Tempat yang memungkinkan mereka untuk bisa menyelami masyarakat Yogyakarta dan memelihara nuansa budaya kota Yogyakarta. Namun hal ini sama sekali tidak didasari pemikiran bahwa peran prajurit Kraton sekarang ini tidak ada. Di Bali kita lihat, bagaimana Pecalang masih memiliki peranan yang kuat dalam tata masyarakat Bali, tanpa membuat masyarakat Bali menjadi masyarakat yang militeristik. Beberapa anggapan memang memandang bahwa pecalang adalah perwujudan sisi Bali yang keras. Namun kehadiran mereka sebenarnya adalah perpanjangan nafas kebudayaan Bali dalam sistem keamanan masyarakat. Sistem yang sudah lama meninggalkan kebijakan lokal masyarakat Indonesia dalam hal pengamanan. Pamong praja dewasa ini misalnya, lebih senang menggusur rumah daripada melayani keluhan masyarakat. Selain menambah keamanan, Prajurit Keraton tentunya akan semakin memperkuat kadar keistimewaan DIY serta kadar tawaran pariwisata DIY.

Sejarah dan Identitas Surabaya

comments 15
Tentang kota

Warga Surabaya kini cukup beruntung dapat melihat secuil wajah masa lalu kota mereka. Beberapa lembaga (yang kebanyakan swasta) dengan telaten mengumpulkan foto-foto Surabaya “Tempo Doeloe”. Bahkan ada seorang penulis yang tidak hanya mengumpulkan foto, tapi juga berbagai kisah mengenai masa lalu Surabaya.

Tapi di sisi lain, pembangunan kota Surabaya seolah berjalan di jalur yang berlawanan dengan kemunculan ketertarikan untuk memahami sejarah Surabaya. Semakin banyak kita temui bangunan-bangunan lama dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru. Polemik mengenai penghancuran Stasiun Semut kini seolah terlupakan begitu saja. Jalan Raya Darmo yang sebenarnya merupakan museum raksasa masa lalu Surabaya secara perlahan kini menjadi ruang pajang koleksi Ruko (Rumah Toko), Bank, dan kantor. Secara perlahan rumah-rumah lama digantikan oleh bangunan baru yang menghapus referensi terhadap masa lalu Surabaya.

Lalu banyak pihak mempersoalkan kesadaran sejarah Pemerintah Kota Surabaya. Yang mungkin akan dijawab ringan oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan menunjukkan keberhasilan proyek revitalisasi kawasan Kembang Jepun (yang kini mendapat nama baru, “Kya-Kya”). Sekalipun pada siang harinya,kita tidak akan bisa jalan-jalan dengan nyaman di kawasan niaga itu.

Apakah kita baru berhenti pada sekedar romantisme masa lalu Surabaya (pada masa kolonialisme Belanda)? Ataukah pandangan sejarah kita yang salah? Paling tidak ada beberapa catatan mengenai sejarah dalam konteks pembahasan mengenai kota Surabaya.

Pertama, sejarah bukanlah kumpulan relik dari masa lalu atau kumpulan cerita yang unik. Sejarah adalah dialog yang terus menerus antara yang masa lalu dan masa kini. Hal itu juga berlaku bagi sejarah kota Surabaya. Usaha penulisan sejarah Surabaya dan pelestarian wajah kota Surabaya saat ini rasanya kurang melibatkan warga Surabaya. Warga Surabaya seolah hanya ditempatkan sebagai penikmat foto-foto Surabaya “Tempo Doeloe”. Sementara semakin banyak saja bangunan-bangunan lama yang dirobohkan dan warga Surabaya hanya bisa menyadari bahwa ada Mal atau Ruko (Rumah Toko) baru yang didirikan, tanpa mereka tahu bahwa ada bangunan lama yang dikorbankan untuk hal itu. Dengar-dengar korban berikutnya adalah Penjara Kalisosok. Dengan cara seperti itu, bisa-bisa sepuluh tahun mendatang hanya bangunan-bangunan lama yang kini digunakan pemerintah saja yang akan selamat.

