Mimika Air

Leave a comment
Papua
Pesawat Mimika Air

Pesawat Mimika Air

Jatuhnya pesawat Mimika Air di Gunung Gergaji di perbatasan Distrik Biloga dan Mulia beberapa waktu lalu ternyata juga berdampak pada dunia pendidikan. Pesawat naas itu rencananya akan digunakan Dinas P&P Kabupaten Mimika untuk mengantar materi dan pengawas Ujian Nasional tingkat SD akhir April ini. Kalau tidak segera dicari solusinya bisa jadi jadwal Ujian Nasional akan mundur.

Selama ini Mimika Air melayani penerbangan ke pedalaman Mimika seperti Jila di daerah gunung dan Potowayburu di pesisir barat Mimika. Terakhir aku melihat Mimika Air di Jila. Entah mereka datang untuk mengantar apa ke Jila. Mungkin logistik Pemilu.

Selain Mimika Air, lembaga penyedia transportasi ke pedalaman adalah AMA, Trigana Air, dan Airfast. Khusus Airfast mereka melayani penerbangan ke pedalaman dengan helikopter, jadi bisa mendarat di bagian mana saja di Mimika tanpa perlu landasan, cukup helipad.

Tapi di daerah seperti Papua ini bukan hanya masalah ketersediaan tempat untuk pendaratan pesawat kecil/helikopter saja. Rute yang ditempuh kerap kali melewati pegunungan yang terjal dan menyediakan banyak jebakan alami. Pilot Mimika Air saya yakin bukan orang yang ceroboh. Mungkin saat itu dia harus membuat keputusan tepat dalam waktu yang sangat mendesak dan dalam keadaan cuaca yang (semakin) tidak bisa ditebak saat ini.

Potowayburu

Leave a comment
Catatan Perjalanan / Papua
From Potowayburu

Potowayburu di distrik Mimika Barat Jauh adalah tapal batas barat Kabupaten Mimika dengan Kabupaten Fak Fak. Jika ditempuh menggunakan jalur darat, pilihan satu-satunya adalah dengan perahu motor menyusuri pantai barat Papua atau mengikuti jaringan aliran sungai.

Kami cukup beruntung bisa menggunakan helikopter untuk mencapai lokasi pendaratan Potowayburu. Helikopter yang mengantar kami berbelok ke menghindari Pegunungan Pariri dan mendarat di sebuah lapangan yang dikelilingi beberapa bangunan permanen dan sebuah bangunan semi permanen dari kayu, dan logging camp yang cukup besar di dekat sungai. Dari atas kondisi Potowayburu agak berbeda jika dibandingkan dengan desa-desa Kamoro lainnya yang pernah aku kunjungi seperti Atuka atau Uta.

Kondisi alamnya adalah pertemuan antara dataran tinggi Papua dan daerah pesisir. Cantik sekali. Selain itu juga adalah nyaris tidak ada penanda bahwa Potowayburu adalah desanya orang Kamoro. Yang lebih kental justru nuansa perusahaan. Mungkin karena Potowayburu adalah bekas basis operasi sebuah perusahaan kayu PT. Jayanti yang sudah tutup.

Seperti biasa ketika kami mendarat yang menjadi “panitia penyambutan” adalah para guru dan murid yang tergopoh-gopoh mengambil barang bawaan karena disuruh para guru.

Yang mengagetkan adalah lokasi penerimaan kami. Dari atas memang sudah terlihat sebuah bangunan semi permanen dari kayu yang sudah reot. Kami kira itu gudang. Ternyata itulah tujuan kami, SMP Negeri Potowayburu.

SMPN Potowayburu hanya terdiri dari dua “ruang kelas” yang dipisahkan oleh dinding kayu yang sudah lapuk. Setiap ruang kelas hanya diisi oleh meja kursi yang sangat mengenaskan dan papan tulis. Aku pernah melihat bangunan semacam ini di Atuka, yang difungsikan oleh warga sebagai semacam gedung serba guna. Itu pun kondisinya jauh lebih baik di Atuka.

Ironisnya, SMP Negeri Potowayburu ini berdiri berhadapan pas dengan kantor distrik yang megah tapi selalu dalam keadaan kosong melompong. Menurut kepala sekolah SMPN Potowayburu, Pak Modestus Rumrome, gedung SMPN Potowayburu memang peninggalan Jayanti dan sudah tidak layak pakai. Gedung sekolah yang baru sudah didirikan di utara Potowayburu. Sayang sekali kami tidak sempat melihatnya, karena menurut Pak Rumrome dan beberapa guru lokasinya “jauh sekali”.

