In Rainbows

comment 1
Musik


Akhirnya terbukti bahwa Radiohead tidak tenggelam dalam keanehan mereka sendiri atau menyibukkan diri dengan kegiatan selain bermusik. Mereka masih mampu main musik.

Album baru Radiohead ini bertajuk In Rainbows. Aku baru mendengarkan lagu-lagu dari CD 1 dari salah seorang personil Bina Elektronika Grup. Lagu-lagu dari CD 2 belum bisa didengarkan. Harganya cukup bisa bikin kita “high and dry”, 170-an ribu dan baru akan beredar 3 Desember nanti.

Berikut ini daftar lagu dari In Rainbows:

CD 1 and Vinyl
Bodysnatchers
Nude
Weird Fishes/Arpeggi
All I Need
Faust Arp
Reckoner
House Of Cards
Jigsaw Falling Into Place
Videotape

CD 2
Mk 1
Down Is the New Up
Go Slowly
Mk 2
Last Flowers
Up On The Ladder
Bangers And Mash
4 Minute Warning

Kelinci atau Guinea Pig Sungguh Bukan Masalah Buat Dia

Leave a comment
Tentang kota

Hewan peliharaan pertamanya adalah seekor kelinci, yang langsung masuk angin begitu tiba di rumah setelah melalui perjalanan dari Bratang hingga Kepanjen. Seorang teman bilang bahwa itu bukan kelinci, tapi guinea pig. Sejenis hamster tapi lebih besar.
Kelinci itu meringkuk di kurungan dari kawat. Hanya setangkup kubis di pojok kurungan yang membuat dia merasa bahwa dia masih di Bumi. Hal lain yang membuat kelinci itu yakin dia masih bisa hidup beberapa jam lagi adalah tatapan kosong dari wajah mongoloid yang terjepit di antara dua pria; mungkin ayah dan paman dari majikan barunya itu.
Ketika melintas di Jalan Pemuda yang masih basah, anak itu merasa begitu mengantuk dan mendadak begitu menginginkan sebuah kisah sedih. Perasaan aneh yang selalu meliputinya setiap kali ayahnya menuruti permintaannya. Perasaan yang dulu juga sering aku alami. Setiap kisah bahagia harus diikuti dengan kisah sedih. Kehancuran. Dulu sehabis dibelikan mainan handphone-handphone-an, dia ingin ada orang yang merampas dan membakar mainan dari plastik itu.
Malam itu, di Jl. Pemuda yang masih basah, dia ingin membelai bulu kelinci yang berwarna coklat itu di sebuah kamar dan kemudian membalut badannya dengan handuk dan kemudian dikuburkan di halaman depan rumah.

Sadari Pentingnya Bangunan-bangunan Bersejarah!

comment 1
Tentang kota

Iklan Layanan Masyarakat Kompas

Itulah baris dari sebuah iklan layanan masyarakat yang tayang di Kompas Jawa Timur Jumat 19 Oktober 2007. Teks yang mendahului tagline tersebut adalah penjelasan mengenai sejarah gedung yang dulu bernama “Del Algeemene Verzekerings Maatshcapij”. Perancang eksterior gedung itu adalah Jan Toorop. Selesai merancang eksterior gedung itu, Jan Toorop kembali ke Belanda dan menjadi seniman besar Art Nouveau.
Gedung itu terletak di Jalan Jembatan Merah Surabaya dan kini ditempati oleh sebuah perusahaan konstruksi PT. Metalco di Kantor.
Pernah pada sebuah siang yang terik, saya bersama seorang kawan berkesempatan mengunjungi sebuah gedung di sebelah gedung yang menjadi model iklan layanan masyarakat Kompas tersebut.
Hanya ada seorang ibu yang menyambut kedatangan kami. Mungkin karena gedung itu terlalu sering difoto atau jadi obyek wisata, ibu itu mengajak kami masuk dan mempersilakan kami mengambil gambar.
Dengan keramahan seorang pemandu wisata, dia menjelaskan kepada kami sejarah kepemilikan gedung itu. Dari penjelasannya, jelas sekali bahwa gedung itu berganti pemilik pada masa perusahaan-perusahaan asing Belanda dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, yaitu pada dekade 1950-an.
Ruangan yang dulunya sebuah hall besar sekarang dibatasi sekat-sekat kayu yang sudah kusam. Sekalipun demikian sekat-sekat itu tidak membuat ruangan terlihat kecil. Bagi kami, ruangan itu tetap terasa luas.
Bu Arum kemudian membawa kami ke meja kerjanya, sebuah meja kerja sebelum komputer menjadi perangkat wajib. Meja yang tidak dialasi taplak itu menjadi tempat Bu Arum untuk menata beberapa buku akuntansi, sebuah gelas teh, dan beberapa map yang sudah lusuh.
Setelah mengambil beberapa gambar, kami pamit pergi. Di jalan Jembatan Merah yang ramai dan tidak bertrotoar itu kami berjalan melintasi sepasang patung singa. Mungkin itu kunjungan terakhir kami ke daerah itu.
Paragraf penutup dalam iklan layanan masyarakat itu seperti teriakan yang penuh kesedihan: sejarah memberikan kesaksian menembus waktu, memendarkan realitas, menghidupkan ingatan, dan memberi petunjuk kehidupan.
Di kota yang selalu memandang ke depan, sejarah tidak menjadi petunjuk apa-apa.
Kurang jelas sebenarnya apakah iklan layanan masyarakat tersebut adalah sebuah bagian dari kampanye pelestarian bangunan tua di Surabaya ataukah hanya sekedar pengisi halaman kosong. Penempatannya pun kurang sanggup meraih perhatian pembaca, karena ditempatkan di pojok kanan bawah bercampur dengan jajaran iklan baris.

Kisah Kota yang Terus Bergerak

comment 1
Kliping

Soerjono Herlambang

Batavia adalah kota yang matang dan bermartabat, sedangkan Surabaya adalah kota yang masih muda yang sedang dibangun. Bila Batavia adalah sebuah rumah, Surabaya adalah sebuah pasar dan sebuah pabrik. Kidung Surabaya adalah kidung para pekerja. Tak ada lagi tempat yang lebih ramai yang dapat ditemukan di sebelah timur Terusan Suez. Sepanjang hari jalanan penuh sesak, selalu bising, dan malam pun tak pernah sepi.…”

Deskripsi menarik tentang karakter Kota Surabaya di atas ditulis Macmillan (1926) dalam sebuah buku direktori perdagangan Asia. Awal abad ke-20 Surabaya memang dikenal sebagai pelabuhan tersibuk dan kota terbesar di seluruh wilayah koloni Hindia Belanda. Surabaya telah tumbuh menjadi salah satu kota pelabuhan dagang penting di Asia, sejajar dengan Kalkuta, Rangoon, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Shanghai.