Kedua, sejarah mestinya juga berfungsi sebagai sarana penguat rasa kepemilikan warga Surabaya atas kota dan sejarah panjang kota mereka.[1] Dan sejarah kota tentu saja sangat tidak memadai jika hanya diwakili oleh foto. Memang benar bahwa foto bangunan bisa bercerita begitu banyak. Tapi untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai masa lalu Surabaya kita juga membutuhkan juga foto jalan, taman kota, rumah sakit, penjara, dan peta kota. Jalan Tunjungan dulunya merupakan jalan dengan ruang arkade yang sangat memadai. Sekarang cobalah berjalan-jalan menyusuri Jalan Tunjungan, mulai dari Siola hingga pertigaan depan Tunjungan Plaza. Masihkah kita merasakan semangat “Rek ayo rek…mlaku-mlaku nang Tunjungan” seperti yang dinyanyikan oleh Mus Mulyadi? Atau cobalah berjalan kaki menyusuri Jalan Pemuda, mulai dari Perempatan Mitra hingga Balai Kota. Adakah perasaan bahwa kita sedang berada di jantung kota Surabaya? Kalaupun ada perasaan semacam itu mungkin hanya karena kemacetan dan arus lalu lintas yang tidak mempedulikan para pejalan kaki. Di Surabaya (dan di kota-kota lain di Indonesia sepertinya), ruang arkade dan promenade mungkin sudah mati, dan dipindahkan ke Mal-mal besar. Di mal-mal besar itu warga Surabaya kini mengalami berbagai perjumpaan. Bukan perjumpaan dengan sesama warga Surabaya, tapi dengan Matahari dan Sogo, Mango dan Zara, J.CO dan Coffebean. Bisa jadi warga Surabaya tidak merasa kehilangan ruang arkade dan merasa nyaman-nyaman saja berjalan-jalan di dalam lorong-lorong Mal. Tapi warga Surabaya juga tidak boleh marah jika ada warga kota lain yang mengatakan bahwa Surabaya tidak memiliki kekhasan wilayah kota. Tanpa kita sadari Surabaya ternyata sudah kehilangan begitu banyak hal. Tidak hanya bangunan-bangunan lama dan bersejarah.

Suatu kali saya pernah melihat para penggemar sepeda tua yang mengenakan pakaian kolonial bersepeda beriring-iringan melalui Jalan Tunjungan. Sudah pasti mereka menjadi pusat perhatian para pengendara mobil dan motor. Awalnya saya kaget, tapi kemudian ada perasaan miris yang muncul. Ya, para pengendara itu seolah hendak merayakan masa lalu Surabaya. Tapi untuk apa dirayakan? Apakah karena Surabaya sudah berubah menjadi sebuah “metropolis”[2] dan warga Surabaya sudah siap kehilangan sejarah panjang mereka dan menerima identitas baru kota Surabaya sebagai kota Ruko dan Mal? Semoga tidak sengeri itu jadinya kota kita kelak.


[1] Tidak banyak kota di Indonesia yang mengalami perkembangan seperti Surabaya, mulai dari sebagai kota tradisional praindustrial hingga menjadi kota modern pada masa penjajahan Belanda.

[2] Sejak kapan Surabaya jadi kota Metropolitan? Istilah “Metropolitan” itu muncul dan diterima begitu saja. Pemerintah kolonial Hindia Belanda dulu dengan sangat bangga menyebut Surabaya sebagai kota pelabuhan. Sebuah sebutan yang lebih pas dan tepat.

