Kisah Kota yang Terus Bergerak

comment 1
Kliping

Soerjono Herlambang

Batavia adalah kota yang matang dan bermartabat, sedangkan Surabaya adalah kota yang masih muda yang sedang dibangun. Bila Batavia adalah sebuah rumah, Surabaya adalah sebuah pasar dan sebuah pabrik. Kidung Surabaya adalah kidung para pekerja. Tak ada lagi tempat yang lebih ramai yang dapat ditemukan di sebelah timur Terusan Suez. Sepanjang hari jalanan penuh sesak, selalu bising, dan malam pun tak pernah sepi.…”

Deskripsi menarik tentang karakter Kota Surabaya di atas ditulis Macmillan (1926) dalam sebuah buku direktori perdagangan Asia. Awal abad ke-20 Surabaya memang dikenal sebagai pelabuhan tersibuk dan kota terbesar di seluruh wilayah koloni Hindia Belanda. Surabaya telah tumbuh menjadi salah satu kota pelabuhan dagang penting di Asia, sejajar dengan Kalkuta, Rangoon, Singapura, Bangkok, Hongkong, dan Shanghai.

Dalam sensus 1905 tercatat 150.000 jiwa penduduk mendiami kota Surabaya. Sekitar 20 persen dari jumlah penduduk adalah keturunan asing: 8.000 jiwa keturunan Eropa yang makmur, sekitar 15.000 jiwa komunitas China, dan 3.000 jiwa keturunan Arab. Seperti di kota kolonial lainnya, mereka tinggal dalam lingkungan hunian kelompok etnik masing-masing (ethnic quarter). Antara 1888-1916, sekitar 1.500 hektar perumahan baru selesai dibangun, sebagian besar dikerjakan oleh pihak swasta. Produksi gula dan tembakau yang melimpah dari lembah Brantas yang membentang dari Jombang, Kediri, hingga Madiun, mendorong lahirnya berbagai institusi perekonomian modern, seperti bank, asuransi, dan perusahaan-perusahaan ekspor-impor. Tingginya potensi dan aktivitas ekonomi kota, makin menarik pendatang-pendatang asing untuk membuka usaha atau bekerja, dan kemudian menetap di Surabaya.

Jauh dari jangkauan pusat pemerintahan kolonial di Batavia membuat Surabaya berkembang lebih leluasa. Perkembangan kota dagang berskala internasional ini dibarengi dengan tumbuhnya karakter kota modern dan kosmopolitan: egaliter, dinamis, multikultural, dan terbuka dari berbagai pengaruh asing.

Sejarah ”urbano-graphical”

Perjalanan panjang Surabaya melintasi abad ke-20 inilah yang ditulis secara cermat oleh Howard W Dick dalam sebuah buku menarik dan kaya informasi: Surabaya, City of Work, A Socioeconomic History (2003). Dick adalah ahli sejarah ekonomi Asia Tenggara dari The Australian Centre of International Business, University of Melbourne, Australia. Buku ini menjadi sangat penting karena mengisi kekosongan studi tentang perkembangan kota modern di Indonesia. Tidak banyak buku yang menulis sejarah sebuah kota dengan pendekatan yang menyeluruh dan utuh.

Mengenai sejarah modern Indonesia, terutama di Jawa, menurut Dick sebenarnya dapat dibaca lewat kisah dua kota besar Indonesia: Jakarta (Batavia ) dan Surabaya. Lewat analisis detail dua kota ini dapat dilihat bagaimana dramatisnya perjalanan modernisasi dan urbanisasi di negeri ini. Kasus Surabaya sendiri menjadi spesial karena cerita yang tercatat adalah kisah pergulatan sebuah kota menghadapi dua medan sekaligus: pasar internasional yang sangat dinamis dan gejolak kekuasaan politik nasional.

Pembahasan buku ini tidak menggunakan metode kronologi tunggal yang biasa digunakan dalam penulisan sejarah. Dick membagi analisisnya menjadi tiga subyek utama: (1) profil dan perkembangan sosio-ekonomi kota industri dan perdagangan; (2) peran dan adaptasi pemerintah kota di bidang kesehatan masyarakat, pendidikan, dan perumahan; (3) pola keruangan kota (urban spatial pattern) yang terbentuk sepanjang abad ke-20. Setiap subyek memiliki kronologinya sendiri dan saling melengkapi kedalaman pembahasan sudut pandang masing-masing. Sebagai penunjang analisisnya, Dick banyak menyajikan data statistik dengan sumber bervariasi, lengkap dan memiliki kerangka waktu yang panjang.

