Cahaya kan Membawamu Pulang

comments 2
Catatan Perjalanan


oncor
Originally uploaded by absolute onie.

Masa seperti itu terjemahannya ‘Lights will Guide You Home’. Hehehe. Tambah memble aje nih bahasa inggris. Harus baca-baca Mozaic lagi dan buku-buku kelas BID dan Structure dulu.
Atau mungkin tepatnya yang dimaksud mas Martinnya Coldplay adalah ‘akan selalu ada cahaya yang akan menuntun kita (pulang)’.

Kamu ga pulang ke Malang? Aku juga ke Malang lho. Bukan Malang kota, tapi Malang selatan, daerah yang mungkin tidak akan kamu anggap sebagai bagian dari keindahan Malang.
Tidak ada jejak peradaban besar di situ, seperti di Dinoyo atau Singosari. Yang ada hanyalah jejak peradaban unik bernama Indies yang pernah mampir hidup di Indonesia, ialah Pabrik Gula Krebet.

Sudah lama sekali ga Krebet. Setahun lebih kalau tidak salah. Aku kira rumah Yangti akan berubah total mengingat Tante Sella sempat buka toko kelontong yang (katanya) laris sekali. Begitu tiba di sana, yang tersisa dari kejayaan toko kelontong itu hanya beberapa kardus air mineral, jajanan anak kecil, dan beberapa papan yang mungkin jadi tempat pajangan barang-barang. Lampu ruang tengah diganti dengan lampu neon biasa. Lampu hias yang gede dipindah ke gudang. Orang pada marah karena mengurangi ‘nilai kesakralan’ rumah. Tapi menurutku itu bagus, karena lebih hemat energi.

Yang aku tidak setuju adalah dipindahnya dipan kamar tengah dan barang-barang yang dulu ditata Yangti di lemari besar ruang tengah. Entah dipindah kemana. Gambar besar Presiden Soekarno sulaman Yangti sekarang digantikan dengan papan berisi ayat-ayat suci AlQuran.

Yang menyenangkan, sekarang ada tambahan penghuni di rumah, yaitu Eli dan Meti. Mereka hidup dengan damai di halaman tengah rumah. Eli yang herder dan Meti yang ras kampung ternyata bisa hidup bersama dengan baik. Contoh yang baik untuk kita yang suka tidak akur dengan sesama.

Terus itu gambar apa? Ah, ya aku lupa menjelaskan. Itu sebenarnya jajaran oncor kecil yang ditaruh di sepanjang jalan depan rumah oleh para murid mengajinya Pak Solikin. Baru sekali ini aku lihat. Biasanya setiap malam takbiran anak-anak cuma keliling kampung membawa obor.

Selamat Lebaran. Mohon maaf atas semua salah dan kesalahan. Untuk semua betul dan kebetulan saya marilah kita serahkan kepada yang mengampu kehidupan ini.

Buat kawan-kawan yang tidak aku kirimi sms lebaran, yakinlah bahwa onie tidak pernah melupakan kalian. Hubungan kita tidak bisa ditentukan dengan masa aktf dan masa tenggang pulsa. Sekalipun kedua hal itu memang menganggu sekali.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

2 Comments

  1. usrok says

    Mas,Mas… fotonya bagus ya? yang motret si usrok kan? foto2 di flickrnya juga… hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s