Burger Monalisa

Leave a comment
Tentang kawan / Tentang kota

ndul,
tadi aku makan burger yang rasanya aneh di jalan kaliurang. banyak banget bawang bombaynya.
sebenarnya aku nggak berniat makan. tadi sore setelah kelar beres-beres rumah, aku ke malioboro mall beli korden. warnanya biru sama ungu. setelah beli aku mendadak pengen banget makan burger. kenapa ya? bayanganku adalah burger yang di jalan sudirman dan burger monalisa di jakal. dua-duanya bukan burger beneran, tapi burger indonesia dan harganya cukup murah. soal rasa rasanya lebih enak yang burger di jalan sudirman.
seperti biasa kemudian aku bimbang memilih jalan. apakah ke sudirman atau jakal. di perempatan apa itu ya, yang ada gramedia, aku berbelok masuk ke gramedia. beli buku soal sejarah gardu di jawa. iya, gardu, tempat pak satpam atau orang kampung biasa nongkrong itu. sekarang sudah jarang ya ndul, kita liat gardu permanen di kampung. kebanyakan bentuknya sederhana saja dan dibuat dari bambu atau kayu. padahal zaman dulu itu yang namanya gardu kebanyakan adalah bangunan permanen (dari batu dan semen). di samping rumah yangti di malang dulu ada gardu yang usianya pasti sudah tua sekali. waktu kecil aku suka duduk-duduk di gardu itu sama anak-anak kampung, padahal tidak jarang bau gardu itu pesing.
baru-baru ini di pundong, bantul, aku liat gardu semacam yang aku liat di malang. tapi sudah penuh coretan tangan dan terlihat kotor. padahal kalau dirawat pasti bagus jadinya. nanti akan aku tunjukkan gambar2 gardu itu buatmu. tapi bukan di sini.
setelah itu aku ke burger monalisa. hehe. namanya kok monalisa, ya. pemiliknya ternyata adalah seorang ibu yang usianya kira 60an tahun. aku pesan burger keju, harganya rp.7500.
sambil makan burger itu aku memandangi orang-orang di jalanan, dan langit yang memerah. kamu ngerasa nggak kalau akhir-akhir ini matahari terlambat tenggelam? sudah jam 18.00 dan masih ada sisa cahaya matahari. di dalam burger itu bukan keju yang banyak aku temukan, tapi bawang bombay. kapan-kapan kita harus nongkrong di situ sore-sore ndul. dan mungkin kamu akan aku curhati dengan burger keju (tapi ternyata isi bawang bombay) dalam bentuk lain yang aku temukan di sini. tetep enak sih, tapi gimana gitu…

oya, kemaren ada segerombolan orang kanada main ke kantor. ada satu yang namanya jesse bochner. orangnya lucu. liat aja penggalan karya dan profilnya.

lupyu

How to Travel with a Salmon

Leave a comment
Buku

</

Buku dengan judul yang unik ini sebenarnya adalah kumpulan tulisan Umberto Eco dalam kolom “Diario Minimo” dalam majalah sastra Il Verri di Italia, mulai dari tahun 1959 hingga tahun 1961. Berbeda dengan gaya ulasan kebudayaan di Italia saat itu yang selalu serius, kolom yang diasuh oleh Umberto Eco ini selalu bertolak dari pandangan personal Eco atas kehidupan sehari-hari dengan gaya tulisan yang sangat tidak serius, bahkan cenderung “edan”. Selain tulisan Eco sendiri, kolom itu juga kerap diisi oleh kliping dari berbagai surat kabar, kutipan-kutipan eksentrik, serta tulisan dari para penyair, penulis, kritikus sastra Italia.

Setelah disunting oleh penyair Italia, Vittorio Sereni, buku yang diterbitkan dengan judul sama dengan nama kolom asuhan Umberto Eco, segera mendapat sambutan hangat dari pembaca Italia. Baru beberapa tahun kemudian baru “Diario Minimo” diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul “Misreadings”. Saya kurang tahu apakah buku dengan judul “How to Travel with Salmon” ini memiliki garis silsilah yang sama dengan “Misreadings”.

Sebagai orang yang selalu terpaksa membaca kolom-kolom kebudayaan yang serius di berbagai bentuk terbitan di Indonesia, saya harus mengaku agak kesulitan membayangkan seperti apakah sebenarnya kolom Catatan Mini (kalau boleh saya menyadur bebas ‘Diario Minimo”) itu. Apalagi membayangkan beberapa buku Eco yang aduhai tebalnya, dan beberapa memang serius. Seperti buku Eco yang baru saja dibeli seorang teman, “The Island of the Day Before”. Baru pegang bukunya saya sudah mau tertidur. Dalam keadaan mengantuk, saya mendengar teman saya mengulas garis besar isi buku: bahwa itu adalah buku tentang petualangan seorang priyayi Italia yang kapalnya terdampar di sebuah daerah di Pasifik Selatan.