Wuisman (2003) menyebut pendekatan tersebut sebagai “a historical urbano-graphical”. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam, sistematis, dan komprehensif pada setiap unit analisis sebagai satu kesatuan kompleks, dinamis, dan terbuka dalam sebuah keterkaitan dengan dimensi-dimensi lain yang luas, seperti kaitan antara lokal dan global (space); dimensi waktu yang lampau, sekarang, dan yang akan datang (time); hubungan sosial antara wanita dan pria (jender), lintas generasi (generation), afiliasi etnis (cultural identity), pemilik modal dan pekerja (social class), pola kerja, waktu luang dan konsumsi (status), penduduk dan birokrat (governance), warga negara dan politikus (polity), kepentingan nasional dan pendatang asing (nationality). Dengan menganalisis sebagian besar keterkaitan antar-dimensi tersebut, buku ini tidak hanya mengungkapkan kompleksitas kehidupan kota Surabaya, tapi lebih jauh menggambarkan peran penting Surabaya dalam pengembangan dan modernisasi ekonomi wilayah timur Pulau Jawa dan Indonesia.

Perkembangan struktur kota

Penggunaan lahan (land use) pada hakikatnya adalah perwujudan fisik dari perubahan ekonomi dan sosial. Setiap terjadi pertumbuhan dan gejolak ekonomi dan sosial akan terekam dalam perubahan penggunaan lahan kota. Pola perubahan lahan yang terus-menerus pada akhirnya akan memengaruhi struktur kota secara keseluruhan. Dick membagi sejarah perkembangan struktur kota Surabaya menjadi empat tahapan: tahap pertama, kota pra-modern sebelum 1830-an yang masih dikelilingi oleh benteng kota; tahap kedua tahun 1830-1942, terbentuknya struktur kota modern dan munculnya fenomena suburbanisasi; tahap ketiga tahun 1942-1970, ditandai dengan mundurnya pusat kota kolonial dan menyebarnya permukiman kampung; tahap keempat mulai 1970-sekarang, ditandai membesarnya ukuran dan skala kota akibat dominasi pembangunan infrastruktur dan permukiman skala besar (kota baru) di pinggir kota.

Pembentukan struktur kota modern ditandai dengan keputusan untuk meruntuhkan tembok kota pada tahun 1871 dengan alasan demi kesehatan lingkungan dan kebutuhan ruang kota yang lebih luas sebagai akibat peningkatan pesat aktivitas ekonomi. Ekspansi ruang kota berlangsung ke arah bagian selatan di sepanjang Kalimas, di mana saat itu merupakan jalur transportasi penting yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan di pinggiran kota ke pusat kota. Dibukanya terusan Suez (1875) dan lonjakan industri gula dunia mempercepat pembentukan kota modern. Pada tahun 1890 dibangun 20 kilometer jalur trem uap yang menghubungkan kota lama di utara dengan permukiman dan kawasan industri baru di selatan. Pada tahun yang sama otomobil masuk ke Surabaya. Memasuki abad ke-20 Surabaya telah berubah drastis menjadi sebuah kota modern yang makmur, dipenuhi perkantoran kelas menengah, hotel-hotel mewah, mobil, pusat perbelanjaan yang prestisius, dan dikelilingi oleh perumahan-perumahan mewah dengan konsep kota taman (garden suburbs). Bahkan Gubernur Oost Java pada masa itu membanggakan Surabaya sebagai the most modern city in the Indies.

Pada sisi lain, peningkatan aktivitas ekonomi menarik banyak pendatang dari desa-desa sekitar Surabaya dan tinggal berjubel di perkampungan. Sayang Dick tidak cukup dalam membahas fenomena ini. Sebagai perbandingan, Santoso (1984) pernah menuliskan bahwa akibat pengembangan kota formal tidak menyentuh perkampungan, maka muncullah sebuah dualisme ruang kota yang bersifat sosial-politis antara area yang dihuni orang Eropa (bebouwde kom di bawah teritori stadgemeente) dan perkampungan penduduk asli (niet-bebouwde kom sebagai inlaandse gemeente). Dualisme ini yang menyebabkan perkampungan selalu menjadi korban dalam kebijakan peremajaan kawasan dan pemekaran kota. Lebih dari itu, dualisme ini menjadi masalah laten dalam pengembangan kota hingga saat ini.