Dalam sensus 1905 tercatat 150.000 jiwa penduduk mendiami kota Surabaya. Sekitar 20 persen dari jumlah penduduk adalah keturunan asing: 8.000 jiwa keturunan Eropa yang makmur, sekitar 15.000 jiwa komunitas China, dan 3.000 jiwa keturunan Arab. Seperti di kota kolonial lainnya, mereka tinggal dalam lingkungan hunian kelompok etnik masing-masing (ethnic quarter). Antara 1888-1916, sekitar 1.500 hektar perumahan baru selesai dibangun, sebagian besar dikerjakan oleh pihak swasta. Produksi gula dan tembakau yang melimpah dari lembah Brantas yang membentang dari Jombang, Kediri, hingga Madiun, mendorong lahirnya berbagai institusi perekonomian modern, seperti bank, asuransi, dan perusahaan-perusahaan ekspor-impor. Tingginya potensi dan aktivitas ekonomi kota, makin menarik pendatang-pendatang asing untuk membuka usaha atau bekerja, dan kemudian menetap di Surabaya.

Jauh dari jangkauan pusat pemerintahan kolonial di Batavia membuat Surabaya berkembang lebih leluasa. Perkembangan kota dagang berskala internasional ini dibarengi dengan tumbuhnya karakter kota modern dan kosmopolitan: egaliter, dinamis, multikultural, dan terbuka dari berbagai pengaruh asing.

Sejarah ”urbano-graphical”

Perjalanan panjang Surabaya melintasi abad ke-20 inilah yang ditulis secara cermat oleh Howard W Dick dalam sebuah buku menarik dan kaya informasi: Surabaya, City of Work, A Socioeconomic History (2003). Dick adalah ahli sejarah ekonomi Asia Tenggara dari The Australian Centre of International Business, University of Melbourne, Australia. Buku ini menjadi sangat penting karena mengisi kekosongan studi tentang perkembangan kota modern di Indonesia. Tidak banyak buku yang menulis sejarah sebuah kota dengan pendekatan yang menyeluruh dan utuh.

Mengenai sejarah modern Indonesia, terutama di Jawa, menurut Dick sebenarnya dapat dibaca lewat kisah dua kota besar Indonesia: Jakarta (Batavia ) dan Surabaya. Lewat analisis detail dua kota ini dapat dilihat bagaimana dramatisnya perjalanan modernisasi dan urbanisasi di negeri ini. Kasus Surabaya sendiri menjadi spesial karena cerita yang tercatat adalah kisah pergulatan sebuah kota menghadapi dua medan sekaligus: pasar internasional yang sangat dinamis dan gejolak kekuasaan politik nasional.

Pembahasan buku ini tidak menggunakan metode kronologi tunggal yang biasa digunakan dalam penulisan sejarah. Dick membagi analisisnya menjadi tiga subyek utama: (1) profil dan perkembangan sosio-ekonomi kota industri dan perdagangan; (2) peran dan adaptasi pemerintah kota di bidang kesehatan masyarakat, pendidikan, dan perumahan; (3) pola keruangan kota (urban spatial pattern) yang terbentuk sepanjang abad ke-20. Setiap subyek memiliki kronologinya sendiri dan saling melengkapi kedalaman pembahasan sudut pandang masing-masing. Sebagai penunjang analisisnya, Dick banyak menyajikan data statistik dengan sumber bervariasi, lengkap dan memiliki kerangka waktu yang panjang.

Wuisman (2003) menyebut pendekatan tersebut sebagai “a historical urbano-graphical”. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam, sistematis, dan komprehensif pada setiap unit analisis sebagai satu kesatuan kompleks, dinamis, dan terbuka dalam sebuah keterkaitan dengan dimensi-dimensi lain yang luas, seperti kaitan antara lokal dan global (space); dimensi waktu yang lampau, sekarang, dan yang akan datang (time); hubungan sosial antara wanita dan pria (jender), lintas generasi (generation), afiliasi etnis (cultural identity), pemilik modal dan pekerja (social class), pola kerja, waktu luang dan konsumsi (status), penduduk dan birokrat (governance), warga negara dan politikus (polity), kepentingan nasional dan pendatang asing (nationality). Dengan menganalisis sebagian besar keterkaitan antar-dimensi tersebut, buku ini tidak hanya mengungkapkan kompleksitas kehidupan kota Surabaya, tapi lebih jauh menggambarkan peran penting Surabaya dalam pengembangan dan modernisasi ekonomi wilayah timur Pulau Jawa dan Indonesia.

Perkembangan struktur kota

Penggunaan lahan (land use) pada hakikatnya adalah perwujudan fisik dari perubahan ekonomi dan sosial. Setiap terjadi pertumbuhan dan gejolak ekonomi dan sosial akan terekam dalam perubahan penggunaan lahan kota. Pola perubahan lahan yang terus-menerus pada akhirnya akan memengaruhi struktur kota secara keseluruhan. Dick membagi sejarah perkembangan struktur kota Surabaya menjadi empat tahapan: tahap pertama, kota pra-modern sebelum 1830-an yang masih dikelilingi oleh benteng kota; tahap kedua tahun 1830-1942, terbentuknya struktur kota modern dan munculnya fenomena suburbanisasi; tahap ketiga tahun 1942-1970, ditandai dengan mundurnya pusat kota kolonial dan menyebarnya permukiman kampung; tahap keempat mulai 1970-sekarang, ditandai membesarnya ukuran dan skala kota akibat dominasi pembangunan infrastruktur dan permukiman skala besar (kota baru) di pinggir kota.

Pembentukan struktur kota modern ditandai dengan keputusan untuk meruntuhkan tembok kota pada tahun 1871 dengan alasan demi kesehatan lingkungan dan kebutuhan ruang kota yang lebih luas sebagai akibat peningkatan pesat aktivitas ekonomi. Ekspansi ruang kota berlangsung ke arah bagian selatan di sepanjang Kalimas, di mana saat itu merupakan jalur transportasi penting yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan di pinggiran kota ke pusat kota. Dibukanya terusan Suez (1875) dan lonjakan industri gula dunia mempercepat pembentukan kota modern. Pada tahun 1890 dibangun 20 kilometer jalur trem uap yang menghubungkan kota lama di utara dengan permukiman dan kawasan industri baru di selatan. Pada tahun yang sama otomobil masuk ke Surabaya. Memasuki abad ke-20 Surabaya telah berubah drastis menjadi sebuah kota modern yang makmur, dipenuhi perkantoran kelas menengah, hotel-hotel mewah, mobil, pusat perbelanjaan yang prestisius, dan dikelilingi oleh perumahan-perumahan mewah dengan konsep kota taman (garden suburbs). Bahkan Gubernur Oost Java pada masa itu membanggakan Surabaya sebagai the most modern city in the Indies.