Sekalipun beberapa tulisan dalam buku ini bisa dengan gampang dibilang “edan”, tidak semua humor dalam buku ini bisa dimengerti dengan mudah.

Dalam bagian “How to Replace a Driver’s License”. Eco mengkritik birokrasi kepolisian dalam mengurus Surat Izin Mengemudi. Daripada mempekerjakan para birokrat, akan lebih efektif mempekerjakan para teroris, yang terbiasa memalsu berbagai macam dokumen, tulis Eco. Kelucuan yang kita dapat dari cerita tentang ribetnya mengurus SIM yang hilang itu akan dengan cepat menguap saat kita membaca “How to React to Familiar Faces” misalnya. Bagian yang diawali dengan pengalaman doctor kelahiran Turin, Italia ini, saat jalan-jalan di New York (Amerika Serikat), diakhiri dengan renungan Eco yang sejenis dengan perenungannya dalam bukunya “Travels in Hyperreality”: bahwa media massa membuat yang imajiner menjadi kenyataan.

Mungkin karena kemampuan Eco dalam bercanda ini, beberapa bukunya laku keras dan membuat karya-karyanya menjembatani celah antara “karya sastra” dan “tulisan popular”.

Buku ini sudah selayaknya mendapat perhatian kita, bisa sekedar untuk menemukan penyegaran dari kolom-kolom serius para “budayawan” di beberapa media massa atau untuk memulai diskusi kebudayaan yang lebih terbuka dan santai.

Tulis apa adanya

comments 12
Tentang kawan

Photobucket - Video and Image Hosting

*…* Aug 17, ’06 9:45 AM
for everyone
mungkin titik-titik itu harus berisi kemarahan saya. atau mungkin juga sebuah perlambang akan keengganan saya untuk menjelaskan apa-apa sekarang. atau saya memang sudah tidak butuh penjelasan apa pun. semua sudah keluar. dan saya bukan seorang maniak akan penjelasan. intinya, kamu sudah menyakiti saya. itu cukup. jangan diulangi lagi, atau saya bisa membunuhmu.

Randurini. 28 tahun. Penulis fiksi yang terlalu sering disakiti. (onny, tulislah seperti ini saja. ini tidak segetir kelihatannya.)

ya memang sudah aku tulis seperti itu, randu. sama persis plek. agak kaget pas baca tulisanmu itu. dan semoga aku salah; si “kamu” itu bukan aku, kan?

bagaimana kabarnya? sering ketemu astrid ga? dia sekarang ga pernah muncul di tandabaca. pasti masih sama bapaknya ya. kalau ketemu dia tolong bilang jalan gejayan sekarang rasanya tambah gelap setiap malam. setiap pulang dari tandabaca rasanya kayak lewat jalan kecamatan yang akan berakhir di sebuah lapangan. kenapa ya. mungkin karena aku sendiri ga pernah suka jalan itu.

aku ini nulis apa sih? yawislah gitu aja. randu ga pengen ngirim tulisan ke tandabaca lagi? aku tunggu ya. kaosnya sekarang warna oranye.

Leave a comment
Tentang kawan

warung jojo

“pie,jo…aku mrono ngko bengi.”
“ok. tapi aku sik sibuk kerjo.”
“ramasalah.”

ternyata memang jojo sibuk sekali. warungnya rame. begitu parkir motor langsung aku bertemu wajah2 lama anak unair, yang paling aku kenal adalah pak dwi dan slamet. ealah…
rasanya kayak cangkruk di corner dulu. bedanya yang ini lebih banyak warga kampung sekitar dan yang jualan adalah si jojo.
setelah ngobrol bentar ama pak dwi aku pindah ke bangku panjang tepat di depan meja tempat jojo bekerja.
warung jojo ini terletak di jl karangmenjangan. gerobak warungnya menempel di divider jalan yang memisahkan dua lajur jalan utama dengan jalan kecil. di divider yang besar itu ada pot-pot besar setiap jarak lima meter. di ruang antara setiap pot itu para pelanggan warung jojo duduk dan menikmati kopi mereka.