Akan tetapi, kejayaan ekonomi Surabaya tidak cukup lama bersinar. Depresi ekonomi yang melanda dunia tahun 1930-an memberi pengaruh negatif bagi Surabaya, bahkan terberat bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Hindia Belanda. Seluruh sendi kehidupan kota menjadi terpuruk. Kuantitas ekspor gula melalui pelabuhan Surabaya seakan terjun bebas, dari 1,2 juta ton pada tahun 1928-1929 menjadi hanya kurang dari 0,4 juta ton pada tahun 1936. Kondisi ini membawa efek ganda ke sektor perekonomian lain, seperti: penurunan permintaan transportasi dan pergudangan, mengurangi aktivitas industri berat yang sebelumnya memasok kegiatan pabrik-pabrik gula. Muara dari keterpurukan ekonomi adalah kontraksi penghasilan dan konsumsi masyarakat secara menyeluruh, dan angka pengangguran melonjak tajam.

Episode 1930-an telah memberi sebuah pengalaman pertama keterkaitan dan ketergantungan ekonomi lokal dan dunia, jauh sebelum masalah globalisasi ekonomi merebak sekarang ini. Dimulai dengan pengaruh pembukaan terusan Suez yang membuka jalan integrasi ke pasar dunia, depresi ekonomi dunia juga mengakibatkan Surabaya lebih cepat terpuruk dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

Tahun 1936, sebagai upaya mengatasi kemunduran ekonomi, pemerintah kolonial Belanda gencar mempromosikan Surabaya sebagai kota industri. Sebuah pamflet, Soerabaia and the Oosthoek: There Lies a Future for Your Business, menawarkan berbagai fasilitas yang ada di Surabaya, seperti pelabuhan dagang yang besar, pasar lokal yang menjanjikan, dan kemudahan penyediaan lahan untuk industri. Beberapa pabrik baru mulai dibangun, seperti lampu neon (Philips), minyak goreng dan sabun (Philippine Manufacturing Corp.), perakitan mobil (Dodge-NV Velodrome), dan sandal karet (Rubberfabriek Waroe).

Berbeda dengan masa sebelum depresi, pembukaan pabrik-pabrik baru tersebut tidak lagi berorientasi pada kepentingan ekspor, tapi lebih berorientasi pada pasar domestik. Setelah kejayaan industri gula redup, hubungan Surabaya dengan ekonomi dunia mencapai titik terendahnya. Sebagai perbandingan, pada masa yang sama, Jakarta dan Jawa Barat masih bisa bertahan di pasar dunia lewat produksi perkebunan karet dan teh. Tapi selain pergeseran tren ekonomi dunia, ada hal lain yang merisaukan pemerintah kolonial Hindia Belanda, yakni membanjirnya barang-barang murah produk Jepang di pasar lokal. Pada tahun 1934 tercatat sepertiga dari seluruh barang impor yang masuk ke Hindia Belanda berasal dari Jepang. Untuk bersaing dengan produk Jepang, pemerintah kolonial harus mendorong tumbuhnya industri yang berorientasi kebutuhan domestik. Surabaya kembali dilirik oleh banyak investor karena kesiapan infrastruktur dan institusi ekonomi modern peninggalan masa sebelumnya. Demikian juga posisi Pelabuhan Tanjung Perak yang akan berperan besar dalam faktor distribusi barang, terutama ke wilayah Timur Hindia Belanda.

Pada 3 Febuari 1942 bom pertama Jepang menghantam Surabaya. Satu bulan berikutnya, 6 Maret, tentara Jepang mendarat di Wonokromo. Beruntung tidak banyak kerusakan di sektor industri. Dua minggu setelah menguasai kota, sebagian besar pabrik kembali beroperasi di bawah supervisi militer Jepang. Tapi jenis produksi lebih diarahkan untuk mendukung kepentingan perang, seperti industri tekstil, baja, dan galangan kapal. Melihat potensi Surabaya sebagai pusat industri, militer Jepang terdorong menyusun rencana besar untuk membuka perkebunan kapas di bekas lahan-lahan perkebunan gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Belum sempat terlaksana, Jepang harus menyerahkan kembali Surabaya kepada tentara Sekutu pada akhir 1945.