Pada sisi lain, peningkatan aktivitas ekonomi menarik banyak pendatang dari desa-desa sekitar Surabaya dan tinggal berjubel di perkampungan. Sayang Dick tidak cukup dalam membahas fenomena ini. Sebagai perbandingan, Santoso (1984) pernah menuliskan bahwa akibat pengembangan kota formal tidak menyentuh perkampungan, maka muncullah sebuah dualisme ruang kota yang bersifat sosial-politis antara area yang dihuni orang Eropa (bebouwde kom di bawah teritori stadgemeente) dan perkampungan penduduk asli (niet-bebouwde kom sebagai inlaandse gemeente). Dualisme ini yang menyebabkan perkampungan selalu menjadi korban dalam kebijakan peremajaan kawasan dan pemekaran kota. Lebih dari itu, dualisme ini menjadi masalah laten dalam pengembangan kota hingga saat ini.

Akan tetapi, kejayaan ekonomi Surabaya tidak cukup lama bersinar. Depresi ekonomi yang melanda dunia tahun 1930-an memberi pengaruh negatif bagi Surabaya, bahkan terberat bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Hindia Belanda. Seluruh sendi kehidupan kota menjadi terpuruk. Kuantitas ekspor gula melalui pelabuhan Surabaya seakan terjun bebas, dari 1,2 juta ton pada tahun 1928-1929 menjadi hanya kurang dari 0,4 juta ton pada tahun 1936. Kondisi ini membawa efek ganda ke sektor perekonomian lain, seperti: penurunan permintaan transportasi dan pergudangan, mengurangi aktivitas industri berat yang sebelumnya memasok kegiatan pabrik-pabrik gula. Muara dari keterpurukan ekonomi adalah kontraksi penghasilan dan konsumsi masyarakat secara menyeluruh, dan angka pengangguran melonjak tajam.

Episode 1930-an telah memberi sebuah pengalaman pertama keterkaitan dan ketergantungan ekonomi lokal dan dunia, jauh sebelum masalah globalisasi ekonomi merebak sekarang ini. Dimulai dengan pengaruh pembukaan terusan Suez yang membuka jalan integrasi ke pasar dunia, depresi ekonomi dunia juga mengakibatkan Surabaya lebih cepat terpuruk dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

Tahun 1936, sebagai upaya mengatasi kemunduran ekonomi, pemerintah kolonial Belanda gencar mempromosikan Surabaya sebagai kota industri. Sebuah pamflet, Soerabaia and the Oosthoek: There Lies a Future for Your Business, menawarkan berbagai fasilitas yang ada di Surabaya, seperti pelabuhan dagang yang besar, pasar lokal yang menjanjikan, dan kemudahan penyediaan lahan untuk industri. Beberapa pabrik baru mulai dibangun, seperti lampu neon (Philips), minyak goreng dan sabun (Philippine Manufacturing Corp.), perakitan mobil (Dodge-NV Velodrome), dan sandal karet (Rubberfabriek Waroe).

Berbeda dengan masa sebelum depresi, pembukaan pabrik-pabrik baru tersebut tidak lagi berorientasi pada kepentingan ekspor, tapi lebih berorientasi pada pasar domestik. Setelah kejayaan industri gula redup, hubungan Surabaya dengan ekonomi dunia mencapai titik terendahnya. Sebagai perbandingan, pada masa yang sama, Jakarta dan Jawa Barat masih bisa bertahan di pasar dunia lewat produksi perkebunan karet dan teh. Tapi selain pergeseran tren ekonomi dunia, ada hal lain yang merisaukan pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni membanjirnya barang-barang murah produk Jepang di pasar lokal. Pada tahun 1934 tercatat sepertiga dari seluruh barang impor yang masuk ke Hindia Belanda berasal dari Jepang. Untuk bersaing dengan produk Jepang, pemerintah kolonial harus mendorong tumbuhnya industri yang berorientasi kebutuhan domestik. Surabaya kembali dilirik oleh banyak investor karena kesiapan infrastruktur dan institusi ekonomi modern peninggalan masa sebelumnya. Demikian juga posisi Pelabuhan Tanjung Perak yang akan berperan besar dalam faktor distribusi barang, terutama ke wilayah Timur Hindia Belanda.

Pada 3 Febuari 1942 bom pertama Jepang menghantam Surabaya. Satu bulan berikutnya, 6 Maret, tentara Jepang mendarat di Wonokromo. Beruntung tidak banyak kerusakan di sektor industri. Dua minggu setelah menguasai kota, sebagian besar pabrik kembali beroperasi di bawah supervisi militer Jepang. Tapi jenis produksi lebih diarahkan untuk mendukung kepentingan perang, seperti industri tekstil, baja, dan galangan kapal. Melihat potensi Surabaya sebagai pusat industri, militer Jepang terdorong menyusun rencana besar untuk membuka perkebunan kapas di bekas lahan-lahan perkebunan gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Belum sempat terlaksana, Jepang harus menyerahkan kembali Surabaya kepada tentara Sekutu pada akhir 1945.

Antara 1945-1949 tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintahan Belanda yang mencoba kembali berkuasa di Indonesia. Infrastruktur vital yang selama ini menjadi andalan Surabaya sebagai kota industri, seperti pelabuhan dan pembangkit listrik, belum kembali pulih. Sebagian kerusakan akibat pertempuran tahun 1945, tapi sebagian lagi akibat terputusnya hubungan dengan wilayah-wilayah pinggiran kota yang dikuasai oleh pejuang republik. Sebagai gambaran, sebelum perang produksi energi mencapai 14.000 KW, tapi seusai perang produksi menurun drastis hingga sekitar 2.000 KW.

Setelah pengakuan kemerdekaan tahun 1949, pertumbuhan ekonomi Surabaya dipicu kembali dengan pembangunan beberapa pabrik baru di daerah-daerah penyangga (hinterland) seputar Surabaya. Di Gresik dibangun pabrik semen, caustic soda, dan karung goni. Bahkan pabrik semen Gresik merupakan proyek investasi terbesar di Indonesia awal pascakemerdekaan. Proyek ini menyerap 14 juta dollar dari total kredit pinjaman 100 juta dollar yang diterima Bank Ekspor-Impor dari Amerika Serikat. Beberapa investor asing juga mulai kembali beroperasi. Pemulihan ekonomi kota lagi-lagi terhadang oleh keluarnya kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing tahun 1960-an.

Di sisi lain, arus migrasi spontan terus berlanjut setelah masa kemerdekaan. Dari sekitar 600.000 jiwa pada 1949, populasi Surabaya diperkirakan berlipat mendekati 1 juta jiwa pada 1956. Untuk bertahan hidup mereka menempati lahan-lahan kosong di sekitar infrastruktur publik, seperti bantaran kanal dan rel kereta api. Wajah kota Surabaya kembali menjadi kumuh.