tidak lama kemudian slamet datang menemani aku duduk di bangku panjang itu. ternyata anak itu banyak membaca dan nonton film. cara membacanya termasuk unik. dia lebih memilih membaca lebih lambat dari kebanyakan orang ketimbang melewatkan detail cerita. apa ya kok bisa tau2 ngomong buku? ah ya, gara-gara aku mengaku sebagai seorang homophobic. dia langsung nyerocos menceritakan adegan2 di film ‘friends’ yang aku sama sekali ga tau dan kutipan kisah dari buku2 yang ga pernah aku baca. film kayak gituan yang pernah aku tonton paling cuma ‘six feet under’. buku yang ga pernah aku baca dan dibaca slamet sampai tuntas adalah; harry potter, musashi, novel2nya toni morrison, dan…chicken soup for the soul!! haha jadi ingat bu salim.

aku sudah lupa pastinya alur pembicaraan dan beberapa rekomendasi film dari slamet, tapi yang jelas aku ingat bahwa aku jadi pengen dengerin lagunya indigo girls. slamet cerita bahwa dari semua bagian buku chicken soup for the soul (bagian college) dia paling suka yang hal berapa gitu,pokoknya yang ada cerita tentang seorang mahasiswa yang benci ngeliat mahasiswa2 yang suka nongkrong di kampus.

aku jadi agak lupa bahwa agendaku ke warung jojo adalah ketemu dengan jojo. si jojo baru terlihat agak longgar setelah jam 1 malam. jadi aku ngobrol sama slamet kurang lebih sekitar tiga jam dan setelah menghabiskan beberapa batang rokok 76 (yang langsung bikin aku pengen sikat gigi…gahar banget rasanya).

ngono lah mas. kalo ngomong soal suasana, kayaknya ga jauh beda sama suasana warung inspirasi dulu. bedanya warung jojo lebih banyak pelanggan adalah warga kampung dan bukan para pekerja kantoran kayak di warung sampean dulu.eh mas dulu ada pelanggan sampean yang sempat nraktir mabuk itu namanya siapa ya? orangnya sepantaran si dandik gitu lah.

kesamaan dengan warung sampean adalah warung jojo menyediakan papan catur sebagai hiburan. tapi menurut jojo, papan catur yang tersedia sebenarnya banyak, tapi banyak yang hilang. tapi kayaknya si jojo nggak terlalu suka main catur.

ternyata si jojo ngajak aku ngobrol soal csr (corporate social responsibility)warungnya.hehe. dia kepengen warungnya juga jadi pusat kegiatan. aku langsung nanya; ‘kegiatan masyarakat sekitar atau kawan2 (yang kebanyakan anak unair)?’. usulku ya ga banyak,ajak aja warga kampung bikin media sendiri. kalo dibikin acara baca puisi kayak di warung rel deket iain sunan ampel dulu,pasti pelanggan dan warga kampung akan langsung merasa berjarak dengan kawan2. apa itu puisi? hawa panas dan banyak nyamuk gini kok baca puisi? dasar mahasiswa…

pasti asyik toh mas,kalo warga kampung karangmenjangan situ tau sejarah kampung mereka, sejarah jalan karangmenjangan yang sekarang jadi lebar sekali itu. tapi ya itu cuma usul. kalo ga suka ya ayo cari alternatif lain.

aku inget dulu warung sampean jadi rame orang diskusi gara2 main catur dan membacai buku2 yang sampean sediakan di setiap meja. bahkan ada alkitab dan alquran segala.wah masyuookk tenan (kalo kata planky. hehe).

besok aku mungkin ke menanggal ke rumah aldy.kalo bisa aku mampir ke petra. sekalian lihat lowongan pekerjaan. mungkin ada lowongan jadi pendeta di poso.pasti rame. hehe.

oke mas,aku utang sik yo; gudanggaram inter papat,es milo siji, es teh siji, krupuk usus loro.