Kelinci atau Guinea Pig Sungguh Bukan Masalah Buat Dia

Leave a comment
Tentang kota

Hewan peliharaan pertamanya adalah seekor kelinci, yang langsung masuk angin begitu tiba di rumah setelah melalui perjalanan dari Bratang hingga Kepanjen. Seorang teman bilang bahwa itu bukan kelinci, tapi guinea pig. Sejenis hamster tapi lebih besar.
Kelinci itu meringkuk di kurungan dari kawat. Hanya setangkup kubis di pojok kurungan yang membuat dia merasa bahwa dia masih di Bumi. Hal lain yang membuat kelinci itu yakin dia masih bisa hidup beberapa jam lagi adalah tatapan kosong dari wajah mongoloid yang terjepit di antara dua pria; mungkin ayah dan paman dari majikan barunya itu.
Ketika melintas di Jalan Pemuda yang masih basah, anak itu merasa begitu mengantuk dan mendadak begitu menginginkan sebuah kisah sedih. Perasaan aneh yang selalu meliputinya setiap kali ayahnya menuruti permintaannya. Perasaan yang dulu juga sering aku alami. Setiap kisah bahagia harus diikuti dengan kisah sedih. Kehancuran. Dulu sehabis dibelikan mainan handphone-handphone-an, dia ingin ada orang yang merampas dan membakar mainan dari plastik itu.
Malam itu, di Jl. Pemuda yang masih basah, dia ingin membelai bulu kelinci yang berwarna coklat itu di sebuah kamar dan kemudian membalut badannya dengan handuk dan kemudian dikuburkan di halaman depan rumah.

The Author

Mungkin kamu pernah kenal aku. Sementara ini aku tinggal di Timika, Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s