Membangun kota industri

Peralihan kekuasaan politik ke Orde Baru pada akhir 1960-an membawa angin perubahan. Ada dua hal pokok yang harus ditangani Pemerintah Kota Surabaya pada awal 1970-an. Pertama adalah mencoba menangani pemekaran kota dan juga mengintegrasikan kawasan-kawasan industri baru, baik yang di dalam kota maupun di wilayah tetangga, seperti Gresik dan Sidoarjo, ke dalam sebuah rencana induk kota (master plan). Kedua, untuk menangani perkampungan yang disinyalir masih terdapat sisa pengaruh komunisme, pemerintah kota mengusung dua program yang berlawanan: peremajaan kawasan lewat penggusuran dan perbaikan kampung (KIP).

Awal 1990-an dilakukan revisi master plan untuk mengakomodasi perkembangan kota terakhir. Konsep koridor-koridor pengembangan diperluas dengan konsep jalan lingkar (ring road) terkait dengan rencana pembangunan jembatan Surabaya-Madura. Revisi juga untuk mengantisipasi (sekaligus mengendalikan) ledakan proyek-proyek real estate berskala sangat besar (very large scale projects) di pinggir kota. Sekitar delapan developer besar dari Jakarta tercatat menguasai lahan sekitar 6.300 hektar. Berbagai konflik kepentingan mulai muncul, terutama berkaitan dengan keinginan developer mengubah rencana peruntukan lahan pertanian produktif atau area konservasi alam menjadi lahan perumahan.

Pada periode yang sama, terjadi juga perubahan besar di pusat kota. Kawasan Jembatan Merah dan Tunjungan disulap kembali (redevelopment) menjadi kawasan pertokoan modern dan mewah. Modus yang digunakan mirip dengan proyek sejenis di Jakarta: mengalihfungsikan lahan-lahan milik pemerintah atau militer yang terletak di lokasi strategis. Atau menggusur kawasan perkampungan yang dianggap ilegal atas nama optimalisasi nilai lahan pusat kota.

Pemusatan kekuasaan politik di Jakarta, di mana seluruh kebijakan investasi asing hanya bisa diputuskan oleh petinggi Jakarta, menyebabkan turunnya daya tarik Surabaya bagi investor asing. Akses ke birokrasi pusat menjadi pertimbangan utama dalam melakukan investasi. Antara 1967-1978 tercatat 43 persen investasi asing nonminyak diserap oleh Jakarta dan Jawa Barat, dan hanya 5 persen yang ditanamkan di Jawa Timur.

Hingga 1986 industrialisasi di Surabaya dan sekitarnya lebih banyak dipicu oleh investasi domestik. Peningkatan kapasitas PLTU Tanjung Perak dari 50 MW menjadi 150 MW telah mendongkrak kapasitas produksi Semen Gresik berlipat tiga dan pendirian pabrik Petrokimia. Pertumbuhan ekonomi Surabaya juga banyak tertolong oleh keberhasilan Revolusi Hijau di Jawa Timur pada awal 1970-an, khususnya program intensifikasi tanaman padi. Program ini telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan yang pada akhirnya membuka lebar pasar domestik untuk kalangan produsen barang-barang konsumsi (consumer goods).

Seperti mengulang model pertengahan 1930-an, pembangunan Kawasan Industri Rungkut tahun 1975 memosisikan Surabaya kembali sebagai kota industri yang berorientasi pada produk substitusi impor dan pasar domestik. Dalam waktu sepuluh tahun, kawasan industri seluas 245 hektar terisi penuh dan menampung sekitar 26.000 pekerja. Penemuan ladang gas di lepas pantai timur pulau Madura pada pertengahan 1990-an memicu masuknya investor asing ke pengembangan industri berat di Jawa Timur, khususnya industri petrokimia. Pada tahun 1994, untuk pertama kali Jawa Timur menempati peringkat pertama dalam tingkat investasi asing di Indonesia.

Dikaitkan dengan krisis energi belakangan ini, keputusan untuk melayani kepentingan domestik sepertinya menjadi berkah yang tersembunyi (blessing in disguise) bagi kota Surabaya. Tentu akan lain ceritanya bila produksi gas Madura pada saat itu diperkirakan cukup untuk kepentingan ekspor.

Siklus hidup kota

Terhadap pendekatan pembangunan kota pada masa Orde Baru, Dick mencatat terjadinya pengulangan pendekatan pada zaman kolonial Belanda seperti sebuah siklus yang memutar balik. Cara pembebasan lahan saat real estate boom baik pada 1890-an dan 1980-an relatif sama. Lewat koalisi elite antara pejabat publik dan developer, sering kali atas nama kemajuan kota, mereka dapat menguasai dengan murah tanah-tanah milik petani dan penghuni perkampungan. Walau sudah merdeka, dualisme ruang kota produk kolonial (bebouwde kom dan niet bebouwde kom) masih saja terendap di bawah sadar mereka. Demikian juga konsep pembangunan perumahan-perumahan baru, tetap saja dirancang terpisah dari kenyataan sehari-hari. Mereka tetap memandang penghuni kampung sebagai sosok yang asing dan susah diatur. Alih-alih yang diproduksi tetap perumahan terpisah dari lanskap kota yang nyata, yang bakal memicu kesenjangan sosial yang makin tajam.

Di balik kritiknya, Dick menutup buku dengan kalimat yang bernada optimis: The new era of local autonomy that began on 1 January 2001 gives Surabaya the best opportunity since Independence to assert its identity and chart its own course.

Soerjono Herlambang Dosen Jurusan Planologi dan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara

Dimuat di Kompas, Sabtu, 15 Oktober 2005

 

Cahaya kan Membawamu Pulang

comments 2
Catatan Perjalanan


oncor
Originally uploaded by absolute onie.

Masa seperti itu terjemahannya ‘Lights will Guide You Home’. Hehehe. Tambah memble aje nih bahasa inggris. Harus baca-baca Mozaic lagi dan buku-buku kelas BID dan Structure dulu.
Atau mungkin tepatnya yang dimaksud mas Martinnya Coldplay adalah ‘akan selalu ada cahaya yang akan menuntun kita (pulang)’.

Kamu ga pulang ke Malang? Aku juga ke Malang lho. Bukan Malang kota, tapi Malang selatan, daerah yang mungkin tidak akan kamu anggap sebagai bagian dari keindahan Malang.
Tidak ada jejak peradaban besar di situ, seperti di Dinoyo atau Singosari. Yang ada hanyalah jejak peradaban unik bernama Indies yang pernah mampir hidup di Indonesia, ialah Pabrik Gula Krebet.

Sudah lama sekali ga Krebet. Setahun lebih kalau tidak salah. Aku kira rumah Yangti akan berubah total mengingat Tante Sella sempat buka toko kelontong yang (katanya) laris sekali. Begitu tiba di sana, yang tersisa dari kejayaan toko kelontong itu hanya beberapa kardus air mineral, jajanan anak kecil, dan beberapa papan yang mungkin jadi tempat pajangan barang-barang. Lampu ruang tengah diganti dengan lampu neon biasa. Lampu hias yang gede dipindah ke gudang. Orang pada marah karena mengurangi ‘nilai kesakralan’ rumah. Tapi menurutku itu bagus, karena lebih hemat energi.