Kejutan lain yang menanti kami adalah jumlah murid. Dari sekitar dua puluh siswa yang mengikuti sosialisasi beasiswa, ternyata jumlah siswa kelas III SMPN Potowayburu hanya tiga orang. Kembali kami dihadapkan pada permasalahan “jauh sekali”. Menurut Pak Rumrome, lokasi sekolah di Potowayburu tidak terjangkau bagi para siswa yang kebanyakan tinggal di Aindua dan Yapakopa yang jaraknya cukup jauh. Mereka hanya akan bertahan di sekolah selama beberapa minggu setelah itu menghilang karena harus mencari sagu untuk persediaan makanan atau untuk pulang kampung.

Salah satu inisiatif kepala sekolah menyikapi soal jarak adalah pemfungsian sebuah rumah dekat rumah kepala sekolah sebagai asrama. Selebihnya kepala sekolah dan kepala distrik mengharapkan perhatian untuk Potowayburu, baik dari LPMAK maupun dari pemerintah. Ketika tiba di Timika banyak orang juga kerap mengaitkan Potowayburu dengan jarak yang jauh.

Tapi toh dari berbagai kampung yang “jauh sekali” seperti Aindua dan Yapakopa, masih terus berdatangan ke Potowayburu pemuda-pemuda yang memiliki mimpi dan sedang membentuk cerita perjuangan hidup mereka. Beberapa pemuda Potowayburu juga meneruskan pendidikan ke Timika, seperti seorang bapa yang menanyakan anaknya, Yance Ofunia, yang sekolah di SMK Pelayaran, Timika.

Semoga saja mereka tidak akan segera dihentakkan kenyataan bahwa mimpi mereka lebih baik disimpan saja hanya karena tempat tinggal mereka “jauh sekali” dari Timika.

Orang Bajo Suku Pengembara Laut; Pengalaman Seorang Antropolog

comments 2
Buku

orang-bajo-copy

Judul: Orang Bajo Suku Pengembara Laut; Pengalaman Seorang Antropolog
Penulis: François-Robert Zacot
Penerjemah: Atika Suri Hanani
Tebal: 482 hal
Penerbit: KPG – EFEO – Forum Jakarta Paris (2008)

Setiap hari kisah orang-orang Bajo berlangsung di depan mata kami…

Buku ini adalah kisah perjumpaan seorang antropolog dengan suku Bajo yang tinggal di Pulau Nain (di utara Manado) dan Torosiaje (Gorontalo). Lebih jauh dari itu, buku ini juga merupakan rekaman jujur mengenai perjumpaan dan dialog antara manusia dari dua kebudayaan yang berbeda.
Sekalipun menggunakan gaya penceritaan yang personal (aku – sudut pandang orang pertama), berbagai catatan mengenai cara hidup dan deskripsi tempat tinggal orang Bajo jauh dari kesan dramatis dan malah menghilangkan pertanyaan klasik mengenai subyek dan obyek dari benak kita. Si “aku” yang datang jauh-jauh dari Prancis bukanlah aku-yang-mengamati tapi aku-di-dalam kalian atau aku-yang-ada-karena kalian.
Sejak halaman pertama kita diajak masuk ke dalam perenungan semacam itu. Gaya penceritaan dalam catatan pengalaman François-Robert Zacot ini berhasil mengajak pembacanya menangkap tujuan etnografi, yakni perluasan pengertian tentang “kemungkinan-kemungkinan yang ada pada manusia (human possibilities) melalui studi tentang bentuk-bentuk kehidupan lain”.

Menurut pengakuan François-Robert Zacot sendiri, gaya penceritaan “aku” yang mencampurkan catatan pengalaman pribadi penulis dan deskripsi etnografis dipilih karena masyarakat Bajo baru dapat diteliti dari segi etnografis jika masuk ke dalam masyarakat Bajo dan karena berbagai macam kesulitan selama penulis berada di dalam masyarakat Bajo bukanlah residu penelitian tapi justru bahan yang memperkaya informasi mengenai asas-asas kehidupan masyarakat Bajo (hal. 10).

Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa dalam buku ini kita kerap menjumpai catatan-catatan yang tergolong “ajaib” seperti catatan mengenai pengalaman François-Robert Zacot mengenakan sarung dan diintip anak-anak Bajo (hal. 37), sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo ketika ditanya mengenai sejarah mereka (hal. 303), kejengkelan atas sikap orang Bajo yang suka meminta barang apapun yang ada di rumah François-Robert Zacot (hal. 288) atau julukan-julukan yang diberikan François-Robert Zacot kepada beberapa individu.

