Apa yang Ditawarkan Surabaya?

comment 1
Tentang kota

Seorang teman saya akhir-akhir cukup gelisah mendapati beberapa fakta, yaitu bahwa Surabaya kerap terlewatkan begitu saja dalam sebuah rangkaian acara kebudayaan. Dari Jakarta, rangkaian itu biasanya mampir di Bandung, Yogyakarta, dan kota di Jawa Timur yang dituju malah Malang. Tidak habis dia berpikir, mengapa bisa seperti itu. Bukankah di Surabaya ada banyak gedung pertunjukan kesenian yang memadai, bukankah warga Surabaya relatif lebih banyak dan lebih makmur daripada warga Malang?
Alasannya tersebut lebih masuk akal jika melihat banyaknya rangkaian acara yang agak atau seolah “berbau kebudayaan” di Surabaya, seperti peluncuran produk yang melibatkan sebuah kelompok musik kontemporer atau peluncuran novel karya artis ibukota. Dan bukankah tur JIFFEST selalu mampir di Surabaya?
Tapi tetap saja dia gelisah. Kemudian dia menyamakan kondisi Surabaya dengan Makassar dan Bali (mungkin Denpasar maksudnya). Di kedua kota yang dia sebut sebagai pembanding itu, perkembangan kebudayaan juga tidak terlalu menggembirakan. Di Bali kebudayaan memang sangat hidup, tapi kebudayaan yang untuk dijual bagi para turis yang datang berlibur ke Bali. Sedangkan Makassar lebih karena suasana industrialnya.
Nah, jadi apa masalahnya dengan Surabaya? Sekalipun tidak terlalu banyak, Surabaya toh juga sudah menyumbangkan individu-individu yang memajukan kehidupan kebudayaan Indonesia. Entah itu penulis, musisi, pelawak, pakar arsitektur, atau pakar kebudayaan. Sekarang juga banyak kita lihat kemunculan pusat-pusat kebudayaan alternatif di Surabaya, mulai dari galeri hingga toko buku komunitas.
Dengan cepat dia menyanggah pernyataan saya tersebut. Memang benar bahwa ada “beberapa” warga Surabaya yang memiliki sumbangan bagi perkembangan kebudayaan Indonesia. Tapi tidak demikian dengan Kota Surabaya itu sendiri. Di Surabaya kita tidak bisa menemukan ruang publik yang bisa difungsikan warga Surabaya sebagai sebuah oase kebudayaan. Di ruang publik semacam itu, ada proses interaksi antara warga Surabaya dengan semangat kehidupan kota tempat mereka tinggal, ada perjumpaan sosial antara sesama warga Surabaya, dan ada pembebasan dari tekanan rutinitas sehari-hari. Surabaya sekarang ini sudah terlalu penuh dengan mal dan perumahan mewah yang menutup rapat dirinya. Memang benar bahwa kemunculan pusat-pusat kebudayaan alternatif, seperti yang sebut tadi, bisa menyegarkan atmosfer kebudayaan Surabaya yang selama ini terlalu banyak berkutat di Dewan Kesenian Surabaya dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Tapi sejauh mana galeri-galeri dan toko-toko buku komunitas itu bisa berkembang?
Menurut Jane Jacobs (1992), sebuah kota harus “memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada semua orang, karena [kota] diciptakan oleh semua orang.” Tanpa memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada semua orang, sebuah kota tidak ubahnya sebuah labirin yang akan membuat siapa saja tersesat dan merasa teralienasi. Mungkin sekarang ini Surabaya terlalu sering mengabaikan manusia dalam membuat penawaran, dengan menawarkan daerah industri, mal, atau ruko (rumah toko). Malang yang kota kecil itu saja memiliki sebuah perpustakaan daerah yang cukup nyaman, kata teman saya dengan raut muka yang serius cenderung sedih. Saya tidak mau berpandangan pesimis seperti dia dalam memandang Surabaya, tapi kenyataan memang kerap membuat kita harus menelan pil pahit.

Referensi:
Jane Jacobs (1992), The Death and Life of Great American Cities, New York: Vintage Books.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s