Antara 1945-1949 tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintahan Belanda yang mencoba kembali berkuasa di Indonesia. Infrastruktur vital yang selama ini menjadi andalan Surabaya sebagai kota industri, seperti pelabuhan dan pembangkit listrik, belum kembali pulih. Sebagian kerusakan akibat pertempuran tahun 1945, tapi sebagian lagi akibat terputusnya hubungan dengan wilayah-wilayah pinggiran kota yang dikuasai oleh pejuang republik. Sebagai gambaran, sebelum perang produksi energi mencapai 14.000 KW, tapi seusai perang produksi menurun drastis hingga sekitar 2.000 KW.

Setelah pengakuan kemerdekaan tahun 1949, pertumbuhan ekonomi Surabaya dipicu kembali dengan pembangunan beberapa pabrik baru di daerah-daerah penyangga (hinterland) seputar Surabaya. Di Gresik dibangun pabrik semen, caustic soda, dan karung goni. Bahkan pabrik semen Gresik merupakan proyek investasi terbesar di Indonesia awal pascakemerdekaan. Proyek ini menyerap 14 juta dollar dari total kredit pinjaman 100 juta dollar yang diterima Bank Ekspor-Impor dari Amerika Serikat. Beberapa investor asing juga mulai kembali beroperasi. Pemulihan ekonomi kota lagi-lagi terhadang oleh keluarnya kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing tahun 1960-an.

Di sisi lain, arus migrasi spontan terus berlanjut setelah masa kemerdekaan. Dari sekitar 600.000 jiwa pada 1949, populasi Surabaya diperkirakan berlipat mendekati 1 juta jiwa pada 1956. Untuk bertahan hidup mereka menempati lahan-lahan kosong di sekitar infrastruktur publik, seperti bantaran kanal dan rel kereta api. Wajah kota Surabaya kembali menjadi kumuh.

Membangun kota industri

Peralihan kekuasaan politik ke Orde Baru pada akhir 1960-an membawa angin perubahan. Ada dua hal pokok yang harus ditangani Pemerintah Kota Surabaya pada awal 1970-an. Pertama adalah mencoba menangani pemekaran kota dan juga mengintegrasikan kawasan-kawasan industri baru, baik yang di dalam kota maupun di wilayah tetangga, seperti Gresik dan Sidoarjo, ke dalam sebuah rencana induk kota (master plan). Kedua, untuk menangani perkampungan yang disinyalir masih terdapat sisa pengaruh komunisme, pemerintah kota mengusung dua program yang berlawanan: peremajaan kawasan lewat penggusuran dan perbaikan kampung (KIP).

Awal 1990-an dilakukan revisi master plan untuk mengakomodasi perkembangan kota terakhir. Konsep koridor-koridor pengembangan diperluas dengan konsep jalan lingkar (ring road) terkait dengan rencana pembangunan jembatan Surabaya-Madura. Revisi juga untuk mengantisipasi (sekaligus mengendalikan) ledakan proyek-proyek real estate berskala sangat besar (very large scale projects) di pinggir kota. Sekitar delapan developer besar dari Jakarta tercatat menguasai lahan sekitar 6.300 hektar. Berbagai konflik kepentingan mulai muncul, terutama berkaitan dengan keinginan developer mengubah rencana peruntukan lahan pertanian produktif atau area konservasi alam menjadi lahan perumahan.

Pada periode yang sama, terjadi juga perubahan besar di pusat kota. Kawasan Jembatan Merah dan Tunjungan disulap kembali (redevelopment) menjadi kawasan pertokoan modern dan mewah. Modus yang digunakan mirip dengan proyek sejenis di Jakarta: mengalihfungsikan lahan-lahan milik pemerintah atau militer yang terletak di lokasi strategis. Atau menggusur kawasan perkampungan yang dianggap ilegal atas nama optimalisasi nilai lahan pusat kota.