Beberapa kali saya terpaksa menutup buku karena tertawa keras-keras, tapi juga dalam waktu yang bersamaan merenungkan berbagai proses penyesuaian diri yang pernah saya alami selama ini, terutama pengalaman terkini saya di Papua. Menjadi tidak jelas kemudian, siapa yang saya tertawakan; François-Robert Zacot atau saya sendiri.
Semua deskripsi “ajaib” itu bukan ditulis tanpa alasan atau sebagai hiasan semata. Mengenakan sarung dan diintip anak-anak adalah bagian dari proses penyesuaian fisiologis yang dijalani François-Robert Zacot. Hidup di dalam masyarakat bahari Bajo berarti harus membuang jauh-jauh ruang privat. Masyarakat Bajo tinggal di dalam rumah yang didirikan di atas laut dan sebagian kecil di dalam leppa (perahu kecil) (hal.128). Selain kehilangan ruang privat karena rumahnya selalu didatangi orang-orang Bajo, François-Robert Zacot sampai ikut mengalami sendiri dampak dari kurangnya interaksi dengan daratan, kakinya lemah karena kurang bergerak dan merasa asing saat menginjak daratan.
Ungkapan kejengkelan François-Robert Zacot pada sikap bungkam dan berbelit-belit orang Bajo merupakan warna manusiawi yang dibubuhkan François-Robert Zacot dalam pembahasan mengenai cara pandang orang Bajo terhadap dunia. Sejarah orang Bajo diwarnai perpisahan yang menyakitkan dengan daerah asal mereka. Butuh waktu lama bagi François-Robert Zacot sebelum akhirnya dia berhasil mendapatkan cerita rakyat Bajo yang memberi petunjuk atas misteri asal-usul orang Bajo (hal. 215). Selain itu sikap bungkam, salah satu petunjuk menarik mengenai asal-usul dan sikap orang Bajo memandang dunia adalah pantangan orang Bajo untuk menyebutkan “timur” dalam arah mata angin (hal. 382, 392).

***

Tidak lama setelah selesai membaca buku ini, saya melihat tayangan mengenai orang Bajo di sebuah acara di stasiun televisi. Sang pembawa acara (yang biasanya mewakili karakter anak muda Jakarta masa kini), menjelaskan cara hidup orang Bajo sambil tertatih-tatih melewati jalanan kayu di kampung orang Bajo. Dengan penuh rasa takjub, pembawa acara dan kamerawan acara itu menyorot kebiasaan perempuan-perempuan Bajo yang mengenakan bedak tebal di wajah mereka. Seperti acara televisi lainnya, liputan atas orang Bajo itu singkat saja dan berkali-kali disela tayangan iklan.

Ada ajakan untuk mengenal berbagai macam budaya di Indonesia melalui tayangan tersebut, tapi bentuk perkenalan macam apa yang sebenarnya hendak dianjurkan bagi para pemirsa televisi? Jangan-jangan kita sedang meniru sikap orang Eropa yang terheran-heran dan tertawa melihat orang dan gaya hidup Jawa atau Batak pada pameran-pameran kolonial yang kerap diadakan pada akhir abad 19 di Eropa.

Selama beberapa abad, masyarakat Bajo berkembang sebagai masyarakat yang menumpukan nasib dan daya hidup mereka pada cara hidup maritim mereka. François-Robert Zacot melakukan penelitian tepat pada saat ketika cara hidup maritim mereka tersebut berada di dalam ambang perubahan, ketika rezim Orde Baru sedang mengkonsolidasikan kekuatan mereka. Semua perbedaan masyarakat harus disingkirkan demi kepentingan keutuhan bangsa dan pembangunan nasional. Bentuk-bentuk pemerintahan adat dan lokal yang tidak bisa mengakomodasi kepentingan pusat untuk sentralisme harus minggir. Maka demikianlah François-Robert Zacot terheran-heran melihat alat pengeras suara yang mengumandangkan berbagai macam instruksi untuk masyarakat Bajo di Torosiaje. Cara hidup maritim masyarakat Bajo pun dipandang sebagai bentuk tindak subversif karena menolak untuk hidup menetap di darat.

Pada buku versi Indonesia yang terbit tahun 2008 ini, François-Robert Zacot mengingatkan para pembaca akan kenyataan dan masalah jati diri yang kini dihadapi masyarakat Bajo (hal. 13). Paksaan untuk hidup di darat, desakan agama atas adat istiadat orang Bajo, dan serbuan media massa yang mengekspos gaya hidup mereka, membuat masyarakat Bajo seolah menyaksikan dan merelakan jati diri mereka hilang secara perlahan-lahan. Sementara, di sisi lain Indonesia, di sebuah kamar atau ruang makan, kita menikmati tayangan di televisi mengenai orang Bajo.
Orang Bajo bukan satu-satunya masyarakat di Indonesia yang sedang mengalami pengikisan jati diri. 30 tahun pemerintahan yang sentralistik dan mengutamakan deru industri telah membuat orang orang Bajo, Dayak Kadori di Kalimantan, Orang Rimba di Riau, orang Amungme dan Kamoro serta tujuh suku lainnya di Mimika, terpaksa meninggalkan masa lalu dan menanggalkan jati diri mereka dengan sangat menyakitkan.

Saya jadi sedih membaca ajakan François-Robert Zacot yang dia tulis di halaman kata pengantar. Karena jangankan berpikir untuk memandang semua masyarakat di Indonesia sebagai warisan berharga sejarah dan kemanusiaan Indonesia, memandang mereka “yang lain” tanpa prasangka saja kita masih kesusahan. ***

Selamat Ulang Tahun, Papa!