Yang aku tidak setuju adalah dipindahnya dipan kamar tengah dan barang-barang yang dulu ditata Yangti di lemari besar ruang tengah. Entah dipindah kemana. Gambar besar Presiden Soekarno sulaman Yangti sekarang digantikan dengan papan berisi ayat-ayat suci AlQuran.

Yang menyenangkan, sekarang ada tambahan penghuni di rumah, yaitu Eli dan Meti. Mereka hidup dengan damai di halaman tengah rumah. Eli yang herder dan Meti yang ras kampung ternyata bisa hidup bersama dengan baik. Contoh yang baik untuk kita yang suka tidak akur dengan sesama.

Terus itu gambar apa? Ah, ya aku lupa menjelaskan. Itu sebenarnya jajaran oncor kecil yang ditaruh di sepanjang jalan depan rumah oleh para murid mengajinya Pak Solikin. Baru sekali ini aku lihat. Biasanya setiap malam takbiran anak-anak cuma keliling kampung membawa obor.

Selamat Lebaran. Mohon maaf atas semua salah dan kesalahan. Untuk semua betul dan kebetulan saya marilah kita serahkan kepada yang mengampu kehidupan ini.

Buat kawan-kawan yang tidak aku kirimi sms lebaran, yakinlah bahwa onie tidak pernah melupakan kalian. Hubungan kita tidak bisa ditentukan dengan masa aktf dan masa tenggang pulsa. Sekalipun kedua hal itu memang menganggu sekali.

Friday, I’m in Love…

Leave a comment
Tentang kawan

Friday, I’m in Love…
(dan kamu bilang mustinya setiap hari aku “I’m in Love”)

 

Halo Jeng,

 

Sori ya kemarin kamu harus nunggu sendirian. Aku masih ada kerjaan. Tapi kamu ngga lama kan nungguin aku.

Untungnya saat aku datang kamu sudah bersama beberapa orang temanmu. Kalian ternyata sedang membicarakan kemalasan dan semangat hidup. Hari gini orang yang ngga optimis ngga akan sukses. Siapa aja contohnya, Steve Jobs, dua orang muda pendiri Google, dan nama-nama lain yang aku sudah lupa. Sekarang sudah ga zamannya lagi bilang “I hate Monday” atau “Thank God it’s Friday”. Semua hari selalu memiliki peluang menguntungkan, asal kita mau tetap jeli dan awas.

Tiba-tiba aku teringat beberapa hal. Pertama, mimpi anehku malam sebelumnya melihat George Soros diwawancarai TVRI, aku sangat terkesan dengan wawancara itu. Kedua, video klip “Friday, I’m in Love”nya The Cure. Sudah lama aku tidak melihat semangat hidup yang orisinal dan murni tapi sederhana seperti yang dipertunjukkan Robert Smith dan kawan-kawan saat berlarian memasuki panggung. Dahsyat!

Seingatku kamu pernah suka video klip itu dan sangat hafal liriknya. Entah kamu menjiwai atau tidak. Tapi jika aku bagi hidupmu dalam beberapa masa, maka saat ketika kamu begitu mencintai lagu itu adalah masa yang berbeda dengan saat kamu bilang semua hari harus dihadapi dengan optimisme.

Maaf ya, Jeng,

Aku akan selalu punya hari-hari di mana emosi naik turun tidak karuan. Susah sekali membayangkan, dan mengerikan bahkan, semua perasaan dimampatkan dalam sebuah ruangan kedap udara bernama optimisme.

Mungkin, kalau mau sangar-sangaran, optimisme semacam itu yang melahirkan merkantilisme, korporatisme, Enron, Blackwater USA, Monsanto, dan mungkin juga forum obrolan kaya Markplus Forum. Hahaha…

Optimisme yang aku miliki mungkin sama dengan yang melahirkan kebudayaan yang sekarang sudah pada punah atau mampus, monumen juga tidak ada, hanya semangat yang mereka wariskan melalui musik, karya tulis, atau jenis orang yang aneh-aneh yang tidak akan kamu pahami karena “diferensiasi” mereka tidak memiliki “unique selling point”.

Aku tidak akan bilang aku hanya orang sederhana, yang berusaha menikmati dunia apa adanya. Sama seperti kamu, aku ingin melihat perbaikan, mendambakan dunia yang lebih baik, melihat orang-orang miskin memiliki semangat optimisme (karena negara membantu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk memulihkan martabat mereka yang sudah hancur selama ratusan tahun), melihat diriku sendiri berkembang mendapatkan kenyamanan sebagai ganjaran dari kerja kerasku.

Tapi mungkin dalam beberapa hal kita memang begitu berbedanya sampai cuma bisa diselesaikan dengan makan es krim atau nonton film.

Hmm…kamu masih jalan sama anak itu?

Tukang Jambret dan Tukang Copet

Leave a comment
Current issues


Bung Shambazy,

Saya sempat salah mengerti ketika pertama kali mendengar StAR yang mendakwa Soeharto sebagai kepala negara paling korup di dunia. Saya kira StAR adalah inisiatif PBB, karena di sebuah artikel saya membaca bahwa Ban Ki Moon, Sekjen PBB yang baru itu, menyatakan bahwa tidak akan ada lagi kepala negara korup yang bisa hidup dengan tenang.
Ah, saya memang pembaca koran yang buruk akhir-akhir ini. Koran saya baca campur aduk dan sekilas lalu saja kadang-kadang.
Di Kompas Sabtu 22 September 2007 lalu saya membaca tulisan Anda. Di situ Anda menulis bahwa yang meluncurkan prakarsa StAR itu adalah PBB dan Bank Dunia. Mewakili Bank Dunia adalah Robert Zoellick, yang juga tokoh di balik invasi AS ke Irak. Oalahh…ternyata. Hebat sekali cara orang-orang Amerika itu mengelola dunia ini. Rasanya kita ini seperti disuruh nonton acara ngobrol-ngobrol macam Oprah Winfrey Show yang membahas apa saja dan membuat pemirsanya merasa “tersentuh” kemanusiaannya. Sementara Oprah Winfrey sendiri hidup dengan segala kelebihannya.
Selain untuk menutupi kekacauan di Irak, “isu hiasan” ini mungkin juga untuk menjauhkan perhatian masyarakat dunia dari masalah pemanasan global. Mengerikan sekali, Bung, melihat berbagai prediksi soal pemanasan global. Al Gore bilang kita cuma punya waktu 10 hingga 50 tahun sebelum iklim dunia sudah benar-benar berubah. Ketika kunang-kunang menghilang, kita hanya mengelus dada sambil menyalahkan pestisida, tapi kehidupan jalan terus. Kini banyak penyakit aneh muncul, kita cuma bisa berdiam diri sambil merenung: “akankan kehidupan jalan terus?”
Lalu di Kompas Minggu 23 September 2007 diberitakan bahwa Alberto Fujimori diekstradisi ke Peru setelah muncul mengejutkan di Cile. Seperti Soeharto, Alberto Fujimori juga termasuk kepala negara yang korup. Bedanya, bagi Fujimori kehidupan mungkin sudah berakhir, tapi bagi Soeharto kehidupan jalan terus seperti biasa; kumpul dengan cucu-cucu dan menantu-menantunya yang kebanyakan artis ngetop ibukota itu.
Ternyata yang jadi bahan rujukan PBB dan Bank Dunia adalah laporan Transparency International tahun 2005.
Mungkin Multatuli di alam lain sana masih akan terus stres tidak habis pikir. Dulu gara-gara mengungkap “pemerasan” yang dilakukan Bupati Karta Negara terhadap warga Lebak yang miskin, dia dipecat dan hidup melarat. Bahkan sampai sekarang makam Bupati itu sering dijadikan tempat peziarahan. Patung Multatuli di sini kita tidak pernah melihat.
Jangan-jangan harus bangsa lain yang menghukum bangsa kita ya, Bung? Tapi kalau Robert Zoellick dan kawan-kawannya saya sungguh tidak terima. Seperti melihat tukang jambret menasehati tukang copet.
Saya bersedia jadi anggota panitia pengadilan Soeharto yang dipimpin para hakim asing. Di seksi apa pun mau, keamanan pun tidak masalah. Siapa tahu ada tukang copet yang menyusup di keramaian orang yang menonton. Atau intel mungkin, seperti zaman demonstrasi 98-99 dulu. Hehe…