Pemusatan kekuasaan politik di Jakarta, di mana seluruh kebijakan investasi asing hanya bisa diputuskan oleh petinggi Jakarta, menyebabkan turunnya daya tarik Surabaya bagi investor asing. Akses ke birokrasi pusat menjadi pertimbangan utama dalam melakukan investasi. Antara 1967-1978 tercatat 43 persen investasi asing nonminyak diserap oleh Jakarta dan Jawa Barat, dan hanya 5 persen yang ditanamkan di Jawa Timur.

Hingga 1986 industrialisasi di Surabaya dan sekitarnya lebih banyak dipicu oleh investasi domestik. Peningkatan kapasitas PLTU Tanjung Perak dari 50 MW menjadi 150 MW telah mendongkrak kapasitas produksi Semen Gresik berlipat tiga dan pendirian pabrik Petrokimia. Pertumbuhan ekonomi Surabaya juga banyak tertolong oleh keberhasilan Revolusi Hijau di Jawa Timur pada awal 1970-an, khususnya program intensifikasi tanaman padi. Program ini telah meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan yang pada akhirnya membuka lebar pasar domestik untuk kalangan produsen barang-barang konsumsi (consumer goods).

Seperti mengulang model pertengahan 1930-an, pembangunan Kawasan Industri Rungkut tahun 1975 memosisikan Surabaya kembali sebagai kota industri yang berorientasi pada produk substitusi impor dan pasar domestik. Dalam waktu sepuluh tahun, kawasan industri seluas 245 hektar terisi penuh dan menampung sekitar 26.000 pekerja. Penemuan ladang gas di lepas pantai timur pulau Madura pada pertengahan 1990-an memicu masuknya investor asing ke pengembangan industri berat di Jawa Timur, khususnya industri petrokimia. Pada tahun 1994, untuk pertama kali Jawa Timur menempati peringkat pertama dalam tingkat investasi asing di Indonesia.

Dikaitkan dengan krisis energi belakangan ini, keputusan untuk melayani kepentingan domestik sepertinya menjadi berkah yang tersembunyi (blessing in disguise) bagi kota Surabaya. Tentu akan lain ceritanya bila produksi gas Madura pada saat itu diperkirakan cukup untuk kepentingan ekspor.

Siklus hidup kota

Terhadap pendekatan pembangunan kota pada masa Orde Baru, Dick mencatat terjadinya pengulangan pendekatan pada zaman kolonial Belanda seperti sebuah siklus yang memutar balik. Cara pembebasan lahan saat real estate boom baik pada 1890-an dan 1980-an relatif sama. Lewat koalisi elite antara pejabat publik dan developer, sering kali atas nama kemajuan kota, mereka dapat menguasai dengan murah tanah-tanah milik petani dan penghuni perkampungan. Walau sudah merdeka, dualisme ruang kota produk kolonial (bebouwde kom dan niet bebouwde kom) masih saja terendap di bawah sadar mereka. Demikian juga konsep pembangunan perumahan-perumahan baru, tetap saja dirancang terpisah dari kenyataan sehari-hari. Mereka tetap memandang penghuni kampung sebagai sosok yang asing dan susah diatur. Alih-alih yang diproduksi tetap perumahan terpisah dari lanskap kota yang nyata, yang bakal memicu kesenjangan sosial yang makin tajam.

Di balik kritiknya, Dick menutup buku dengan kalimat yang bernada optimis: The new era of local autonomy that began on 1 January 2001 gives Surabaya the best opportunity since Independence to assert its identity and chart its own course.

Soerjono Herlambang Dosen Jurusan Planologi dan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara

Dimuat di Kompas, Sabtu, 15 Oktober 2005

 

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

1 Comment

  1. ernest siregar says

    Pembahasan ini menarik sekali…
    saya usulkan untuk semakin banyak melakukan kajian yang lintas disiplin, ARSITEKTUR KOTA – PLANOLOGIS, agar konsep2 arsitektural yang ideal tidak menjadi wacana yang Utopia melainkan dapat distrukturkan melalui metoda2 secara planologis… makasih atas masukan keilmuannya…

    klo ada masukan lagi, hub email saya ya… ernestsiregar@yahoo.com

    saya boleh upload artikel? bagaimana caranya? makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s