Leave a comment
Foto / Keluarga

img_01261

Untung hari ini aku ga salah kirim sms kaya biasanya. Di hapeku ada banyak reminder ulang tahun teman-teman dan peringatan har-hari besar dalam sejarah. Entah sejak kapan dering alarm berbunyi sehari sebelum hari sebenarnya. Beberapa kali aku kirim sms ucapan selamat ini itu sehari sebelum harinya. Banyak yang kaget dan bingung, bahkan sampai marah, doain cepat mati katanya. Tapi banyak juga yang menganggap itu sebagai perhatian, sekalipun mendahului tanggal sebenarnya.

Kemarin alarm reminder di hapeku berbunyi. Weh, Papa sudah 62 tahun. Ga beda jauh sama usianya Indonesia. Kata Papa, life begins at 60. Cie..mantap, bes.

Selamat ulang tahun, Pa. Semoga karya Papa semakin luas tidak hanya di Aceh dan hidup Papa jadi teladan bagi semua anggota keluarga kita. Sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan. Amin.

Oh ya, Pa. Blognya Papa sekarang aku link-kan ke blogku. Kapan mau diupdate lagi?

Pendidikan Dasar di Mimika

Leave a comment
Current issues / Papua

Seperti biasa, sebagian wilayah Timika gelap total kena pemadaman bergilir. Sekali padam tidak main-main, bisa sampai enam jam. Di wilayah yang terkena pemadaman, warga Timika biasanya menghabiskan waktu dengan bercengkrama dengan teman atau keluarga. Tapi di sebuah rumah di daerah Kwamki Baru yang juga terkena pemadaman listrik, Suster Sisilia duduk disinari temaram cahaya lilin. Di sekitarnya ada beberapa anak kecil berusia antara 5 – 10 tahun yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sebenarnya anak-anak itu berkumpul untuk belajar, tapi yah apa mau dikata, namanya juga anak-anak. Apalagi anak-anak yang tidak pernah terbiasa duduk belajar di dalam ruangan. Jalanan gelap kota Timika jauh lebih menarik daripada buku cerita yang dibacakan Suster Sisilia.

Tapi toh keadaan itu tidak membuat Suster Sisilia patah semangat. Dia tetap berusaha keras mendidik anak-anak suku Amungme dan Kamoro yang banyak berkeliaran di jalanan dan sudut-sudut kota Timika.
Perjalanan Suster Sisilia dimulai pada tahun 2005. Saat itu setiap jam empat sore hingga enam sore setiap hari, Suster Sisilia menyempatkan diri berjalan mengelilingi kota Timika. Setiap hari dia bertemu dengan anak-anak suku Amungme dan Kamoro yang tidak sekolah dan berkeliaran di jalanan Timika. Kebanyakan bekerja sebagai pemulung.

“Lingkungan di Timika berpengaruh besar bagi mereka, anak-anak itu gampang tertular kebiasaan mabuk,” kata Suster Sisilia. Hal itulah yang mendorong Suster Sisilia mengirimkan anak-anak suku Amungme dan Kamoro untuk melanjutkan pendidikan ke luar Timika, seperti ke Nabire, Merauke, bahkan hingga ke Malang. Biaya pendidikan dinegosiasikan dengan lembaga studi tempat Suster mengirimkan anak-anak.

Usaha keras Suster Sisilia membuat banyak lembaga studi yang mau mendidik anak-anak Amungme dan Kamoro tanpa biaya. Sekalipun demikian, Suster yang tergabung di kongregasi Alma ini tidak mau orang tua jadi lupa dengan anak-anak mereka. Setiap bulan para orang tua menyisihkan penghasilan mereka dari jualan sayur di pasar untuk kemudian dikirimkan ke anak-anak mereka. “Sekalipun tidak banyak tidak masalah, supaya mereka merasa terlibat dan anak-anak masih memiliki ikatan dengan orang tua,” kata Suster Sisilia yang kini sudah melepaskan diri dari kongregasi Alma.

Suster Sisilia percaya bahwa mendidik anak-anak yang masih dalam tingkat pendidikan dasar akan lebih mudah dan lebih penting daripada mendidik mereka yang sudah beranjak remaja. Ibarat pohon, “anak-anak itu masih bisa dibengkokkan dan dibentuk, kalau yang sudah remaja itu susah sekali,” menurut Suster Sisilia.

