Friday, I’m in Love…

Leave a comment
Tentang kawan

Friday, I’m in Love…
(dan kamu bilang mustinya setiap hari aku “I’m in Love”)

 

Halo Jeng,

 

Sori ya kemarin kamu harus nunggu sendirian. Aku masih ada kerjaan. Tapi kamu ngga lama kan nungguin aku.

Untungnya saat aku datang kamu sudah bersama beberapa orang temanmu. Kalian ternyata sedang membicarakan kemalasan dan semangat hidup. Hari gini orang yang ngga optimis ngga akan sukses. Siapa aja contohnya, Steve Jobs, dua orang muda pendiri Google, dan nama-nama lain yang aku sudah lupa. Sekarang sudah ga zamannya lagi bilang “I hate Monday” atau “Thank God it’s Friday”. Semua hari selalu memiliki peluang menguntungkan, asal kita mau tetap jeli dan awas.

Tiba-tiba aku teringat beberapa hal. Pertama, mimpi anehku malam sebelumnya melihat George Soros diwawancarai TVRI, aku sangat terkesan dengan wawancara itu. Kedua, video klip “Friday, I’m in Love”nya The Cure. Sudah lama aku tidak melihat semangat hidup yang orisinal dan murni tapi sederhana seperti yang dipertunjukkan Robert Smith dan kawan-kawan saat berlarian memasuki panggung. Dahsyat!

Seingatku kamu pernah suka video klip itu dan sangat hafal liriknya. Entah kamu menjiwai atau tidak. Tapi jika aku bagi hidupmu dalam beberapa masa, maka saat ketika kamu begitu mencintai lagu itu adalah masa yang berbeda dengan saat kamu bilang semua hari harus dihadapi dengan optimisme.

Maaf ya, Jeng,

Aku akan selalu punya hari-hari di mana emosi naik turun tidak karuan. Susah sekali membayangkan, dan mengerikan bahkan, semua perasaan dimampatkan dalam sebuah ruangan kedap udara bernama optimisme.

Mungkin, kalau mau sangar-sangaran, optimisme semacam itu yang melahirkan merkantilisme, korporatisme, Enron, Blackwater USA, Monsanto, dan mungkin juga forum obrolan kaya Markplus Forum. Hahaha…

Optimisme yang aku miliki mungkin sama dengan yang melahirkan kebudayaan yang sekarang sudah pada punah atau mampus, monumen juga tidak ada, hanya semangat yang mereka wariskan melalui musik, karya tulis, atau jenis orang yang aneh-aneh yang tidak akan kamu pahami karena “diferensiasi” mereka tidak memiliki “unique selling point”.

Aku tidak akan bilang aku hanya orang sederhana, yang berusaha menikmati dunia apa adanya. Sama seperti kamu, aku ingin melihat perbaikan, mendambakan dunia yang lebih baik, melihat orang-orang miskin memiliki semangat optimisme (karena negara membantu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk memulihkan martabat mereka yang sudah hancur selama ratusan tahun), melihat diriku sendiri berkembang mendapatkan kenyamanan sebagai ganjaran dari kerja kerasku.

Tapi mungkin dalam beberapa hal kita memang begitu berbedanya sampai cuma bisa diselesaikan dengan makan es krim atau nonton film.

Hmm…kamu masih jalan sama anak itu?

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s