Kota, Waktu, Puisi

Leave a comment
Kliping

GOENAWAN MOHAMAD

Perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim. Dengan demikian, sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang” dan tak hanya harus didirikan dengan ketidaksabaran.

Agaknya ada hubungan yang tersembunyi antara kesusastraan Indonesia, kota, dan sejarah. Hubungan itu tidak lazim dibicarakan, namun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa jika kita ingat akan Revolusi Agustus, ketika dari JakartaIndonesia” dimaklumkan, dan sebuah negara-bangsa berangkat dari pertengahan abad ke-20. Dalam suasana itu dorongan kreatif—dan juga ketegangan—terbit di Jakarta dalam bentuk semangat modernisme.

Pembawa suara modernisme yang paling jelas tentu saja Chairil Anwar. Saya kutip sebuah sajaknya yang menunjukkan sebuah hubungan erat antara ekspresi puitik dengan latar kota dan latar waktu:

Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa

Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka

Pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:

Kenyataan-kenyataan yang didapatnya

(Bioskop Capitol putar film Amerika,

Lagu-lagu baru irama mereka berdansa).

Kami pulang tidak kena apa-apa

Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga

Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota

Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.

Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga

Sandarkan tulang-belulang pada lampu jalan saja

Sedang tahun gempita terus berkata

Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.

Dalam sajak yang ditulis di tahun 1949 ini, Jakarta hadir dalam sebuah sketsa yang cepat: bioskop Capitol, daerah Kota, arena dansa, trem, halte, tiang lampu jalan. Tapi, yang juga terasa dari karya Chairil ini adalah sebuah suasana monoton. Tiap baris berakhir dengan bunyi a yang sama. Tak ada nada riang, yakin, atau bangga, meskipun sajak ini menyebut gelanggang bersenda, jam-jam orang menonton film, mendengarkan lagu, dan berdansa.

Agaknya kesatunadaan yang muncul dari sajak itu berasal dari semacam rasa jemu: ada yang jadi rutin dalam sebuah keadaan di mana apa yang alamiah dan purba (hujan dan Ajal) telah kehilangan pesonanya di antara benda-benda teknologi (trem, lampu jalan), yang juga ditongkrongi sebuah tata yang sudah pasti (dengan halte sebagai penanda).

Paralel dengan itu, sebuah subyek, aku, juga nyaris kehilangan dirinya. Dalam sajak itu dikatakan, “aku” berkisar antara mereka, “aku” terpaksa bertukar rupa, dan aku mencoba pakai mata mereka. Ini tentu saja sebuah tema klasik yang kita kenal: individualitas yang harus bernegogisasi dengan kelompok. Pada akhirnya dalam sajak ini aku itu pun berbaur menjadi kami, atau berselang-seling dengan kami.

Menarik bahwa Chairil menyebut kami itu timpang dan pincang dan negatip dalam janji. Ada kesan bahwa ketika individu berubah jadi himpunan, manusia jadi acuh tak acuh kepada kefanaannya sendiri yang sunyi. Waktu tak menimbulkan gentar. Kefanaan itu kini hampir sepenuhnya berada dengan sebuah jarak, di luar diri: Ajal tampak jadi lazim, (macam rupa jadi tetangga, tulis Chairil); waktu yang menggerogoti usia datang dalam bentuk trem dari kota yang bergerak malam hari dengan suara yang seperti gigi yang gemertak.

Ada sikap lalai atau pasrah: orang-orang hanya menyandarkan tubuh mereka ke tiang lampu, menunggu kereta datang, juga ketika hujan turun. Orang-orang hanya pasif walaupun semua itu terjadi dalam sebuah tahun yang genting: tahun gempita terus berkata.

Chairil tak menyebutkan apa yang bergemuruh di saat itu; mungkin di tahun 1949 itu ia merasakan suasana hidup antara harapan dan rasa gentar, antara merasa berdaulat dan di ambang malapetaka, antara merasa perlu berdoa dan merasa berdosa, antara bebas dan terkutuk, tak lama setelah Perang Dunia selesai, Indonesia merdeka, dan Perang Dingin mulai. Saya menduga demikian karena dalam bagian lain dari sajak ini—yang tak saya kutip lengkap di sini—Chairil menyebut dalam malam ada doa sebelum ia menyebut segala sifilis dan segala kusta, dan derita bom atom pula.

Apa pun kurun sejarah yang hendak diungkapkan Chairil dalam sajak itu, di dalamnya tersirat rasa tertekan yang bergumam: rasa tertekan oleh waktu yang datang dengan teknologi dan organisasi—waktu sebuah kota besar, yang menyodorkan diri dalam bentuk jadwal kerja, batas awal dan akhir buat waktu senggang, jam yang menentukan trem datang dan pergi. Dengan kata lain, waktu yang telah menjadi sepenuhnya eksterior, yang tak ditentukan di dunia “kecil” seorang penghuni, dunia “interior”-ku, di momen ketika aku berdaulat.

Tapi, dunia interior itu tak hendak surut, apalagi punah. Justru sebaliknya. Kita tahu, kita yang tinggal di Jakarta yang kian padat dan kian mekar ini bahwa makin lama sebuah tempat tinggal makin berangsur jadi sebuah stasiun transit. Kita di sana seakan-akan hanya singgah, cuma beberapa jam dalam sehari. Selebihnya kita di tempat kerja atau di jalan yang macet dan panjang, dalam kendaraan atau dalam kelimun orang-orang yang umumnya tak saling kenal—sebuah himpunan di mana tiap orang hidup dengan pikiran, fantasi, rasa cemas, atau bahagia masing-masing.