Kerja keras Suster Sisilia ini mengingatkan saya pada kisah saudara kembar Ibu Sri Rosianti dan Ibu Sri Rianti yang mendirikan Sekolah Darurat Kartini di Jakarta. Para siswa yang belajar di Sekolah Darurat Kartini adalah anak pedagang asongan, pemulung, dan tukang ojek. Sekolah dibuka sejak pukul 07.00 hingga pukul 10.00 untuk murid Taman Kanak-kanak. Sedangkan dari pagi hingga siang hari, waktunya bagi para murid SD, SMP, dan SMA untuk belajar pengetahuan umum. Setelah itu mereka belajar berbagai macam ketrampilan seperti menyulam, bengkel, dan memasak. Dengan demikian diharapkan selain memiliki bekal akademik, anak-anak juga memiliki keahlian pendukung. Selain kerap menyambangi lima sekolah dan mengajar, Ibu Sri Rosianti dan Ibu Sri Rianti merogoh kocek pribadi mereka untuk membiayai sekolah darurat yang mereka dirikan.

Kehadiran sekolah yang modal awalnya hanya puluhan buku bacaan itu tentu saja mendapat respon positif dari masyarakat. Kini sudah ada lima Sekolah Darurat di Jakarta yang didirikan Ibu Sri Rosianti dan Ibu Sri Rianti. Sayangnya pada bulan Agustus 2008 lalu Sekolah Darurat Kartini di bawah jembatan tol Penjaringan, Jakarta, yang menampung 420 anak hancur terbakar, bersama dengan ratusan gubuk di bawah jembatan tol Penjaringan. Pemerintah kota Jakarta Utara melarang warga untuk tinggal di tempat itu lagi.

Karena beberapa hal, Suster Sisilia kini sendiri juga tidak lagi mendidik dan mengirimkan anak-anak Mimika belajar di luar Mimika. Suster Sisilia kini aktif di YAHAMAK (Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan). Kami mengakhiri pembicaraan dengan canggung. Saya tidak sempat bertanya lebih jauh, seperti misalnya apakah sekarang dia masih meluangkan waktunya mengajar anak-anak atau apakah dia masih menjalin komunikasi dengan anak-anak yang pernah dikirimnya.

Sebagian dari kita mungkin memiliki catatan tersendiri atas pribadi Suster Sisilia. Demikian juga di Jakarta sana, beberapa orang mungkin memiliki pandangan yang berbeda atas kerja keras Bu Sri Rosianti dan Sri Rianti. Tapi sungguh, tidak mudah menemukan orang seperti Suster Sisilia atau ibu Sri Rosianti dan Sri Rianti.
Tidak mudah juga bagi kita membuka hati bagi pribadi-pribadi luar biasa yang mendedikasikan dirinya bagi pendidikan di Mimika saat ini, para orang muda yang didatangkan Keuskupan Timika dan bertugas di pedalaman Mimika, seperti di Atuka, Amar, hingga Potowayburu. Jauh dari berbagai kesenangan dan kemudahan yang seolah sudah melekat di generasi kini. Jangankan di pedalaman Papua, bukan hal mudah menemukan orang yang mau menjadi guru di pelosok Jawa.

Dalam perjalanan ke Atuka beberapa waktu lalu, saya terduduk di dalam kapal. Karena lelah saya lebih banyak merebahkan diri di atas tumpukan barang. Perjalanan malam membuat hutan di sepanjang sungai Wania seolah memiliki jiwa sebagaimana layaknya manusia.

Saya tidak mengharapkan pemandangan indah, bisa melamun dan merokok dengan enak tanpa terganggu suara mesin saja sudah sangat cukup. Tapi mendadak saya mendapati sebuah pemandangan menakjubkan; sebuah pohon yang dikerumuni ratusan kunang-kunang. Belum habis ketakjuban saya, tidak lama berselang kembali nampak sebuah pohon yang menjadi panggung tarian ratusan kunang-kunang.

Kegelapan nyatanya bukanlah sebuah titik akhir, tapi masa penantian akan terang dan pengujian kekuatan harapan kemanusiaan kita. Sekalipun banyak sekali gedung sekolah yang berada dalam kondisi memprihatinkan di daerah pantai, ada secercah harapan yang datang dari wajah anak-anak Mimika yang berangkat sekolah dengan seragam dan buku seadanya serta dari para guru kontrak Keuskupan Timika.

Bagi kita para penumpang “kapal besar” LPMAK yang sedang mengarungi kegelapan kondisi pendidikan di Mimika ini, sudah seharusnya kita memperhatikan dan belajar dari cahaya-cahaya kecil di luar sana, dari para individu luar biasa yang bekerja dengan segala keterbatasan mereka. Terlebih jika kita memang serius memperhatikan perkembangan pendidikan dasar di Mimika. ***

Timika Tegang (Lagi)

Leave a comment
Papua

Kota ini memasuki tahun baru 2009 dengan penuh ketegangan. Bulan Januari lalu masyarakat Kei bersitegang dengan polisi menyusul meninggalnya Simon Fader di tangan seorang anggota polisi. Selama beberapa hari Timika tegang. Orang Kei menguasai daerah Kwamki Baru. Jalur dari kota dan bandara jadi terputus.

