Percakapan di Pintu Tol Mojokerto

Leave a comment
Catatan Perjalanan

Orang itu belum tua. Mungkin umurnya masih 30 tahunan. Ketika syuting dimulai, dia sedang memandangi dengan penuh ketertarikan. Saat Daus memintaku untuk jadi figuran adegan kecelakaan, aku ajak dia untuk ikut jadi figuran. Ternyata dia senang sekali.
Setelah beberapa kali take, dia mungkin sudah merasa cukup dekat denganku untuk memulai pembicaraan yang lebih mendalam, seperti berapa biaya bikin video ini, alat-alatnya beli di mana. Tidak satu pertanyaan pun yang aku jawab dengan jujur. Sampai akhirnya dia membuat semacam kesimpulan.

“Nglarisno rumah sakit ya, mas…” (biar rumah sakitnya laku ya, mas)
“Nggih, pak…”

[Suara truk berplat nomor B berwarna hijau yang mengklakson sepeda motor yang meleng karena lihat syuting]

Rasanya seperti ditampar. Tidak pernah terlintas dalam bayanganku dulu bahwa aku akan menulis untuk memuji-muji orang yang tidak pantas dipuji apalagi perusahaan yang tidak bertanggung jawab kepada manusia dan lingkungan. Untung sejauh ini belum ada perusahaan yang memaksaku menggunakan tangan untuk menulis kebohongan. Amit-amit. Kalau melebih-lebihkan ya ada beberapa. Tapi aku pikir perusahaan-perusahaan Indonesia harus mau melebihkan dirinya, asalkan juga diikuti kemauan untuk memperbaiki diri. Sebelum perusahaan-perusahaan Indonesia yang bagus habis dibeli perusahaan-perusahaan luar negeri. Orang lebih suka ribut soal hasil kebudayaan kita yang dicuri Malaysia. Padahal sudah jelas salah kita sendiri karena tidak merawat kebudayaan kita.

Sebenarnya biarkan saja mereka mencuri Rasa Sayange. Kitalah yang bersalah membiarkan Ambon didera konflik agama yang keji selama bertahun-tahun, yang mengirimkan milisi dan amunisi.

Tidak banyak orang mengkhawatirkan semakin banyaknya perusahaan Malaysia yang membeli perusahaan-perusahaan Indonesia.

Aku sering berandai-andai bahwa aku adalah copywriter yang memiliki misi rahasia untuk menulari keindahan kata-kata kepada orang-orang dan perusahaan, untuk menyelipkan kemampuan luar biasa bahasa bagi kehidupan. Tapi jujur aku akui bahwa itu bukan bagian dari mimpiku soal menulis.

Mimpi itu tidak aku pelihara di kamar dan ruang-ruang diskusi, tapi di jalanan, bersama dengan orang-orang yang tidak akan pernah terbayang di kepalamu bahwa merekalah yang mengajari aku menulis.

Oleh karena itu, aku selalu kesulitan jika kamu bertanya siapa guru menulisku. Aku tidak punya. Kadang aku malu, tapi sering kali aku merasa tidak terbebani oleh keperluan untuk melahirkan tulisan besar. Aku menulis untuk orang-orang yang aku cintai, yang dulu menemani aku, dan yang mencemooh aku. Merekalah yang menggantikan peran guru seperti yang engkau miliki. Tepatnya; aku tidak punya guru menulis, aku cuma punya teman yang menulari dan membimbing aku menulis, itu pun melalui pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja, email-email, dan sms-sms.

Salah satunya ya orang yang mengajakku ngobrol soal film korporat di bawah panasnya sinar matahari. Sayang aku lupa nanya namanya.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s