Pada gilirannya, kepadatan dan mobilitas menyentuh tempat tinggal itu sendiri. Kamar dengan cepat berubah penghuninya, secepat iklan kontrak dan jual-beli rumah yang berbaris rapat di halaman surat kabar harian. Ketika sebuah ruang tinggal kian dialami sebagai komoditas—yang nilai gunanya telah diubah jadi nilai tukar—maka keadaan transit yang saya sebut tadi jadi lengkap. Bukan aku saja yang hanya “singgah” di rumahku, tapi rumahku juga hanya “singgah” dalam diriku.

Tapi, justru di dalam keadaan itulah terjadi apa yang oleh Walter Benjamin disebut sebagai “fantasmagoria dari yang-interior”. Dalam tiap keadaan yang tak stabil dan mengalir lekas dari luar, ada dorongan hati manusia untuk menemukan yang tetap dan mengklaim kembali sifat permanen dalam tiap ruang privat.

Saya kira itu juga yang tersirat dalam puisi Chairil sebagai bentuk: sesuatu yang tercatat sebagai kesaksian yang akrab, “batin”, tentang sebuah latar ruang dan waktu. Puisi itu juga sebuah dorongan hati untuk mengembalikan yang “interior” dengan intens—satu ciri modernisme kesusastraan, yang mulai tampak secara terbatas bahkan sejak tahun 1930-an, dan kian jadi ekspresif di sekitar Revolusi Agustus, tatkala luruh, bahkan runtuh, pelbagai konstruksi sosial yang berkenaan dengan ruang dan waktu.

Di sini kita lihat sesuatu yang paradoksal: dalam arus modernitas—seperti yang terjadi dengan bangkitnya kota-kota besar, terutama di Dunia Ketiga—justru ada arus lain yang mencoba melawan atau mengelakkannya; arus itu adalah arus puisi yang menolak untuk menyerah jadi bagian dari instrumentalisasi ruang dan waktu, arus yang tak mau tunduk kepada yang eksterior. Mungkin itulah yang menjelaskan kenapa setelah Chairil, ketika modernitas semakin merasuk ke daam kehidupan Indonesia, puisi tak bisa kembali ditulis dengan ekspresi seperti masa sebelumnya, misalnya masa Pujangga Baru.

II

Harus saya katakan di sini, waktu yang tersembunyi akrab dalam puisi modernis adalah waktu yang sebenarnya menjadi bermakna justru karena ia lemah, lain, dan terasing.

Di luarnya: sejarah.

“Sejarah” di sini punya dua pengertian yang saling bertentangan. Yang pertama, seperti ketika orang mengatakan “aku ingin membuat sejarah”, adalah proses melupakan. Inilah yang kita saksikan dalam terjadinya kota-kota di Dunia Ketiga di masa pascakolonial. Proses melupakan itu ada yang didorong oleh hasrat memutuskan secara radikal hubungan dengan masa lalu yang dibentuk sang penjajah.

Kita menyaksikannya di Jakarta bukan saja dengan perubahan nama-nama wilayah dan jalan, tapi juga dengan hancur atau terabaikannya arsitektur lama. Tapi, kemudian kehendak “membuat sejarah” itu punya dinamika tersendiri yang tak ada hubungan langsung dengan politika ingatan. Ledakan penduduk, ketimpangan antarwilayah, impetus modal dan pasar, dan lain-lain, ikut membuat Jakarta—seperti kota-kota besar lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin—seakan-akan berangkat, dengan tergesa-gesa, dari tahun 0.

Di hari-hari ini agaknya tak ada yang lebih mencengangkan ketimbang Shanghai sebagai contoh kecenderungan itu. Kota di negeri dengan kebudayaan yang amat tua ini segera tak akan menyaksikan berdirinya kembali gaya arsitektur China lama, melainkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Perusahaan Inggris Atkins, misalnya, telah memenangi sebuah kompetisi untuk merancang Kota Taman Songjiang menjadi wilayah kota kecil dan dusun Inggris, di tengah sawah-sawah di Pudong. Kota Baru Gaoqiao disulap jadi sebuah wilayah dengan arsitektur gaya Belanda tradisional—lengkap dengan pahatan bunga tulip raksasa.

Yang menarik dari pembangunan di Shanghai ialah bahwa di sini sejarah dibuat dalam arti melupakan, tapi sekaligus juga mengingat. Persisnya, di sini yang direproduksi adalah ingatan yang berbeda. Memang orang dengan mudah akan mencemooh atau mempersoalkan: tidakkah China punya khasanah ingatannya sendiri—yang tak juga punah setelah Revolusi? Mengapa harus “Eropa” yang “asing”?

Di tahun 1957 eseis Mh Rustandi Kartakusuma mengecam tendensi yang disebutnya sebagai “Indonisasi Ciliwung” dalam kesusastraan dan kesenian Indonesia: lahirnya, di Jakarta, sebuah kebudayaan “indo” atau “mestizo”, juga kesusastraannya. Bagi Rustandi, sejarah adalah mengingat, bukan melupakan. Disuarakan menjelang tahun 1960-an, menjelang “kebudayaan nasional” yang otentik jadi doktrin resmi yang harus ditaati, ketika semangat “berdikari” menjulang, pandangan seperti Rustandi itu memang umum berlaku.

Tapi, baik sejarah sebagai produksi yang berdasarkan lupa maupun sejarah sebagai produksi ingatan, keduanya problematis. Pada akhirnya lupa ataupun ingatan adalah tafsir atas masa lalu, atau bisa dikatakan, tak ada masa lalu kecuali tafsir yang tak memadai.

Demikianlah Rustandi menampik lupa, tapi ia sendiri melupakan bahwa sejak kota ini berdiri, Jakarta adalah sebuah karya hibrida—dan agaknya ia tak seharusnya disalahkan. Yang bersifat “mestizo” tidak dengan sendirinya sebuah cela—sebagaimana ide tentang “Indonesia” sendiri adalah ide percampuran yang tak mudah, dianggit dari dan diperebutkan oleh pelbagai anasir yang masing-masing “lain” (dan dalam arti tertentu “asing”), meskipun tiap kali ia bisa memberi makna bagi unsur yang berbeda-beda itu.

Juga para pembangun Shanghai akan selalu bisa mengatakan, sebagaimana layaknya pewaris Marxisme, bahwa masa lalu, sebagai catatan sejarah, senantiasa merupakan catatan sejarah dari yang berkuasa. Mereka juga akan bisa menegaskan masa lalu China yang feodal tak punya tempat di abad ke-21.

Mereka juga akan bisa menunjukkan bahwa Shanghai abad ke-21 berbeda dengan Shanghai di awal abad ke-20—Shanghai yang terbagi-bagi dalam pelbagai koloni orang Eropa dan Jepang, Shanghai dalam novel termasyhur Malraux, La Condition Humaine. Kini Shanghai ditentukan oleh para penguasa China yang berdaulat.