Suasana panas memuncak menjelang pemakaman korban. Kok ya pas rumah korban berada di seberang kantor 3 dan Hotel Serayu tempat acara pelatihan KTSP. Baru sekali itu aku melihat rombongan orang membawa parang. Ngeri. Dulu aku pernah lihat orang-orang Madura bawa clurit menghadang kami yang mau demo ke kompleks militer di Surabaya. Ga ada apa-apanya.

Sekarang giliran orang Moni dan Bugis yang menyemarakkan suasana kota. Beberapa hari lalu Joker Japugau, seorang (yang katanya) kepala suku besar Moni tewas ditikam beberapa pemuda Bugis. Masyarakat Moni mengadakan acara adat di tempat terbunuhnya Pak Joker.

Selama ini aku belum pernah mendengar tindak kekerasan di Timika yang melibatkan orang Moni. Postur tubuh mereka rata-rata besar, tapi hatinya ramah. Seperti Pak Yohan Zonggonau misalnya. Wah, kalo kata orang Timika; tidak gampang, meno.

Yang paling sering aku dengar melakukan tindak kekerasan itu katanya orang Dani. Tapi ga juga ah. Kemarin di rumah aku kedatangan tamu orang Dani. Namanya Pak Pigai (atau Pugau?). Dia jualan sayur. Awalnya aku tolak karena aku tidak bisa masak. Tapi akhirnya aku luluh juga setelah dia datang kembali sambil terengah-engah kepanasan. Aku beli dua ikat kangkung seharga Rp. 20.000. Setelah itu malah lanjut jadi ajang proses barter. Pak Pigai bawa majalah Garuda dan satu sachet kopi instan.

Tadi siang ini katanya jembatan “Selamat Datang” diduduki orang Moni. Dengan demikian mungkin aku ga akan bisa pulang. Karena jembatan itu berada di tengah-tengah jalur yang menghubungkan Timika – Kuala Kencana. Kemarin juga kacau seperti ini, tapi hujan membuat orang-orang Moni itu pulang ke rumah masing-masing.

Pulang tanpa membawa hasil mungkin. Tidak tahu siapa yang membunuh kerabat mereka. Sama seperti orang Kei yang tidak tahu siapa yang membunuh dan bagaimana Simon Fader terbunuh.

Transit di Bali

comments 2
Catatan Perjalanan

Sejak di bandara aku sudah bingung mau ngapain. Ke Kuta ya ngapain, tapi di bandara ya ngapain. Transit kali ini memang lama. Pesawatku tiba di Bali jam 17.15 WITA. Pesawat ke Timika baru berangkat jam 02.50 WITA. Pas check in di Juanda dapat kabar bagus sekali; bagasi harus diambil dan check in karena waktu transitnya lebih dari enam jam. Bagus.

Beruntunglah kalian yang punya teman atau saudara di Denpasar. Kalau tidak punya ya siap-siap aja seperti aku ini. Selesai ambil barang aku ke pintu keluar. Nemu troli remuk yang maunya belok kanan terus. Padahal tempat penitipan barang yang aku tuju lumayan jauh. Tempatntaya di kedatangan internasional. Jaraknya kurang lebih 500 meter. Satu tas dihitung 20 ribu rupiah. Uang di dompet langsung ludes setelah nitip satu tas dan satu kardus isi salak dan kopi. Kalau ga pake nitip barang aku bisa beli kaos di Matahari Kuta Square. Bagus-bagus kaosnya.

Oke barang beres. Sekarang cari ATM. Ternyata di Bandara Ngurah Rai ga ada ATM Niaga. Adanya cuma BCA di pojok pintu keberangkatan internasional. Habis dari ATM mampir ke Circle K beli minum dan rokok.

Aku seperti kucing yang selalu lupa apa yang hendak dilakukannya setiap dua langkah. Tanpa sadar aku sudah berada di dekat kedatangan domestik dan memesan segelas kopi. Telfon Sasi. Dia usul aku kembali ke penitipan barang dan ambil tas ransel. Laptop dipindah ke ransel. Tas jinjing dititipkan. Usul yang bagus sekali. Tapi toh akhirnya aku mencari taksi tanpa melakukan sarannya. Males aja jalan lagi ke penitipan barang.

Penyesalan memang selalu terlambat. Sekarang aku terjebak di sebuah kafe di Kuta Square dengan tas jinjingku yang berat. Tadi sempat nitip tas di Matahari. Dengan wajah masam, mbak yang jaga penitipan bilang kalau jangan nitip tas sampai Matahari tutup (jam 10 malam).

Setelah urusan tas beres sekarang urusan mau kemana. Situasinya: mendung gelap menggayut di langit Kuta. Benar saja, baru sampai di tikungan dekat Pantai Kuta hujan turun dengan deras. Seorang turis yang juga ikut berteduh mengeluhkan cuaca Bali yang hujan terus.

Hujan reda tidak lama kemudian. Pantai Kuta yang terakhir aku kunjungi tahun 1997 itu nampak gelap. Sebuah pohon tumbang hampir memenuhi jalan. Aku ingin mengingat saat-saat ketika aku mengunjungi pantai ini tapi tidak bisa, padahal ada banyak peristiwa yang aku alami di sini: suatu siang yang terik ketika Mama, aku, Yoke, dan Om Pedy berbicara dengan polisi Australia teman Om Pedy kemudian Om Pedy mengajari kami main body boarding; suatu sore ketika Dirun, Kembon, dan aku kebingungan mencari (Alm.) Didik. Kami semua sudah mengira dia hilang terseret ombak gara-gara main body boarding; ketika aku mencium bibir seseorang perempuan dan merasakan pasir pantai di kakiku terasa begitu dingin; ketika aku memotet seorang teman dan dia suka sekali dengan hasil jepretanku.

Ingatan mungkin seperti bahan kimia yang menghasilkan selembar foto. Dia bisa kadaluarsa dan tidak mampu menghadirkan warna-warna. Kita bisa melihat sosok-sosok di foto itu, tapi tidak cukup untuk membuat kita hadir di dalam foto itu. Ada jarak yang lebar antara aku-di foto itu dan aku-yang memegang foto. Musnah sudah semua ikatan dengan kenangan. Aku bisa mengingat potongan-potongan adegan tapi tidak mampu membuat semua potongan itu menjadi rangkaian yang enak dinikmati.

Ada perasaan sedih yang, anehnya, dengan gampang aku ingkari. Karena toh kini aku punya kenangan yang lebih segar soal pantai ini. Aku yang berjalan sendirian tanpa tujuan jelas dengan sepatu yang sangat tidak nyaman dan kena cipratan air dari sebuah taksi yang seenaknya melanggar genangan air.

Hujan kembali turun dengan deras ketika aku duduk di lantai dua sebuah kafe di daerah Kuta Square. Tidak ada Bali di lantai dua ini. Tempat yang sebenarnya bagus sekali jika dihiasi dengan teras ini ditutup oleh sebuah kaca besar dan lambang besar kafe yang sombong menantang para pejalan kaki. Di jalanan hanya ada etalase toko yang menjual pakaian pantai yang memajang manekin manusia, dan jajaran toko-toko.

Nyaris tidak ada bedanya dengan menunggu di bandara.

Tahun Astronomi Internasional 2009

comments 2
Current issues
International Year of Astronomy

International Year of Astronomy

UNESCO bersama dengan International Astronomical Union mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional. Tujuannya cukup menarik; untuk membantu warga dunia merenungkan posisi mereka di alam semesta melalui langit, baik di siang hari maupun di malam hari. Selain itu juga untuk menciptakan ikatan lebih dalam dengan alam semesta.

Selama ini langit selalu kita kaitkan dengan ancaman, mulai dari sinar radiasi matahari akibat pemanasan global, meteor ukuran besar yang akan menghantam Bumi. Kita sudah lupa bahwa langit adalah peta maha raksasa yang menggambarkan masa lalu dan masa depan alam semesta dan bahkan manusia sendiri.

Semoga kita di Indonesia juga bisa menyambut pencanangan ini. Ada cukup banyak suku di Indonesia yang telah lama terbiasa mengurai rahasia dan petunjuk semesta dari langit.

Selama aku cuti ini, banyak sekali hal soal Papua yang aku ceritakan kepada teman-teman dan saudara-saudara. Mulai dari berbagai macam kekonyolan, paparan soal alam Papua, pekerjaanku, hingga kisah-kisah yang mengarah ke pelanggengan citra orang Papua sebagai bangsa yang terbelakang. Harus kuakui, kadang memang aku menikmati peran jadi bangsa yang lebih maju. Tapi rasa hormat pada teman-teman Papua membuatku dengan cepat mengibaskan semua kisah konyol yang sekiranya akan memuaskan sifat superior teman-temanku pada bangsa Papua. Apalagi jika aku mengingat orang-orang dari Jawa yang sudah jauh lebih lama berada di Papua. Seperti Pak Ardi dari Bina Swadaya misalnya.

Terakhir aku bertemu dia di Timika. Jalan Serui Mekar gelap gulita saat itu. Maklum, kena jatah pemadaman bergilir. Di Timika satu wilayah bisa gelap total selama 6 jam kalau sudah kena giliran pemadaman. Awalnya dia mengajak ngobrol di ruang tamu. Tapi kemudian dia mengajak ngobrol di teras depan. Setelah menyalakan rokoknya, dia menunjukkan sebuah bintang terang di cakrawala timur. “Itu yang namanya Bintang Kejora”, katanya.

Cerita soal pertemuanku dengan Bintang Kejora itu selalu aku ceritakan dengan hati-hati. Karena setiap kali bercerita aku semakin menyadari bahwa di Papua aku jarang melihat langit. Bahkan di Aroanop aku tidak menyempatkan diri melihat langit.