Sejarah sebagai masa lalu, sebagaimana sejarah sebagai proyek masa depan, selamanya mengandung unsur “asing” – bukan dalam arti etnis, atau “budaya”, tapi dalam arti generasi. Di awal abad ke-20 para penghuni Brugges, kota tua di Belgia itu, adalah orang yang asing dibandingkan dengan mereka yang mendirikan kota itu di abad ke-9. Tak mengherankan bahwa mereka mengabaikan peninggalan yang terhantar di dekat mereka. Baru setelah datang orang Inggris yang berkunjung, pelan-pelan arsitektur tua kota itu dibangun kembali.

Dalam hal ini, ingatan akan ke-“asli”-an tak relevan lagi. Menara yang menjulang di Balai Pasar kota itu, yang oleh buku panduan turis dikatakan berasal dari abad ke-14, sebenarnya hanya sebuah tiruan yang dibuat abad ke-19. Kanal-kanal Brugges yang cantik yang seakan-akan hidup terus berabad-abad itu sebenarnya berasal dari tahun 1932.

III

Sebab itu, perkenankanlah saya di sini menolak memberi sejarah bobot yang tinggi. Sejarah adalah perkara langkah besar, bagian dari waktu yang eksterior. Albert Camus, dalam mencoba memberi eulogi buat kota kelahirannya, Oran, di Aljazair—kota yang punya sedikit petilasan sejarah, dan hanya punya laut biru, langit lazuardi, gurun perkasa, dan tubuh yang akrab dengan matahari dan kematian—melihat kota-kota tua di Eropa dengan jeri: di sana, kata Camus, dalam “pusaran yang memusingkan dari abad-abad revolusi dan kemasyhuran”, ruang tak cukup memberikan sunyi.

Saya bukan datang dari kota seperti Oran, dan saya kira Camus berlebih-lebihan, tapi saya juga ingin kembali kepada dorongan untuk merayakan yang interior. Mungkin di sini kita bisa memakai kata yang tak kalah riskannya: nostalgia. Saya ingat kata-kata arsitek Meksiko terkenal, Luis Barragán, (1902-1988): “nostalgia adalah kesadaran puitis tentang masa lalu pribadi kita”.

Kota-kota perlu membuat peluang bagi “kesadaran puitis” itu—dengan kata lain, momen nostalgik itu—sebagaimana modernitas memerlukan antidotnya. “Masa lalu pribadi” dalam konteks ini adalah tafsir atas waktu yang melepaskan diri dari waktu eksterior, ketika kota-kota besar dibangun sebagai ruang “geografis”, dengan perspektif seorang penyusun peta dan perencana.

Dengan “masa lalu pribadi” itulah orang sehari-hari menyusuri jalan dan gang-gangnya. Di sanalah kita akan menemukan kota sebagai apa yang dikatakan Michel de Certeau: pelbagai ruang “migrasional”. Dengan itu kita akan tahu sebuah peta adalah sebuah hasil reduksi, dan sebuah rencana selalu mengandung represi. Hanya dalam momen jalan-jalan kita menemukan yang lebih hidup meskipun sama-sama tak lengkap. Dalam kiasan de Certeau, jalan-jalan adalah sebuah sajak panjang yang mempermainkan organisasi ruang.

Maka saya percaya, perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim—sesuatu yang ditunjukkan oleh para pemenang “Penghargaan A Teeuw” 2007 dari Jakarta. Ketika Marco Kusumawijaya, salah seorang angota juri, menilai mereka sebagai orang-orang yang telah “memberi kesempatan kepada sejarah mewujud nyata dan dicintai melalui arsitektur”, saya lebih memberi tekanan kepada kata mewujud dan dicintai. Bagi saya, dengan demikian mereka mengingatkan bahwa sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang”, dan tak hanya harus didirikan dengan ketidak-sabaran.

Jakarta, 15 Agustus 2007

GOENAWAN MOHAMAD Penyair, Pendiri Majalah Tempo

(Diolah kembali dari pidato untuk menghormati para penerima “Penghargaan A Teeuw” 2007: Soedarmadji Damais, Wastu Pragantha Zhong, dan Han Awal di Erasmus Huis, Jakarta, 10 Agustus 2007)

Dimuat di Kompas 1 September 2007

Surat untuk Kawanku, yang menderita

comment 1
Tokoh


Dear Multatuli…

Bagaimana kabarnya? Tadi malam secara tidak sengaja aku menemukan sebuah tulisan tentang dirimu. Tulisan Seno Gumira Ajidarma, judulnya ‘Insiden Lebak’.
Ah, kenapa aku selalu membaca kesan miring tentangmu. Di beberapa saat bahkan aku merasa bahwa penjelasan Sartono Kartodirdjo tentang dirimu da situasi yang kamu hadapi di Lebak, yang sangat sering dikutip dalam pembahasan dirimu, bernada cemoohan atas ketidakpahaman dan keluguanmu.
Makam bupati Lebak itu kini sering didatangi peziarah. Padahal oleh Gubernur Jenderal Pahud dia sudah didakwa bersalah. Yah, itulah Indonesia, Mul. Aku sendiri yakin sampai tua aku akan masih diliputi keheranan jika memikirkan Indonesia.
Dulu sampean pernah dapat pos di Natal, Sumatra Utara. Sekarang daerah itu mungkin juga merasakan dampak gempa besar yang menerjang pantai barat Sumatra. Bengkulu dan Padang luluh lantak.
Aku bisa membayangkan, jika kamu sekarang masih hidup kamu akan bekerja di sebuah perusahaan minyak dari Amerika Serikat atau Prancis yang sedang melakukan eksplorasi di Aceh atau pekerja kemanusiaan dari sebuah NGO internasional yang membantu korban gempa Aceh. Lalu saat gempa kemaren (7,9 skala richter, Mul! Gila, gede banget itu) kamu akan langsung melompat masuk ke Land Rovermu dan pergi ke Bengkulu. Meninggalkan semua pekerjaanmu dan membantu para korban gempa yang sekarang beritanya sudah nyaris pupus ditumpuk berita-berita aneh yang digemari koran-koran Indonesia.
Kamu akan melihat bahwa para korban itu ternyata orang-orang yang mandiri dan bermartabat, yang tidak merengek-rengek minta bantuan kepada pemerintah. Lalu kamu akan mendatangi kantor pemerintah setempat memaksa para pegawai di situ melakukan apa saja yang mereka bisa untuk membantu para korban. Dan kamu akan ditertawakan teman-teman bulemu, yang sedang sibuk nongkrong di warung-warung kopi di Banda Aceh.
Ah, kenapa aku ikut menertawakan kamu, ya. Padahal dulu aku bikin skripsi tentang novelmu.
Kalau aku menyebut kamu dengan ‘Mul’ itu lebih karena perasaan akrab yang kadang kesannya kurang ajar. Biasalah, Mul.

Jabat tangan erat,

Onny