Suara Alam

Leave a comment
Papua

Mungkin karena akhir-akhir ini sering mendengarkan suara burung Nuri, Kakatua, dan Taung-taung (seperti Rangkong) di Kuala Kencana dan sering ke pedalaman, aku jadi semakin memperhatikan suara alam. Dulu paling cuma suara jangkrik dan tonggeret. Tapi di Papua sini ada begitu banyak suara yang bisa kamu dengar.

Coba kamu buka freesound project. Ada banyak orang di dunia ternyata yang masih punya telinga yang sehat, tidak hanya sekedar mendengarkan suara-suara mesin hasil olahan manusia. Jadi pengen ikutan sumbang suara-suara alam dari Papua di situ.

Semua suara di situ digratiskan tapi diikat oleh creative commons. Semua yang mengunduh harus meninggalkan komentar. Banyak juga yang menggunakan rekaman suara di website itu untuk project non-profit. Website di bawah ini contohnya:

batchdotcodotnz-copy

Cahaya

Leave a comment
Papua

Aku tercenung memandang foto yang menghiasi laporan tentang pementasan teater Lugid di majalah Tempo. Kecepatan shutter membuat kamera menjadi begitu sensitif dengan cahaya, yang sangat minim dan datang dari tempat yang jauh, dari atas panggung. Diafragma yang besar membuat detail gunungan yang dipegang Mbah Kawit masih dapat terlihat dengan jelas. Aku bisa membayangkan perasaan bahagia sang fotografer melihat hasil jepretannya. Perasaan bahagia yang dikeluarkannya dengan seuntai senyum dan tarian ibu jarinya di badan kamera. Seperti mengelus kepala anaknya. Ini mungkin akan jadi pembicaraan tentang cahaya. Baiklah.
Di sini di Papua terasa benar bahwa cahaya adalah sebuah warta kehidupan. Di Aroanop kemarin aku memegang erat kameraku ketika serombongan anak kecil membakar kertas-kertas dari setumpuk koran yang kami bawa dari Timika. Mereka berlarian di sebuah jalan menurun yang menghubungkan gereja dan lapangan voli. Tidak ada seorang pun di antara kami yang menyadari bahwa yang dibakar anak-anak itu adalah kertas koran. Di lapangan voli mereka membuat api unggun. Memasang api, kalau dalam bahasa Indonesia dialek Papua. Sedangkan aku duduk di beranda rumah Simson, pemuda Dayak Iban yang mengabdi sebagai guru di Aroanop, ditemani sebatang lilin yang pendarnya membuatku yakin bahwa dunia dan manusia punya kekuatan menyembuhkan diri yang luar biasa, seberapun lemah nampaknya.
Di panggung pementasan lakon Tuk yang dibawakan teater Lugid cahaya dipaksa untuk bekerja sama dengan tata panggung. Sementara di deretan bangku penonton, selalu ada satu atau dua orang yang mencoba menangkap hasil kerja cahaya di tubuh para pemain, gerakan tubuh, ekspresi wajah, tata panggung, dan mungkin keserasian semua unsur di dalam panggung. Para penonton akan menikmati hasil dari tata cahaya yang bagus, para awak panggung yang menjadi penonton akan mengamati benar tata cahaya, para fotografer akan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk memanfaatkan cahaya yang sudah ditata itu. Dari semua pihak di dalam ruang pementasan yang saya sebutkan itu, mungkin hanya fotografer yang mengakui harkat cahaya.
Sedangkan dari semua orang yang hadir malam itu di Aroanop, di kala anak-anak kecil bermain api, tidak seorang pun di antara kami yang tidak mengakui harkat cahaya, tapi tidak seorang pun di antara kami yang berada di luar cahaya. Kami semua berada di satu sisi dengan cahaya. Berhadapan dengan kegelapan tanpa deretan bangku penonton. Kecuali mungkin beberapa ekor kus-kus dan zuangi, roh penghuni hutan yang membuatku tidak berani ke kamar mandi di malam hari.
Agaknya aku saat itu di Aroanop, dan hingga kini sepertinya, tidak mampu, seperti yang dijelaskan Goenawan Mohammad, untuk “mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk menggambarkan sesuatu yang tak mungkin tergambarkan”. Aku juga tidak segera menyesuaikan kecepatan dan diafragma kameraku. Benda itu teronggok begitu saja di pangkuanku. Di sini aku kerap meminta diri di hadapan warta kehidupan, sebelum menyimpannya dalam kameraku; dan kerap kali pula aku memposisikan diri sebagai penonton, yang tidak punya keperluan membuat rekaman gambar atas sebuah peristiwa.
Seandainya kamu memotret anak-anak itu dan kemudian menunjukkan hasilnya kepadaku, aku akan merasa bahwa itu juga hasil jepretanku. Bahwa aku juga ikut menentukan seberapa banyak cahaya yang perlu ditangkap, dan dibagikan kepada semua orang.